Wednesday, February 25, 2026

Perfect Hero Bab 469 : Always Save You

 


BRAAK ...!

 

BRAAK ...!

 

Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu langsung menoleh ke arah pintu besi yang didobrak paksa dari luar.

 

“Siapa, Bos?” tanya salah seorang pria yang ada di sana.

 

Si Bos menggelengkan kepala. “Nggak tahu.”

 

“Ada anggota kita yang datang lagi?” tanya yang lainnya lagi.

 

“Seharusnya nggak ada.”

 

“Jangan-jangan, polisi!”

 

Semua orang langsung bersiap-siap, wajah mereka tegang saat melihat pintu yang sedang didobrak paksa itu akhirnya terbuka.

 

Chandra dan tiga orang yang bersamanya langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

“Kalian siapa?” tanya si Bos sambil mengamati wajah Chandra yang tertimpa cahaya lampu remang-remang.

 

“Kalian sembunyikan di mana perempuan itu?” tanya Chandra.

 

“Perempuan? Nggak ada perempuan di sini.”

 

Chandra langsung menoleh ke arah tiang yang sama persis dengan tiang dalam video yang dikirim Refi. Ia langsung berlari ke arah tiang dan meraih tali yang sudah berserakan di lantai.

 

Chandra memutar kepalanya menatap pria-pria yang ada di sana. “Aku tanya sekali lagi, di mana perempuan yang udah kalian culik!” seru Chandra.

 

Tak ada satu pun pria yang berani menjawab pertanyaan dari Chandra.

 

Chandra menggenggam erat tali yang ada di tangannya. “Aargh ...!” Ia bangkit dan langsung menyerang preman-preman itu bersama dengan pasukan yang dibawanya.

 

BUG!

 

BUG!

 

BUG!

 

Preman-preman yang menculik Yuna terus melakukan perlawanan.

 

 

 

BRAAK ...!

 

Satria dan pasukan berseragam loreng ikut masuk ke dalam ruangan tersebut. Mereka langsung melumpuhkan sebelas pria yang ada di sana dengan mudah. Satria langsung mengikat tangan pria-pria itu satu per satu dan menelungkupkan tubuh mereka ke tanah.

 

“Jangan dilepasin!” perintah Satria pada semua anak buahnya. Ia menggilas salah satu leher pria yang ada di bawahnya.

 

Di saat yang bersamaan, Yeriko masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia merasa sangat puas karena semua orang yang menculik istrinya sudah dilumpuhkan oleh Satria dan pasukannya.

 

“Mana istriku?” tanya Yeriko sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia menghampiri tiang yang ada di dalam video tersebut.

 

“Chan, mana istriku!?” seru Yeriko sambil menatap Chandra.

 

Chandra menggelengkan kepala.

 

Yeriko langsung menghampiri salah seorang preman yang masih menelungkup di lantai. Ia langsung meraih kerah baju pria itu dan mengangkat tubuhnya. “Mana istriku?” tanya Yeriko dengan tatapan yang menghunus tajam ke arah pria tersebut.

 

Pria itu gemetaran menghadapi tatapan mata Yeriko. Ia merasakan di kakinya ada air hangat yang mengalir perlahan membasahi seluruh celananya.

 

“Aih ... badan aja gede! Ngompol pula!” seru Satria sambil menutupi hidungnya.

 

Chandra tertawa melihat preman bertubuh kekar tersebut ketakutan menghadapi Yeriko.

 

“Di mana istriku!?” tanya Yeriko sekali lagi.

 

Pria itu gemetaran. Ia langsung menoleh ke arah lubang kecil yang ada di ruangan tersebut. “Di-di ... di dalam sana,” jawabnya dengan terbata-bata.

 

Yeriko langsung melepaskan kerah baju pria tersebut. Ia berlari ke arah lubang kecil yang ada di ruangan tersebut. Berjongkok dan mengintip lubang yang bau dan gelap itu. Ia bisa melihat ujung kaki Yuna ada di dalam ruangan tersebut. Yeriko berusaha meraih tangan Yuna yang memeluk kakinya.

 

“Aargh ...!” teriak Yuna sambil menendang tangan yang kembali masuk ke dalam lubang tersebut. “Jangan deketin aku!”

 

“Aw ...!” Yeriko merintih saat Yuna menendang tangannya yang terluka.

 

“Hiks ... hiks ...!” Yuna masih terisak di dalam ruangan tersebut.

 

“Yun, gimana caranya kamu bisa masuk ke lubang sekecil ini?” gumam Yeriko.

 

“Yuna, ini aku! Suami kamu,” tutur Yeriko sambil memasukkan kepalanya ke lubang tersebut.

 

Yuna langsung menghapus air matanya, ia menatap wajah pria yang ada di luar lubang tersebut. Ia langsung tersenyum begitu melihat wajah Yeriko. “Kamu beneran datang?”

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Aku pasti datang. Kamu baik-baik aja di sana?”

 

Yuna mengangguk. “Aku baik-baik aja,” jawabnya lirih.

 

“Keluarlah!” pinta Yeriko sambil mengulurkan tangannya.

 

Yuna menundukkan kepalanya, ia merangkak keluar dari lubang tersebut.

 

Yeriko langsung menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya begitu wanita itu keluar.

 

“Kenapa baru datang? Aku takut!” ucap Yuna lirih.

 

“Maafin aku! Maafin aku! Maafin aku!” balas Yeriko sambil mengeratkan pelukannya.

 

Yeriko melepas pelukannya. Ia membuka jaket yang ia kenakan dan menyampirkan ke tubuh Yuna. Ia sangat terluka melihat wajah Yuna yang pucat pasi, kotor, bau dan tubuhnya yang terluka.

 

Yuna menatap wajah Yeriko sambil tersenyum. “Aku tahu, kamu pasti datang. Aku kangen sama kamu.”

 

Yeriko menangkup wajah Yuna yang dingin. “Aku juga kangen sama kamu. Maafin aku yang terlambat datang.”

 

Yuna tersenyum sambil mengangguk kecil. Ia melihat wajah Yeriko yang semakin lama terlihat buram. “Tuhan ... ini bukan mimpi ‘kan?” batin Yuna saat ia tak bisa lagi melihat wajah Yeriko. Hanya kegelapan yang ada di hadapannya dan suara Yeriko yang tak sanggup untuk ia balas.

 

“Yuna ...!” teriak Yeriko saat tubuh Yuna tiba-tiba merosot. Ia langsung menangkap tubuh Yuna dan menggendongnya.

 

Yeriko menggendong tubuh Yuna yang dingin dan tak sadarkan diri. Air matanya menetes melihat keadaan istrinya. Ia merasa dunianya runtuh saat melihat Yuna lemah dan terluka. Ia kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi istrinya dengan baik.

 

“Yun, kamu kuat kan? Kamu pasti baik-baik aja!” tutur Yeriko sambil menangis. Ia terus melangkahkan kakinya keluar dari bangunan pabrik yang sudah tidak digunakan selama bertahun-tahun itu.

 

“Chan, kamu supirin Yeriko!” perintah Satria. “Aku khawatir kalau dia bawa mobil sendiri.”

 

Chandra menganggukkan kepala. Ia merogoh saku dan melemparkan kunci mobilnya ke arah Satria. “Aku titip mobilku!”

 

Satria menangkap kunci mobil yang melayang di hadapannya. Ia mengangguk dan meminta semua anak buahnya membantu mengurus para penculik itu.

 

Chandra langsung berlari menyusul langkah Yeriko. “Yer, biar aku yang bawa mobil kamu.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kuncinya masih di mobil, Chan.”

 

Chandra mengangguk. Ia bergegas berlari ke arah mobil Yeriko.

 

Yeriko menggendong Yuna sampai masuk ke dalam mobil. Ia terus memeluk erat tubuh Yuna yang dingin.  “Cepet, Chan! Kasihan istriku,” pinta Yeriko lirih.

 

Chandra menganggukkan kepala. Ia bergegas menyalakan mesin mobil, menginjak pedal gas dan membawa mobil Yeriko melaju membelah jalanan malam yang sepi. Chandra langsung membawa Yuna dan Yeriko ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan secepatnya.

 

“Suster, tolongin!” teriak Chandra begitu ia menghentikan mobilnya di depan pintu masuk IGD General Hospital Wijaya setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit dari lokasi kejadian.

 

Suster yang berjaga di ruang IGD tersebut secepatnya menarik brankar begitu melihat Yeriko menggendong Yuna dari dalam mobil. Mereka langsung bergerak cepat untuk menangani Yuna yang sudah tidak sadarkan diri.

 

“Tolongin istri saya, Suster!” pinta Yeriko.

 

Suster itu mengangguk. “Percayakan semuanya sama kami!” Ia langsung menutup pintu ruang IGD untuk memberikan pertolongan pada Yuna.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia begitu cemas menunggu Yuna di dalam ruangan yang bertuliskan IGD tersebut. Ia harap, keadaan istri dan anak yang sedang dikandungnya dalam keadaan baik-baik saja.

 

“Chan, kalian semua sudah bekerja keras untuk menolong istriku. Sebaiknya, kamu pulang dan istirahat. Biar aku yang jaga Yuna,” tutur Yeriko sambil menatap Chandra yang masih berdiri di sampingnya.

 

Chandra menganggukkan kepala. “Besok pagi, aku ke sini lagi.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia ingin mengurus Yuna seorang diri untuk menebus kesalahannya sendiri karena tak mampu menjaga dan melindungi istrinya dengan baik.

 

 

((Bersambung ...))

Huft, udah lega...

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas