Tepat
di menit ke tiga puluh, Yuna sudah keluar dari kafe tempat ia dan Nirma
berbincang banyak hal tentang Andre. Yuna langsung melangkahkan kakinya, tak
sampai menyebrang ke halaman galeri kerajinan keramik karena Angga sudah
memarkirkan mobilnya di halaman kafe.
“Mau
ke mana lagi, Nyonya Bos?” tanya Angga sambil membukakan pintu mobil untuk
Yuna.
“Langsung
pulang aja, Ngga.”
Angga
menganggukkan kepala. Ia menutup pintu mobil begitu Yuna sudah duduk di
dalamnya.
Yuna
menoleh ke arah kafe. Ia menatap tempat duduk dari balik kaca jendela kafe
tersebut. Nirma sudah tak ada di sana, gadis kecil itu juga sudah beranjak
pergi. Ia harap, hubungannya dengan Andre tak menimbulkan kesalahpahaman yang
besar karena ia memang tak pernah menganggap Andre adalah pria yang spesial.
Angga
menjalankan mobilnya perlahan. Ia selalu waspada semenjak kejadian penculikan
beberapa hari lalu. Ia tidak ingin menghentikan mobilnya selain ke tempat yang
sudah dituju oleh majikannya itu.
Lima
belas menit kemudian, Yuna sudah sampai di rumahnya. Ia langsung masuk ke dalam
rumah dan menghampiri Bibi War yang sedang duduk santai sambil menonton
televisi.
“Hai,
Bibi ...!” sapa Yuna sambil menghampiri Bibi War. “Suamiku udah pulang atau
belum?” tanya Yuna.
“Belum.
Biasanya, Mas Yeri pulang jam lima kalau nggak lembur.”
Yuna
langsung menoleh ke arah jam dinding yang ada di ruangan tersebut. “Masih lima
belas menit lagi. Aku masih sempat mandi,” ucapnya sambil berlalu pergi.
“Memangnya,
lima belas menit cukup buat Mandi? Biasanya, Mbak Yuna mandinya sampai
satu jam.”
“Cukup,
Bi. Daripada nggak mandi. Ntar suamiku pulang, dia protes karena udah sore aku
masih belum mandi. Udah kayak wanita super sibuk aja. Padahal nggak
ngapa-ngapain, hihihi.”
Bibi
War tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia selalu bahagia melihat
Yuna mewarnai rumah ini setiap waktu. Ia harap, hubungan Yuna dan Yeriko akan
selalu terjaga seperti ini. Tidak berakhir seperti kedua orang tua mereka yang
harus berpisah karena takdir.
Usai
mandi, Yuna langsung menyalakan televisi di kamarnya sambil mengeringkan
rambut. Ia ingin tubuhnya selalu wangi dan bersih saat suaminya kembali ke
rumah.
“Artis
cantik Refi Tata dikabarkan meninggal dunia.” Suara yang keluar dari televisi
mengalihkan perhatian Yuna.
“Hah!?
Kok, bisa?” seru Yuna sambil menaikkan volume televisinya. “Meninggal kenapa?”
tanyanya lagi sambil menatap layar televisi.
“Beberapa
hari lalu, artis cantik Refi Tata dikabarkan mendapat perawatan di rumah sakit
karena gangguan kejiwaan. Kali ini dunia hiburan tanah air kembali dikejutkan
dengan kabar meninggalnya artis tersebut.”
“Hal
ini dibenarkan oleh pihak rumah sakit. Penyebab kematiannya masih menjadi
misteri. Tidak ada pernyataan resmi dari pihak rumah sakit atau keluarganya
terkait kematian dara cantik berusia dua puluh tujuh tahun ini. Dugaan
sementara, dia meninggal karena bunuh diri.”
Yuna
langsung gemetaran mendengar berita yang beredar di televisi. Ia benar-benar
tak menyangka kalau hidup Refi akan berakhir setragis ini. Ia langsung meraih
ponsel yang ia letakkan di atas meja riasnya. Menelepon Yeriko beberapa kali,
tapi tak mendapat jawaban.
“Ay,
angkat dong!” pinta Yuna sambil mondar-mandir di dalam kamarnya.
“Kenapa
nelpon?” tanya Yeriko sambil membuka pintu kamar.
Yuna
langsung memutar kepalanya ke arah pintu. “Udah pulang? Aku barusan baca berita
soal Refi. Apa bener dia meninggal?” tanya Yuna dengan tubuh gemetaran
menghampiri suaminya.
Yeriko
mengangguk sambil melepas kancing jasnya.
“Meninggal
kenapa?” tanya Yuna.
“Bunuh
diri.”
“What!?
Dia beneran bunuh diri? Kok, bisa? Bukannya pihak rumah sakit harusnya bisa
jagain dia?” tanya Yuna.
Yeriko
mengedikkan bahu, ia duduk di sofa, mengambil remote dan mematikan televisi.
“Nggak usah ditonton!”
“Ay,
kenapa kamu tenang banget? Dia mantan pacar kamu. Apa nggak ada rasa peduli
sedikit pun? Dia nggak punya keluarga di sini. Kita ke rumah sakit, sekarang!”
“Nggak
usah ke rumah sakit. Semuanya udah diurus sama Riyan.”
“Tapi
aku nggak tenang. Aku emang sering berantem sama dia. Aku nggak suka dia
terus-terusan ganggu hubungan kita. Aku nggak suka dia nempel terus sama kamu.
Aku nggak suka sama kelakuan dia. Aku emang mau ngasih pelajaran ke dia. Tapi
nggak bunuh diri juga.”
Yeriko
melirik istrinya yang mondar-mandir di depannya sambil menggigit jemari
tangannya.
“Refi
bego banget, sih? Kenapa harus bunuh diri? Kenapa?” tanya Yuna. Ia menatap
Yeriko yang duduk tenang di sofa.
“Ay,
apa kita nggak perlu ke sana? Aku gelisah. Kasihan dia.”
Yeriko
menarik lengan Yuna agar duduk di pangkuannya. “Semua udah diurus sama Riyan.
Kamu nggak perlu cemas kayak gini!”
“Aku
nggak bisa tenang denger berita kayak gini. Apa dia bunuh diri karena aku? Cuma
aku satu-satunya orang yang sering berantem sama dia.”
Yeriko
tersenyum sambil mengusap pipi Yuna. “Nggak ada hubungannya sama kamu sedikit
pun. Kata dokter, kondisi mentalnya sudah membaik. Dia mengakhiri hidup karena
keinginannya dia sendiri. Kamu nggak perlu merasa bersalah seperti ini.”
“Aku
kasihan sama dia. Dia harusnya nggak kayak gini. Gimana, kalau kita lihat dia?
Setidaknya, kita bisa mengantarkan dia ke peristirahatan terakhirnya.”
Yeriko
menatap wajah Yuna selama beberapa detik. “Oke. Kalau emang itu mau kamu.”
Yuna
tersenyum. Ia langsung mengecup bibir Yeriko dan bangkit dari pangkuannya. “Aku
siap-siap dulu!”
Yeriko
menganggukkan kepala. Ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan
tubuhnya sebelum mereka pergi ke rumah sakit untuk melihat Refi.
Sesampainya
di rumah sakit, Yuna langsung menghampiri Riyan yang sedang mengurus pemakaman
untuk Refi.
“Yan,
dia di mana?” tanya Yuna.
Riyan
menunjukkan ruang mayat yang ada di rumah sakit Siloam. Tempat Refi mendapatkan
pertolongan terakhir sebelum akhirnya meregang nyawa.
Yuna
tak bisa berkata-kata saat melihat wajah Refi yang sudah membeku. Air matanya
mengalir tanpa ia sadari. Ia memang tidak menyukai Refi ada dalam kehidupan
rumah tangganya. Tapi ia lebih tidak menyukai Refi yang memilih untuk
mengakhiri hidupnya.
“Jenazahnya
mau dimakamkan di mana?” tanya Yeriko pada Riyan sambil mengelus pundak Yuna.
“Kami
sudah berusaha menghubungi keluarganya. Mereka minta jenazah Mbak Refi
diterbangkan ke Jakarta. Sudah saya urus semuanya. Akan dibawa di penerbangan
terakhir,” jawab Riyan.
Yuna
menoleh ke arah Riyan. “Kamu yang urus semuanya? Kenapa Refi bisa bunuh diri?
Bukannya dia seharusnya dijaga ketat dan dilindungi pihak Menur?”
Riyan
menganggukkan kepala. Ia tak berani menjawab pertanyaan dari Yuna.
“Kita
ngobrol di luar aja!” pinta Yeriko sambil merangkul Yuna untuk keluar dari
ruangan itu.
Mereka
bertiga bergegas keluar dari ruangan tersebut.
“Mbak
Refi bunuh diri saat dini hari. Saat semua orang tertidur. Perawat yang berjaga
sudah berusaha menolong dan membawa ke rumah sakit ini. Namun, dia sudah
kehilangan banyak darah dan tidak bisa bertahan. Sebelum bunuh diri, ia memaksa
perawat menyediakan kostum balet dan menari seorang diri di dalam kamar
rawatnya.”
Yuna
gemetaran mendengar cerita Riyan. “Kenapa aku baru tahu sore ini dari berita di
televisi?”
“Maaf,
Nyonya Muda ...!” tutur Riyan sambil membungkukkan punggungnya. “Pihak rumah
sakit juga baru memberitahu kami dan terlalu banyak hal yang harus saya urus.”
“Udahlah,
nggak usah diperdebatkan soal ini!” pinta Yeriko. “Yang paling penting
sekarang, urus pemakaman dia dengan baik.”
Riyan
langsung menganggukkan kepalanya.
Yuna
dan Yeriko menunggu sampai jenazah Refi dikirim ke salah satu maskapai
yang akan membawa wanita itu kembali pada keluarga dan kehidupan awalnya.
Andai
Refi bisa lebih berbesar hati, ia tidak harus berakhir menyedihkan seperti ini.
Cara
mengakhiri penderitaan bukanlah dengan berhenti hidup, tapi dengan ikhlas
menerima kehidupan baru yang sedang disiapkan oleh Tuhan. Ia lupa, bahwa
hukuman yang harus ia terima adalah peringatan dari Tuhan agar ia memilih
jalan-jalan lain yang lebih indah yang sedang disiapkan oleh Tuhan.
Tak
ada manusia yang tidak bisa bahagia di dunia ini. Ia hanya tidak bisa menerima
kebahagiaan yang sedang disiapkan Tuhan di tempat lain. Ia menolak semua
kebahagiaan yang sudah dimiliki atas nama cinta. Yang membuat hidupnya harus
berakhir tanpa penghargaan, justru mendapatkan penghinaan.
Akhir
hidup Refi, tak seindah saat ia berproses. Tak seelok saat ia mengejar
mimpi-mimpinya. Semua bakat dan prestasi yang sudah ia raih, ia tutup dengan
cerita kelam, meninggalkan nama yang dikenang sebagai White Swan dan Black Swan
yang sempurna seperti mimpi-mimpinya di atas panggung Swan Lake.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar makin seru dan makin semangat nulisnya.
Sekuel, prekuel dan spin-off akan jadi satu buku saja. Thank’s!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi


