Saturday, February 28, 2026

Perfect Hero Bab 482 : Akhir Cerita Refi Tata

 


Tepat di menit ke tiga puluh, Yuna sudah keluar dari kafe tempat ia dan Nirma berbincang banyak hal tentang Andre. Yuna langsung melangkahkan kakinya, tak sampai menyebrang ke halaman galeri kerajinan keramik karena Angga sudah memarkirkan mobilnya di halaman kafe.

 

“Mau ke mana lagi, Nyonya Bos?” tanya Angga sambil membukakan pintu mobil untuk Yuna.

 

“Langsung pulang aja, Ngga.”

 

Angga menganggukkan kepala. Ia menutup pintu mobil begitu Yuna sudah duduk di dalamnya.

 

Yuna menoleh ke arah kafe. Ia menatap tempat duduk dari balik kaca jendela kafe tersebut. Nirma sudah tak ada di sana, gadis kecil itu juga sudah beranjak pergi. Ia harap, hubungannya dengan Andre tak menimbulkan kesalahpahaman yang besar karena ia memang tak pernah menganggap Andre adalah pria yang spesial.

 

Angga menjalankan mobilnya perlahan. Ia selalu waspada semenjak kejadian penculikan beberapa hari lalu. Ia tidak ingin menghentikan mobilnya selain ke tempat yang sudah dituju oleh majikannya itu.

 

Lima belas menit kemudian, Yuna sudah sampai di rumahnya. Ia langsung masuk ke dalam rumah dan menghampiri Bibi War yang sedang duduk santai sambil menonton televisi.

 

“Hai, Bibi ...!” sapa Yuna sambil menghampiri Bibi War. “Suamiku udah pulang atau belum?” tanya Yuna.

 

“Belum. Biasanya, Mas Yeri pulang jam lima kalau nggak lembur.”

 

Yuna langsung menoleh ke arah jam dinding yang ada di ruangan tersebut. “Masih lima belas menit lagi. Aku masih sempat mandi,” ucapnya sambil berlalu pergi.

 

“Memangnya, lima belas menit cukup buat Mandi?  Biasanya, Mbak Yuna mandinya sampai satu jam.”

 

“Cukup, Bi. Daripada nggak mandi. Ntar suamiku pulang, dia protes karena udah sore aku masih belum mandi. Udah kayak wanita super sibuk aja. Padahal nggak ngapa-ngapain, hihihi.”

 

Bibi War tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia selalu bahagia melihat Yuna mewarnai rumah ini setiap waktu. Ia harap, hubungan Yuna dan Yeriko akan selalu terjaga seperti ini. Tidak berakhir seperti kedua orang tua mereka yang harus berpisah karena takdir.

 

Usai mandi, Yuna langsung menyalakan televisi di kamarnya sambil mengeringkan rambut. Ia ingin tubuhnya selalu wangi dan bersih saat suaminya kembali ke rumah.

 

“Artis cantik Refi Tata dikabarkan meninggal dunia.” Suara yang keluar dari televisi mengalihkan perhatian Yuna.

 

“Hah!? Kok, bisa?” seru Yuna sambil menaikkan volume televisinya. “Meninggal kenapa?” tanyanya lagi sambil menatap layar televisi.

 

“Beberapa hari lalu, artis cantik Refi Tata dikabarkan mendapat perawatan di rumah sakit karena gangguan kejiwaan. Kali ini dunia hiburan tanah air kembali dikejutkan dengan kabar meninggalnya artis tersebut.”

 

“Hal ini dibenarkan oleh pihak rumah sakit. Penyebab kematiannya masih menjadi misteri. Tidak ada pernyataan resmi dari pihak rumah sakit atau keluarganya terkait kematian dara cantik berusia dua puluh tujuh tahun ini. Dugaan sementara, dia meninggal karena bunuh diri.”

 

Yuna langsung gemetaran mendengar berita yang beredar di televisi. Ia benar-benar tak menyangka kalau hidup Refi akan berakhir setragis ini. Ia langsung meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja riasnya. Menelepon Yeriko beberapa kali, tapi tak mendapat jawaban.

 

“Ay, angkat dong!” pinta Yuna sambil mondar-mandir di dalam kamarnya.

 

“Kenapa nelpon?” tanya Yeriko sambil membuka pintu kamar.

 

Yuna langsung memutar kepalanya ke arah pintu. “Udah pulang? Aku barusan baca berita soal Refi. Apa bener dia meninggal?” tanya Yuna dengan tubuh gemetaran menghampiri suaminya.

 

Yeriko mengangguk sambil melepas kancing jasnya.

 

“Meninggal kenapa?” tanya Yuna.

 

“Bunuh diri.”

 

“What!? Dia beneran bunuh diri? Kok, bisa? Bukannya pihak rumah sakit harusnya bisa jagain dia?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengedikkan bahu, ia duduk di sofa, mengambil remote dan mematikan televisi. “Nggak usah ditonton!”

 

“Ay, kenapa kamu tenang banget? Dia mantan pacar kamu. Apa nggak ada rasa peduli sedikit pun? Dia nggak punya keluarga di sini. Kita ke rumah sakit, sekarang!”

 

“Nggak usah ke rumah sakit. Semuanya udah diurus sama Riyan.”

 

“Tapi aku nggak tenang. Aku emang sering berantem sama dia. Aku nggak suka dia terus-terusan ganggu hubungan kita. Aku nggak suka dia nempel terus sama kamu. Aku nggak suka sama kelakuan dia. Aku emang mau ngasih pelajaran ke dia. Tapi nggak bunuh diri juga.”

 

Yeriko melirik istrinya yang mondar-mandir di depannya sambil menggigit jemari tangannya.

 

“Refi bego banget, sih? Kenapa harus bunuh diri? Kenapa?” tanya Yuna. Ia menatap Yeriko yang duduk tenang di sofa.

 

“Ay, apa kita nggak perlu ke sana? Aku gelisah. Kasihan dia.”

 

Yeriko menarik lengan Yuna agar duduk di pangkuannya. “Semua udah diurus sama Riyan. Kamu nggak perlu cemas kayak gini!”

 

“Aku nggak bisa tenang denger berita kayak gini. Apa dia bunuh diri karena aku? Cuma aku satu-satunya orang yang sering berantem sama dia.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengusap pipi Yuna. “Nggak ada hubungannya sama kamu sedikit pun. Kata dokter, kondisi mentalnya sudah membaik. Dia mengakhiri hidup karena keinginannya dia sendiri. Kamu nggak perlu merasa bersalah seperti ini.”

 

“Aku kasihan sama dia. Dia harusnya nggak kayak gini. Gimana, kalau kita lihat dia? Setidaknya, kita bisa mengantarkan dia ke peristirahatan terakhirnya.”

 

Yeriko menatap wajah Yuna selama beberapa detik. “Oke. Kalau emang itu mau kamu.”

 

Yuna tersenyum. Ia langsung mengecup bibir Yeriko dan bangkit dari pangkuannya. “Aku siap-siap dulu!”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum mereka pergi ke rumah sakit untuk melihat Refi.

 

Sesampainya di rumah sakit, Yuna langsung menghampiri Riyan yang sedang mengurus pemakaman untuk Refi.

 

“Yan, dia di mana?” tanya Yuna.

 

Riyan menunjukkan ruang mayat yang ada di rumah sakit Siloam. Tempat Refi mendapatkan pertolongan terakhir sebelum akhirnya meregang nyawa.

 

Yuna tak bisa berkata-kata saat melihat wajah Refi yang sudah membeku. Air matanya mengalir tanpa ia sadari. Ia memang tidak menyukai Refi ada dalam kehidupan rumah tangganya. Tapi ia lebih tidak menyukai Refi yang memilih untuk mengakhiri hidupnya.

 

“Jenazahnya mau dimakamkan di mana?” tanya Yeriko pada Riyan sambil mengelus pundak Yuna.

 

“Kami sudah berusaha menghubungi keluarganya. Mereka minta jenazah Mbak Refi diterbangkan ke Jakarta. Sudah saya urus semuanya. Akan dibawa di penerbangan terakhir,” jawab Riyan.

 

Yuna menoleh ke arah Riyan. “Kamu yang urus semuanya? Kenapa Refi bisa bunuh diri? Bukannya dia seharusnya dijaga ketat dan dilindungi pihak Menur?”

 

Riyan menganggukkan kepala. Ia tak berani menjawab pertanyaan dari Yuna.

 

“Kita ngobrol di luar aja!” pinta Yeriko sambil merangkul Yuna untuk keluar dari ruangan itu.

 

Mereka bertiga bergegas keluar dari ruangan tersebut.

 

“Mbak Refi bunuh diri saat dini hari. Saat semua orang tertidur. Perawat yang berjaga sudah berusaha menolong dan membawa ke rumah sakit ini. Namun, dia sudah kehilangan banyak darah dan tidak bisa bertahan. Sebelum bunuh diri, ia memaksa perawat menyediakan kostum balet dan menari seorang diri di dalam kamar rawatnya.”

 

Yuna gemetaran mendengar cerita Riyan. “Kenapa aku baru tahu sore ini dari berita di televisi?”

 

“Maaf, Nyonya Muda ...!” tutur Riyan sambil membungkukkan punggungnya. “Pihak rumah sakit juga baru memberitahu kami dan terlalu banyak hal yang harus saya urus.”

 

“Udahlah, nggak usah diperdebatkan soal ini!” pinta Yeriko. “Yang paling penting sekarang, urus pemakaman dia dengan baik.”

 

Riyan langsung menganggukkan kepalanya.

 

Yuna dan Yeriko menunggu sampai jenazah Refi dikirim ke salah satu maskapai  yang akan membawa wanita itu kembali pada keluarga dan kehidupan awalnya.

 

Andai Refi bisa lebih berbesar hati, ia tidak harus berakhir menyedihkan seperti ini.

 

Cara mengakhiri penderitaan bukanlah dengan berhenti hidup, tapi dengan ikhlas menerima kehidupan baru yang sedang disiapkan oleh Tuhan. Ia lupa, bahwa hukuman yang harus ia terima adalah peringatan dari Tuhan agar ia memilih jalan-jalan lain yang lebih indah yang sedang disiapkan oleh Tuhan.

 

Tak ada manusia yang tidak bisa bahagia di dunia ini. Ia hanya tidak bisa menerima kebahagiaan yang sedang disiapkan Tuhan di tempat lain. Ia menolak semua kebahagiaan yang sudah dimiliki atas nama cinta. Yang membuat hidupnya harus berakhir tanpa penghargaan, justru mendapatkan penghinaan.

 

Akhir hidup Refi, tak seindah saat ia berproses. Tak seelok saat ia mengejar mimpi-mimpinya. Semua bakat dan prestasi yang sudah ia raih, ia tutup dengan cerita kelam, meninggalkan nama yang dikenang sebagai White Swan dan Black Swan yang sempurna seperti mimpi-mimpinya di atas panggung Swan Lake.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar makin seru dan makin semangat nulisnya. Sekuel, prekuel dan spin-off akan jadi satu buku saja. Thank’s!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi 

 

 

Perfect Hero Bab 481 : Melihat Caranya Memandangmu

 


Setiap hari, Yuna bekerja keras untuk menyelesaikan cangkir yang sengaja ia buat untuk ulang tahun suaminya. Ia ingin cangkir tersebut sudah jadi sebelum tanggal 12 Oktober. Ia hanya punya waktu sedikit sampai cangkir yang ia buat bisa selesai sampai finishing akhir.

 

“Hmm, akhirnya ... jadi juga!” tutur Yuna sambil menatap cangkir buatannya yang sudah menunggu pewarnaan terakhir.

 

“Untuk finishing terakhirnya, biar Mbah saja yang ngerjain.” Suara Mbah To, pemilik rumah kerajinan gerabah itu mengalihkan perhatian Yuna.

 

“Serius, Mbah?” tanya Yuna. “Tanggal 12 Oktober, bisa aku ambil?”

 

“Dua belas Oktober? Tiga hari lagi, ya?”

 

Yuna mengangguk.

 

“Pas banget kalau tiga hari lagi.”

 

“Berarti bisa?” tanya Yuna meyakinkan.

 

Mbah To menganggukkan kepalanya.

 

Yuna tersenyum sambil melirik arloji mungil di tangannya. “Kalo gitu, Yuna pulang dulu ya, Mbah!” pamitnya. “Soalnya udah jam empat sore. Suamiku bentar lagi pulang kerja.”

 

Mbah To menganggukkan kepala. “Mas Angga juga sudah menunggu di depan.”

 

“Oh ya?” Yuna tersenyum lebar sambil meraih tas tangan yang ia letakkan di atas meja. “Permisi, Mbah!” pamitnya, ia mengangguk sopan dan bergegas pergi keluar dari rumah kerajinan gerabah tersebut.

 

“Hai ...! Kak Yuna?” Suara seseorang menghentikan langkah kaki Yuna.

 

Yuna menoleh ke arah sumber suara. “Nirma? Kamu di sini juga?”

 

Nirma mengangguk sambil tersenyum. Ia menghampiri Yuna yang baru saja akan keluar dari pintu galeri keramik tersebut.

 

“Mau beli kerajinan keramik atau mau belajar bikin?” tanya Yuna.

 

“Mmh ... rencananya sih mau beli. Mau ngasih hadiah untuk Kak Andre.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah Nirma. “Oh. Oke. Di sini, semua karyanya bagus-bagus. Andre pasti suka sama barang yang kamu pilih. Aku pulang dulu ya!”

 

“Tunggu, Kak!”

 

“Ada apa?”

 

“Mmh ... Kak Yuna masih marah sama aku?”

 

“Marah kenapa?” tanya Yuna balik.

 

“Soal kejadian yang di pesta ulang tahun Kak Andre malam itu.”

 

Yuna tertawa kecil. “Aku baik-baik aja. Buat apa marah?”

 

Nirma tersenyum kecil menatap wajah Yuna yang begitu lembut. “Maafin aku, Kak!”

 

“Maaf untuk?”

 

“Karena aku udah mengacaukan semuanya.”

 

Yuna tertawa kecil. “Itu acara ulang tahun Andre. Kenapa minta maafnya sama aku?”

 

“Karena ... mmh ...”

 

Yuna mengangkat kedua alis sambil menatap Nirma.

 

“Mmh ... gimana kalau aku traktir Kakak ngopi? Aku mau ngobrol sama Kak Yuna.”

 

“Aku lagi hamil. Nggak bisa konsumsi kopi.”

 

“Di Kafe depan, ada teh dan jus juga, kok. Aku traktir jus buat Kakak. Gimana?” tanya Nirma sambil menatap Yuna. Ia sangat berharap kalau Yuna akan menerima tawarannya kali ini.

 

Yuna melirik arloji mungil di pergelangan tangannya. Suaminya akan pulang ke rumah satu jam lagi. Ia ingin sampai di rumah sebelum suaminya pulang. “Mmh ... aku cuma punya waktu tiga puluh menit. Gimana?”

 

“Cukup, Kak. Cukup banget.” Nirma langsung menyambar ucapan Yuna.

 

“Oke.”

 

Nirma tersenyum lega. Akhirnya, ia bisa mengajak Yuna untuk bicara. Menanyakan banyak hal untuk mengetahui bagaimana cara Andre memandang Yuna.

 

“Ngga, saya ke kafe depan sebentar. Jemput saya setelah tiga puluh menit ya!” pinta Yuna sambil menghampiri Angga yang menunggunya sambil berdiri di sisi mobil.

 

“Siap, Nyonya Bos!”

 

Yuna tersenyum. Ia melangkah beriringan dengan langkah Nirma menyeberangi jalanan untuk menuju kafe yang berseberangan dengan galeri keramik tempatnya belajar.

 

“Kak Yuna mau minum apa?” tanya Nirma saat mereka sudah duduk bersama di salah satu meja yang ada di ruangan tersebut.

 

“Mmh  ... Strawberry Milkshake aja!”

 

“Oke. Aku pesenin!” Nirma bangkit dari tempat duduk, ia menghampiri meja barista untuk melakukan order.

 

“Pesan apa, Mbak?” sapa seorang pelayan yang berdiri tak jauh dari barista yang sedang meracik kopi.

 

“Saya pesan Strawberry Milkshake, Cappuccino Latte, Strawberry Sweety Sandwich sama Chicken Stick.”

 

Pelayan itu mengangguk dan langsung mencatat menu yang dipesan Nirma.

 

“Cepat ya, Mbak! Kalo lebih dari lima belas menit, saya udah keluar dari kafe ini. Soalnya, saya lagi ketemu sama orang penting yang jadwalnya padet banget. Kalo lama datangnya, aku nggak mau bayar!” tegas Nirma, kemudian ia berlalu pergi.

 

“Baik, Mbak!” sahut pelayan itu dengan ramah.

 

Nirma bergegas menghampiri Yuna yang tak jauh dari meja order.

 

“Kak Yuna, Kakak sudah lama kenal sama Kak Andre ‘kan?” tanya Nirma. “Kakak pasti udah tahu semua yang disukai dan yang nggak disuka sama Kak Andre.”

 

Yuna tersenyum menatap Nirma. “Manusia bisa berubah seiring waktu. Aku mengenal Andre saat kami masih kecil. Andre sudah pindah ke Italia, jauh sebelum aku kuliah di Melbourne. Kami saling mengenal sejak kecil, tapi kami tidak pernah berhubungan sampai kami dewasa. Ada jarak dan waktu di antara kami. Tentunya, itu mengubah semua hal. Termasuk sifat Andre yang bisa saja berubah. Yang aku tahu hingga saat ini. Dia pria yang baik,” jelasnya.

 

Nirma tersenyum sambil menatap wajah Yuna. Ia terpesona dalam sepersekian detik dengan keanggunan dan ketenangan Yuna. “Kak Yuna, kenapa Kakak selalu baik ke Kak Andre?” tanyanya.

 

“Karena dia teman yang baik. Aku nggak punya alasan untuk membenci dia.”

 

Nirma menghela napas. Yuna yang terlihat sangat tenang, membuatnya mengerti kalau Yuna memang pantas untuk dikagumi banyak orang. “Kak, maafin aku karena udah bikin kekacauan di ulang tahun Kak Andre. Aku bikin dia marah dan nggak tahu harus gimana lagi menebus kesalahanku itu.”

 

“Andre nggak maafin kamu sampai sekarang?”

 

Nirma terdiam sejenak. “Dia nggak nyalahin aku, tapi nggak maafin aku juga. Aku tahu, kesalahanku besar banget. Aku terlalu kekanak-kanakkan untuk dia.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap Nirma. “Andre itu pria yang berjiwa besar. Dia pasti sudah maafin kamu.”

 

“Tapi, beberapa hari ini ... dia nyuekin aku. Aku tahu, dia Cuma pura-pura sibuk dan memilih perjalanan dinas ke luar kota untuk menghindari aku,” tutur Nirma tak bersemangat.

 

“Andre itu pria yang berperasaan. Kasih dia waktu sebentar aja! Suasana hatinya akan kembali seperti biasanya. Kamu yang sabar ya! Menghadapi pria memang seperti itu. Suamiku lebih parah, di pemarah dan pencemburu. Tapi, aku merasa beruntung dengan sikapnya. Pria marah karena dia peduli dan cemburu karena dia cinta.”

 

“Gitu ya, Kak? Apa Kak Andre marah sama aku karena dia peduli?” tanya Nirma.

 

Yuna menganggukkan kepala. Perhatiannya tiba-tiba teralih pada pelayan yang menyuguhkan hidangan ke mejanya. Ia melirik arloji di tangannya sambil menatap ke luar jendela. Melihat Angga yang mengawasinya dari kejauhan.

 

“Kak Yuna ... seandainya Kak Yuna belum menikah. Apa Kak Yuna akan membalas cinta Kak Andre?” tanya Nirma.

 

Yuna tertawa kecil. “Aku dan Andre teman masa kecil. Sampai saat ini, aku menganggap dia seperti kakakku sendiri. Aku lebih nyaman berteman dengan dia daripada harus jadi orang yang akan asing di kemudian hari karena kami tidak berjodoh.”

 

Nirma menghela napas. “Jujur, aku selalu cemburu sama Kak Yuna. Kak Andre, selalu membandingkan aku dengan wanita spesial yang nggak pernah pergi dari hatinya. Apa aku bisa ngambil hati dia kalau kayak gini terus?”

 

Yuna tersenyum kecil. Ia sangat tahu siapa wanita yang dimaksud oleh Nirma. “Nirma, kamu nggak perlu cemburu sama aku. Aku sudah bersuami. Kalau Andre baik sama aku, itu hanya hubungan pertemanan. Kamu yang lebih sering mengisi hari-hari dia. Kamu pasti tahu bagaimana mengambil hati dia.”

 

“Apa aku bakalan bisa, Kak?”

 

“Kamu harus percaya sama diri kamu sendiri! Tunjukkan pada pria yang kamu cintai, kalau kamu layak untuk mendapatkan hati dan seluruh kehidupannya.”

 

Nirma mengangguk sambil tersenyum. Ia tak menyangka kalau wanita yang ada di hadapannya itu ternyata berhati baik dan bijaksana. Kini, ia mengerti kenapa Andre tidak pernah bisa melupakan Yuna walau sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan wanita lain bahkan bertunangan. Ia harap, dirinya bisa menjadi sosok wanita seperti Yuna, bahkan lebih dari itu. Agar ia bisa membuat Andre mencintainya penuh ketulusan. Bukan karena perjodohan yang sudah diatur oleh orang tua mereka.

 

((Bersambung ... ))

Dukung terus cerita ini biar makin seru dan makin semangat nulisnya. Sekuel, prekuel dan spin-off akan jadi satu buku saja. Thank’s!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 480 : Hadiah untuk Ayah

 


“Siang, Ayah ...!” sapa Yuna begitu Adjie membukakan pintu apartemen untuknya.

 

“Siang ...! Akhirnya, kalian datang juga,” balas Adjie. “Ayo, masuk!”

 

Yuna dan Yeriko menganggukkan kepala. Mereka bergegas masuk ke dalam apartemen Adjie.

 

“Wah ...! Ayah udah siapin makanan enak!” seru Yuna sambil menghampiri meja makan.

 

Yeriko tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Hari ini adalah hari ulang tahun ayah mertuanya. Ia tidak ingin mengatur menu makanan Yuna seperti yang sudah ditentukan oleh Chef Rafa dan ahli gizinya. Asal tidak membahayakan janinnya, ia tidak akan melarang Yuna makan apa pun.

 

“Ayo, kita makan siang bareng!” ajak Adjie.

 

Yeriko mengangguk, ia menyodorkan paper bag ke arah Adjie. “Ini, hadiah ulang tahun untuk Ayah. Maaf, karena terlambat.”

 

“Nggak papa. Ayah mengerti keadaan kalian. Makanya, Ayah hari ini sengaja masak makanan yang banyak untuk ngerayain hari ulang tahun Ayah. Ini pertama kalinya Ayah merayakan ulang tahun bareng puteri Ayah setelah sebelas tahun tidak pernah bertemu.”

 

Yuna tersenyum sambil duduk di kursi. “Aku nggak bawa hadiah untuk Ayah. Hadiahnya aku aja, ya!?”

 

Adjie tertawa kecil menanggapi permintaan Yuna. Kemudian, ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Melihat kamu tumbuh dewasa dengan baik dan hidup bahagia, sudah menjadi hadiah paling berharga bagi Ayah.”

 

Yuna tersenyum manja sambil menatap wajah ayahnya. Ia menarik lengan Adjie agar duduk di sampingnya.

 

“Ay, hari ini aku selingkuh dulu ya!” pinta Yuna sambil tersenyum menatap Yeriko.

 

Yeriko mengangguk, ia duduk di kursi yang berseberangan dengan Yuna. Memberikan kesempatan untuk istri dan ayah mertuanya berduaan.

 

“Yah, bulan depan Yuna ulah tahun. Ayah mau kasih kado apa buat Yuna?” tanya Yuna sambil bergelayut manja di pundak ayahnya.

 

“Mmh ... kamu mau hadiah apa?” tanya Adjie.

 

“Apa ya?” tanya Yuna sambil mengetuk-ngetuk dagunya.

 

“Nanti saja ngomongin kadonya! Kita makan dulu!” ajak Adjie.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia mengambil nasi untuk Yeriko dan ayahnya. Mereka menikmati makan siang bersama sambil berbincang banyak hal. Yuna juga menceritakan hal buruk yang sudah menimpa Refi karena mereka baru saja menjenguknya sebelum pergi ke apartemen Adjie.

 

Usai menikmati makan siang bersama, Adjie dan Yeriko duduk bercengkerama di balkon.

 

Yuna membuat dua cangkir kopi dan menghampiri dua pria yang sedang asyik berbincang tentang dunia bisnis. Walau dia lulusan Manajemen Bisnis, ia tidak begitu tertarik dengan obrolan monoton yang ujung-ujungnya hanya akan membuat ia berkata “Oh” saja.

 

“Ayah ...!” panggil Yuna manja sambil berdiri di hadapan Adjie.

 

“Apa?” tanya Adjie, ia menengadahkan kepala menatap puterinya itu.

 

“I have something for you,” jawab Yuna sambil menyodorkan hadiah yang ia buat ke hadapan ayahnya itu.

 

“Apa ini?” tanya Adjie sambil menatap barang yang ada di tangan Yuna.

 

“Hadiah buat Ayah,” jawab Yuna sambil tersenyum.

 

Adjie menerima hadiah dari puteri kesayangannya itu. “Kamu bikin sendiri?”

 

Yuna mengangguk. “Bagus, nggak?” tanya Yuna.

 

“Bagus banget!”

 

Yuna langsung tersenyum dan memeluk tubuh ayahnya. “Selamat ulang tahun, Ayah. Hadiah dari aku, mungkin nilainya nggak seberapa. Aku harap, Ayah berkenan menerimanya.”

 

Adjie tersenyum sambil mengecup kening puterinya. “Ini sangat berharga bagi Ayah.”

 

Yuna tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. Ia tak menyangka kalau di tahun ke sebelas, ia bisa mendengar suara Adjie saat hari ulang tahunnya itu. Sebuah penantian yang panjang, walau kadang ingin menyerah ... tapi ia tak pernah menyerah menunggu waktu-waktu ini tiba. Mereka bertiga terus berbincang penuh bahagia.

 

 

 

...

 

 

 

“Jhen, tanggal 12 Oktober nanti ... Yeriko ulang tahun. Bagusnya, kasih kado apa untuk dia ya?” tanya Yuna saat ia menikmati cemilan sore di toko dessert seperti biasanya.

 

“Dia suka apa, Yun?” tanya Jheni.

 

“Mmh ...” Yuna mengetuk-ngetuk dagunya. “Dia suka sesuatu yang nggak ada bandingannya di dunia ini.”

 

“Contohnya?”

 

“Handmade. Kalau barang-barang yang dijual di luaran sana. Dia bisa beli pakai uangnya dengan mudah. Kalau handmade, jauh lebih berharga karena dibuat dengan hati.”

 

Jheni tertawa kecil. “Kamu kan lagi belajar bikin kerajinan gerabah. Gimana kalau kamu bikin cangkir sepasang, kayak di drama-drama gitu.”

 

Yuna menghela napas. “Apa itu nggak terlalu biasa dan mengadaptasi dari drama. Kira-kira, Yeriko bakal suka atau nggak kalau aku buatin dia cangkir tembikar?”

 

“Masalah suka atau nggaknya, yang penting kan udah usaha.”

 

“Iya, juga sih. Tapi, coba pikirin barang handmade yang lain lagi deh selain cangkir!” pinta Yuna. “Aku emang lagi bikin cangkir untuk Yeriko, tapi aku mau kasih hadiah lain untuk ulang tahunnya. Rencananya, cangkir itu mau aku kasih saat perayaan tahun baru. Lagipula, karyaku masih jelek banget. Belum pede kalau aku kasih dia cangkir. Alternatif terakhir aja, deh. Pikirin ide yang lain dulu!”

 

“Mmh ... apa, ya?” tanya Jheni sambil mengetuk-ngetuk dagunya.

 

Yuna terus berpikir untuk memberikan hadiah lain yang bisa ia buat dengan tangannya sendiri.

 

“Ide yang muncul di kepalaku cuma itu doang, Yun.”

 

“Huft! Aku juga miskin ide.”

 

“Mmh ... kamu buatin sweeter rajut aja, Yun!” seru Jheni. “Aku perhatiin, Yeriko sering pakai sweeter yang itu-itu aja.”

 

“Itu sweeter buatan aku, Jhen. Masa aku kasih sweeter lagi?” sahut Yuna.

 

Jheni terkekeh. “Ya, kali aja kamu mau bikinin selusin. Buat ganti-ganti, Yun.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya ke arah Jheni. “Nggak lucu!”

 

“Eh, si Yeriko kan suka bisnis tuh. Gimana kalau kamu kasih hadiah pena edisi terbatas? Ada pena lapis berlian, Yun. Harganya sekitar tujuh sampai delapan ratus jutaan.”

 

“Gila aja, kamu! Aku disuruh beli hadiah yang bisa dibeli sama Yeriko sendiri. Itu bukan handmade, Jhen!” seru Yuna kesal. “Minta ide sama kamu, bukannya dapet solusi, malah tambah pusing.”

 

Jheni terkekeh. “Udahlah, Yun. Daripada pusing, mending yang tadi itu aja. Bikin cangkir dari tembikar. Kelar.”

 

“Hmm ... ketahuan banget kayak drama Endless Love,” tutur Yuna tak bersemangat.

 

“Ibu Yuna yang cantik jelita. Aku kasih tahu, ya! Dengerin, nih! Dengerin baik-baik!” pinta Jheni dengan gaya serius yang dipaksakan. “Drama itu terinspirasi dari kehidupan nyata. Kehidupan nyata juga terinspirasi dari drama. Jadi, nggak ada salahnya kamu ikuti. Lagipula, dari milyaran manusia di luar sana. Pasti ada orang-orang yang punya cerita hidup yang sama. Kamu bikin cangkir dari tembikar, nggak ada yang salah. Yang salah itu ... kamu nggak bikin apa-apa karena kebanyakan mikir!”

 

 “Mmh ... oke, deh. Tapi, aku mau cari ide yang lain dulu kalau ada.”

 

“Eyuuh ...!” Jheni memutar bola matanya. “Ujung-ujungnya, masih mikir lagi.”

 

Yuna terkekeh menatap wajah Jheni. “Galau aku, Jhen! Galau!”

 

“Nggak usah galau! Itu aja! Ribet amat sih, Yun!” dengus Jheni.

 

“Iya, deh. Mentok itu aja.”

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum. “Udahlah, nggak udah mikir yang berat-berat!” pintanya. “Kamu lagi hamil, ntar anak kamu ikutan stres.”

 

“Iya, Tante Jheni kesayangan!” sahut Yuna sambil menyeruput jus yang ada di hadapannya.

 

“Kalo dikasih tahu ngece ‘kan!?” dengus Jheni.

 

“Ngece kenapa?” tanya Yuna sambil menahan tawa.

 

“Muka kamu, iih ... ngece banget!”

 

“Hahaha.” Yuna tertawa lebar.

 

Mereka berdua menikmati cemilan sore sambil membicarakan banyak hal. Sayangnya, hari ini Icha tak bisa ikut berkumpul bersama karena ia dan Lutfi pergi ke Jakarta untuk mengunjungi nenek mereka. Mungkin saja, mereka sedang sibuk membicarakan pernikahan mereka yang rencananya akan dilaksanakan tahun depan.

 

(( Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus ...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas