“Ref,
kamu nggak usah khawatir!” tutur Deny sambil menatap Refi yang sudah gelisah
sejak mereka keluar dari perusahaan. “Aku akan selesaikan semuanya.”
Refi
tak menyahut. Ia merasa kalau Deny sama sekali tidak berguna. Sudah dua hari
dia melakukan negosiasi dengan pihak perusahaan dan masih saja tidak ada
hasilnya. Membuat Refi tak lagi mempercayai Deny.
“Kamu
jangan bertindak sendiri!” pinta Deny.
Refi
tak menyahut. Kali ini, ia tidak mendengarkan ucapan dari Deny. Setelah Deny
keluar dari apartemennya, ia memilih untuk pergi sendiri mencari Yeriko di
perusahaannya.
Refi
buru-buru pergi ke Galaxy Group untuk menemui Yeriko, mempertanyakan apa yang
sebenarnya sudah ia lakukan. Ia tak menyangka kalau Yeriko memiliki hubungan
dengan SD Entertainment. Ia terbayang wajah Yeriko yang tersenyum saat
peresmian kantor cabang SD Entertainment Surabaya.
“Maaf,
Mbak ... cari siapa?” tanya salah seorang resepsionis begitu melihat Refi
menyelonong masuk ke perusahaan.
Refi
tak menyahut. Ia berusaha memasuki area pintu masuk perusahaan. Namun, area
masuk ke perusahaan tersebut sudah dipasangi Flap Barrier Gate. Ia
mengernyitkan dahi sambil menghentikan langkahnya.
Dua
orang resepsionis yang bertugas menahan tawa melihat tingkah Refi. Mereka sudah
sangat hapal dengan Refi yang kerap kali berbuat onar walau ditolak oleh bos
mereka berkali-kali.
Refi
menatap dua resepsionis yang ada di sana dan menghampirinya. “Eh, gimana
caranya masuk ke sana? Pake kartu pengenal?” tanya Refi.
Dua
resepsionis itu menggelengkan kepala.
“Terus?”
“Pake
sidik jari, Mbak. Hanya karyawan dan orang yang terdaftar di perusahaan yang
boleh masuk.”
“Aku
mau ketemu Yeriko. Kamu tahu aku siapanya Yeriko? Kemarin, aku baru aja masuk
ke sini. Kenapa sekarang pake pintu penghalang kayak gini!?” seru Refi kesal.
“Maaf,
Mbak. Kalau belum ada janji, sebaiknya nunggu di lobi saja,” tutur resepsionis
itu sambil tersenyum manis.
“Aku
mau ketemu sama Yeriko sekarang juga! Suruh bos kalian itu turun ke sini!”
“Maaf,
Mbak. Pak Bos nggak bisa ditemui karena lagi dinas ke luar kota. Tidak ada di
kantor.”
“Aku
nggak percaya. Paling cuma akal-akalan dia aja karena nggak mau ketemu sama aku
‘kan?” tanya Refi sambil menatap dua resepsionis cantik itu.
“Udah
tahu kalau Bos nggak mau ditemui. Kenapa masih maksa mau ketemu sama Pak Bos?”
tanya resepsionis sambil tersenyum sinis.
Refi
mendengus kesal ke arah dua resepsionis yang ada di hadapannya. “Awas ya! Kalau
aku berhasil bikin Yeriko balik ke aku dan nikah sama dia. Kalian berdua orang
pertama yang aku pecat!” maki Refi dalam hati.
“Mbak,
kalau nggak percaya sama kami. Mbak Refi tunggu aja di situ sampai Bos muncul!”
perintah resepsionis itu sambil menunjuk deretan sofa yang ada di sana.
Refi
mengerutkan wajah. Ia berjalan menuju sofa sambil menahan kekesalan. Ia tidak
menyangka kalau Yeriko begitu berniat mencegahnya masuk ke dalam perusahaan.
Sistem keamanan di perusahaannya semakin sulit untuk ia tembus. Lebih mudah
mengelabuhi satpam daripada merayu mesin yang tidak akan pernah mendengarkan
ucapannya.
“Keenakan
banget si Yuna dapet fasilitas mewah dan perlindungan dari Yeriko. Harusnya,
ini semua punyaku. Bukan punya cewek gila dan nggak tahu diri itu!” seru Refi
dalam hati.
Refi
terus menunggu Yeriko di lobi selama beberapa jam. Semua orang mulai keluar
dari kantor perusahaan tersebut. Satu persatu, mereka meninggalkan perusahaan.
Hingga perusahaan ini sepi, Yeriko tak kunjung muncul di hadapannya.
“Apa
dia lembur ya?” tanya Refi sambil melirik jam di ponselnya yang sudah
menunjukkan jam tujuh malam.
“Permisi,
Mbak! Masih nunggu siapa?” tanya salah seorang penjaga keamanan sambil menatap
Refi yang masih duduk di sofa.
“Nunggu
Yeriko,” jawab Refi ketus.
“Sudah
tidak ada siapa pun di gedung ini. Saya mau kunci gedung ini karena sudah
malam.”
Refi
menghela napas. Ia akhirnya menyerah menunggu kedatangan Yeriko. Ternyata,
Yeriko memang tidak ada di perusahaannya. Dengan terpaksa ia kembali ke
apartemen sambil mencari cara untuk bertemu dengan Yeriko.
Di
dalam kamar apartemennya, Refi mondar-mandir sambil mencoba menghubungi nomor
ponsel Yeriko. Namun, ia tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Bahkan, ia baru
menyadari kalau nomor ponselnya diblokir oleh Yeriko setelah beberapa kali
mencoba menghubungi pria itu.
“Ngeselin
banget!” seru Refi sambil memaki ponselnya sendiri. “Kenapa nomerku selalu
diblokir. Kalau mau hubungin aku aja baru dibuka blokirnya?”
“Aargh
...!” Refi mengacak-acak rambutnya sendiri karena tak bisa menemukan Yeriko di
perusahaan. Ia berharap, bisa menemukan Yeriko keesokan harinya.
Tepat
jam sepuluh pagi, Refi beringsut dari apartemennya menuju ke rumah Yeriko. Ia
langsung memasuki pagar rumah yang sedikit terbuka. Kebetulan, tidak ada orang
yang sedang berjaga di pos tersebut.
“Eh,
Mbak ... Mbak! Mbak siapa? Kok, nyelonong masuk?” Seorang pria setengah baya
berseragam satpam langsung menghampiri Refi.
“Aku
mau ketemu sama Yeriko!” jawab Refi ketus.
“Oh
... Mas Yeri lagi nggak ada di rumah.”
“Kalo
gitu, aku mau ketemu sama istrinya.”
“Istrinya
juga nggak ada di rumah.”
“Halah,
paling akal-akalan dia aja supaya dia nggak ketemu sama aku,” celetuk Refi. Ia
memaksa melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.
“Yeriko
...!” teriak Refi. “Keluar kamu!”
Pintu
rumah Yeriko terbuka, terlihat seorang wanita setengah baya keluar dari rumah
tersebut. “Ngapain teriak-teriak di depan rumah orang? Nggak punya etika!”
sapanya pada Refi yang berdiri di hadapannya.
“Mana
Yeriko?” tanya Refi balik.
“Mas
Yeri lagi ke Eropa.”
“Bohong!”
sahut Refi kesal.
“Buat
apa aku bohong? Nggak bisa jadi duit!”
“Bibi
mau ngelindungi si Yuna itu?” tanya Refi sambil menatap wajah Bibi War. “Nggak
usah halangi aku! Emangnya Bibi siapa? Pembantu aja, kebanyakan gaya!”
Bibi
War langsung naik pitam mendengar ucapan Refi. “Seumur hidup, Bibi memang cuma
jadi pembantu. Tapi, Mas Yeri dan Mbak Yuna nggak pernah mengatakan hal yang
menyakiti hati Bibi. Bahkan, mereka berdua menganggap Bibi seperti mamanya
sendiri.”
Refi
semakin kesal karena pembantu Yeriko membandingkan dirinya dengan Yuna.
Bibi
War tersenyum sinis. “Untungnya Mas Yeri nggak buta. Dia memilih Mbak Yuna
untuk dijadikan istri. Wanita yang baik, sopan dan berpendidikan. Nggak kayak
kamu!”
Refi
menatap kesal ke arah Bibi War. Ia mengunci bibirnya rapat-rapat tapi matanya
memancarkan kebencian.
“Kalau
cuma mau bikin onar, lebih baik pergi dari sini!” seru Bibi War.
Refi
mengerutkan hidungnya. Ia kesal karena dirinya direndahkan oleh seorang
pembantu di rumah Yeriko. Jika ia yang menjadi nyonya di rumah ini, Bibi War
tidak mungkin memiliki keberanian untuk menghina dirinya.
“Aku
mau ketemu sama Yeriko.”
“Bibi
udah bilang kalau Mas Yeri lagi ke Eropa.”
“Kalo
gitu, aku mau ketemu sama Yuna.”
“Nggak
bisa!” sahut Bibi War.
“Kenapa?
Aku ada perlu sama dia. Penting banget.”
“Bibi
tahu kelakuan kamu. Kamu tahu kalau Mas Yeri nggak ada di rumah. Makanya,
datang ke sini buat nyerang Mbak Yuna?”
“Bi,
aku nggak bawa senjata apa pun. Aku cuma mau ngomong penting sama dia.”
“Bibi
nggak percaya!”
Refi
menghentakkan kaki sambil mengerutkan hidungnya.
“Pak
Satpam, bawa dia keluar dari halaman rumah ini! Lagian, kenapa orang gila ini
bisa masuk?”
“Maaf,
Bi. Tadi Bapak ke toilet sebentar. Eh, Mbaknya udah nyelonong masuk gerbang
gitu aja.” Satpam tersebut langsung menarik lengan Refi.
“Aku
nggak akan pergi sebelum ketemu sama Yuna!” seru Refi sambil berusaha
melepaskan lengannya dari tangan satpam yang menyeretnya.
“Mbak
Yuna nggak ada di rumah. Sebaiknya, kamu pulang aja!” sahut Bibi War.
“Aku
akan tunggu dia sampai pulang ke rumah! Aku butuh penjelasan dari dia,” seru
Refi. Ia masih berusaha menghindari tangan Satpam yang ingin menyeret tubuhnya
keluar dari halaman rumah tersebut.
“Kamu
sudah gila ya!?” sentak Bibi War. Sekalipun Mbak Yuna ada di rumah, Bibi nggak
akan ngebiarin dia ketemu sama orang gila kayak kamu.”
“Aku
nggak gila, Bi!” sahut Refi. “Aku cuma mau ngomong sama dia. Cuma ngomong
sebentar aja. Bibi nggak perlu takut kalau aku bakal ngelukain dia. Please,
suruh dia keluar sekarang juga!”
“Mbak
Yuna nggak ada di rumah ini. Dia lagi keluar,” jawab Bibi War.
Refi
tak menyerah. Ia berusaha mempertahankan dirinya agar tidak diusir dari halaman
rumah Yeriko.
Saat
semua orang berkerumun, membantu Refi agar segera keluar dari rumah ... mobil
Jheni tiba-tiba masuk ke halaman rumah tersebut.
Semua
orang langsung menatap kedatangan mobil tersebut termasuk Refi. Ia tersenyum
senang karena bisa bertemu dengan Yuna untuk meminta penjelasan terkait
karirnya sebagai artis yang dihentikan begitu saja oleh pihak perusahaan yang
menaunginya.
(( Bersambung ...))
Thanks udah dukung terus ceritanya sampai di sini. Apa
yang akan dilakukan Refi saat Mr. Ye nggak ada ya? Tunggu kelanjutan kisahnya
besok lagi ya... Thanks atas dukungan kalian semua.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi


