Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 463 : Kepedihan Tuan Ye

 


“Yan, kamu bisa lacak keberadaan Refi dari nomor hape dia?” tanya Yeriko usai panggilan teleponnya dimatikan oleh Refi.

 

“Anak-anak IT kayaknya bisa, Pak Bos.”

 

“Hubungi mereka untuk lacak keberadaan Refi!”

 

“Siap, Pak Bos!” Riyan menganggukkan kepala. Ia segera menelepon karyawan Departemen IT untuk melakukan pelacakan terhadap nomor ponsel Refi.

 

“Sat, Yuna beneran ada di tangan Refi. Kita cek beberapa CCTV, siapa tahu ada rekaman perjalanan dia dan bisa ngelacak dia ada di mana sekarang,” tutur Lutfi.

 

Satria menganggukkan kepala. Ia dan Lutfi sibuk meneliti CCTV. Riyan sibuk memantau perkembangan informasi dari tim IT perusahaan. Jheni dan Icha sibuk mencari informasi update dari internet.

 

“Aargh ...! Refi brengsek!” seru Yeriko sambil menarik rambutnya sendiri. Ia uring-uringan di dalam ruangan tersebut.

 

“Gimana keadaan istri dan anakku sekarang?” Yeriko menempelkan dahinya di kaca jendela. Ia tidak bisa menahan kesedihannya saat mendengar teriakan Yuna, tapi ia tidak bisa menolong istrinya sendiri. Ia merasa benar-benar tak berguna karena tidak bisa melindungi istri dan anaknya dengan baik.

 

Semua orang dalam ruangan itu langsung menoleh ke arah Yeriko. Mereka sudah mencari Yuna selama dua puluh empat jam, tapi belum juga mendapatkan hasil. Mereka semua tahu bagaimana Yeriko melindungi Yuna selama ini.

 

“Lut, manager Refi gimana? Siapa itu namanya?” tanya Chandra.

 

“Deny?”

 

Chandra menganggukkan kepala. “Dia di mana? Nggak sama Refi?”

 

“Kata Ajeng, dia lagi di Jakarta.”

 

“Dia nggak terlibat sama masalah Refi kali ini?”

 

Lutfi menggelengkan kepala. “Nggak tahu. Kemungkinan, Deny nggak terlibat.”

 

“Apa kita nggak bisa gunain dia untuk mencari Refi?” tanya Jheni.

 

“Bisa juga, Jhen.” Lutfi langsung meraih ponselnya. Ia langsung menempelkan ponsel di telinganya. “Jeng, kamu tahu di mana si Deny?”

 

“Kemarin dia ke Jakarta, mau berobat katanya.”

 

“Dia sakit?” tanya Lutfi.

 

“Katanya sih gitu.”

 

“Sakit apa?”

 

“Aku kurang tahu.”

 

“Bisa pantau dia terus? Kalau bisa, bawa dia ke hadapanku secepatnya!” perintah Lutfi.

 

“Oke, Bos!”

 

Lutfi langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

“Kenapa si Deny?”

 

“Katanya lagi berobat ke Jakarta.”

 

“Dia sakit? Apa dia memang nggak terlibat masalah ini?” tanya Chandra. Ia menoleh ke arah Icha dan Jheni yang sudah terkantuk-kantuk karena tidak tidur semalaman.

 

“Jhen, kalian istirahat dulu!” perintah Chandra sambil menghampiri Jheni.

 

Jheni menggelengkan kepala. “Mana bisa istirahat kalau Yuna aja belum ada kabarnya gimana.”

 

“Kalian udah bekerja keras nyari istriku selama dua puluh empat jam. Istirahat dulu!” pinta Yeriko.

 

Semua orang saling pandang. Tak ada satu pun yang ingin beranjak dari tempat tersebut.

 

“Gantian istirahatnya!” perintah Satria. “Jangan sampai kita kelelahan dan nggak bisa nolongin Kakak Ipar Kecil.”

 

Lutfi menoleh ke arah jheni dan Icha yang sedang duduk di sofa. “Duo Srikandi, kalian tidur duluan!” perintahnya.

 

“Aku nggak ngantuk,” sahut Icha.

 

Lutfi menghela napas. “Mata kamu udah bengkak kayak gitu. Tidur ya! Minta dikelonin dulu?”

 

Icha memonyongkan bibirnya. “Lagi kayak gini, sempat-sempat masih bercanda.”

 

“Biar nggak tegang,” sahut Lutfi sambil tertawa kecil. “Kamu harus siapin banyak tenaga untuk Kakak Ipar. Kalau kamu kecapekan dan sakit, nanti Kakak Ipar sedih. Serius!”

 

Yeriko menatap Jheni dan Icha. “Cha, Jhen ... kalian istirahat dulu!” pintanya lirih.

 

Jheni dan Icha saling pandang. Mereka tidak tega melihat keadaan Yeriko yang sangat berantakan. Rambutnya acak-acakan, matanya merah dan kemejanya tak serapi biasanya.

 

“Yer, kamu juga istirahat. Yuna bisa ketakutan kalo lihat penampilan kamu kayak gini.”

 

Yeriko menganggukkan kepala, ia memaksa bibirnya untuk tersenyum. Walau pikirannya saat ini benar-benar kalut karena Refi tega melukai istrinya.

 

Jheni dan Icha bangkit dari sofa.

 

“Kami istirahat di kamar bawah. Kalau ada kabar keberadaan Yuna, langsung kasih tahu kami!” pinta Jheni.

 

Semua orang menganggukkan kepala. Mereka masih terus bekerja keras untuk mencari keberadaan Yuna.

 

“Yer, kamu punya mantan pacar ngeri banget. Kenapa dia sampe gila kayak gini?” tanya Satria.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku udah nolak dia terus, Sat. Nggak ada ngasih harapan sedikit pun. Bahkan, aku dan istriku sudah berusaha membuat dia sadar supaya pergi dengan sendirinya. Dia malah makin gila.”

 

“Aku curiga, dia itu menderita delusi kayak Bu Ratna,” tutur Lutfi.

 

“Kalau sampai istriku kenapa-kenapa, aku nggak akan ngelepasin dia gitu aja,” tutur Yeriko. Ia benar-benar menyesal telah membiarkan wanita seperti Refi pernah masuk ke dalam kehidupannya.

 

“Apa yang dimau sama dia?” tanya Chandra.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Dia belum ngomong sampai sekarang. Dia cuma minta aku nurutin kemauan dia. Ditelepon nggak diangkat-angkat lagi. Dia mempermainkan kita semua.”

 

“Coba kalo bunuh orang nggak dosa, udah kubunuh beneran itu si Reptil!” sahut Lutfi kesal.

 

“Bunuh aja, Lut!” perintah Satria. “Pake aja senjataku!”

 

“Bunuh kepalamu!” sahut Lutfi. “Kamu kira aku penjahat?”

 

“Prajurit sama penjahat itu beda tipis. Sama-sama bisa bunuh orang.”

 

“Kamu yang prajurit. Kamu yang bunuh Reptil itu! Reptil sekarang udah jadi penjahat. Dimatiin nggak papa ‘kan? Daripada gila sama jahatnya nular ke mana-mana.”

 

“Boleh juga. Tapi, janganlah! Negara kita negara hukum. Nggak boleh main hakim sendiri!”

 

“Ah, males kalo ngomong sama kamu. Endingnya tetap aja belain negara,” sahut Lutfi kesal.

 

“Prajurit tugasnya bela negara,” tutur Satria santai sambil mengamati pergerakan rekaman CCTV dari layar laptopnya.

 

“Iya, tahu. Kalo Bela Saphira, itu artis, bukan prajurit!” sahut Lutfi sambil menoyor kepala Satria.

 

Satria terkekeh geli. “Bella Saphira istrinya prajurit loh. Suaminya seniorku, Bro ... Panglima TNI.”

 

“Eh, iya juga ya? Kok, kebetulan pas?” sahut Lutfi. Ia dan Satria asyik berbincang, namun matanya terus menyelidiki setiap pergerakan kendaraan yang ada di dalam rekaman CCTV tersebut.

 

“Yer, ada informasi kalau Refi masuk ke Sheraton!” tutur Chandra sambil menatap layar ponselnya. “Buka Grup!”

 

Yeriko langsung meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia membaca pesan yang masuk di grup dan melangkah pergi.

 

“Mau ke mana?” tanya Chandra menahan Yeriko.

 

“Aku mau bikin perhitungan sama Refi!” sahut Yeriko. Wajah dan matanya menyiratkan kebencian yang mendalam.

 

“Jangan gegabah, Yer!” pinta Chandra sambil menahan dada Yeriko agar tidak keluar dari ruangan tersebut. “Pikirin Yuna!”

 

Yeriko terdiam. Ia menarik napas dalam-dalam. Pikirannya semakin tak karuan karena hingga sekarang tak bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan istrinya. “Aku harus gimana!?” serunya kesal.

 

“Kamu percayakan semuanya sama kami!” pinta Chandra. “Jangan sampai kamu bertindak gegabah dan mencelakai istri kamu sendiri. Ingat, Yer ... Yuna ada di tangan Refi dan kita nggak pernah tahu apa yang akan dilakukan dia. Harus tetap tenang supaya bisa menyelamatkan Yuna.”

 

“Chan, ini udah lebih dari dua puluh empat jam. Kamu dengar sendiri teriakan Yuna waktu aku nelpon Refi. GIMANA AKU BISA TENANG!?”

 

Chandra menghela napas. “Aku ngerti perasaan kamu, Yer. Tapi kamu juga harus sadar. Mengerjakan sesuatu dengan gagabah, nggak akan membuahkan hasil yang baik. Jangan sampai, Refi melukai Yuna lagi! Kamu tenangkan diri kamu dulu supaya bisa berpikir jernih!”

 

Yeriko menatap wajah Chandra selama beberapa detik. Kemudian, ia menganggukkan kepala dan kembali duduk di sofa. Ia terus memikirkan cara menyelamatkan Yuna. Sebab, sudah terlalu lama ia menghabiskan waktu untuk perasaannya sendiri hingga tidak bisa menemukan jalan yang tepat untuk berpikir jernih.

 

“Aargh ...!” Yeriko kesal dengan dirinya sendiri. “Aku buntu banget!” tuturnya sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.

 

“Tenang, Yer! Kita pasti nemuin Yuna dalam keadaan baik-baik aja,” tutur Chandra.

 

Yeriko menatap sahabatnya satu per satu. Ia percaya, semua telah melakukan banyak hal untuk menemukan Yuna. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah seharusnya, ia mempercayakan semua pada sahabat-sahabat baiknya.

 

“Aku mandi dulu!” Yeriko bangkit dari tempat duduk dan bergegas keluar dari ruang kerjanya. Ia masuk ke kamar dan langsung membersihkan tubuhnya di kamar mandi.

 

Yeriko menyalakan shower, menyirami tubuhnya dengan air dingin. Air matanya menetes, berbaur dengan air yang keluar dari shower di atas kepalanya. Ia melihat bayangan Yuna yang selalu tertawa ceria saat menyikat giginya, saat membersihkan wajahnya, saat berendam bersama di dalam bathtub sambil bercerita banyak hal.

 

“Yun, kamu wanita yang baik dan cerdas. Tuhan pasti melindungi kamu dan anak kita. Kamu tunggu aku! Aku akan berusaha menyelamatkan kamu,” batin Yeriko sambil menengadahkan kepalanya. Ia berharap, setelah ini bisa menemukan petunjuk yang membawanya menemui istri tercintanya.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Aku tegang, no coment!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas