Friday, February 13, 2026

Perfect Hero Bab 447 : Mencari Penjelasan

 


“Ref, kamu nggak usah khawatir!” tutur Deny sambil menatap Refi yang sudah gelisah sejak mereka keluar dari perusahaan. “Aku akan selesaikan semuanya.”

 

Refi tak menyahut. Ia merasa kalau Deny sama sekali tidak berguna. Sudah dua hari dia melakukan negosiasi dengan pihak perusahaan dan masih saja tidak ada hasilnya. Membuat Refi tak lagi mempercayai Deny.

 

“Kamu jangan bertindak sendiri!” pinta Deny.

 

Refi tak menyahut. Kali ini, ia tidak mendengarkan ucapan dari Deny. Setelah Deny keluar dari apartemennya, ia memilih untuk pergi sendiri mencari Yeriko di perusahaannya.

 

Refi buru-buru pergi ke Galaxy Group untuk menemui Yeriko, mempertanyakan apa yang sebenarnya sudah ia lakukan. Ia tak menyangka kalau Yeriko memiliki hubungan dengan SD Entertainment. Ia terbayang wajah Yeriko yang tersenyum saat peresmian kantor cabang SD Entertainment Surabaya.

 

“Maaf, Mbak ... cari siapa?” tanya salah seorang resepsionis begitu melihat Refi menyelonong masuk ke perusahaan.

 

Refi tak menyahut. Ia berusaha memasuki area pintu masuk perusahaan. Namun, area masuk ke perusahaan tersebut sudah dipasangi Flap Barrier Gate. Ia mengernyitkan dahi sambil menghentikan langkahnya.

 

Dua orang resepsionis yang bertugas menahan tawa melihat tingkah Refi. Mereka sudah sangat hapal dengan Refi yang kerap kali berbuat onar walau ditolak oleh bos mereka berkali-kali.

 

Refi menatap dua resepsionis yang ada di sana dan menghampirinya. “Eh, gimana caranya masuk ke sana? Pake kartu pengenal?” tanya Refi.

 

Dua resepsionis itu menggelengkan kepala.

 

“Terus?”

 

“Pake sidik jari, Mbak. Hanya karyawan dan orang yang terdaftar di perusahaan yang boleh masuk.”

 

“Aku mau ketemu Yeriko. Kamu tahu aku siapanya Yeriko? Kemarin, aku baru aja masuk ke sini. Kenapa sekarang pake pintu penghalang kayak gini!?” seru Refi kesal.

 

“Maaf, Mbak. Kalau belum ada janji, sebaiknya nunggu di lobi saja,” tutur resepsionis itu sambil tersenyum manis.

 

“Aku mau ketemu sama Yeriko sekarang juga! Suruh bos kalian itu turun ke sini!”

 

“Maaf, Mbak. Pak Bos nggak bisa ditemui karena lagi dinas ke luar kota. Tidak ada di kantor.”

 

“Aku nggak percaya. Paling cuma akal-akalan dia aja karena nggak mau ketemu sama aku ‘kan?” tanya Refi sambil menatap dua resepsionis cantik itu.

 

“Udah tahu kalau Bos nggak mau ditemui. Kenapa masih maksa mau ketemu sama Pak Bos?” tanya resepsionis sambil tersenyum sinis.

 

Refi mendengus kesal ke arah dua resepsionis yang ada di hadapannya. “Awas ya! Kalau aku berhasil bikin Yeriko balik ke aku dan nikah sama dia. Kalian berdua orang pertama yang aku pecat!” maki Refi dalam hati.

 

“Mbak, kalau nggak percaya sama kami. Mbak Refi tunggu aja di situ sampai Bos muncul!” perintah resepsionis itu sambil menunjuk deretan sofa yang ada di sana.

 

Refi mengerutkan wajah. Ia berjalan menuju sofa sambil menahan kekesalan. Ia tidak menyangka kalau Yeriko begitu berniat mencegahnya masuk ke dalam perusahaan. Sistem keamanan di perusahaannya semakin sulit untuk ia tembus. Lebih mudah mengelabuhi satpam daripada merayu mesin yang tidak akan pernah mendengarkan ucapannya.

 

“Keenakan banget si Yuna dapet fasilitas mewah dan perlindungan dari Yeriko. Harusnya, ini semua punyaku. Bukan punya cewek gila dan nggak tahu diri itu!” seru Refi dalam hati.

 

Refi terus menunggu Yeriko di lobi selama beberapa jam. Semua orang mulai keluar dari kantor perusahaan tersebut. Satu persatu, mereka meninggalkan perusahaan. Hingga perusahaan ini sepi, Yeriko tak kunjung muncul di hadapannya.

 

“Apa dia lembur ya?” tanya Refi sambil melirik jam di ponselnya yang sudah menunjukkan jam tujuh malam.

 

“Permisi, Mbak! Masih nunggu siapa?” tanya salah seorang penjaga keamanan sambil menatap Refi yang masih duduk di sofa.

 

“Nunggu Yeriko,” jawab Refi ketus.

 

“Sudah tidak ada siapa pun di gedung ini. Saya mau kunci gedung ini karena sudah malam.”

 

Refi menghela napas. Ia akhirnya menyerah menunggu kedatangan Yeriko. Ternyata, Yeriko memang tidak ada di perusahaannya. Dengan terpaksa ia kembali ke apartemen sambil mencari cara untuk bertemu dengan Yeriko.

 

Di dalam kamar apartemennya, Refi mondar-mandir sambil mencoba menghubungi nomor ponsel Yeriko. Namun, ia tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Bahkan, ia baru menyadari kalau nomor ponselnya diblokir oleh Yeriko setelah beberapa kali mencoba menghubungi pria itu.

 

“Ngeselin banget!” seru Refi sambil memaki ponselnya sendiri. “Kenapa nomerku selalu diblokir. Kalau mau hubungin aku aja baru dibuka blokirnya?”

 

“Aargh ...!” Refi mengacak-acak rambutnya sendiri karena tak bisa menemukan Yeriko di perusahaan. Ia berharap, bisa menemukan Yeriko keesokan harinya.

 

 

 

Tepat jam sepuluh pagi, Refi beringsut dari apartemennya menuju ke rumah Yeriko. Ia langsung memasuki pagar rumah yang sedikit terbuka. Kebetulan, tidak ada orang yang sedang berjaga di pos tersebut.

 

“Eh, Mbak ... Mbak! Mbak siapa? Kok, nyelonong masuk?” Seorang pria setengah baya berseragam satpam langsung menghampiri Refi.

 

“Aku mau ketemu sama Yeriko!” jawab Refi ketus.

 

“Oh ... Mas Yeri lagi nggak ada di rumah.”

 

“Kalo gitu, aku mau ketemu sama istrinya.”

 

“Istrinya juga nggak ada di rumah.”

 

“Halah, paling akal-akalan dia aja supaya dia nggak ketemu sama aku,” celetuk Refi. Ia memaksa melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.

 

“Yeriko ...!” teriak Refi. “Keluar kamu!”

 

Pintu rumah Yeriko terbuka, terlihat seorang wanita setengah baya keluar dari rumah tersebut. “Ngapain teriak-teriak di depan rumah orang? Nggak punya etika!” sapanya pada Refi yang berdiri di hadapannya.

 

“Mana Yeriko?” tanya Refi balik.

 

“Mas Yeri lagi ke Eropa.”

 

“Bohong!” sahut Refi kesal.

 

“Buat apa aku bohong? Nggak bisa jadi duit!”

 

“Bibi mau ngelindungi si Yuna itu?” tanya Refi sambil menatap wajah Bibi War. “Nggak usah halangi aku! Emangnya Bibi siapa? Pembantu aja, kebanyakan gaya!”

 

Bibi War langsung naik pitam mendengar ucapan Refi. “Seumur hidup, Bibi memang cuma jadi pembantu. Tapi, Mas Yeri dan Mbak Yuna nggak pernah mengatakan hal yang menyakiti hati Bibi. Bahkan, mereka berdua menganggap Bibi seperti mamanya sendiri.”

 

Refi semakin kesal karena pembantu Yeriko membandingkan dirinya dengan Yuna.

 

Bibi War tersenyum sinis. “Untungnya Mas Yeri nggak buta. Dia memilih Mbak Yuna untuk dijadikan istri. Wanita yang baik, sopan dan berpendidikan. Nggak kayak kamu!”

 

Refi menatap kesal ke arah Bibi War. Ia mengunci bibirnya rapat-rapat tapi matanya memancarkan kebencian.

 

“Kalau cuma mau bikin onar, lebih baik pergi dari sini!” seru Bibi War.

 

Refi mengerutkan hidungnya. Ia kesal karena dirinya direndahkan oleh seorang pembantu di rumah Yeriko. Jika ia yang menjadi nyonya di rumah ini, Bibi War tidak mungkin memiliki keberanian untuk menghina dirinya.

 

“Aku mau ketemu sama Yeriko.”

 

“Bibi udah bilang kalau Mas Yeri lagi ke Eropa.”

 

“Kalo gitu, aku mau ketemu sama Yuna.”

 

“Nggak bisa!” sahut Bibi War.

 

“Kenapa? Aku ada perlu sama dia. Penting banget.”

 

“Bibi tahu kelakuan kamu. Kamu tahu kalau Mas Yeri nggak ada di rumah. Makanya, datang ke sini buat nyerang Mbak Yuna?”

 

“Bi, aku nggak bawa senjata apa pun. Aku cuma mau ngomong penting sama dia.”

 

“Bibi nggak percaya!”

 

Refi menghentakkan kaki sambil mengerutkan hidungnya.

 

“Pak Satpam, bawa dia keluar dari halaman rumah ini! Lagian, kenapa orang gila ini bisa masuk?”

 

“Maaf, Bi. Tadi Bapak ke toilet sebentar. Eh, Mbaknya udah nyelonong masuk gerbang gitu aja.” Satpam tersebut langsung menarik lengan Refi.

 

“Aku nggak akan pergi sebelum ketemu sama Yuna!” seru Refi sambil berusaha melepaskan lengannya dari tangan satpam yang menyeretnya.

 

“Mbak Yuna nggak ada di rumah. Sebaiknya, kamu pulang aja!” sahut Bibi War.

 

“Aku akan tunggu dia sampai pulang ke rumah! Aku butuh penjelasan dari dia,” seru Refi. Ia masih berusaha menghindari tangan Satpam yang ingin menyeret tubuhnya keluar dari halaman rumah tersebut.

 

“Kamu sudah gila ya!?” sentak Bibi War. Sekalipun Mbak Yuna ada di rumah, Bibi nggak akan ngebiarin dia ketemu sama orang gila kayak kamu.”

 

“Aku nggak gila, Bi!” sahut Refi. “Aku cuma mau ngomong sama dia. Cuma ngomong sebentar aja. Bibi nggak perlu takut kalau aku bakal ngelukain dia. Please, suruh dia keluar sekarang juga!”

 

“Mbak Yuna nggak ada di rumah ini. Dia lagi keluar,” jawab Bibi War.

 

Refi tak menyerah. Ia berusaha mempertahankan dirinya agar tidak diusir dari halaman rumah Yeriko.

 

Saat semua orang berkerumun, membantu Refi agar segera keluar dari rumah ... mobil Jheni tiba-tiba masuk ke halaman rumah tersebut.

 

Semua orang langsung menatap kedatangan mobil tersebut termasuk Refi. Ia tersenyum senang karena bisa bertemu dengan Yuna untuk meminta penjelasan terkait karirnya sebagai artis yang dihentikan begitu saja oleh pihak perusahaan yang menaunginya.

 

 (( Bersambung ...))

Thanks udah dukung terus ceritanya sampai di sini. Apa yang akan dilakukan Refi saat Mr. Ye nggak ada ya? Tunggu kelanjutan kisahnya besok lagi ya... Thanks atas dukungan kalian semua.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 446 : Penghentian Tanpa Alasan

 


“Kak, kenapa jadwal kegiatan Refi harus dihentikan semua?” tanya Deny. Ia sudah melakukan negosiasi selama berjam-jam untuk membuat Refi tetap bertahan di acara yang sudah dijadwalkan sebelumnya.

 

“Ini sudah keputusan dari atasan kami. Untuk sementara, Refi off dari dunia hiburan sampai ada keputusan selanjutnya dari pemilik perusahaan.”

 

“Apa nggak bisa ditunda sampai acara yang sudah dijadwalkan selesai?” tanya Deny.

 

“Kami nggak bisa melanggar keputusan dari pimpinan perusahaan. Kamu suruh aja si Refi istirahat dulu selama sebulan ke depan.”

 

“Kak, kalau Refi nggak ada job. Otomatis nggak akan ada pemasukan buat dia.”

 

“Setidaknya, nggak sampai pemutusan kontrak. Dia akan tetap menerima gaji bulanannya. Kendalikan artis kamu itu supaya nggak bikin ulah dan bikin pimpinan kami murka. Lebih baik, kamu ajak aja dia liburan!”

 

Deny terdiam. Ia sudah berusaha membujuk Ajeng untuk berbicara dengan pimpinan perusahaan secara langsung. Namun, ia tetap mendapatkan hasil yang tidak memuaskan dan membuat ia tak bersemangat.

 

“Den, ini sudah hampir larut malam. Saya harus segera kembali ke rumah.” Ajeng bangkit dari tempat duduknya.

 

Deny menarik napas dan menganggukkan kepala. Ia benar-benar sakit kepala karena semua aktivitas syuting untuk Refi dihentikan oleh pimpinan perusahaan dengan alasan yang tidak ia ketahui. Ia keluar dari perusahaan dengan langkah tak bersemangat.

 

“Den ...!” panggil Refi yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.

 

Deny langsung mengangkat wajahnya menatap Refi. “Ref, kamu kenapa di sini?”

 

“Ada masalah apa?” tanya Refi saat melihat wajah Deny tak bersemangat.

 

Deny menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terduduk lemas di atas birai yang ada di dekatnya. “Ck, pusing aku.”

 

“Pusing kenapa?” tanya Refi.

 

“Semua jadwal kamu di-cancel. Perusahaan meliburkan kamu selama sebulan ke depan.”

 

“What!?” Refi membelalakkan matanya menatap Deny. “Serius!?”

 

Deny menganggukkan kepala. “Aku udah nego berjam-jam sama Ajeng. Tetep nggak ada hasilnya. Bangsat!” makinya.

 

Refi menghela napas. “Aku salah apa? Kenapa jadwal aku tiba-tiba di-cancel kayak gini? Kontrak gimana?” tanya Refi.

 

“Kontrak masih jalan. Masalahnya, kamu diliburkan selama sebulan. Kalo kamu nggak ada job, sama aja artis nggak berduit!”

 

“Kamu itu managerku. Harusnya kamu yang bisa ngatur semuanya. Semua jadwal aku tiba-tiba di-cancel kayak gini, kamu nggak tahu penyebabnya? Nggak becus!” gerutu Refi.

 

“Heh, kamu sadar nggak sama apa yang aku lakuin? Aku udah ngelakuin banyak hal buat kamu. Nggak ada terima kasihnya sama sekali!” seru Deny tak mau kalah.

 

Refi menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Ia berusaha menenangkan perasaannya sendiri.

 

“Pasti ada seseorang di balik ini semua. Nggak mungkin aku tiba-tiba jadwal yang udah diatur, dibatalin gitu aja sama pimpinan perusahaan,” tutur Deny. “Apalagi, nggak ada alasan yang jelas.”

 

Refi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bisa jadi emang kayak gitu. Kira-kira, siapa orang yang udah bikin ulah di belakang kita?” tanya Refi.

 

Deny tersenyum sinis. “Dari dulu, musuh kamu cuma satu orang. Istrinya Tuan Muda itu.”

 

“Nggak mungkin dia punya kekuatan buat ngelakuin ini semua!” sahut Refi.

 

“Dia nggak punya. Tapi suaminya punya,” sahut Deny.

 

“Iya juga, ya?” gumam Refi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bisa jadi, si Yuna nyuruh suaminya itu buat ngancurin kita. Siapa lagi orang yang akan tunduk di bawah tangan orang lain? Yeriko dan istrinya, pasti ada hubungannya sama ini semua.”

 

Deny menghela napas. “Ya sudahlah. Lebih baik, kita kembali ke apartemen. Tenangkan diri dulu sambil mencari solusi untuk permasalahan ini.”

 

Refi mengangguk-anggukkan kepala. Mereka segera kembali ke apartemen untuk beristirahat.

 

 

 

...

 

 

 

Keesokan harinya, Deny kembali ke perusahaan untuk meminta penjelasan pada direktur perusahaan secara langsung atas pembatalan seluruh kegiatan Refi. Namun, manager perusahaan tersebut tetap tidak mengizinkan Deny bertemu langsung dengan direktur perusahaan.

 

“Kak Ajeng, tolonglah!” pinta Deny. “Aku perlu ketemu langsung sama direktur perusahaan ini. Kami perlu penjelasan, kenapa direktur perusahaan membatalkan semua jadwal Refi secara tiba-tiba?”

 

“Den, aku udah jelasin semalam. Kamu masih nggak ngerti juga?” tanya Ajeng.

 

Deny menghela napas. Ia terus memohon agar Refi bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Namun, hasilnya tetap nihil. Direktur perusahaan tersebut tidak ingin menemuinya dengan alasan kalau gaji Refi tetap akan dikeluarkan setiap bulannya.

 

Deny sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik. Namun, ia masih terus mendapatkan penolakan dari perusahaan agency tersebut.

 

“Den, lebih baik kamu bawa artis kamu itu  buat liburan. Dia akan tetap dapet gaji. Pastikan kalau dia nggak bikin onar!” pinta Ajeng sambil berlalu pergi.

 

Deny mendesah kesal. Ia tetap tidak bisa mempertahankan Refi untuk tetap bisa diterbitkan seperti biasanya. Usahanya tetap tak membuahkan hasil.

 

Baru saja Deny keluar dari ruangan Ajeng, ia langsung mendengar keributan di lobi kantor. Suara wanita yang berteriak di sana sudah tak asing lagi di telinganya. Ia langsung menepuk dahi mendengar Refi berseteru dengan Ajeng.

 

“Kamu punya etika, nggak!?” seru Ajeng saat Refi tiba-tiba memakinya.

 

“Kak Ajeng jangan seenaknya juga dong! Kenapa tiba-tiba berhentiin semua jadwal aku tanpa alasan yang jelas?” teriak Refi tak mau kalah.

 

“Ini sudah keputusan direktur. Aku nggak bisa ganggu gugat. Deny nggak kasih tahu kamu?” tanya Ajeng kesal.

 

“Siapa direkturnya? Aku mau ketemu dia!” seru Refi lantang.

 

“Cari sendiri!” sahut Ajeng sambil melangkah pergi. Ia langsung menoleh ke arah Deny yang tak jauh darinya. “Den, kamu ajari artis kamu ini beretika!” perintahnya.

 

“Kak Ajeng, aku bukan nggak punya etika. Tapi aku kesel karena semua kegiatan aku dihentikan tanpa alasan kayak gini!”

 

“Ck, kamu ini masih beruntung dapet gaji bulanan kamu walau nggak nge-job. Lebih baik, kamu pergi liburan aja! Nggak udah bikin onar di sini!” sahut Ajeng.

 

Refi mengerutkan wajahnya. “Gimana aku bisa tenang liburan kalau kayak gini!?”

 

“Perusahaan ngasih kamu cuti selama sebulan ke depan. Kamu nikmati aja!” perintah Ajeng. Ia mulai kesal karena Refi terus menanyakan pertanyaan yang jawabannya akan tetap sama.

 

“Kak, aku baru aja mulai karirku. Kenapa tiba-tiba diginiin?” Refi masih terus mencecar pertanyaan ke arah Ajeng.

 

Ajeng tetap melangkah pergi. “Urus artis kamu ini!” perintahnya sambil menatap Deny.

 

Deny menganggukkan kepala. Ia langsung menghampiri Refi dan menenangkan wanita itu.

 

“Den, aku nggak terima diginiin!” seru Refi sambil mengedarkan pandangannya. Beberapa artis lain menatapnya remeh.

 

“Udah, jangan bikin onar di sini!” pinta Deny berbisik. Ia langsung menyeret tubuh Refi untuk keluar dari kantor tersebut.

 

Refi masih tak terima dengan perlakuan orang-orang yang ada di perusahaan tersebut. Ia berniat mencari direktur perusahaan untuk membuat perhitungan.

 

“Den, cari tahu siapa direktur perusahaan ini! Dia misterius banget,” perintah Refi saat ia sudah ada di dalam mobil.

 

Deny mengangguk. Ia segera mencari tahu pemilik utama SD Entertainment. Namun, tak ada informasi yang ia dapatkan satu pun dari internet.

 

“Gimana?” tanya Refi setelah beberapa menit berlalu.

 

Deny menggelengkan kepala. “Pemiliknya atas nama Surya Nada. Tapi identitasnya nggak pernah tertulis di media. Sepertinya, pemilik perusahaan ini terlalu tertutup. Mungkin, bisa kita cari di majalah bisnis.”

 

“Majalah bisnis tahun berapa?” tanya Refi kesal.

 

“Sesuai dengan tahun berdirinya SD Entertainment.”

 

“Nggak usah aneh-aneh, Den! Ada berapa juta majalah bisnis yang terbit sejak perusahaan itu berdiri?”

 

“Banyak banget, sih. Aku coba cari di internet pake keyword yang lain lagi.”

 

Refi mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Ref ... kayaknya, ini ada hubungannya sama mantan pacar kamu itu.”

 

“Maksudnya?”

 

Deny menyodorkan foto yang terpampang di layar ponselnya yang menunjukkan wajah Yeriko dan seorang nenek berada di pintu kantor cabang SD Entertainment Surabaya.

 

“Dia ada saat pembukaan perusahaan cabang ini. Bahkan dia yang potong pita peresmian bareng nenek itu. Kemungkinan besar, dia memang dalang di balik ini semua.”

 

Refi menghela napas. Entah kenapa Yeriko terus berusaha menyingkirkan dirinya. Ia tidak berniat untuk menyerah sebab banyak hal yang sudah ia korbankan untuk mendapatkan cinta Yeriko, termasuk harga dirinya.

 

(( Bersambung ...))

 

Thanks udah dukung terus ceritanya sampai di sini. Apa yang akan dilakukan Refi saat Mr. Ye nggak ada ya? Dia bakal nyari Yuna atau nggak ya?

Baca terus kisah serunya ya ... Thanks atas dukungan kalian semua.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 445 : Bukan Salahku

 


“Kenapa, Jhen?” tanya Yuna begitu melihat Jheni masuk ke dalam rumahnya. “Kayak abis berantem sama suami?”

 

Jheni menarik napas, ia menenggak minuman Yuna yang ada di atas meja.

 

“Kebiasaan ...!” dengus Yuna saat melihat air minumnya dihabiskan oleh Jheni.

 

Jheni meringis sambil menatap Yuna. Ia duduk di sebelah Yuna sambil menarik napas beberapa kali.

 

“Kamu kenapa? Ketemu sama Amara?” tanya Yuna.

 

Jheni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ngeselin banget tuh orang!”

 

“Kenapa?” tanya Yuna penasaran.

 

“Aku ke sana itu niatnya baik. Eh, dia malah marah-marah sama aku.”

 

“Marah-marah kenapa?”

 

“Dia bilang, sekarang hidup dia jadi kayak gitu gara-gara aku. Aku kesel banget sama dia. Padahal, aku nggak ngapa-ngapain. Malah mau nolongin dia buat keluar dari rumah itu.”

 

“Beneran ada yang aneh sama rumah itu?” tanya Yuna.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Itu rumah prostitusi.”

 

“What!? Serius?”

 

“Serius, Yun. Masa aku bohong, sih? Aku udah masuk ke tempat itu. Malah temen-temennya Amara mengira kalau aku anak baru yang mau jual diri di sana juga. Emangnya, muka aku ini murahan apa!?” ucapnya kesal.

 

“Kenapa dia bisa ada di rumah kayak gitu?”

 

Jheni mengedikkan bahunya. “Keluarganya dia bangkrut. Dia nuduh aku yang ada di balik kebangkrutan keluarganya itu. Ngeselin kan? Aku ini siapa? Bukan pebisnis kayak keluarganya. Mana bisa aku bikin mereka bangkrut.”

 

“Udahlah, Jhen. Mungkin cuma perasaan kamu aja. Kenyataannya, kamu nggak ngelakuin apa-apa kan?”

 

Jheni menggelengkan kepala. “Iya juga, sih. Aku cuma nggak mau ngerasa bersalah aja. Apalagi, si Chandra bener-bener nggak mau bantuin Amara. Aku cuma nggak tega aja lihat Amara kayak gitu. Takutnya, Chandra bener-bener bertindak dan ada hubungannya sama bisnis keluarga mereka.”

 

“Urusan bisnis mereka, jelas nggak ada hubungannya sama kamu, Jhen. Dalam dunia bisnis, nggak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Persaingan bisnis itu hal yang wajar. Mereka yang kuat, akan bertahan.”

 

Jheni menghela napas. “Iya juga, sih. Harusnya, apa yang terjadi sama Amara ... nggak ada hubungannya sama aku,” ucapnya berusaha menghibur dirinya sendiri.

 

“Emang kenyataannya nggak ada, kan?” tutur Yuna sambil mengelus-elus pundak Jheni.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Aku perlu kasih tahu Chandra atau nggak ya?” tanyanya sambil menatap Yuna.

 

“Menurut kamu gimana? Kamu yang paling mengerti Chandra.”

 

“Ah, dia mah pasti nggak ngerespon. Kemarin aku suruh dia bantuin si Amara aja, dia nggak mau. Apalagi aku bilang selama ini aku nyelidiki si Amara. Bisa tambah murka.”

 

“Ya udah, kalo menurut kamu lebih baik diam. Diam aja! Yang penting nggak memperburuk hubungan kamu sama Chandra.”

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

Yuna tersenyum menatap Jheni. Ia merasa sangat senang karena Jheni baik-baik saja. “Kamu nggak cemburu sama Amara? Kenapa nyodorin ke Chandra terus?”

 

“Iih ... cemburu itu nggak penting, Yun. Paling cuma bikin berantem sesaat doang. Tapi kalau sampai aku juga digituin sama Chanda, seumur hidup aku bisa sakit. Gimana kalau suatu hari aku ngelakuin kesalahan dan Chandra benci sama aku? Aku bukan malaikat, Yun. Bisa aja, suatu hari nanti aku bikin salah dan dia berubah benci sama aku.”

 

“Huft, aku juga punya rasa takut yang sama, Jhen. Aku juga pernah takut kalau suatu hari Yeriko benci sama aku. Tapi ... makin ke sini aku makin yakin dan percaya sama suamiku sendiri. Dia selalu meyakinkan aku setiap saat. Aku juga merasa kalau cinta Yeriko ke aku selalu bertambah setiap harinya,” tutur Yuna dengan hati berbunga-bunga.

 

Jheni menatap wajah Yuna tanpa berkedip. “Kamu beruntung banget. Semoga aja, Chandra juga begitu ke aku. Sayangnya, dia tuh nggak bisa romantis kalau nggak dikode duluan.”

 

Yuna terkekeh mendengar ucapan Jheni.

 

“Kenapa ketawa, sih?” tanya Jheni.

 

“Nggak papa. Lucu aja. Kamu sudah se-agresif ini. Si Chandra masih gitu-gitu aja. Kapan mau  ngelamar kamu?” tanya Yuna.

 

“Ah, udahlah. Nggak udah bahas lamaran terus!” pinta Jheni. “Aku belum siap kawin.”

 

“Kawin atau nikah?” goda Yuna.

 

“Dua-duanya!” dengus Jheni.

 

Yuna tertawa kecil. Mereka terus menghabiskan waktu bercanda dan berbincang banyak hal di dalam rumah Yuna. Semua masalah yang telah mereka lalui bersama, membuat kedua sahabat ini saling menghibur dan menenangkan satu sama lain.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Refi berbaring di dalam kamar, ia sibuk membalas pesan-pesan dari penggemarnya. Sejak ia masuk ke SD Entertainment, banyak acara yang harus diisi untuk kegiatan di perusahaan tersebut. Beberapa kali, ia juga harus pergi ke luar kota. Membuat ia semakin sibuk dengan kegiatannya sebagai artis. Setiap malam, ia akan membalas pesan dari penggemarnya satu per satu.

 

Refi terus tersenyum sambil menatap layar ponselnya. Ia merasa sangat bahagia karena mendapatkan banya pujian dari penggemarnya saat ia memposting foto terbarunya.

 

Waktu terus berjalan ... sampai jam sembilan malam, Deny tak kunjung datang ke apartemennya. “Deny ke mana ya? Kok, belum balik?” gumamnya.

 

Refi berinisiatif untuk menelepon Deny terlebih dahulu. Namun, panggilan teleponnya ditolak oleh Deny.

 

“Kenapa ditolak?” tanya Refi sambil menatap layar ponselnya. Ia mencoba menelepon beberapa kali dan mendapat penolakan.

 

“Ke mana sih ini orang?” tanya Refi kesal. “Kenapa telepon dari aku ditolakin mulu?”

 

Refi bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan mondar-mandir di samping ranjangnya sendiri.

 

Beberapa menit kemudian, panggilan telepon dari Deny masuk ke dalam ponsel Refi.

 

“Halo ...!” Refi langsung menjawab panggilan telepon dari Deny. “Kamu di mana?” tanyanya tanpa basa-basi.

 

“Aku masih di perusahaan,” jawab Refi berbisik.

 

“Tumben banget jam segini masih di sana. Ada masalah?” tanya Refi mulai gelisah.

 

“Ada sedikit masalah yang harus diurus,” jawab Deny.

 

“Masalah apa?” tanya Refi.

 

“Nanti aku ceritain kalau sudah selesai meeting,” jawab Deny lirih. “Aku di toilet ini, nggak bisa lama-lama terima telepon.”

 

“Kamu bilang ke aku! Ada masalah apa? Cuma ngomong sebentar aja! Daripada kamu mengulur-ulur waktu. Kalau ngomong dari tadi, urusannya udah kelar!” sahut Refi ketus.

 

“Aih, kamu ini nggak ngerti juga. Kamu istirahat aja di rumah. Jangan tidur malam-malam supaya tetap cantik. Aku telepon lagi setelah urusan di perusahaan selesai.”

 

Refi menghela napas. “Oke.”

 

Deny langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

Beberapa menit berlalu, Deny tak kunjung memberikan kabar kepada dirinya. Membuat perasaan Refi semakin gelisah.

 

“Ada apa ya?” gumam Refi sambil menggigit jemari tangannya. Ia masih mondar-mandir di dalam kamarnya.

 

Kegelisahannya tak kunjung reda. Ia memilih untuk menelepon manager perusahaan untuk memastikan apa yang telah terjadi dengan Deny. Karena tak biasanya Deny berada di perusahaan hingga malam hari.

 

“Kenapa di-reject juga sama Kak Ajeng?” tanya Refi sambil menatap layar ponselnya. Beberapa panggilan telepon dari Refi juga ditolak oleh menager perusahaan yang menaungi Refi.

 

“Ada apa sih sebenarnya?” gumam Refi. Perasaannya semakin gelisah karena dua orang penting yang mengendalikan karirnya tak bisa dihubungi.

 

“Nggak bisa kayak gini terus. Aku harus ke sana.” Refi bergegas mengambil tas tangannya dan bergegas memesan taksi untuk pergi ke kantor agency SD Entertainment yang menaungi dirinya sebagai artis.

 

“Semua kelihatan baik-baik aja. Kenapa tiba-tiba ada masalah? Masalah apa sih?” gumam Refi. Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan kemungkinan yang terjadi pada dirinya dan perusahaan. Ia tidak ingin karirnya yang sudah mulai membaik menjadi terpuruk kembali.

 

 

(( Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas