Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 461 : Semua Orang Bekerja Keras

 


“Yan, kamu udah dapat informasi keberadaan Refi?” tanya Yeriko lewat telepon.

 

“Saya baru keluar dari apartemennya. Nggak ada di lokasi,” jawab Riyan.

 

“Kamu udah pastikan?”

 

“Sudah, Pak Bos! Aku sudah cek lewat CCTV. Dia pergi dari pagi dan belum kembali ke apartemennya.”

 

“Cari terus sampai dapat!” perintah Yeriko.

 

“Siap, Pak Bos!”

 

Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. “Apa beneran si Refi yang ada di balik ini semua?” batin Yeriko.

 

“Yer, Gimana? Udah dapet informasi keberadaan Yuna?” tanya Chandra sambil menerobos masuk ke dalam ruang kerja Yeriko yang ada di rumahnya. Di belakangnya, sudah ada Lutfi, Satria dan dua sahabat baik Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku masih suruh Riyan cari keberadaan Refi.”

 

“Refi!?” Jheni melebarkan kelopak matanya. “Dia yang nyulik Yuna? Berani-beraninya dia sampai nyulik Yuna. Cari mati beneran ini anak. Kalau sampai Yuna kenapa-kenapa. Kubunuh anak itu!” ucapnya kesal.

 

“Belum pasti kalau Refi yang nyulik Yuna. Masih dugaan,” tutur Yeriko.

 

“Kenapa kamu nyuruh Riyan nyari Refi?” tanya Jheni.

 

“Karena salah satu pelayan di rumah mengakui kalau sudah membocorkan jadwal kegiatan Yuna. Kemungkinan, Refi juga sudah memata-matai rumah ini. Tapi, selama belum ada bukti yang kuat, kita nggak bisa menuduh Refi sebagai pelakunya.

 

“Nah, bener!” sahut Satria. “Menuduh orang lain tanpa bukti itu sama dengan fitnah. Nanti, jatuhnya ke pasal pencemaran nama baik.”

 

“Aih, ribet banget sih!?” sahut Jheni kesal.

 

“Udah, jangan berdebat di saat kayak gini!” sela Lutfi. “Kakak Ipar sudah ada di tangan penculik sejak beberapa jam lalu. Kalian masih punya waktu untuk berdebat, bukannya fokus nyari Kakak Ipar!?”

 

“Kalau beneran dia yang ngelakuin ini, aku nggak akan ngelepasin dia!” tegas Yeriko. Tatapannya menyiratkan amarah yang menakutkan.

 

“Aku heran ... kenapa si Reptil itu selalu cari masalah? Hidup damai di luar sana aja, kenapa sih?” sahut Lutfi.

 

Yeriko memijat kening sambil menundukkan kepala. Penampilannya yang berantakan membuat teman-teman yang lainnya tak berani bicara banyak.

 

“Sat, gimana dari Ditlantas? Bisa bantu?” tanya Yeriko sambil menyalakan ponselnya.

 

“Bisa, Yer. Aku juga lagi ngerahin anggota buat nyari.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya. “Thanks, Sat!”

 

“Nggak usah sungkan!” sahut Satria. “Udah tugasku sebagai teman.”

 

Jheni dan Icha hanya berdiri sambil bersandar di dinding. Mereka terus memantau postingan pencarian Yuna di media sosial.

 

Yeriko menempelkan ponsel ke telinganya. Ia menelepon Refi berkali-kali tapi tak mendapat jawaban.

 

“Aargh ...!” teriak Yeriko sambil membanting ponselnya ke sofa.

 

Semua orang langsung menoleh ke arah Yeriko. Mereka hanya saling pandang, tak ada yang bersuara melihat emosi Yeriko yang mulai tak terkendali.

 

Jheni menggigit jemari tangannya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini untuk menyelamatkan Yuna. “Yun, kamu pasti baik-baik aja, kan?” batin Jheni.

 

“Chan, telepon Riyan lagi!” perintah Yeriko. Ia menarik napas beberapa kali untuk menenangkan dirinya sendiri.

 

Chandra mengangguk, ia langsung menelepon Riyan untuk menanyakan keberadaan Refi.

 

“Jhen, tolong panggilin Bibi War!” perintah Yeriko.

 

Jheni mengangguk. Ia segera keluar dari ruangan tersebut untuk memanggil Bibi War.

 

Yeriko kembali meraih ponsel dan menelepon kakeknya. “Halo ...! Kek, aku pinjam lima ajudan Kakek. Suruh mereka ke rumahku sekarang juga!” pinta Yeriko begitu panggilan telepon dengan kakeknya tersambung.

 

“Ada apa? Kenapa tergesa-gesa begitu?” tanya Nurali dari seberang telepon.

 

“Aku butuh pendampingan seperti biasa.”

 

“Oke. Kakek suruh mereka ke sana sekarang juga.”

 

“Umh. Thanks!” Yeriko mengangguk sambil mematikan sambungan teleponnya.

 

Yeriko mengetuk-ngetuk dahinya. Ia terus memikirkan cara untuk menemukan Yuna secepatnya.

 

“Chan, dari perusahaan gimana? Belum ada informasi?” tanya Yeriko sambil menatap Chandra.

 

Chandra menggelengkan kepala. Ia melirik arloji di tangannya. Sudah empat sejak informasi hilangnya Yuna, mereka belum mendapatkan titik terang sedikit pun. Padahal, Yeriko sudah mengerahkan semua sumber daya yang ada untuk mencari keberadaan Yuna.

 

Yeriko menengadahkan kepalanya sambil bersandar di punggung sofa. “Yuna, kamu di mana?” tanyanya lirih.

 

“Yer, udah tersambung!” tutur Satria sambil menatap layar laptopnya.

 

“Gimana?” tanya Lutfi.

 

Satria langsung memerhatikan beberapa video dari National Traffic Management Center (NTMC) Polri. Ia sudah meminta izin akses untuk melakukan pencarian kendaraan yang kemungkinan besar membawa Yuna.

 

“Ada mobil atau motor yang mencurigakan?” tanya Yeriko.

 

“Jam berapa si Angga keluar dari rumah?” tanya Satria sambil meneliti video-video yang ada di layar laptopnya. Ia bisa dengan mudah mendapatkan izin akses dari kepolisian karena ia juga bagian dari prajurit negara sekaligus anak wakil walikota.

 

“Angga masih bareng Riyan. Mereka lagi cari Refi. Jam pastinya aku nggak tahu,” jawab Yeriko.

 

“CCTV rumah kamu, Yer! Pasti ada record waktu Yuna keluar dari rumah.”

 

“Bener!” Yeriko langsung bangkit dari tempat duduk. “Ruang CCTV ada di pos jaga, di depan. Kamu yang turun, Lut!” perintah Yeriko.

 

Lutfi mengerutkan keningnya. “Bukannya bisa diakses lewat komputer kamu, Yer?”

 

Yeriko menepuk dahinya. “Aku bingung banget.”

 

Lutfi menggeleng-gelengkan kepala. Ia langsung bergerak ke meja kerja Yeriko untuk mengecek rekaman CCTV yang ada di rumah tersebut. Ia bersama Satria terus-menerus meneliti setiap video yang ada.

 

“Lut, dalam waktu lima belas menit, harusnya mobil Angga sudah sampai di simpang lampu merah yang ini,” tutur Satria sambil menunjuk salah satu rekaman CCTV yang ada di laptopnya.

 

Lutfi langsung mengalihkan pandangannya ke laptop milik Satria. “Terus, mobil Angga muncul berapa menit?”

 

“Empat puluh lima menit!” seru Satria. Ia terus mengamati video yang sedang ia teliti sambil mencatat perkiraan waktu dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Kalau soal perkiraan waktu dan penyelidikan, Satria punya kemampuan yang baik.

 

“Ada enam mobil yang muncul dari jalan ini sebelum Angga muncul,” tutur Satria sambil memutar ulang video yang sedang ia amati.

 

“Kita selidiki enam mobil itu aja, Sat!” pinta Lutfi.

 

Satria mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku pantau rekaman CCTV di simpangan berikutnya.”

 

Satria dan Lutfi sibuk meneliti beberapa rekaman video lalu lintas yang waktunya sudah disesuaikan oleh Satria. Mereka mulai mencurigai minibus yang perjalanannya sesuai dengan perkiraan waktu yang dibuat Satria.

 

Yeriko masih berusaha menelepon Refi hingga puluhan kali. “Refi bangsaaat ...!” makinya kesal.

 

“Yang tenang, Yer! Jangan gegabah!” pinta Chandra. Ia menoleh ke arah pintu yang terbuka saat Jheni dan Bibi War masuk ke ruangan tersebut.

 

“Ada apa, Mas?” tanya Bibi War sambil menghampiri Yeriko.

 

“Siapin minuman dan makanan ya! Kasihan mereka,” pinta Yeriko. Ia tahu, semua orang sudah bekerja keras membantunya menemukan Yuna selama beberapa jam belakangan ini.

 

Bibi War menganggukkan kepala. Ia bergegas keluar dari ruangan tersebut dan menyiapkan makanan untuk Yeriko dan teman-temannya. Sebab, mereka sedang bekerja keras mencari Yuna dan tidak boleh sampai jatuh sakit karena kelelahan atau kelaparan.

 

Di ruang kerjanya, Yeriko dan teman-temannya masih terus memantau dan mencari kemungkinan keberadaan Yuna.

 

“Lut, Lut ...!” panggil Satria sambil menepuk bahu Lutfi. “Lihat ini!”

 

Lutfi langsung melihat bagian yang ditunjuk oleh Satria. “Kenapa?” tanya Lutfi sambil mengernyitkan dahi.

 

“Ini mobil yang sama. Dia masuk dari sini, keluar di sini.”

 

“Serius?”

 

Satria menganggukkan kepala. “Kamu tahu dari mana? Plat mobilnya beda, Sat.”

 

“Aku sudah menghitung kecepatan mobil ini. Kemungkinan, pelaku mengganti plat mobil untuk mengelabui kita semua.”

 

“Licik juga mereka,” tutur Lutfi sambil mengamati video yang ada di layar laptop milik Satria.

 

“Aargh ...! Sial ...!” seru Satria.

 

“Kenapa, Sat?” Chandra dan Yeriko langsung menoleh ke arah Satria.

 

“Mereka masuk ke jalanan yang nggak ada CCTV-nya.”

 

“Kita kehilangan jejak?” tanya Chandra.

 

Satria menganggukkan kepala. “Jhen, aku screenshoot mobil yang mencurigakan ini. Kamu upload ke media sosial. Fans kamu lumayan banyak. Kerahkan buat cari keberadaan mobil ini!” perintahnya.

 

Jheni mengangguk. “Gimana kalau kita buat grup? Biar lebih mudah dapetin kabar dan informasi terbaru.”

 

“Boleh, boleh,” sahut Satria. “Aku juga sudah perintahin anak buahku buat menyebar ke beberapa titik.

 

Jheni menarik napas dalam-dalam. Ia langsung membuat grup untuk mendapatkan update terbaru tentang Yuna.

 

“Yan, gimana? Udah dapet informasi keberadaan Refi?” tanya Yeriko melalui Voice Note di grup.

 

“Belum, Bos. Ini masih coba cari informasi ke beberapa tempat.” Riyan langsung merespon dengan cepat.

 

Jheni terlihat sangat gelisah. “Yuna ... kamu di mana?” tanyanya sambil mondar-mandir.

 

“Kamu tenang, Jhen. Yuna itu perempuan yang cerdas. Dia pasti baik-baik aja.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dia pasti tahu kalau kita bisa nolong dia. Dia wanita yang cerdas dan kuat. Dia pasti baik-baik aja,” ucapnya menenangkan dirinya sendiri. Namun, air mata Yeriko menetes saat teringat anak yang ada di dalam kandungan Yuna. “Gimana anak istriku sekarang? Apa mereka sudah makan?” tanyanya sambil menghapus air mata yang sudah ia tahan sejak beberapa jam lalu.

 

Chandra langsung menepuk-nepuk bahu Yeriko. “Sabar, Yer! Kita pasti bisa nemuin istri kamu.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. Tapi, ia tetap tak bisa menahan kesedihannya. Ia takut terjadi apa-apa dengan istri dan anaknya.

 

Semua orang bekerja keras mencari keberadaan Yuna hingga malam hari. Semua sumber daya telah dikerahkan, tapi belum ada kabar keberadaan Yuna. Yeriko juga terus menunggu telepon, ia pikir kalau penculiknya akan meneleponnya untuk meminta tebusan. Ia hanya ingin mengetahui kalau Yuna dalam keadaan baik-baik saja.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Aku tegang, no coment!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas