“Kenapa,
Jhen?” tanya Yuna begitu melihat Jheni masuk ke dalam rumahnya. “Kayak abis
berantem sama suami?”
Jheni
menarik napas, ia menenggak minuman Yuna yang ada di atas meja.
“Kebiasaan
...!” dengus Yuna saat melihat air minumnya dihabiskan oleh Jheni.
Jheni
meringis sambil menatap Yuna. Ia duduk di sebelah Yuna sambil menarik napas
beberapa kali.
“Kamu
kenapa? Ketemu sama Amara?” tanya Yuna.
Jheni
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ngeselin banget tuh orang!”
“Kenapa?”
tanya Yuna penasaran.
“Aku
ke sana itu niatnya baik. Eh, dia malah marah-marah sama aku.”
“Marah-marah
kenapa?”
“Dia
bilang, sekarang hidup dia jadi kayak gitu gara-gara aku. Aku kesel banget sama
dia. Padahal, aku nggak ngapa-ngapain. Malah mau nolongin dia buat keluar dari
rumah itu.”
“Beneran
ada yang aneh sama rumah itu?” tanya Yuna.
Jheni
menganggukkan kepala. “Itu rumah prostitusi.”
“What!?
Serius?”
“Serius,
Yun. Masa aku bohong, sih? Aku udah masuk ke tempat itu. Malah temen-temennya
Amara mengira kalau aku anak baru yang mau jual diri di sana juga. Emangnya,
muka aku ini murahan apa!?” ucapnya kesal.
“Kenapa
dia bisa ada di rumah kayak gitu?”
Jheni
mengedikkan bahunya. “Keluarganya dia bangkrut. Dia nuduh aku yang ada di balik
kebangkrutan keluarganya itu. Ngeselin kan? Aku ini siapa? Bukan pebisnis kayak
keluarganya. Mana bisa aku bikin mereka bangkrut.”
“Udahlah,
Jhen. Mungkin cuma perasaan kamu aja. Kenyataannya, kamu nggak ngelakuin
apa-apa kan?”
Jheni
menggelengkan kepala. “Iya juga, sih. Aku cuma nggak mau ngerasa bersalah aja.
Apalagi, si Chandra bener-bener nggak mau bantuin Amara. Aku cuma nggak tega
aja lihat Amara kayak gitu. Takutnya, Chandra bener-bener bertindak dan ada
hubungannya sama bisnis keluarga mereka.”
“Urusan
bisnis mereka, jelas nggak ada hubungannya sama kamu, Jhen. Dalam dunia bisnis,
nggak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Persaingan bisnis itu
hal yang wajar. Mereka yang kuat, akan bertahan.”
Jheni
menghela napas. “Iya juga, sih. Harusnya, apa yang terjadi sama Amara ... nggak
ada hubungannya sama aku,” ucapnya berusaha menghibur dirinya sendiri.
“Emang
kenyataannya nggak ada, kan?” tutur Yuna sambil mengelus-elus pundak Jheni.
Jheni
menganggukkan kepala. “Aku perlu kasih tahu Chandra atau nggak ya?” tanyanya
sambil menatap Yuna.
“Menurut
kamu gimana? Kamu yang paling mengerti Chandra.”
“Ah,
dia mah pasti nggak ngerespon. Kemarin aku suruh dia bantuin si Amara aja, dia
nggak mau. Apalagi aku bilang selama ini aku nyelidiki si Amara. Bisa tambah
murka.”
“Ya
udah, kalo menurut kamu lebih baik diam. Diam aja! Yang penting nggak
memperburuk hubungan kamu sama Chandra.”
Jheni
menganggukkan kepala.
Yuna
tersenyum menatap Jheni. Ia merasa sangat senang karena Jheni baik-baik saja.
“Kamu nggak cemburu sama Amara? Kenapa nyodorin ke Chandra terus?”
“Iih
... cemburu itu nggak penting, Yun. Paling cuma bikin berantem sesaat doang.
Tapi kalau sampai aku juga digituin sama Chanda, seumur hidup aku bisa sakit.
Gimana kalau suatu hari aku ngelakuin kesalahan dan Chandra benci sama aku? Aku
bukan malaikat, Yun. Bisa aja, suatu hari nanti aku bikin salah dan dia berubah
benci sama aku.”
“Huft,
aku juga punya rasa takut yang sama, Jhen. Aku juga pernah takut kalau suatu
hari Yeriko benci sama aku. Tapi ... makin ke sini aku makin yakin dan percaya
sama suamiku sendiri. Dia selalu meyakinkan aku setiap saat. Aku juga merasa
kalau cinta Yeriko ke aku selalu bertambah setiap harinya,” tutur Yuna dengan
hati berbunga-bunga.
Jheni
menatap wajah Yuna tanpa berkedip. “Kamu beruntung banget. Semoga aja, Chandra
juga begitu ke aku. Sayangnya, dia tuh nggak bisa romantis kalau nggak dikode
duluan.”
Yuna
terkekeh mendengar ucapan Jheni.
“Kenapa
ketawa, sih?” tanya Jheni.
“Nggak
papa. Lucu aja. Kamu sudah se-agresif ini. Si Chandra masih gitu-gitu aja.
Kapan mau ngelamar kamu?” tanya Yuna.
“Ah,
udahlah. Nggak udah bahas lamaran terus!” pinta Jheni. “Aku belum siap kawin.”
“Kawin
atau nikah?” goda Yuna.
“Dua-duanya!”
dengus Jheni.
Yuna
tertawa kecil. Mereka terus menghabiskan waktu bercanda dan berbincang banyak
hal di dalam rumah Yuna. Semua masalah yang telah mereka lalui bersama, membuat
kedua sahabat ini saling menghibur dan menenangkan satu sama lain.
...
Di
tempat lain ...
Refi
berbaring di dalam kamar, ia sibuk membalas pesan-pesan dari penggemarnya.
Sejak ia masuk ke SD Entertainment, banyak acara yang harus diisi untuk
kegiatan di perusahaan tersebut. Beberapa kali, ia juga harus pergi ke luar
kota. Membuat ia semakin sibuk dengan kegiatannya sebagai artis. Setiap malam,
ia akan membalas pesan dari penggemarnya satu per satu.
Refi
terus tersenyum sambil menatap layar ponselnya. Ia merasa sangat bahagia karena
mendapatkan banya pujian dari penggemarnya saat ia memposting foto terbarunya.
Waktu
terus berjalan ... sampai jam sembilan malam, Deny tak kunjung datang ke
apartemennya. “Deny ke mana ya? Kok, belum balik?” gumamnya.
Refi
berinisiatif untuk menelepon Deny terlebih dahulu. Namun, panggilan teleponnya
ditolak oleh Deny.
“Kenapa
ditolak?” tanya Refi sambil menatap layar ponselnya. Ia mencoba menelepon
beberapa kali dan mendapat penolakan.
“Ke
mana sih ini orang?” tanya Refi kesal. “Kenapa telepon dari aku ditolakin
mulu?”
Refi
bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan mondar-mandir di samping ranjangnya
sendiri.
Beberapa
menit kemudian, panggilan telepon dari Deny masuk ke dalam ponsel Refi.
“Halo
...!” Refi langsung menjawab panggilan telepon dari Deny. “Kamu di mana?”
tanyanya tanpa basa-basi.
“Aku
masih di perusahaan,” jawab Refi berbisik.
“Tumben
banget jam segini masih di sana. Ada masalah?” tanya Refi mulai gelisah.
“Ada
sedikit masalah yang harus diurus,” jawab Deny.
“Masalah
apa?” tanya Refi.
“Nanti
aku ceritain kalau sudah selesai meeting,” jawab Deny lirih. “Aku di toilet
ini, nggak bisa lama-lama terima telepon.”
“Kamu
bilang ke aku! Ada masalah apa? Cuma ngomong sebentar aja! Daripada kamu
mengulur-ulur waktu. Kalau ngomong dari tadi, urusannya udah kelar!” sahut Refi
ketus.
“Aih,
kamu ini nggak ngerti juga. Kamu istirahat aja di rumah. Jangan tidur
malam-malam supaya tetap cantik. Aku telepon lagi setelah urusan di perusahaan
selesai.”
Refi
menghela napas. “Oke.”
Deny
langsung mematikan panggilan teleponnya.
Beberapa
menit berlalu, Deny tak kunjung memberikan kabar kepada dirinya. Membuat
perasaan Refi semakin gelisah.
“Ada
apa ya?” gumam Refi sambil menggigit jemari tangannya. Ia masih mondar-mandir
di dalam kamarnya.
Kegelisahannya
tak kunjung reda. Ia memilih untuk menelepon manager perusahaan untuk
memastikan apa yang telah terjadi dengan Deny. Karena tak biasanya Deny berada
di perusahaan hingga malam hari.
“Kenapa
di-reject juga sama Kak Ajeng?” tanya Refi sambil menatap layar ponselnya.
Beberapa panggilan telepon dari Refi juga ditolak oleh menager perusahaan yang
menaungi Refi.
“Ada
apa sih sebenarnya?” gumam Refi. Perasaannya semakin gelisah karena dua orang
penting yang mengendalikan karirnya tak bisa dihubungi.
“Nggak
bisa kayak gini terus. Aku harus ke sana.” Refi bergegas mengambil tas
tangannya dan bergegas memesan taksi untuk pergi ke kantor agency SD
Entertainment yang menaungi dirinya sebagai artis.
“Semua
kelihatan baik-baik aja. Kenapa tiba-tiba ada masalah? Masalah apa sih?” gumam
Refi. Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan kemungkinan yang terjadi pada
dirinya dan perusahaan. Ia tidak ingin karirnya yang sudah mulai membaik
menjadi terpuruk kembali.
(( Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin
cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment