Saturday, February 28, 2026

Perfect Hero Bab 481 : Melihat Caranya Memandangmu

 


Setiap hari, Yuna bekerja keras untuk menyelesaikan cangkir yang sengaja ia buat untuk ulang tahun suaminya. Ia ingin cangkir tersebut sudah jadi sebelum tanggal 12 Oktober. Ia hanya punya waktu sedikit sampai cangkir yang ia buat bisa selesai sampai finishing akhir.

 

“Hmm, akhirnya ... jadi juga!” tutur Yuna sambil menatap cangkir buatannya yang sudah menunggu pewarnaan terakhir.

 

“Untuk finishing terakhirnya, biar Mbah saja yang ngerjain.” Suara Mbah To, pemilik rumah kerajinan gerabah itu mengalihkan perhatian Yuna.

 

“Serius, Mbah?” tanya Yuna. “Tanggal 12 Oktober, bisa aku ambil?”

 

“Dua belas Oktober? Tiga hari lagi, ya?”

 

Yuna mengangguk.

 

“Pas banget kalau tiga hari lagi.”

 

“Berarti bisa?” tanya Yuna meyakinkan.

 

Mbah To menganggukkan kepalanya.

 

Yuna tersenyum sambil melirik arloji mungil di tangannya. “Kalo gitu, Yuna pulang dulu ya, Mbah!” pamitnya. “Soalnya udah jam empat sore. Suamiku bentar lagi pulang kerja.”

 

Mbah To menganggukkan kepala. “Mas Angga juga sudah menunggu di depan.”

 

“Oh ya?” Yuna tersenyum lebar sambil meraih tas tangan yang ia letakkan di atas meja. “Permisi, Mbah!” pamitnya, ia mengangguk sopan dan bergegas pergi keluar dari rumah kerajinan gerabah tersebut.

 

“Hai ...! Kak Yuna?” Suara seseorang menghentikan langkah kaki Yuna.

 

Yuna menoleh ke arah sumber suara. “Nirma? Kamu di sini juga?”

 

Nirma mengangguk sambil tersenyum. Ia menghampiri Yuna yang baru saja akan keluar dari pintu galeri keramik tersebut.

 

“Mau beli kerajinan keramik atau mau belajar bikin?” tanya Yuna.

 

“Mmh ... rencananya sih mau beli. Mau ngasih hadiah untuk Kak Andre.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah Nirma. “Oh. Oke. Di sini, semua karyanya bagus-bagus. Andre pasti suka sama barang yang kamu pilih. Aku pulang dulu ya!”

 

“Tunggu, Kak!”

 

“Ada apa?”

 

“Mmh ... Kak Yuna masih marah sama aku?”

 

“Marah kenapa?” tanya Yuna balik.

 

“Soal kejadian yang di pesta ulang tahun Kak Andre malam itu.”

 

Yuna tertawa kecil. “Aku baik-baik aja. Buat apa marah?”

 

Nirma tersenyum kecil menatap wajah Yuna yang begitu lembut. “Maafin aku, Kak!”

 

“Maaf untuk?”

 

“Karena aku udah mengacaukan semuanya.”

 

Yuna tertawa kecil. “Itu acara ulang tahun Andre. Kenapa minta maafnya sama aku?”

 

“Karena ... mmh ...”

 

Yuna mengangkat kedua alis sambil menatap Nirma.

 

“Mmh ... gimana kalau aku traktir Kakak ngopi? Aku mau ngobrol sama Kak Yuna.”

 

“Aku lagi hamil. Nggak bisa konsumsi kopi.”

 

“Di Kafe depan, ada teh dan jus juga, kok. Aku traktir jus buat Kakak. Gimana?” tanya Nirma sambil menatap Yuna. Ia sangat berharap kalau Yuna akan menerima tawarannya kali ini.

 

Yuna melirik arloji mungil di pergelangan tangannya. Suaminya akan pulang ke rumah satu jam lagi. Ia ingin sampai di rumah sebelum suaminya pulang. “Mmh ... aku cuma punya waktu tiga puluh menit. Gimana?”

 

“Cukup, Kak. Cukup banget.” Nirma langsung menyambar ucapan Yuna.

 

“Oke.”

 

Nirma tersenyum lega. Akhirnya, ia bisa mengajak Yuna untuk bicara. Menanyakan banyak hal untuk mengetahui bagaimana cara Andre memandang Yuna.

 

“Ngga, saya ke kafe depan sebentar. Jemput saya setelah tiga puluh menit ya!” pinta Yuna sambil menghampiri Angga yang menunggunya sambil berdiri di sisi mobil.

 

“Siap, Nyonya Bos!”

 

Yuna tersenyum. Ia melangkah beriringan dengan langkah Nirma menyeberangi jalanan untuk menuju kafe yang berseberangan dengan galeri keramik tempatnya belajar.

 

“Kak Yuna mau minum apa?” tanya Nirma saat mereka sudah duduk bersama di salah satu meja yang ada di ruangan tersebut.

 

“Mmh  ... Strawberry Milkshake aja!”

 

“Oke. Aku pesenin!” Nirma bangkit dari tempat duduk, ia menghampiri meja barista untuk melakukan order.

 

“Pesan apa, Mbak?” sapa seorang pelayan yang berdiri tak jauh dari barista yang sedang meracik kopi.

 

“Saya pesan Strawberry Milkshake, Cappuccino Latte, Strawberry Sweety Sandwich sama Chicken Stick.”

 

Pelayan itu mengangguk dan langsung mencatat menu yang dipesan Nirma.

 

“Cepat ya, Mbak! Kalo lebih dari lima belas menit, saya udah keluar dari kafe ini. Soalnya, saya lagi ketemu sama orang penting yang jadwalnya padet banget. Kalo lama datangnya, aku nggak mau bayar!” tegas Nirma, kemudian ia berlalu pergi.

 

“Baik, Mbak!” sahut pelayan itu dengan ramah.

 

Nirma bergegas menghampiri Yuna yang tak jauh dari meja order.

 

“Kak Yuna, Kakak sudah lama kenal sama Kak Andre ‘kan?” tanya Nirma. “Kakak pasti udah tahu semua yang disukai dan yang nggak disuka sama Kak Andre.”

 

Yuna tersenyum menatap Nirma. “Manusia bisa berubah seiring waktu. Aku mengenal Andre saat kami masih kecil. Andre sudah pindah ke Italia, jauh sebelum aku kuliah di Melbourne. Kami saling mengenal sejak kecil, tapi kami tidak pernah berhubungan sampai kami dewasa. Ada jarak dan waktu di antara kami. Tentunya, itu mengubah semua hal. Termasuk sifat Andre yang bisa saja berubah. Yang aku tahu hingga saat ini. Dia pria yang baik,” jelasnya.

 

Nirma tersenyum sambil menatap wajah Yuna. Ia terpesona dalam sepersekian detik dengan keanggunan dan ketenangan Yuna. “Kak Yuna, kenapa Kakak selalu baik ke Kak Andre?” tanyanya.

 

“Karena dia teman yang baik. Aku nggak punya alasan untuk membenci dia.”

 

Nirma menghela napas. Yuna yang terlihat sangat tenang, membuatnya mengerti kalau Yuna memang pantas untuk dikagumi banyak orang. “Kak, maafin aku karena udah bikin kekacauan di ulang tahun Kak Andre. Aku bikin dia marah dan nggak tahu harus gimana lagi menebus kesalahanku itu.”

 

“Andre nggak maafin kamu sampai sekarang?”

 

Nirma terdiam sejenak. “Dia nggak nyalahin aku, tapi nggak maafin aku juga. Aku tahu, kesalahanku besar banget. Aku terlalu kekanak-kanakkan untuk dia.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap Nirma. “Andre itu pria yang berjiwa besar. Dia pasti sudah maafin kamu.”

 

“Tapi, beberapa hari ini ... dia nyuekin aku. Aku tahu, dia Cuma pura-pura sibuk dan memilih perjalanan dinas ke luar kota untuk menghindari aku,” tutur Nirma tak bersemangat.

 

“Andre itu pria yang berperasaan. Kasih dia waktu sebentar aja! Suasana hatinya akan kembali seperti biasanya. Kamu yang sabar ya! Menghadapi pria memang seperti itu. Suamiku lebih parah, di pemarah dan pencemburu. Tapi, aku merasa beruntung dengan sikapnya. Pria marah karena dia peduli dan cemburu karena dia cinta.”

 

“Gitu ya, Kak? Apa Kak Andre marah sama aku karena dia peduli?” tanya Nirma.

 

Yuna menganggukkan kepala. Perhatiannya tiba-tiba teralih pada pelayan yang menyuguhkan hidangan ke mejanya. Ia melirik arloji di tangannya sambil menatap ke luar jendela. Melihat Angga yang mengawasinya dari kejauhan.

 

“Kak Yuna ... seandainya Kak Yuna belum menikah. Apa Kak Yuna akan membalas cinta Kak Andre?” tanya Nirma.

 

Yuna tertawa kecil. “Aku dan Andre teman masa kecil. Sampai saat ini, aku menganggap dia seperti kakakku sendiri. Aku lebih nyaman berteman dengan dia daripada harus jadi orang yang akan asing di kemudian hari karena kami tidak berjodoh.”

 

Nirma menghela napas. “Jujur, aku selalu cemburu sama Kak Yuna. Kak Andre, selalu membandingkan aku dengan wanita spesial yang nggak pernah pergi dari hatinya. Apa aku bisa ngambil hati dia kalau kayak gini terus?”

 

Yuna tersenyum kecil. Ia sangat tahu siapa wanita yang dimaksud oleh Nirma. “Nirma, kamu nggak perlu cemburu sama aku. Aku sudah bersuami. Kalau Andre baik sama aku, itu hanya hubungan pertemanan. Kamu yang lebih sering mengisi hari-hari dia. Kamu pasti tahu bagaimana mengambil hati dia.”

 

“Apa aku bakalan bisa, Kak?”

 

“Kamu harus percaya sama diri kamu sendiri! Tunjukkan pada pria yang kamu cintai, kalau kamu layak untuk mendapatkan hati dan seluruh kehidupannya.”

 

Nirma mengangguk sambil tersenyum. Ia tak menyangka kalau wanita yang ada di hadapannya itu ternyata berhati baik dan bijaksana. Kini, ia mengerti kenapa Andre tidak pernah bisa melupakan Yuna walau sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan wanita lain bahkan bertunangan. Ia harap, dirinya bisa menjadi sosok wanita seperti Yuna, bahkan lebih dari itu. Agar ia bisa membuat Andre mencintainya penuh ketulusan. Bukan karena perjodohan yang sudah diatur oleh orang tua mereka.

 

((Bersambung ... ))

Dukung terus cerita ini biar makin seru dan makin semangat nulisnya. Sekuel, prekuel dan spin-off akan jadi satu buku saja. Thank’s!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas