Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 462 : Psikopat Ganas

 


Refi tersenyum puas saat melihat panggilan telepon berkali-kali dari Yeriko. Ia sengaja tidak menjawabnya terlebih dahulu demi menikmati kesenangannya kali ini. Ia sangat bahagia karena bisa melihat Yuna menderita dan akan membuat Yeriko bertekuk lutut di hadapannya.

 

“Yun, kamu tahu udah berapa banyak Yeriko nelepon aku?” tanya Refi sambil menatap wajah Yuna yang ada di hadapannya. Ia menyodorkan layar ponsel ke wajah Yuna.

 

Yuna bisa melihat jelas panggilan masuk dari nomor telepon Yeriko yang sudah ia hafal. Di ponsel Refi, terlihat jelas kalau nama kontak disimpan dengan nama yang membuat Yuna kesal. Terlebih, Refi memasang foto kebersamaannya dengan Yeriko tiga tahun silam.

 

Refi tersenyum ke arah Yuna. “Sebentar lagi, Yeriko bakal jadi milikku.”

 

Yuna tersenyum sinis. “Kamu ngimpi jangan kelamaan!” sahutnya. “Bangun, Ref! Ntar keterusan ke Surga.”

 

Refi tersenyum sinis. “Aku yang akan mengirim kamu ke Surga duluan!”

 

Yuna malah tertawa mendengar ucapan Refi.

 

Refi mengerutkan dahi. “Kamu nggak takut mati?”

 

“Ref, kamu itu lebih tua dari aku. Tapi pikiran kamu itu kayak bocah. Bahkan, kamu nggak bisa bedain mana cinta dan mana obsesi,” tutur Yuna. Wajahnya terlihat sangat tenang saat berhadapan dengan Refi.

 

“Kamu nggak usah sok-sokan ngomong soal cinta di depanku!” sahut Refi. “Kalau kamu cinta sama Yeriko, apa kamu rela dia hidup sama perempuan lain, hah!?”

 

Yuna tertawa kecil mendengar pertanyaan Refi. “Ref, aku tulus mencintai dia. Kalau ada wanita lain yang bisa mencintai dan membahagiakan Yeriko dengan tulus melebihi apa yang sudah aku lakukan, aku akan menyerahkan dia dengan hati yang bahagia juga. Buatku, kebahagiaan Yeriko lebih penting dari semua keinginan-keinginanku di dunia ini.”

 

Refi terdiam. Ia terpaku menatap wajah Yuna. Matanya menerawang ke masa tiga tahun silam. Saat ia dan Yeriko masih bersama. Yeriko selalu menjadi pelindung untuk dirinya. Kini, Yeriko terus menghindari dirinya dan hal ini berhasil membakar perasaan Refi.

 

“Aku tetap benci sama kamu!” tegas Refi. Ia menolak hatinya yang bergejolak. Ia tidak ingin melukai perasaan Yeriko lagi. Tapi ia juga tidak ingin melukai dirinya sendiri.

 

“Aku nggak mau kamu terus-menerus berada dalam kehidupan Yeriko,” tutur Refi. “Sebelum kamu muncul, hubunganku dan Yeriko baik-baik aja. Jalan satu-satunya untuk bisa mendapatkan Yeriko kembali adalah memusnahkan kamu dari kehidupan Yeriko.”

 

Yuna hanya menatap wajah Refi. “Sekalipun kamu bunuh aku. Yeriko nggak akan pernah mencintai kamu lagi seumur hidupnya.”

 

“Bohong!” sahut Refi. “Aku nggak akan percaya sama kamu gitu aja. Aku tahu, kamu sengaja bikin aku ragu sama semua yang sudah aku lakuin.”

 

Yuna tersenyum sinis. “Bukan aku yang bikin kamu ragu. Tapi diri kamu sendiri.”

 

“Kamu nyoba buat pengaruhi aku ‘kan?” tanya Refi.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak ngelakuin apa pun. Kamu aja yang baperan.”

 

“Kamu!?” Refi menatap geram ke arah Yuna. “Kamu beneran nggak takut mati? Udah kayak gini, masih aja berani ngelawan aku!”

 

Yuna tersenyum sinis. “Aku mana bisa ngelawan kamu dalam keadaan terikat kayak gini. Aku cuma kasihan aja sama kamu. Kamu makin gila karena terobsesi sama suami orang. Jelas-jelas Yeriko nggak mau sama kamu. Kenapa kamu masih aja ngejar-ngejar dia? Yang kamu lakuin ini bukan cinta, Ref. Yeriko akan semakin membenci kelakuan kamu yang busuk ini.”

 

PLAK ...!

 

Refi langsung menampar Yuna. “Nggak usah banyak omong!” sentaknya. “Aku punya cara sendiri buat dapetin Yeriko.”

 

Yuna tersenyum sinis menatap Refi. “Cara kamu salah, Ref. Kalau kamu emang cinta sama Yeriko. Seharusnya bisa lihat dia bahagia. Bukan malah ngelakuin hal-hal gila dan nggak masuk akal kayak gini.”

 

“Aku udah nggak peduli. Sekalipun aku udah nggak bisa dapetin Yeriko dan bikin dia cinta sama aku, aku mau dia berlutut di depanku! Hahaha.”

 

Yuna menatap wajah Refi. Ia merasa iba dengan apa yang telah dilakukan Refi hari ini. Ia harap, suaminya tak akan pernah berlutut di depan wanita seperti Refi.

 

Refi tersenyum puas saat ponselnya kembali berdering. “Kita lihat, apa yang bakal dilakuin Yeriko saat dia tahu kalau kamu ada di tanganku!”

 

Yuna terdiam. Ia hanya mengamati apa yang akan dilakukan oleh Refi setelah ini. Ia merasa, Refi sudah mencoba untuk membunuh dirinya sendiri. Ia sangat mengetahui bagaimana sifat suaminya, tidak mungkin mencintai wanita gila seperti Refi.

 

Refi tersenyum. Ia menjawab panggilan telepon dari Yeriko dan menempelkan ponsel ke telinganya. “Halo, Yer! Apa kabar?” sapanya sambil tersenyum manis.

 

“Di mana Yuna?” tanya Yeriko dari seberang telepon.

 

Refi tertawa kecil. “Bukannya kamu suaminya? Kenapa tanyain Yuna ke aku?”

 

“Aku tahu, kamu sudah bawa Yuna pergi.”

 

Refi tertawa kecil. “Emang iya. Aku lagi ajak istri kamu ini bersenang-senang.”

 

“Mana Yuna?” tanya Yeriko.

 

“Kamu tenang aja! Yuna baik-baik aja. Aku bakal balikin dia, kalau kamu mau menuruti semua keinginanku!” pinta Refi.

 

Yeriko tak menjawab permintaan Refi.

 

“Nyawa istri kamu ada di tanganku. Kalau kamu nggak mau ikuti keinginanku, aku nggak bisa jamin kalau dia pulang dalam keadaan baik.”

 

“Bangsat kamu, Ref!” sentak Yeriko.

 

“Hati-hati kalau ngomong! Dulu, kamu pernah sayang sama aku. Aku mau kembali seperti dulu lagi. Tanpa ada orang lain lagi di antara kita.”

 

“Kalau sampe terjadi apa-apa sama istri dan anakku, aku nggak akan ngelepasin kamu!” tegas Yeriko tanpa menghiraukan ucapan Refi.

 

“Semua akan baik-baik aja kalau kamu mau nuruti keinginanku,” sahut Refi.

 

“Jangan turuti dia!” seru Yuna.

 

PLAAK ...!

 

“Diam, kamu!” sahut Refi sambil menampar pipi Yuna.

 

“Yuna ...!” teriak Yeriko begitu mendengar suara Yuna benar-benar bersama Refi. “Ref, kamu apain istriku!?”

 

“Aku lagi ajak dia bersenang-senang,” jawab Refi sambil menekan kaki Yuna menggunakan high heels yang tersemat di kakinya.

 

“Aargh ...!” teriak Yuna menahan rasa sakit di pergelangan kaki karena gilasan sepatu Refi.

 

“Refi, lepasin istriku!” teriak Yeriko. “Aku bakal laporin kamu ke polisi.”

 

“Laporin aja!” sahut Refi sambil tersenyum. “Kalau sampai polisi nyari aku, aku akan kirim istri dan anak kamu ke surga. Selamanya, kamu nggak akan pernah lihat mereka lagi.”

 

“Sialan, kamu!”

 

“Yer, apa kamu nggak bisa bersikap baik dan nuruti keinginanku?” tanya Refi. “Setiap makian yang keluar dari mulut kamu buat aku, itu siksaan buat Yuna.” Refi kembali menginjak kaki Yuna.

 

“Aargh ...!” teriak Yuna lagi.

 

“Ref, jangan sakiti istriku!” pinta Yeriko.

 

Refi tertawa kecil. “Kalo gitu, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan ‘kan?”

 

Yeriko terdengar menghela napas panjang. “Oke. Aku akan turuti keinginan kamu. Asal, jangan sakiti Yuna!”

 

Refi tersenyum puas sambil menatap Yuna yang duduk di hadapannya.

 

“Ay, jangan turuti dia!” pinta Yuna. “Aku baik-baik aja.”

 

“Aargh ...!” teriak Yuna saat Refi kembali menginjak kakinya yang berselonjor di lantai.

 

“Ref, jangan lukai Yuna!” teriak Yeriko dari ujung telepon.

 

“Semua tergantung kamu. Mau nuruti keinginanku atau nggak,” sahut Refi sambil tersenyum menatap Yuna.

 

“Ay, jangan turuti kemauan gila dia!” seru Yuna.

 

PLAK ...!

 

Refi kembali menampar pipi Yuna. “Kamu beneran nggak takut mati, hah!?”

 

“Sekalipun aku mati, Yeriko akan tetap cinta sama aku. Kamu nggak akan pernah bisa dapetin cintanya dia!” tegas Yuna.

 

Refi langsung menatap Yuna penuh kebencian. Ia mematikan panggilan telepon dari Yeriko terlebih dahulu. “Dia udah setuju untuk mengikuti kemauanku. Kamu siap-siap ngerasain rasa sakit yang sudah aku rasain.”

 

Yuna tersenyum sinis sambil menatap Refi. Ia merasa sangat bahagia saat mengetahui kalau Yeriko rela melakukan hal apa pun untuknya. Hanya saja, ia yang tidak akan pernah rela melihat suaminya berlutut di hadapan wanita seperti Refi.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. “Jangan lakuin itu! Aku tahu, kamu pasti khawatir sama keadaanku. Aku juga khawatir sama keadaan kamu sekarang,” ucap Yuna dalam hati. Ia ingin, kata hatinya saat ini bisa tersampaikan pada Yeriko.

 

Refi tersenyum puas. Ia ingin mendapatkan Yeriko kembali dengan caranya. Ia tak lagi peduli dengan keadaan Yuna. Ia sengaja mengulur waktu, menikmati kepuasan dalam hatinya saat melihat Yuna menderita.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Aku tegang, no coment!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas