“Kak,
kenapa jadwal kegiatan Refi harus dihentikan semua?” tanya Deny. Ia sudah
melakukan negosiasi selama berjam-jam untuk membuat Refi tetap bertahan di
acara yang sudah dijadwalkan sebelumnya.
“Ini
sudah keputusan dari atasan kami. Untuk sementara, Refi off dari dunia hiburan
sampai ada keputusan selanjutnya dari pemilik perusahaan.”
“Apa
nggak bisa ditunda sampai acara yang sudah dijadwalkan selesai?” tanya Deny.
“Kami
nggak bisa melanggar keputusan dari pimpinan perusahaan. Kamu suruh aja si Refi
istirahat dulu selama sebulan ke depan.”
“Kak,
kalau Refi nggak ada job. Otomatis nggak akan ada pemasukan buat dia.”
“Setidaknya,
nggak sampai pemutusan kontrak. Dia akan tetap menerima gaji bulanannya.
Kendalikan artis kamu itu supaya nggak bikin ulah dan bikin pimpinan kami
murka. Lebih baik, kamu ajak aja dia liburan!”
Deny
terdiam. Ia sudah berusaha membujuk Ajeng untuk berbicara dengan pimpinan
perusahaan secara langsung. Namun, ia tetap mendapatkan hasil yang tidak
memuaskan dan membuat ia tak bersemangat.
“Den,
ini sudah hampir larut malam. Saya harus segera kembali ke rumah.” Ajeng
bangkit dari tempat duduknya.
Deny
menarik napas dan menganggukkan kepala. Ia benar-benar sakit kepala karena
semua aktivitas syuting untuk Refi dihentikan oleh pimpinan perusahaan dengan
alasan yang tidak ia ketahui. Ia keluar dari perusahaan dengan langkah tak
bersemangat.
“Den
...!” panggil Refi yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.
Deny
langsung mengangkat wajahnya menatap Refi. “Ref, kamu kenapa di sini?”
“Ada
masalah apa?” tanya Refi saat melihat wajah Deny tak bersemangat.
Deny
menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terduduk lemas di atas birai yang ada
di dekatnya. “Ck, pusing aku.”
“Pusing
kenapa?” tanya Refi.
“Semua
jadwal kamu di-cancel. Perusahaan meliburkan kamu selama sebulan ke depan.”
“What!?”
Refi membelalakkan matanya menatap Deny. “Serius!?”
Deny
menganggukkan kepala. “Aku udah nego berjam-jam sama Ajeng. Tetep nggak ada
hasilnya. Bangsat!” makinya.
Refi
menghela napas. “Aku salah apa? Kenapa jadwal aku tiba-tiba di-cancel kayak
gini? Kontrak gimana?” tanya Refi.
“Kontrak
masih jalan. Masalahnya, kamu diliburkan selama sebulan. Kalo kamu nggak ada
job, sama aja artis nggak berduit!”
“Kamu
itu managerku. Harusnya kamu yang bisa ngatur semuanya. Semua jadwal aku
tiba-tiba di-cancel kayak gini, kamu nggak tahu penyebabnya? Nggak becus!”
gerutu Refi.
“Heh,
kamu sadar nggak sama apa yang aku lakuin? Aku udah ngelakuin banyak hal buat
kamu. Nggak ada terima kasihnya sama sekali!” seru Deny tak mau kalah.
Refi
menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Ia berusaha menenangkan
perasaannya sendiri.
“Pasti
ada seseorang di balik ini semua. Nggak mungkin aku tiba-tiba jadwal yang udah
diatur, dibatalin gitu aja sama pimpinan perusahaan,” tutur Deny. “Apalagi,
nggak ada alasan yang jelas.”
Refi
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bisa jadi emang kayak gitu. Kira-kira, siapa
orang yang udah bikin ulah di belakang kita?” tanya Refi.
Deny
tersenyum sinis. “Dari dulu, musuh kamu cuma satu orang. Istrinya Tuan Muda
itu.”
“Nggak
mungkin dia punya kekuatan buat ngelakuin ini semua!” sahut Refi.
“Dia
nggak punya. Tapi suaminya punya,” sahut Deny.
“Iya
juga, ya?” gumam Refi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bisa jadi, si
Yuna nyuruh suaminya itu buat ngancurin kita. Siapa lagi orang yang akan tunduk
di bawah tangan orang lain? Yeriko dan istrinya, pasti ada hubungannya sama ini
semua.”
Deny
menghela napas. “Ya sudahlah. Lebih baik, kita kembali ke apartemen. Tenangkan
diri dulu sambil mencari solusi untuk permasalahan ini.”
Refi
mengangguk-anggukkan kepala. Mereka segera kembali ke apartemen untuk
beristirahat.
...
Keesokan
harinya, Deny kembali ke perusahaan untuk meminta penjelasan pada direktur
perusahaan secara langsung atas pembatalan seluruh kegiatan Refi. Namun,
manager perusahaan tersebut tetap tidak mengizinkan Deny bertemu langsung
dengan direktur perusahaan.
“Kak
Ajeng, tolonglah!” pinta Deny. “Aku perlu ketemu langsung sama direktur
perusahaan ini. Kami perlu penjelasan, kenapa direktur perusahaan membatalkan
semua jadwal Refi secara tiba-tiba?”
“Den,
aku udah jelasin semalam. Kamu masih nggak ngerti juga?” tanya Ajeng.
Deny
menghela napas. Ia terus memohon agar Refi bisa kembali beraktivitas seperti
biasa. Namun, hasilnya tetap nihil. Direktur perusahaan tersebut tidak ingin
menemuinya dengan alasan kalau gaji Refi tetap akan dikeluarkan setiap
bulannya.
Deny
sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik. Namun, ia masih terus mendapatkan
penolakan dari perusahaan agency tersebut.
“Den,
lebih baik kamu bawa artis kamu itu buat liburan. Dia akan tetap dapet
gaji. Pastikan kalau dia nggak bikin onar!” pinta Ajeng sambil berlalu pergi.
Deny
mendesah kesal. Ia tetap tidak bisa mempertahankan Refi untuk tetap bisa
diterbitkan seperti biasanya. Usahanya tetap tak membuahkan hasil.
Baru
saja Deny keluar dari ruangan Ajeng, ia langsung mendengar keributan di lobi
kantor. Suara wanita yang berteriak di sana sudah tak asing lagi di telinganya.
Ia langsung menepuk dahi mendengar Refi berseteru dengan Ajeng.
“Kamu
punya etika, nggak!?” seru Ajeng saat Refi tiba-tiba memakinya.
“Kak
Ajeng jangan seenaknya juga dong! Kenapa tiba-tiba berhentiin semua jadwal aku
tanpa alasan yang jelas?” teriak Refi tak mau kalah.
“Ini
sudah keputusan direktur. Aku nggak bisa ganggu gugat. Deny nggak kasih tahu
kamu?” tanya Ajeng kesal.
“Siapa
direkturnya? Aku mau ketemu dia!” seru Refi lantang.
“Cari
sendiri!” sahut Ajeng sambil melangkah pergi. Ia langsung menoleh ke arah Deny
yang tak jauh darinya. “Den, kamu ajari artis kamu ini beretika!” perintahnya.
“Kak
Ajeng, aku bukan nggak punya etika. Tapi aku kesel karena semua kegiatan aku
dihentikan tanpa alasan kayak gini!”
“Ck,
kamu ini masih beruntung dapet gaji bulanan kamu walau nggak nge-job. Lebih
baik, kamu pergi liburan aja! Nggak udah bikin onar di sini!” sahut Ajeng.
Refi
mengerutkan wajahnya. “Gimana aku bisa tenang liburan kalau kayak gini!?”
“Perusahaan
ngasih kamu cuti selama sebulan ke depan. Kamu nikmati aja!” perintah Ajeng. Ia
mulai kesal karena Refi terus menanyakan pertanyaan yang jawabannya akan tetap
sama.
“Kak,
aku baru aja mulai karirku. Kenapa tiba-tiba diginiin?” Refi masih terus
mencecar pertanyaan ke arah Ajeng.
Ajeng
tetap melangkah pergi. “Urus artis kamu ini!” perintahnya sambil menatap Deny.
Deny
menganggukkan kepala. Ia langsung menghampiri Refi dan menenangkan wanita itu.
“Den,
aku nggak terima diginiin!” seru Refi sambil mengedarkan pandangannya. Beberapa
artis lain menatapnya remeh.
“Udah,
jangan bikin onar di sini!” pinta Deny berbisik. Ia langsung menyeret tubuh
Refi untuk keluar dari kantor tersebut.
Refi
masih tak terima dengan perlakuan orang-orang yang ada di perusahaan tersebut.
Ia berniat mencari direktur perusahaan untuk membuat perhitungan.
“Den,
cari tahu siapa direktur perusahaan ini! Dia misterius banget,” perintah Refi
saat ia sudah ada di dalam mobil.
Deny
mengangguk. Ia segera mencari tahu pemilik utama SD Entertainment. Namun, tak
ada informasi yang ia dapatkan satu pun dari internet.
“Gimana?”
tanya Refi setelah beberapa menit berlalu.
Deny
menggelengkan kepala. “Pemiliknya atas nama Surya Nada. Tapi identitasnya nggak
pernah tertulis di media. Sepertinya, pemilik perusahaan ini terlalu tertutup.
Mungkin, bisa kita cari di majalah bisnis.”
“Majalah
bisnis tahun berapa?” tanya Refi kesal.
“Sesuai
dengan tahun berdirinya SD Entertainment.”
“Nggak
usah aneh-aneh, Den! Ada berapa juta majalah bisnis yang terbit sejak
perusahaan itu berdiri?”
“Banyak
banget, sih. Aku coba cari di internet pake keyword yang lain lagi.”
Refi
mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ref
... kayaknya, ini ada hubungannya sama mantan pacar kamu itu.”
“Maksudnya?”
Deny
menyodorkan foto yang terpampang di layar ponselnya yang menunjukkan wajah
Yeriko dan seorang nenek berada di pintu kantor cabang SD Entertainment
Surabaya.
“Dia
ada saat pembukaan perusahaan cabang ini. Bahkan dia yang potong pita peresmian
bareng nenek itu. Kemungkinan besar, dia memang dalang di balik ini semua.”
Refi
menghela napas. Entah kenapa Yeriko terus berusaha menyingkirkan dirinya. Ia
tidak berniat untuk menyerah sebab banyak hal yang sudah ia korbankan untuk
mendapatkan cinta Yeriko, termasuk harga dirinya.
(( Bersambung ...))
Thanks udah dukung terus ceritanya sampai di sini. Apa
yang akan dilakukan Refi saat Mr. Ye nggak ada ya? Dia bakal nyari Yuna atau
nggak ya?
Baca terus kisah serunya ya ... Thanks atas dukungan
kalian semua.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment