“Kamu
masih punya keberanian buat ngelawan aku, hah!?” tanya Refi sambil mencengkeram
rahang Yuna.
Yuna
melirik tangan Refi yang gemetaran. Ia tahu kalau Refi masih memiliki rasa
takut untuk menyakitinya.
“Yun,
aku akan ngambil semua yang udah kamu rebut dari aku. Aku nggak akan ngebiarin
kamu hidup bahagia!” tegas Refi sambil menusukkan kuku tangannya ke leher Refi.
Yuna
masih tak menyerah. Ia tetap menatap mata Refi penuh keberanian walau ia
menahan rasa sakit di lehernya. “Yeriko nggak akan pernah kembali ke kamu
lagi!” tegasnya lirih.
Refi
semakin murka mendengar ucapan Yuna. Ia menahan amarahnya dan memilih
melepaskan tangannya dari leher Yuna.
Yuna
tersenyum sinis. “Apa yang kamu mau dari Yeriko? Hartanya dia?” tanyanya sambil
menatap Refi.
Refi
tak menyahut. Ia hanya menatap Yuna penuh kebencian.
Yuna
tertawa kecil melihat Refi yang tak menjawab pertanyaannya. “Asal kamu tahu,
semua aset pribadi Yeriko, sudah berpindah ke tanganku. Sekalipun Yeriko
kembali sama kamu, kamu nggak akan mendapatkan harta dia sedikit pun.”
Refi
tersenyum sinis. “Kamu pikir, aku cuma cinta sama hartanya dia doang? Aku
menginginkan semuanya. Termasuk hati dan hidup dia.”
“Kamu
nggak akan mendapatkan dia dengan cara kayak gini. Jangan terlalu memaksakan
diri! Nanti kamu malah gila karena nggak bisa dapetin apa yang kamu mau.”
“Aku
nggak peduli. Aku akan ngelakuin apa pun untuk mendapatkan Yeriko kembali.
Termasuk melenyapkan kamu dari muka bumi ini!” tegas Refi dengan mata
berapi-api.
Yuna
hanya tersenyum menatap wajah Refi. “Kamu nggak akan dapetin dia walau kamu
bunuh aku. Sebaliknya, dia akan membenci kamu seumur hidupnya.”
Refi
mengerutkan wajahnya. Ia tak ingin berdebat dengan Yuna. Ia berbalik sambil
menatap tiga pria yang duduk di atas meja sambil menikmati cemilan. “Kalian
jaga dia! Jangan sampai lepas dan jangan dikasih makan!” perintah Refi.
Yuna
hanya menatap tubuh Refi yang perlahan menjauh darinya. Ia menyandarkan
kepalanya ke tiang bangunan yang terikat dengan tubuhnya. Kakinya mulai gatal
karena lantai yang kotor dan kumuh. Ia hanya bisa menahan rasa jijik saat semut
atau binatang lain mulai merayap ke tubuhnya.
“Nak,
yang kuat ya! Kita berjuang sama-sama. Semua akan baik-baik aja. Ayah kamu,
pasti akan nolongin kita,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca. Ia hanya bisa
menatap perutnya sendiri. Sedang tangannya terikat di belakang tiang yang
melekat di punggungnya.
“Lek,
aku melas sama cewek kui. Mesakne,” tutur pria berambut keriting itu kepada
pria yang berambut gundul.
“Iya.
Aku juga kasihan. Dia lagi hamil juga.”
“Hah!?
Dia lagi hamil?” tanya pria berambut keriting.
Pria
gundul dan pria bertato itu menganggukkan kepala.
“Ya
Allah ...!” Pria berambut keriting itu menjatuhkan lututnya sambil menengadah
kedua tangan. “Ampuni dosa-dosaku, Ya Allah! Simbok, Biyung! Ampuni anakmu iki.
Aku nggak mau jadi penjahat. Aku terpaksa ngelakuin ini semua karena diajak si
Gundul. Ya Allah ... dosaku dikasih ke Gundul semua! Soalnya dia yang ngajak
aku buat nyulik orang yang lagi hamil. Aku nggak mau kualat.”
Pria
yang dipanggil si Gundul itu langsung menoyor kepala pria berambut keriting
yang sedang bersimpuh di lantai. “Eh, aku juga diajak sama si Bos. Harusnya si
Bos yang nanggung dosa kita.”
“Kalian
berdua mau aku ajak. Berarti, dosa tetap ditanggung masing-masing.”
“Bos,
ini perempuan lagi hamil. Aku nggak mau kualat,” sahut si Gundul.
“Kamu
kira aku mau?” sahut pria bertato yang dipanggil si Bos itu.
“Terus
gimana ini? Kalau kita ketahuan polisi piye?”
“Makanya,
kita harus hati-hati. Jangan sampai ketahuan!” sahut pria bertato.
“Kalo
ketahuan gimana?”
“Kita
punya sandera, jangan goblok!”
“Bos,
aku baru ini nyulik orang. Kalo sandera kita kenapa-kenapa gimana?”
“Nggak
akan kenapa-kenapa. Kita jaga dia baik-baik!”
“Tadi
bilangnya Mbak Repi nggak boleh dikasih makan,” tutur si Gundul.
“Makan
nggak boleh. Tapi, dia nggak bilang kalau nggak boleh dikasih minum ‘kan?”
tanya si Keriting.
“Ah,
bener-bener. Carikan minuman, Ting!” perintah si Gundul.
“Minuman
apa?” tanya si Keriting.
Si
Gundul menoleh ke arah si Bos. “Minuman apa, Bos?”
“Kasih
bir aja!” sahutnya sambil menggigit tusukan gigi di mulutnya.
“Lagi
hamil, Bos. Jangan bunuh anaknya!” sahut si Gundul.
“Udah
tahu, masih nanya!?” seru si Bos. “Belikan aja minuman yang bikin kenyang. Jus,
es buah atau cendol!” lanjutnya.
“Oke,
Bos. Tak carikan cendol,” tutur si Keriting. “Kunci motor, mana?”
Si
Gundul langsung melemparkan kunci motor ke arah si Keriting. “Hati-Hati, Ting!
Jangan sampe ada yang ngikutin kita ke sini!”
“Siap!”
Si Keriting bergegas pergi, ia mengendarai sepeda motor butut untuk mencari
minuman yang bisa ia berikan untuk sanderanya.
Yuna
tersenyum sambil menatap tiga pria yang ada di hadapannya. Ia sedikit lega
karena orang-orang yang menculiknya bukanlah penjahat profesional dan baru
pertama kali melakukan kejahatan. Setidaknya, pria-pria itu masih punya hati
untuk bertindak bodoh.
“Ndul,
kamu jagain perempuan ini! Aku masih ada urusan penting yang harus aku urus!”
perintah si Bos.
“Oke,
Bos!”
Pria
bertato itu langsung pergi meninggalkan si Gundul sendirian.
Tak
berapa lama, si Keriting kembali dengan sepeda motornya sambil membawa beberapa
bungkus es cendol. Ia buru-buru menghampiri Yuna yang terikat di lantai.
“Mbak
...!” panggil si Keriting sambil menghampiri Yuna.
Yuna
tersenyum menatap wajah pria itu.
“Ini
es cendol buat Mbak. Minum, ya!” pintanya lirih. “Mbaknya lagi hamil, kasihan
bayinya.”
Yuna
tersenyum sambil mengangguk kecil. “Makasih, Mas!”
Si
Keriting mengangguk. Ia membuka ikatan plastik es tersebut dan membantu Yuna
untuk meminum es cendol tersebut.
“Masnya
tinggal di daerah sini?” tanya Yuna sambil menatap pria berambut keriting yang
ada di hadapannya tersebut.
Si
Keriting menggelengkan kepala.
“Kok,
bisa tahu ada warung jualan cendol di sekitar sini?” tanya Yuna.
“Sudah
sering ke sini, diajak sama Bos.”
“Nyulik
orang juga?” tanya Yuna menyelidik.
Si
Keriting menggelengkan kepala. “Ini baru pertama kali saya nyulik orang. Korban
pertama ibu hamil pula. Saya nggak tega, Mbak.”
Yuna
tersenyum menatap pria itu. “Kamu masih muda. Umur kamu berapa?” tanya Yuna.
“Dua
puluh dua, Mbak.”
“Kenapa
kamu cari kerjaan kayak gini? Kenapa nggak kerja yang bener?” tanya Yuna.
“Huft,
mau kerja yang bener. Tapi, zaman sekarang cari kerjaan susah.”
“Susahnya
kenapa?”
“Terlalu
banyak persaingan. Kalau nggak ada orang dalam, susah masuk perusahaan, Mbak.”
Yuna
tersenyum menatap pria itu. “Kenapa nggak mulai usaha? Jualan kopi misalnya.
Yang penting halal.”
“Nggak
ada modalnya, Mbak. Usaha kan butuh modal,” jawab si Keriting sambil membantu
Yuna untuk minum.
Yuna
tersenyum menatap pria muda yang penampilannya urakan itu. “Makasih ya es
cendolnya!” tutur Yuna. “Aku nggak akan lupa kebaikan kamu.”
Si
Keriting tersenyum. Ia memutar kepalanya, menoleh ke arah si Gundul yang sudah
tertidur di kursi. “Mbak, ini ada roti. Makan ya!” pintanya.
“Gimana
makannya? Tangan aku diikat gini.”
Si
Keriting tersenyum. Ia membuka bungkus roti dan menyuapkan ke mulut Yuna
sedikit demi sedikit.
“Mbak
makan dulu ya! Nanti, kalau bos besar datang. Aku nggak bisa kasih Mbak makanan
lagi,” bisik si Keriting.
Yuna
mengangguk. Ia tersenyum sambil memakan roti sedikit demi sedikit. Ia hanya
memikirkan anak yang ada di dalam perutnya. Ia tak peduli dengan tangan si
Keriting yang kotor, tak peduli lagi dengan lantai yang kotor dan ruangan yang
bau. Ia memaksakan diri untuk menelan makanan agar memiliki banyak tenaga untuk
menghadapi Refi dan melindungi anak yang ada di dalam perutnya.
((Bersambung ...))
Thanks buat yang udah bersedia baca sampai di sini.
Dukung terus supaya Yuna tetap strong ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment