Setiap hari, Yuna
bekerja keras untuk menyelesaikan cangkir yang sengaja ia buat untuk ulang
tahun suaminya. Ia ingin cangkir tersebut sudah jadi sebelum tanggal 12
Oktober. Ia hanya punya waktu sedikit sampai cangkir yang ia buat bisa selesai
sampai finishing akhir.
“Hmm, akhirnya ...
jadi juga!” tutur Yuna sambil menatap cangkir buatannya yang sudah menunggu
pewarnaan terakhir.
“Untuk finishing
terakhirnya, biar Mbah saja yang ngerjain.” Suara Mbah To, pemilik rumah
kerajinan gerabah itu mengalihkan perhatian Yuna.
“Serius, Mbah?”
tanya Yuna. “Tanggal 12 Oktober, bisa aku ambil?”
“Dua belas
Oktober? Tiga hari lagi, ya?”
Yuna mengangguk.
“Pas banget kalau
tiga hari lagi.”
“Berarti bisa?”
tanya Yuna meyakinkan.
Mbah To
menganggukkan kepalanya.
Yuna tersenyum
sambil melirik arloji mungil di tangannya. “Kalo gitu, Yuna pulang dulu ya,
Mbah!” pamitnya. “Soalnya udah jam empat sore. Suamiku bentar lagi pulang
kerja.”
Mbah To
menganggukkan kepala. “Mas Angga juga sudah menunggu di depan.”
“Oh ya?” Yuna
tersenyum lebar sambil meraih tas tangan yang ia letakkan di atas meja.
“Permisi, Mbah!” pamitnya, ia mengangguk sopan dan bergegas pergi keluar dari
rumah kerajinan gerabah tersebut.
“Hai ...! Kak
Yuna?” Suara seseorang menghentikan langkah kaki Yuna.
Yuna menoleh ke
arah sumber suara. “Nirma? Kamu di sini juga?”
Nirma mengangguk
sambil tersenyum. Ia menghampiri Yuna yang baru saja akan keluar dari pintu
galeri keramik tersebut.
“Mau beli
kerajinan keramik atau mau belajar bikin?” tanya Yuna.
“Mmh ...
rencananya sih mau beli. Mau ngasih hadiah untuk Kak Andre.”
Yuna tersenyum
sambil menatap wajah Nirma. “Oh. Oke. Di sini, semua karyanya bagus-bagus.
Andre pasti suka sama barang yang kamu pilih. Aku pulang dulu ya!”
“Tunggu, Kak!”
“Ada apa?”
“Mmh ... Kak Yuna
masih marah sama aku?”
“Marah kenapa?”
tanya Yuna balik.
“Soal kejadian
yang di pesta ulang tahun Kak Andre malam itu.”
Yuna tertawa
kecil. “Aku baik-baik aja. Buat apa marah?”
Nirma tersenyum
kecil menatap wajah Yuna yang begitu lembut. “Maafin aku, Kak!”
“Maaf untuk?”
“Karena aku udah
mengacaukan semuanya.”
Yuna tertawa
kecil. “Itu acara ulang tahun Andre. Kenapa minta maafnya sama aku?”
“Karena ... mmh
...”
Yuna mengangkat
kedua alis sambil menatap Nirma.
“Mmh ... gimana
kalau aku traktir Kakak ngopi? Aku mau ngobrol sama Kak Yuna.”
“Aku lagi hamil.
Nggak bisa konsumsi kopi.”
“Di Kafe depan,
ada teh dan jus juga, kok. Aku traktir jus buat Kakak. Gimana?” tanya Nirma
sambil menatap Yuna. Ia sangat berharap kalau Yuna akan menerima tawarannya
kali ini.
Yuna melirik
arloji mungil di pergelangan tangannya. Suaminya akan pulang ke rumah satu jam
lagi. Ia ingin sampai di rumah sebelum suaminya pulang. “Mmh ... aku cuma punya
waktu tiga puluh menit. Gimana?”
“Cukup, Kak. Cukup
banget.” Nirma langsung menyambar ucapan Yuna.
“Oke.”
Nirma tersenyum
lega. Akhirnya, ia bisa mengajak Yuna untuk bicara. Menanyakan banyak hal untuk
mengetahui bagaimana cara Andre memandang Yuna.
“Ngga, saya ke
kafe depan sebentar. Jemput saya setelah tiga puluh menit ya!” pinta Yuna
sambil menghampiri Angga yang menunggunya sambil berdiri di sisi mobil.
“Siap, Nyonya
Bos!”
Yuna tersenyum. Ia
melangkah beriringan dengan langkah Nirma menyeberangi jalanan untuk menuju
kafe yang berseberangan dengan galeri keramik tempatnya belajar.
“Kak Yuna mau
minum apa?” tanya Nirma saat mereka sudah duduk bersama di salah satu meja yang
ada di ruangan tersebut.
“Mmh ...
Strawberry Milkshake aja!”
“Oke. Aku
pesenin!” Nirma bangkit dari tempat duduk, ia menghampiri meja barista untuk
melakukan order.
“Pesan apa, Mbak?”
sapa seorang pelayan yang berdiri tak jauh dari barista yang sedang meracik
kopi.
“Saya pesan
Strawberry Milkshake, Cappuccino Latte, Strawberry Sweety Sandwich sama Chicken
Stick.”
Pelayan itu
mengangguk dan langsung mencatat menu yang dipesan Nirma.
“Cepat ya, Mbak!
Kalo lebih dari lima belas menit, saya udah keluar dari kafe ini. Soalnya, saya
lagi ketemu sama orang penting yang jadwalnya padet banget. Kalo lama
datangnya, aku nggak mau bayar!” tegas Nirma, kemudian ia berlalu pergi.
“Baik, Mbak!”
sahut pelayan itu dengan ramah.
Nirma bergegas
menghampiri Yuna yang tak jauh dari meja order.
“Kak Yuna, Kakak
sudah lama kenal sama Kak Andre ‘kan?” tanya Nirma. “Kakak pasti udah tahu
semua yang disukai dan yang nggak disuka sama Kak Andre.”
Yuna tersenyum
menatap Nirma. “Manusia bisa berubah seiring waktu. Aku mengenal Andre saat
kami masih kecil. Andre sudah pindah ke Italia, jauh sebelum aku kuliah di
Melbourne. Kami saling mengenal sejak kecil, tapi kami tidak pernah berhubungan
sampai kami dewasa. Ada jarak dan waktu di antara kami. Tentunya, itu mengubah
semua hal. Termasuk sifat Andre yang bisa saja berubah. Yang aku tahu hingga
saat ini. Dia pria yang baik,” jelasnya.
Nirma tersenyum
sambil menatap wajah Yuna. Ia terpesona dalam sepersekian detik dengan
keanggunan dan ketenangan Yuna. “Kak Yuna, kenapa Kakak selalu baik ke Kak
Andre?” tanyanya.
“Karena dia teman
yang baik. Aku nggak punya alasan untuk membenci dia.”
Nirma menghela
napas. Yuna yang terlihat sangat tenang, membuatnya mengerti kalau Yuna memang
pantas untuk dikagumi banyak orang. “Kak, maafin aku karena udah bikin
kekacauan di ulang tahun Kak Andre. Aku bikin dia marah dan nggak tahu harus
gimana lagi menebus kesalahanku itu.”
“Andre nggak
maafin kamu sampai sekarang?”
Nirma terdiam
sejenak. “Dia nggak nyalahin aku, tapi nggak maafin aku juga. Aku tahu,
kesalahanku besar banget. Aku terlalu kekanak-kanakkan untuk dia.”
Yuna tersenyum
sambil menatap Nirma. “Andre itu pria yang berjiwa besar. Dia pasti sudah
maafin kamu.”
“Tapi, beberapa
hari ini ... dia nyuekin aku. Aku tahu, dia Cuma pura-pura sibuk dan memilih
perjalanan dinas ke luar kota untuk menghindari aku,” tutur Nirma tak
bersemangat.
“Andre itu pria
yang berperasaan. Kasih dia waktu sebentar aja! Suasana hatinya akan kembali
seperti biasanya. Kamu yang sabar ya! Menghadapi pria memang seperti itu.
Suamiku lebih parah, di pemarah dan pencemburu. Tapi, aku merasa beruntung
dengan sikapnya. Pria marah karena dia peduli dan cemburu karena dia cinta.”
“Gitu ya, Kak? Apa
Kak Andre marah sama aku karena dia peduli?” tanya Nirma.
Yuna menganggukkan
kepala. Perhatiannya tiba-tiba teralih pada pelayan yang menyuguhkan hidangan
ke mejanya. Ia melirik arloji di tangannya sambil menatap ke luar jendela.
Melihat Angga yang mengawasinya dari kejauhan.
“Kak Yuna ...
seandainya Kak Yuna belum menikah. Apa Kak Yuna akan membalas cinta Kak Andre?”
tanya Nirma.
Yuna tertawa
kecil. “Aku dan Andre teman masa kecil. Sampai saat ini, aku menganggap dia
seperti kakakku sendiri. Aku lebih nyaman berteman dengan dia daripada harus
jadi orang yang akan asing di kemudian hari karena kami tidak berjodoh.”
Nirma menghela
napas. “Jujur, aku selalu cemburu sama Kak Yuna. Kak Andre, selalu
membandingkan aku dengan wanita spesial yang nggak pernah pergi dari hatinya.
Apa aku bisa ngambil hati dia kalau kayak gini terus?”
Yuna tersenyum
kecil. Ia sangat tahu siapa wanita yang dimaksud oleh Nirma. “Nirma, kamu nggak
perlu cemburu sama aku. Aku sudah bersuami. Kalau Andre baik sama aku, itu
hanya hubungan pertemanan. Kamu yang lebih sering mengisi hari-hari dia. Kamu
pasti tahu bagaimana mengambil hati dia.”
“Apa aku bakalan
bisa, Kak?”
“Kamu harus
percaya sama diri kamu sendiri! Tunjukkan pada pria yang kamu cintai, kalau
kamu layak untuk mendapatkan hati dan seluruh kehidupannya.”
Nirma mengangguk
sambil tersenyum. Ia tak menyangka kalau wanita yang ada di hadapannya itu
ternyata berhati baik dan bijaksana. Kini, ia mengerti kenapa Andre tidak
pernah bisa melupakan Yuna walau sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan
wanita lain bahkan bertunangan. Ia harap, dirinya bisa menjadi sosok wanita
seperti Yuna, bahkan lebih dari itu. Agar ia bisa membuat Andre mencintainya
penuh ketulusan. Bukan karena perjodohan yang sudah diatur oleh orang tua
mereka.
((Bersambung ... ))
Dukung terus cerita ini biar makin seru dan makin semangat nulisnya.
Sekuel, prekuel dan spin-off akan jadi satu buku saja. Thank’s!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment