Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 460 : Penculik Baik Hati

 


“Kamu masih punya keberanian buat ngelawan aku, hah!?” tanya Refi sambil mencengkeram rahang Yuna.

 

Yuna melirik tangan Refi yang gemetaran. Ia tahu kalau Refi masih memiliki rasa takut untuk menyakitinya.

 

“Yun, aku akan ngambil semua yang udah kamu rebut dari aku. Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup bahagia!” tegas Refi sambil menusukkan kuku tangannya ke leher Refi.

 

Yuna masih tak menyerah. Ia tetap menatap mata Refi penuh keberanian walau ia menahan rasa sakit di lehernya. “Yeriko nggak akan pernah kembali ke kamu lagi!” tegasnya lirih.

 

Refi semakin murka mendengar ucapan Yuna. Ia menahan amarahnya dan memilih melepaskan tangannya dari leher Yuna.

 

Yuna tersenyum sinis. “Apa yang kamu mau dari Yeriko? Hartanya dia?” tanyanya sambil menatap Refi.

 

Refi tak menyahut. Ia hanya menatap Yuna penuh kebencian.

 

Yuna tertawa kecil melihat Refi yang tak menjawab pertanyaannya. “Asal kamu tahu, semua aset pribadi Yeriko, sudah berpindah ke tanganku. Sekalipun Yeriko kembali sama kamu, kamu nggak akan mendapatkan harta dia sedikit pun.”

 

Refi tersenyum sinis. “Kamu pikir, aku cuma cinta sama hartanya dia doang? Aku menginginkan semuanya. Termasuk hati dan hidup dia.”

 

“Kamu nggak akan mendapatkan dia dengan cara kayak gini. Jangan terlalu memaksakan diri! Nanti kamu malah gila karena nggak bisa dapetin apa yang kamu mau.”

 

“Aku nggak peduli. Aku akan ngelakuin apa pun untuk mendapatkan Yeriko kembali. Termasuk melenyapkan kamu dari muka bumi ini!” tegas Refi dengan mata berapi-api.

 

Yuna hanya tersenyum menatap wajah Refi. “Kamu nggak akan dapetin dia walau kamu bunuh aku. Sebaliknya, dia akan membenci kamu seumur hidupnya.”

 

Refi mengerutkan wajahnya. Ia tak ingin berdebat dengan Yuna. Ia berbalik sambil menatap tiga pria yang duduk di atas meja sambil menikmati cemilan. “Kalian jaga dia! Jangan sampai lepas dan jangan dikasih makan!” perintah Refi.

 

Yuna hanya menatap tubuh Refi yang perlahan menjauh darinya. Ia menyandarkan kepalanya ke tiang bangunan yang terikat dengan tubuhnya. Kakinya mulai gatal karena lantai yang kotor dan kumuh. Ia hanya bisa menahan rasa jijik saat semut atau binatang lain mulai merayap ke tubuhnya.

 

“Nak, yang kuat ya! Kita berjuang sama-sama. Semua akan baik-baik aja. Ayah kamu, pasti akan nolongin kita,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca. Ia hanya bisa menatap perutnya sendiri. Sedang tangannya terikat di belakang tiang yang melekat di punggungnya.

 

“Lek, aku melas sama cewek kui. Mesakne,” tutur pria berambut keriting itu kepada pria yang berambut gundul.

 

“Iya. Aku juga kasihan. Dia lagi hamil juga.”

 

“Hah!? Dia lagi hamil?” tanya pria berambut keriting.

 

Pria gundul dan pria bertato itu menganggukkan kepala.

 

“Ya Allah ...!” Pria berambut keriting itu menjatuhkan lututnya sambil menengadah kedua tangan. “Ampuni dosa-dosaku, Ya Allah! Simbok, Biyung! Ampuni anakmu iki. Aku nggak mau jadi penjahat. Aku terpaksa ngelakuin ini semua karena diajak si Gundul. Ya Allah ... dosaku dikasih ke Gundul semua! Soalnya dia yang ngajak aku buat nyulik orang yang lagi hamil. Aku nggak mau kualat.”

 

Pria yang dipanggil si Gundul itu langsung menoyor kepala pria berambut keriting yang sedang bersimpuh di lantai. “Eh, aku juga diajak sama si Bos. Harusnya si Bos yang nanggung dosa kita.”

 

“Kalian berdua mau aku ajak. Berarti, dosa tetap ditanggung masing-masing.”

 

“Bos, ini perempuan lagi hamil. Aku nggak mau kualat,” sahut si Gundul.

 

“Kamu kira aku mau?” sahut pria bertato yang dipanggil si Bos itu.

 

“Terus gimana ini? Kalau kita ketahuan polisi piye?”

 

“Makanya, kita harus hati-hati. Jangan sampai ketahuan!” sahut pria bertato.

 

“Kalo ketahuan gimana?”

 

“Kita punya sandera, jangan goblok!”

 

“Bos, aku baru ini nyulik orang. Kalo sandera kita kenapa-kenapa gimana?”

 

“Nggak akan kenapa-kenapa. Kita jaga dia baik-baik!”

 

“Tadi bilangnya Mbak Repi nggak boleh dikasih makan,” tutur si Gundul.

 

“Makan nggak boleh. Tapi, dia nggak bilang kalau nggak boleh dikasih minum ‘kan?” tanya si Keriting.

 

“Ah, bener-bener. Carikan minuman, Ting!” perintah si Gundul.

 

“Minuman apa?” tanya si Keriting.

 

Si Gundul menoleh ke arah si Bos. “Minuman apa, Bos?”

 

“Kasih bir aja!” sahutnya sambil menggigit tusukan gigi di mulutnya.

 

“Lagi hamil, Bos. Jangan bunuh anaknya!” sahut si Gundul.

 

“Udah tahu, masih nanya!?” seru si Bos. “Belikan aja minuman yang bikin kenyang. Jus, es buah atau cendol!” lanjutnya.

 

“Oke, Bos. Tak carikan cendol,” tutur si Keriting. “Kunci motor, mana?”

 

Si Gundul langsung melemparkan kunci motor ke arah si Keriting. “Hati-Hati, Ting! Jangan sampe ada yang ngikutin kita ke sini!”

 

“Siap!” Si Keriting bergegas pergi, ia mengendarai sepeda motor butut untuk mencari minuman yang bisa ia berikan untuk sanderanya.

 

Yuna tersenyum sambil menatap tiga pria yang ada di hadapannya. Ia sedikit lega karena orang-orang yang menculiknya bukanlah penjahat profesional dan baru pertama kali melakukan kejahatan. Setidaknya, pria-pria itu masih punya hati untuk bertindak bodoh.

 

“Ndul, kamu jagain perempuan ini! Aku masih ada urusan penting yang harus aku urus!” perintah si Bos.

 

“Oke, Bos!”

 

Pria bertato itu langsung pergi meninggalkan si Gundul sendirian.

 

Tak berapa lama, si Keriting kembali dengan sepeda motornya sambil membawa beberapa bungkus es cendol. Ia buru-buru menghampiri Yuna yang terikat di lantai.

 

“Mbak ...!” panggil si Keriting sambil menghampiri Yuna.

 

Yuna tersenyum menatap wajah pria itu.

 

“Ini es cendol buat Mbak. Minum, ya!” pintanya lirih. “Mbaknya lagi hamil, kasihan bayinya.”

 

Yuna tersenyum sambil mengangguk kecil. “Makasih, Mas!”

 

Si Keriting mengangguk. Ia membuka ikatan plastik es tersebut dan membantu Yuna untuk meminum es cendol tersebut.

 

“Masnya tinggal di daerah sini?” tanya Yuna sambil menatap pria berambut keriting yang ada di hadapannya tersebut.

 

Si Keriting menggelengkan kepala.

 

“Kok, bisa tahu ada warung jualan cendol di sekitar sini?” tanya Yuna.

 

“Sudah sering ke sini, diajak sama Bos.”

 

“Nyulik orang juga?” tanya Yuna menyelidik.

 

Si Keriting menggelengkan kepala. “Ini baru pertama kali saya nyulik orang. Korban pertama ibu hamil pula. Saya nggak tega, Mbak.”

 

Yuna tersenyum menatap pria itu. “Kamu masih muda. Umur kamu berapa?” tanya Yuna.

 

“Dua puluh dua, Mbak.”

 

“Kenapa kamu cari kerjaan kayak gini? Kenapa nggak kerja yang bener?” tanya Yuna.

 

“Huft, mau kerja yang bener. Tapi, zaman sekarang cari kerjaan susah.”

 

“Susahnya kenapa?”

 

“Terlalu banyak persaingan. Kalau nggak ada orang dalam, susah masuk perusahaan, Mbak.”

 

Yuna tersenyum menatap pria itu. “Kenapa nggak mulai usaha? Jualan kopi misalnya. Yang penting halal.”

 

“Nggak ada modalnya, Mbak. Usaha kan butuh modal,” jawab si Keriting sambil membantu Yuna untuk minum.

 

Yuna tersenyum menatap pria muda yang penampilannya urakan itu. “Makasih ya es cendolnya!” tutur Yuna. “Aku nggak akan lupa kebaikan kamu.”

 

Si Keriting tersenyum. Ia memutar kepalanya, menoleh ke arah si Gundul yang sudah tertidur di kursi. “Mbak, ini ada roti. Makan ya!” pintanya.

 

“Gimana makannya? Tangan aku diikat gini.”

 

Si Keriting tersenyum. Ia membuka bungkus roti dan menyuapkan ke mulut Yuna sedikit demi sedikit.

 

 “Mbak makan dulu ya! Nanti, kalau bos besar datang. Aku nggak bisa kasih Mbak makanan lagi,” bisik si Keriting.

 

Yuna mengangguk. Ia tersenyum sambil memakan roti sedikit demi sedikit. Ia hanya memikirkan anak yang ada di dalam perutnya. Ia tak peduli dengan tangan si Keriting yang kotor, tak peduli lagi dengan lantai yang kotor dan ruangan yang bau. Ia memaksakan diri untuk menelan makanan agar memiliki banyak tenaga untuk menghadapi Refi dan melindungi anak yang ada di dalam perutnya.

 

((Bersambung ...))

Thanks buat yang udah bersedia baca sampai di sini. Dukung terus supaya Yuna tetap strong ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas