Friday, February 27, 2026

Perfect Hero Bab 470 : Your Smell

 


“Chan, Yuna udah ketemu? Di mana sekarang?” tanya Jheni sambil menghampiri Chandra yang baru saja masuk ke dalam rumah Yeriko.

 

“Dia baik-baik aja. Lagi di rumah sakit.”

 

“Rumah sakit mana? Kita ke sana sekarang!” Jheni langsung buru-buru mencari jaket dan tasnya.

 

“Nggak usah, Jhen!” pinta Chandra.

 

“Kenapa?”

 

“Yuna baik-baik aja. Yeriko udah jagain dia.”

 

“Tapi, aku khawatir sama kondisi Yuna,” sahut Jheni. Wajahnya terlihat sangat gelisah.

 

“Yeriko udah jagain dia, Jhen. Kalian istirahat aja! Besok pagi, baru kita jenguk Yuna bareng-bareng.”

 

“Aku mana bisa istirahat dengan tenang kalau belum lihat Yuna,” sahut Jheni. “Ayo, Cha!” ajaknya sambil menarik tangan Icha.

 

“Jhen ...!” Chandra langsung menahan lengan Jheni. “Yeriko sudah terpukul banget karena masalah ini. Kasih dia waktu! Percayakan Yuna sama suaminya!” pintanya.

 

“Chandra ada benernya juga, Jen. Kita jangan ganggu mereka dulu!” Icha ikut menambahkan.

 

Jheni menatap Icha sejenak. Ia akhirnya menganggukkan kepala.

 

“Chan, Lutfi mana? Kenapa nggak balik sama-sama?”

 

“Masih ada hal yang harus dia urus,” jawab Chandra.

 

“Oh.”

 

“Lebih baik, kita pulang sekarang!” ajak Chandra.

 

Icha dan Jheni menganggukkan kepala. Mereka bergegas keluar dari rumah Yuna.

 

“Bi, kami pulang dulu ya!” pamit Jheni dan Icha.

 

Bibi War mengangguk. “Hati-hati ya!”

 

Jheni menganggukkan kepala. “Bibi juga hati-hati ya di rumah.”

 

“Iya. Tenang aja!” sahut Bibi War.

 

“Semua pintu dan jendela, kunci dengan baik!” perintah Jheni sambil mendelik ke arah Bibi War.

 

“Siap, Mbak Jheni!” sahut Bibi War sambil tersenyum.

 

“Ya udah, kami pulang dulu!” pamit Jheni sambil bersalaman pipi dengan Bibi War.

 

“Aku juga pulang ya, Bi!” Icha juga ikut berpamitan.

 

Bibi War mengangguk. Ia terus menatap tiga orang sahabat majikannya itu sampai mobil Chandra keluar dari halaman rumah.

 

“Chan, Yuna baik-baik aja ‘kan?” tanya Jheni saat mereka sudah ada di perjalanan.

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

“Aku nggak bisa tidur tenang malam ini kalau belum lihat Yuna,” tutur Jheni.

 

“Semua udah diurus sama Yeriko. Kalian nggak usah khawatir!”

 

“Nggak bisa juga kalau nggak khawatir, Chan. Yuna itu baik banget. Baik banget!” tutur Icha. “Dia selalu nolongin orang walau dia emang keras kepala dan sedikit kasar. Tapi, dia ngelakuin itu untuk melindungi orang-orang yang lemah di sekitarnya. Kenapa orang baik kayak dia selalu dijahatin?” tutur Icha sambil memangku wajahnya.

 

“Huft, ujian jadi orang baik emang kayak gitu. Makanya, balasannya surga!” sahut Jheni.

 

“Iya juga, sih.”

 

Chandra hanya tersenyum kecil menanggapi pembicaraan dua wanita yang ada di dalam mobilnya itu. “Kalian udah makan?” tanyanya.

 

“Kamu sendiri, udah makan?” tanya Jheni.

 

Chandra menggelengkan kepala.

 

“Aku juga laper. Tengah malam gini, cari makanan di mana ya?” tanyanya sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari rumah makan yang masih buka.

 

“Aku ngantuk banget, Jhen. Mau langsung pulang,” tutur Icha.

 

“Hadeh ... kamu ini tukang tidur. Ketularan Lutfi, nih!” sahut Jheni kesal.

 

“Aku sekarang pengangguran. Nggak ada lagi yang dikerjain selain tidur,” sahut Icha.

 

“Enaklah. Jadi Nyonya, kayak Yuna,” sahut Jheni.

 

“Kamu kan bisa jadi Nyonya juga,” sahut Icha sambil melirik Chandra.

 

“Nyonya apaan!?” Jheni mendelik sambil mencubit lengan Icha.

 

Icha hanya tertawa menanggapi ucapan Jheni.

 

Chandra tetap fokus menatap jalanan yang ada di depannya tanpa berkata apa pun. Ia tak menanggapi candaan Jheni dan Icha yang menyinggung masa depannya. Ia memilih untuk diam dengan pemikirannya sendiri.

 

Usai mengantar Icha ke rumahnya. Chandra dan Jheni bergegas kembali ke apartemen.

 

“Chan, tadi gimana keadaan Yuna?” tanya Jheni sambil membuka pintu apartemen Chandra.

 

Chandra menghela napas. “Aku udah jawab kalau Yuna baik-baik aja. Tanya sekali lagi, dapet kulkas!”

 

Jheni memonyongkan bibirnya. “Dikira undian!?”

 

“Makanya, nggak usah tanya berulang-ulang,” sahut Chandra sambil melepas jaket dan melemparkan ke atas sofa begitu saja. Ia mengendus tubuhnya yang berkeringat dan kotor usai membantu menyelamatkan Yuna. “Badanku bau, nggak sih?” tanyanya sambil menoleh ke arah Jheni.

 

“Bau banget! Mandi, gih!”

 

“Kenapa kamu diam aja? Tahu gini, aku bisa mandi dulu di rumah Yeri.”

 

“Kamu nggak ngerasa kalo badan kamu bau lem dan lumpur kayak gini?” tanya Jheni sambil melangkahkan kakinya menuju dapur.

 

Chandra mengendus-ngendus ketiak dan kemejanya sendiri. “Bau banget!” ucapnya nyengir. “Nggak kebayang si Yuna ada di dalam sana berjam-jam,” tuturnya sambil melepas kancing kemejanya.

 

“Tapi si Yuna nggak papa ‘kan?” tanya Jheni sambil menyalakan kompor.

 

“Ck.” Chandra berdecak sambil memutar kepalanya menatap Jheni. “Kamu masih tanya lagi? Jawabanku tetap sama, Jhen.”

 

Jheni nyengir ke arah Chandra. “Aku mau rebus mie instan. Kamu mau nggak? Malam-malam gini, enaknya makan yang anget-anget.”

 

“Lebih anget mana dibanding pelukanku?” tanya Chandra sambil melangkah menghampiri Jheni.

 

“Aargh ...!” teriak Jheni dalam hati. Hatinya langsung berlompat-lompatan saat melihat Chandra tersenyum menghampirinya. “Kenapa kamu malah ganteng banget waktu kotor kayak gini?” batinnya.

 

“Hei ...!” Chandra langsung mengetuk dahi Jheni yang sibuk senyum-senyum sendiri.

 

Jheni mengerjapkan mata saat ia tersadar dari khayalan nakalnya. Pipinya bersemu merah saat melihat Chandra sudah ada di depan hidungnya.

 

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Chandra.

 

“Eh!? Nggak papa.”

 

Chandra tersenyum sambil menatap wajah Jheni.

 

GLEG!

 

Jheni membalas tatapan Chandra, jantungnya berdegup kencang. Ia meremas mie instan yang ada di tangannya.

 

Chandra tersenyum kecil. Ia bisa memahami perasaan yang tergambar dari wajah Jheni.

 

“Iih ... apaan sih!?” seru Jheni sambil mendorong tubuh Chandra menjauh dari dirinya. “Mandi, gih!” perintahnya.

 

“Kamu nggak mandi juga?”

 

“Ngapain mandi tengah malam begini. Aku nggak bau. Yang bau, kan, kamu,” jawab Jheni sambil membalikkan tubuhnya dan memasukkan mie instan ke dalam panci yang sudah berisi air mendidih.

 

Chandra tertawa kecil sambil mengamati gerakan tubuh Jheni. Saat Jheni sedang menyiapkan mangkuk, ia langsung memeluk gadis itu dari belakang dan mengusapkan kepalanya ke tengkuk Jheni.

 

“Aargh ...!” teriak Jheni sekuat tenaga. “Bau, Chan!” serunya kesal.

 

“Sst ...! Jangan teriak-teriak! Ntar dikira tetangga, aku ngapa-ngapain kamu,” pinta Chandra lirih.

 

“Emang ngapa-ngapain!” sahut Jheni kesal. “Kalo bau nggak usah ajak-ajak!” dengusnya.

 

“Biar ada temen mandi,” sahut Chandra sambil tertawa kecil.

 

“Siapa yang mau mandi sama kamu!” sahut Jheni kesal.

 

“Ya udah, nggak usah mandi,” tutur Chandra sambil berlalu pergi menuju kamar mandi.

 

“Eh, tunggu!” seru Jheni.

 

Chandra langsung menghentikan langkahnya. “Kenapa?” tanyanya sambil berbalik menatap Jheni.

 

Jheni mematikan kompor dan menghampiri Chandra.

 

Chandra tertawa kecil saat Jheni menghampiri dirinya. “Mau mandi bareng?” tanyanya.

 

Jheni tak menyahut. Ia langsung berlari masuk ke dalam kamar Chandra, mengambil handuk dari dalam lemari dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

 

“Hei, kenapa ditutup pintunya?” seru Chandra saat melihat Jheni masuk lebih dulu ke dalam kamar mandinya.

 

Jheni membuka pintu kamar mandi. Ia melongo keluar sambil menatap Chandra. “Mandi sendiri ya! Aku mandi duluan,” ucapnya sambil menjulurkan lidah ke arah Chandra.

 

Chandra gelagapan melihat sikap Jheni. Ia pikir, Jheni akan membantunya membersihkan tubuh. Ia melangkah menghampiri pintu kamar mandi.

 

“Jhen, bukain pintu!” rengek Chandra sambil menempelkan dahinya ke pintu kamar mandi.

 

“Sebentar! Bentar lagi kelar!” seru Jheni.

 

“Ck.” Chandra berdecak. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu kamar mandi sambil memejamkan mata, mendengar suara air gemericik dari dalam ruang kamar mandinya. Ia menunggu Jheni keluar dari kamar mandi tanpa banyak bicara.

 

Usai mandi, Jheni dan Chandra memilih untuk duduk bersama di meja makan sambil menikmati mie instan yang dimasak oleh Jheni. Mereka akhirnya bercerita banyak hal sebelum akhirnya terlelap.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah dukung terus cerita ini.

Siapa kemarin yang minta part bucin Chan&Jhen?

Jangan lupa sapa di kolom komentar ya!

 

Much

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas