Friday, February 13, 2026

Perfect Hero Bab 446 : Penghentian Tanpa Alasan

 


“Kak, kenapa jadwal kegiatan Refi harus dihentikan semua?” tanya Deny. Ia sudah melakukan negosiasi selama berjam-jam untuk membuat Refi tetap bertahan di acara yang sudah dijadwalkan sebelumnya.

 

“Ini sudah keputusan dari atasan kami. Untuk sementara, Refi off dari dunia hiburan sampai ada keputusan selanjutnya dari pemilik perusahaan.”

 

“Apa nggak bisa ditunda sampai acara yang sudah dijadwalkan selesai?” tanya Deny.

 

“Kami nggak bisa melanggar keputusan dari pimpinan perusahaan. Kamu suruh aja si Refi istirahat dulu selama sebulan ke depan.”

 

“Kak, kalau Refi nggak ada job. Otomatis nggak akan ada pemasukan buat dia.”

 

“Setidaknya, nggak sampai pemutusan kontrak. Dia akan tetap menerima gaji bulanannya. Kendalikan artis kamu itu supaya nggak bikin ulah dan bikin pimpinan kami murka. Lebih baik, kamu ajak aja dia liburan!”

 

Deny terdiam. Ia sudah berusaha membujuk Ajeng untuk berbicara dengan pimpinan perusahaan secara langsung. Namun, ia tetap mendapatkan hasil yang tidak memuaskan dan membuat ia tak bersemangat.

 

“Den, ini sudah hampir larut malam. Saya harus segera kembali ke rumah.” Ajeng bangkit dari tempat duduknya.

 

Deny menarik napas dan menganggukkan kepala. Ia benar-benar sakit kepala karena semua aktivitas syuting untuk Refi dihentikan oleh pimpinan perusahaan dengan alasan yang tidak ia ketahui. Ia keluar dari perusahaan dengan langkah tak bersemangat.

 

“Den ...!” panggil Refi yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.

 

Deny langsung mengangkat wajahnya menatap Refi. “Ref, kamu kenapa di sini?”

 

“Ada masalah apa?” tanya Refi saat melihat wajah Deny tak bersemangat.

 

Deny menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terduduk lemas di atas birai yang ada di dekatnya. “Ck, pusing aku.”

 

“Pusing kenapa?” tanya Refi.

 

“Semua jadwal kamu di-cancel. Perusahaan meliburkan kamu selama sebulan ke depan.”

 

“What!?” Refi membelalakkan matanya menatap Deny. “Serius!?”

 

Deny menganggukkan kepala. “Aku udah nego berjam-jam sama Ajeng. Tetep nggak ada hasilnya. Bangsat!” makinya.

 

Refi menghela napas. “Aku salah apa? Kenapa jadwal aku tiba-tiba di-cancel kayak gini? Kontrak gimana?” tanya Refi.

 

“Kontrak masih jalan. Masalahnya, kamu diliburkan selama sebulan. Kalo kamu nggak ada job, sama aja artis nggak berduit!”

 

“Kamu itu managerku. Harusnya kamu yang bisa ngatur semuanya. Semua jadwal aku tiba-tiba di-cancel kayak gini, kamu nggak tahu penyebabnya? Nggak becus!” gerutu Refi.

 

“Heh, kamu sadar nggak sama apa yang aku lakuin? Aku udah ngelakuin banyak hal buat kamu. Nggak ada terima kasihnya sama sekali!” seru Deny tak mau kalah.

 

Refi menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Ia berusaha menenangkan perasaannya sendiri.

 

“Pasti ada seseorang di balik ini semua. Nggak mungkin aku tiba-tiba jadwal yang udah diatur, dibatalin gitu aja sama pimpinan perusahaan,” tutur Deny. “Apalagi, nggak ada alasan yang jelas.”

 

Refi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bisa jadi emang kayak gitu. Kira-kira, siapa orang yang udah bikin ulah di belakang kita?” tanya Refi.

 

Deny tersenyum sinis. “Dari dulu, musuh kamu cuma satu orang. Istrinya Tuan Muda itu.”

 

“Nggak mungkin dia punya kekuatan buat ngelakuin ini semua!” sahut Refi.

 

“Dia nggak punya. Tapi suaminya punya,” sahut Deny.

 

“Iya juga, ya?” gumam Refi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bisa jadi, si Yuna nyuruh suaminya itu buat ngancurin kita. Siapa lagi orang yang akan tunduk di bawah tangan orang lain? Yeriko dan istrinya, pasti ada hubungannya sama ini semua.”

 

Deny menghela napas. “Ya sudahlah. Lebih baik, kita kembali ke apartemen. Tenangkan diri dulu sambil mencari solusi untuk permasalahan ini.”

 

Refi mengangguk-anggukkan kepala. Mereka segera kembali ke apartemen untuk beristirahat.

 

 

 

...

 

 

 

Keesokan harinya, Deny kembali ke perusahaan untuk meminta penjelasan pada direktur perusahaan secara langsung atas pembatalan seluruh kegiatan Refi. Namun, manager perusahaan tersebut tetap tidak mengizinkan Deny bertemu langsung dengan direktur perusahaan.

 

“Kak Ajeng, tolonglah!” pinta Deny. “Aku perlu ketemu langsung sama direktur perusahaan ini. Kami perlu penjelasan, kenapa direktur perusahaan membatalkan semua jadwal Refi secara tiba-tiba?”

 

“Den, aku udah jelasin semalam. Kamu masih nggak ngerti juga?” tanya Ajeng.

 

Deny menghela napas. Ia terus memohon agar Refi bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Namun, hasilnya tetap nihil. Direktur perusahaan tersebut tidak ingin menemuinya dengan alasan kalau gaji Refi tetap akan dikeluarkan setiap bulannya.

 

Deny sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik. Namun, ia masih terus mendapatkan penolakan dari perusahaan agency tersebut.

 

“Den, lebih baik kamu bawa artis kamu itu  buat liburan. Dia akan tetap dapet gaji. Pastikan kalau dia nggak bikin onar!” pinta Ajeng sambil berlalu pergi.

 

Deny mendesah kesal. Ia tetap tidak bisa mempertahankan Refi untuk tetap bisa diterbitkan seperti biasanya. Usahanya tetap tak membuahkan hasil.

 

Baru saja Deny keluar dari ruangan Ajeng, ia langsung mendengar keributan di lobi kantor. Suara wanita yang berteriak di sana sudah tak asing lagi di telinganya. Ia langsung menepuk dahi mendengar Refi berseteru dengan Ajeng.

 

“Kamu punya etika, nggak!?” seru Ajeng saat Refi tiba-tiba memakinya.

 

“Kak Ajeng jangan seenaknya juga dong! Kenapa tiba-tiba berhentiin semua jadwal aku tanpa alasan yang jelas?” teriak Refi tak mau kalah.

 

“Ini sudah keputusan direktur. Aku nggak bisa ganggu gugat. Deny nggak kasih tahu kamu?” tanya Ajeng kesal.

 

“Siapa direkturnya? Aku mau ketemu dia!” seru Refi lantang.

 

“Cari sendiri!” sahut Ajeng sambil melangkah pergi. Ia langsung menoleh ke arah Deny yang tak jauh darinya. “Den, kamu ajari artis kamu ini beretika!” perintahnya.

 

“Kak Ajeng, aku bukan nggak punya etika. Tapi aku kesel karena semua kegiatan aku dihentikan tanpa alasan kayak gini!”

 

“Ck, kamu ini masih beruntung dapet gaji bulanan kamu walau nggak nge-job. Lebih baik, kamu pergi liburan aja! Nggak udah bikin onar di sini!” sahut Ajeng.

 

Refi mengerutkan wajahnya. “Gimana aku bisa tenang liburan kalau kayak gini!?”

 

“Perusahaan ngasih kamu cuti selama sebulan ke depan. Kamu nikmati aja!” perintah Ajeng. Ia mulai kesal karena Refi terus menanyakan pertanyaan yang jawabannya akan tetap sama.

 

“Kak, aku baru aja mulai karirku. Kenapa tiba-tiba diginiin?” Refi masih terus mencecar pertanyaan ke arah Ajeng.

 

Ajeng tetap melangkah pergi. “Urus artis kamu ini!” perintahnya sambil menatap Deny.

 

Deny menganggukkan kepala. Ia langsung menghampiri Refi dan menenangkan wanita itu.

 

“Den, aku nggak terima diginiin!” seru Refi sambil mengedarkan pandangannya. Beberapa artis lain menatapnya remeh.

 

“Udah, jangan bikin onar di sini!” pinta Deny berbisik. Ia langsung menyeret tubuh Refi untuk keluar dari kantor tersebut.

 

Refi masih tak terima dengan perlakuan orang-orang yang ada di perusahaan tersebut. Ia berniat mencari direktur perusahaan untuk membuat perhitungan.

 

“Den, cari tahu siapa direktur perusahaan ini! Dia misterius banget,” perintah Refi saat ia sudah ada di dalam mobil.

 

Deny mengangguk. Ia segera mencari tahu pemilik utama SD Entertainment. Namun, tak ada informasi yang ia dapatkan satu pun dari internet.

 

“Gimana?” tanya Refi setelah beberapa menit berlalu.

 

Deny menggelengkan kepala. “Pemiliknya atas nama Surya Nada. Tapi identitasnya nggak pernah tertulis di media. Sepertinya, pemilik perusahaan ini terlalu tertutup. Mungkin, bisa kita cari di majalah bisnis.”

 

“Majalah bisnis tahun berapa?” tanya Refi kesal.

 

“Sesuai dengan tahun berdirinya SD Entertainment.”

 

“Nggak usah aneh-aneh, Den! Ada berapa juta majalah bisnis yang terbit sejak perusahaan itu berdiri?”

 

“Banyak banget, sih. Aku coba cari di internet pake keyword yang lain lagi.”

 

Refi mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Ref ... kayaknya, ini ada hubungannya sama mantan pacar kamu itu.”

 

“Maksudnya?”

 

Deny menyodorkan foto yang terpampang di layar ponselnya yang menunjukkan wajah Yeriko dan seorang nenek berada di pintu kantor cabang SD Entertainment Surabaya.

 

“Dia ada saat pembukaan perusahaan cabang ini. Bahkan dia yang potong pita peresmian bareng nenek itu. Kemungkinan besar, dia memang dalang di balik ini semua.”

 

Refi menghela napas. Entah kenapa Yeriko terus berusaha menyingkirkan dirinya. Ia tidak berniat untuk menyerah sebab banyak hal yang sudah ia korbankan untuk mendapatkan cinta Yeriko, termasuk harga dirinya.

 

(( Bersambung ...))

 

Thanks udah dukung terus ceritanya sampai di sini. Apa yang akan dilakukan Refi saat Mr. Ye nggak ada ya? Dia bakal nyari Yuna atau nggak ya?

Baca terus kisah serunya ya ... Thanks atas dukungan kalian semua.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas