Saturday, February 28, 2026

Perfect Hero Bab 482 : Akhir Cerita Refi Tata

 


Tepat di menit ke tiga puluh, Yuna sudah keluar dari kafe tempat ia dan Nirma berbincang banyak hal tentang Andre. Yuna langsung melangkahkan kakinya, tak sampai menyebrang ke halaman galeri kerajinan keramik karena Angga sudah memarkirkan mobilnya di halaman kafe.

 

“Mau ke mana lagi, Nyonya Bos?” tanya Angga sambil membukakan pintu mobil untuk Yuna.

 

“Langsung pulang aja, Ngga.”

 

Angga menganggukkan kepala. Ia menutup pintu mobil begitu Yuna sudah duduk di dalamnya.

 

Yuna menoleh ke arah kafe. Ia menatap tempat duduk dari balik kaca jendela kafe tersebut. Nirma sudah tak ada di sana, gadis kecil itu juga sudah beranjak pergi. Ia harap, hubungannya dengan Andre tak menimbulkan kesalahpahaman yang besar karena ia memang tak pernah menganggap Andre adalah pria yang spesial.

 

Angga menjalankan mobilnya perlahan. Ia selalu waspada semenjak kejadian penculikan beberapa hari lalu. Ia tidak ingin menghentikan mobilnya selain ke tempat yang sudah dituju oleh majikannya itu.

 

Lima belas menit kemudian, Yuna sudah sampai di rumahnya. Ia langsung masuk ke dalam rumah dan menghampiri Bibi War yang sedang duduk santai sambil menonton televisi.

 

“Hai, Bibi ...!” sapa Yuna sambil menghampiri Bibi War. “Suamiku udah pulang atau belum?” tanya Yuna.

 

“Belum. Biasanya, Mas Yeri pulang jam lima kalau nggak lembur.”

 

Yuna langsung menoleh ke arah jam dinding yang ada di ruangan tersebut. “Masih lima belas menit lagi. Aku masih sempat mandi,” ucapnya sambil berlalu pergi.

 

“Memangnya, lima belas menit cukup buat Mandi?  Biasanya, Mbak Yuna mandinya sampai satu jam.”

 

“Cukup, Bi. Daripada nggak mandi. Ntar suamiku pulang, dia protes karena udah sore aku masih belum mandi. Udah kayak wanita super sibuk aja. Padahal nggak ngapa-ngapain, hihihi.”

 

Bibi War tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia selalu bahagia melihat Yuna mewarnai rumah ini setiap waktu. Ia harap, hubungan Yuna dan Yeriko akan selalu terjaga seperti ini. Tidak berakhir seperti kedua orang tua mereka yang harus berpisah karena takdir.

 

Usai mandi, Yuna langsung menyalakan televisi di kamarnya sambil mengeringkan rambut. Ia ingin tubuhnya selalu wangi dan bersih saat suaminya kembali ke rumah.

 

“Artis cantik Refi Tata dikabarkan meninggal dunia.” Suara yang keluar dari televisi mengalihkan perhatian Yuna.

 

“Hah!? Kok, bisa?” seru Yuna sambil menaikkan volume televisinya. “Meninggal kenapa?” tanyanya lagi sambil menatap layar televisi.

 

“Beberapa hari lalu, artis cantik Refi Tata dikabarkan mendapat perawatan di rumah sakit karena gangguan kejiwaan. Kali ini dunia hiburan tanah air kembali dikejutkan dengan kabar meninggalnya artis tersebut.”

 

“Hal ini dibenarkan oleh pihak rumah sakit. Penyebab kematiannya masih menjadi misteri. Tidak ada pernyataan resmi dari pihak rumah sakit atau keluarganya terkait kematian dara cantik berusia dua puluh tujuh tahun ini. Dugaan sementara, dia meninggal karena bunuh diri.”

 

Yuna langsung gemetaran mendengar berita yang beredar di televisi. Ia benar-benar tak menyangka kalau hidup Refi akan berakhir setragis ini. Ia langsung meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja riasnya. Menelepon Yeriko beberapa kali, tapi tak mendapat jawaban.

 

“Ay, angkat dong!” pinta Yuna sambil mondar-mandir di dalam kamarnya.

 

“Kenapa nelpon?” tanya Yeriko sambil membuka pintu kamar.

 

Yuna langsung memutar kepalanya ke arah pintu. “Udah pulang? Aku barusan baca berita soal Refi. Apa bener dia meninggal?” tanya Yuna dengan tubuh gemetaran menghampiri suaminya.

 

Yeriko mengangguk sambil melepas kancing jasnya.

 

“Meninggal kenapa?” tanya Yuna.

 

“Bunuh diri.”

 

“What!? Dia beneran bunuh diri? Kok, bisa? Bukannya pihak rumah sakit harusnya bisa jagain dia?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengedikkan bahu, ia duduk di sofa, mengambil remote dan mematikan televisi. “Nggak usah ditonton!”

 

“Ay, kenapa kamu tenang banget? Dia mantan pacar kamu. Apa nggak ada rasa peduli sedikit pun? Dia nggak punya keluarga di sini. Kita ke rumah sakit, sekarang!”

 

“Nggak usah ke rumah sakit. Semuanya udah diurus sama Riyan.”

 

“Tapi aku nggak tenang. Aku emang sering berantem sama dia. Aku nggak suka dia terus-terusan ganggu hubungan kita. Aku nggak suka dia nempel terus sama kamu. Aku nggak suka sama kelakuan dia. Aku emang mau ngasih pelajaran ke dia. Tapi nggak bunuh diri juga.”

 

Yeriko melirik istrinya yang mondar-mandir di depannya sambil menggigit jemari tangannya.

 

“Refi bego banget, sih? Kenapa harus bunuh diri? Kenapa?” tanya Yuna. Ia menatap Yeriko yang duduk tenang di sofa.

 

“Ay, apa kita nggak perlu ke sana? Aku gelisah. Kasihan dia.”

 

Yeriko menarik lengan Yuna agar duduk di pangkuannya. “Semua udah diurus sama Riyan. Kamu nggak perlu cemas kayak gini!”

 

“Aku nggak bisa tenang denger berita kayak gini. Apa dia bunuh diri karena aku? Cuma aku satu-satunya orang yang sering berantem sama dia.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengusap pipi Yuna. “Nggak ada hubungannya sama kamu sedikit pun. Kata dokter, kondisi mentalnya sudah membaik. Dia mengakhiri hidup karena keinginannya dia sendiri. Kamu nggak perlu merasa bersalah seperti ini.”

 

“Aku kasihan sama dia. Dia harusnya nggak kayak gini. Gimana, kalau kita lihat dia? Setidaknya, kita bisa mengantarkan dia ke peristirahatan terakhirnya.”

 

Yeriko menatap wajah Yuna selama beberapa detik. “Oke. Kalau emang itu mau kamu.”

 

Yuna tersenyum. Ia langsung mengecup bibir Yeriko dan bangkit dari pangkuannya. “Aku siap-siap dulu!”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum mereka pergi ke rumah sakit untuk melihat Refi.

 

Sesampainya di rumah sakit, Yuna langsung menghampiri Riyan yang sedang mengurus pemakaman untuk Refi.

 

“Yan, dia di mana?” tanya Yuna.

 

Riyan menunjukkan ruang mayat yang ada di rumah sakit Siloam. Tempat Refi mendapatkan pertolongan terakhir sebelum akhirnya meregang nyawa.

 

Yuna tak bisa berkata-kata saat melihat wajah Refi yang sudah membeku. Air matanya mengalir tanpa ia sadari. Ia memang tidak menyukai Refi ada dalam kehidupan rumah tangganya. Tapi ia lebih tidak menyukai Refi yang memilih untuk mengakhiri hidupnya.

 

“Jenazahnya mau dimakamkan di mana?” tanya Yeriko pada Riyan sambil mengelus pundak Yuna.

 

“Kami sudah berusaha menghubungi keluarganya. Mereka minta jenazah Mbak Refi diterbangkan ke Jakarta. Sudah saya urus semuanya. Akan dibawa di penerbangan terakhir,” jawab Riyan.

 

Yuna menoleh ke arah Riyan. “Kamu yang urus semuanya? Kenapa Refi bisa bunuh diri? Bukannya dia seharusnya dijaga ketat dan dilindungi pihak Menur?”

 

Riyan menganggukkan kepala. Ia tak berani menjawab pertanyaan dari Yuna.

 

“Kita ngobrol di luar aja!” pinta Yeriko sambil merangkul Yuna untuk keluar dari ruangan itu.

 

Mereka bertiga bergegas keluar dari ruangan tersebut.

 

“Mbak Refi bunuh diri saat dini hari. Saat semua orang tertidur. Perawat yang berjaga sudah berusaha menolong dan membawa ke rumah sakit ini. Namun, dia sudah kehilangan banyak darah dan tidak bisa bertahan. Sebelum bunuh diri, ia memaksa perawat menyediakan kostum balet dan menari seorang diri di dalam kamar rawatnya.”

 

Yuna gemetaran mendengar cerita Riyan. “Kenapa aku baru tahu sore ini dari berita di televisi?”

 

“Maaf, Nyonya Muda ...!” tutur Riyan sambil membungkukkan punggungnya. “Pihak rumah sakit juga baru memberitahu kami dan terlalu banyak hal yang harus saya urus.”

 

“Udahlah, nggak usah diperdebatkan soal ini!” pinta Yeriko. “Yang paling penting sekarang, urus pemakaman dia dengan baik.”

 

Riyan langsung menganggukkan kepalanya.

 

Yuna dan Yeriko menunggu sampai jenazah Refi dikirim ke salah satu maskapai  yang akan membawa wanita itu kembali pada keluarga dan kehidupan awalnya.

 

Andai Refi bisa lebih berbesar hati, ia tidak harus berakhir menyedihkan seperti ini.

 

Cara mengakhiri penderitaan bukanlah dengan berhenti hidup, tapi dengan ikhlas menerima kehidupan baru yang sedang disiapkan oleh Tuhan. Ia lupa, bahwa hukuman yang harus ia terima adalah peringatan dari Tuhan agar ia memilih jalan-jalan lain yang lebih indah yang sedang disiapkan oleh Tuhan.

 

Tak ada manusia yang tidak bisa bahagia di dunia ini. Ia hanya tidak bisa menerima kebahagiaan yang sedang disiapkan Tuhan di tempat lain. Ia menolak semua kebahagiaan yang sudah dimiliki atas nama cinta. Yang membuat hidupnya harus berakhir tanpa penghargaan, justru mendapatkan penghinaan.

 

Akhir hidup Refi, tak seindah saat ia berproses. Tak seelok saat ia mengejar mimpi-mimpinya. Semua bakat dan prestasi yang sudah ia raih, ia tutup dengan cerita kelam, meninggalkan nama yang dikenang sebagai White Swan dan Black Swan yang sempurna seperti mimpi-mimpinya di atas panggung Swan Lake.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar makin seru dan makin semangat nulisnya. Sekuel, prekuel dan spin-off akan jadi satu buku saja. Thank’s!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas