Friday, February 27, 2026

Perfect Hero Bab 471 : Your Love is Deep

 


“Dok, gimana keadaan istri saya?” tanya Yeriko begitu dokter yang menangani Yuna keluar dari ruang pemeriksaan.

 

“Dia baik-baik saja. Hanya kelelahan,” jawab dokter tersebut.

 

“Saya boleh lihat dia?” tanya Yeriko.

 

Dokter tersebut menganggukkan kepala.

 

Yeriko bergegas masuk ke dalam ruangan IGD tersebut. Ia mengedarkan pandangannya melihat beberapa brankar yang berbaris rapi.

 

“Istri saya mana, Suster?” tanya Yeriko.

 

“Di sana, Pak!” jawab Suster yang bertugas sambil menunjuk brankar yang tertutup tirai.

 

Yeriko mempercepat langkahnya, ia menyingkap tirai yang memisahkan brankar istrinya dengan brankar pasien lain. Ia langsung memeluk tubuh Yuna yang masih belum sadarkan diri.

 

“Sayang, maafin aku ya!” ucap Yeriko sambil mengelus pipi Yuna dan menciumi wajahnya. “Cepet bangun, ya! Katanya, kamu kangen sama aku?” bisik Yeriko.

 

Yeriko terus menggenggam tangan Yuna sambil mengecupnya. Ia tidak ingin meninggalkan Yuna walau hanya sedetik saja. Apa yang terjadi pada istrinya kali ini, benar-benar membuat perasaannya sakit. Ia tak pernah melihat tubuh Yuna penuh dengan luka. Terluka sedikit saja, ia sudah sangat khawatir. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa menjadi orang yang tak berguna.

 

“Permisi, Mas!” sapa seorang suster yang tiba-tiba menghampiri Yeriko.

 

“Iya, Sus,” balas Yeriko sambil menoleh ke arah suster tersebut.

 

“Tolong selesaikan administrasi pasien secepatnya! Kami akan memindahkan ke ruang rawat dua jam lagi.”

 

“Sus, saya bisa minta pindah rumah sakit?” tanya Yeriko pada suster yang berbicara dengannya.

 

“Bisa, Mas. Silakan diurus ke bagian administrasi dan pelayanan!”

 

Yeriko mengangguk. “Terima kasih, Suster!”

 

Suster tersebut mengangguk ramah. Ia bergegas meninggalkan Yeriko yang masih enggan meninggalkan istrinya sendirian.

 

Yeriko merogoh ponsel di saku celananya. Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Ia menekan nomor ponsel Riyan, kemudian meletakkan di telinganya.

 

“Halo ...! Ada apa, Pak Bos?” tanya Riyan begitu panggilan telepon dari Yeriko tersambung.

 

“Yan, bisa bantu aku urus Yuna untuk pindah rumah sakit?”

 

“Pak Bos di rumah sakit mana?” tanya Riyan.

 

“Wijaya Hospital. Di sini terlalu jauh dari rumah. Aku mau pindahin ke Siloam. Tolong uruskan semuanya sekarang juga!” perintah Yeriko.

 

“Siap, Pak Bos!”

 

Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia enggan beranjak dari sisi Yuna dan mempercayakan semuanya pada Riyan untuk mengurus administrasi dan proses pemindahan Yuna agar mendapat perawatan di rumah sakit yang lebih baik dan dekat dengan rumah mereka yang ada di Jl. Keputih.

 

Yeriko menarik napas, ia terus memeluk lengan Yuna sambil menatap wajah istrinya yang sembab. Ia terus mengecup punggung tangan Yuna sambil menunggu wanita itu tersadar. Ia terus menatap wajah istrinya hingga terlelap sambil duduk di tepi brankar Yuna.

 

Setengah jam kemudian ...

 

Yuna membuka matanya perlahan. Ia tersenyum melihat Yeriko sudah tertidur di sampingnya. “Aku pikir, aku nggak akan pernah bangun lagi,” batin Yuna. Tangan satunya menyentuh rambut Yeriko. “Makasih, udah ngelakuin banyak hal untuk aku,” tuturnya lirih.

 

Yeriko langsung mengerjapkan mata begitu merasakan sentuhan di kepalanya. Ia langsung menatap wajah Yuna yang tersenyum ke arahnya. “Udah bangun?” tanya Yeriko sambil mengangkat kepalanya.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Maafin aku, aku nggak bisa jagain kamu dengan baik,” tutur Yeriko dengan mata berkaca-kaca.

 

Yuna bangkit dari tidurnya perlahan.

 

“Nggak usah bangun! Baring aja!” perintah Yeriko. “Kamu harus banyak istirahat.”

 

“Aku nggak papa, kok. Aku baik-baik aja.”

 

“Aku tahu, saat perempuan bilang kalau dia baik-baik aja, dia nggak beneran baik-baik aja. Kamu udah luka-luka kayak gini, mana mungkin baik-baik aja. Maafin aku ya! Aku nggak becus jadi suami kamu.”

 

Yuna tersenyum ke arah Yeriko. “Ay, kenapa ngomongnya gitu? Kamu adalah suami terbaik di dunia ini. Kamu selalu menjaga dan menyayangi aku setiap hari. Nggak usah sedih, ya!” pinta Yuna sambil mengelus pipi Yeriko. “Hatiku lebih sakit lihat kamu sedih kayak gini.”

 

“Aku nggak sedih, kok. Aku cuma kangen banget sama kamu,” ucap Yeriko sambil tersenyum. Ia masih terus menciumi punggung tangan istrinya.

 

“Aku juga kangen sama kamu. Ay, anak kita baik-baik aja ‘kan?” tanya Yuna lirih.

 

Yeriko mengangguk sambil meletakkan telapak tangannya di perut Yuna. “Dia baik-baik aja. Dia kuat, sama seperti bundanya.”

 

Yuna tersenyum sambil meletakkan telapak tangannya di punggung tangan Yeriko yang masih mengelus perutnya. “Ay, dia udah mulai bergerak. Aku ngerasa dia benar-benar hidup. Dia yang ngasih aku kekuatan untuk bertahan.”

 

“Oh ya?” Yeriko menatap perut Yuna, ia langsung mengecup anak yang ada di dalam perut istrinya itu. “Makasih, sudah bantu Ayah untuk menjaga bunda kamu,” bisiknya di perut Yuna.

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko yang memperlakukan dirinya penuh kasih sayang.

 

“Ay ...!” panggil Yuna lirih.

 

“Umh.” Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna.

 

“Kenapa rambut kamu berantakan banget?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko yang berantakan dan pakaiannya yang kotor. “Aku suka lihat kamu yang ganteng dan rapi.”

 

“Aku bisa lebih berantakan dari ini kalau aku nggak bisa nemuin kamu secepatnya,” sahut Yeriko.

 

Yuna tersenyum. “Mandi ya!” pintanya lembut.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Nanti aku bersih-bersih badan setelah semuanya selesai. Aku masih nunggu Riyan mindahin kamu ke rumah sakit lain. Ini terlalu jauh dari rumah kita.”

 

“Emangnya, sekarang di rumah sakit mana?” tanya Yuna.

 

“Wijaya Hospital,” jawab Yeriko.

 

Yuna tak bertanya lagi. Ia tahu posisi rumah sakit itu dan juga pemiliknya.

 

“Kamu istirahat ya! Sambil nunggu Riyan urus administrasi untuk mindahin kamu.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Tapi ... aku laper.”

 

“Laper?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Aku carikan makanan dulu,” tutur Yeriko sambil bangkit dari kursinya.

 

“Jangan lama-lama ya! Jangan cari makanan jauh-jauh. Beliin aja roti di kantin rumah sakit. Aku takut sendirian,” pinta Yuna.

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Ada banyak suster di sini, mereka jagain kamu. Aku pergi sebentar aja,” ucapnya. Ia mengecup kening Yuna dan bergegas pergi.

 

Yuna tersenyum melihat tubuh suaminya yang beranjak pergi. Ia merasa sangat bahagia memiliki suami yang begitu menyayangi dan mencintainya sepenuh hati. Hatinya merasa sakit saat melihat suaminya bersedih karena dirinya.

 

“Aku memang wanita sial dan malang yang cuma bisa merepotkan dia,” tutur Yuna sambil tersenyum. “Aku harus cepet sembuh, biar Yeriko nggak sedih lagi dan nggak merasa bersalah terus!” lanjutnya menyemangati diri sendiri.

 

Yuna menarik napas sambil memejamkan matanya. Ia sangat bahagia karena Tuhan mengirimkan malaikat untuk wanita malang sepertinya. Ia harap, selamanya Yeriko dan dirinya bisa hidup bahagia, saling melengkapi dan saling menguatkan.

 

Tak sampai lima menit, Yeriko sudah kembali menghampiri Yuna. “Cuma ada makanan dan minuman ini di kantin. Kamu makan dulu ya!” pinta Yeriko sambil membuka bungkus roti yang baru saja ia beli.

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Makasih ...!”

 

Yeriko langsung memotong roti yang ada di tangannya dan menyuap ke mulut Yuna.

 

“Tangan kamu kenapa?” tanya Yuna sambil menatap tangan Yeriko yang dibalut perban.

 

“Eh, oh ... nggak papa. Cuma luka sedikit karena berantem,” jawab Yeriko. Ia tersenyum dan kembali menyuapkan roti ke mulut Yuna.

 

“Maafin aku ya! Gara-gara aku, kamu jadi luka kayak gini,” tutur Yuna lirih.

 

“Ini semua bukan salah kamu. Salahku yang nggak bisa menjaga dan melindungi kamu dengan baik.”

 

Yuna tertawa kecil. Ia merasa kalau Yeriko sudah menjaga dan melindunginya secara berlebihan. Tapi, suaminya itu masih saja merasa kalau tak melindunginya.

 

“Aku nggak akan ngelepasin orang yang udah bikin kamu kayak gini!” tegas Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Aku juga nggak mau biarin dia gitu aja. Dia harus dikasih pelajaran.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku akan membalas semuanya, Yun!”

 

“Tapi jangan sampai kelewatan. Kasih pelajaran sewajarnya aja ya!” pinta Yuna. “Jangan sampai, kamu gegabah dan menyisakan penyesalan!”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Refi sebenarnya wanita yang baik dan lembut. Hanya saja, dia terlalu terobsesi. Kamu pasti bisa membuat dia menyadari kesalahannya dan kembali menjadi wanita yang baik!”

 

Yeriko mengangguk. Ia tak berniat sedikitpun untuk bernegosiasi soal perasaannya terhadap Refi. Ia hanya tidak ingin membuat istrinya mengkhawatirkan Refi. Ia bertekad untuk menyelesaikan semuanya tanpa dikendalikan oleh siapa pun termasuk istrinya yang  berhati mulia itu.

 

((Bersambung ... ))

Thanks, udah dukung terus ceritanya sampai di sini.

Kira-kira, si Refi enaknya diapain ya kali ini? Mr. Ye pasti nggak akan melepaskan dia dengan mudah.

Sapa di kolom komentar ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 470 : Your Smell

 


“Chan, Yuna udah ketemu? Di mana sekarang?” tanya Jheni sambil menghampiri Chandra yang baru saja masuk ke dalam rumah Yeriko.

 

“Dia baik-baik aja. Lagi di rumah sakit.”

 

“Rumah sakit mana? Kita ke sana sekarang!” Jheni langsung buru-buru mencari jaket dan tasnya.

 

“Nggak usah, Jhen!” pinta Chandra.

 

“Kenapa?”

 

“Yuna baik-baik aja. Yeriko udah jagain dia.”

 

“Tapi, aku khawatir sama kondisi Yuna,” sahut Jheni. Wajahnya terlihat sangat gelisah.

 

“Yeriko udah jagain dia, Jhen. Kalian istirahat aja! Besok pagi, baru kita jenguk Yuna bareng-bareng.”

 

“Aku mana bisa istirahat dengan tenang kalau belum lihat Yuna,” sahut Jheni. “Ayo, Cha!” ajaknya sambil menarik tangan Icha.

 

“Jhen ...!” Chandra langsung menahan lengan Jheni. “Yeriko sudah terpukul banget karena masalah ini. Kasih dia waktu! Percayakan Yuna sama suaminya!” pintanya.

 

“Chandra ada benernya juga, Jen. Kita jangan ganggu mereka dulu!” Icha ikut menambahkan.

 

Jheni menatap Icha sejenak. Ia akhirnya menganggukkan kepala.

 

“Chan, Lutfi mana? Kenapa nggak balik sama-sama?”

 

“Masih ada hal yang harus dia urus,” jawab Chandra.

 

“Oh.”

 

“Lebih baik, kita pulang sekarang!” ajak Chandra.

 

Icha dan Jheni menganggukkan kepala. Mereka bergegas keluar dari rumah Yuna.

 

“Bi, kami pulang dulu ya!” pamit Jheni dan Icha.

 

Bibi War mengangguk. “Hati-hati ya!”

 

Jheni menganggukkan kepala. “Bibi juga hati-hati ya di rumah.”

 

“Iya. Tenang aja!” sahut Bibi War.

 

“Semua pintu dan jendela, kunci dengan baik!” perintah Jheni sambil mendelik ke arah Bibi War.

 

“Siap, Mbak Jheni!” sahut Bibi War sambil tersenyum.

 

“Ya udah, kami pulang dulu!” pamit Jheni sambil bersalaman pipi dengan Bibi War.

 

“Aku juga pulang ya, Bi!” Icha juga ikut berpamitan.

 

Bibi War mengangguk. Ia terus menatap tiga orang sahabat majikannya itu sampai mobil Chandra keluar dari halaman rumah.

 

“Chan, Yuna baik-baik aja ‘kan?” tanya Jheni saat mereka sudah ada di perjalanan.

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

“Aku nggak bisa tidur tenang malam ini kalau belum lihat Yuna,” tutur Jheni.

 

“Semua udah diurus sama Yeriko. Kalian nggak usah khawatir!”

 

“Nggak bisa juga kalau nggak khawatir, Chan. Yuna itu baik banget. Baik banget!” tutur Icha. “Dia selalu nolongin orang walau dia emang keras kepala dan sedikit kasar. Tapi, dia ngelakuin itu untuk melindungi orang-orang yang lemah di sekitarnya. Kenapa orang baik kayak dia selalu dijahatin?” tutur Icha sambil memangku wajahnya.

 

“Huft, ujian jadi orang baik emang kayak gitu. Makanya, balasannya surga!” sahut Jheni.

 

“Iya juga, sih.”

 

Chandra hanya tersenyum kecil menanggapi pembicaraan dua wanita yang ada di dalam mobilnya itu. “Kalian udah makan?” tanyanya.

 

“Kamu sendiri, udah makan?” tanya Jheni.

 

Chandra menggelengkan kepala.

 

“Aku juga laper. Tengah malam gini, cari makanan di mana ya?” tanyanya sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari rumah makan yang masih buka.

 

“Aku ngantuk banget, Jhen. Mau langsung pulang,” tutur Icha.

 

“Hadeh ... kamu ini tukang tidur. Ketularan Lutfi, nih!” sahut Jheni kesal.

 

“Aku sekarang pengangguran. Nggak ada lagi yang dikerjain selain tidur,” sahut Icha.

 

“Enaklah. Jadi Nyonya, kayak Yuna,” sahut Jheni.

 

“Kamu kan bisa jadi Nyonya juga,” sahut Icha sambil melirik Chandra.

 

“Nyonya apaan!?” Jheni mendelik sambil mencubit lengan Icha.

 

Icha hanya tertawa menanggapi ucapan Jheni.

 

Chandra tetap fokus menatap jalanan yang ada di depannya tanpa berkata apa pun. Ia tak menanggapi candaan Jheni dan Icha yang menyinggung masa depannya. Ia memilih untuk diam dengan pemikirannya sendiri.

 

Usai mengantar Icha ke rumahnya. Chandra dan Jheni bergegas kembali ke apartemen.

 

“Chan, tadi gimana keadaan Yuna?” tanya Jheni sambil membuka pintu apartemen Chandra.

 

Chandra menghela napas. “Aku udah jawab kalau Yuna baik-baik aja. Tanya sekali lagi, dapet kulkas!”

 

Jheni memonyongkan bibirnya. “Dikira undian!?”

 

“Makanya, nggak usah tanya berulang-ulang,” sahut Chandra sambil melepas jaket dan melemparkan ke atas sofa begitu saja. Ia mengendus tubuhnya yang berkeringat dan kotor usai membantu menyelamatkan Yuna. “Badanku bau, nggak sih?” tanyanya sambil menoleh ke arah Jheni.

 

“Bau banget! Mandi, gih!”

 

“Kenapa kamu diam aja? Tahu gini, aku bisa mandi dulu di rumah Yeri.”

 

“Kamu nggak ngerasa kalo badan kamu bau lem dan lumpur kayak gini?” tanya Jheni sambil melangkahkan kakinya menuju dapur.

 

Chandra mengendus-ngendus ketiak dan kemejanya sendiri. “Bau banget!” ucapnya nyengir. “Nggak kebayang si Yuna ada di dalam sana berjam-jam,” tuturnya sambil melepas kancing kemejanya.

 

“Tapi si Yuna nggak papa ‘kan?” tanya Jheni sambil menyalakan kompor.

 

“Ck.” Chandra berdecak sambil memutar kepalanya menatap Jheni. “Kamu masih tanya lagi? Jawabanku tetap sama, Jhen.”

 

Jheni nyengir ke arah Chandra. “Aku mau rebus mie instan. Kamu mau nggak? Malam-malam gini, enaknya makan yang anget-anget.”

 

“Lebih anget mana dibanding pelukanku?” tanya Chandra sambil melangkah menghampiri Jheni.

 

“Aargh ...!” teriak Jheni dalam hati. Hatinya langsung berlompat-lompatan saat melihat Chandra tersenyum menghampirinya. “Kenapa kamu malah ganteng banget waktu kotor kayak gini?” batinnya.

 

“Hei ...!” Chandra langsung mengetuk dahi Jheni yang sibuk senyum-senyum sendiri.

 

Jheni mengerjapkan mata saat ia tersadar dari khayalan nakalnya. Pipinya bersemu merah saat melihat Chandra sudah ada di depan hidungnya.

 

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Chandra.

 

“Eh!? Nggak papa.”

 

Chandra tersenyum sambil menatap wajah Jheni.

 

GLEG!

 

Jheni membalas tatapan Chandra, jantungnya berdegup kencang. Ia meremas mie instan yang ada di tangannya.

 

Chandra tersenyum kecil. Ia bisa memahami perasaan yang tergambar dari wajah Jheni.

 

“Iih ... apaan sih!?” seru Jheni sambil mendorong tubuh Chandra menjauh dari dirinya. “Mandi, gih!” perintahnya.

 

“Kamu nggak mandi juga?”

 

“Ngapain mandi tengah malam begini. Aku nggak bau. Yang bau, kan, kamu,” jawab Jheni sambil membalikkan tubuhnya dan memasukkan mie instan ke dalam panci yang sudah berisi air mendidih.

 

Chandra tertawa kecil sambil mengamati gerakan tubuh Jheni. Saat Jheni sedang menyiapkan mangkuk, ia langsung memeluk gadis itu dari belakang dan mengusapkan kepalanya ke tengkuk Jheni.

 

“Aargh ...!” teriak Jheni sekuat tenaga. “Bau, Chan!” serunya kesal.

 

“Sst ...! Jangan teriak-teriak! Ntar dikira tetangga, aku ngapa-ngapain kamu,” pinta Chandra lirih.

 

“Emang ngapa-ngapain!” sahut Jheni kesal. “Kalo bau nggak usah ajak-ajak!” dengusnya.

 

“Biar ada temen mandi,” sahut Chandra sambil tertawa kecil.

 

“Siapa yang mau mandi sama kamu!” sahut Jheni kesal.

 

“Ya udah, nggak usah mandi,” tutur Chandra sambil berlalu pergi menuju kamar mandi.

 

“Eh, tunggu!” seru Jheni.

 

Chandra langsung menghentikan langkahnya. “Kenapa?” tanyanya sambil berbalik menatap Jheni.

 

Jheni mematikan kompor dan menghampiri Chandra.

 

Chandra tertawa kecil saat Jheni menghampiri dirinya. “Mau mandi bareng?” tanyanya.

 

Jheni tak menyahut. Ia langsung berlari masuk ke dalam kamar Chandra, mengambil handuk dari dalam lemari dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

 

“Hei, kenapa ditutup pintunya?” seru Chandra saat melihat Jheni masuk lebih dulu ke dalam kamar mandinya.

 

Jheni membuka pintu kamar mandi. Ia melongo keluar sambil menatap Chandra. “Mandi sendiri ya! Aku mandi duluan,” ucapnya sambil menjulurkan lidah ke arah Chandra.

 

Chandra gelagapan melihat sikap Jheni. Ia pikir, Jheni akan membantunya membersihkan tubuh. Ia melangkah menghampiri pintu kamar mandi.

 

“Jhen, bukain pintu!” rengek Chandra sambil menempelkan dahinya ke pintu kamar mandi.

 

“Sebentar! Bentar lagi kelar!” seru Jheni.

 

“Ck.” Chandra berdecak. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu kamar mandi sambil memejamkan mata, mendengar suara air gemericik dari dalam ruang kamar mandinya. Ia menunggu Jheni keluar dari kamar mandi tanpa banyak bicara.

 

Usai mandi, Jheni dan Chandra memilih untuk duduk bersama di meja makan sambil menikmati mie instan yang dimasak oleh Jheni. Mereka akhirnya bercerita banyak hal sebelum akhirnya terlelap.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah dukung terus cerita ini.

Siapa kemarin yang minta part bucin Chan&Jhen?

Jangan lupa sapa di kolom komentar ya!

 

Much

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Thursday, February 26, 2026

Tidak Ada Sopir untuk Orang Dewasa



TIDAK ADA SOPIR UNTUK ORANG DEWASA.

Kalimat itu terasa kejam, ya? Tapi justru di sanalah letak kejujurannya. Sejak kecil kita diantar. Diantar sekolah, diantar memahami mana yang baik dan buruk, bahkan diantar tidur oleh dongeng dan doa. Dunia terasa seperti kendaraan yang selalu ada pengemudinya. Kita tinggal duduk manis di belakang.

Lalu suatu hari, tanpa upacara, tanpa aba-aba, kita tersadar jika kursi depan kosong.

Tidak ada yang memegang setir.

Di situlah kedewasaan dimulai.

Filsafat Stoik sudah lama membicarakan hal ini. Epictetus mengatakan bahwa ada hal-hal yang berada dalam kendali kita dan ada yang tidak. Sering kali kita ribut pada hal-hal yang memang tidak pernah bisa kita atur. Tentang cuaca, sikap orang lain, masa lalu, bahkan nasib. Kita marah pada jalan yang berlubang, tapi lupa bahwa kaki kitalah yang memilih tetap melangkah di situ.

Marcus Aurelius, seorang kaisar yang setiap hari memegang kuasa atas ribuan orang, justru menulis bahwa manusia hanya benar-benar berkuasa atas pikirannya sendiri. Betapa ironis. Seorang penguasa dunia mengakui bahwa kekuasaan terbesar bukan pada wilayah, melainkan pada batin.

Itu sebabnya tidak ada supir untuk orang dewasa. Karena yang bisa mengendalikan respons kita hanyalah diri kita sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mencari supir bayangan. Kita menyalahkan pasangan atas emosi kita. Kita menyalahkan ekonomi atas kemalasan kita. Kita menyalahkan masa lalu atas keputusan hari ini. Padahal reaksi adalah wilayah pribadi. Sikap adalah pilihan. Dan pilihan tidak pernah diambil oleh orang lain.

Filsafat Islam bahkan lebih tegas. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa setiap jiwa akan memikul tanggung jawabnya sendiri. Tidak ada satu jiwa pun yang menanggung dosa jiwa lain. Artinya, bahkan di hadapan Tuhan, kita berdiri sendirian. Bukan sebagai korban keadaan, bukan sebagai anak dari siapa, bukan sebagai istri dari siapa. Tapi sebagai diri yang memilih.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa manusia diberi akal dan kehendak. Ikhtiar adalah kehormatan. Kalau semuanya sudah ditentukan tanpa ruang memilih, untuk apa akal diciptakan? Untuk apa hati diberi gelisah saat hendak berbuat salah?

Takdir dalam Islam bukan alasan untuk turun dari kursi kemudi. Takdir adalah rute besar. Tapi belokan kecil, kecepatan, dan cara kita mengemudi tetap ada dalam genggaman.

Misalnya begini. Kita tidak bisa memilih lahir dari keluarga mana. Tapi kita bisa memilih apakah luka masa kecil akan kita wariskan atau kita hentikan. Kita tidak bisa mengatur hujan turun saat jualan sepi. Tapi kita bisa memilih belajar strategi baru atau duduk mengutuk langit.

Tidak ada supir untuk orang dewasa, dan itu bukan kutukan. Itu kepercayaan.

Bayangkan jika hidup ini benar-benar sepenuhnya dikendalikan pihak lain. Kita hanya boneka. Tidak ada pahala, tidak ada dosa, tidak ada makna perjuangan. Justru karena kita memegang setir, setiap keputusan menjadi bernilai.

Menjadi dewasa memang melelahkan. Karena artinya kita tak bisa lagi berkata, “Ini semua salah mereka.” Kita boleh kecewa, boleh sedih, boleh marah. Tapi setelah itu, tetap kita yang harus menentukan arah.

Dalam pernikahan, misalnya. Kita tidak bisa mengontrol pasangan sepenuhnya. Tapi kita bisa mengontrol cara bicara kita. Dalam pekerjaan, kita tidak bisa memastikan atasan selalu adil. Tapi kita bisa memastikan integritas kita tidak murah. Dalam ibadah, tidak ada yang bisa menggantikan kita berdiri di hadapan Allah. Sholat tidak bisa diwakilkan. Taubat tidak bisa diwakilkan. Kedewasaan spiritual selalu personal.

Stoikisme mengajarkan ketenangan melalui penguasaan diri. Islam mengajarkan tanggung jawab melalui kesadaran bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan. Keduanya bertemu pada satu kesimpulan yang sama: berhenti menunggu diselamatkan oleh orang lain.

Kita sering ingin ada yang datang dan berkata, “Tenang, biar aku yang atur.” Tapi hidup bukan taksi online yang bisa kita pesan saat tersesat. Ia lebih seperti kendaraan yang mesinnya menyala sejak kita lahir, dan perlahan kita sadar, tangan kita sudah ada di atas setir.

Dan mungkin, justru di situlah letak kemuliaan manusia.

Bahwa Tuhan tidak menjadikan kita penumpang.
Bahwa filsafat tidak memanjakan kita sebagai korban.
Bahwa kedewasaan bukan tentang usia, tapi tentang keberanian untuk berkata, “Apa pun yang terjadi, aku bertanggung jawab atas sikapku.”

Tidak ada supir untuk orang dewasa.
Karena kita dipercaya untuk mengemudi sendiri.




Wednesday, February 25, 2026

Perfect Hero Bab 469 : Always Save You

 


BRAAK ...!

 

BRAAK ...!

 

Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu langsung menoleh ke arah pintu besi yang didobrak paksa dari luar.

 

“Siapa, Bos?” tanya salah seorang pria yang ada di sana.

 

Si Bos menggelengkan kepala. “Nggak tahu.”

 

“Ada anggota kita yang datang lagi?” tanya yang lainnya lagi.

 

“Seharusnya nggak ada.”

 

“Jangan-jangan, polisi!”

 

Semua orang langsung bersiap-siap, wajah mereka tegang saat melihat pintu yang sedang didobrak paksa itu akhirnya terbuka.

 

Chandra dan tiga orang yang bersamanya langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

“Kalian siapa?” tanya si Bos sambil mengamati wajah Chandra yang tertimpa cahaya lampu remang-remang.

 

“Kalian sembunyikan di mana perempuan itu?” tanya Chandra.

 

“Perempuan? Nggak ada perempuan di sini.”

 

Chandra langsung menoleh ke arah tiang yang sama persis dengan tiang dalam video yang dikirim Refi. Ia langsung berlari ke arah tiang dan meraih tali yang sudah berserakan di lantai.

 

Chandra memutar kepalanya menatap pria-pria yang ada di sana. “Aku tanya sekali lagi, di mana perempuan yang udah kalian culik!” seru Chandra.

 

Tak ada satu pun pria yang berani menjawab pertanyaan dari Chandra.

 

Chandra menggenggam erat tali yang ada di tangannya. “Aargh ...!” Ia bangkit dan langsung menyerang preman-preman itu bersama dengan pasukan yang dibawanya.

 

BUG!

 

BUG!

 

BUG!

 

Preman-preman yang menculik Yuna terus melakukan perlawanan.

 

 

 

BRAAK ...!

 

Satria dan pasukan berseragam loreng ikut masuk ke dalam ruangan tersebut. Mereka langsung melumpuhkan sebelas pria yang ada di sana dengan mudah. Satria langsung mengikat tangan pria-pria itu satu per satu dan menelungkupkan tubuh mereka ke tanah.

 

“Jangan dilepasin!” perintah Satria pada semua anak buahnya. Ia menggilas salah satu leher pria yang ada di bawahnya.

 

Di saat yang bersamaan, Yeriko masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia merasa sangat puas karena semua orang yang menculik istrinya sudah dilumpuhkan oleh Satria dan pasukannya.

 

“Mana istriku?” tanya Yeriko sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia menghampiri tiang yang ada di dalam video tersebut.

 

“Chan, mana istriku!?” seru Yeriko sambil menatap Chandra.

 

Chandra menggelengkan kepala.

 

Yeriko langsung menghampiri salah seorang preman yang masih menelungkup di lantai. Ia langsung meraih kerah baju pria itu dan mengangkat tubuhnya. “Mana istriku?” tanya Yeriko dengan tatapan yang menghunus tajam ke arah pria tersebut.

 

Pria itu gemetaran menghadapi tatapan mata Yeriko. Ia merasakan di kakinya ada air hangat yang mengalir perlahan membasahi seluruh celananya.

 

“Aih ... badan aja gede! Ngompol pula!” seru Satria sambil menutupi hidungnya.

 

Chandra tertawa melihat preman bertubuh kekar tersebut ketakutan menghadapi Yeriko.

 

“Di mana istriku!?” tanya Yeriko sekali lagi.

 

Pria itu gemetaran. Ia langsung menoleh ke arah lubang kecil yang ada di ruangan tersebut. “Di-di ... di dalam sana,” jawabnya dengan terbata-bata.

 

Yeriko langsung melepaskan kerah baju pria tersebut. Ia berlari ke arah lubang kecil yang ada di ruangan tersebut. Berjongkok dan mengintip lubang yang bau dan gelap itu. Ia bisa melihat ujung kaki Yuna ada di dalam ruangan tersebut. Yeriko berusaha meraih tangan Yuna yang memeluk kakinya.

 

“Aargh ...!” teriak Yuna sambil menendang tangan yang kembali masuk ke dalam lubang tersebut. “Jangan deketin aku!”

 

“Aw ...!” Yeriko merintih saat Yuna menendang tangannya yang terluka.

 

“Hiks ... hiks ...!” Yuna masih terisak di dalam ruangan tersebut.

 

“Yun, gimana caranya kamu bisa masuk ke lubang sekecil ini?” gumam Yeriko.

 

“Yuna, ini aku! Suami kamu,” tutur Yeriko sambil memasukkan kepalanya ke lubang tersebut.

 

Yuna langsung menghapus air matanya, ia menatap wajah pria yang ada di luar lubang tersebut. Ia langsung tersenyum begitu melihat wajah Yeriko. “Kamu beneran datang?”

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Aku pasti datang. Kamu baik-baik aja di sana?”

 

Yuna mengangguk. “Aku baik-baik aja,” jawabnya lirih.

 

“Keluarlah!” pinta Yeriko sambil mengulurkan tangannya.

 

Yuna menundukkan kepalanya, ia merangkak keluar dari lubang tersebut.

 

Yeriko langsung menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya begitu wanita itu keluar.

 

“Kenapa baru datang? Aku takut!” ucap Yuna lirih.

 

“Maafin aku! Maafin aku! Maafin aku!” balas Yeriko sambil mengeratkan pelukannya.

 

Yeriko melepas pelukannya. Ia membuka jaket yang ia kenakan dan menyampirkan ke tubuh Yuna. Ia sangat terluka melihat wajah Yuna yang pucat pasi, kotor, bau dan tubuhnya yang terluka.

 

Yuna menatap wajah Yeriko sambil tersenyum. “Aku tahu, kamu pasti datang. Aku kangen sama kamu.”

 

Yeriko menangkup wajah Yuna yang dingin. “Aku juga kangen sama kamu. Maafin aku yang terlambat datang.”

 

Yuna tersenyum sambil mengangguk kecil. Ia melihat wajah Yeriko yang semakin lama terlihat buram. “Tuhan ... ini bukan mimpi ‘kan?” batin Yuna saat ia tak bisa lagi melihat wajah Yeriko. Hanya kegelapan yang ada di hadapannya dan suara Yeriko yang tak sanggup untuk ia balas.

 

“Yuna ...!” teriak Yeriko saat tubuh Yuna tiba-tiba merosot. Ia langsung menangkap tubuh Yuna dan menggendongnya.

 

Yeriko menggendong tubuh Yuna yang dingin dan tak sadarkan diri. Air matanya menetes melihat keadaan istrinya. Ia merasa dunianya runtuh saat melihat Yuna lemah dan terluka. Ia kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi istrinya dengan baik.

 

“Yun, kamu kuat kan? Kamu pasti baik-baik aja!” tutur Yeriko sambil menangis. Ia terus melangkahkan kakinya keluar dari bangunan pabrik yang sudah tidak digunakan selama bertahun-tahun itu.

 

“Chan, kamu supirin Yeriko!” perintah Satria. “Aku khawatir kalau dia bawa mobil sendiri.”

 

Chandra menganggukkan kepala. Ia merogoh saku dan melemparkan kunci mobilnya ke arah Satria. “Aku titip mobilku!”

 

Satria menangkap kunci mobil yang melayang di hadapannya. Ia mengangguk dan meminta semua anak buahnya membantu mengurus para penculik itu.

 

Chandra langsung berlari menyusul langkah Yeriko. “Yer, biar aku yang bawa mobil kamu.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kuncinya masih di mobil, Chan.”

 

Chandra mengangguk. Ia bergegas berlari ke arah mobil Yeriko.

 

Yeriko menggendong Yuna sampai masuk ke dalam mobil. Ia terus memeluk erat tubuh Yuna yang dingin.  “Cepet, Chan! Kasihan istriku,” pinta Yeriko lirih.

 

Chandra menganggukkan kepala. Ia bergegas menyalakan mesin mobil, menginjak pedal gas dan membawa mobil Yeriko melaju membelah jalanan malam yang sepi. Chandra langsung membawa Yuna dan Yeriko ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan secepatnya.

 

“Suster, tolongin!” teriak Chandra begitu ia menghentikan mobilnya di depan pintu masuk IGD General Hospital Wijaya setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit dari lokasi kejadian.

 

Suster yang berjaga di ruang IGD tersebut secepatnya menarik brankar begitu melihat Yeriko menggendong Yuna dari dalam mobil. Mereka langsung bergerak cepat untuk menangani Yuna yang sudah tidak sadarkan diri.

 

“Tolongin istri saya, Suster!” pinta Yeriko.

 

Suster itu mengangguk. “Percayakan semuanya sama kami!” Ia langsung menutup pintu ruang IGD untuk memberikan pertolongan pada Yuna.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia begitu cemas menunggu Yuna di dalam ruangan yang bertuliskan IGD tersebut. Ia harap, keadaan istri dan anak yang sedang dikandungnya dalam keadaan baik-baik saja.

 

“Chan, kalian semua sudah bekerja keras untuk menolong istriku. Sebaiknya, kamu pulang dan istirahat. Biar aku yang jaga Yuna,” tutur Yeriko sambil menatap Chandra yang masih berdiri di sampingnya.

 

Chandra menganggukkan kepala. “Besok pagi, aku ke sini lagi.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia ingin mengurus Yuna seorang diri untuk menebus kesalahannya sendiri karena tak mampu menjaga dan melindungi istrinya dengan baik.

 

 

((Bersambung ...))

Huft, udah lega...

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas