Refi
tersenyum puas saat melihat panggilan telepon berkali-kali dari Yeriko. Ia
sengaja tidak menjawabnya terlebih dahulu demi menikmati kesenangannya kali
ini. Ia sangat bahagia karena bisa melihat Yuna menderita dan akan membuat
Yeriko bertekuk lutut di hadapannya.
“Yun,
kamu tahu udah berapa banyak Yeriko nelepon aku?” tanya Refi sambil menatap
wajah Yuna yang ada di hadapannya. Ia menyodorkan layar ponsel ke wajah Yuna.
Yuna
bisa melihat jelas panggilan masuk dari nomor telepon Yeriko yang sudah ia
hafal. Di ponsel Refi, terlihat jelas kalau nama kontak disimpan dengan nama
yang membuat Yuna kesal. Terlebih, Refi memasang foto kebersamaannya dengan
Yeriko tiga tahun silam.
Refi
tersenyum ke arah Yuna. “Sebentar lagi, Yeriko bakal jadi milikku.”
Yuna
tersenyum sinis. “Kamu ngimpi jangan kelamaan!” sahutnya. “Bangun, Ref! Ntar
keterusan ke Surga.”
Refi
tersenyum sinis. “Aku yang akan mengirim kamu ke Surga duluan!”
Yuna
malah tertawa mendengar ucapan Refi.
Refi
mengerutkan dahi. “Kamu nggak takut mati?”
“Ref,
kamu itu lebih tua dari aku. Tapi pikiran kamu itu kayak bocah. Bahkan, kamu
nggak bisa bedain mana cinta dan mana obsesi,” tutur Yuna. Wajahnya terlihat
sangat tenang saat berhadapan dengan Refi.
“Kamu
nggak usah sok-sokan ngomong soal cinta di depanku!” sahut Refi. “Kalau kamu
cinta sama Yeriko, apa kamu rela dia hidup sama perempuan lain, hah!?”
Yuna
tertawa kecil mendengar pertanyaan Refi. “Ref, aku tulus mencintai dia. Kalau
ada wanita lain yang bisa mencintai dan membahagiakan Yeriko dengan tulus
melebihi apa yang sudah aku lakukan, aku akan menyerahkan dia dengan hati yang
bahagia juga. Buatku, kebahagiaan Yeriko lebih penting dari semua
keinginan-keinginanku di dunia ini.”
Refi
terdiam. Ia terpaku menatap wajah Yuna. Matanya menerawang ke masa tiga tahun
silam. Saat ia dan Yeriko masih bersama. Yeriko selalu menjadi pelindung untuk
dirinya. Kini, Yeriko terus menghindari dirinya dan hal ini berhasil membakar
perasaan Refi.
“Aku
tetap benci sama kamu!” tegas Refi. Ia menolak hatinya yang bergejolak. Ia
tidak ingin melukai perasaan Yeriko lagi. Tapi ia juga tidak ingin melukai
dirinya sendiri.
“Aku
nggak mau kamu terus-menerus berada dalam kehidupan Yeriko,” tutur Refi.
“Sebelum kamu muncul, hubunganku dan Yeriko baik-baik aja. Jalan satu-satunya
untuk bisa mendapatkan Yeriko kembali adalah memusnahkan kamu dari kehidupan
Yeriko.”
Yuna
hanya menatap wajah Refi. “Sekalipun kamu bunuh aku. Yeriko nggak akan pernah
mencintai kamu lagi seumur hidupnya.”
“Bohong!”
sahut Refi. “Aku nggak akan percaya sama kamu gitu aja. Aku tahu, kamu sengaja
bikin aku ragu sama semua yang sudah aku lakuin.”
Yuna
tersenyum sinis. “Bukan aku yang bikin kamu ragu. Tapi diri kamu sendiri.”
“Kamu
nyoba buat pengaruhi aku ‘kan?” tanya Refi.
Yuna
menggelengkan kepala. “Aku nggak ngelakuin apa pun. Kamu aja yang baperan.”
“Kamu!?”
Refi menatap geram ke arah Yuna. “Kamu beneran nggak takut mati? Udah kayak
gini, masih aja berani ngelawan aku!”
Yuna
tersenyum sinis. “Aku mana bisa ngelawan kamu dalam keadaan terikat kayak gini.
Aku cuma kasihan aja sama kamu. Kamu makin gila karena terobsesi sama suami
orang. Jelas-jelas Yeriko nggak mau sama kamu. Kenapa kamu masih aja
ngejar-ngejar dia? Yang kamu lakuin ini bukan cinta, Ref. Yeriko akan semakin
membenci kelakuan kamu yang busuk ini.”
PLAK
...!
Refi
langsung menampar Yuna. “Nggak usah banyak omong!” sentaknya. “Aku punya cara
sendiri buat dapetin Yeriko.”
Yuna
tersenyum sinis menatap Refi. “Cara kamu salah, Ref. Kalau kamu emang cinta
sama Yeriko. Seharusnya bisa lihat dia bahagia. Bukan malah ngelakuin hal-hal
gila dan nggak masuk akal kayak gini.”
“Aku
udah nggak peduli. Sekalipun aku udah nggak bisa dapetin Yeriko dan bikin dia
cinta sama aku, aku mau dia berlutut di depanku! Hahaha.”
Yuna
menatap wajah Refi. Ia merasa iba dengan apa yang telah dilakukan Refi hari
ini. Ia harap, suaminya tak akan pernah berlutut di depan wanita seperti Refi.
Refi
tersenyum puas saat ponselnya kembali berdering. “Kita lihat, apa yang bakal
dilakuin Yeriko saat dia tahu kalau kamu ada di tanganku!”
Yuna
terdiam. Ia hanya mengamati apa yang akan dilakukan oleh Refi setelah ini. Ia
merasa, Refi sudah mencoba untuk membunuh dirinya sendiri. Ia sangat mengetahui
bagaimana sifat suaminya, tidak mungkin mencintai wanita gila seperti Refi.
Refi
tersenyum. Ia menjawab panggilan telepon dari Yeriko dan menempelkan ponsel ke
telinganya. “Halo, Yer! Apa kabar?” sapanya sambil tersenyum manis.
“Di
mana Yuna?” tanya Yeriko dari seberang telepon.
Refi
tertawa kecil. “Bukannya kamu suaminya? Kenapa tanyain Yuna ke aku?”
“Aku
tahu, kamu sudah bawa Yuna pergi.”
Refi
tertawa kecil. “Emang iya. Aku lagi ajak istri kamu ini bersenang-senang.”
“Mana
Yuna?” tanya Yeriko.
“Kamu
tenang aja! Yuna baik-baik aja. Aku bakal balikin dia, kalau kamu mau menuruti
semua keinginanku!” pinta Refi.
Yeriko
tak menjawab permintaan Refi.
“Nyawa
istri kamu ada di tanganku. Kalau kamu nggak mau ikuti keinginanku, aku nggak
bisa jamin kalau dia pulang dalam keadaan baik.”
“Bangsat
kamu, Ref!” sentak Yeriko.
“Hati-hati
kalau ngomong! Dulu, kamu pernah sayang sama aku. Aku mau kembali seperti dulu
lagi. Tanpa ada orang lain lagi di antara kita.”
“Kalau
sampe terjadi apa-apa sama istri dan anakku, aku nggak akan ngelepasin kamu!”
tegas Yeriko tanpa menghiraukan ucapan Refi.
“Semua
akan baik-baik aja kalau kamu mau nuruti keinginanku,” sahut Refi.
“Jangan
turuti dia!” seru Yuna.
PLAAK
...!
“Diam,
kamu!” sahut Refi sambil menampar pipi Yuna.
“Yuna
...!” teriak Yeriko begitu mendengar suara Yuna benar-benar bersama Refi. “Ref,
kamu apain istriku!?”
“Aku
lagi ajak dia bersenang-senang,” jawab Refi sambil menekan kaki Yuna
menggunakan high heels yang tersemat di kakinya.
“Aargh
...!” teriak Yuna menahan rasa sakit di pergelangan kaki karena gilasan sepatu
Refi.
“Refi,
lepasin istriku!” teriak Yeriko. “Aku bakal laporin kamu ke polisi.”
“Laporin
aja!” sahut Refi sambil tersenyum. “Kalau sampai polisi nyari aku, aku akan
kirim istri dan anak kamu ke surga. Selamanya, kamu nggak akan pernah lihat
mereka lagi.”
“Sialan,
kamu!”
“Yer,
apa kamu nggak bisa bersikap baik dan nuruti keinginanku?” tanya Refi. “Setiap
makian yang keluar dari mulut kamu buat aku, itu siksaan buat Yuna.” Refi
kembali menginjak kaki Yuna.
“Aargh
...!” teriak Yuna lagi.
“Ref,
jangan sakiti istriku!” pinta Yeriko.
Refi
tertawa kecil. “Kalo gitu, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan ‘kan?”
Yeriko
terdengar menghela napas panjang. “Oke. Aku akan turuti keinginan kamu. Asal,
jangan sakiti Yuna!”
Refi
tersenyum puas sambil menatap Yuna yang duduk di hadapannya.
“Ay,
jangan turuti dia!” pinta Yuna. “Aku baik-baik aja.”
“Aargh
...!” teriak Yuna saat Refi kembali menginjak kakinya yang berselonjor di
lantai.
“Ref,
jangan lukai Yuna!” teriak Yeriko dari ujung telepon.
“Semua
tergantung kamu. Mau nuruti keinginanku atau nggak,” sahut Refi sambil
tersenyum menatap Yuna.
“Ay,
jangan turuti kemauan gila dia!” seru Yuna.
PLAK
...!
Refi
kembali menampar pipi Yuna. “Kamu beneran nggak takut mati, hah!?”
“Sekalipun
aku mati, Yeriko akan tetap cinta sama aku. Kamu nggak akan pernah bisa dapetin
cintanya dia!” tegas Yuna.
Refi
langsung menatap Yuna penuh kebencian. Ia mematikan panggilan telepon dari
Yeriko terlebih dahulu. “Dia udah setuju untuk mengikuti kemauanku. Kamu
siap-siap ngerasain rasa sakit yang sudah aku rasain.”
Yuna
tersenyum sinis sambil menatap Refi. Ia merasa sangat bahagia saat mengetahui
kalau Yeriko rela melakukan hal apa pun untuknya. Hanya saja, ia yang tidak
akan pernah rela melihat suaminya berlutut di hadapan wanita seperti Refi.
Yuna
menarik napas dalam-dalam. “Jangan lakuin itu! Aku tahu, kamu pasti khawatir
sama keadaanku. Aku juga khawatir sama keadaan kamu sekarang,” ucap Yuna dalam
hati. Ia ingin, kata hatinya saat ini bisa tersampaikan pada Yeriko.
Refi
tersenyum puas. Ia ingin mendapatkan Yeriko kembali dengan caranya. Ia tak lagi
peduli dengan keadaan Yuna. Ia sengaja mengulur waktu, menikmati kepuasan dalam
hatinya saat melihat Yuna menderita.
((Bersambung ...))
Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Aku
tegang, no coment!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment