Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 462 : Psikopat Ganas

 


Refi tersenyum puas saat melihat panggilan telepon berkali-kali dari Yeriko. Ia sengaja tidak menjawabnya terlebih dahulu demi menikmati kesenangannya kali ini. Ia sangat bahagia karena bisa melihat Yuna menderita dan akan membuat Yeriko bertekuk lutut di hadapannya.

 

“Yun, kamu tahu udah berapa banyak Yeriko nelepon aku?” tanya Refi sambil menatap wajah Yuna yang ada di hadapannya. Ia menyodorkan layar ponsel ke wajah Yuna.

 

Yuna bisa melihat jelas panggilan masuk dari nomor telepon Yeriko yang sudah ia hafal. Di ponsel Refi, terlihat jelas kalau nama kontak disimpan dengan nama yang membuat Yuna kesal. Terlebih, Refi memasang foto kebersamaannya dengan Yeriko tiga tahun silam.

 

Refi tersenyum ke arah Yuna. “Sebentar lagi, Yeriko bakal jadi milikku.”

 

Yuna tersenyum sinis. “Kamu ngimpi jangan kelamaan!” sahutnya. “Bangun, Ref! Ntar keterusan ke Surga.”

 

Refi tersenyum sinis. “Aku yang akan mengirim kamu ke Surga duluan!”

 

Yuna malah tertawa mendengar ucapan Refi.

 

Refi mengerutkan dahi. “Kamu nggak takut mati?”

 

“Ref, kamu itu lebih tua dari aku. Tapi pikiran kamu itu kayak bocah. Bahkan, kamu nggak bisa bedain mana cinta dan mana obsesi,” tutur Yuna. Wajahnya terlihat sangat tenang saat berhadapan dengan Refi.

 

“Kamu nggak usah sok-sokan ngomong soal cinta di depanku!” sahut Refi. “Kalau kamu cinta sama Yeriko, apa kamu rela dia hidup sama perempuan lain, hah!?”

 

Yuna tertawa kecil mendengar pertanyaan Refi. “Ref, aku tulus mencintai dia. Kalau ada wanita lain yang bisa mencintai dan membahagiakan Yeriko dengan tulus melebihi apa yang sudah aku lakukan, aku akan menyerahkan dia dengan hati yang bahagia juga. Buatku, kebahagiaan Yeriko lebih penting dari semua keinginan-keinginanku di dunia ini.”

 

Refi terdiam. Ia terpaku menatap wajah Yuna. Matanya menerawang ke masa tiga tahun silam. Saat ia dan Yeriko masih bersama. Yeriko selalu menjadi pelindung untuk dirinya. Kini, Yeriko terus menghindari dirinya dan hal ini berhasil membakar perasaan Refi.

 

“Aku tetap benci sama kamu!” tegas Refi. Ia menolak hatinya yang bergejolak. Ia tidak ingin melukai perasaan Yeriko lagi. Tapi ia juga tidak ingin melukai dirinya sendiri.

 

“Aku nggak mau kamu terus-menerus berada dalam kehidupan Yeriko,” tutur Refi. “Sebelum kamu muncul, hubunganku dan Yeriko baik-baik aja. Jalan satu-satunya untuk bisa mendapatkan Yeriko kembali adalah memusnahkan kamu dari kehidupan Yeriko.”

 

Yuna hanya menatap wajah Refi. “Sekalipun kamu bunuh aku. Yeriko nggak akan pernah mencintai kamu lagi seumur hidupnya.”

 

“Bohong!” sahut Refi. “Aku nggak akan percaya sama kamu gitu aja. Aku tahu, kamu sengaja bikin aku ragu sama semua yang sudah aku lakuin.”

 

Yuna tersenyum sinis. “Bukan aku yang bikin kamu ragu. Tapi diri kamu sendiri.”

 

“Kamu nyoba buat pengaruhi aku ‘kan?” tanya Refi.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak ngelakuin apa pun. Kamu aja yang baperan.”

 

“Kamu!?” Refi menatap geram ke arah Yuna. “Kamu beneran nggak takut mati? Udah kayak gini, masih aja berani ngelawan aku!”

 

Yuna tersenyum sinis. “Aku mana bisa ngelawan kamu dalam keadaan terikat kayak gini. Aku cuma kasihan aja sama kamu. Kamu makin gila karena terobsesi sama suami orang. Jelas-jelas Yeriko nggak mau sama kamu. Kenapa kamu masih aja ngejar-ngejar dia? Yang kamu lakuin ini bukan cinta, Ref. Yeriko akan semakin membenci kelakuan kamu yang busuk ini.”

 

PLAK ...!

 

Refi langsung menampar Yuna. “Nggak usah banyak omong!” sentaknya. “Aku punya cara sendiri buat dapetin Yeriko.”

 

Yuna tersenyum sinis menatap Refi. “Cara kamu salah, Ref. Kalau kamu emang cinta sama Yeriko. Seharusnya bisa lihat dia bahagia. Bukan malah ngelakuin hal-hal gila dan nggak masuk akal kayak gini.”

 

“Aku udah nggak peduli. Sekalipun aku udah nggak bisa dapetin Yeriko dan bikin dia cinta sama aku, aku mau dia berlutut di depanku! Hahaha.”

 

Yuna menatap wajah Refi. Ia merasa iba dengan apa yang telah dilakukan Refi hari ini. Ia harap, suaminya tak akan pernah berlutut di depan wanita seperti Refi.

 

Refi tersenyum puas saat ponselnya kembali berdering. “Kita lihat, apa yang bakal dilakuin Yeriko saat dia tahu kalau kamu ada di tanganku!”

 

Yuna terdiam. Ia hanya mengamati apa yang akan dilakukan oleh Refi setelah ini. Ia merasa, Refi sudah mencoba untuk membunuh dirinya sendiri. Ia sangat mengetahui bagaimana sifat suaminya, tidak mungkin mencintai wanita gila seperti Refi.

 

Refi tersenyum. Ia menjawab panggilan telepon dari Yeriko dan menempelkan ponsel ke telinganya. “Halo, Yer! Apa kabar?” sapanya sambil tersenyum manis.

 

“Di mana Yuna?” tanya Yeriko dari seberang telepon.

 

Refi tertawa kecil. “Bukannya kamu suaminya? Kenapa tanyain Yuna ke aku?”

 

“Aku tahu, kamu sudah bawa Yuna pergi.”

 

Refi tertawa kecil. “Emang iya. Aku lagi ajak istri kamu ini bersenang-senang.”

 

“Mana Yuna?” tanya Yeriko.

 

“Kamu tenang aja! Yuna baik-baik aja. Aku bakal balikin dia, kalau kamu mau menuruti semua keinginanku!” pinta Refi.

 

Yeriko tak menjawab permintaan Refi.

 

“Nyawa istri kamu ada di tanganku. Kalau kamu nggak mau ikuti keinginanku, aku nggak bisa jamin kalau dia pulang dalam keadaan baik.”

 

“Bangsat kamu, Ref!” sentak Yeriko.

 

“Hati-hati kalau ngomong! Dulu, kamu pernah sayang sama aku. Aku mau kembali seperti dulu lagi. Tanpa ada orang lain lagi di antara kita.”

 

“Kalau sampe terjadi apa-apa sama istri dan anakku, aku nggak akan ngelepasin kamu!” tegas Yeriko tanpa menghiraukan ucapan Refi.

 

“Semua akan baik-baik aja kalau kamu mau nuruti keinginanku,” sahut Refi.

 

“Jangan turuti dia!” seru Yuna.

 

PLAAK ...!

 

“Diam, kamu!” sahut Refi sambil menampar pipi Yuna.

 

“Yuna ...!” teriak Yeriko begitu mendengar suara Yuna benar-benar bersama Refi. “Ref, kamu apain istriku!?”

 

“Aku lagi ajak dia bersenang-senang,” jawab Refi sambil menekan kaki Yuna menggunakan high heels yang tersemat di kakinya.

 

“Aargh ...!” teriak Yuna menahan rasa sakit di pergelangan kaki karena gilasan sepatu Refi.

 

“Refi, lepasin istriku!” teriak Yeriko. “Aku bakal laporin kamu ke polisi.”

 

“Laporin aja!” sahut Refi sambil tersenyum. “Kalau sampai polisi nyari aku, aku akan kirim istri dan anak kamu ke surga. Selamanya, kamu nggak akan pernah lihat mereka lagi.”

 

“Sialan, kamu!”

 

“Yer, apa kamu nggak bisa bersikap baik dan nuruti keinginanku?” tanya Refi. “Setiap makian yang keluar dari mulut kamu buat aku, itu siksaan buat Yuna.” Refi kembali menginjak kaki Yuna.

 

“Aargh ...!” teriak Yuna lagi.

 

“Ref, jangan sakiti istriku!” pinta Yeriko.

 

Refi tertawa kecil. “Kalo gitu, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan ‘kan?”

 

Yeriko terdengar menghela napas panjang. “Oke. Aku akan turuti keinginan kamu. Asal, jangan sakiti Yuna!”

 

Refi tersenyum puas sambil menatap Yuna yang duduk di hadapannya.

 

“Ay, jangan turuti dia!” pinta Yuna. “Aku baik-baik aja.”

 

“Aargh ...!” teriak Yuna saat Refi kembali menginjak kakinya yang berselonjor di lantai.

 

“Ref, jangan lukai Yuna!” teriak Yeriko dari ujung telepon.

 

“Semua tergantung kamu. Mau nuruti keinginanku atau nggak,” sahut Refi sambil tersenyum menatap Yuna.

 

“Ay, jangan turuti kemauan gila dia!” seru Yuna.

 

PLAK ...!

 

Refi kembali menampar pipi Yuna. “Kamu beneran nggak takut mati, hah!?”

 

“Sekalipun aku mati, Yeriko akan tetap cinta sama aku. Kamu nggak akan pernah bisa dapetin cintanya dia!” tegas Yuna.

 

Refi langsung menatap Yuna penuh kebencian. Ia mematikan panggilan telepon dari Yeriko terlebih dahulu. “Dia udah setuju untuk mengikuti kemauanku. Kamu siap-siap ngerasain rasa sakit yang sudah aku rasain.”

 

Yuna tersenyum sinis sambil menatap Refi. Ia merasa sangat bahagia saat mengetahui kalau Yeriko rela melakukan hal apa pun untuknya. Hanya saja, ia yang tidak akan pernah rela melihat suaminya berlutut di hadapan wanita seperti Refi.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. “Jangan lakuin itu! Aku tahu, kamu pasti khawatir sama keadaanku. Aku juga khawatir sama keadaan kamu sekarang,” ucap Yuna dalam hati. Ia ingin, kata hatinya saat ini bisa tersampaikan pada Yeriko.

 

Refi tersenyum puas. Ia ingin mendapatkan Yeriko kembali dengan caranya. Ia tak lagi peduli dengan keadaan Yuna. Ia sengaja mengulur waktu, menikmati kepuasan dalam hatinya saat melihat Yuna menderita.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Aku tegang, no coment!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 461 : Semua Orang Bekerja Keras

 


“Yan, kamu udah dapat informasi keberadaan Refi?” tanya Yeriko lewat telepon.

 

“Saya baru keluar dari apartemennya. Nggak ada di lokasi,” jawab Riyan.

 

“Kamu udah pastikan?”

 

“Sudah, Pak Bos! Aku sudah cek lewat CCTV. Dia pergi dari pagi dan belum kembali ke apartemennya.”

 

“Cari terus sampai dapat!” perintah Yeriko.

 

“Siap, Pak Bos!”

 

Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. “Apa beneran si Refi yang ada di balik ini semua?” batin Yeriko.

 

“Yer, Gimana? Udah dapet informasi keberadaan Yuna?” tanya Chandra sambil menerobos masuk ke dalam ruang kerja Yeriko yang ada di rumahnya. Di belakangnya, sudah ada Lutfi, Satria dan dua sahabat baik Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku masih suruh Riyan cari keberadaan Refi.”

 

“Refi!?” Jheni melebarkan kelopak matanya. “Dia yang nyulik Yuna? Berani-beraninya dia sampai nyulik Yuna. Cari mati beneran ini anak. Kalau sampai Yuna kenapa-kenapa. Kubunuh anak itu!” ucapnya kesal.

 

“Belum pasti kalau Refi yang nyulik Yuna. Masih dugaan,” tutur Yeriko.

 

“Kenapa kamu nyuruh Riyan nyari Refi?” tanya Jheni.

 

“Karena salah satu pelayan di rumah mengakui kalau sudah membocorkan jadwal kegiatan Yuna. Kemungkinan, Refi juga sudah memata-matai rumah ini. Tapi, selama belum ada bukti yang kuat, kita nggak bisa menuduh Refi sebagai pelakunya.

 

“Nah, bener!” sahut Satria. “Menuduh orang lain tanpa bukti itu sama dengan fitnah. Nanti, jatuhnya ke pasal pencemaran nama baik.”

 

“Aih, ribet banget sih!?” sahut Jheni kesal.

 

“Udah, jangan berdebat di saat kayak gini!” sela Lutfi. “Kakak Ipar sudah ada di tangan penculik sejak beberapa jam lalu. Kalian masih punya waktu untuk berdebat, bukannya fokus nyari Kakak Ipar!?”

 

“Kalau beneran dia yang ngelakuin ini, aku nggak akan ngelepasin dia!” tegas Yeriko. Tatapannya menyiratkan amarah yang menakutkan.

 

“Aku heran ... kenapa si Reptil itu selalu cari masalah? Hidup damai di luar sana aja, kenapa sih?” sahut Lutfi.

 

Yeriko memijat kening sambil menundukkan kepala. Penampilannya yang berantakan membuat teman-teman yang lainnya tak berani bicara banyak.

 

“Sat, gimana dari Ditlantas? Bisa bantu?” tanya Yeriko sambil menyalakan ponselnya.

 

“Bisa, Yer. Aku juga lagi ngerahin anggota buat nyari.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya. “Thanks, Sat!”

 

“Nggak usah sungkan!” sahut Satria. “Udah tugasku sebagai teman.”

 

Jheni dan Icha hanya berdiri sambil bersandar di dinding. Mereka terus memantau postingan pencarian Yuna di media sosial.

 

Yeriko menempelkan ponsel ke telinganya. Ia menelepon Refi berkali-kali tapi tak mendapat jawaban.

 

“Aargh ...!” teriak Yeriko sambil membanting ponselnya ke sofa.

 

Semua orang langsung menoleh ke arah Yeriko. Mereka hanya saling pandang, tak ada yang bersuara melihat emosi Yeriko yang mulai tak terkendali.

 

Jheni menggigit jemari tangannya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini untuk menyelamatkan Yuna. “Yun, kamu pasti baik-baik aja, kan?” batin Jheni.

 

“Chan, telepon Riyan lagi!” perintah Yeriko. Ia menarik napas beberapa kali untuk menenangkan dirinya sendiri.

 

Chandra mengangguk, ia langsung menelepon Riyan untuk menanyakan keberadaan Refi.

 

“Jhen, tolong panggilin Bibi War!” perintah Yeriko.

 

Jheni mengangguk. Ia segera keluar dari ruangan tersebut untuk memanggil Bibi War.

 

Yeriko kembali meraih ponsel dan menelepon kakeknya. “Halo ...! Kek, aku pinjam lima ajudan Kakek. Suruh mereka ke rumahku sekarang juga!” pinta Yeriko begitu panggilan telepon dengan kakeknya tersambung.

 

“Ada apa? Kenapa tergesa-gesa begitu?” tanya Nurali dari seberang telepon.

 

“Aku butuh pendampingan seperti biasa.”

 

“Oke. Kakek suruh mereka ke sana sekarang juga.”

 

“Umh. Thanks!” Yeriko mengangguk sambil mematikan sambungan teleponnya.

 

Yeriko mengetuk-ngetuk dahinya. Ia terus memikirkan cara untuk menemukan Yuna secepatnya.

 

“Chan, dari perusahaan gimana? Belum ada informasi?” tanya Yeriko sambil menatap Chandra.

 

Chandra menggelengkan kepala. Ia melirik arloji di tangannya. Sudah empat sejak informasi hilangnya Yuna, mereka belum mendapatkan titik terang sedikit pun. Padahal, Yeriko sudah mengerahkan semua sumber daya yang ada untuk mencari keberadaan Yuna.

 

Yeriko menengadahkan kepalanya sambil bersandar di punggung sofa. “Yuna, kamu di mana?” tanyanya lirih.

 

“Yer, udah tersambung!” tutur Satria sambil menatap layar laptopnya.

 

“Gimana?” tanya Lutfi.

 

Satria langsung memerhatikan beberapa video dari National Traffic Management Center (NTMC) Polri. Ia sudah meminta izin akses untuk melakukan pencarian kendaraan yang kemungkinan besar membawa Yuna.

 

“Ada mobil atau motor yang mencurigakan?” tanya Yeriko.

 

“Jam berapa si Angga keluar dari rumah?” tanya Satria sambil meneliti video-video yang ada di layar laptopnya. Ia bisa dengan mudah mendapatkan izin akses dari kepolisian karena ia juga bagian dari prajurit negara sekaligus anak wakil walikota.

 

“Angga masih bareng Riyan. Mereka lagi cari Refi. Jam pastinya aku nggak tahu,” jawab Yeriko.

 

“CCTV rumah kamu, Yer! Pasti ada record waktu Yuna keluar dari rumah.”

 

“Bener!” Yeriko langsung bangkit dari tempat duduk. “Ruang CCTV ada di pos jaga, di depan. Kamu yang turun, Lut!” perintah Yeriko.

 

Lutfi mengerutkan keningnya. “Bukannya bisa diakses lewat komputer kamu, Yer?”

 

Yeriko menepuk dahinya. “Aku bingung banget.”

 

Lutfi menggeleng-gelengkan kepala. Ia langsung bergerak ke meja kerja Yeriko untuk mengecek rekaman CCTV yang ada di rumah tersebut. Ia bersama Satria terus-menerus meneliti setiap video yang ada.

 

“Lut, dalam waktu lima belas menit, harusnya mobil Angga sudah sampai di simpang lampu merah yang ini,” tutur Satria sambil menunjuk salah satu rekaman CCTV yang ada di laptopnya.

 

Lutfi langsung mengalihkan pandangannya ke laptop milik Satria. “Terus, mobil Angga muncul berapa menit?”

 

“Empat puluh lima menit!” seru Satria. Ia terus mengamati video yang sedang ia teliti sambil mencatat perkiraan waktu dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Kalau soal perkiraan waktu dan penyelidikan, Satria punya kemampuan yang baik.

 

“Ada enam mobil yang muncul dari jalan ini sebelum Angga muncul,” tutur Satria sambil memutar ulang video yang sedang ia amati.

 

“Kita selidiki enam mobil itu aja, Sat!” pinta Lutfi.

 

Satria mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku pantau rekaman CCTV di simpangan berikutnya.”

 

Satria dan Lutfi sibuk meneliti beberapa rekaman video lalu lintas yang waktunya sudah disesuaikan oleh Satria. Mereka mulai mencurigai minibus yang perjalanannya sesuai dengan perkiraan waktu yang dibuat Satria.

 

Yeriko masih berusaha menelepon Refi hingga puluhan kali. “Refi bangsaaat ...!” makinya kesal.

 

“Yang tenang, Yer! Jangan gegabah!” pinta Chandra. Ia menoleh ke arah pintu yang terbuka saat Jheni dan Bibi War masuk ke ruangan tersebut.

 

“Ada apa, Mas?” tanya Bibi War sambil menghampiri Yeriko.

 

“Siapin minuman dan makanan ya! Kasihan mereka,” pinta Yeriko. Ia tahu, semua orang sudah bekerja keras membantunya menemukan Yuna selama beberapa jam belakangan ini.

 

Bibi War menganggukkan kepala. Ia bergegas keluar dari ruangan tersebut dan menyiapkan makanan untuk Yeriko dan teman-temannya. Sebab, mereka sedang bekerja keras mencari Yuna dan tidak boleh sampai jatuh sakit karena kelelahan atau kelaparan.

 

Di ruang kerjanya, Yeriko dan teman-temannya masih terus memantau dan mencari kemungkinan keberadaan Yuna.

 

“Lut, Lut ...!” panggil Satria sambil menepuk bahu Lutfi. “Lihat ini!”

 

Lutfi langsung melihat bagian yang ditunjuk oleh Satria. “Kenapa?” tanya Lutfi sambil mengernyitkan dahi.

 

“Ini mobil yang sama. Dia masuk dari sini, keluar di sini.”

 

“Serius?”

 

Satria menganggukkan kepala. “Kamu tahu dari mana? Plat mobilnya beda, Sat.”

 

“Aku sudah menghitung kecepatan mobil ini. Kemungkinan, pelaku mengganti plat mobil untuk mengelabui kita semua.”

 

“Licik juga mereka,” tutur Lutfi sambil mengamati video yang ada di layar laptop milik Satria.

 

“Aargh ...! Sial ...!” seru Satria.

 

“Kenapa, Sat?” Chandra dan Yeriko langsung menoleh ke arah Satria.

 

“Mereka masuk ke jalanan yang nggak ada CCTV-nya.”

 

“Kita kehilangan jejak?” tanya Chandra.

 

Satria menganggukkan kepala. “Jhen, aku screenshoot mobil yang mencurigakan ini. Kamu upload ke media sosial. Fans kamu lumayan banyak. Kerahkan buat cari keberadaan mobil ini!” perintahnya.

 

Jheni mengangguk. “Gimana kalau kita buat grup? Biar lebih mudah dapetin kabar dan informasi terbaru.”

 

“Boleh, boleh,” sahut Satria. “Aku juga sudah perintahin anak buahku buat menyebar ke beberapa titik.

 

Jheni menarik napas dalam-dalam. Ia langsung membuat grup untuk mendapatkan update terbaru tentang Yuna.

 

“Yan, gimana? Udah dapet informasi keberadaan Refi?” tanya Yeriko melalui Voice Note di grup.

 

“Belum, Bos. Ini masih coba cari informasi ke beberapa tempat.” Riyan langsung merespon dengan cepat.

 

Jheni terlihat sangat gelisah. “Yuna ... kamu di mana?” tanyanya sambil mondar-mandir.

 

“Kamu tenang, Jhen. Yuna itu perempuan yang cerdas. Dia pasti baik-baik aja.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dia pasti tahu kalau kita bisa nolong dia. Dia wanita yang cerdas dan kuat. Dia pasti baik-baik aja,” ucapnya menenangkan dirinya sendiri. Namun, air mata Yeriko menetes saat teringat anak yang ada di dalam kandungan Yuna. “Gimana anak istriku sekarang? Apa mereka sudah makan?” tanyanya sambil menghapus air mata yang sudah ia tahan sejak beberapa jam lalu.

 

Chandra langsung menepuk-nepuk bahu Yeriko. “Sabar, Yer! Kita pasti bisa nemuin istri kamu.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. Tapi, ia tetap tak bisa menahan kesedihannya. Ia takut terjadi apa-apa dengan istri dan anaknya.

 

Semua orang bekerja keras mencari keberadaan Yuna hingga malam hari. Semua sumber daya telah dikerahkan, tapi belum ada kabar keberadaan Yuna. Yeriko juga terus menunggu telepon, ia pikir kalau penculiknya akan meneleponnya untuk meminta tebusan. Ia hanya ingin mengetahui kalau Yuna dalam keadaan baik-baik saja.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Aku tegang, no coment!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 460 : Penculik Baik Hati

 


“Kamu masih punya keberanian buat ngelawan aku, hah!?” tanya Refi sambil mencengkeram rahang Yuna.

 

Yuna melirik tangan Refi yang gemetaran. Ia tahu kalau Refi masih memiliki rasa takut untuk menyakitinya.

 

“Yun, aku akan ngambil semua yang udah kamu rebut dari aku. Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup bahagia!” tegas Refi sambil menusukkan kuku tangannya ke leher Refi.

 

Yuna masih tak menyerah. Ia tetap menatap mata Refi penuh keberanian walau ia menahan rasa sakit di lehernya. “Yeriko nggak akan pernah kembali ke kamu lagi!” tegasnya lirih.

 

Refi semakin murka mendengar ucapan Yuna. Ia menahan amarahnya dan memilih melepaskan tangannya dari leher Yuna.

 

Yuna tersenyum sinis. “Apa yang kamu mau dari Yeriko? Hartanya dia?” tanyanya sambil menatap Refi.

 

Refi tak menyahut. Ia hanya menatap Yuna penuh kebencian.

 

Yuna tertawa kecil melihat Refi yang tak menjawab pertanyaannya. “Asal kamu tahu, semua aset pribadi Yeriko, sudah berpindah ke tanganku. Sekalipun Yeriko kembali sama kamu, kamu nggak akan mendapatkan harta dia sedikit pun.”

 

Refi tersenyum sinis. “Kamu pikir, aku cuma cinta sama hartanya dia doang? Aku menginginkan semuanya. Termasuk hati dan hidup dia.”

 

“Kamu nggak akan mendapatkan dia dengan cara kayak gini. Jangan terlalu memaksakan diri! Nanti kamu malah gila karena nggak bisa dapetin apa yang kamu mau.”

 

“Aku nggak peduli. Aku akan ngelakuin apa pun untuk mendapatkan Yeriko kembali. Termasuk melenyapkan kamu dari muka bumi ini!” tegas Refi dengan mata berapi-api.

 

Yuna hanya tersenyum menatap wajah Refi. “Kamu nggak akan dapetin dia walau kamu bunuh aku. Sebaliknya, dia akan membenci kamu seumur hidupnya.”

 

Refi mengerutkan wajahnya. Ia tak ingin berdebat dengan Yuna. Ia berbalik sambil menatap tiga pria yang duduk di atas meja sambil menikmati cemilan. “Kalian jaga dia! Jangan sampai lepas dan jangan dikasih makan!” perintah Refi.

 

Yuna hanya menatap tubuh Refi yang perlahan menjauh darinya. Ia menyandarkan kepalanya ke tiang bangunan yang terikat dengan tubuhnya. Kakinya mulai gatal karena lantai yang kotor dan kumuh. Ia hanya bisa menahan rasa jijik saat semut atau binatang lain mulai merayap ke tubuhnya.

 

“Nak, yang kuat ya! Kita berjuang sama-sama. Semua akan baik-baik aja. Ayah kamu, pasti akan nolongin kita,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca. Ia hanya bisa menatap perutnya sendiri. Sedang tangannya terikat di belakang tiang yang melekat di punggungnya.

 

“Lek, aku melas sama cewek kui. Mesakne,” tutur pria berambut keriting itu kepada pria yang berambut gundul.

 

“Iya. Aku juga kasihan. Dia lagi hamil juga.”

 

“Hah!? Dia lagi hamil?” tanya pria berambut keriting.

 

Pria gundul dan pria bertato itu menganggukkan kepala.

 

“Ya Allah ...!” Pria berambut keriting itu menjatuhkan lututnya sambil menengadah kedua tangan. “Ampuni dosa-dosaku, Ya Allah! Simbok, Biyung! Ampuni anakmu iki. Aku nggak mau jadi penjahat. Aku terpaksa ngelakuin ini semua karena diajak si Gundul. Ya Allah ... dosaku dikasih ke Gundul semua! Soalnya dia yang ngajak aku buat nyulik orang yang lagi hamil. Aku nggak mau kualat.”

 

Pria yang dipanggil si Gundul itu langsung menoyor kepala pria berambut keriting yang sedang bersimpuh di lantai. “Eh, aku juga diajak sama si Bos. Harusnya si Bos yang nanggung dosa kita.”

 

“Kalian berdua mau aku ajak. Berarti, dosa tetap ditanggung masing-masing.”

 

“Bos, ini perempuan lagi hamil. Aku nggak mau kualat,” sahut si Gundul.

 

“Kamu kira aku mau?” sahut pria bertato yang dipanggil si Bos itu.

 

“Terus gimana ini? Kalau kita ketahuan polisi piye?”

 

“Makanya, kita harus hati-hati. Jangan sampai ketahuan!” sahut pria bertato.

 

“Kalo ketahuan gimana?”

 

“Kita punya sandera, jangan goblok!”

 

“Bos, aku baru ini nyulik orang. Kalo sandera kita kenapa-kenapa gimana?”

 

“Nggak akan kenapa-kenapa. Kita jaga dia baik-baik!”

 

“Tadi bilangnya Mbak Repi nggak boleh dikasih makan,” tutur si Gundul.

 

“Makan nggak boleh. Tapi, dia nggak bilang kalau nggak boleh dikasih minum ‘kan?” tanya si Keriting.

 

“Ah, bener-bener. Carikan minuman, Ting!” perintah si Gundul.

 

“Minuman apa?” tanya si Keriting.

 

Si Gundul menoleh ke arah si Bos. “Minuman apa, Bos?”

 

“Kasih bir aja!” sahutnya sambil menggigit tusukan gigi di mulutnya.

 

“Lagi hamil, Bos. Jangan bunuh anaknya!” sahut si Gundul.

 

“Udah tahu, masih nanya!?” seru si Bos. “Belikan aja minuman yang bikin kenyang. Jus, es buah atau cendol!” lanjutnya.

 

“Oke, Bos. Tak carikan cendol,” tutur si Keriting. “Kunci motor, mana?”

 

Si Gundul langsung melemparkan kunci motor ke arah si Keriting. “Hati-Hati, Ting! Jangan sampe ada yang ngikutin kita ke sini!”

 

“Siap!” Si Keriting bergegas pergi, ia mengendarai sepeda motor butut untuk mencari minuman yang bisa ia berikan untuk sanderanya.

 

Yuna tersenyum sambil menatap tiga pria yang ada di hadapannya. Ia sedikit lega karena orang-orang yang menculiknya bukanlah penjahat profesional dan baru pertama kali melakukan kejahatan. Setidaknya, pria-pria itu masih punya hati untuk bertindak bodoh.

 

“Ndul, kamu jagain perempuan ini! Aku masih ada urusan penting yang harus aku urus!” perintah si Bos.

 

“Oke, Bos!”

 

Pria bertato itu langsung pergi meninggalkan si Gundul sendirian.

 

Tak berapa lama, si Keriting kembali dengan sepeda motornya sambil membawa beberapa bungkus es cendol. Ia buru-buru menghampiri Yuna yang terikat di lantai.

 

“Mbak ...!” panggil si Keriting sambil menghampiri Yuna.

 

Yuna tersenyum menatap wajah pria itu.

 

“Ini es cendol buat Mbak. Minum, ya!” pintanya lirih. “Mbaknya lagi hamil, kasihan bayinya.”

 

Yuna tersenyum sambil mengangguk kecil. “Makasih, Mas!”

 

Si Keriting mengangguk. Ia membuka ikatan plastik es tersebut dan membantu Yuna untuk meminum es cendol tersebut.

 

“Masnya tinggal di daerah sini?” tanya Yuna sambil menatap pria berambut keriting yang ada di hadapannya tersebut.

 

Si Keriting menggelengkan kepala.

 

“Kok, bisa tahu ada warung jualan cendol di sekitar sini?” tanya Yuna.

 

“Sudah sering ke sini, diajak sama Bos.”

 

“Nyulik orang juga?” tanya Yuna menyelidik.

 

Si Keriting menggelengkan kepala. “Ini baru pertama kali saya nyulik orang. Korban pertama ibu hamil pula. Saya nggak tega, Mbak.”

 

Yuna tersenyum menatap pria itu. “Kamu masih muda. Umur kamu berapa?” tanya Yuna.

 

“Dua puluh dua, Mbak.”

 

“Kenapa kamu cari kerjaan kayak gini? Kenapa nggak kerja yang bener?” tanya Yuna.

 

“Huft, mau kerja yang bener. Tapi, zaman sekarang cari kerjaan susah.”

 

“Susahnya kenapa?”

 

“Terlalu banyak persaingan. Kalau nggak ada orang dalam, susah masuk perusahaan, Mbak.”

 

Yuna tersenyum menatap pria itu. “Kenapa nggak mulai usaha? Jualan kopi misalnya. Yang penting halal.”

 

“Nggak ada modalnya, Mbak. Usaha kan butuh modal,” jawab si Keriting sambil membantu Yuna untuk minum.

 

Yuna tersenyum menatap pria muda yang penampilannya urakan itu. “Makasih ya es cendolnya!” tutur Yuna. “Aku nggak akan lupa kebaikan kamu.”

 

Si Keriting tersenyum. Ia memutar kepalanya, menoleh ke arah si Gundul yang sudah tertidur di kursi. “Mbak, ini ada roti. Makan ya!” pintanya.

 

“Gimana makannya? Tangan aku diikat gini.”

 

Si Keriting tersenyum. Ia membuka bungkus roti dan menyuapkan ke mulut Yuna sedikit demi sedikit.

 

 “Mbak makan dulu ya! Nanti, kalau bos besar datang. Aku nggak bisa kasih Mbak makanan lagi,” bisik si Keriting.

 

Yuna mengangguk. Ia tersenyum sambil memakan roti sedikit demi sedikit. Ia hanya memikirkan anak yang ada di dalam perutnya. Ia tak peduli dengan tangan si Keriting yang kotor, tak peduli lagi dengan lantai yang kotor dan ruangan yang bau. Ia memaksakan diri untuk menelan makanan agar memiliki banyak tenaga untuk menghadapi Refi dan melindungi anak yang ada di dalam perutnya.

 

((Bersambung ...))

Thanks buat yang udah bersedia baca sampai di sini. Dukung terus supaya Yuna tetap strong ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas