Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 464 : Buta Mata Buta Hati

 


“Ndul, piye iki?” tanya si Keriting sambil menatap tubuh Yuna yang terduduk di lantai dalam keadaaan terikat dan mulai lemah. Ia mulai khawatir karena Yuna terus-menerus memejamkan matanya.

 

“Aku juga bingung, Ting. Gimana kalau dia mati?” sahut si Gundul.

 

“Jangan sampe, Ndul! Kita cuma disuruh nyulik, bukan bunuh orang. Aku nggak mau kalau sampai ada yang mati. Dosaku udah banyak, nggak mau bunuh orang, Ndul.”

 

“Apalagi dia hamil. Kita bisa bunuh dua nyawa sekaligus,” sahut si Gundul.

 

“Eh, kalian itu udah jadi penjahat. Kita udah dibayar buat nyulik ini orang. Dia nggak kenapa-kenapa. Cuma tidur aja,” tutur pria yang dipanggil bos oleh si Gundul dan si Keriting.

 

“Tapi, Bos. Ini sudah dua puluh jam. Apa nggak kelamaan nyekap dia di sini selama ini?” tanya si Keriting.

 

“Kita lihat dulu! Kita di sini karena duit, Ting. Tugas kita cuma jagain perempuan ini aja. Selebihnya, biar ditangani sama Mbak Refi. Kalau perempuan ini mati, yang bunuh juga Mbak Refi, bukan kita,” tutur pria bertato yang sedang duduk santai di kursinya.

 

“Tapi, Bos. Kita bisa mencegah Mbak Refi membunuh wanita ini. Aku melas lihat wajah dia yang udah lemah kayak gitu. Mana cantik banget. Jadi kayak begitu,” tutur si Keriting sambil memerhatikan wajah Yuna yang kotor.

 

“Kita ini lagi belajar jadi penjahat. Jangan gampang kasihan sama orang! Kamu gimana sih!?” tutur si Bos.

 

“Ini pertama dan terakhir kali aku jadi penjahat. Aku nggak mau lagi nyiksa orang kayak gini.”

 

“Wes, wes ... ini udah nanggung. Kita udah terlanjur nyulik dia. Nggak bisa dilepasin gitu aja. Bisa jadi, polisi sekarang lagi nyari kita.”

 

“Bos, aku nggak mau dipenjara!” rengek si Keriting. “Aku belum kawin!”

 

“Iya, Bos. Anakku juga masih kecil.” Si Gundul ikut berbicara.

 

“Eh, kamu perlu uang buat bayar sekolah anakmu ‘kan? Udahlah. Kerjain aja ini sampai selesai. Tunggu Mbak Refi lunasin pembayaran kita, baru kita lepasin perempuan ini.”

 

“Tapi, Bos ... aku nggak mau kalau sampai ada yang mati. Nggak papa nggak dapet dua puluh juta. Yang penting, aku masih bisa hidup dan cari rejeki lain di luar sana,” tutur si Keriting.

 

“Ah, kamu ini ... kita sudah nanggung, sudah sampai kayak gini. Kita selesaikan aja dulu. Abis ini, kita nggak usah kayak gini lagi. Aku juga nggak berani kalau sampai bunuh orang,” tutur si Bos. “Ting, kamu kasih Mbak itu minum lagi! Jangan sampai lemas!”

 

Si Keriting menganggukkan kepala. Ia melangkah perlahan mendekati Yuna sambil membawa botol air mineral. “Mbak ...!” panggilnya lirih sambil menggoyangkan pundak Yuna.

 

Yuna membuka matanya perlahan. Walau memejamkan mata, ia bisa mendengar semua pembicaraan tiga pria tersebut. Ia memang sangat lemah, tapi ia tidak begitu khawatir karena preman yang menculiknya bukanlah orang-orang psikopat berbahaya.

 

“Minum dulu, Mbak!” perintah si Keriting.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Tatapan matanya mulai sayu karena ia sudah kelelahan terikat di tempat yang lembab dan dingin. Bibirnya mulai gemetaran menahan dingin yang mulai menusuk-nusuk tulangnya.

 

Si Keriting tersenyum sambil membantu Yuna minum air putih.

 

“Mas, aku kedinginan. Ada air hangat?” tanya Yuna lirih.

 

Si Keriting langsung mengedarkan pandangannya. “Nggak ada air hangat di sini, Mbak. Aku carikan dulu ya!”

 

Yuna mengangguk perlahan.

 

Si Keriting melepas jaket dan menyelimutkan jaket tersebut ke tubuh Yuna. Ia tidak tega melihat wajah Yuna yang sudah pucat dan lemah.

 

“Mau ke mana, Ting?” tanya si Bos saat si Keriting bergegas keluar dari tempat tersebut.

 

“Nyari kopi, Bos. Bos mau?”

 

“Boleh, boleh.”

 

Si Keriting mengangguk. Ia tersenyum ke arah Yuna dan berlalu keluar dari tempat tersebut. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawakan kopi panas untuk bosnya. Juga membawa air hangat untuk Yuna.

 

Yuna merasa beruntung karena orang yang menculik dirinya adalah orang baik dan mau menolong dirinya. Walau ada banyak hal yang mungkin saja berlawanan dengan pria-pria itu, salah satunya adalah himpitan ekonomi.

 

“Mas, ini di mana?” tanya Yuna lirih saat si Keriting memberinya minum air hangat.

 

“Di bekas pabrik karet, Mbak.”

 

“Daerah mana?”

 

Si Keriting menoleh ke arah dua temannya yang duduk tak jauh darinya. “Aku juga nggak tahu, Mbak.”

 

“Bukannya kamu bilang, udah pernah survey ke tempat ini?”

 

Si Keriting menganggukkan kepala. “Iya. Tapi, ke sini selalu sama bos. Dia yang tahu nama daerah di sini. Aku lupa.”

 

Yuna tersenyum kecil. “Ada berapa banyak pabrik karet di kota ini? Ini masih di Surabaya ‘kan?”

 

Si Keriting terdiam. “Aku ...” Ia menghentikan ucapannya saat mendengar suara sepatu high heels dan langkah yang teratur masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia langsung bangkit dari lantai, buru-buru menarik jaket yang menutupi tubuh Yuna dan berjalan menghampiri dua temannya. Ia tidak ingin menimbulkan masalah karena ketahuan bersikap baik pada orang yang mereka sandera.

 

Refi melangkahkan kakinya mendekati Yuna yang masih terikat di lantai. “Hai ...!” sapanya sambil tersenyum manis.

 

Yuna langsung menengadahkan kepalanya, menatap Refi yang berdiri di hadapannya.

 

Refi tersenyum puas melihat wajah Yuna yang ada di bawahnya. “Yun, akhirnya aku bisa membalaskan dendamku sama kamu. Selama ini, kamu selalu berlindung di balik kekuatan suami kamu dan orang-orangnya. Sekarang, suami kamu itu bahkan nggak punya kekuatan buat nolong kamu.”

 

“Suamiku bukan nggak punya kekuatan. Tapi, dia masih punya perasaan dan kasihan sama kamu. Lagian, dengan begini ... aku jadi tahu kalau cinta Yeriko ke aku sangat besar. Dia mau ngelakuin apa pun buat aku, bahkan memberikan nyawanya sendiri.”

 

Refi langsung menatap wajah Yuna dengan mata berapi-api. Ia masih tidak bisa menerima kenyataan kalau Yeriko lebih mencintai Yuna. Wanita yang dikenalnya tak lebih dari setahun. “Yeriko cuma suka sementara aja sama kamu. Kalau kamu nggak godain dia terus. Dia nggak mungkin tergila-gila sama perempuan kayak kamu!” seru Refi.

 

Yuna tertawa kecil. “Ref, kamu sudah tahu kenyataannya seperti apa. Yeriko sudah menolak kamu secara terang-terangan. Yeriko cinta sama aku tanpa aku godain. Aku nggak perlu jadi wanita penggoda seperti kamu untuk dapetin cintanya Yeriko.”

 

Refi mengerutkan wajahnya. Tangannya langsung mencekik leher Yuna. “Kamu nggak akan bisa dapetin cinta Yeriko lagi! Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup bahagia. Kamu adalah orang yang paling aku benci di dunia ini! Karena kamu, aku kehilangan semuanya!” ucapnya sambil mengeratkan cekikannya.

 

Yuna menahan napas saat Refi mencekik lehernya. Ia hanya menatap mata Refi yang penuh dengan kebencian. Ia tidak ingin Refi terus-menerus hidup seperti ini. Dia bisa mendapatkan banyak kebahagiaan di luar sana jika mau berlapang dada menerima kenyataan kalau dirinya memang tidak berjodoh dengan Yeriko.

 

Refi melonggarkan tangannya, ia melepas cekikannya saat Yuna mulai kesulitan bernapas. Tangannya bergetar, ia tidak ingin merenggut nyawa orang lain dengan tangannya sendiri. Ia ingin melihat Yuna menderita, bukan ingin membunuhnya.

 

“Uhuk ... uhuk ...!” Yuna merasakan sakit di lehernya. Namun, ia tak bisa membalas apa yang dilakukan Refi karena tubuhnya terikat.

 

PLAK ...!

 

“Karena kamu, aku nggak bisa kembali sama Yeriko lagi!” seru Refi sambil menampar pipi Yuna yang sudah bengkak karena tamparan sebelumnya.

 

“Kamu yang udah buang Yeriko. Bukan aku yang merebut dia,” sahut Yuna lirih. Ia berusaha untuk tetap kuat menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.

 

PLAK ...!

 

“Kamu yang udah bikin Yeriko benci sama aku!” seru Refi. Ia terus menampar wajah Yuna bekali-kali. Jiwanya diselimuti dengan emosi yang tak bisa lagi dikendalikan.

 

Yuna berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata di hadapan Refi. Ia tidak ingin menyerah begitu saja. Sekalipun ia harus mati, ia ingin mati dalam keadaan terhormat. Bukan dalam keadaan berlutut di depan wanita seperti Refi.

 

Refi menghentikan tamparannya saat melihat darah segar keluar dari sela-sela bibir Yuna. Dadanya naik turun lebih cepat seiring dengan napasnya yang tersengal. “Kenapa kamu ambil semuanya dari aku!?” seru Refi sambil meneteskan air mata.

 

Yuna masih tersenyum menanggapi pertanyaan Refi. “Aku nggak ambil apa pun dari kamu. Kamu yang melepaskan dia sampai dia jatuh ke pelukanku.”

 

“Kenapa kamu masih senyum di saat kayak gini? Kamu nggak ngerasain sakit? Kamu nggak takut aku bunuh kamu, hah!?” tanya Refi sambil menangis.

 

“Cinta Yeriko ke aku, nggak akan berkurang sedikit pun walau aku mati,” jawab Yuna sambil tersenyum. “Aku bahagia, Ref. Aku bahagia karena aku akhirnya tahu siapa kamu sebenarnya. Aku bahagia karena bisa membuat Yeriko jatuh cinta sama aku dan melupakan wanita jahat seperti kamu. Aku nggak akan pernah menyesal sekalipun kamu bunuh aku karena aku sudah berhasil menyelamatkan Yeriko dari wanita seperti kamu.”

 

Refi tersenyum sambil mengusap air matanya. “Aku udah bilang, aku akan ngelakuin apa pun untuk mendapatkan Yeriko. Kalau kamu nggak mau menyerahkan dia secara baik-baik, aku terpaksa melakukannya dengan cara kasar.”

 

“Aku nggak akan menyerahkan Yeriko sama perempuan kayak kamu.”

 

“Yun, kamu udah sekarat gini. Masih nggak mau nyerah juga?”

 

“Aku nggak akan nyerah sampai aku mati,” jawab Yuna lirih.

 

Refi mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia menyalakan kamera video dan mengarahkannya ke tubuh Yuna. “Yer, kalau kamu mau istri kamu selamat. Temui aku di Sheraton Hotel malam ini!” ucap Refi sambil merekam wajah Yuna yang sudah membengkak dan mulutnya mengeluarkan darah.

 

“Ref, kenapa kamu suka banget tempat yang bau lem dan bau karet kayak  gini?” tanya Yuna lirih. “Bukannya ada tempat lain yang lebih bagus untuk bersenang-senang?” tanyanya lirih sambil menatap mata kamera ponsel Refi.

 

Refi tersenyum. Ia menghentikan rekamannya dan mengirimkan kepada Yeriko. Ia menatap Yuna yang tak berdaya. “Tempat ini lebih cocok buat kamu.” Ia menendang kaki Yuna dan berbalik pergi.

 

“Kalian jaga wanita ini baik-baik, jangan sampai lepas!” perintah Refi.

 

“Siap, Bos!”

 

Refi langsung bergegas melangkah pergi. Ia tersenyum puas melihat kondisi Yuna yang menderita. Ia juga sangat bahagia karena akan bertemu dengan Yeriko. Malam ini, ia akan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mendapatkan Yeriko.

 

((Bersambung ...))

Be Carefull ...! Tahan napas bacanya. I’m sorry ...! Yang nggak tahan konflik berat menepi dulu.

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 463 : Kepedihan Tuan Ye

 


“Yan, kamu bisa lacak keberadaan Refi dari nomor hape dia?” tanya Yeriko usai panggilan teleponnya dimatikan oleh Refi.

 

“Anak-anak IT kayaknya bisa, Pak Bos.”

 

“Hubungi mereka untuk lacak keberadaan Refi!”

 

“Siap, Pak Bos!” Riyan menganggukkan kepala. Ia segera menelepon karyawan Departemen IT untuk melakukan pelacakan terhadap nomor ponsel Refi.

 

“Sat, Yuna beneran ada di tangan Refi. Kita cek beberapa CCTV, siapa tahu ada rekaman perjalanan dia dan bisa ngelacak dia ada di mana sekarang,” tutur Lutfi.

 

Satria menganggukkan kepala. Ia dan Lutfi sibuk meneliti CCTV. Riyan sibuk memantau perkembangan informasi dari tim IT perusahaan. Jheni dan Icha sibuk mencari informasi update dari internet.

 

“Aargh ...! Refi brengsek!” seru Yeriko sambil menarik rambutnya sendiri. Ia uring-uringan di dalam ruangan tersebut.

 

“Gimana keadaan istri dan anakku sekarang?” Yeriko menempelkan dahinya di kaca jendela. Ia tidak bisa menahan kesedihannya saat mendengar teriakan Yuna, tapi ia tidak bisa menolong istrinya sendiri. Ia merasa benar-benar tak berguna karena tidak bisa melindungi istri dan anaknya dengan baik.

 

Semua orang dalam ruangan itu langsung menoleh ke arah Yeriko. Mereka sudah mencari Yuna selama dua puluh empat jam, tapi belum juga mendapatkan hasil. Mereka semua tahu bagaimana Yeriko melindungi Yuna selama ini.

 

“Lut, manager Refi gimana? Siapa itu namanya?” tanya Chandra.

 

“Deny?”

 

Chandra menganggukkan kepala. “Dia di mana? Nggak sama Refi?”

 

“Kata Ajeng, dia lagi di Jakarta.”

 

“Dia nggak terlibat sama masalah Refi kali ini?”

 

Lutfi menggelengkan kepala. “Nggak tahu. Kemungkinan, Deny nggak terlibat.”

 

“Apa kita nggak bisa gunain dia untuk mencari Refi?” tanya Jheni.

 

“Bisa juga, Jhen.” Lutfi langsung meraih ponselnya. Ia langsung menempelkan ponsel di telinganya. “Jeng, kamu tahu di mana si Deny?”

 

“Kemarin dia ke Jakarta, mau berobat katanya.”

 

“Dia sakit?” tanya Lutfi.

 

“Katanya sih gitu.”

 

“Sakit apa?”

 

“Aku kurang tahu.”

 

“Bisa pantau dia terus? Kalau bisa, bawa dia ke hadapanku secepatnya!” perintah Lutfi.

 

“Oke, Bos!”

 

Lutfi langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

“Kenapa si Deny?”

 

“Katanya lagi berobat ke Jakarta.”

 

“Dia sakit? Apa dia memang nggak terlibat masalah ini?” tanya Chandra. Ia menoleh ke arah Icha dan Jheni yang sudah terkantuk-kantuk karena tidak tidur semalaman.

 

“Jhen, kalian istirahat dulu!” perintah Chandra sambil menghampiri Jheni.

 

Jheni menggelengkan kepala. “Mana bisa istirahat kalau Yuna aja belum ada kabarnya gimana.”

 

“Kalian udah bekerja keras nyari istriku selama dua puluh empat jam. Istirahat dulu!” pinta Yeriko.

 

Semua orang saling pandang. Tak ada satu pun yang ingin beranjak dari tempat tersebut.

 

“Gantian istirahatnya!” perintah Satria. “Jangan sampai kita kelelahan dan nggak bisa nolongin Kakak Ipar Kecil.”

 

Lutfi menoleh ke arah jheni dan Icha yang sedang duduk di sofa. “Duo Srikandi, kalian tidur duluan!” perintahnya.

 

“Aku nggak ngantuk,” sahut Icha.

 

Lutfi menghela napas. “Mata kamu udah bengkak kayak gitu. Tidur ya! Minta dikelonin dulu?”

 

Icha memonyongkan bibirnya. “Lagi kayak gini, sempat-sempat masih bercanda.”

 

“Biar nggak tegang,” sahut Lutfi sambil tertawa kecil. “Kamu harus siapin banyak tenaga untuk Kakak Ipar. Kalau kamu kecapekan dan sakit, nanti Kakak Ipar sedih. Serius!”

 

Yeriko menatap Jheni dan Icha. “Cha, Jhen ... kalian istirahat dulu!” pintanya lirih.

 

Jheni dan Icha saling pandang. Mereka tidak tega melihat keadaan Yeriko yang sangat berantakan. Rambutnya acak-acakan, matanya merah dan kemejanya tak serapi biasanya.

 

“Yer, kamu juga istirahat. Yuna bisa ketakutan kalo lihat penampilan kamu kayak gini.”

 

Yeriko menganggukkan kepala, ia memaksa bibirnya untuk tersenyum. Walau pikirannya saat ini benar-benar kalut karena Refi tega melukai istrinya.

 

Jheni dan Icha bangkit dari sofa.

 

“Kami istirahat di kamar bawah. Kalau ada kabar keberadaan Yuna, langsung kasih tahu kami!” pinta Jheni.

 

Semua orang menganggukkan kepala. Mereka masih terus bekerja keras untuk mencari keberadaan Yuna.

 

“Yer, kamu punya mantan pacar ngeri banget. Kenapa dia sampe gila kayak gini?” tanya Satria.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku udah nolak dia terus, Sat. Nggak ada ngasih harapan sedikit pun. Bahkan, aku dan istriku sudah berusaha membuat dia sadar supaya pergi dengan sendirinya. Dia malah makin gila.”

 

“Aku curiga, dia itu menderita delusi kayak Bu Ratna,” tutur Lutfi.

 

“Kalau sampai istriku kenapa-kenapa, aku nggak akan ngelepasin dia gitu aja,” tutur Yeriko. Ia benar-benar menyesal telah membiarkan wanita seperti Refi pernah masuk ke dalam kehidupannya.

 

“Apa yang dimau sama dia?” tanya Chandra.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Dia belum ngomong sampai sekarang. Dia cuma minta aku nurutin kemauan dia. Ditelepon nggak diangkat-angkat lagi. Dia mempermainkan kita semua.”

 

“Coba kalo bunuh orang nggak dosa, udah kubunuh beneran itu si Reptil!” sahut Lutfi kesal.

 

“Bunuh aja, Lut!” perintah Satria. “Pake aja senjataku!”

 

“Bunuh kepalamu!” sahut Lutfi. “Kamu kira aku penjahat?”

 

“Prajurit sama penjahat itu beda tipis. Sama-sama bisa bunuh orang.”

 

“Kamu yang prajurit. Kamu yang bunuh Reptil itu! Reptil sekarang udah jadi penjahat. Dimatiin nggak papa ‘kan? Daripada gila sama jahatnya nular ke mana-mana.”

 

“Boleh juga. Tapi, janganlah! Negara kita negara hukum. Nggak boleh main hakim sendiri!”

 

“Ah, males kalo ngomong sama kamu. Endingnya tetap aja belain negara,” sahut Lutfi kesal.

 

“Prajurit tugasnya bela negara,” tutur Satria santai sambil mengamati pergerakan rekaman CCTV dari layar laptopnya.

 

“Iya, tahu. Kalo Bela Saphira, itu artis, bukan prajurit!” sahut Lutfi sambil menoyor kepala Satria.

 

Satria terkekeh geli. “Bella Saphira istrinya prajurit loh. Suaminya seniorku, Bro ... Panglima TNI.”

 

“Eh, iya juga ya? Kok, kebetulan pas?” sahut Lutfi. Ia dan Satria asyik berbincang, namun matanya terus menyelidiki setiap pergerakan kendaraan yang ada di dalam rekaman CCTV tersebut.

 

“Yer, ada informasi kalau Refi masuk ke Sheraton!” tutur Chandra sambil menatap layar ponselnya. “Buka Grup!”

 

Yeriko langsung meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia membaca pesan yang masuk di grup dan melangkah pergi.

 

“Mau ke mana?” tanya Chandra menahan Yeriko.

 

“Aku mau bikin perhitungan sama Refi!” sahut Yeriko. Wajah dan matanya menyiratkan kebencian yang mendalam.

 

“Jangan gegabah, Yer!” pinta Chandra sambil menahan dada Yeriko agar tidak keluar dari ruangan tersebut. “Pikirin Yuna!”

 

Yeriko terdiam. Ia menarik napas dalam-dalam. Pikirannya semakin tak karuan karena hingga sekarang tak bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan istrinya. “Aku harus gimana!?” serunya kesal.

 

“Kamu percayakan semuanya sama kami!” pinta Chandra. “Jangan sampai kamu bertindak gegabah dan mencelakai istri kamu sendiri. Ingat, Yer ... Yuna ada di tangan Refi dan kita nggak pernah tahu apa yang akan dilakukan dia. Harus tetap tenang supaya bisa menyelamatkan Yuna.”

 

“Chan, ini udah lebih dari dua puluh empat jam. Kamu dengar sendiri teriakan Yuna waktu aku nelpon Refi. GIMANA AKU BISA TENANG!?”

 

Chandra menghela napas. “Aku ngerti perasaan kamu, Yer. Tapi kamu juga harus sadar. Mengerjakan sesuatu dengan gagabah, nggak akan membuahkan hasil yang baik. Jangan sampai, Refi melukai Yuna lagi! Kamu tenangkan diri kamu dulu supaya bisa berpikir jernih!”

 

Yeriko menatap wajah Chandra selama beberapa detik. Kemudian, ia menganggukkan kepala dan kembali duduk di sofa. Ia terus memikirkan cara menyelamatkan Yuna. Sebab, sudah terlalu lama ia menghabiskan waktu untuk perasaannya sendiri hingga tidak bisa menemukan jalan yang tepat untuk berpikir jernih.

 

“Aargh ...!” Yeriko kesal dengan dirinya sendiri. “Aku buntu banget!” tuturnya sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.

 

“Tenang, Yer! Kita pasti nemuin Yuna dalam keadaan baik-baik aja,” tutur Chandra.

 

Yeriko menatap sahabatnya satu per satu. Ia percaya, semua telah melakukan banyak hal untuk menemukan Yuna. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah seharusnya, ia mempercayakan semua pada sahabat-sahabat baiknya.

 

“Aku mandi dulu!” Yeriko bangkit dari tempat duduk dan bergegas keluar dari ruang kerjanya. Ia masuk ke kamar dan langsung membersihkan tubuhnya di kamar mandi.

 

Yeriko menyalakan shower, menyirami tubuhnya dengan air dingin. Air matanya menetes, berbaur dengan air yang keluar dari shower di atas kepalanya. Ia melihat bayangan Yuna yang selalu tertawa ceria saat menyikat giginya, saat membersihkan wajahnya, saat berendam bersama di dalam bathtub sambil bercerita banyak hal.

 

“Yun, kamu wanita yang baik dan cerdas. Tuhan pasti melindungi kamu dan anak kita. Kamu tunggu aku! Aku akan berusaha menyelamatkan kamu,” batin Yeriko sambil menengadahkan kepalanya. Ia berharap, setelah ini bisa menemukan petunjuk yang membawanya menemui istri tercintanya.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Aku tegang, no coment!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 462 : Psikopat Ganas

 


Refi tersenyum puas saat melihat panggilan telepon berkali-kali dari Yeriko. Ia sengaja tidak menjawabnya terlebih dahulu demi menikmati kesenangannya kali ini. Ia sangat bahagia karena bisa melihat Yuna menderita dan akan membuat Yeriko bertekuk lutut di hadapannya.

 

“Yun, kamu tahu udah berapa banyak Yeriko nelepon aku?” tanya Refi sambil menatap wajah Yuna yang ada di hadapannya. Ia menyodorkan layar ponsel ke wajah Yuna.

 

Yuna bisa melihat jelas panggilan masuk dari nomor telepon Yeriko yang sudah ia hafal. Di ponsel Refi, terlihat jelas kalau nama kontak disimpan dengan nama yang membuat Yuna kesal. Terlebih, Refi memasang foto kebersamaannya dengan Yeriko tiga tahun silam.

 

Refi tersenyum ke arah Yuna. “Sebentar lagi, Yeriko bakal jadi milikku.”

 

Yuna tersenyum sinis. “Kamu ngimpi jangan kelamaan!” sahutnya. “Bangun, Ref! Ntar keterusan ke Surga.”

 

Refi tersenyum sinis. “Aku yang akan mengirim kamu ke Surga duluan!”

 

Yuna malah tertawa mendengar ucapan Refi.

 

Refi mengerutkan dahi. “Kamu nggak takut mati?”

 

“Ref, kamu itu lebih tua dari aku. Tapi pikiran kamu itu kayak bocah. Bahkan, kamu nggak bisa bedain mana cinta dan mana obsesi,” tutur Yuna. Wajahnya terlihat sangat tenang saat berhadapan dengan Refi.

 

“Kamu nggak usah sok-sokan ngomong soal cinta di depanku!” sahut Refi. “Kalau kamu cinta sama Yeriko, apa kamu rela dia hidup sama perempuan lain, hah!?”

 

Yuna tertawa kecil mendengar pertanyaan Refi. “Ref, aku tulus mencintai dia. Kalau ada wanita lain yang bisa mencintai dan membahagiakan Yeriko dengan tulus melebihi apa yang sudah aku lakukan, aku akan menyerahkan dia dengan hati yang bahagia juga. Buatku, kebahagiaan Yeriko lebih penting dari semua keinginan-keinginanku di dunia ini.”

 

Refi terdiam. Ia terpaku menatap wajah Yuna. Matanya menerawang ke masa tiga tahun silam. Saat ia dan Yeriko masih bersama. Yeriko selalu menjadi pelindung untuk dirinya. Kini, Yeriko terus menghindari dirinya dan hal ini berhasil membakar perasaan Refi.

 

“Aku tetap benci sama kamu!” tegas Refi. Ia menolak hatinya yang bergejolak. Ia tidak ingin melukai perasaan Yeriko lagi. Tapi ia juga tidak ingin melukai dirinya sendiri.

 

“Aku nggak mau kamu terus-menerus berada dalam kehidupan Yeriko,” tutur Refi. “Sebelum kamu muncul, hubunganku dan Yeriko baik-baik aja. Jalan satu-satunya untuk bisa mendapatkan Yeriko kembali adalah memusnahkan kamu dari kehidupan Yeriko.”

 

Yuna hanya menatap wajah Refi. “Sekalipun kamu bunuh aku. Yeriko nggak akan pernah mencintai kamu lagi seumur hidupnya.”

 

“Bohong!” sahut Refi. “Aku nggak akan percaya sama kamu gitu aja. Aku tahu, kamu sengaja bikin aku ragu sama semua yang sudah aku lakuin.”

 

Yuna tersenyum sinis. “Bukan aku yang bikin kamu ragu. Tapi diri kamu sendiri.”

 

“Kamu nyoba buat pengaruhi aku ‘kan?” tanya Refi.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak ngelakuin apa pun. Kamu aja yang baperan.”

 

“Kamu!?” Refi menatap geram ke arah Yuna. “Kamu beneran nggak takut mati? Udah kayak gini, masih aja berani ngelawan aku!”

 

Yuna tersenyum sinis. “Aku mana bisa ngelawan kamu dalam keadaan terikat kayak gini. Aku cuma kasihan aja sama kamu. Kamu makin gila karena terobsesi sama suami orang. Jelas-jelas Yeriko nggak mau sama kamu. Kenapa kamu masih aja ngejar-ngejar dia? Yang kamu lakuin ini bukan cinta, Ref. Yeriko akan semakin membenci kelakuan kamu yang busuk ini.”

 

PLAK ...!

 

Refi langsung menampar Yuna. “Nggak usah banyak omong!” sentaknya. “Aku punya cara sendiri buat dapetin Yeriko.”

 

Yuna tersenyum sinis menatap Refi. “Cara kamu salah, Ref. Kalau kamu emang cinta sama Yeriko. Seharusnya bisa lihat dia bahagia. Bukan malah ngelakuin hal-hal gila dan nggak masuk akal kayak gini.”

 

“Aku udah nggak peduli. Sekalipun aku udah nggak bisa dapetin Yeriko dan bikin dia cinta sama aku, aku mau dia berlutut di depanku! Hahaha.”

 

Yuna menatap wajah Refi. Ia merasa iba dengan apa yang telah dilakukan Refi hari ini. Ia harap, suaminya tak akan pernah berlutut di depan wanita seperti Refi.

 

Refi tersenyum puas saat ponselnya kembali berdering. “Kita lihat, apa yang bakal dilakuin Yeriko saat dia tahu kalau kamu ada di tanganku!”

 

Yuna terdiam. Ia hanya mengamati apa yang akan dilakukan oleh Refi setelah ini. Ia merasa, Refi sudah mencoba untuk membunuh dirinya sendiri. Ia sangat mengetahui bagaimana sifat suaminya, tidak mungkin mencintai wanita gila seperti Refi.

 

Refi tersenyum. Ia menjawab panggilan telepon dari Yeriko dan menempelkan ponsel ke telinganya. “Halo, Yer! Apa kabar?” sapanya sambil tersenyum manis.

 

“Di mana Yuna?” tanya Yeriko dari seberang telepon.

 

Refi tertawa kecil. “Bukannya kamu suaminya? Kenapa tanyain Yuna ke aku?”

 

“Aku tahu, kamu sudah bawa Yuna pergi.”

 

Refi tertawa kecil. “Emang iya. Aku lagi ajak istri kamu ini bersenang-senang.”

 

“Mana Yuna?” tanya Yeriko.

 

“Kamu tenang aja! Yuna baik-baik aja. Aku bakal balikin dia, kalau kamu mau menuruti semua keinginanku!” pinta Refi.

 

Yeriko tak menjawab permintaan Refi.

 

“Nyawa istri kamu ada di tanganku. Kalau kamu nggak mau ikuti keinginanku, aku nggak bisa jamin kalau dia pulang dalam keadaan baik.”

 

“Bangsat kamu, Ref!” sentak Yeriko.

 

“Hati-hati kalau ngomong! Dulu, kamu pernah sayang sama aku. Aku mau kembali seperti dulu lagi. Tanpa ada orang lain lagi di antara kita.”

 

“Kalau sampe terjadi apa-apa sama istri dan anakku, aku nggak akan ngelepasin kamu!” tegas Yeriko tanpa menghiraukan ucapan Refi.

 

“Semua akan baik-baik aja kalau kamu mau nuruti keinginanku,” sahut Refi.

 

“Jangan turuti dia!” seru Yuna.

 

PLAAK ...!

 

“Diam, kamu!” sahut Refi sambil menampar pipi Yuna.

 

“Yuna ...!” teriak Yeriko begitu mendengar suara Yuna benar-benar bersama Refi. “Ref, kamu apain istriku!?”

 

“Aku lagi ajak dia bersenang-senang,” jawab Refi sambil menekan kaki Yuna menggunakan high heels yang tersemat di kakinya.

 

“Aargh ...!” teriak Yuna menahan rasa sakit di pergelangan kaki karena gilasan sepatu Refi.

 

“Refi, lepasin istriku!” teriak Yeriko. “Aku bakal laporin kamu ke polisi.”

 

“Laporin aja!” sahut Refi sambil tersenyum. “Kalau sampai polisi nyari aku, aku akan kirim istri dan anak kamu ke surga. Selamanya, kamu nggak akan pernah lihat mereka lagi.”

 

“Sialan, kamu!”

 

“Yer, apa kamu nggak bisa bersikap baik dan nuruti keinginanku?” tanya Refi. “Setiap makian yang keluar dari mulut kamu buat aku, itu siksaan buat Yuna.” Refi kembali menginjak kaki Yuna.

 

“Aargh ...!” teriak Yuna lagi.

 

“Ref, jangan sakiti istriku!” pinta Yeriko.

 

Refi tertawa kecil. “Kalo gitu, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan ‘kan?”

 

Yeriko terdengar menghela napas panjang. “Oke. Aku akan turuti keinginan kamu. Asal, jangan sakiti Yuna!”

 

Refi tersenyum puas sambil menatap Yuna yang duduk di hadapannya.

 

“Ay, jangan turuti dia!” pinta Yuna. “Aku baik-baik aja.”

 

“Aargh ...!” teriak Yuna saat Refi kembali menginjak kakinya yang berselonjor di lantai.

 

“Ref, jangan lukai Yuna!” teriak Yeriko dari ujung telepon.

 

“Semua tergantung kamu. Mau nuruti keinginanku atau nggak,” sahut Refi sambil tersenyum menatap Yuna.

 

“Ay, jangan turuti kemauan gila dia!” seru Yuna.

 

PLAK ...!

 

Refi kembali menampar pipi Yuna. “Kamu beneran nggak takut mati, hah!?”

 

“Sekalipun aku mati, Yeriko akan tetap cinta sama aku. Kamu nggak akan pernah bisa dapetin cintanya dia!” tegas Yuna.

 

Refi langsung menatap Yuna penuh kebencian. Ia mematikan panggilan telepon dari Yeriko terlebih dahulu. “Dia udah setuju untuk mengikuti kemauanku. Kamu siap-siap ngerasain rasa sakit yang sudah aku rasain.”

 

Yuna tersenyum sinis sambil menatap Refi. Ia merasa sangat bahagia saat mengetahui kalau Yeriko rela melakukan hal apa pun untuknya. Hanya saja, ia yang tidak akan pernah rela melihat suaminya berlutut di hadapan wanita seperti Refi.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. “Jangan lakuin itu! Aku tahu, kamu pasti khawatir sama keadaanku. Aku juga khawatir sama keadaan kamu sekarang,” ucap Yuna dalam hati. Ia ingin, kata hatinya saat ini bisa tersampaikan pada Yeriko.

 

Refi tersenyum puas. Ia ingin mendapatkan Yeriko kembali dengan caranya. Ia tak lagi peduli dengan keadaan Yuna. Ia sengaja mengulur waktu, menikmati kepuasan dalam hatinya saat melihat Yuna menderita.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Aku tegang, no coment!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas