Friday, February 13, 2026

Perfect Hero Bab 447 : Mencari Penjelasan

 


“Ref, kamu nggak usah khawatir!” tutur Deny sambil menatap Refi yang sudah gelisah sejak mereka keluar dari perusahaan. “Aku akan selesaikan semuanya.”

 

Refi tak menyahut. Ia merasa kalau Deny sama sekali tidak berguna. Sudah dua hari dia melakukan negosiasi dengan pihak perusahaan dan masih saja tidak ada hasilnya. Membuat Refi tak lagi mempercayai Deny.

 

“Kamu jangan bertindak sendiri!” pinta Deny.

 

Refi tak menyahut. Kali ini, ia tidak mendengarkan ucapan dari Deny. Setelah Deny keluar dari apartemennya, ia memilih untuk pergi sendiri mencari Yeriko di perusahaannya.

 

Refi buru-buru pergi ke Galaxy Group untuk menemui Yeriko, mempertanyakan apa yang sebenarnya sudah ia lakukan. Ia tak menyangka kalau Yeriko memiliki hubungan dengan SD Entertainment. Ia terbayang wajah Yeriko yang tersenyum saat peresmian kantor cabang SD Entertainment Surabaya.

 

“Maaf, Mbak ... cari siapa?” tanya salah seorang resepsionis begitu melihat Refi menyelonong masuk ke perusahaan.

 

Refi tak menyahut. Ia berusaha memasuki area pintu masuk perusahaan. Namun, area masuk ke perusahaan tersebut sudah dipasangi Flap Barrier Gate. Ia mengernyitkan dahi sambil menghentikan langkahnya.

 

Dua orang resepsionis yang bertugas menahan tawa melihat tingkah Refi. Mereka sudah sangat hapal dengan Refi yang kerap kali berbuat onar walau ditolak oleh bos mereka berkali-kali.

 

Refi menatap dua resepsionis yang ada di sana dan menghampirinya. “Eh, gimana caranya masuk ke sana? Pake kartu pengenal?” tanya Refi.

 

Dua resepsionis itu menggelengkan kepala.

 

“Terus?”

 

“Pake sidik jari, Mbak. Hanya karyawan dan orang yang terdaftar di perusahaan yang boleh masuk.”

 

“Aku mau ketemu Yeriko. Kamu tahu aku siapanya Yeriko? Kemarin, aku baru aja masuk ke sini. Kenapa sekarang pake pintu penghalang kayak gini!?” seru Refi kesal.

 

“Maaf, Mbak. Kalau belum ada janji, sebaiknya nunggu di lobi saja,” tutur resepsionis itu sambil tersenyum manis.

 

“Aku mau ketemu sama Yeriko sekarang juga! Suruh bos kalian itu turun ke sini!”

 

“Maaf, Mbak. Pak Bos nggak bisa ditemui karena lagi dinas ke luar kota. Tidak ada di kantor.”

 

“Aku nggak percaya. Paling cuma akal-akalan dia aja karena nggak mau ketemu sama aku ‘kan?” tanya Refi sambil menatap dua resepsionis cantik itu.

 

“Udah tahu kalau Bos nggak mau ditemui. Kenapa masih maksa mau ketemu sama Pak Bos?” tanya resepsionis sambil tersenyum sinis.

 

Refi mendengus kesal ke arah dua resepsionis yang ada di hadapannya. “Awas ya! Kalau aku berhasil bikin Yeriko balik ke aku dan nikah sama dia. Kalian berdua orang pertama yang aku pecat!” maki Refi dalam hati.

 

“Mbak, kalau nggak percaya sama kami. Mbak Refi tunggu aja di situ sampai Bos muncul!” perintah resepsionis itu sambil menunjuk deretan sofa yang ada di sana.

 

Refi mengerutkan wajah. Ia berjalan menuju sofa sambil menahan kekesalan. Ia tidak menyangka kalau Yeriko begitu berniat mencegahnya masuk ke dalam perusahaan. Sistem keamanan di perusahaannya semakin sulit untuk ia tembus. Lebih mudah mengelabuhi satpam daripada merayu mesin yang tidak akan pernah mendengarkan ucapannya.

 

“Keenakan banget si Yuna dapet fasilitas mewah dan perlindungan dari Yeriko. Harusnya, ini semua punyaku. Bukan punya cewek gila dan nggak tahu diri itu!” seru Refi dalam hati.

 

Refi terus menunggu Yeriko di lobi selama beberapa jam. Semua orang mulai keluar dari kantor perusahaan tersebut. Satu persatu, mereka meninggalkan perusahaan. Hingga perusahaan ini sepi, Yeriko tak kunjung muncul di hadapannya.

 

“Apa dia lembur ya?” tanya Refi sambil melirik jam di ponselnya yang sudah menunjukkan jam tujuh malam.

 

“Permisi, Mbak! Masih nunggu siapa?” tanya salah seorang penjaga keamanan sambil menatap Refi yang masih duduk di sofa.

 

“Nunggu Yeriko,” jawab Refi ketus.

 

“Sudah tidak ada siapa pun di gedung ini. Saya mau kunci gedung ini karena sudah malam.”

 

Refi menghela napas. Ia akhirnya menyerah menunggu kedatangan Yeriko. Ternyata, Yeriko memang tidak ada di perusahaannya. Dengan terpaksa ia kembali ke apartemen sambil mencari cara untuk bertemu dengan Yeriko.

 

Di dalam kamar apartemennya, Refi mondar-mandir sambil mencoba menghubungi nomor ponsel Yeriko. Namun, ia tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Bahkan, ia baru menyadari kalau nomor ponselnya diblokir oleh Yeriko setelah beberapa kali mencoba menghubungi pria itu.

 

“Ngeselin banget!” seru Refi sambil memaki ponselnya sendiri. “Kenapa nomerku selalu diblokir. Kalau mau hubungin aku aja baru dibuka blokirnya?”

 

“Aargh ...!” Refi mengacak-acak rambutnya sendiri karena tak bisa menemukan Yeriko di perusahaan. Ia berharap, bisa menemukan Yeriko keesokan harinya.

 

 

 

Tepat jam sepuluh pagi, Refi beringsut dari apartemennya menuju ke rumah Yeriko. Ia langsung memasuki pagar rumah yang sedikit terbuka. Kebetulan, tidak ada orang yang sedang berjaga di pos tersebut.

 

“Eh, Mbak ... Mbak! Mbak siapa? Kok, nyelonong masuk?” Seorang pria setengah baya berseragam satpam langsung menghampiri Refi.

 

“Aku mau ketemu sama Yeriko!” jawab Refi ketus.

 

“Oh ... Mas Yeri lagi nggak ada di rumah.”

 

“Kalo gitu, aku mau ketemu sama istrinya.”

 

“Istrinya juga nggak ada di rumah.”

 

“Halah, paling akal-akalan dia aja supaya dia nggak ketemu sama aku,” celetuk Refi. Ia memaksa melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.

 

“Yeriko ...!” teriak Refi. “Keluar kamu!”

 

Pintu rumah Yeriko terbuka, terlihat seorang wanita setengah baya keluar dari rumah tersebut. “Ngapain teriak-teriak di depan rumah orang? Nggak punya etika!” sapanya pada Refi yang berdiri di hadapannya.

 

“Mana Yeriko?” tanya Refi balik.

 

“Mas Yeri lagi ke Eropa.”

 

“Bohong!” sahut Refi kesal.

 

“Buat apa aku bohong? Nggak bisa jadi duit!”

 

“Bibi mau ngelindungi si Yuna itu?” tanya Refi sambil menatap wajah Bibi War. “Nggak usah halangi aku! Emangnya Bibi siapa? Pembantu aja, kebanyakan gaya!”

 

Bibi War langsung naik pitam mendengar ucapan Refi. “Seumur hidup, Bibi memang cuma jadi pembantu. Tapi, Mas Yeri dan Mbak Yuna nggak pernah mengatakan hal yang menyakiti hati Bibi. Bahkan, mereka berdua menganggap Bibi seperti mamanya sendiri.”

 

Refi semakin kesal karena pembantu Yeriko membandingkan dirinya dengan Yuna.

 

Bibi War tersenyum sinis. “Untungnya Mas Yeri nggak buta. Dia memilih Mbak Yuna untuk dijadikan istri. Wanita yang baik, sopan dan berpendidikan. Nggak kayak kamu!”

 

Refi menatap kesal ke arah Bibi War. Ia mengunci bibirnya rapat-rapat tapi matanya memancarkan kebencian.

 

“Kalau cuma mau bikin onar, lebih baik pergi dari sini!” seru Bibi War.

 

Refi mengerutkan hidungnya. Ia kesal karena dirinya direndahkan oleh seorang pembantu di rumah Yeriko. Jika ia yang menjadi nyonya di rumah ini, Bibi War tidak mungkin memiliki keberanian untuk menghina dirinya.

 

“Aku mau ketemu sama Yeriko.”

 

“Bibi udah bilang kalau Mas Yeri lagi ke Eropa.”

 

“Kalo gitu, aku mau ketemu sama Yuna.”

 

“Nggak bisa!” sahut Bibi War.

 

“Kenapa? Aku ada perlu sama dia. Penting banget.”

 

“Bibi tahu kelakuan kamu. Kamu tahu kalau Mas Yeri nggak ada di rumah. Makanya, datang ke sini buat nyerang Mbak Yuna?”

 

“Bi, aku nggak bawa senjata apa pun. Aku cuma mau ngomong penting sama dia.”

 

“Bibi nggak percaya!”

 

Refi menghentakkan kaki sambil mengerutkan hidungnya.

 

“Pak Satpam, bawa dia keluar dari halaman rumah ini! Lagian, kenapa orang gila ini bisa masuk?”

 

“Maaf, Bi. Tadi Bapak ke toilet sebentar. Eh, Mbaknya udah nyelonong masuk gerbang gitu aja.” Satpam tersebut langsung menarik lengan Refi.

 

“Aku nggak akan pergi sebelum ketemu sama Yuna!” seru Refi sambil berusaha melepaskan lengannya dari tangan satpam yang menyeretnya.

 

“Mbak Yuna nggak ada di rumah. Sebaiknya, kamu pulang aja!” sahut Bibi War.

 

“Aku akan tunggu dia sampai pulang ke rumah! Aku butuh penjelasan dari dia,” seru Refi. Ia masih berusaha menghindari tangan Satpam yang ingin menyeret tubuhnya keluar dari halaman rumah tersebut.

 

“Kamu sudah gila ya!?” sentak Bibi War. Sekalipun Mbak Yuna ada di rumah, Bibi nggak akan ngebiarin dia ketemu sama orang gila kayak kamu.”

 

“Aku nggak gila, Bi!” sahut Refi. “Aku cuma mau ngomong sama dia. Cuma ngomong sebentar aja. Bibi nggak perlu takut kalau aku bakal ngelukain dia. Please, suruh dia keluar sekarang juga!”

 

“Mbak Yuna nggak ada di rumah ini. Dia lagi keluar,” jawab Bibi War.

 

Refi tak menyerah. Ia berusaha mempertahankan dirinya agar tidak diusir dari halaman rumah Yeriko.

 

Saat semua orang berkerumun, membantu Refi agar segera keluar dari rumah ... mobil Jheni tiba-tiba masuk ke halaman rumah tersebut.

 

Semua orang langsung menatap kedatangan mobil tersebut termasuk Refi. Ia tersenyum senang karena bisa bertemu dengan Yuna untuk meminta penjelasan terkait karirnya sebagai artis yang dihentikan begitu saja oleh pihak perusahaan yang menaunginya.

 

 (( Bersambung ...))

Thanks udah dukung terus ceritanya sampai di sini. Apa yang akan dilakukan Refi saat Mr. Ye nggak ada ya? Tunggu kelanjutan kisahnya besok lagi ya... Thanks atas dukungan kalian semua.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas