“Yan,
kamu udah dapat informasi keberadaan Refi?” tanya Yeriko lewat telepon.
“Saya
baru keluar dari apartemennya. Nggak ada di lokasi,” jawab Riyan.
“Kamu
udah pastikan?”
“Sudah,
Pak Bos! Aku sudah cek lewat CCTV. Dia pergi dari pagi dan belum kembali ke
apartemennya.”
“Cari
terus sampai dapat!” perintah Yeriko.
“Siap,
Pak Bos!”
Yeriko
langsung mematikan panggilan teleponnya. “Apa beneran si Refi yang ada di balik
ini semua?” batin Yeriko.
“Yer,
Gimana? Udah dapet informasi keberadaan Yuna?” tanya Chandra sambil menerobos
masuk ke dalam ruang kerja Yeriko yang ada di rumahnya. Di belakangnya, sudah
ada Lutfi, Satria dan dua sahabat baik Yuna.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Aku masih suruh Riyan cari keberadaan Refi.”
“Refi!?”
Jheni melebarkan kelopak matanya. “Dia yang nyulik Yuna? Berani-beraninya dia
sampai nyulik Yuna. Cari mati beneran ini anak. Kalau sampai Yuna
kenapa-kenapa. Kubunuh anak itu!” ucapnya kesal.
“Belum
pasti kalau Refi yang nyulik Yuna. Masih dugaan,” tutur Yeriko.
“Kenapa
kamu nyuruh Riyan nyari Refi?” tanya Jheni.
“Karena
salah satu pelayan di rumah mengakui kalau sudah membocorkan jadwal kegiatan
Yuna. Kemungkinan, Refi juga sudah memata-matai rumah ini. Tapi, selama belum
ada bukti yang kuat, kita nggak bisa menuduh Refi sebagai pelakunya.
“Nah,
bener!” sahut Satria. “Menuduh orang lain tanpa bukti itu sama dengan fitnah.
Nanti, jatuhnya ke pasal pencemaran nama baik.”
“Aih,
ribet banget sih!?” sahut Jheni kesal.
“Udah,
jangan berdebat di saat kayak gini!” sela Lutfi. “Kakak Ipar sudah ada di
tangan penculik sejak beberapa jam lalu. Kalian masih punya waktu untuk
berdebat, bukannya fokus nyari Kakak Ipar!?”
“Kalau
beneran dia yang ngelakuin ini, aku nggak akan ngelepasin dia!” tegas Yeriko.
Tatapannya menyiratkan amarah yang menakutkan.
“Aku
heran ... kenapa si Reptil itu selalu cari masalah? Hidup damai di luar sana
aja, kenapa sih?” sahut Lutfi.
Yeriko
memijat kening sambil menundukkan kepala. Penampilannya yang berantakan membuat
teman-teman yang lainnya tak berani bicara banyak.
“Sat,
gimana dari Ditlantas? Bisa bantu?” tanya Yeriko sambil menyalakan ponselnya.
“Bisa,
Yer. Aku juga lagi ngerahin anggota buat nyari.”
Yeriko
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Thanks, Sat!”
“Nggak
usah sungkan!” sahut Satria. “Udah tugasku sebagai teman.”
Jheni
dan Icha hanya berdiri sambil bersandar di dinding. Mereka terus memantau
postingan pencarian Yuna di media sosial.
Yeriko
menempelkan ponsel ke telinganya. Ia menelepon Refi berkali-kali tapi tak
mendapat jawaban.
“Aargh
...!” teriak Yeriko sambil membanting ponselnya ke sofa.
Semua
orang langsung menoleh ke arah Yeriko. Mereka hanya saling pandang, tak ada
yang bersuara melihat emosi Yeriko yang mulai tak terkendali.
Jheni
menggigit jemari tangannya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini
untuk menyelamatkan Yuna. “Yun, kamu pasti baik-baik aja, kan?” batin Jheni.
“Chan,
telepon Riyan lagi!” perintah Yeriko. Ia menarik napas beberapa kali untuk
menenangkan dirinya sendiri.
Chandra
mengangguk, ia langsung menelepon Riyan untuk menanyakan keberadaan Refi.
“Jhen,
tolong panggilin Bibi War!” perintah Yeriko.
Jheni
mengangguk. Ia segera keluar dari ruangan tersebut untuk memanggil Bibi War.
Yeriko
kembali meraih ponsel dan menelepon kakeknya. “Halo ...! Kek, aku pinjam lima
ajudan Kakek. Suruh mereka ke rumahku sekarang juga!” pinta Yeriko begitu
panggilan telepon dengan kakeknya tersambung.
“Ada
apa? Kenapa tergesa-gesa begitu?” tanya Nurali dari seberang telepon.
“Aku
butuh pendampingan seperti biasa.”
“Oke.
Kakek suruh mereka ke sana sekarang juga.”
“Umh.
Thanks!” Yeriko mengangguk sambil mematikan sambungan teleponnya.
Yeriko
mengetuk-ngetuk dahinya. Ia terus memikirkan cara untuk menemukan Yuna
secepatnya.
“Chan,
dari perusahaan gimana? Belum ada informasi?” tanya Yeriko sambil menatap
Chandra.
Chandra
menggelengkan kepala. Ia melirik arloji di tangannya. Sudah empat sejak
informasi hilangnya Yuna, mereka belum mendapatkan titik terang sedikit pun.
Padahal, Yeriko sudah mengerahkan semua sumber daya yang ada untuk mencari
keberadaan Yuna.
Yeriko
menengadahkan kepalanya sambil bersandar di punggung sofa. “Yuna, kamu di
mana?” tanyanya lirih.
“Yer,
udah tersambung!” tutur Satria sambil menatap layar laptopnya.
“Gimana?”
tanya Lutfi.
Satria
langsung memerhatikan beberapa video dari National Traffic Management Center
(NTMC) Polri. Ia sudah meminta izin akses untuk melakukan pencarian kendaraan
yang kemungkinan besar membawa Yuna.
“Ada
mobil atau motor yang mencurigakan?” tanya Yeriko.
“Jam
berapa si Angga keluar dari rumah?” tanya Satria sambil meneliti video-video
yang ada di layar laptopnya. Ia bisa dengan mudah mendapatkan izin akses dari
kepolisian karena ia juga bagian dari prajurit negara sekaligus anak wakil
walikota.
“Angga
masih bareng Riyan. Mereka lagi cari Refi. Jam pastinya aku nggak tahu,” jawab
Yeriko.
“CCTV
rumah kamu, Yer! Pasti ada record waktu Yuna keluar dari rumah.”
“Bener!”
Yeriko langsung bangkit dari tempat duduk. “Ruang CCTV ada di pos jaga, di
depan. Kamu yang turun, Lut!” perintah Yeriko.
Lutfi
mengerutkan keningnya. “Bukannya bisa diakses lewat komputer kamu, Yer?”
Yeriko
menepuk dahinya. “Aku bingung banget.”
Lutfi
menggeleng-gelengkan kepala. Ia langsung bergerak ke meja kerja Yeriko untuk
mengecek rekaman CCTV yang ada di rumah tersebut. Ia bersama Satria
terus-menerus meneliti setiap video yang ada.
“Lut,
dalam waktu lima belas menit, harusnya mobil Angga sudah sampai di simpang
lampu merah yang ini,” tutur Satria sambil menunjuk salah satu rekaman CCTV
yang ada di laptopnya.
Lutfi
langsung mengalihkan pandangannya ke laptop milik Satria. “Terus, mobil Angga
muncul berapa menit?”
“Empat
puluh lima menit!” seru Satria. Ia terus mengamati video yang sedang ia teliti
sambil mencatat perkiraan waktu dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Kalau
soal perkiraan waktu dan penyelidikan, Satria punya kemampuan yang baik.
“Ada
enam mobil yang muncul dari jalan ini sebelum Angga muncul,” tutur Satria
sambil memutar ulang video yang sedang ia amati.
“Kita
selidiki enam mobil itu aja, Sat!” pinta Lutfi.
Satria
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku pantau rekaman CCTV di simpangan
berikutnya.”
Satria
dan Lutfi sibuk meneliti beberapa rekaman video lalu lintas yang waktunya sudah
disesuaikan oleh Satria. Mereka mulai mencurigai minibus yang perjalanannya
sesuai dengan perkiraan waktu yang dibuat Satria.
Yeriko
masih berusaha menelepon Refi hingga puluhan kali. “Refi bangsaaat ...!”
makinya kesal.
“Yang
tenang, Yer! Jangan gegabah!” pinta Chandra. Ia menoleh ke arah pintu yang
terbuka saat Jheni dan Bibi War masuk ke ruangan tersebut.
“Ada
apa, Mas?” tanya Bibi War sambil menghampiri Yeriko.
“Siapin
minuman dan makanan ya! Kasihan mereka,” pinta Yeriko. Ia tahu, semua orang
sudah bekerja keras membantunya menemukan Yuna selama beberapa jam belakangan
ini.
Bibi
War menganggukkan kepala. Ia bergegas keluar dari ruangan tersebut dan
menyiapkan makanan untuk Yeriko dan teman-temannya. Sebab, mereka sedang
bekerja keras mencari Yuna dan tidak boleh sampai jatuh sakit karena kelelahan
atau kelaparan.
Di
ruang kerjanya, Yeriko dan teman-temannya masih terus memantau dan mencari
kemungkinan keberadaan Yuna.
“Lut,
Lut ...!” panggil Satria sambil menepuk bahu Lutfi. “Lihat ini!”
Lutfi
langsung melihat bagian yang ditunjuk oleh Satria. “Kenapa?” tanya Lutfi sambil
mengernyitkan dahi.
“Ini
mobil yang sama. Dia masuk dari sini, keluar di sini.”
“Serius?”
Satria
menganggukkan kepala. “Kamu tahu dari mana? Plat mobilnya beda, Sat.”
“Aku
sudah menghitung kecepatan mobil ini. Kemungkinan, pelaku mengganti plat mobil
untuk mengelabui kita semua.”
“Licik
juga mereka,” tutur Lutfi sambil mengamati video yang ada di layar laptop milik
Satria.
“Aargh
...! Sial ...!” seru Satria.
“Kenapa,
Sat?” Chandra dan Yeriko langsung menoleh ke arah Satria.
“Mereka
masuk ke jalanan yang nggak ada CCTV-nya.”
“Kita kehilangan jejak?” tanya Chandra.
Satria
menganggukkan kepala. “Jhen, aku screenshoot mobil yang mencurigakan ini. Kamu
upload ke media sosial. Fans kamu lumayan banyak. Kerahkan buat cari keberadaan
mobil ini!” perintahnya.
Jheni
mengangguk. “Gimana kalau kita buat grup? Biar lebih mudah dapetin kabar dan
informasi terbaru.”
“Boleh,
boleh,” sahut Satria. “Aku juga sudah perintahin anak buahku buat menyebar ke
beberapa titik.”
Jheni
menarik napas dalam-dalam. Ia langsung membuat grup untuk mendapatkan update
terbaru tentang Yuna.
“Yan,
gimana? Udah dapet informasi keberadaan Refi?” tanya Yeriko melalui Voice Note
di grup.
“Belum,
Bos. Ini masih coba cari informasi ke beberapa tempat.” Riyan langsung merespon
dengan cepat.
Jheni
terlihat sangat gelisah. “Yuna ... kamu di mana?” tanyanya sambil
mondar-mandir.
“Kamu
tenang, Jhen. Yuna itu perempuan yang cerdas. Dia pasti baik-baik aja.”
Yeriko
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dia pasti tahu kalau kita bisa nolong dia. Dia
wanita yang cerdas dan kuat. Dia pasti baik-baik aja,” ucapnya menenangkan
dirinya sendiri. Namun, air mata Yeriko menetes saat teringat anak yang ada di
dalam kandungan Yuna. “Gimana anak istriku sekarang? Apa mereka sudah makan?”
tanyanya sambil menghapus air mata yang sudah ia tahan sejak beberapa jam lalu.
Chandra
langsung menepuk-nepuk bahu Yeriko. “Sabar, Yer! Kita pasti bisa nemuin istri
kamu.”
Yeriko
mengangguk-anggukkan kepala. Tapi, ia tetap tak bisa menahan kesedihannya. Ia
takut terjadi apa-apa dengan istri dan anaknya.
Semua
orang bekerja keras mencari keberadaan Yuna hingga malam hari. Semua sumber
daya telah dikerahkan, tapi belum ada kabar keberadaan Yuna. Yeriko juga terus
menunggu telepon, ia pikir kalau penculiknya akan meneleponnya untuk meminta
tebusan. Ia hanya ingin mengetahui kalau Yuna dalam keadaan baik-baik saja.
((Bersambung ...))
Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Aku
tegang, no coment!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment