Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 431 : Tumpahan Perhatian

 


“Den, gimana ini?” tanya Refi saat ia dan Deny sedang istirahat di apartemennya.

 

Deny tak menjawab. Ia terlihat sangat santai menanggapi kecemasan Refi.

 

“Deny ...!” seru Refi kesal.

 

“Sabar, Ref. Aku udah pantau Tuan Muda itu terus, tapi nggak ada pergerakan.”

 

“Dia masih nggak ngerespon sama apa yang kita buat. Dia juga nggak ada hubungi aku. Kenapa dia secuek ini, sih?”  gerutu Refi.

 

Deny hanya tersenyum kecil. “Kamu yang paling memahami dia. Aku udah ngelakuin semua yang kamu minta. Soal gimana respon dia ke kamu, itu di luar kendaliku. Lagian, Tuan Muda itu orangnya tenang banget. Dia bersikap seolah-olah nggak pernah terjadi apa-apa.”

 

Refi semakin gelisah karena Yeriko tak kunjung merespon semua postingan-postingan yang dia buat.

 

“Harusnya, Tuan Muda itu bereaksi saat istrinya terganggu. Kenapa, kali ini dia diam aja?” tanya Deny.

 

“Nggak tahu, Deny ...!” sahut Refi geram. “Harusnya, kamu bikin sesuatu yang lebih greget lagi supaya Yeriko nyamperin aku dan ninggalin cewek sialan itu!”

 

“Aku udah lakuin semua yang kamu suruh. Masih aja kurang!” seru Deny. “Kalo kamu bisa, lakuin sendiri!”

 

“Oke, aku lakuin semuanya sendiri,” sahut Refi makin kesal.

 

“Coba kalo berani!” seru Deny.

 

“Barusan kamu sendiri yang nyuruh aku buat ngerjain semuanya sendiri. Cari orang kayak kamu, nggak susah!”

 

“Eh, kalo cari orang kayak aku itu gampang ... kenapa setiap ada kesulitan, kamu selalu nyari aku? Kenapa nggak nyari orang lain aja?” tanya Deny.

 

Refi terdiam. Ia hanya memiliki Deny untuk ia andalkan. Terlebih, orang yang selama ini dekat dengannya hanya Deny. Jika tidak ada pria itu, hidupnya mungkin sudah berakhir dengan tragis karena tak ada yang membantunya.

 

Refi terus menatap Deny yang terlihat sangat santai. Sudah berhari-hari gosip yang muncul di media selalu menyudutkan Yuna dan Yeriko. Namun, tetap saja tidak ada reaksi. Ia pikir, Deny tidak sungguh-sungguh melakukan hal yang ia inginkan.

 

“Kayaknya, aku memang harus bertindak sendiri,” gumam Refi sambil menatap Deny penuh kebencian.

 

Deny tersenyum sinis. “Jangan melakukan apa pun tanpa sepengetahuan dari aku!” ucapnya seolah bisa membaca pikiran Refi.

 

Refi hanya menatap wajah Deny tanpa berkata-kata.

 

“Aku pulang dulu!” pamit Deny. “Masih ada bisnis yang harus aku urus. Ingat, jangan membuat keputusan sendiri!”

 

Refi mengangguk.

 

Deny tersenyum sambil menatap Refi. “Kamu memang penurut,” tuturnya lirih sambil bergegas keluar dari rumah Refi.

 

Refi mendengus kesal. Ia merebahkan tubuhnya di sofa sambil memeriksa postingannya di internet.

 

“Hah!? Yuna punya akun instagram?” tanyanya saat membaca komentar dari user Ms. Ye.

 

“Idih, dia pake nama Ms. Ye dengan pedenya. Harusnya, aku yang menyandang gelar nama itu. Kalo aja kamu nggak ambil Yeriko dari aku. Aku pasti sudah jadi istrinya Yeriko dan hidup bahagia,” gerutu Refi.

 

“Kok, Yuna cuma komentar sekali. Pendek banget pula. Aku media sosialnya dia juga di-private. Gimana aku mau lihat reaksi dari dia?” gumam Refi.

 

Refi menarik napas beberapa kali. “Sabar, Ref! Sabar! Sebentar lagi, Yeriko pasti akan menerima kamu lagi,” ucap Refi pada dirinya sendiri.

 

Refi terus berpikir untuk menghubungi Yeriko terlebih dahulu. Namun, niatnya itu ia urungkan karena ia tidak ingin Yeriko menaruh curiga yang lebih dalam lagi.

 

 

 

...

 

 

 

Di saat yang sama ...

 

“Ay, gimana perkembangan mantan pacar kamu itu?’ tanya Yuna yang sedang duduk santai dalam pelukkan Yeriko sambil menonton televisi.

 

Yeriko mengedikkan bahunya.

 

“Dia makin gila dan nggak masuk akal.”

 

“Biar aja dia gila,” sahut Yeriko santai.

 

“Kamu kok bisa punya mantan pacar kayak gitu? Obsesinya terlalu besar,” tanya Yuna.

 

“Nggak tahu. Dia emang ambisius. Aku pikir, nggak sampai segila ini.”

 

“Enaknya diapain ya?” tanya Yuna.

 

“Biarkan aja! Nanti capek sendiri.”

 

“Padahal, banyak juga komentar pedas yang menyudutkan dia. Apalagi, kita udah pernah buat konferensi pers waktu itu. Banyak netizen yang masih ingat itu. Sebagian tetap berpihak ke Refi, sebagian lagi berpihak ke aku.”

 

“Nggak usah kamu ladeni terus!” pinta Yeriko. “Nanti kamu ikutan gila kayak dia. Lebih baik, cari kegiatan positif lainnya daripada cuma bacain komentar nggak bermanfaat.”

 

Yuna tertawa kecil sambil menatap wajah Yeriko. “Iya, juga sih. Kelihatan banget kalau aku kekurangan kerjaan.”

 

“Banyak hal yang bisa kamu kerjain. Oh iya, kemarin Mama Rully ada tanyain soal ini ... mmh ... kegiatan ibu-ibu itu apa ya?”

 

“Ibu-ibu apa?”

 

“Yang di Dekranasda itu. Ketuanya kan Bunda Yana.”

 

“Oh. PKK?” tanya Yuna.

 

“Nah, itu.”

 

“Ada apa dengan PKK?”

 

“Mama nanyain, siapa tahu kamu mau gabung sama mereka. Biar ada kegiatan. Kamu kan bisa belajar merajut, melukis atau bikin-bikin kue.”

 

“Emangnya, Mama Rully ada di PKK juga?”

 

“Aku kurang tahu juga. Tapi, kalau ada kegiatan ibu-ibu PKK, dia sering hadir. Tim hore aja kayaknya dia itu.”

 

“Hahaha. Masa kamu ngatain mama sebagai tim hore?”

 

“Dia kan sibuk bisnis juga, Yun. Kalau penggerak PKK nggak terlalu aktif, kasihan ibu-ibu yang berbakat di kota ini, jadi nggak diperhatikan.”

 

“Yang penting selalu diperhatikan sama suaminya,” sahut Yuna sambil tersenyum lebar.

 

Yeriko tertawa lebar. “Pasti diperhatikan sama suami ... kalau nggak sibuk kerja.”

 

Yuna langsung mencubit perut Yeriko.

 

“Aw ...! Kenapa nyubit?”

 

“Jadi, buat suami-suami itu ... lebih penting kerjaan daripada istri?”

 

“Iya. Emangnya mau punya suami yang nggak punya kerjaan? Kerja kan buat anak istri.”

 

“Kalo kerja terus, kapan merhatiin istrinya?”

 

“Sekarang ini lagi merhatiin istri,” jawab Yeriko sambil menatap wajah Yuna tanpa berkedip.

 

“Ini mantengin, bukan merhatiin!” dengus Yuna sambil mendelik ke arah Yeriko.

 

Yeriko tertawa kecil. “Perhatian dari aku, masih kurang?” tanyanya kemudian.

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia langsung memeluk erat pinggang Yeriko. “Nggak kurang sedikit pun, kok. Perhatian kamu sudah banyaaak banget. Sampe tumpeh-tumpeh.”

 

Yeriko tertawa melihat raut wajah Yuna.

 

“Asal tumpahan perhatiannya nggak ngenain orang-orang kayak Refi aja,” lanjut Yuna.

 

“Nggaklah. Kamu harus siapin wadah yang lebih besar lagi untuk menampung tumpahan perhatian dari aku,” tutur Yeriko sambil mengelus lembut pipi Yuna.

 

Yuna langsung menatap wajah Yeriko. Hatinya berteriak sekeras-kerasnya karena merasa sangat bahagia, hingga senyum lebar di bibirnya terlukis tanpa ia sadari. Untuk beberapa menit, jiwanya melayang-layang sambil menari-nari bahagia.

 

“Hei ... kamu nggak gila ‘kan? Ketawa-ketawa sendiri,” tanya Yeriko sambil menjepit hidung Yuna.

 

“Eh!?” Yuna langsung tersadar dari lamunannya. “Kamu kenapa sih pinter banget bikin aku melayang-layang?”

 

“Melayang kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia takut pipinya bersemu merah karena sikap Yeriko yang begitu romantis.

 

Yeriko tersenyum menatap Yuna. Baginya, kebahagiaan Yuna lebih penting dari apa pun.

 

“Mmh ... jangan-jangan, ini yang bikin Refi tergila-gila dan terobsesi banget sama kamu.”

 

“Kok bisa?”

 

“Kamu perhatian banget. Pasti waktu masih pacaran sama Refi, kamu begini juga ke dia?”

 

  Yeriko menggelengkan kepala. “Nggak pernah.”

 

“Bohong! Kenapa bisa pinter banget ngerayu istrinya?”

 

“Karena aku beneran sayang sama kamu. Cuma kamu aja.”

 

“Refi nggak pernah kamu giniin?”

 

“Nggak, suer!”

 

“Gimana caranya aku bisa percaya? Masa pacaran nggak pernah ngerayu pacar sendiri? Gimana kamu bisa pacaran sama dia? Gimana cara nembak dia? Gimana kamu ...” Yuna menghentikan ucapannya saat Yeriko menutup mulut Yuna menggunakan bibir.

 

“Nggak usah ungkit masa lalu!” pinta Yeriko berbisik. “Kalau kamu masih nggak percaya, aku bisa telepon Refi sekarang juga.”

 

Yuna langsung menatap Yeriko. Ia sangat berharap kalau Yeriko membuktikan ucapannya.

 

“Kamu beneran? Mau aku teleponin si Refi?” tanya Yeriko seolah bisa membaca pikiran Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.

 

Yeriko mendesah, ia mengambil ponsel dan langsung menelepon nomor Refi. Ia menempelkan ponsel ke telinganya begitu panggilannya tersambung.

 

Yuna tersenyum sambil menempelkan satu telinganya ke ponsel Yeriko untuk ikut mendengarkan pembicaraan

 

Yeriko tersenyum kecil melihat tingkah istrinya.

 

“Halo ...!” sapa Refi dari seberang telepon.

 

“Halo, kamu di mana?” tanya Yeriko.

 

“Aku lagi di rumah. Ada apa? Tumben, malam-malam gini telepon?” tanya Refi dengan nada suara yang lembut dan manis.

 

Yuna memutar bola mata begitu mendengar suara mendayu-dayu yang keluar dari mulut Refi. “Sok manis!” batinnya.

 

“Nggak papa. Gimana kabar kamu?” tanya Yeriko sambil melirik Yuna.

 

“Baik banget. Kamu apa kabar, Yer? Udah lihat video aku di internet?” tanya Refi.

 

“Udah.”

 

“Gimana menurut kamu?”

 

“Bagus.”

 

“Yer, apa kita bisa ketemu? Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu,” tanya Refi.

 

Yeriko menoleh ke arah Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala. Mengisyaratkan untuk menerima ajakan Refi.

 

“Bisa. Aku tunggu kamu di kantor sebelum jam sebelas siang.”

 

“Oke. Kita ketemu di sana.”

 

“Oke.” Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia menatap Yuna yang mengacungkan jempol ke arahnya.

 

“Besok aku ke perusahaan sambil antar makan siang buat kamu,” tutur Yuna sambil tersenyum jahil.

 

“Kamu mulai nakal ya?” dengus Yeriko sambil menjepit hidung Yuna. “Ketagihan berhadapan sama Refi?”

 

Yuna terkekeh geli. “Abisnya dia lucu banget. Seneng aja gitu lihat dia dengan segala kebodohannya.”

 

Yeriko tersenyum sambil memeluk kepala Yuna ke dadanya. “Aku lebih senang kalau kamu menghadapi musuh kamu dengan menunjukkan prestasi dan kemampuan kamu. Dengan begitu, dunia akan tahu ... siapa yang layak untuk berdiri di tempat yang paling tinggi. Sementara orang yang ingin menjatuhkanmu, akan tetap berada di bawah karena tak mampu mendaki ke atas sana.”

 

Yuna tersenyum sambil mendengarkan detak jantung Yeriko. “Untuk bisa sampai seperti ini juga nggak mudah. Banyak duri dan batu yang harus dilalui. Penuh darah dan air mata untuk bisa memiliki kemampuan yang lebih dari orang lain. Nggak ada kesuksesan yang bisa dicapai dengan mudah. Aku ingat banget, waktu masih kuliah ... hampir setiap hari tidur di perpustakaan untuk belajar. Karena kemampuan otakku pas-pasan, jadi harus berusaha lebih keras dari yang sudah selangkah lebih maju. Supaya aku bisa menyusul dan berjalan beriringan dengan mereka.”

 

“Kamu memang wanita terbaik. Aku nggak akan membiarkan kamu sendirian lagi. Apa pun yang akan terjadi, kita hadapi sama-sama!” pinta Yeriko.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Termasuk menghadapi Refi, mantan pacar kamu yang gila itu.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Iya. Sekalipun ada seribu Refi di dunia ini. Asal kita tetap saling mencintai dan saling percaya. Nggak akan ada satu orang pun yang bisa memisahkan kita.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko. “Aku sangat menyayangi dan sangat percaya sama suamiku. Jangan cemburuan lagi, ya!” pintanya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah Yeriko.

 

Yeriko mengangguk. “Aku nggak cemburu. Cuma takut kehilangan kamu.” Ia semakin mengeratkan pelukkannya.

 

“Aku juga punya rasa takut itu.”

 

“Kamu nggak akan kehilangan aku selama hati kamu masih ada. Karena aku ada di sana,” bisik Yeriko lirih.

 

“Me too ...” bisik Yuna ke dada Yeriko. Ia memejamkan mata dan terlelap dalam pelukkan suami tercintanya.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar Author makin semangat buat update bab setiap hari. Jangan lupa sapa di kolom komentar ya! Big thanks buat yang udah kasih hadiah untuk cerita ini.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas