“Yan,
kamu bisa lacak keberadaan Refi dari nomor hape dia?” tanya Yeriko usai
panggilan teleponnya dimatikan oleh Refi.
“Anak-anak
IT kayaknya bisa, Pak Bos.”
“Hubungi
mereka untuk lacak keberadaan Refi!”
“Siap,
Pak Bos!” Riyan menganggukkan kepala. Ia segera menelepon karyawan Departemen
IT untuk melakukan pelacakan terhadap nomor ponsel Refi.
“Sat,
Yuna beneran ada di tangan Refi. Kita cek beberapa CCTV, siapa tahu ada rekaman
perjalanan dia dan bisa ngelacak dia ada di mana sekarang,” tutur Lutfi.
Satria
menganggukkan kepala. Ia dan Lutfi sibuk meneliti CCTV. Riyan sibuk memantau
perkembangan informasi dari tim IT perusahaan. Jheni dan Icha sibuk mencari
informasi update dari internet.
“Aargh
...! Refi brengsek!” seru Yeriko sambil menarik rambutnya sendiri. Ia
uring-uringan di dalam ruangan tersebut.
“Gimana
keadaan istri dan anakku sekarang?” Yeriko menempelkan dahinya di kaca jendela.
Ia tidak bisa menahan kesedihannya saat mendengar teriakan Yuna, tapi ia tidak
bisa menolong istrinya sendiri. Ia merasa benar-benar tak berguna karena tidak
bisa melindungi istri dan anaknya dengan baik.
Semua
orang dalam ruangan itu langsung menoleh ke arah Yeriko. Mereka sudah mencari
Yuna selama dua puluh empat jam, tapi belum juga mendapatkan hasil. Mereka
semua tahu bagaimana Yeriko melindungi Yuna selama ini.
“Lut,
manager Refi gimana? Siapa itu namanya?” tanya Chandra.
“Deny?”
Chandra
menganggukkan kepala. “Dia di mana? Nggak sama Refi?”
“Kata
Ajeng, dia lagi di Jakarta.”
“Dia
nggak terlibat sama masalah Refi kali ini?”
Lutfi
menggelengkan kepala. “Nggak tahu. Kemungkinan, Deny nggak terlibat.”
“Apa
kita nggak bisa gunain dia untuk mencari Refi?” tanya Jheni.
“Bisa
juga, Jhen.” Lutfi langsung meraih ponselnya. Ia langsung menempelkan ponsel di
telinganya. “Jeng, kamu tahu di mana si Deny?”
“Kemarin
dia ke Jakarta, mau berobat katanya.”
“Dia
sakit?” tanya Lutfi.
“Katanya
sih gitu.”
“Sakit
apa?”
“Aku
kurang tahu.”
“Bisa
pantau dia terus? Kalau bisa, bawa dia ke hadapanku secepatnya!” perintah
Lutfi.
“Oke,
Bos!”
Lutfi
langsung mematikan panggilan teleponnya.
“Kenapa
si Deny?”
“Katanya
lagi berobat ke Jakarta.”
“Dia
sakit? Apa dia memang nggak terlibat masalah ini?” tanya Chandra. Ia menoleh ke
arah Icha dan Jheni yang sudah terkantuk-kantuk karena tidak tidur semalaman.
“Jhen,
kalian istirahat dulu!” perintah Chandra sambil menghampiri Jheni.
Jheni
menggelengkan kepala. “Mana bisa istirahat kalau Yuna aja belum ada kabarnya
gimana.”
“Kalian
udah bekerja keras nyari istriku selama dua puluh empat jam. Istirahat dulu!”
pinta Yeriko.
Semua
orang saling pandang. Tak ada satu pun yang ingin beranjak dari tempat
tersebut.
“Gantian
istirahatnya!” perintah Satria. “Jangan sampai kita kelelahan dan nggak bisa
nolongin Kakak Ipar Kecil.”
Lutfi
menoleh ke arah jheni dan Icha yang sedang duduk di sofa. “Duo Srikandi, kalian
tidur duluan!” perintahnya.
“Aku
nggak ngantuk,” sahut Icha.
Lutfi
menghela napas. “Mata kamu udah bengkak kayak gitu. Tidur ya! Minta dikelonin
dulu?”
Icha
memonyongkan bibirnya. “Lagi kayak gini, sempat-sempat masih bercanda.”
“Biar
nggak tegang,” sahut Lutfi sambil tertawa kecil. “Kamu harus siapin banyak
tenaga untuk Kakak Ipar. Kalau kamu kecapekan dan sakit, nanti Kakak Ipar
sedih. Serius!”
Yeriko
menatap Jheni dan Icha. “Cha, Jhen ... kalian istirahat dulu!” pintanya lirih.
Jheni
dan Icha saling pandang. Mereka tidak tega melihat keadaan Yeriko yang sangat
berantakan. Rambutnya acak-acakan, matanya merah dan kemejanya tak serapi
biasanya.
“Yer,
kamu juga istirahat. Yuna bisa ketakutan kalo lihat penampilan kamu kayak
gini.”
Yeriko
menganggukkan kepala, ia memaksa bibirnya untuk tersenyum. Walau pikirannya
saat ini benar-benar kalut karena Refi tega melukai istrinya.
Jheni
dan Icha bangkit dari sofa.
“Kami
istirahat di kamar bawah. Kalau ada kabar keberadaan Yuna, langsung kasih tahu
kami!” pinta Jheni.
Semua
orang menganggukkan kepala. Mereka masih terus bekerja keras untuk mencari
keberadaan Yuna.
“Yer,
kamu punya mantan pacar ngeri banget. Kenapa dia sampe gila kayak gini?” tanya
Satria.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Aku udah nolak dia terus, Sat. Nggak ada ngasih harapan
sedikit pun. Bahkan, aku dan istriku sudah berusaha membuat dia sadar supaya
pergi dengan sendirinya. Dia malah makin gila.”
“Aku
curiga, dia itu menderita delusi kayak Bu Ratna,” tutur Lutfi.
“Kalau
sampai istriku kenapa-kenapa, aku nggak akan ngelepasin dia gitu aja,” tutur
Yeriko. Ia benar-benar menyesal telah membiarkan wanita seperti Refi pernah
masuk ke dalam kehidupannya.
“Apa
yang dimau sama dia?” tanya Chandra.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Dia belum ngomong sampai sekarang. Dia cuma minta aku
nurutin kemauan dia. Ditelepon nggak diangkat-angkat lagi. Dia mempermainkan
kita semua.”
“Coba
kalo bunuh orang nggak dosa, udah kubunuh beneran itu si Reptil!” sahut Lutfi
kesal.
“Bunuh
aja, Lut!” perintah Satria. “Pake aja senjataku!”
“Bunuh
kepalamu!” sahut Lutfi. “Kamu kira aku penjahat?”
“Prajurit
sama penjahat itu beda tipis. Sama-sama bisa bunuh orang.”
“Kamu
yang prajurit. Kamu yang bunuh Reptil itu! Reptil sekarang udah jadi penjahat.
Dimatiin nggak papa ‘kan? Daripada gila sama jahatnya nular ke mana-mana.”
“Boleh
juga. Tapi, janganlah! Negara kita negara hukum. Nggak boleh main hakim
sendiri!”
“Ah,
males kalo ngomong sama kamu. Endingnya tetap aja belain negara,” sahut Lutfi
kesal.
“Prajurit
tugasnya bela negara,” tutur Satria santai sambil mengamati pergerakan rekaman
CCTV dari layar laptopnya.
“Iya,
tahu. Kalo Bela Saphira, itu artis, bukan prajurit!” sahut Lutfi sambil menoyor
kepala Satria.
Satria
terkekeh geli. “Bella Saphira istrinya prajurit loh. Suaminya seniorku, Bro ...
Panglima TNI.”
“Eh,
iya juga ya? Kok, kebetulan pas?” sahut Lutfi. Ia dan Satria asyik berbincang,
namun matanya terus menyelidiki setiap pergerakan kendaraan yang ada di dalam
rekaman CCTV tersebut.
“Yer,
ada informasi kalau Refi masuk ke Sheraton!” tutur Chandra sambil menatap layar
ponselnya. “Buka Grup!”
Yeriko
langsung meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia membaca pesan yang
masuk di grup dan melangkah pergi.
“Mau
ke mana?” tanya Chandra menahan Yeriko.
“Aku
mau bikin perhitungan sama Refi!” sahut Yeriko. Wajah dan matanya menyiratkan
kebencian yang mendalam.
“Jangan
gegabah, Yer!” pinta Chandra sambil menahan dada Yeriko agar tidak keluar dari
ruangan tersebut. “Pikirin Yuna!”
Yeriko
terdiam. Ia menarik napas dalam-dalam. Pikirannya semakin tak karuan karena
hingga sekarang tak bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan istrinya.
“Aku harus gimana!?” serunya kesal.
“Kamu
percayakan semuanya sama kami!” pinta Chandra. “Jangan sampai kamu bertindak
gegabah dan mencelakai istri kamu sendiri. Ingat, Yer ... Yuna ada di tangan
Refi dan kita nggak pernah tahu apa yang akan dilakukan dia. Harus tetap tenang
supaya bisa menyelamatkan Yuna.”
“Chan,
ini udah lebih dari dua puluh empat jam. Kamu dengar sendiri teriakan Yuna
waktu aku nelpon Refi. GIMANA AKU BISA TENANG!?”
Chandra
menghela napas. “Aku ngerti perasaan kamu, Yer. Tapi kamu juga harus sadar.
Mengerjakan sesuatu dengan gagabah, nggak akan membuahkan hasil yang baik.
Jangan sampai, Refi melukai Yuna lagi! Kamu tenangkan diri kamu dulu supaya
bisa berpikir jernih!”
Yeriko
menatap wajah Chandra selama beberapa detik. Kemudian, ia menganggukkan kepala
dan kembali duduk di sofa. Ia terus memikirkan cara menyelamatkan Yuna. Sebab,
sudah terlalu lama ia menghabiskan waktu untuk perasaannya sendiri hingga tidak
bisa menemukan jalan yang tepat untuk berpikir jernih.
“Aargh
...!” Yeriko kesal dengan dirinya sendiri. “Aku buntu banget!” tuturnya sambil
memukul-mukul kepalanya sendiri.
“Tenang,
Yer! Kita pasti nemuin Yuna dalam keadaan baik-baik aja,” tutur Chandra.
Yeriko
menatap sahabatnya satu per satu. Ia percaya, semua telah melakukan banyak hal
untuk menemukan Yuna. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah seharusnya, ia
mempercayakan semua pada sahabat-sahabat baiknya.
“Aku
mandi dulu!” Yeriko bangkit dari tempat duduk dan bergegas keluar dari ruang
kerjanya. Ia masuk ke kamar dan langsung membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
Yeriko
menyalakan shower, menyirami tubuhnya dengan air dingin. Air matanya menetes,
berbaur dengan air yang keluar dari shower di atas kepalanya. Ia melihat
bayangan Yuna yang selalu tertawa ceria saat menyikat giginya, saat
membersihkan wajahnya, saat berendam bersama di dalam bathtub sambil bercerita
banyak hal.
“Yun,
kamu wanita yang baik dan cerdas. Tuhan pasti melindungi kamu dan anak kita.
Kamu tunggu aku! Aku akan berusaha menyelamatkan kamu,” batin Yeriko sambil
menengadahkan kepalanya. Ia berharap, setelah ini bisa menemukan petunjuk yang
membawanya menemui istri tercintanya.
((Bersambung ...))
Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Aku
tegang, no coment!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment