Refi
langsung dikepung oleh banyak wartawan begitu ia keluar dari studio.
“Mbak
Refi, jadi gosip yang selama ini beredar itu benar? Kalau Mbak Refi dan Tuan Ye
masih memiliki hubungan rahasia?” tanya salah seorang wartawan kepada Refi.
Refi
hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari wartawan tersebut.
“Mbak,
kenapa nggak berusaha mempertahankan cinta pertamanya Mbak Refi?”
“Mbak,
waktu konferensi pers beberapa bulan lalu. Tuan Ye sudah membuat pernyataan
kalau pernikahan dia tidak ada hubungannya dengan Mbak Refi. Kenapa kabar yang
beredar sekarang justru hubungan kalian yang terlihat sangat dekat?”
Refi
tersenyum ke arah wartawan yang mengerubungi dirinya. “Mungkin, hanya perasaan
kalian saja. Saya sudah tidak memiliki hubungan serius dengan pria yang kalian
maksud.”
“Tapi,
dari video yang diunggah Mbak Refi, kami semua bisa mengerti kalau pria yang
dimaksud oleh Mbak Refi adalah pria yang sangat mencintai Mbak Refi. Kenapa dia
bisa selingkuh dan menikah dengan perempuan lain?”
“Kalau
itu, tanyakan langsung ke dia!”
“Dia
siapa, Mbak? Apa orang yang disebut Tuan Ye itu?”
Refi
tersenyum menanggapi pertanyaan dari wartawan tersebut. Ia langsung masuk ke
dalam mobil yang sudah disediakan oleh Deny.
“Huft
...!” Refi menghela napas begitu ia sudah masuk ke dalam mobil. “Gila itu
wartawan, pertanyaannya muter-muter. Aku bingung gimana jawabnya,” celetuknya.
Deny
tersenyum kecil. “Jawab aja sesuai dengan kejadian yang sebenarnya!”
perintahnya.
“Masalah
konferensi pers yang waktu itu, masih dibahas sama mereka,” tutur Refi sambil
mengibaskan tangan ke wajahnya. “Aku harus gimana?”
“Kamu
tunggu aja gimana Tuan Muda itu bereaksi!” pinta Deny.
“Gimana
kalau dia masih nggak ngerespon?”
“Dia
pasti akan ngerespon. Cuma butuh waktu sedikit lagi. Ini masih pemanasan,”
tutur Deny.
“Kamu
bisa jamin kalau Yeriko bakal muncul dan nyari aku?” tanya Refi.
Deny
menganggukkan kepala. “Setelah dia muncul, selanjutnya aku serahin ke kamu.”
“Kamu
harus bantu aku, Den!” pinta Refi.
“Aku
udah banyak bantu kamu. Kalau begini terus, aku nggak punya waktu banyak untuk
bersenang-senang.”
“Kamu
sendiri yang menawarkan diri untuk jadi managerku. Kenapa sekarang malah ngeluh
terus?” protes Refi kesal.
“Kalau
gitu, kasih aku waktu untuk bersenang-senang!”
“Oke.
Oke.”
Deny
tersenyum penuh kemenangan.
...
Di
tempat lain, Icha masih terus menghibur Yuna agar tidak terlalu memikirkan
gosip yang sedang beredar.
“Udah,
Yun. Nggak usah mikirin kelakuan si Refi yang gila itu!” pinta icha sambil
mengelus-elus bahu Yuna.
Yuna
tersenyum sambil menganggukkan kepala. Perhatian mereka tiba-tiba beralih pada
suara siulan yang masuk ke dalam rumah Yuna.
“Jam
berapa ini?” tanya Icha sambil melihat jam di ponselnya. “Jam sembilan,”
jawabnya sendiri.
“Itu
si Bayiik?” tanya Yuna balik.
“Kayaknya
sih, iya.” Icha langsung bangkit dari sofa. Ia bergegas ke ruang tamu dan
mendapati Lutfi sudah berdiri di sana.
“Kamu?
Ngapain pagi-pagi udah ke sini?” tanya Icha.
“Harusnya
aku yang tanya itu ke kamu,” jawab Lutfi. “Bisa-bisanya keluar rumah pagi-pagi,
suami ditinggalin gitu aja.”
“Udah
aku bikinin sarapan buat kamu. Aku juga udah siapin pakaian ganti kamu seperti
biasa. Aku disuruh Yeriko ke sini buat nemenin Yuna.”
“Yeriko
juga nyuruh aku ke sini.”
“Ngapain?”
tanya Icha.
“Menghibur
Kakak Ipar,” jawab Lutfi sambil memainkan alisnya. “Aku kan pria penghibur
nomor satu di kota ini.”
“Halah,
masih lucuan Cak Percil dari pada kamu.”
“Kenapa
bawa-bawa Cak Percil?” tanya Lutfi.
“Emang
kenyataannya gitu.”
“Jangan
kamu bandingin aku sama dia. Dia kan emang pelawak. Eh, Kakak Ipar mana?” tanya
Lutfi.
“Di
ruang tengah.”
“Tumben
banget dia nggak menyambut kedatanganku?” Lutfi langsung melangkahkan kakinya
ke ruang tengah.
“Emangnya
kamu siapa? Kok, minta disambut?” tanya Icha sambil mengiringi langkah Lutfi.
Lutfi
terkekeh. “Eh, dia udah lihat acara tv-nya Refi?” bisiknya di telinga Icha.
Icha
menganggukkan kepala. “Makanya, sekarang dia lagi galau banget.”
“Galau
kenapa?”
Icha
tersenyum sambil menggelengkan sedikit kepalanya.
Lutfi
menghampiri Yuna yang sedang berbaring di atas sofa. “Kakak Ipar ...!” serunya.
“Hmm,”
sahut Yuna santai.
“Kenapa
nggak menyambut kedatanganku?” tanya Lutfi.
“Males,”
jawab Yuna. Ia terlihat tak bersemangat. “Udah ada Icha juga.”
“Aku
punya hadiah buat Kakak Ipar,” tutur Lutfi sambil menyodorkan cake box ke arah
Yuna.
“Wah
...!” Yuna langsung meraih box tersebut dan membukanya. “Kamu beli di mana? Ini
toko bukanya jam sepuluhan. Kamu bisa dapet di jam segini?” tanya Yuna.
Lutfi
tersenyum menatap Yuna. “Yang punya toko kue temenku. Gampanglah soal kayak
gini, mah.”
Yuna
manggut-manggut sambil menikmati dessert yang dibawa Lutfi. “Mmh ... enak!”
Icha
dan Lutfi saling pandang sambil tersenyum. Mereka berusaha membuat suasana hati
Yuna membaik.
Beberapa
menit kemudian, Yeriko muncul dan langsung menghampiri Yuna.
“Ay,
kenapa pulang jam segini?” tanya Yuna sambil melihat jam yang masih menunjukkan
jam sebelas siang.
“Pengen
makan siang di rumah bareng kalian,” jawab Yeriko sambil tersenyum.
“Chandra
nggak ikut?” tanya Lutfi.
“Chandra
sama Riyan, aku suruh kelarin kerjaan dulu. Banyak hal yang harus diurus.”
“Oh
... iya. Aku dengar-dengar, kamu mau akuisisi perusahaan teknologi itu ya? Gila
kamu, Yer. Semuanya kamu lahap.”
“Aku
butuh tambahan tim IT. Produk mereka bagus dan bisa bikin semua perusahaan
lebih terintegrasi. Kemarin aku ada pertemuan dengan komunitas pecinta
lingkungan. Salah satu program CSR perusahaan juga mengurangi penggunaan
kertas. Semua laporan akan perlahan berubah ke sistem digitalisasi. Aku
tertarik dengan produk mereka itu.”
“Bukannya
kamu sudah punya tim IT sendiri?”
“Iya.
Tapi, mereka semua masih fokus ke maintenance data. Belum sampai peluncuran
produk.”
“Pasti
sibuk banget, nih. Aku rasa, nggak mudah mengambil alih perusahaan itu.”
Yeriko
tersenyum kecil. “Kita lihat nanti!”
“Kalau
kamu sibuk banget, kenapa masih sempat pulang ke rumah? Aku bisa antar makan
siang ke kantor kamu,” tutur Yuna.
Yeriko
tersenyum menatap Yuna. “Kamu udah masak?”
“Belum.”
Yuna langsung bangkit dari tempat duduk. “Aku ke dapur dulu!”
“Cha,
temenin dia!” perintah Yeriko.
Icha
menganggukkan kepala. Ia mengerti maksud Yeriko. Yeriko memang meminta dirinya
untuk mengalihkan perhatian Yuna pada hal lain agar tidak kepikiran dengan apa
yang sudah dilakukan oleh Refi.
“Yer,
sekarang si Refi makin jadi. Kakak Ipar juga kelihatan mulai murung. Gimana?
Apa kita percepat aja?” tanya Lutfi.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Kita pantau dulu!” pintanya. “Aku tahu apa yang
diinginkan mereka. Mereka menargetkan aku.”
Lutfi
menghela napas. “Aku heran, kenapa ada perempuan kayak Refi gitu. Belum si
Belatung itu kalo bikin masalah lagi. Kasihan banget Kakak Ipar. Lagi hamil,
harus berhadapan dengan dua wanita gila itu.”
Yeriko
tersenyum kecil. “Mental Yuna cukup kuat walau dia memang banyak berpikir. Dia
pernah mengalami masalah yang lebih besar lagi. Aku cuma khawatir, trauma masa
lalunya kembali dan mempengaruhi kehamilannya.”
“Ya
udah, kita percepat aja!”
“Jangan
gegabah, Lut!” pinta Yeriko. “Jalani aja sesuai prosedur dan peraturan
perusahaan kamu itu.”
“Oke.
Oke. Tapi, gimana sama Kakak Ipar kalau kayak gini terus?”
“Dia
mudah untuk dihibur. Asal nggak sering buka televisi dan baca berita di
internet. Aku bisa meyakinkan dia kalau semua akan baik-baik aja. Refi makin
berbahaya buat dia.”
“Enaknya
diapain itu si Reptil?”
Yeriko
berbisik ke telinga Lutfi.
“Hahaha.
Bener-bener,” tutur Lutfi sambil tertawa lebar.
Yeriko
dan Lutfi terus berbicara tentang banyak hal yang akan mereka rencanakan.
Sementara, wanita-wanita mereka sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang
bersama. Tentunya, dibantu oleh Bibi War yang tak pernah membiarkan Yuna
bekerja sendirian.
Icha
terus memerhatikan wajah Yuna untuk memastikan kalau sahabatnya itu tidak
murung lagi. Ia juga bercerita tentang banyak hal, termasuk tentang kedua
orangtuanya. Kini, ia memilih memulai hidup baru bersama kekasih dan
sahabat-sahabat yang selalu mendukungnya.
((Bersambung ...))
Terima kasih sudah setia menemani keseharian Mr. & Ms. Ye ...
Dukung terus biar author semangat update setiap hari.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi


