Friday, February 27, 2026

Perfect Hero Bab 471 : Your Love is Deep

 


“Dok, gimana keadaan istri saya?” tanya Yeriko begitu dokter yang menangani Yuna keluar dari ruang pemeriksaan.

 

“Dia baik-baik saja. Hanya kelelahan,” jawab dokter tersebut.

 

“Saya boleh lihat dia?” tanya Yeriko.

 

Dokter tersebut menganggukkan kepala.

 

Yeriko bergegas masuk ke dalam ruangan IGD tersebut. Ia mengedarkan pandangannya melihat beberapa brankar yang berbaris rapi.

 

“Istri saya mana, Suster?” tanya Yeriko.

 

“Di sana, Pak!” jawab Suster yang bertugas sambil menunjuk brankar yang tertutup tirai.

 

Yeriko mempercepat langkahnya, ia menyingkap tirai yang memisahkan brankar istrinya dengan brankar pasien lain. Ia langsung memeluk tubuh Yuna yang masih belum sadarkan diri.

 

“Sayang, maafin aku ya!” ucap Yeriko sambil mengelus pipi Yuna dan menciumi wajahnya. “Cepet bangun, ya! Katanya, kamu kangen sama aku?” bisik Yeriko.

 

Yeriko terus menggenggam tangan Yuna sambil mengecupnya. Ia tidak ingin meninggalkan Yuna walau hanya sedetik saja. Apa yang terjadi pada istrinya kali ini, benar-benar membuat perasaannya sakit. Ia tak pernah melihat tubuh Yuna penuh dengan luka. Terluka sedikit saja, ia sudah sangat khawatir. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa menjadi orang yang tak berguna.

 

“Permisi, Mas!” sapa seorang suster yang tiba-tiba menghampiri Yeriko.

 

“Iya, Sus,” balas Yeriko sambil menoleh ke arah suster tersebut.

 

“Tolong selesaikan administrasi pasien secepatnya! Kami akan memindahkan ke ruang rawat dua jam lagi.”

 

“Sus, saya bisa minta pindah rumah sakit?” tanya Yeriko pada suster yang berbicara dengannya.

 

“Bisa, Mas. Silakan diurus ke bagian administrasi dan pelayanan!”

 

Yeriko mengangguk. “Terima kasih, Suster!”

 

Suster tersebut mengangguk ramah. Ia bergegas meninggalkan Yeriko yang masih enggan meninggalkan istrinya sendirian.

 

Yeriko merogoh ponsel di saku celananya. Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Ia menekan nomor ponsel Riyan, kemudian meletakkan di telinganya.

 

“Halo ...! Ada apa, Pak Bos?” tanya Riyan begitu panggilan telepon dari Yeriko tersambung.

 

“Yan, bisa bantu aku urus Yuna untuk pindah rumah sakit?”

 

“Pak Bos di rumah sakit mana?” tanya Riyan.

 

“Wijaya Hospital. Di sini terlalu jauh dari rumah. Aku mau pindahin ke Siloam. Tolong uruskan semuanya sekarang juga!” perintah Yeriko.

 

“Siap, Pak Bos!”

 

Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia enggan beranjak dari sisi Yuna dan mempercayakan semuanya pada Riyan untuk mengurus administrasi dan proses pemindahan Yuna agar mendapat perawatan di rumah sakit yang lebih baik dan dekat dengan rumah mereka yang ada di Jl. Keputih.

 

Yeriko menarik napas, ia terus memeluk lengan Yuna sambil menatap wajah istrinya yang sembab. Ia terus mengecup punggung tangan Yuna sambil menunggu wanita itu tersadar. Ia terus menatap wajah istrinya hingga terlelap sambil duduk di tepi brankar Yuna.

 

Setengah jam kemudian ...

 

Yuna membuka matanya perlahan. Ia tersenyum melihat Yeriko sudah tertidur di sampingnya. “Aku pikir, aku nggak akan pernah bangun lagi,” batin Yuna. Tangan satunya menyentuh rambut Yeriko. “Makasih, udah ngelakuin banyak hal untuk aku,” tuturnya lirih.

 

Yeriko langsung mengerjapkan mata begitu merasakan sentuhan di kepalanya. Ia langsung menatap wajah Yuna yang tersenyum ke arahnya. “Udah bangun?” tanya Yeriko sambil mengangkat kepalanya.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Maafin aku, aku nggak bisa jagain kamu dengan baik,” tutur Yeriko dengan mata berkaca-kaca.

 

Yuna bangkit dari tidurnya perlahan.

 

“Nggak usah bangun! Baring aja!” perintah Yeriko. “Kamu harus banyak istirahat.”

 

“Aku nggak papa, kok. Aku baik-baik aja.”

 

“Aku tahu, saat perempuan bilang kalau dia baik-baik aja, dia nggak beneran baik-baik aja. Kamu udah luka-luka kayak gini, mana mungkin baik-baik aja. Maafin aku ya! Aku nggak becus jadi suami kamu.”

 

Yuna tersenyum ke arah Yeriko. “Ay, kenapa ngomongnya gitu? Kamu adalah suami terbaik di dunia ini. Kamu selalu menjaga dan menyayangi aku setiap hari. Nggak usah sedih, ya!” pinta Yuna sambil mengelus pipi Yeriko. “Hatiku lebih sakit lihat kamu sedih kayak gini.”

 

“Aku nggak sedih, kok. Aku cuma kangen banget sama kamu,” ucap Yeriko sambil tersenyum. Ia masih terus menciumi punggung tangan istrinya.

 

“Aku juga kangen sama kamu. Ay, anak kita baik-baik aja ‘kan?” tanya Yuna lirih.

 

Yeriko mengangguk sambil meletakkan telapak tangannya di perut Yuna. “Dia baik-baik aja. Dia kuat, sama seperti bundanya.”

 

Yuna tersenyum sambil meletakkan telapak tangannya di punggung tangan Yeriko yang masih mengelus perutnya. “Ay, dia udah mulai bergerak. Aku ngerasa dia benar-benar hidup. Dia yang ngasih aku kekuatan untuk bertahan.”

 

“Oh ya?” Yeriko menatap perut Yuna, ia langsung mengecup anak yang ada di dalam perut istrinya itu. “Makasih, sudah bantu Ayah untuk menjaga bunda kamu,” bisiknya di perut Yuna.

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko yang memperlakukan dirinya penuh kasih sayang.

 

“Ay ...!” panggil Yuna lirih.

 

“Umh.” Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna.

 

“Kenapa rambut kamu berantakan banget?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko yang berantakan dan pakaiannya yang kotor. “Aku suka lihat kamu yang ganteng dan rapi.”

 

“Aku bisa lebih berantakan dari ini kalau aku nggak bisa nemuin kamu secepatnya,” sahut Yeriko.

 

Yuna tersenyum. “Mandi ya!” pintanya lembut.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Nanti aku bersih-bersih badan setelah semuanya selesai. Aku masih nunggu Riyan mindahin kamu ke rumah sakit lain. Ini terlalu jauh dari rumah kita.”

 

“Emangnya, sekarang di rumah sakit mana?” tanya Yuna.

 

“Wijaya Hospital,” jawab Yeriko.

 

Yuna tak bertanya lagi. Ia tahu posisi rumah sakit itu dan juga pemiliknya.

 

“Kamu istirahat ya! Sambil nunggu Riyan urus administrasi untuk mindahin kamu.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Tapi ... aku laper.”

 

“Laper?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Aku carikan makanan dulu,” tutur Yeriko sambil bangkit dari kursinya.

 

“Jangan lama-lama ya! Jangan cari makanan jauh-jauh. Beliin aja roti di kantin rumah sakit. Aku takut sendirian,” pinta Yuna.

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Ada banyak suster di sini, mereka jagain kamu. Aku pergi sebentar aja,” ucapnya. Ia mengecup kening Yuna dan bergegas pergi.

 

Yuna tersenyum melihat tubuh suaminya yang beranjak pergi. Ia merasa sangat bahagia memiliki suami yang begitu menyayangi dan mencintainya sepenuh hati. Hatinya merasa sakit saat melihat suaminya bersedih karena dirinya.

 

“Aku memang wanita sial dan malang yang cuma bisa merepotkan dia,” tutur Yuna sambil tersenyum. “Aku harus cepet sembuh, biar Yeriko nggak sedih lagi dan nggak merasa bersalah terus!” lanjutnya menyemangati diri sendiri.

 

Yuna menarik napas sambil memejamkan matanya. Ia sangat bahagia karena Tuhan mengirimkan malaikat untuk wanita malang sepertinya. Ia harap, selamanya Yeriko dan dirinya bisa hidup bahagia, saling melengkapi dan saling menguatkan.

 

Tak sampai lima menit, Yeriko sudah kembali menghampiri Yuna. “Cuma ada makanan dan minuman ini di kantin. Kamu makan dulu ya!” pinta Yeriko sambil membuka bungkus roti yang baru saja ia beli.

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Makasih ...!”

 

Yeriko langsung memotong roti yang ada di tangannya dan menyuap ke mulut Yuna.

 

“Tangan kamu kenapa?” tanya Yuna sambil menatap tangan Yeriko yang dibalut perban.

 

“Eh, oh ... nggak papa. Cuma luka sedikit karena berantem,” jawab Yeriko. Ia tersenyum dan kembali menyuapkan roti ke mulut Yuna.

 

“Maafin aku ya! Gara-gara aku, kamu jadi luka kayak gini,” tutur Yuna lirih.

 

“Ini semua bukan salah kamu. Salahku yang nggak bisa menjaga dan melindungi kamu dengan baik.”

 

Yuna tertawa kecil. Ia merasa kalau Yeriko sudah menjaga dan melindunginya secara berlebihan. Tapi, suaminya itu masih saja merasa kalau tak melindunginya.

 

“Aku nggak akan ngelepasin orang yang udah bikin kamu kayak gini!” tegas Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Aku juga nggak mau biarin dia gitu aja. Dia harus dikasih pelajaran.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku akan membalas semuanya, Yun!”

 

“Tapi jangan sampai kelewatan. Kasih pelajaran sewajarnya aja ya!” pinta Yuna. “Jangan sampai, kamu gegabah dan menyisakan penyesalan!”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Refi sebenarnya wanita yang baik dan lembut. Hanya saja, dia terlalu terobsesi. Kamu pasti bisa membuat dia menyadari kesalahannya dan kembali menjadi wanita yang baik!”

 

Yeriko mengangguk. Ia tak berniat sedikitpun untuk bernegosiasi soal perasaannya terhadap Refi. Ia hanya tidak ingin membuat istrinya mengkhawatirkan Refi. Ia bertekad untuk menyelesaikan semuanya tanpa dikendalikan oleh siapa pun termasuk istrinya yang  berhati mulia itu.

 

((Bersambung ... ))

Thanks, udah dukung terus ceritanya sampai di sini.

Kira-kira, si Refi enaknya diapain ya kali ini? Mr. Ye pasti nggak akan melepaskan dia dengan mudah.

Sapa di kolom komentar ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas