“Siang,
Ayah ...!” sapa Yuna begitu Adjie membukakan pintu apartemen untuknya.
“Siang
...! Akhirnya, kalian datang juga,” balas Adjie. “Ayo, masuk!”
Yuna
dan Yeriko menganggukkan kepala. Mereka bergegas masuk ke dalam apartemen
Adjie.
“Wah
...! Ayah udah siapin makanan enak!” seru Yuna sambil menghampiri meja makan.
Yeriko
tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Hari ini
adalah hari ulang tahun ayah mertuanya. Ia tidak ingin mengatur menu makanan
Yuna seperti yang sudah ditentukan oleh Chef Rafa dan ahli gizinya. Asal tidak
membahayakan janinnya, ia tidak akan melarang Yuna makan apa pun.
“Ayo,
kita makan siang bareng!” ajak Adjie.
Yeriko
mengangguk, ia menyodorkan paper bag ke arah Adjie. “Ini, hadiah ulang tahun
untuk Ayah. Maaf, karena terlambat.”
“Nggak
papa. Ayah mengerti keadaan kalian. Makanya, Ayah hari ini sengaja masak
makanan yang banyak untuk ngerayain hari ulang tahun Ayah. Ini pertama kalinya
Ayah merayakan ulang tahun bareng puteri Ayah setelah sebelas tahun tidak
pernah bertemu.”
Yuna
tersenyum sambil duduk di kursi. “Aku nggak bawa hadiah untuk Ayah. Hadiahnya
aku aja, ya!?”
Adjie
tertawa kecil menanggapi permintaan Yuna. Kemudian, ia mengangguk-anggukkan
kepalanya. “Melihat kamu tumbuh dewasa dengan baik dan hidup bahagia, sudah
menjadi hadiah paling berharga bagi Ayah.”
Yuna
tersenyum manja sambil menatap wajah ayahnya. Ia menarik lengan Adjie agar
duduk di sampingnya.
“Ay,
hari ini aku selingkuh dulu ya!” pinta Yuna sambil tersenyum menatap Yeriko.
Yeriko
mengangguk, ia duduk di kursi yang berseberangan dengan Yuna. Memberikan
kesempatan untuk istri dan ayah mertuanya berduaan.
“Yah,
bulan depan Yuna ulah tahun. Ayah mau kasih kado apa buat Yuna?” tanya Yuna
sambil bergelayut manja di pundak ayahnya.
“Mmh
... kamu mau hadiah apa?” tanya Adjie.
“Apa
ya?” tanya Yuna sambil mengetuk-ngetuk dagunya.
“Nanti
saja ngomongin kadonya! Kita makan dulu!” ajak Adjie.
Yuna
menganggukkan kepala. Ia mengambil nasi untuk Yeriko dan ayahnya. Mereka
menikmati makan siang bersama sambil berbincang banyak hal. Yuna juga
menceritakan hal buruk yang sudah menimpa Refi karena mereka baru saja
menjenguknya sebelum pergi ke apartemen Adjie.
Usai
menikmati makan siang bersama, Adjie dan Yeriko duduk bercengkerama di balkon.
Yuna
membuat dua cangkir kopi dan menghampiri dua pria yang sedang asyik berbincang
tentang dunia bisnis. Walau dia lulusan Manajemen Bisnis, ia tidak begitu
tertarik dengan obrolan monoton yang ujung-ujungnya hanya akan membuat ia
berkata “Oh” saja.
“Ayah
...!” panggil Yuna manja sambil berdiri di hadapan Adjie.
“Apa?”
tanya Adjie, ia menengadahkan kepala menatap puterinya itu.
“I
have something for you,” jawab Yuna sambil menyodorkan hadiah yang ia buat ke
hadapan ayahnya itu.
“Apa
ini?” tanya Adjie sambil menatap barang yang ada di tangan Yuna.
“Hadiah
buat Ayah,” jawab Yuna sambil tersenyum.
Adjie
menerima hadiah dari puteri kesayangannya itu. “Kamu bikin sendiri?”
Yuna
mengangguk. “Bagus, nggak?” tanya Yuna.
“Bagus
banget!”
Yuna
langsung tersenyum dan memeluk tubuh ayahnya. “Selamat ulang tahun, Ayah.
Hadiah dari aku, mungkin nilainya nggak seberapa. Aku harap, Ayah berkenan
menerimanya.”
Adjie
tersenyum sambil mengecup kening puterinya. “Ini sangat berharga bagi Ayah.”
Yuna
tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. Ia tak menyangka kalau di tahun ke
sebelas, ia bisa mendengar suara Adjie saat hari ulang tahunnya itu. Sebuah
penantian yang panjang, walau kadang ingin menyerah ... tapi ia tak pernah
menyerah menunggu waktu-waktu ini tiba. Mereka bertiga terus berbincang penuh
bahagia.
...
“Jhen,
tanggal 12 Oktober nanti ... Yeriko ulang tahun. Bagusnya, kasih kado apa untuk
dia ya?” tanya Yuna saat ia menikmati cemilan sore di toko dessert seperti
biasanya.
“Dia
suka apa, Yun?” tanya Jheni.
“Mmh
...” Yuna mengetuk-ngetuk dagunya. “Dia suka sesuatu yang nggak ada
bandingannya di dunia ini.”
“Contohnya?”
“Handmade.
Kalau barang-barang yang dijual di luaran sana. Dia bisa beli pakai uangnya
dengan mudah. Kalau handmade, jauh lebih berharga karena dibuat dengan hati.”
Jheni
tertawa kecil. “Kamu kan lagi belajar bikin kerajinan gerabah. Gimana kalau
kamu bikin cangkir sepasang, kayak di drama-drama gitu.”
Yuna
menghela napas. “Apa itu nggak terlalu biasa dan mengadaptasi dari drama.
Kira-kira, Yeriko bakal suka atau nggak kalau aku buatin dia cangkir tembikar?”
“Masalah
suka atau nggaknya, yang penting kan udah usaha.”
“Iya,
juga sih. Tapi, coba pikirin barang handmade yang lain lagi deh selain
cangkir!” pinta Yuna. “Aku emang lagi bikin cangkir untuk Yeriko, tapi aku mau
kasih hadiah lain untuk ulang tahunnya. Rencananya, cangkir itu mau aku kasih
saat perayaan tahun baru. Lagipula, karyaku masih jelek banget. Belum pede
kalau aku kasih dia cangkir. Alternatif terakhir aja, deh. Pikirin ide yang
lain dulu!”
“Mmh
... apa, ya?” tanya Jheni sambil mengetuk-ngetuk dagunya.
Yuna
terus berpikir untuk memberikan hadiah lain yang bisa ia buat dengan tangannya
sendiri.
“Ide
yang muncul di kepalaku cuma itu doang, Yun.”
“Huft!
Aku juga miskin ide.”
“Mmh
... kamu buatin sweeter rajut aja, Yun!” seru Jheni. “Aku perhatiin, Yeriko
sering pakai sweeter yang itu-itu aja.”
“Itu
sweeter buatan aku, Jhen. Masa aku kasih sweeter lagi?” sahut Yuna.
Jheni
terkekeh. “Ya, kali aja kamu mau bikinin selusin. Buat ganti-ganti, Yun.”
Yuna
memonyongkan bibirnya ke arah Jheni. “Nggak lucu!”
“Eh,
si Yeriko kan suka bisnis tuh. Gimana kalau kamu kasih hadiah pena edisi
terbatas? Ada pena lapis berlian, Yun. Harganya sekitar tujuh sampai delapan
ratus jutaan.”
“Gila
aja, kamu! Aku disuruh beli hadiah yang bisa dibeli sama Yeriko sendiri. Itu
bukan handmade, Jhen!” seru Yuna kesal. “Minta ide sama kamu, bukannya dapet
solusi, malah tambah pusing.”
Jheni
terkekeh. “Udahlah, Yun. Daripada pusing, mending yang tadi itu aja. Bikin
cangkir dari tembikar. Kelar.”
“Hmm
... ketahuan banget kayak drama Endless Love,” tutur Yuna tak bersemangat.
“Ibu
Yuna yang cantik jelita. Aku kasih tahu, ya! Dengerin, nih! Dengerin
baik-baik!” pinta Jheni dengan gaya serius yang dipaksakan. “Drama itu
terinspirasi dari kehidupan nyata. Kehidupan nyata juga terinspirasi dari
drama. Jadi, nggak ada salahnya kamu ikuti. Lagipula, dari milyaran manusia di
luar sana. Pasti ada orang-orang yang punya cerita hidup yang sama. Kamu bikin
cangkir dari tembikar, nggak ada yang salah. Yang salah itu ... kamu nggak
bikin apa-apa karena kebanyakan mikir!”
“Mmh
... oke, deh. Tapi, aku mau cari ide yang lain dulu kalau ada.”
“Eyuuh
...!” Jheni memutar bola matanya. “Ujung-ujungnya, masih mikir lagi.”
Yuna
terkekeh menatap wajah Jheni. “Galau aku, Jhen! Galau!”
“Nggak
usah galau! Itu aja! Ribet amat sih, Yun!” dengus Jheni.
“Iya,
deh. Mentok itu aja.”
Jheni
mengangguk sambil tersenyum. “Udahlah, nggak udah mikir yang berat-berat!”
pintanya. “Kamu lagi hamil, ntar anak kamu ikutan stres.”
“Iya,
Tante Jheni kesayangan!” sahut Yuna sambil menyeruput jus yang ada di
hadapannya.
“Kalo
dikasih tahu ngece ‘kan!?” dengus Jheni.
“Ngece
kenapa?” tanya Yuna sambil menahan tawa.
“Muka
kamu, iih ... ngece banget!”
“Hahaha.”
Yuna tertawa lebar.
Mereka
berdua menikmati cemilan sore sambil membicarakan banyak hal. Sayangnya, hari
ini Icha tak bisa ikut berkumpul bersama karena ia dan Lutfi pergi ke Jakarta
untuk mengunjungi nenek mereka. Mungkin saja, mereka sedang sibuk membicarakan
pernikahan mereka yang rencananya akan dilaksanakan tahun depan.
(( Bersambung ...))
Thanks udah dukung cerita ini terus ...
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment