“Den,
gimana ini?” tanya Refi saat ia dan Deny sedang istirahat di apartemennya.
Deny
tak menjawab. Ia terlihat sangat santai menanggapi kecemasan Refi.
“Deny
...!” seru Refi kesal.
“Sabar,
Ref. Aku udah pantau Tuan Muda itu terus, tapi nggak ada pergerakan.”
“Dia
masih nggak ngerespon sama apa yang kita buat. Dia juga nggak ada hubungi aku.
Kenapa dia secuek ini, sih?” gerutu Refi.
Deny
hanya tersenyum kecil. “Kamu yang paling memahami dia. Aku udah ngelakuin semua
yang kamu minta. Soal gimana respon dia ke kamu, itu di luar kendaliku. Lagian,
Tuan Muda itu orangnya tenang banget. Dia bersikap seolah-olah nggak pernah
terjadi apa-apa.”
Refi
semakin gelisah karena Yeriko tak kunjung merespon semua postingan-postingan
yang dia buat.
“Harusnya,
Tuan Muda itu bereaksi saat istrinya terganggu. Kenapa, kali ini dia diam aja?”
tanya Deny.
“Nggak
tahu, Deny ...!” sahut Refi geram. “Harusnya, kamu bikin sesuatu yang lebih
greget lagi supaya Yeriko nyamperin aku dan ninggalin cewek sialan itu!”
“Aku
udah lakuin semua yang kamu suruh. Masih aja kurang!” seru Deny. “Kalo kamu
bisa, lakuin sendiri!”
“Oke,
aku lakuin semuanya sendiri,” sahut Refi makin kesal.
“Coba
kalo berani!” seru Deny.
“Barusan
kamu sendiri yang nyuruh aku buat ngerjain semuanya sendiri. Cari orang kayak
kamu, nggak susah!”
“Eh,
kalo cari orang kayak aku itu gampang ... kenapa setiap ada kesulitan, kamu
selalu nyari aku? Kenapa nggak nyari orang lain aja?” tanya Deny.
Refi
terdiam. Ia hanya memiliki Deny untuk ia andalkan. Terlebih, orang yang selama
ini dekat dengannya hanya Deny. Jika tidak ada pria itu, hidupnya mungkin sudah
berakhir dengan tragis karena tak ada yang membantunya.
Refi
terus menatap Deny yang terlihat sangat santai. Sudah berhari-hari gosip yang
muncul di media selalu menyudutkan Yuna dan Yeriko. Namun, tetap saja tidak ada
reaksi. Ia pikir, Deny tidak sungguh-sungguh melakukan hal yang ia inginkan.
“Kayaknya,
aku memang harus bertindak sendiri,” gumam Refi sambil menatap Deny penuh
kebencian.
Deny
tersenyum sinis. “Jangan melakukan apa pun tanpa sepengetahuan dari aku!”
ucapnya seolah bisa membaca pikiran Refi.
Refi
hanya menatap wajah Deny tanpa berkata-kata.
“Aku
pulang dulu!” pamit Deny. “Masih ada bisnis yang harus aku urus. Ingat, jangan
membuat keputusan sendiri!”
Refi
mengangguk.
Deny
tersenyum sambil menatap Refi. “Kamu memang penurut,” tuturnya lirih sambil
bergegas keluar dari rumah Refi.
Refi
mendengus kesal. Ia merebahkan tubuhnya di sofa sambil memeriksa postingannya
di internet.
“Hah!?
Yuna punya akun instagram?” tanyanya saat membaca komentar dari user Ms. Ye.
“Idih,
dia pake nama Ms. Ye dengan pedenya. Harusnya, aku yang menyandang gelar nama
itu. Kalo aja kamu nggak ambil Yeriko dari aku. Aku pasti sudah jadi istrinya
Yeriko dan hidup bahagia,” gerutu Refi.
“Kok,
Yuna cuma komentar sekali. Pendek banget pula. Aku media sosialnya dia juga
di-private. Gimana aku mau lihat reaksi dari dia?” gumam Refi.
Refi
menarik napas beberapa kali. “Sabar, Ref! Sabar! Sebentar lagi, Yeriko pasti
akan menerima kamu lagi,” ucap Refi pada dirinya sendiri.
Refi
terus berpikir untuk menghubungi Yeriko terlebih dahulu. Namun, niatnya itu ia
urungkan karena ia tidak ingin Yeriko menaruh curiga yang lebih dalam lagi.
...
Di
saat yang sama ...
“Ay,
gimana perkembangan mantan pacar kamu itu?’ tanya Yuna yang sedang duduk santai
dalam pelukkan Yeriko sambil menonton televisi.
Yeriko
mengedikkan bahunya.
“Dia
makin gila dan nggak masuk akal.”
“Biar
aja dia gila,” sahut Yeriko santai.
“Kamu
kok bisa punya mantan pacar kayak gitu? Obsesinya terlalu besar,” tanya Yuna.
“Nggak
tahu. Dia emang ambisius. Aku pikir, nggak sampai segila ini.”
“Enaknya
diapain ya?” tanya Yuna.
“Biarkan
aja! Nanti capek sendiri.”
“Padahal,
banyak juga komentar pedas yang menyudutkan dia. Apalagi, kita udah pernah buat
konferensi pers waktu itu. Banyak netizen yang masih ingat itu. Sebagian tetap
berpihak ke Refi, sebagian lagi berpihak ke aku.”
“Nggak
usah kamu ladeni terus!” pinta Yeriko. “Nanti kamu ikutan gila kayak dia. Lebih
baik, cari kegiatan positif lainnya daripada cuma bacain komentar nggak
bermanfaat.”
Yuna
tertawa kecil sambil menatap wajah Yeriko. “Iya, juga sih. Kelihatan banget
kalau aku kekurangan kerjaan.”
“Banyak
hal yang bisa kamu kerjain. Oh iya, kemarin Mama Rully ada tanyain soal ini ...
mmh ... kegiatan ibu-ibu itu apa ya?”
“Ibu-ibu
apa?”
“Yang
di Dekranasda itu. Ketuanya kan Bunda Yana.”
“Oh.
PKK?” tanya Yuna.
“Nah,
itu.”
“Ada
apa dengan PKK?”
“Mama
nanyain, siapa tahu kamu mau gabung sama mereka. Biar ada kegiatan. Kamu kan
bisa belajar merajut, melukis atau bikin-bikin kue.”
“Emangnya,
Mama Rully ada di PKK juga?”
“Aku
kurang tahu juga. Tapi, kalau ada kegiatan ibu-ibu PKK, dia sering hadir. Tim
hore aja kayaknya dia itu.”
“Hahaha.
Masa kamu ngatain mama sebagai tim hore?”
“Dia
kan sibuk bisnis juga, Yun. Kalau penggerak PKK nggak terlalu aktif, kasihan
ibu-ibu yang berbakat di kota ini, jadi nggak diperhatikan.”
“Yang
penting selalu diperhatikan sama suaminya,” sahut Yuna sambil tersenyum lebar.
Yeriko
tertawa lebar. “Pasti diperhatikan sama suami ... kalau nggak sibuk kerja.”
Yuna
langsung mencubit perut Yeriko.
“Aw
...! Kenapa nyubit?”
“Jadi,
buat suami-suami itu ... lebih penting kerjaan daripada istri?”
“Iya.
Emangnya mau punya suami yang nggak punya kerjaan? Kerja kan buat anak istri.”
“Kalo
kerja terus, kapan merhatiin istrinya?”
“Sekarang
ini lagi merhatiin istri,” jawab Yeriko sambil menatap wajah Yuna tanpa
berkedip.
“Ini
mantengin, bukan merhatiin!” dengus Yuna sambil mendelik ke arah Yeriko.
Yeriko
tertawa kecil. “Perhatian dari aku, masih kurang?” tanyanya kemudian.
Yuna
menggelengkan kepala. Ia langsung memeluk erat pinggang Yeriko. “Nggak kurang
sedikit pun, kok. Perhatian kamu sudah banyaaak banget. Sampe tumpeh-tumpeh.”
Yeriko
tertawa melihat raut wajah Yuna.
“Asal
tumpahan perhatiannya nggak ngenain orang-orang
kayak Refi aja,” lanjut Yuna.
“Nggaklah. Kamu harus siapin wadah yang
lebih besar lagi untuk menampung tumpahan perhatian dari aku,” tutur Yeriko
sambil mengelus lembut pipi Yuna.
Yuna
langsung menatap wajah Yeriko. Hatinya berteriak sekeras-kerasnya karena merasa
sangat bahagia, hingga senyum lebar di bibirnya terlukis tanpa ia sadari. Untuk
beberapa menit, jiwanya melayang-layang sambil menari-nari bahagia.
“Hei
... kamu nggak gila ‘kan? Ketawa-ketawa sendiri,” tanya Yeriko sambil menjepit
hidung Yuna.
“Eh!?”
Yuna langsung tersadar dari lamunannya. “Kamu kenapa sih pinter banget bikin
aku melayang-layang?”
“Melayang
kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.
Yuna
menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia takut pipinya bersemu merah
karena sikap Yeriko yang begitu romantis.
Yeriko
tersenyum menatap Yuna. Baginya, kebahagiaan Yuna lebih penting dari apa pun.
“Mmh
... jangan-jangan, ini yang bikin Refi tergila-gila dan terobsesi banget sama
kamu.”
“Kok
bisa?”
“Kamu
perhatian banget. Pasti waktu masih pacaran sama Refi, kamu begini juga ke
dia?”
Yeriko
menggelengkan kepala. “Nggak pernah.”
“Bohong!
Kenapa bisa pinter banget ngerayu istrinya?”
“Karena
aku beneran sayang sama kamu. Cuma kamu aja.”
“Refi
nggak pernah kamu giniin?”
“Nggak,
suer!”
“Gimana
caranya aku bisa percaya? Masa pacaran nggak pernah ngerayu pacar sendiri?
Gimana kamu bisa pacaran sama dia? Gimana cara nembak dia? Gimana kamu ...”
Yuna menghentikan ucapannya saat Yeriko menutup mulut Yuna menggunakan bibir.
“Nggak
usah ungkit masa lalu!” pinta Yeriko berbisik. “Kalau kamu masih nggak percaya,
aku bisa telepon Refi sekarang juga.”
Yuna
langsung menatap Yeriko. Ia sangat berharap kalau Yeriko membuktikan ucapannya.
“Kamu
beneran? Mau aku teleponin si Refi?” tanya Yeriko seolah bisa membaca pikiran
Yuna.
Yuna
menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Yeriko
mendesah, ia mengambil ponsel dan langsung menelepon nomor Refi. Ia menempelkan
ponsel ke telinganya begitu panggilannya tersambung.
Yuna
tersenyum sambil menempelkan satu telinganya ke ponsel Yeriko untuk ikut
mendengarkan pembicaraan
Yeriko
tersenyum kecil melihat tingkah istrinya.
“Halo
...!” sapa Refi dari seberang telepon.
“Halo,
kamu di mana?” tanya Yeriko.
“Aku
lagi di rumah. Ada apa? Tumben, malam-malam gini telepon?” tanya Refi dengan
nada suara yang lembut dan manis.
Yuna
memutar bola mata begitu mendengar suara mendayu-dayu yang keluar dari mulut
Refi. “Sok manis!” batinnya.
“Nggak
papa. Gimana kabar kamu?” tanya Yeriko sambil melirik Yuna.
“Baik
banget. Kamu apa kabar, Yer? Udah lihat video aku di internet?” tanya Refi.
“Udah.”
“Gimana
menurut kamu?”
“Bagus.”
“Yer,
apa kita bisa ketemu? Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu,” tanya
Refi.
Yeriko
menoleh ke arah Yuna.
Yuna
menganggukkan kepala. Mengisyaratkan untuk menerima ajakan Refi.
“Bisa.
Aku tunggu kamu di kantor sebelum jam sebelas siang.”
“Oke.
Kita ketemu di sana.”
“Oke.”
Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia menatap Yuna yang
mengacungkan jempol ke arahnya.
“Besok
aku ke perusahaan sambil antar makan siang buat kamu,” tutur Yuna sambil
tersenyum jahil.
“Kamu
mulai nakal ya?” dengus Yeriko sambil menjepit hidung Yuna. “Ketagihan
berhadapan sama Refi?”
Yuna
terkekeh geli. “Abisnya dia lucu banget. Seneng aja gitu lihat dia dengan
segala kebodohannya.”
Yeriko
tersenyum sambil memeluk kepala Yuna ke dadanya. “Aku lebih senang kalau kamu
menghadapi musuh kamu dengan menunjukkan prestasi dan kemampuan kamu. Dengan
begitu, dunia akan tahu ... siapa yang layak untuk berdiri di tempat yang
paling tinggi. Sementara orang yang ingin menjatuhkanmu, akan tetap berada di
bawah karena tak mampu mendaki ke atas sana.”
Yuna
tersenyum sambil mendengarkan detak jantung Yeriko. “Untuk bisa sampai seperti
ini juga nggak mudah. Banyak duri dan batu yang harus dilalui. Penuh darah dan
air mata untuk bisa memiliki kemampuan yang lebih dari orang lain. Nggak ada
kesuksesan yang bisa dicapai dengan mudah. Aku ingat banget, waktu masih kuliah
... hampir setiap hari tidur di perpustakaan untuk belajar. Karena kemampuan
otakku pas-pasan, jadi harus berusaha lebih keras dari yang sudah selangkah
lebih maju. Supaya aku bisa menyusul dan berjalan beriringan dengan mereka.”
“Kamu
memang wanita terbaik. Aku nggak akan membiarkan kamu sendirian lagi. Apa pun
yang akan terjadi, kita hadapi sama-sama!” pinta Yeriko.
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. “Termasuk menghadapi Refi, mantan pacar kamu yang
gila itu.”
Yeriko
tertawa kecil. “Iya. Sekalipun ada seribu Refi di dunia ini. Asal kita tetap
saling mencintai dan saling percaya. Nggak akan ada satu orang pun yang bisa
memisahkan kita.”
Yuna
tersenyum sambil menatap Yeriko. “Aku sangat menyayangi dan sangat percaya sama
suamiku. Jangan cemburuan lagi, ya!” pintanya sambil menangkupkan kedua telapak
tangannya ke wajah Yeriko.
Yeriko
mengangguk. “Aku nggak cemburu. Cuma takut kehilangan kamu.” Ia semakin
mengeratkan pelukkannya.
“Aku
juga punya rasa takut itu.”
“Kamu
nggak akan kehilangan aku selama hati kamu masih ada. Karena aku ada di sana,”
bisik Yeriko lirih.
“Me
too ...” bisik Yuna ke dada Yeriko. Ia memejamkan mata dan terlelap dalam
pelukkan suami tercintanya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar Author makin semangat buat update bab setiap
hari. Jangan lupa sapa di kolom komentar ya! Big thanks buat yang udah kasih
hadiah untuk cerita ini.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment