“Chan,
Yuna udah ketemu? Di mana sekarang?” tanya Jheni sambil menghampiri Chandra
yang baru saja masuk ke dalam rumah Yeriko.
“Dia
baik-baik aja. Lagi di rumah sakit.”
“Rumah
sakit mana? Kita ke sana sekarang!” Jheni langsung buru-buru mencari jaket dan
tasnya.
“Nggak
usah, Jhen!” pinta Chandra.
“Kenapa?”
“Yuna
baik-baik aja. Yeriko udah jagain dia.”
“Tapi,
aku khawatir sama kondisi Yuna,” sahut Jheni. Wajahnya terlihat sangat gelisah.
“Yeriko
udah jagain dia, Jhen. Kalian istirahat aja! Besok pagi, baru kita jenguk Yuna
bareng-bareng.”
“Aku
mana bisa istirahat dengan tenang kalau belum lihat Yuna,” sahut Jheni. “Ayo,
Cha!” ajaknya sambil menarik tangan Icha.
“Jhen
...!” Chandra langsung menahan lengan Jheni. “Yeriko sudah terpukul banget
karena masalah ini. Kasih dia waktu! Percayakan Yuna sama suaminya!” pintanya.
“Chandra
ada benernya juga, Jen. Kita jangan ganggu mereka dulu!” Icha ikut menambahkan.
Jheni
menatap Icha sejenak. Ia akhirnya menganggukkan kepala.
“Chan,
Lutfi mana? Kenapa nggak balik sama-sama?”
“Masih
ada hal yang harus dia urus,” jawab Chandra.
“Oh.”
“Lebih
baik, kita pulang sekarang!” ajak Chandra.
Icha
dan Jheni menganggukkan kepala. Mereka bergegas keluar dari rumah Yuna.
“Bi,
kami pulang dulu ya!” pamit Jheni dan Icha.
Bibi
War mengangguk. “Hati-hati ya!”
Jheni
menganggukkan kepala. “Bibi juga hati-hati ya di rumah.”
“Iya.
Tenang aja!” sahut Bibi War.
“Semua
pintu dan jendela, kunci dengan baik!” perintah Jheni sambil mendelik ke arah
Bibi War.
“Siap,
Mbak Jheni!” sahut Bibi War sambil tersenyum.
“Ya
udah, kami pulang dulu!” pamit Jheni sambil bersalaman pipi dengan Bibi War.
“Aku
juga pulang ya, Bi!” Icha juga ikut berpamitan.
Bibi
War mengangguk. Ia terus menatap tiga orang sahabat majikannya itu sampai mobil
Chandra keluar dari halaman rumah.
“Chan,
Yuna baik-baik aja ‘kan?” tanya Jheni saat mereka sudah ada di perjalanan.
Chandra
menganggukkan kepala.
“Aku
nggak bisa tidur tenang malam ini kalau belum lihat Yuna,” tutur Jheni.
“Semua
udah diurus sama Yeriko. Kalian nggak usah khawatir!”
“Nggak
bisa juga kalau nggak khawatir, Chan. Yuna itu baik banget. Baik banget!” tutur
Icha. “Dia selalu nolongin orang walau dia emang keras kepala dan sedikit
kasar. Tapi, dia ngelakuin itu untuk melindungi orang-orang yang lemah di
sekitarnya. Kenapa orang baik kayak dia selalu dijahatin?” tutur Icha sambil
memangku wajahnya.
“Huft,
ujian jadi orang baik emang kayak gitu. Makanya, balasannya surga!” sahut
Jheni.
“Iya
juga, sih.”
Chandra
hanya tersenyum kecil menanggapi pembicaraan dua wanita yang ada di dalam
mobilnya itu. “Kalian udah makan?” tanyanya.
“Kamu
sendiri, udah makan?” tanya Jheni.
Chandra
menggelengkan kepala.
“Aku
juga laper. Tengah malam gini, cari makanan di mana ya?” tanyanya sambil
mengedarkan pandangannya untuk mencari rumah makan yang masih buka.
“Aku
ngantuk banget, Jhen. Mau langsung pulang,” tutur Icha.
“Hadeh
... kamu ini tukang tidur. Ketularan Lutfi, nih!” sahut Jheni kesal.
“Aku
sekarang pengangguran. Nggak ada lagi yang dikerjain selain tidur,” sahut Icha.
“Enaklah.
Jadi Nyonya, kayak Yuna,” sahut Jheni.
“Kamu
kan bisa jadi Nyonya juga,” sahut Icha sambil melirik Chandra.
“Nyonya
apaan!?” Jheni mendelik sambil mencubit lengan Icha.
Icha
hanya tertawa menanggapi ucapan Jheni.
Chandra
tetap fokus menatap jalanan yang ada di depannya tanpa berkata apa pun. Ia tak
menanggapi candaan Jheni dan Icha yang menyinggung masa depannya. Ia memilih
untuk diam dengan pemikirannya sendiri.
Usai
mengantar Icha ke rumahnya. Chandra dan Jheni bergegas kembali ke apartemen.
“Chan,
tadi gimana keadaan Yuna?” tanya Jheni sambil membuka pintu apartemen Chandra.
Chandra
menghela napas. “Aku udah jawab kalau Yuna baik-baik aja. Tanya sekali lagi,
dapet kulkas!”
Jheni
memonyongkan bibirnya. “Dikira undian!?”
“Makanya,
nggak usah tanya berulang-ulang,” sahut Chandra sambil melepas jaket dan
melemparkan ke atas sofa begitu saja. Ia mengendus tubuhnya yang berkeringat
dan kotor usai membantu menyelamatkan Yuna. “Badanku bau, nggak sih?” tanyanya
sambil menoleh ke arah Jheni.
“Bau
banget! Mandi, gih!”
“Kenapa
kamu diam aja? Tahu gini, aku bisa mandi dulu di rumah Yeri.”
“Kamu
nggak ngerasa kalo badan kamu bau lem dan lumpur kayak gini?” tanya Jheni
sambil melangkahkan kakinya menuju dapur.
Chandra
mengendus-ngendus ketiak dan kemejanya sendiri. “Bau banget!” ucapnya nyengir.
“Nggak kebayang si Yuna ada di dalam sana berjam-jam,” tuturnya sambil melepas
kancing kemejanya.
“Tapi
si Yuna nggak papa ‘kan?” tanya Jheni sambil menyalakan kompor.
“Ck.”
Chandra berdecak sambil memutar kepalanya menatap Jheni. “Kamu masih tanya
lagi? Jawabanku tetap sama, Jhen.”
Jheni
nyengir ke arah Chandra. “Aku mau rebus mie instan. Kamu mau nggak? Malam-malam
gini, enaknya makan yang anget-anget.”
“Lebih
anget mana dibanding pelukanku?” tanya Chandra sambil melangkah menghampiri
Jheni.
“Aargh
...!” teriak Jheni dalam hati. Hatinya langsung berlompat-lompatan saat melihat
Chandra tersenyum menghampirinya. “Kenapa kamu malah ganteng banget waktu kotor
kayak gini?” batinnya.
“Hei
...!” Chandra langsung mengetuk dahi Jheni yang sibuk senyum-senyum sendiri.
Jheni
mengerjapkan mata saat ia tersadar dari khayalan nakalnya. Pipinya bersemu
merah saat melihat Chandra sudah ada di depan hidungnya.
“Kenapa
senyum-senyum sendiri?” tanya Chandra.
“Eh!?
Nggak papa.”
Chandra
tersenyum sambil menatap wajah Jheni.
GLEG!
Jheni
membalas tatapan Chandra, jantungnya berdegup kencang. Ia meremas mie instan
yang ada di tangannya.
Chandra
tersenyum kecil. Ia bisa memahami perasaan yang tergambar dari wajah Jheni.
“Iih
... apaan sih!?” seru Jheni sambil mendorong tubuh Chandra menjauh dari
dirinya. “Mandi, gih!” perintahnya.
“Kamu
nggak mandi juga?”
“Ngapain
mandi tengah malam begini. Aku nggak bau. Yang bau, kan, kamu,” jawab Jheni sambil
membalikkan tubuhnya dan memasukkan mie instan ke dalam panci yang sudah berisi
air mendidih.
Chandra
tertawa kecil sambil mengamati gerakan tubuh Jheni. Saat Jheni sedang
menyiapkan mangkuk, ia langsung memeluk gadis itu dari belakang dan mengusapkan
kepalanya ke tengkuk Jheni.
“Aargh
...!” teriak Jheni sekuat tenaga. “Bau, Chan!” serunya kesal.
“Sst
...! Jangan teriak-teriak! Ntar dikira tetangga, aku ngapa-ngapain kamu,” pinta
Chandra lirih.
“Emang
ngapa-ngapain!” sahut Jheni kesal. “Kalo bau nggak usah ajak-ajak!” dengusnya.
“Biar
ada temen mandi,” sahut Chandra sambil tertawa kecil.
“Siapa
yang mau mandi sama kamu!” sahut Jheni kesal.
“Ya
udah, nggak usah mandi,” tutur Chandra sambil berlalu pergi menuju kamar mandi.
“Eh,
tunggu!” seru Jheni.
Chandra
langsung menghentikan langkahnya. “Kenapa?” tanyanya sambil berbalik menatap
Jheni.
Jheni
mematikan kompor dan menghampiri Chandra.
Chandra
tertawa kecil saat Jheni menghampiri dirinya. “Mau mandi bareng?” tanyanya.
Jheni
tak menyahut. Ia langsung berlari masuk ke dalam kamar Chandra, mengambil
handuk dari dalam lemari dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
“Hei,
kenapa ditutup pintunya?” seru Chandra saat melihat Jheni masuk lebih dulu ke
dalam kamar mandinya.
Jheni
membuka pintu kamar mandi. Ia melongo keluar sambil menatap Chandra. “Mandi
sendiri ya! Aku mandi duluan,” ucapnya sambil menjulurkan lidah ke arah
Chandra.
Chandra
gelagapan melihat sikap Jheni. Ia pikir, Jheni akan membantunya membersihkan
tubuh. Ia melangkah menghampiri pintu kamar mandi.
“Jhen,
bukain pintu!” rengek Chandra sambil menempelkan dahinya ke pintu kamar mandi.
“Sebentar!
Bentar lagi kelar!” seru Jheni.
“Ck.”
Chandra berdecak. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu kamar mandi sambil
memejamkan mata, mendengar suara air gemericik dari dalam ruang kamar mandinya.
Ia menunggu Jheni keluar dari kamar mandi tanpa banyak bicara.
Usai
mandi, Jheni dan Chandra memilih untuk duduk bersama di meja makan sambil
menikmati mie instan yang dimasak oleh Jheni. Mereka akhirnya bercerita banyak
hal sebelum akhirnya terlelap.
((Bersambung ...))
Thanks udah dukung terus cerita ini.
Siapa kemarin yang minta part bucin
Chan&Jhen?
Jangan lupa sapa di kolom komentar ya!
Much
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment