Friday, February 13, 2026

Perfect Hero Bab 445 : Bukan Salahku

 


“Kenapa, Jhen?” tanya Yuna begitu melihat Jheni masuk ke dalam rumahnya. “Kayak abis berantem sama suami?”

 

Jheni menarik napas, ia menenggak minuman Yuna yang ada di atas meja.

 

“Kebiasaan ...!” dengus Yuna saat melihat air minumnya dihabiskan oleh Jheni.

 

Jheni meringis sambil menatap Yuna. Ia duduk di sebelah Yuna sambil menarik napas beberapa kali.

 

“Kamu kenapa? Ketemu sama Amara?” tanya Yuna.

 

Jheni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ngeselin banget tuh orang!”

 

“Kenapa?” tanya Yuna penasaran.

 

“Aku ke sana itu niatnya baik. Eh, dia malah marah-marah sama aku.”

 

“Marah-marah kenapa?”

 

“Dia bilang, sekarang hidup dia jadi kayak gitu gara-gara aku. Aku kesel banget sama dia. Padahal, aku nggak ngapa-ngapain. Malah mau nolongin dia buat keluar dari rumah itu.”

 

“Beneran ada yang aneh sama rumah itu?” tanya Yuna.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Itu rumah prostitusi.”

 

“What!? Serius?”

 

“Serius, Yun. Masa aku bohong, sih? Aku udah masuk ke tempat itu. Malah temen-temennya Amara mengira kalau aku anak baru yang mau jual diri di sana juga. Emangnya, muka aku ini murahan apa!?” ucapnya kesal.

 

“Kenapa dia bisa ada di rumah kayak gitu?”

 

Jheni mengedikkan bahunya. “Keluarganya dia bangkrut. Dia nuduh aku yang ada di balik kebangkrutan keluarganya itu. Ngeselin kan? Aku ini siapa? Bukan pebisnis kayak keluarganya. Mana bisa aku bikin mereka bangkrut.”

 

“Udahlah, Jhen. Mungkin cuma perasaan kamu aja. Kenyataannya, kamu nggak ngelakuin apa-apa kan?”

 

Jheni menggelengkan kepala. “Iya juga, sih. Aku cuma nggak mau ngerasa bersalah aja. Apalagi, si Chandra bener-bener nggak mau bantuin Amara. Aku cuma nggak tega aja lihat Amara kayak gitu. Takutnya, Chandra bener-bener bertindak dan ada hubungannya sama bisnis keluarga mereka.”

 

“Urusan bisnis mereka, jelas nggak ada hubungannya sama kamu, Jhen. Dalam dunia bisnis, nggak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Persaingan bisnis itu hal yang wajar. Mereka yang kuat, akan bertahan.”

 

Jheni menghela napas. “Iya juga, sih. Harusnya, apa yang terjadi sama Amara ... nggak ada hubungannya sama aku,” ucapnya berusaha menghibur dirinya sendiri.

 

“Emang kenyataannya nggak ada, kan?” tutur Yuna sambil mengelus-elus pundak Jheni.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Aku perlu kasih tahu Chandra atau nggak ya?” tanyanya sambil menatap Yuna.

 

“Menurut kamu gimana? Kamu yang paling mengerti Chandra.”

 

“Ah, dia mah pasti nggak ngerespon. Kemarin aku suruh dia bantuin si Amara aja, dia nggak mau. Apalagi aku bilang selama ini aku nyelidiki si Amara. Bisa tambah murka.”

 

“Ya udah, kalo menurut kamu lebih baik diam. Diam aja! Yang penting nggak memperburuk hubungan kamu sama Chandra.”

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

Yuna tersenyum menatap Jheni. Ia merasa sangat senang karena Jheni baik-baik saja. “Kamu nggak cemburu sama Amara? Kenapa nyodorin ke Chandra terus?”

 

“Iih ... cemburu itu nggak penting, Yun. Paling cuma bikin berantem sesaat doang. Tapi kalau sampai aku juga digituin sama Chanda, seumur hidup aku bisa sakit. Gimana kalau suatu hari aku ngelakuin kesalahan dan Chandra benci sama aku? Aku bukan malaikat, Yun. Bisa aja, suatu hari nanti aku bikin salah dan dia berubah benci sama aku.”

 

“Huft, aku juga punya rasa takut yang sama, Jhen. Aku juga pernah takut kalau suatu hari Yeriko benci sama aku. Tapi ... makin ke sini aku makin yakin dan percaya sama suamiku sendiri. Dia selalu meyakinkan aku setiap saat. Aku juga merasa kalau cinta Yeriko ke aku selalu bertambah setiap harinya,” tutur Yuna dengan hati berbunga-bunga.

 

Jheni menatap wajah Yuna tanpa berkedip. “Kamu beruntung banget. Semoga aja, Chandra juga begitu ke aku. Sayangnya, dia tuh nggak bisa romantis kalau nggak dikode duluan.”

 

Yuna terkekeh mendengar ucapan Jheni.

 

“Kenapa ketawa, sih?” tanya Jheni.

 

“Nggak papa. Lucu aja. Kamu sudah se-agresif ini. Si Chandra masih gitu-gitu aja. Kapan mau  ngelamar kamu?” tanya Yuna.

 

“Ah, udahlah. Nggak udah bahas lamaran terus!” pinta Jheni. “Aku belum siap kawin.”

 

“Kawin atau nikah?” goda Yuna.

 

“Dua-duanya!” dengus Jheni.

 

Yuna tertawa kecil. Mereka terus menghabiskan waktu bercanda dan berbincang banyak hal di dalam rumah Yuna. Semua masalah yang telah mereka lalui bersama, membuat kedua sahabat ini saling menghibur dan menenangkan satu sama lain.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Refi berbaring di dalam kamar, ia sibuk membalas pesan-pesan dari penggemarnya. Sejak ia masuk ke SD Entertainment, banyak acara yang harus diisi untuk kegiatan di perusahaan tersebut. Beberapa kali, ia juga harus pergi ke luar kota. Membuat ia semakin sibuk dengan kegiatannya sebagai artis. Setiap malam, ia akan membalas pesan dari penggemarnya satu per satu.

 

Refi terus tersenyum sambil menatap layar ponselnya. Ia merasa sangat bahagia karena mendapatkan banya pujian dari penggemarnya saat ia memposting foto terbarunya.

 

Waktu terus berjalan ... sampai jam sembilan malam, Deny tak kunjung datang ke apartemennya. “Deny ke mana ya? Kok, belum balik?” gumamnya.

 

Refi berinisiatif untuk menelepon Deny terlebih dahulu. Namun, panggilan teleponnya ditolak oleh Deny.

 

“Kenapa ditolak?” tanya Refi sambil menatap layar ponselnya. Ia mencoba menelepon beberapa kali dan mendapat penolakan.

 

“Ke mana sih ini orang?” tanya Refi kesal. “Kenapa telepon dari aku ditolakin mulu?”

 

Refi bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan mondar-mandir di samping ranjangnya sendiri.

 

Beberapa menit kemudian, panggilan telepon dari Deny masuk ke dalam ponsel Refi.

 

“Halo ...!” Refi langsung menjawab panggilan telepon dari Deny. “Kamu di mana?” tanyanya tanpa basa-basi.

 

“Aku masih di perusahaan,” jawab Refi berbisik.

 

“Tumben banget jam segini masih di sana. Ada masalah?” tanya Refi mulai gelisah.

 

“Ada sedikit masalah yang harus diurus,” jawab Deny.

 

“Masalah apa?” tanya Refi.

 

“Nanti aku ceritain kalau sudah selesai meeting,” jawab Deny lirih. “Aku di toilet ini, nggak bisa lama-lama terima telepon.”

 

“Kamu bilang ke aku! Ada masalah apa? Cuma ngomong sebentar aja! Daripada kamu mengulur-ulur waktu. Kalau ngomong dari tadi, urusannya udah kelar!” sahut Refi ketus.

 

“Aih, kamu ini nggak ngerti juga. Kamu istirahat aja di rumah. Jangan tidur malam-malam supaya tetap cantik. Aku telepon lagi setelah urusan di perusahaan selesai.”

 

Refi menghela napas. “Oke.”

 

Deny langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

Beberapa menit berlalu, Deny tak kunjung memberikan kabar kepada dirinya. Membuat perasaan Refi semakin gelisah.

 

“Ada apa ya?” gumam Refi sambil menggigit jemari tangannya. Ia masih mondar-mandir di dalam kamarnya.

 

Kegelisahannya tak kunjung reda. Ia memilih untuk menelepon manager perusahaan untuk memastikan apa yang telah terjadi dengan Deny. Karena tak biasanya Deny berada di perusahaan hingga malam hari.

 

“Kenapa di-reject juga sama Kak Ajeng?” tanya Refi sambil menatap layar ponselnya. Beberapa panggilan telepon dari Refi juga ditolak oleh menager perusahaan yang menaungi Refi.

 

“Ada apa sih sebenarnya?” gumam Refi. Perasaannya semakin gelisah karena dua orang penting yang mengendalikan karirnya tak bisa dihubungi.

 

“Nggak bisa kayak gini terus. Aku harus ke sana.” Refi bergegas mengambil tas tangannya dan bergegas memesan taksi untuk pergi ke kantor agency SD Entertainment yang menaungi dirinya sebagai artis.

 

“Semua kelihatan baik-baik aja. Kenapa tiba-tiba ada masalah? Masalah apa sih?” gumam Refi. Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan kemungkinan yang terjadi pada dirinya dan perusahaan. Ia tidak ingin karirnya yang sudah mulai membaik menjadi terpuruk kembali.

 

 

(( Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas