“Dok,
gimana keadaan istri saya?” tanya Yeriko begitu dokter yang menangani Yuna
keluar dari ruang pemeriksaan.
“Dia
baik-baik saja. Hanya kelelahan,” jawab dokter tersebut.
“Saya
boleh lihat dia?” tanya Yeriko.
Dokter
tersebut menganggukkan kepala.
Yeriko
bergegas masuk ke dalam ruangan IGD tersebut. Ia mengedarkan pandangannya
melihat beberapa brankar yang berbaris rapi.
“Istri
saya mana, Suster?” tanya Yeriko.
“Di
sana, Pak!” jawab Suster yang bertugas sambil menunjuk brankar yang tertutup
tirai.
Yeriko
mempercepat langkahnya, ia menyingkap tirai yang memisahkan brankar istrinya
dengan brankar pasien lain. Ia langsung memeluk tubuh Yuna yang masih belum
sadarkan diri.
“Sayang,
maafin aku ya!” ucap Yeriko sambil mengelus pipi Yuna dan menciumi wajahnya.
“Cepet bangun, ya! Katanya, kamu kangen sama aku?” bisik Yeriko.
Yeriko
terus menggenggam tangan Yuna sambil mengecupnya. Ia tidak ingin meninggalkan
Yuna walau hanya sedetik saja. Apa yang terjadi pada istrinya kali ini,
benar-benar membuat perasaannya sakit. Ia tak pernah melihat tubuh Yuna penuh
dengan luka. Terluka sedikit saja, ia sudah sangat khawatir. Untuk pertama kali
dalam hidupnya, ia merasa menjadi orang yang tak berguna.
“Permisi,
Mas!” sapa seorang suster yang tiba-tiba menghampiri Yeriko.
“Iya,
Sus,” balas Yeriko sambil menoleh ke arah suster tersebut.
“Tolong
selesaikan administrasi pasien secepatnya! Kami akan memindahkan ke ruang rawat
dua jam lagi.”
“Sus,
saya bisa minta pindah rumah sakit?” tanya Yeriko pada suster yang berbicara
dengannya.
“Bisa,
Mas. Silakan diurus ke bagian administrasi dan pelayanan!”
Yeriko
mengangguk. “Terima kasih, Suster!”
Suster
tersebut mengangguk ramah. Ia bergegas meninggalkan Yeriko yang masih enggan
meninggalkan istrinya sendirian.
Yeriko
merogoh ponsel di saku celananya. Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Ia
menekan nomor ponsel Riyan, kemudian meletakkan di telinganya.
“Halo
...! Ada apa, Pak Bos?” tanya Riyan begitu panggilan telepon dari Yeriko
tersambung.
“Yan,
bisa bantu aku urus Yuna untuk pindah rumah sakit?”
“Pak
Bos di rumah sakit mana?” tanya Riyan.
“Wijaya
Hospital. Di sini terlalu jauh dari rumah. Aku mau pindahin ke Siloam. Tolong
uruskan semuanya sekarang juga!” perintah Yeriko.
“Siap,
Pak Bos!”
Yeriko
langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia enggan beranjak dari sisi Yuna dan
mempercayakan semuanya pada Riyan untuk mengurus administrasi dan proses
pemindahan Yuna agar mendapat perawatan di rumah sakit yang lebih baik dan
dekat dengan rumah mereka yang ada di Jl. Keputih.
Yeriko
menarik napas, ia terus memeluk lengan Yuna sambil menatap wajah istrinya yang
sembab. Ia terus mengecup punggung tangan Yuna sambil menunggu wanita itu
tersadar. Ia terus menatap wajah istrinya hingga terlelap sambil duduk di tepi
brankar Yuna.
Setengah
jam kemudian ...
Yuna
membuka matanya perlahan. Ia tersenyum melihat Yeriko sudah tertidur di
sampingnya. “Aku pikir, aku nggak akan pernah bangun lagi,” batin Yuna. Tangan
satunya menyentuh rambut Yeriko. “Makasih, udah ngelakuin banyak hal untuk
aku,” tuturnya lirih.
Yeriko
langsung mengerjapkan mata begitu merasakan sentuhan di kepalanya. Ia langsung
menatap wajah Yuna yang tersenyum ke arahnya. “Udah bangun?” tanya Yeriko
sambil mengangkat kepalanya.
Yuna
mengangguk sambil tersenyum.
“Maafin
aku, aku nggak bisa jagain kamu dengan baik,” tutur Yeriko dengan mata
berkaca-kaca.
Yuna
bangkit dari tidurnya perlahan.
“Nggak
usah bangun! Baring aja!” perintah Yeriko. “Kamu harus banyak istirahat.”
“Aku
nggak papa, kok. Aku baik-baik aja.”
“Aku
tahu, saat perempuan bilang kalau dia baik-baik aja, dia nggak beneran
baik-baik aja. Kamu udah luka-luka kayak gini, mana mungkin baik-baik aja.
Maafin aku ya! Aku nggak becus jadi suami kamu.”
Yuna
tersenyum ke arah Yeriko. “Ay, kenapa ngomongnya gitu? Kamu adalah suami
terbaik di dunia ini. Kamu selalu menjaga dan menyayangi aku setiap hari. Nggak
usah sedih, ya!” pinta Yuna sambil mengelus pipi Yeriko. “Hatiku lebih sakit
lihat kamu sedih kayak gini.”
“Aku
nggak sedih, kok. Aku cuma kangen banget sama kamu,” ucap Yeriko sambil
tersenyum. Ia masih terus menciumi punggung tangan istrinya.
“Aku
juga kangen sama kamu. Ay, anak kita baik-baik aja ‘kan?” tanya Yuna lirih.
Yeriko
mengangguk sambil meletakkan telapak tangannya di perut Yuna. “Dia baik-baik
aja. Dia kuat, sama seperti bundanya.”
Yuna
tersenyum sambil meletakkan telapak tangannya di punggung tangan Yeriko yang
masih mengelus perutnya. “Ay, dia udah mulai bergerak. Aku ngerasa dia
benar-benar hidup. Dia yang ngasih aku kekuatan untuk bertahan.”
“Oh
ya?” Yeriko menatap perut Yuna, ia langsung mengecup anak yang ada di dalam
perut istrinya itu. “Makasih, sudah bantu Ayah untuk menjaga bunda kamu,”
bisiknya di perut Yuna.
Yuna
tersenyum menatap Yeriko yang memperlakukan dirinya penuh kasih sayang.
“Ay
...!” panggil Yuna lirih.
“Umh.”
Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna.
“Kenapa
rambut kamu berantakan banget?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko yang
berantakan dan pakaiannya yang kotor. “Aku suka lihat kamu yang ganteng dan
rapi.”
“Aku
bisa lebih berantakan dari ini kalau aku nggak bisa nemuin kamu secepatnya,”
sahut Yeriko.
Yuna
tersenyum. “Mandi ya!” pintanya lembut.
Yeriko
menganggukkan kepala. “Nanti aku bersih-bersih badan setelah semuanya selesai.
Aku masih nunggu Riyan mindahin kamu ke rumah sakit lain. Ini terlalu jauh dari
rumah kita.”
“Emangnya,
sekarang di rumah sakit mana?” tanya Yuna.
“Wijaya
Hospital,” jawab Yeriko.
Yuna
tak bertanya lagi. Ia tahu posisi rumah sakit itu dan juga pemiliknya.
“Kamu
istirahat ya! Sambil nunggu Riyan urus administrasi untuk mindahin kamu.”
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. “Tapi ... aku laper.”
“Laper?”
tanya Yeriko.
Yuna
menganggukkan kepala.
“Aku
carikan makanan dulu,” tutur Yeriko sambil bangkit dari
kursinya.
“Jangan
lama-lama ya! Jangan cari makanan jauh-jauh. Beliin aja roti di kantin rumah
sakit. Aku takut sendirian,” pinta Yuna.
Yeriko
mengangguk sambil tersenyum. “Ada banyak suster di sini, mereka jagain kamu.
Aku pergi sebentar aja,” ucapnya. Ia mengecup kening Yuna dan bergegas pergi.
Yuna
tersenyum melihat tubuh suaminya yang beranjak pergi. Ia merasa sangat bahagia
memiliki suami yang begitu menyayangi dan mencintainya sepenuh hati. Hatinya
merasa sakit saat melihat suaminya bersedih karena dirinya.
“Aku
memang wanita sial dan malang yang cuma bisa merepotkan dia,” tutur Yuna sambil
tersenyum. “Aku harus cepet sembuh, biar Yeriko nggak sedih lagi dan nggak
merasa bersalah terus!” lanjutnya menyemangati diri sendiri.
Yuna
menarik napas sambil memejamkan matanya. Ia sangat bahagia karena Tuhan
mengirimkan malaikat untuk wanita malang sepertinya. Ia harap, selamanya Yeriko
dan dirinya bisa hidup bahagia, saling melengkapi dan saling menguatkan.
Tak
sampai lima menit, Yeriko sudah kembali menghampiri Yuna. “Cuma ada makanan dan
minuman ini di kantin. Kamu makan dulu ya!” pinta Yeriko sambil membuka bungkus
roti yang baru saja ia beli.
Yuna
menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Makasih ...!”
Yeriko
langsung memotong roti yang ada di tangannya dan menyuap ke mulut Yuna.
“Tangan
kamu kenapa?” tanya Yuna sambil menatap tangan Yeriko yang dibalut perban.
“Eh,
oh ... nggak papa. Cuma luka sedikit karena berantem,” jawab Yeriko. Ia
tersenyum dan kembali menyuapkan roti ke mulut Yuna.
“Maafin
aku ya! Gara-gara aku, kamu jadi luka kayak gini,” tutur Yuna lirih.
“Ini
semua bukan salah kamu. Salahku yang nggak bisa menjaga dan melindungi kamu
dengan baik.”
Yuna
tertawa kecil. Ia merasa kalau Yeriko sudah menjaga dan melindunginya secara
berlebihan. Tapi, suaminya itu masih saja merasa kalau tak melindunginya.
“Aku
nggak akan ngelepasin orang yang udah bikin kamu kayak gini!” tegas Yeriko.
Yuna
menganggukkan kepala. “Aku juga nggak mau biarin dia gitu aja. Dia harus
dikasih pelajaran.”
Yeriko
menganggukkan kepala. “Aku akan membalas semuanya, Yun!”
“Tapi
jangan sampai kelewatan. Kasih pelajaran sewajarnya aja ya!” pinta Yuna.
“Jangan sampai, kamu gegabah dan menyisakan penyesalan!”
Yeriko
menganggukkan kepala.
“Refi
sebenarnya wanita yang baik dan lembut. Hanya saja, dia terlalu terobsesi. Kamu
pasti bisa membuat dia menyadari kesalahannya dan kembali menjadi wanita yang
baik!”
Yeriko
mengangguk. Ia tak berniat sedikitpun untuk bernegosiasi soal perasaannya
terhadap Refi. Ia hanya tidak ingin membuat istrinya mengkhawatirkan Refi. Ia
bertekad untuk menyelesaikan semuanya tanpa dikendalikan oleh siapa pun
termasuk istrinya yang berhati mulia itu.
((Bersambung ... ))
Thanks, udah dukung terus ceritanya sampai di
sini.
Kira-kira, si Refi enaknya diapain ya kali
ini? Mr. Ye pasti nggak akan melepaskan dia dengan mudah.
Sapa di kolom komentar ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment