“Bi,
Angga udah datang atau belum?” tanya Yuna sambil menyiapkan bekal makan siang
untuk Yeriko. Kali ini, ia sengaja membuat beberapa menu kesukaan suaminya. Ia
terlihat sangat bersemangat seperti biasanya.
“Belum,”
jawab Bibi War sambil membantu Yuna.
“Tumben?”
tanya Yuna sambil celingukan menatap halaman rumahnya.
“Tunggu
aja, Mbak! Mungkin, sebentar lagi sampai,” ucap Bibi War.
“Iya,
juga sih. Takutnya telat, Bi. Ntar Yeriko telat makan siang.”
Bibi
War tersenyum sambil menatap Yuna. “Mas Yeri sudah biasa begitu.”
“Itu
kan dulu waktu belum punya istri. Masa, udah punya istri masih telat makan
terus? Aku kayak istri yang nggak berguna,” tutur Yuna. Ia mulai gelisah karena
Angga tak kunjung muncul.
Beberapa
menit kemudian, mobil mama mertuanya muncul ke halaman rumahnya. Yuna bergegas
keluar dan langsung menghampiri Angga. “Tumben lama banget datangnya?”
“Maaf,
Nyonya Bos. Jalanan macet.”
“Tumben
macet?” tanya Yuna sambil masuk ke dalam mobil.
“Ada
kecelakaan bus.”
“Hah!?
Terus gimana penumpangnya?”
“Nggak
papa. Cuma busnya melintang di jalan aja. Bikin macet sebentar.”
“Oh.
Syukur deh kalo nggak papa.”
Angga
tersenyum. Ia bergegas menggerakkan setirnya dan keluar dari halaman rumah
Yuna.
Beberapa
menit kemudian, mereka sudah sampai ke kantor Galaxy.
“Selamat
siang, Bu ...!” sapa beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengan Yuna.
“Siang
...!” balas Yuna sambil tersenyum manis. Sudah menjadi hal biasa bagi semua
karyawan jika setiap hari ia mengirim makan siang untuk suaminya.
Yuna
langsung naik ke lantai paling atas. Ia menyusuri koridor, berbelok ke kiri
menuju ruang kerja suaminya. Langkahnya kemudian terhenti, ia merasa ada
seseorang di belakangnya. Benar saja, saat ia berbalik, Refi sudah ada di
belakangnya.
“Kamu
ngapain di sini?” tanya Yuna.
“Yeriko
yang minta aku buat ke sini,” jawab Refi sambil tersenyum.
“Oh.”
Yuna terlihat menanggapinya sangat santai.
Refi
menatap kesal ke arah Yuna karena tak ada reaksi yang memuaskan hatinya. Ia
memerhatikan Yuna yang membawa tas bekal untuk suaminya. “Kamu bawain bekal
buat Yeriko?”
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. “Setiap hari aku selalu masak untuk suamiku.”
Refi
tersenyum sinis. “Masak itu kerjaan pembantu. Kamu nikah sama Yeriko, cuma
dijadiin pembantu doang?”
Yuna
menahan tawa mendengar ucapan Refi. “Walau cuma dijadiin pembantu, setidaknya
bisa selalu ada di dekat dia. Setiap hari makan di meja makan yang sama, tidur
di ranjang yang sama dan mandi di bathtub yang sama. Pembantu yang sangat
beruntung kan?” sahut Yuna sambil tersenyum.
Refi
langsung mengerutkan wajahnya. Dadanya dipenuhi kebencian setiap kali melihat
senyuman dari bibir Yuna.
Yuna
tersenyum sinis ke arah Refi. “Orang kayak kamu, nggak akan pernah mengerti apa
itu arti ketulusan. Memasak itu pekerjaan yang dilakukan dengan penuh cinta.
Sebenarnya, Yeriko selalu ngelarang aku masak supaya istrinya tetap santai dan
cantik sepanjang hari. Tapi dia lebih bahagia ketika makan masakanku. Jadi aku
selalu melakukannya penuh cinta.”
Refi
mengerutkan hidungnya menatap Yuna. “Kamu mau pamer sama aku?”
Yuna
tersenyum sambil menatap Refi. “Iya. Karena kamu harus tahu gimana cintanya
Yeriko ke aku. Jadi, jangan ngimpi mau ngerusak rumah tangga orang!” Ia
berbalik dan melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Yeriko.
“Siang,
Bu ...!” sapa dua orang sekretaris Yeriko dengan ramah.
“Siang
juga. Bapak ada di ruangannya?” tanya Yuna.
“Masih
rapat, Bu. Ibu tunggu saja di dalam!” tutur sekretaris itu dengan ramah.
“Oke.
Thanks ...! Eh, jangan panggil Ibu terus, dong! Emangnya, aku kelihatan tua
ya?” tanya Yuna sambil memegangi wajahnya sendiri.
Dua
sekretaris itu tertawa kecil. “Nggak, Bu. Masih muda dan cantik. Hanya saja,
kami tidak berani selancang itu sama istrinya Pak Bos.”
Yuna
menghela napas. “Apa suamiku memang sekejam ini? Semua karyawannya takut sama
dia,” batin Yuna sambil melenggang masuk ke ruang kerja suaminya.
Yuna
langsung menyiapkan makan siang untuk suaminya karena waktu istirahatnya hanya
tinggal beberapa menit lagi.
Di
saat yang sama ...
“Pak,
Mbak Refi sudah datang dan menunggu Bapak di ruang tunggu,” tutur Riyan saat
Yeriko keluar dari ruang rapatnya.
“Ruang
tunggu mana? Lobi?”
Riyan
menggelengkan kepala. “Di lantai ruangan Pak Bos.”
“Oh,
Oke. Istri saya sudah datang?”
“Sudah,
Pak. Baru masuk ruangan Pak Bos lima menit yang lalu.”
Yeriko
mengangguk kecil sambil merapikan posisi dasi dan jasnya yang sebenarnya sudah
terlihat rapi. Sebelum masuk ke ruangannya, ia lebih dulu menghampiri Refi yang
menunggunya di ruang tunggu.
“Udah
lama nunggu?” tanya Yeriko sambil berdiri di pintu.
Refi
langsung memutar kepalanya menatap Yeriko. Ia sudah menunggu di sana lebih dari
satu jam. “Eh!? Nggak, kok. Udah selesai rapatnya?” tanya Refi sambil bangkit
dari tempat duduknya dan menghampiri Yeriko.
Yeriko
melangkah mundur menghindari tubuh Refi. “Udah. Kita ngobrol di ruanganku aja
ya!” perintah Yeriko sambil berbalik dan melangkah menuju ruangannya yang
berseberangan dengan ruang tunggu.
Refi
tersenyum bahagia. Ia buru-buru mengikuti langkah kaki Yeriko. Ia pikir, bisa
leluasa mendekati Yeriko jika hanya berduaan di dalam ruangannya.
“Selamat
siang, Pak Ye!” sapa dua sekretaris Yeriko yang sedang sibuk di mejanya.
“Siang.
Kalian masih di sini? Nggak pergi makan siang?” tanya Yeriko sambil menyentuh
salah satu meja sekretarisnya.
Dua
sekretaris itu menoleh ke arah Refi yang berdiri di belakang Yeriko. “Sebentar
lagi kami ke kantin, Pak.”
“Oke.
Jangan telat makan! Kalau kalian sakit, saya juga yang repot,” tutur Yeriko.
“Baik,
Pak!” Dua sekretaris itu menganggukkan kepala.
Yeriko
tersenyum, ia melangkah santai masuk ke dalam ruangannya sambil memasukkan
tangan ke saku celananya.
Refi
tersenyum manis ke arah dua sekretaris Yeriko. “Kenapa sekretarisnya Yeriko
emak-emak semua? Emangnya, nggak ada sekretaris yang lebih cantik dan seksi
kayak di tv gitu?” batinnya sambil melangkahkan kakinya menyusul Yeriko.
“Sepertinya,
bakal ada perang dingin di dalam sana. Pak Bos bawa mantan pacar ketemu sama
istrinya. Amazing banget!” tutur salah seorang sekretaris Yeriko.
“Biar
aja! Kita ke kantin aja! Nggak usah ngurusin urusan pribadinya Pak Bos. Ntar
kita di depak dari sini.”
Dua
sekretaris itu bergegas turun ke kantin yang ada di lantai paling bawah.
Yeriko
langsung tersenyum begitu melihat punggung Yuna yang sedang sibuk menyiapkan
makan siang untuknya.
“Udah
lama datangnya?” bisik Yeriko sambil memeluk tubuh Yuna dari belakang.
Yuna
langsung menoleh ke arah Yeriko. “Baru aja, kok,” jawabnya sambil tersenyum.
Yeriko
meletakkan dagunya di punggung Yuna. “Masak apa hari ini?” tanyanya sambil
memainkan ujung hidungnya di pipi dan leher Yuna.
“Geli
...!” seru Yuna sambil menahan wajah Yeriko agar tidak bergerak lagi. “Makan,
yuk! Aku masak banyak makanan enak hari ini.”
Yeriko
tersenyum sambil mengendus bahu Yuna. Tangannya sibuk mengelus-elus perut Yuna
yang terasa sangat kencang.
“Ay,
geli ...!” seru Yuna.
“Geli
atau nafsu?” tanya Yeriko.
Yuna
tertawa kecil sambil mencubit pinggang Yeriko. “Nakal banget, sih?”
Yeriko
ikut tertawa. Ia semakin liar menciumi istrinya.
Yuna
berusaha berkelit. “Makan siang dulu! Ciumnya nanti lagi!” perintah Yuna sambil
menghalau wajah Yeriko dengan telapak tangannya.
“Aku
maunya sekarang,” tutur Yeriko sambil terus mengejar wajah Yuna.
Yuna
berusaha menghindari ciuman dari Yeriko yang sedang memeluknya. Ia terus
tertawa karena sikap suaminya yang begitu agresif. Namun, ia langsung
menghentikan tawanya begitu melihat Refi berdiri tak jauh dari mereka. Ia
buru-buru melepas pelukkan dari suaminya.
“Refi
...!?” Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko. “Kamu nggak bilang kalau ada
tamu?”
Yeriko
menepuk dahinya. “Lupa,” jawabnya sambil menahan tawa.
Refi
menatap Yuna dan Yeriko penuh kekesalan. Hanya saja, ia coba menyembunyikan di
balik senyuman manis bibirnya. Ia tidak ingin terpancing amarah karena Yuna dan
Yeriko yang sengaja menunjukkan kemesraan di hadapannya. Sebisa mungkin, ia
bersikap tenang agar menarik perhatian Yeriko seperti yang dia inginkan.
“Duduk,
Ref!” pinta Yeriko sambil menunjuk sofa yang tak jauh dari hadapan mereka. “Aku
lupa kalau ada kamu di belakangku.”
“Kamu
dateng bareng dia?” tanya Yuna sambil tersenyum menatap Yeriko.
Yeriko
mengangguk kecil.
“Ya
udah, kelarin aja urusan kalian dulu!” tutur Yuna sambil mempersilakan suaminya
menghampiri Refi.
Yeriko
mengangguk. Ia tersenyum sambil menarik lengan Yuna untuk duduk bersamanya.
Refi
semakin kesal melihat Yeriko dan Yuna yang tidak berjarak. Ia semakin kesal
karena Yuna selalu menempel pada Yeriko. Namun, ia tidak akan menyerah begitu
saja untuk membuat Yuna salah paham dan menghancurkan rumah tangga dua orang
yang ada di hadapannya itu.
((Bersambung ...))
Thanks udah dukung cerita ini terus.
Buat teman-teman yang nggak suka konflik berat, boleh
skip dulu babnya karena akan menuju klimaks. Sapa terus di kolom komentar biar
author makin gila semangat menulisnya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi


