Saturday, February 28, 2026

Perfect Hero Bab 480 : Hadiah untuk Ayah

 


“Siang, Ayah ...!” sapa Yuna begitu Adjie membukakan pintu apartemen untuknya.

 

“Siang ...! Akhirnya, kalian datang juga,” balas Adjie. “Ayo, masuk!”

 

Yuna dan Yeriko menganggukkan kepala. Mereka bergegas masuk ke dalam apartemen Adjie.

 

“Wah ...! Ayah udah siapin makanan enak!” seru Yuna sambil menghampiri meja makan.

 

Yeriko tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Hari ini adalah hari ulang tahun ayah mertuanya. Ia tidak ingin mengatur menu makanan Yuna seperti yang sudah ditentukan oleh Chef Rafa dan ahli gizinya. Asal tidak membahayakan janinnya, ia tidak akan melarang Yuna makan apa pun.

 

“Ayo, kita makan siang bareng!” ajak Adjie.

 

Yeriko mengangguk, ia menyodorkan paper bag ke arah Adjie. “Ini, hadiah ulang tahun untuk Ayah. Maaf, karena terlambat.”

 

“Nggak papa. Ayah mengerti keadaan kalian. Makanya, Ayah hari ini sengaja masak makanan yang banyak untuk ngerayain hari ulang tahun Ayah. Ini pertama kalinya Ayah merayakan ulang tahun bareng puteri Ayah setelah sebelas tahun tidak pernah bertemu.”

 

Yuna tersenyum sambil duduk di kursi. “Aku nggak bawa hadiah untuk Ayah. Hadiahnya aku aja, ya!?”

 

Adjie tertawa kecil menanggapi permintaan Yuna. Kemudian, ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Melihat kamu tumbuh dewasa dengan baik dan hidup bahagia, sudah menjadi hadiah paling berharga bagi Ayah.”

 

Yuna tersenyum manja sambil menatap wajah ayahnya. Ia menarik lengan Adjie agar duduk di sampingnya.

 

“Ay, hari ini aku selingkuh dulu ya!” pinta Yuna sambil tersenyum menatap Yeriko.

 

Yeriko mengangguk, ia duduk di kursi yang berseberangan dengan Yuna. Memberikan kesempatan untuk istri dan ayah mertuanya berduaan.

 

“Yah, bulan depan Yuna ulah tahun. Ayah mau kasih kado apa buat Yuna?” tanya Yuna sambil bergelayut manja di pundak ayahnya.

 

“Mmh ... kamu mau hadiah apa?” tanya Adjie.

 

“Apa ya?” tanya Yuna sambil mengetuk-ngetuk dagunya.

 

“Nanti saja ngomongin kadonya! Kita makan dulu!” ajak Adjie.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia mengambil nasi untuk Yeriko dan ayahnya. Mereka menikmati makan siang bersama sambil berbincang banyak hal. Yuna juga menceritakan hal buruk yang sudah menimpa Refi karena mereka baru saja menjenguknya sebelum pergi ke apartemen Adjie.

 

Usai menikmati makan siang bersama, Adjie dan Yeriko duduk bercengkerama di balkon.

 

Yuna membuat dua cangkir kopi dan menghampiri dua pria yang sedang asyik berbincang tentang dunia bisnis. Walau dia lulusan Manajemen Bisnis, ia tidak begitu tertarik dengan obrolan monoton yang ujung-ujungnya hanya akan membuat ia berkata “Oh” saja.

 

“Ayah ...!” panggil Yuna manja sambil berdiri di hadapan Adjie.

 

“Apa?” tanya Adjie, ia menengadahkan kepala menatap puterinya itu.

 

“I have something for you,” jawab Yuna sambil menyodorkan hadiah yang ia buat ke hadapan ayahnya itu.

 

“Apa ini?” tanya Adjie sambil menatap barang yang ada di tangan Yuna.

 

“Hadiah buat Ayah,” jawab Yuna sambil tersenyum.

 

Adjie menerima hadiah dari puteri kesayangannya itu. “Kamu bikin sendiri?”

 

Yuna mengangguk. “Bagus, nggak?” tanya Yuna.

 

“Bagus banget!”

 

Yuna langsung tersenyum dan memeluk tubuh ayahnya. “Selamat ulang tahun, Ayah. Hadiah dari aku, mungkin nilainya nggak seberapa. Aku harap, Ayah berkenan menerimanya.”

 

Adjie tersenyum sambil mengecup kening puterinya. “Ini sangat berharga bagi Ayah.”

 

Yuna tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. Ia tak menyangka kalau di tahun ke sebelas, ia bisa mendengar suara Adjie saat hari ulang tahunnya itu. Sebuah penantian yang panjang, walau kadang ingin menyerah ... tapi ia tak pernah menyerah menunggu waktu-waktu ini tiba. Mereka bertiga terus berbincang penuh bahagia.

 

 

 

...

 

 

 

“Jhen, tanggal 12 Oktober nanti ... Yeriko ulang tahun. Bagusnya, kasih kado apa untuk dia ya?” tanya Yuna saat ia menikmati cemilan sore di toko dessert seperti biasanya.

 

“Dia suka apa, Yun?” tanya Jheni.

 

“Mmh ...” Yuna mengetuk-ngetuk dagunya. “Dia suka sesuatu yang nggak ada bandingannya di dunia ini.”

 

“Contohnya?”

 

“Handmade. Kalau barang-barang yang dijual di luaran sana. Dia bisa beli pakai uangnya dengan mudah. Kalau handmade, jauh lebih berharga karena dibuat dengan hati.”

 

Jheni tertawa kecil. “Kamu kan lagi belajar bikin kerajinan gerabah. Gimana kalau kamu bikin cangkir sepasang, kayak di drama-drama gitu.”

 

Yuna menghela napas. “Apa itu nggak terlalu biasa dan mengadaptasi dari drama. Kira-kira, Yeriko bakal suka atau nggak kalau aku buatin dia cangkir tembikar?”

 

“Masalah suka atau nggaknya, yang penting kan udah usaha.”

 

“Iya, juga sih. Tapi, coba pikirin barang handmade yang lain lagi deh selain cangkir!” pinta Yuna. “Aku emang lagi bikin cangkir untuk Yeriko, tapi aku mau kasih hadiah lain untuk ulang tahunnya. Rencananya, cangkir itu mau aku kasih saat perayaan tahun baru. Lagipula, karyaku masih jelek banget. Belum pede kalau aku kasih dia cangkir. Alternatif terakhir aja, deh. Pikirin ide yang lain dulu!”

 

“Mmh ... apa, ya?” tanya Jheni sambil mengetuk-ngetuk dagunya.

 

Yuna terus berpikir untuk memberikan hadiah lain yang bisa ia buat dengan tangannya sendiri.

 

“Ide yang muncul di kepalaku cuma itu doang, Yun.”

 

“Huft! Aku juga miskin ide.”

 

“Mmh ... kamu buatin sweeter rajut aja, Yun!” seru Jheni. “Aku perhatiin, Yeriko sering pakai sweeter yang itu-itu aja.”

 

“Itu sweeter buatan aku, Jhen. Masa aku kasih sweeter lagi?” sahut Yuna.

 

Jheni terkekeh. “Ya, kali aja kamu mau bikinin selusin. Buat ganti-ganti, Yun.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya ke arah Jheni. “Nggak lucu!”

 

“Eh, si Yeriko kan suka bisnis tuh. Gimana kalau kamu kasih hadiah pena edisi terbatas? Ada pena lapis berlian, Yun. Harganya sekitar tujuh sampai delapan ratus jutaan.”

 

“Gila aja, kamu! Aku disuruh beli hadiah yang bisa dibeli sama Yeriko sendiri. Itu bukan handmade, Jhen!” seru Yuna kesal. “Minta ide sama kamu, bukannya dapet solusi, malah tambah pusing.”

 

Jheni terkekeh. “Udahlah, Yun. Daripada pusing, mending yang tadi itu aja. Bikin cangkir dari tembikar. Kelar.”

 

“Hmm ... ketahuan banget kayak drama Endless Love,” tutur Yuna tak bersemangat.

 

“Ibu Yuna yang cantik jelita. Aku kasih tahu, ya! Dengerin, nih! Dengerin baik-baik!” pinta Jheni dengan gaya serius yang dipaksakan. “Drama itu terinspirasi dari kehidupan nyata. Kehidupan nyata juga terinspirasi dari drama. Jadi, nggak ada salahnya kamu ikuti. Lagipula, dari milyaran manusia di luar sana. Pasti ada orang-orang yang punya cerita hidup yang sama. Kamu bikin cangkir dari tembikar, nggak ada yang salah. Yang salah itu ... kamu nggak bikin apa-apa karena kebanyakan mikir!”

 

 “Mmh ... oke, deh. Tapi, aku mau cari ide yang lain dulu kalau ada.”

 

“Eyuuh ...!” Jheni memutar bola matanya. “Ujung-ujungnya, masih mikir lagi.”

 

Yuna terkekeh menatap wajah Jheni. “Galau aku, Jhen! Galau!”

 

“Nggak usah galau! Itu aja! Ribet amat sih, Yun!” dengus Jheni.

 

“Iya, deh. Mentok itu aja.”

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum. “Udahlah, nggak udah mikir yang berat-berat!” pintanya. “Kamu lagi hamil, ntar anak kamu ikutan stres.”

 

“Iya, Tante Jheni kesayangan!” sahut Yuna sambil menyeruput jus yang ada di hadapannya.

 

“Kalo dikasih tahu ngece ‘kan!?” dengus Jheni.

 

“Ngece kenapa?” tanya Yuna sambil menahan tawa.

 

“Muka kamu, iih ... ngece banget!”

 

“Hahaha.” Yuna tertawa lebar.

 

Mereka berdua menikmati cemilan sore sambil membicarakan banyak hal. Sayangnya, hari ini Icha tak bisa ikut berkumpul bersama karena ia dan Lutfi pergi ke Jakarta untuk mengunjungi nenek mereka. Mungkin saja, mereka sedang sibuk membicarakan pernikahan mereka yang rencananya akan dilaksanakan tahun depan.

 

(( Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus ...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas