Thursday, February 12, 2026

Perfect Hero Bab 433 : Sengaja Bikin Panas

 


 

 

“Bi, Angga udah datang atau belum?” tanya Yuna sambil menyiapkan bekal makan siang untuk Yeriko. Kali ini, ia sengaja membuat beberapa menu kesukaan suaminya. Ia terlihat sangat bersemangat seperti biasanya.

 

“Belum,” jawab Bibi War sambil membantu Yuna.

 

“Tumben?” tanya Yuna sambil celingukan menatap halaman rumahnya.

 

“Tunggu aja, Mbak! Mungkin, sebentar lagi sampai,” ucap Bibi War.

 

“Iya, juga sih. Takutnya telat, Bi. Ntar Yeriko telat makan siang.”

 

Bibi War tersenyum sambil menatap Yuna. “Mas Yeri sudah biasa begitu.”

 

“Itu kan dulu waktu belum punya istri. Masa, udah punya istri masih telat makan terus? Aku kayak istri yang nggak berguna,” tutur Yuna. Ia mulai gelisah karena Angga tak kunjung muncul.

 

Beberapa menit kemudian, mobil mama mertuanya muncul ke halaman rumahnya. Yuna bergegas keluar dan langsung menghampiri Angga. “Tumben lama banget datangnya?”

 

“Maaf, Nyonya Bos. Jalanan macet.”

 

“Tumben macet?” tanya Yuna sambil masuk ke dalam mobil.

 

“Ada kecelakaan bus.”

 

“Hah!? Terus gimana penumpangnya?”

 

“Nggak papa. Cuma busnya melintang di jalan aja. Bikin macet sebentar.”

 

“Oh. Syukur deh kalo nggak papa.”

 

Angga tersenyum. Ia bergegas menggerakkan setirnya dan keluar dari halaman rumah Yuna.

 

Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai ke kantor Galaxy.

 

“Selamat siang, Bu ...!” sapa beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengan Yuna.

 

“Siang ...!” balas Yuna sambil tersenyum manis. Sudah menjadi hal biasa bagi semua karyawan jika setiap hari ia mengirim makan siang untuk suaminya.

 

Yuna langsung naik ke lantai paling atas. Ia menyusuri koridor, berbelok ke kiri menuju ruang kerja suaminya. Langkahnya kemudian terhenti, ia merasa ada seseorang di belakangnya. Benar saja, saat ia berbalik, Refi sudah ada di belakangnya.

 

“Kamu ngapain di sini?” tanya Yuna.

 

“Yeriko yang minta aku buat ke sini,” jawab Refi sambil tersenyum.

 

“Oh.” Yuna terlihat menanggapinya sangat santai.

 

Refi menatap kesal ke arah Yuna karena tak ada reaksi yang memuaskan hatinya. Ia memerhatikan Yuna yang membawa tas bekal untuk suaminya. “Kamu bawain bekal buat Yeriko?”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Setiap hari aku selalu masak untuk suamiku.”

 

Refi tersenyum sinis. “Masak itu kerjaan pembantu. Kamu nikah sama Yeriko, cuma dijadiin pembantu doang?”

 

Yuna menahan tawa mendengar ucapan Refi. “Walau cuma dijadiin pembantu, setidaknya bisa selalu ada di dekat dia. Setiap hari makan di meja makan yang sama, tidur di ranjang yang sama dan mandi di bathtub yang sama. Pembantu yang sangat beruntung kan?” sahut Yuna sambil tersenyum.

 

Refi langsung mengerutkan wajahnya. Dadanya dipenuhi kebencian setiap kali melihat senyuman dari bibir Yuna.

 

Yuna tersenyum sinis ke arah Refi. “Orang kayak kamu, nggak akan pernah mengerti apa itu arti ketulusan. Memasak itu pekerjaan yang dilakukan dengan penuh cinta. Sebenarnya, Yeriko selalu ngelarang aku masak supaya istrinya tetap santai dan cantik sepanjang hari. Tapi dia lebih bahagia ketika makan masakanku. Jadi aku selalu melakukannya penuh cinta.”

 

Refi mengerutkan hidungnya menatap Yuna. “Kamu mau pamer sama aku?”

 

Yuna tersenyum sambil menatap Refi. “Iya. Karena kamu harus tahu gimana cintanya Yeriko ke aku. Jadi, jangan ngimpi mau ngerusak rumah tangga orang!” Ia berbalik dan melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Yeriko.

 

“Siang, Bu ...!” sapa dua orang sekretaris Yeriko dengan ramah.

 

“Siang juga. Bapak ada di ruangannya?” tanya Yuna.

 

“Masih rapat, Bu. Ibu tunggu saja di dalam!” tutur sekretaris itu dengan ramah.

 

“Oke. Thanks ...! Eh, jangan panggil Ibu terus, dong! Emangnya, aku kelihatan tua ya?” tanya Yuna sambil memegangi wajahnya sendiri.

 

Dua sekretaris itu tertawa kecil. “Nggak, Bu. Masih muda dan cantik. Hanya saja, kami tidak berani selancang itu sama istrinya Pak Bos.”

 

Yuna menghela napas. “Apa suamiku memang sekejam ini? Semua karyawannya takut sama dia,” batin Yuna sambil melenggang masuk ke ruang kerja suaminya.

 

Yuna langsung menyiapkan makan siang untuk suaminya karena waktu istirahatnya hanya tinggal beberapa menit lagi.

 

 

 

Di saat yang sama ...

 

“Pak, Mbak Refi sudah datang dan menunggu Bapak di ruang tunggu,” tutur Riyan saat Yeriko keluar dari ruang rapatnya.

 

“Ruang tunggu mana? Lobi?”

 

Riyan menggelengkan kepala. “Di lantai ruangan Pak Bos.”

 

“Oh, Oke. Istri saya sudah datang?”

 

“Sudah, Pak. Baru masuk ruangan Pak Bos lima menit yang lalu.”

 

Yeriko mengangguk kecil sambil merapikan posisi dasi dan jasnya yang sebenarnya sudah terlihat rapi. Sebelum masuk ke ruangannya, ia lebih dulu menghampiri Refi yang menunggunya di ruang tunggu.

 

“Udah lama nunggu?” tanya Yeriko sambil berdiri di pintu.

 

Refi langsung memutar kepalanya menatap Yeriko. Ia sudah menunggu di sana lebih dari satu jam. “Eh!? Nggak, kok. Udah selesai rapatnya?” tanya Refi sambil bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Yeriko.

 

Yeriko melangkah mundur menghindari tubuh Refi. “Udah. Kita ngobrol di ruanganku aja ya!” perintah Yeriko sambil berbalik dan melangkah menuju ruangannya yang berseberangan dengan ruang tunggu.

 

Refi tersenyum bahagia. Ia buru-buru mengikuti langkah kaki Yeriko. Ia pikir, bisa leluasa mendekati Yeriko jika hanya berduaan di dalam ruangannya.

 

“Selamat siang, Pak Ye!” sapa dua sekretaris Yeriko yang sedang sibuk di mejanya.

 

“Siang. Kalian masih di sini? Nggak pergi makan siang?” tanya Yeriko sambil menyentuh salah satu meja sekretarisnya.

 

Dua sekretaris itu menoleh ke arah Refi yang berdiri di belakang Yeriko. “Sebentar lagi kami ke kantin, Pak.”

 

“Oke. Jangan telat makan! Kalau kalian sakit, saya juga yang repot,” tutur Yeriko.

 

“Baik, Pak!” Dua sekretaris itu menganggukkan kepala.

 

Yeriko tersenyum, ia melangkah santai masuk ke dalam ruangannya sambil memasukkan tangan ke saku celananya.

 

Refi tersenyum manis ke arah dua sekretaris Yeriko. “Kenapa sekretarisnya Yeriko emak-emak semua? Emangnya, nggak ada sekretaris yang lebih cantik dan seksi kayak di tv gitu?” batinnya sambil melangkahkan kakinya menyusul Yeriko.

 

“Sepertinya, bakal ada perang dingin di dalam sana. Pak Bos bawa mantan pacar ketemu sama istrinya. Amazing banget!” tutur salah seorang sekretaris Yeriko.

 

“Biar aja! Kita ke kantin aja! Nggak usah ngurusin urusan pribadinya Pak Bos. Ntar kita di depak dari sini.”

 

Dua sekretaris itu bergegas turun ke kantin yang ada di lantai paling bawah.

 

Yeriko langsung tersenyum begitu melihat punggung Yuna yang sedang sibuk menyiapkan makan siang untuknya.

 

“Udah lama datangnya?” bisik Yeriko sambil memeluk tubuh Yuna dari belakang.

 

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko. “Baru aja, kok,” jawabnya sambil tersenyum.

 

Yeriko meletakkan dagunya di punggung Yuna. “Masak apa hari ini?” tanyanya sambil memainkan ujung hidungnya di pipi dan leher Yuna.

 

“Geli ...!” seru Yuna sambil menahan wajah Yeriko agar tidak bergerak lagi. “Makan, yuk! Aku masak banyak makanan enak hari ini.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengendus bahu Yuna. Tangannya sibuk mengelus-elus perut Yuna yang terasa sangat kencang.

 

“Ay, geli ...!” seru Yuna.

 

“Geli atau nafsu?” tanya Yeriko.

 

Yuna tertawa kecil sambil mencubit pinggang Yeriko. “Nakal banget, sih?”

 

Yeriko ikut tertawa. Ia semakin liar menciumi istrinya.

 

Yuna berusaha berkelit. “Makan siang dulu! Ciumnya nanti lagi!” perintah Yuna sambil menghalau wajah Yeriko dengan telapak tangannya.

 

“Aku maunya sekarang,” tutur Yeriko sambil terus mengejar wajah Yuna.

 

Yuna berusaha menghindari ciuman dari Yeriko yang sedang memeluknya. Ia terus tertawa karena sikap suaminya yang begitu agresif. Namun, ia langsung menghentikan tawanya begitu melihat Refi berdiri tak jauh dari mereka. Ia buru-buru melepas pelukkan dari suaminya.

 

“Refi ...!?” Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko. “Kamu nggak bilang kalau ada tamu?”

 

Yeriko menepuk dahinya. “Lupa,” jawabnya sambil menahan tawa.

 

Refi menatap Yuna dan Yeriko penuh kekesalan. Hanya saja, ia coba menyembunyikan di balik senyuman manis bibirnya. Ia tidak ingin terpancing amarah karena Yuna dan Yeriko yang sengaja menunjukkan kemesraan di hadapannya. Sebisa mungkin, ia bersikap tenang agar menarik perhatian Yeriko seperti yang dia inginkan.

 

“Duduk, Ref!” pinta Yeriko sambil menunjuk sofa yang tak jauh dari hadapan mereka. “Aku lupa kalau ada kamu di belakangku.”

 

“Kamu dateng bareng dia?” tanya Yuna sambil tersenyum menatap Yeriko.

 

Yeriko mengangguk kecil.

 

“Ya udah, kelarin aja urusan kalian dulu!” tutur Yuna sambil mempersilakan suaminya menghampiri Refi.

 

Yeriko mengangguk. Ia tersenyum sambil menarik lengan Yuna untuk duduk bersamanya.

 

Refi semakin kesal melihat Yeriko dan Yuna yang tidak berjarak. Ia semakin kesal karena Yuna selalu menempel pada Yeriko. Namun, ia tidak akan menyerah begitu saja untuk membuat Yuna salah paham dan menghancurkan rumah tangga dua orang yang ada di hadapannya itu.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Buat teman-teman yang nggak suka konflik berat, boleh skip dulu babnya karena akan menuju klimaks. Sapa terus di kolom komentar biar author makin gila semangat menulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 432 : Semakin Terobsesi

 


“Akhirnya ... dia nelpon dan mau ketemuan sama aku!” seru Refi sambil merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Refi terus tersenyum bahagia sambil memeluk ponselnya.

 

“Mmh ... aku pakai baju yang mana ya?” Ia bangkit dari tempat tidur. Melangkah menuju lemari dan mengeluarkan semua koleksi pakaiannya. Ia ingin Yeriko melihat dirinya kembali seperti dulu. Karenanya, ia harus mengenakan pakaian yang bisa menarik perhatian Tuan Muda itu.

 

Sepanjang malam, Refi sibuk memilih pakaian yang akan ia kenakan saat bertemu dengan Yeriko. Membuat ia tertidur bersama semua pakaian yang ia keluarkan dari dalam lemari saat menjelang pagi.

 

“Aargh ...!” Refi langsung berteriak saat membuka mata dan melihat jam yang ada di ponselnya. Ia baru membuka matanya kembali saat sudah jam sepuluh pagi. Alhasil, ia terburu-buru untuk mandi dan make-up.

 

“Mau ke mana?” tanya Deny yang sudah ada di depan pintu apartemen saat Refi baru saja membuka pintu untuk pergi.

 

“Mau ke Galaxy,” jawab Refi sambil memasang sepatunya dengan terburu-buru.

 

“Kenapa pakai baju kayak gini?” tanya Deny sambil memerhatikan tubuh Refi dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Ia melihat bagian dada dan punggung Refi yang terbuka lebar.

 

“Emangnya kenapa? Ada yang salah?”

 

“Kamu tahu kalau kantor perusahaan itu semua karyawannya pakai pakaian yang formal dan sopan. Ini terlalu seksi. Kayak mau ke klub malam aja,” tutur Deny.

 

“Den, aku ini artis. Wajar aja kalau aku pakai baju gini. Kalo aku pake baju formal kayak orang kantoran, Yeriko nggak bakal tergoda. Harus tampil cantik dan seksi supaya bisa bikin dia tertarik sama aku lagi,” cerocos Refi.

 

Deny langsung mendorong tubuh Refi, masuk kembali ke dalam apartemen tersebut. “Ganti, Ref!” perintahnya.

 

“Kenapa? Aku biasa kayak gini, Den.”

 

“Ck, kamu ini masih nggak ngerti juga. Tuan Muda itu nggak akan tergoda dengan pakaian seksi kayak gini. Istrinya aja udah putih mulus kayak gitu. Kamu mau telanjang di depan dia pun, dia nggak akan tergoda.”

 

“Kamu malah perhatiin perempuan jalang yang udah ngerebut Yeriko dari aku? Jangan-jangan, kamu juga tergoda sama dia?”

 

Deny tertawa kecil. “Kenapa? Kamu cemburu? Udah mulai jatuh cinta sama aku?”

 

“Nggak akan jatuh cinta sama kamu!” seru Refi.

 

Deny tertawa kecil. “Nggak masalah. Yang penting bisa puasin aku kapan pun aku mau. Cinta nggak penting, yang penting nikmat.”

 

“Kamu ...!?” Refi mendelik ke arah Deny sambil menunjuk wajah pria itu.

 

Deny tersenyum puas menatap Refi. “Kenapa? Kamu menikmatinya juga ‘kan?”

 

Refi menghentakkan kaki, ia segera kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya.

 

“Antarin aku ke Galaxy!” perintah Refi usai mengganti pakaiannya.

 

Deny tersenyum dan bangkit dari duduknya. Mereka bergegas pergi ke kantor Galaxy Group untuk bertemu dengan Yeriko.

 

 

 

Sesampainya di kantor Galaxy Group, Refi tak mendapat sambutan baik. Semua karyawan yang ada di kantor tersebut sudah sangat mengenal Refi yang selalu berulah. Sehingga, banyak dari mereka yang mencibir. Memasang wajah tak bersahabat saat Refi memasuki kantor tersebut.

 

“Selamat pagi ...!” sapa Refi pada resepsionis yang berjaga sambil melepas kacamatanya. Ia memasang senyuman paling manis di dunia.

 

“Pagi ...!” balas resepsionis tersebut dengan wajah tak bersahabat.

 

“Yeriko ada di ruangannya?” tanya Refi.

 

“Maaf, Bu. Pak Yeri sedang rapat dan tidak bisa diganggu.”

 

“Aku udah janjian mau ketemu sama dia. Kenapa kamu halang-halangin?” tanya Refi.

 

“Saya tidak menghalangi. Pak Yeri memang sedang rapat.”

 

“Ya udah. Kasih tahu sama bos kamu kalau aku udah datang! Dia yang nyuruh aku ke kantor ini,”  perintah Refi dengan gaya angkuhnya.

 

“Sebentar, Bu!” pinta resepsionis tersebut sambil menelepon.

 

“Gimana?” tanya Refi begitu resepsionis tersebut mematikan teleponnya.

 

“Silakan tunggu sebentar. Mas Riyan akan segera ke sini.”

 

“Oke.” Refi mengedarkan pandangannya. Ia menatap langit-langit ruangan di lobi tersebut yang tingginya sekitar tujuh meter lebih. Dihiasi dengan lampu-lampu bergaya retro yang dihiasi dengan fitting pentagonal. Ada deretan sofa mewah yang bisa digunakan untuk menunggu, membuat kantor tersebut terlihat sangat mewah dan berkelas. E

 

“Hmm ... andai aku yang jadi istrinya Yeriko, gedung ini sudah pasti jadi milikku,” batin Refi sambil tersenyum. Ia terus membayangkan kehidupan bahagianya bersama Tuan Muda pewaris Galaxy Group tersebut.

 

“Selamat pagi, Mbak Refi!” sapaan dari Riyan membuyarkan lamunan Refi.

 

Refi langsung menoleh ke arah Riyan. “Eh, Riyan? Gimana? Yeriko udah ngasih tahu kalau dia nyuruh aku ke sini?”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Tapi, Pak Bos masih meeting. Mbak Refi terlambat dari waktu yang sudah dijanjikan Pak Bos. Jadi, Mbak Refi bisa tunggu dulu di lantai ruangan Pak Bos.”

 

Refi mengangguk. “Oke. Thanks!” Ia sangat senang karena Yeriko masih memberinya kesempatan walau ia terlambat beberapa menit dari waktu yang telah ditentukan. Ia bersedia menunggu sampai Yeriko selesai rapat.

 

“Ayo, ikuti saya!” pinta Riyan sambil melangkahkan kakinya menuju lift.

 

Beberapa menit kemudian, Riyan dan Refi sudah sampai di lantai dua puluh lima. Lantai gedung berukuran seratus meter persegi di paling atas adalah kekuasaan Yeriko. Semua fasilitas yang ada di sana hanya milik Yeriko dan tidak semua orang memiliki akses bebas untuk masuk ke lantai tersebut.

 

Begitu keluar dari lift, Refi langsung menyusuri lorong sepanjang sepuluh meter. Kemudian, ia berbelok ke kanan bersama dengan Riyan.

 

“Mbak Refi bisa duduk di sini terlebih dahulu sambil menunggu Pak Bos selesai rapat,” tutur Riyan sambil mengajak Refi untuk masuk ke ruangan tersebut.

 

Refi menganggukkan kepala. “Thanks ...!”

 

Riyan mengangguk. “Kalau gitu, saya permisi dulu!” pamit Riyan. Ia berlalu pergi meninggalkan Refi dan masuk ke lorong sebelah kiri untuk menyapa dua sekretaris Yeriko yang ada di sana.

 

Sebelum mencapai ruang kerja Yeriko, semua orang akan melewati dua orang sekretaris yang bekerja di sana. Juga ruangan Riyan, asisten pribadi yang  pintu ruangannya tak jauh dari ruangan bosnya.

 

“Bu, di ruang tunggu ada Mbak Refi. Jangan sampai dia masuk ke ruangan Pak Bos sebelum Pak Bos datang!” tutur Riyan pada dua sekretaris yang ada di sana.

 

“Siap, Pak Riyan!”

 

“Mbak Refi yang artis itu?” tanya sekretaris yang satunya lagi.

 

Riyan menganggukkan kepala. “Kalian tahu kalau Pak Bos nggak suka sama dia. Jangan sampai dia bikin onar sebelum Pak Bos datang. Apa aja yang dia minta, kasih aja! Kecuali masuk ke ruang kerja Pak Bos!”

 

“Oke.” Dua sekretaris itu mengacungkan jempol bersamaan.

 

Riyan tersenyum, ia bergegas masuk ke ruangannya dan kembali mengerjakan pekerjaannya seperti biasa.

 

 

 

Refi mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ruangan bernuansa putih emas itu benar-benar menunjukkan selera Yeriko yang mewah dan sempurna. Refi memerhatikan design interior dari ruangan berukuran tujuh meter persegi tersebut.

 

“Kantor ini mewah banget! Harusnya, aku bisa jadi nyonya di kantor ini. Aku pasti bisa ngerebut Yeriko lagi!” tutur Refi penuh percaya diri.

 

Refi masih saja membayangkan dan berharap kalau dirinya bisa kembali bersama Yeriko. Sementara, ia tidak mengetahui kalau Yeriko dan Yuna sengaja mempermainkan dirinya.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar Author makin semangat buat update bab setiap hari. Jangan lupa sapa di kolom komentar ya! Big thanks buat yang udah kasih hadiah untuk cerita ini.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 431 : Tumpahan Perhatian

 


“Den, gimana ini?” tanya Refi saat ia dan Deny sedang istirahat di apartemennya.

 

Deny tak menjawab. Ia terlihat sangat santai menanggapi kecemasan Refi.

 

“Deny ...!” seru Refi kesal.

 

“Sabar, Ref. Aku udah pantau Tuan Muda itu terus, tapi nggak ada pergerakan.”

 

“Dia masih nggak ngerespon sama apa yang kita buat. Dia juga nggak ada hubungi aku. Kenapa dia secuek ini, sih?”  gerutu Refi.

 

Deny hanya tersenyum kecil. “Kamu yang paling memahami dia. Aku udah ngelakuin semua yang kamu minta. Soal gimana respon dia ke kamu, itu di luar kendaliku. Lagian, Tuan Muda itu orangnya tenang banget. Dia bersikap seolah-olah nggak pernah terjadi apa-apa.”

 

Refi semakin gelisah karena Yeriko tak kunjung merespon semua postingan-postingan yang dia buat.

 

“Harusnya, Tuan Muda itu bereaksi saat istrinya terganggu. Kenapa, kali ini dia diam aja?” tanya Deny.

 

“Nggak tahu, Deny ...!” sahut Refi geram. “Harusnya, kamu bikin sesuatu yang lebih greget lagi supaya Yeriko nyamperin aku dan ninggalin cewek sialan itu!”

 

“Aku udah lakuin semua yang kamu suruh. Masih aja kurang!” seru Deny. “Kalo kamu bisa, lakuin sendiri!”

 

“Oke, aku lakuin semuanya sendiri,” sahut Refi makin kesal.

 

“Coba kalo berani!” seru Deny.

 

“Barusan kamu sendiri yang nyuruh aku buat ngerjain semuanya sendiri. Cari orang kayak kamu, nggak susah!”

 

“Eh, kalo cari orang kayak aku itu gampang ... kenapa setiap ada kesulitan, kamu selalu nyari aku? Kenapa nggak nyari orang lain aja?” tanya Deny.

 

Refi terdiam. Ia hanya memiliki Deny untuk ia andalkan. Terlebih, orang yang selama ini dekat dengannya hanya Deny. Jika tidak ada pria itu, hidupnya mungkin sudah berakhir dengan tragis karena tak ada yang membantunya.

 

Refi terus menatap Deny yang terlihat sangat santai. Sudah berhari-hari gosip yang muncul di media selalu menyudutkan Yuna dan Yeriko. Namun, tetap saja tidak ada reaksi. Ia pikir, Deny tidak sungguh-sungguh melakukan hal yang ia inginkan.

 

“Kayaknya, aku memang harus bertindak sendiri,” gumam Refi sambil menatap Deny penuh kebencian.

 

Deny tersenyum sinis. “Jangan melakukan apa pun tanpa sepengetahuan dari aku!” ucapnya seolah bisa membaca pikiran Refi.

 

Refi hanya menatap wajah Deny tanpa berkata-kata.

 

“Aku pulang dulu!” pamit Deny. “Masih ada bisnis yang harus aku urus. Ingat, jangan membuat keputusan sendiri!”

 

Refi mengangguk.

 

Deny tersenyum sambil menatap Refi. “Kamu memang penurut,” tuturnya lirih sambil bergegas keluar dari rumah Refi.

 

Refi mendengus kesal. Ia merebahkan tubuhnya di sofa sambil memeriksa postingannya di internet.

 

“Hah!? Yuna punya akun instagram?” tanyanya saat membaca komentar dari user Ms. Ye.

 

“Idih, dia pake nama Ms. Ye dengan pedenya. Harusnya, aku yang menyandang gelar nama itu. Kalo aja kamu nggak ambil Yeriko dari aku. Aku pasti sudah jadi istrinya Yeriko dan hidup bahagia,” gerutu Refi.

 

“Kok, Yuna cuma komentar sekali. Pendek banget pula. Aku media sosialnya dia juga di-private. Gimana aku mau lihat reaksi dari dia?” gumam Refi.

 

Refi menarik napas beberapa kali. “Sabar, Ref! Sabar! Sebentar lagi, Yeriko pasti akan menerima kamu lagi,” ucap Refi pada dirinya sendiri.

 

Refi terus berpikir untuk menghubungi Yeriko terlebih dahulu. Namun, niatnya itu ia urungkan karena ia tidak ingin Yeriko menaruh curiga yang lebih dalam lagi.

 

 

 

...

 

 

 

Di saat yang sama ...

 

“Ay, gimana perkembangan mantan pacar kamu itu?’ tanya Yuna yang sedang duduk santai dalam pelukkan Yeriko sambil menonton televisi.

 

Yeriko mengedikkan bahunya.

 

“Dia makin gila dan nggak masuk akal.”

 

“Biar aja dia gila,” sahut Yeriko santai.

 

“Kamu kok bisa punya mantan pacar kayak gitu? Obsesinya terlalu besar,” tanya Yuna.

 

“Nggak tahu. Dia emang ambisius. Aku pikir, nggak sampai segila ini.”

 

“Enaknya diapain ya?” tanya Yuna.

 

“Biarkan aja! Nanti capek sendiri.”

 

“Padahal, banyak juga komentar pedas yang menyudutkan dia. Apalagi, kita udah pernah buat konferensi pers waktu itu. Banyak netizen yang masih ingat itu. Sebagian tetap berpihak ke Refi, sebagian lagi berpihak ke aku.”

 

“Nggak usah kamu ladeni terus!” pinta Yeriko. “Nanti kamu ikutan gila kayak dia. Lebih baik, cari kegiatan positif lainnya daripada cuma bacain komentar nggak bermanfaat.”

 

Yuna tertawa kecil sambil menatap wajah Yeriko. “Iya, juga sih. Kelihatan banget kalau aku kekurangan kerjaan.”

 

“Banyak hal yang bisa kamu kerjain. Oh iya, kemarin Mama Rully ada tanyain soal ini ... mmh ... kegiatan ibu-ibu itu apa ya?”

 

“Ibu-ibu apa?”

 

“Yang di Dekranasda itu. Ketuanya kan Bunda Yana.”

 

“Oh. PKK?” tanya Yuna.

 

“Nah, itu.”

 

“Ada apa dengan PKK?”

 

“Mama nanyain, siapa tahu kamu mau gabung sama mereka. Biar ada kegiatan. Kamu kan bisa belajar merajut, melukis atau bikin-bikin kue.”

 

“Emangnya, Mama Rully ada di PKK juga?”

 

“Aku kurang tahu juga. Tapi, kalau ada kegiatan ibu-ibu PKK, dia sering hadir. Tim hore aja kayaknya dia itu.”

 

“Hahaha. Masa kamu ngatain mama sebagai tim hore?”

 

“Dia kan sibuk bisnis juga, Yun. Kalau penggerak PKK nggak terlalu aktif, kasihan ibu-ibu yang berbakat di kota ini, jadi nggak diperhatikan.”

 

“Yang penting selalu diperhatikan sama suaminya,” sahut Yuna sambil tersenyum lebar.

 

Yeriko tertawa lebar. “Pasti diperhatikan sama suami ... kalau nggak sibuk kerja.”

 

Yuna langsung mencubit perut Yeriko.

 

“Aw ...! Kenapa nyubit?”

 

“Jadi, buat suami-suami itu ... lebih penting kerjaan daripada istri?”

 

“Iya. Emangnya mau punya suami yang nggak punya kerjaan? Kerja kan buat anak istri.”

 

“Kalo kerja terus, kapan merhatiin istrinya?”

 

“Sekarang ini lagi merhatiin istri,” jawab Yeriko sambil menatap wajah Yuna tanpa berkedip.

 

“Ini mantengin, bukan merhatiin!” dengus Yuna sambil mendelik ke arah Yeriko.

 

Yeriko tertawa kecil. “Perhatian dari aku, masih kurang?” tanyanya kemudian.

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia langsung memeluk erat pinggang Yeriko. “Nggak kurang sedikit pun, kok. Perhatian kamu sudah banyaaak banget. Sampe tumpeh-tumpeh.”

 

Yeriko tertawa melihat raut wajah Yuna.

 

“Asal tumpahan perhatiannya nggak ngenain orang-orang kayak Refi aja,” lanjut Yuna.

 

“Nggaklah. Kamu harus siapin wadah yang lebih besar lagi untuk menampung tumpahan perhatian dari aku,” tutur Yeriko sambil mengelus lembut pipi Yuna.

 

Yuna langsung menatap wajah Yeriko. Hatinya berteriak sekeras-kerasnya karena merasa sangat bahagia, hingga senyum lebar di bibirnya terlukis tanpa ia sadari. Untuk beberapa menit, jiwanya melayang-layang sambil menari-nari bahagia.

 

“Hei ... kamu nggak gila ‘kan? Ketawa-ketawa sendiri,” tanya Yeriko sambil menjepit hidung Yuna.

 

“Eh!?” Yuna langsung tersadar dari lamunannya. “Kamu kenapa sih pinter banget bikin aku melayang-layang?”

 

“Melayang kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia takut pipinya bersemu merah karena sikap Yeriko yang begitu romantis.

 

Yeriko tersenyum menatap Yuna. Baginya, kebahagiaan Yuna lebih penting dari apa pun.

 

“Mmh ... jangan-jangan, ini yang bikin Refi tergila-gila dan terobsesi banget sama kamu.”

 

“Kok bisa?”

 

“Kamu perhatian banget. Pasti waktu masih pacaran sama Refi, kamu begini juga ke dia?”

 

  Yeriko menggelengkan kepala. “Nggak pernah.”

 

“Bohong! Kenapa bisa pinter banget ngerayu istrinya?”

 

“Karena aku beneran sayang sama kamu. Cuma kamu aja.”

 

“Refi nggak pernah kamu giniin?”

 

“Nggak, suer!”

 

“Gimana caranya aku bisa percaya? Masa pacaran nggak pernah ngerayu pacar sendiri? Gimana kamu bisa pacaran sama dia? Gimana cara nembak dia? Gimana kamu ...” Yuna menghentikan ucapannya saat Yeriko menutup mulut Yuna menggunakan bibir.

 

“Nggak usah ungkit masa lalu!” pinta Yeriko berbisik. “Kalau kamu masih nggak percaya, aku bisa telepon Refi sekarang juga.”

 

Yuna langsung menatap Yeriko. Ia sangat berharap kalau Yeriko membuktikan ucapannya.

 

“Kamu beneran? Mau aku teleponin si Refi?” tanya Yeriko seolah bisa membaca pikiran Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.

 

Yeriko mendesah, ia mengambil ponsel dan langsung menelepon nomor Refi. Ia menempelkan ponsel ke telinganya begitu panggilannya tersambung.

 

Yuna tersenyum sambil menempelkan satu telinganya ke ponsel Yeriko untuk ikut mendengarkan pembicaraan

 

Yeriko tersenyum kecil melihat tingkah istrinya.

 

“Halo ...!” sapa Refi dari seberang telepon.

 

“Halo, kamu di mana?” tanya Yeriko.

 

“Aku lagi di rumah. Ada apa? Tumben, malam-malam gini telepon?” tanya Refi dengan nada suara yang lembut dan manis.

 

Yuna memutar bola mata begitu mendengar suara mendayu-dayu yang keluar dari mulut Refi. “Sok manis!” batinnya.

 

“Nggak papa. Gimana kabar kamu?” tanya Yeriko sambil melirik Yuna.

 

“Baik banget. Kamu apa kabar, Yer? Udah lihat video aku di internet?” tanya Refi.

 

“Udah.”

 

“Gimana menurut kamu?”

 

“Bagus.”

 

“Yer, apa kita bisa ketemu? Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu,” tanya Refi.

 

Yeriko menoleh ke arah Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala. Mengisyaratkan untuk menerima ajakan Refi.

 

“Bisa. Aku tunggu kamu di kantor sebelum jam sebelas siang.”

 

“Oke. Kita ketemu di sana.”

 

“Oke.” Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia menatap Yuna yang mengacungkan jempol ke arahnya.

 

“Besok aku ke perusahaan sambil antar makan siang buat kamu,” tutur Yuna sambil tersenyum jahil.

 

“Kamu mulai nakal ya?” dengus Yeriko sambil menjepit hidung Yuna. “Ketagihan berhadapan sama Refi?”

 

Yuna terkekeh geli. “Abisnya dia lucu banget. Seneng aja gitu lihat dia dengan segala kebodohannya.”

 

Yeriko tersenyum sambil memeluk kepala Yuna ke dadanya. “Aku lebih senang kalau kamu menghadapi musuh kamu dengan menunjukkan prestasi dan kemampuan kamu. Dengan begitu, dunia akan tahu ... siapa yang layak untuk berdiri di tempat yang paling tinggi. Sementara orang yang ingin menjatuhkanmu, akan tetap berada di bawah karena tak mampu mendaki ke atas sana.”

 

Yuna tersenyum sambil mendengarkan detak jantung Yeriko. “Untuk bisa sampai seperti ini juga nggak mudah. Banyak duri dan batu yang harus dilalui. Penuh darah dan air mata untuk bisa memiliki kemampuan yang lebih dari orang lain. Nggak ada kesuksesan yang bisa dicapai dengan mudah. Aku ingat banget, waktu masih kuliah ... hampir setiap hari tidur di perpustakaan untuk belajar. Karena kemampuan otakku pas-pasan, jadi harus berusaha lebih keras dari yang sudah selangkah lebih maju. Supaya aku bisa menyusul dan berjalan beriringan dengan mereka.”

 

“Kamu memang wanita terbaik. Aku nggak akan membiarkan kamu sendirian lagi. Apa pun yang akan terjadi, kita hadapi sama-sama!” pinta Yeriko.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Termasuk menghadapi Refi, mantan pacar kamu yang gila itu.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Iya. Sekalipun ada seribu Refi di dunia ini. Asal kita tetap saling mencintai dan saling percaya. Nggak akan ada satu orang pun yang bisa memisahkan kita.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko. “Aku sangat menyayangi dan sangat percaya sama suamiku. Jangan cemburuan lagi, ya!” pintanya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah Yeriko.

 

Yeriko mengangguk. “Aku nggak cemburu. Cuma takut kehilangan kamu.” Ia semakin mengeratkan pelukkannya.

 

“Aku juga punya rasa takut itu.”

 

“Kamu nggak akan kehilangan aku selama hati kamu masih ada. Karena aku ada di sana,” bisik Yeriko lirih.

 

“Me too ...” bisik Yuna ke dada Yeriko. Ia memejamkan mata dan terlelap dalam pelukkan suami tercintanya.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar Author makin semangat buat update bab setiap hari. Jangan lupa sapa di kolom komentar ya! Big thanks buat yang udah kasih hadiah untuk cerita ini.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas