Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 391 : Icha Anak Siapa?

 


“Cepetan pake bajunya!” perintah Yeriko sambil memakai kaosnya usai mandi.

 

“Bantuin ...!” pinta Yuna sambil menyodorkan punggungnya ke arah Yeriko.

 

“Sempit lagi?” tanya Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Katanya suruh cepet? Bantuin kancingin!” pinta Yuna.

 

Yeriko langsung menarik ujung bra dan menautkan kancing bra yang ada di belakang punggung Yuna. “Udah.”

 

“Thank you!” ucap Yuna sambil tersenyum. Ia menatap deretan pakaian yang tergantung di dalam lemarinya. Ia mengetuk-ngetuk dagu sambil memerhatikan pakaiannya satu per satu.

 

“Cepetan, Yun!” perintah Yeriko. “Riyan barusan telepon ...”

 

“Sebentar, sabar!” pinta Yuna santai.

 

Yeriko langsung menarik satu dress dan meletakkannya di dada Yuna. “Pake ini aja!” pintanya.

 

“Eh!? Tapi ...”

 

“Bu Ratna coba buat bunuh diri. Kita harus ke rumah sakit sekarang. Riyan bilang, keadaannya cukup kritis.”

 

“Hah!?”

 

“Cepetan pakai bajunya!” perintah Yeriko.

 

Yuna bergegas memakai bajunya secepat kilat. Yeriko membantunya mengambil sepasang flat shoes warna mocca dan tas tangan yang senada dengan warna sepatu Yuna.

 

Icha udah dikasih tahu?” tanya Yuna sambil menyisir rambutnya asal-asalan. Ia bergegas memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam tas dan melangkah keluar kamar bersama Yeriko.

 

 

 

...

 

 

 

Sesampainya di rumah sakit, Yuna langsung menghampiri Riyan yang sedang menunggu di depan ruang IGD.

 

“Gimana keadaan Ibu Ratna?” tanya Yuna.

 

“Kritis,” jawab Riyan lirih.

 

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko yang berdiri di sampingnya.

 

“Kenapa dia sampai mencoba bunuh diri?” tanya Yeriko sambil menatap Riyan.

 

Riyan menggelengkan kepala. “Kondisi mental beliau memang tidak stabil. Sulit mendapatkan informasi karena ucapannya selalu berubah-ubah.”

 

Yeriko menghela napas. Apa pun yang terjadi, ia tidak akan melepaskan Ibu Ratna dengan mudah.

 

“Yan, gimana keadaan mamaku!?” seru Icha. Ia langsung menghampiri Riyan sambil terisak.

 

“Masih di dalam ruang IGD,” jawab Riyan.

 

Di saat yang bersamaan, dokter dan dua orang perawat keluar dari pintu IGD.

 

“Gimana keadaan mama saya, Dok?” tanya Icha, ia langsung menghampiri dokter tersebut.

 

“Beliau, ibu kamu?”

 

Icha menganggukkan kepala, diiringi dengan anggukkan kepala Yuna dan yang lainnya.

 

“Ibu Ratna kehilangan banyak darah. Beliau butuh transfusi darah secepatnya. Tapi, stok darah kami masih kosong.”

 

“Ambil darah saya aja, Dok!” pinta Icha. “Saya anaknya.”

 

Dokter tersebut mengangguk. Ia menoleh ke arah perawat yang ada di sampingnya. “Cepat kerjakan! Kita butuh darah ini secepatnya!”

 

Perawat tersebut menganggukkan kepala dan mengajak Icha pergi ke Unit Transfusi Darah.

 

“Mbaknya tahu golongan darahnya apa?” tanya perawat tersebut.

 

Icha menggelengkan kepala. “Saya belum pernah periksa darah. Tapi, saya anaknya Ibu Ratna. Golongan darah kami pasti sama.”

 

Perawat itu tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Kami tetap lakukan pengecekan terlebih dahulu ya, Mbak.”

 

Icha menganggukkan kepala.

 

“Silakan duduk!” pinta salah seorang petugas di ruangan tersebut.

 

“Suster, pasien yang akan menerima donor darah, golongan AB,” tutur perawat tersebut.

 

Petugas yang diajak bicara menganggukkan kepala. Ia mengambil sampel darah Icha dan memeriksanya.

 

“Suster, kita nggak bisa melakukan transfusi darah,” tutur petugas yang sudah selesai memeriksa darah Icha.

 

Icha yang mendengar suara petugas tersebut langsung menoleh. “Kenapa, Suster?” tanyanya panik. “Saya nggak punya penyakit apa-apa. Kenapa nggak bisa donorin darah buat mama saya?”

 

Petugas di dalam ruangan tersebut saling pandang. “Golongan darah Mbak, berbeda dengan golongan darah mamanya.”

 

“Hah!?”

 

“Dari hasil tes, golongan darah Mbak Icha adalah O. Sedangkan Bu Ratna memiliki golongan darah AB.”

 

“Nggak mungkin, Suster!” sahut Icha. “Saya ini anaknya. Nggak mungkin golongan darah kami beda. Ini pasti ada kesalahan!” serunya.

 

“Maaf, Mbak. Kami sudah melakukan tiga kali pengecekkan dan hasilnya tetap sama.”

 

“Nggak mungkin, Sus.” Pikiran Icha tiba-tiba melayang-layang entah ke mana. Kakinya lemah, ia memaksa kakinya tetap berdiri dan melangkah keluar dari ruangan tersebut sambil menangis.

 

“Cha, gimana?” tanya Yuna begitu melihat tubuh Icha berjalan perlahan menghampirinya.

 

Icha langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukkan Yuna. Ia terisak dalam pelukan Yuna.

 

“Ke ... kenapa, Cha?” tanya Yuna bingung.

 

“Aku nggak bisa nolongin mamaku, Yun!” tutur Icha histeris. “Darahku nggak cocok sama mama.”

 

“Hah!? Kok, bisa?”

 

Icha menggelengkan kepala. Ia terus menangis di pelukkan Yuna. “Aku nggak tahu, Yun. Aku nggak tahu, hiks ... hiks.”

 

“Cha, kamu tenang dulu!” pinta Yuna sambil mengelus lembut pundak Icha. “Pasti ada jalan keluar buat nolong mama kamu.”

 

“Permisi ...! Keluarga pasien Ibu Ratna yang mana?” tanya seorang perawat yang tiba-tiba menghampiri mereka.

 

Icha langsung melepas pelukannya dan menoleh ke arah perawat tersebut.

 

“Saya yang bertanggung jawab atas Ibu Ratna.” Yeriko langsung mengambil alih keadaan.

 

“Ibu Ratna membutuhkan darah AB secepatnya. Sementara, stok di tempat kami sedang kosong. Kami sudah menghubungi pihak PMI pusat, mereka juga kehabisan stok darah AB.”

 

“Yan, carikan darah AB. Kalau perlu, hubungi HRD perusahaan untuk mencari karyawan yang punya golongan darah AB.”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Siap, Pak Bos!” Ia bergegas pergi meninggalkan rumah sakit untuk mencari orang lain yang bisa mentransfusi darah untuk Ibu Ratna.

 

“Cha, Sorry ...! Kami telat,” sapa Jheni dengan napas tersengal. Ia dan Chandra datang bersamaan.

 

Icha masih saja terisak. Ia bukan hanya mengkhawatirkan mamanya yang sedang kritis. Tapi ia juga sedih karena mengetahui kalau ia tidak bisa menolong nyawa mamanya sendiri.

 

“Kenapa darahku nggak cocok sama Mama?” Icha terus terisak.

 

“Hah!?” Jheni melongo mendengar ucapan Icha.

 

“Jhen, Bu Ratna butuh transfusi darah. Darahnya Icha nggak cocok.”

 

“Kok, bisa?”

 

Icha menggelengkan kepala, air matanya terus keluar membanjiri pipinya.

 

“Golongan darah Mama kamu apa?” tanya Jheni.

 

“AB,” jawab Yuna.

 

“Icha?”

 

“Golongan darahku O, Jhen,” jawab Icha sambil menangis.

 

“Mbak Icha, saya yang menjaga Ibu Ratna di Menur. Saya juga seorang perawat. Setahu saya, golongan darah AB bisa menerima transfusi darah dari semua golongan darah yang lain,” sela perawat yang juga masih menunggu keadaan Ibu Ratna.

 

Semua orang langsung menoleh ke arah perawat tersebut.

 

Icha menghapus air matanya. “Jadi, sebenarnya aku tetap bisa donorin darahku ke mama?”

 

Perawat itu menganggukkan kepala. “Tapi, dokter juga punya kebijakan kenapa lebih memilih golongan darah yang sama untuk Recipient.”

 

Icha yang baru saja memiliki sedikit harapan, tiba-tiba kembali tak bersemangat.

 

“Kalian nggak usah khawatir, golongan darahku AB,” tutur Chandra.

 

“Kenapa nggak bilang dari tadi!?” dengus Yeriko. Ia langsung menarik lengan Chandra.

 

“Masa kamu lupa sama golongan darahku? Aku aja ingat sama golongan darahmu, Yer.”

 

“Aih, nggak usah ngajak berdebat!” pinta Yeriko. Ia menoleh ke arah perawat yang menangani Ibu Ratna. “Suster, golongan darah dia AB. Ambil aja darahnya sebanyak-banyaknya!” pinta Yeriko. “Ngeselin ...!”

 

Perawat yang bertugas mengangguk. Ia segera membawa Chanda ke Unit Transfusi Darah untuk melakukan pengecekkan terlebih dahulu sebelum mengambil darah Chandra untuk didonorkan.

 

Jheni menghela napas lega.

 

“Untungnya kalian cepet datang ke sini,” tutur Icha sambil menatap Jheni.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Sabar ya!” ucapnya sambil memeluk tubuh Icha. Di kepalanya masih ada pertanyaan besar soal golongan darah Icha yang berbeda dengan ibunya sendiri. Ia baru saja menerima kabar kalau Icha dan Lutfi bukanlah kakak-beradik. Kini, ia juga harus melihat kenyataan kalau Icha memiliki golongan darah yang berbeda dengan mamanya sendiri.

 

Yuna ikut menenangkan Icha. Walau dalam hatinya ada banyak pertanyaan. Ia lebih memilih memendamnya terlebih dahulu agar tidak membuat Icha semakin sedih.

 

Jheni berusaha untuk tersenyum, menyalurkan kekuatan untuk sahabatnya itu. “Cha, siapa kamu sebenarnya?” batin Jheni sambil menatap Icha penuh kepedihan.

 

Jheni mengingat dengan jelas apa yang tak sengaja ia baca di internet beberapa hari lalu. Suami atau istri yang memiliki golongan darah AB, tidak mungkin memiliki keturunan dengan golongan darah O. Ternyata, ini semua terjadi pada sahabatnya sendiri dan membuat dirinya terus bertanya-tanya. Hanya saja, Jheni belum bisa membuka mulut untuk bertanya banyak hal karena Icha terlihat sangat menderita.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini ... Makin penasaran? Ikuti terus kisah serunya ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 390 : Percobaan Bunuh Diri

 


Lutfi duduk di sofa sambil memerhatikan luka di perutnya yang mulai membaik. Ia menoleh ke arah Icha yang sedang mengupas apel di sisinya. “Yeriko ke mana ya? Kenapa belum balik juga ke sini?”

 

“Mungkin, masih jalan-jalan sama Yuna.”

 

“Mereka nggak mungkin langsung pulang ‘kan?” tanya Lutfi. Ia bangkit sambil celingukan mencari ponselnya.

 

“Cari apa?”

 

“Cari hp.”

 

“Ditaruh di mana?” tanya Icha.

 

“Lupa.”

 

Icha langsung membantu Lutfi mencari ponselnya.

 

“Hp kamu mana?” tanya Lutfi.

 

Icha langsung menyodorkan ponsel miliknya ke tangan Lutfi.

 

Lutfi tersenyum. Ia menatap layar ponsel Icha sejenak. Kemudian mencari kontak milik Yuna dan meneleponnya.

 

“Halo ...! Ada apa, Cha?” tanya Yuna begitu panggilan teleponnya tersambung.

 

“Ini aku,” jawab Lutfi.

 

“Lutfi? Kalian kenapa? Nggak papa ‘kan?” tanya Yuna panik.

 

“Nggak papa. Kalian di mana?” tanya Lutfi.

 

“Aku di bawah. Kenapa?”

 

“Belum pulang, kan?” tanya Lutfi balik.

 

“Belum. Baru rencana mau pulang.”

 

“Ke sini bentar!” pinta Lutfi.

 

“Oke.” Yuna langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna dan Yeriko sudah kembali ke ruang rawat Lutfi.

 

“Ada apa, Lut?” tanya Yeriko begitu ia sudah duduk di hadapan Lutfi.

 

“Yer, DNA aku sama Icha nggak cocok. Ada yang masih mengganjal di benakku.”

 

“Apa itu?” tanya Yuna.

 

“Mamanya Icha bersikeras kalau Icha adalah anak dari papaku. Bahkan, keluargaku juga mengakui itu. Kalau Icha bukan anak papaku, dia anak siapa?” tanya Lutfi.

 

Icha terdiam mendengar pertanyaan Lutfi.

 

“Mungkin, Icha memang anak papanya yang sekarang,” jawab Yuna.

 

Lutfi mengangguk-anggukkan kepala. “Masuk akal. Tapi, aku ngerasa aneh aja sama perlakuan mamanya Icha. Kenapa dia nggak seperti seorang ibu yang menyayangi anaknya?”

 

“Lut, mamaku sebenarnya sayang sama aku, kok. Dia emang sedikit kasar dan keras kepala. Tapi, dia selalu baik,” tutur Icha.

 

“Ck, kamu ini ... mama kamu udah tega nusuk aku dan membohongi semua orang!” sahut Lutfi kesal.

 

Icha terdiam. Ia juga merasa sangat kecewa karena mamanya juga membohongi dirinya. Bahkan, membuat pria yang ia cintai begitu menderita karenanya.

 

“Lut, lebih baik kamu minta penjelasan sama nenek kamu. Dia pasti tahu soal ini semua. Kita nggak bisa menerka-nerka begitu aja. Apalagi, mamanya Icha sekarang dirawat di rumah sakit jiwa karena kondisi psikologinya yang tidak stabil. Ada banyak kemungkinan yang terjadi. Kamu harus buat nenek kamu menjelaskan semua ini.”

 

Lutfi mengangguk-anggukkan kepala. “Aku harus tahu dengan jelas. Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Aku pikir, papaku sudah mengkhianati mama selama ini. Aku ...” Lutfi kesulitan mengungkapkan perasaannya saat ini.

 

“Lut, cuma nenek kamu dan mamanya Icha yang bisa menjelaskan apa yang telah terjadi di masa lalu,” tutur Yeriko.

 

“Aku ngerti, Yer. Aku bakal selesaikan masalah ini. Setidaknya, nggak ada lagi yang mengganggu hubungan aku sama Icha.”

 

Yeriko mengangguk. “Aku bakal bantu kamu.”

 

Lutfi mengangguk. “Thanks!”

 

“Ini udah malam. Aku sama Yuna pulang dulu!” pamit Yeriko sambil bangkit dari sofa.

 

Lutfi menganggukkan kepala.

 

“Aku juga harus pulang,” tutur Icha sambil menyandarkan tali tas ke bahunya.

 

“Kamu pulang juga?” tanya Lutfi.

 

Icha menganggukkan kepala. “Kamu istirahat ya! Besok pagi, aku ke sini lagi.”

 

Lutfi menganggukkan kepala.

 

Icha tersenyum. Ia dan Yuna bergegas melangkahkan kakinya keluar dari kamar Lutfi.

 

“Cha, sekarang tinggal di mana?” tanya Yuna.

 

“Nggak jauh dari sini, kok.”

 

“Kami antar kamu, gimana?”

 

“Nggak usah repot-repot, Yun!” pinta Icha. “Aku bisa naik taksi, kok.”

 

“Cuma ngantar kamu doang, nggak ada repotnya. Iya kan?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Kamu ikut sama kami aja! Ini sudah malam, sudah susah nyari taksi.”

 

Icha berpikir sejenak.

 

“Ayolah ...!”

 

“Tapi ...”

 

“Nggak usah pake tapi!” pinta Yuna sambil  memeluk lengan Icha. Ia mengajak Icha ikut serta di dalam mobilnya sambil berbincang tentang banyak hal.

 

Lima belas menit kemudian, Yeriko menghentikan mobilnya tepat di tepi jalan yang ditunjukkan oleh Icha.

 

“Kamu tinggal di mana, Cha?” tanya Yuna sambil mengedarkan pandangannya.

 

“Masih masuk ke gang. Mobilnya nggak bisa masuk. Aku jalan kaki aja,” jawab Icha sambil membuka pintu mobil dan keluar.

 

“Hati-hati ya, Cha!” seru Yuna sambil membuka kaca mobil dan menatap Icha yang sudah berdiri di samping mobilnya.

 

Icha menganggukkan kepala. “Kalian juga hati-hati ya! Makasih, udah diantar sampai sini.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia tersenyum sambil melambaikan tangannya. Kemudian, ia menutup jendela kaca mobil saat Yeriko sudah menjalankan mobilnya perlahan.

 

 

 

...

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

Riyan melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit setiap paginya. Sejak Ibu Ratna dirawat di Menur. Yeriko memintanya untuk terus mengawasi keberadaan wanita tersebut.

 

Riyan dikejutkan oleh beberapa orang perawat yang mendorong brankar dengan terburu-buru. Ia melihat wanita setengah baya yang berada di atas brankar tersebut dan langsung mengenalinya.

 

“Suster, Bu Ratna kenapa?” tanya Riyan sambil berlari mengikuti perawat yang biasa menjaga Ibu Ratna.

 

“Mas Riyan? Dia mencoba bunuh diri lagi hari ini,” jawab perawat tersebut. “Dia memotong urat nadinya sendiri. Saat saya masuk ke kamarnya, beliau sudah pingsan!” lanjutnya panik. Ia terus mengikuti beberapa perawat yang mendorong brankar tersebut.

 

“Gimana bisa? Dia dapet pisau dari mana? Bukannya saya sudah peringatkan untuk menjauhkan benda tajam dari jangkauan Ibu Ratna? Kamu gimana sih!?” seru Riyan sambil mengejar brankar yang membawa Ibu Ratna.

 

“Ma ... maaf, Mas. Saya nggak tahu beliau dapat benda tajam itu dari mana,” jawab perawat tersebut.

 

“Bawa ke Siloam!” perintah Riyan.

 

Perawat itu menganggukkan kepala. Ia bergegas mengejar brankar yang membawa Ibu Ratna.

 

Riyan bergegas merogoh ponsel di sakunya. Ia langsung menekan nomor Yeriko.

 

“Halo ...!” sapa Yeriko dari ujung telepon.

 

“Pak Bos, Bu Ratna mencoba bunuh diri. Sekarang, lagi dibawa ke rumah sakit.”

 

“Hah!? Aku ke sana sekarang!” seru Yeriko.

 

“He-em.” Riyan mengangguk. Ia segera mematikan panggilan teleponnya dan bergegas mengikuti petugas medis tersebut untuk memberikan pertolongan pada Ibu Ratna.

 

“Kenapa perawat di sini bisa seceroboh ini?” gumam Riyan. Ia mengembalikan ponsel ke sakunya sambil bergegas keluar menuju parkiran. Ia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang akan menangani Ibu Ratna.

 

Riyan menyambungkan ponselnya ke mobil. Ia langsung menelepon Lutfi.

 

“Halo ...! Kenapa, Yan?”

 

“Mbak Icha ada di situ?” tanya Riyan.

 

“Belum datang. Kenapa?” tanya Lutfi balik.

 

“Saya bisa minta kirimin nomer hp-nya?”

 

“Bisa. Ada apa, Yan?” tanya Lutfi lagi.

 

“Mmh ...” Riyan ragu-ragu memberitahu keadaan Ibu Ratna kepada Lutfi. Sebab, Lutfi masih menjalani perawatan di rumah sakit.

 

“Heh, kenapa diam?” tanya Lutfi.

 

“Eh!? Anu, Mas.”

 

“Anu apa?” tanya Lutfi tak sabar.

 

“Mamanya Mbak Icha ...”

 

“Kenapa sama dia? Bikin ulah lagi?” tanya Lutfi.

 

“Iya. Tapi, kali ini bukan mengamuk di rumah sakit.”

 

“Terus?”

 

“Ibu Ratna mencoba untuk bunuh diri lagi. Sekarang, beliau sedang di perjalanan ke rumah sakit.”

 

“Apa!? Gimana keadaannya?”

 

“Belum tahu, Mas. Nanti, saya kabari lagi!”

 

“Oke. Biar aku aja yang telepon Icha.”

 

“Oke.”  Riyan langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ia tak lupa memberi kabar keadaan Ibu Ratna pada Satria dan Chandra.

 

Setelah sampai di rumah sakit. Riyan terus mondar-mandir, gelisah menunggu Yeriko datang. Ia masih terus menerka-nerka tentang apa yang akan dilakukan Yeriko saat mengetahui kalau tawanan mereka justru memilih mengakhiri hidupnya daripada memberikan keterangan tentang apa yang telah terjadi di masa lalu.

 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini ... Dukung terus biar aku bikin cerita yang lebih menarik lagi. Kira-kira, apa yang sebenarnya terjadi sama mamanya Icha ya? Makin penasaran? Ikuti terus ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 389 : Don't Let You Go

 


“Kasih waktu buat dia sendiri dulu!” pinta Yeriko sambil menatap Icha.

 

Icha menganggukkan kepala. Ia bergegas melangkah pergi dengan berat hati. Ia masih menoleh ke arah Lutfi yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia tersenyum kecut. Ia berbalik dan melangkah pergi.

 

“Mau ke mana?” Lutfi langsung menyambar pergelangan tangan Icha.

 

Icha langsung menoleh ke arah Lutfi.

 

Lutfi menarik Icha ke dalam pelukannya.

 

Icha tertegun dengan sikap Lutfi yang memeluknya sangat erat. Matanya mulai perih hingga bulir air mata jatuh di pipinya.

 

“Cha, jangan pergi!” bisik Lutfi. “Aku nggak mau kamu pergi!”

 

Icha terisak mendengar bisikan Lutfi. “Aku nggak akan pergi, akan tetap sayang sama kamu. Walau status kita sudah berubah. Seiring berjalannya waktu, kita akan terbiasa.”

 

Yuna tak bisa menahan haru di dadanya. Ia ikut meneteskan air mata.

 

Lutfi terus mengeratkan pelukannya. “Kamu harus janji, nggak akan ninggalin aku lagi! Aku butuh kamu.”

 

Icha mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Aku janji, nggak akan main-main lagi. Asalkan kamu nggak pergi jauh dari aku. Aku ingin terus mencintai kamu setiap hari. Karena ... kamu bukanlah adikku.”

 

Icha membelalakkan matanya. Ia langsung melepas pelukannya dan menatap Lutfi. “Kamu ...!? Lagi ngerjain aku?” tanyanya sambil meninju perut Lutfi.

 

“Aw ...!” Lutfi merintih sambil memegangi perutnya.

 

“Sorry ...! Sorry ...! Lupa kalo kamu lagi sakit,” tutur Icha.

 

Yeriko dan Yuna yang melihat senyuman di wajah Lutfi, memiliki harapan besar bahwa  doa-doanya selama ini akan terkabul. Lutfi dan Icha memanglah bukan kakak-beradik.

 

Lutfi tergelak sambil menyodorkan dokumen ke tangan Icha.

 

Icha membaca dokumen tersebut dan  meletakkan kembali ke atas ranjang. “Bukannya, semua orang udah mengakui kalau aku ini adik kamu? Kamu sengaja malsuin dokumen ini, supaya aku tetap tinggal di sisi kamu?” tanyanya.

 

“Astaga ...! Kamu nggak percaya sama aku?”

 

“Aku cuma ngerasa aneh aja,” jawab Icha lirih.

 

“Kamu nggak percaya sama hasil tes ini?” tanya Lutfi. “Tanya ke Yeriko!”

 

Icha langsung menoleh ke arah Yuna dan Yeriko.

 

Yuna tersenyum menatap Icha. “Cha, dokumen itu asli. Kami baru aja ambil dari dokter. Kamu harusnya bahagia karena nggak ada hubungan apa pun sama keluarga Lutfi.”

 

Icha tersenyum walau air matanya terus mengalir. Ia sangat bahagia karena Lutfi bukanlah kakak kandungnya. Hanya saja, ia tidak tahu harus bagaimana menyikapi hubungannya kali ini.

 

“Cha, kenapa kamu nangis? Kamu nggak suka sama hasil ini? Kamu lebih suka kalau kita jadi kakak-beradik?” tanya Lutfi.

 

Icha menggelengkan kepala. Ia tak mampu mengungkapkan apa yang kini ia rasakan dalam hatinya. Setelah melukai Lutfi, melukai sahabat-sahabatnya. Kini ia sendiri tidak tahu status hubungannya dengan Lutfi saat ini.

 

Yuna dan Yeriko saling pandang. Mereka memilih untuk memberikan ruang bagi Icha dan Lutfi saling bicara.

 

“Mau ke mana?” tanya Lutfi saat melihat Yuna dan Yeriko berbalik pergi. “Kalian nggak perlu pergi dari sini.”

 

Yuna meringis. “Kalian ngobrol berdua aja dulu!”

 

“Nggak ada hal yang perlu kami rahasiakan. Buat apa kalian pergi?” tanya Lutfi.

 

Yuna melirik ke arah Yeriko yang hanya tersenyum ke arahnya.

 

“Kenapa harus secanggung ini?” tanya Lutfi. “Kalian semua nggak senang kalau hasil tes DNA-nya kayak gini? Lebih suka kalau aku sama Icha jadi kakak-adik?”

 

“Bukan gitu, Lut. Kami cuma nggak mau ganggu kalian berdua aja. Kalian butuh waktu untuk bicara. Apalagi ...” Yuna menatap wajah Icha yang murung.

 

Lutfi melirik Icha yang masih duduk di hadapannya. Ia mengangguk kecil sambil tersenyum ke arah Yuna.

 

Yuna tersenyum. Ia bergegas mengajak Yeriko keluar dari ruangan tersebut.

 

“Cha, kenapa kamu nggak bahagia?” tanya Lutfi.

 

Icha tersenyum kecut. “Aku semakin nggak ngerti, harus menghadapi kamu dengan status apa.”

 

“Cha, kamu itu cewekku,” tutur Lutfi sambil meraih tangan Icha. “Kamu satu-satunya wanita yang bisa ngertiin aku. Bisa nerima aku yang kayak gini. Aku janji, nggak akan main-main lagi.”

 

Icha tersenyum menatap Lutfi. Sulit sekali baginya untuk mengungkapkan kegelisahan hati yang saat ini ia rasakan.

 

“Cha, aku tahu kalau selama ini memang banyak main-main. Tapi, aku serius sayang sama kamu. Aku mau kamu tetap tinggal, apa pun caranya ... akan aku lakukan. Asalkan, jangan tinggalin aku!”

 

Icha hanya menanggapi ucapan Lutfi dengan senyuman. “Aku juga sayang sama kamu. Tapi ... entah kenapa, terkadang aku ada di titik keraguan. Kadang aku ragu, apa kamu beneran cinta sama aku?”

 

“Cha, kenapa kamu ngomong kayak gitu?”

 

“Kamu punya banyak wanita di hidup kamu. Hampir semua media, selalu menyoroti kedekatan kamu sama artis-artis itu. Sementara, aku nggak pernah terlihat ada di hidup kamu,” tutur Icha sambil meneteskan air mata.

 

Lutfi langsung memeluk tubuh Icha. “Setelah ini, aku janji ... aku kenalin kamu ke media. Aku cuma khawatir, ketika kamu terekspose ke media ... akan ada banyak Juan di luar sana yang gangguin kamu.”

 

Icha tersenyum. Kini, ia mengerti kenapa Lutfi selalu menutupi hubungannya di depan media. Ternyata, rasa takut kehilangan dalam hati Lutfi jauh lebih besar. Ia pikir, hanya dirinya saja yang takut kehilangan Lutfi. Selalu merasa kalau perasaannya hanya sepihak.

 

“Nggak perlu ekspose ke media!” pinta Icha. “Aku pengen menjalani banyak hari sama kamu tanpa ada gosip di luar sana. Kadang, aku ngerasa sakit setiap kali kamu digosipin dekat dengan beberapa artis. Aku nggak ada apa-apanya dibanding sama mereka.”

 

Lutfi melepas pelukannya dan menatap wajah Icha. “Cha, dengerin aku!” pinta Lutfi serius. “Ada hal yang nggak pernah kamu tahu selama ini. Aku bukan cuma manfaatin artis-artis itu untuk endorse villa-ku. Aku juga ...” Ucapan Lutfi terhenti. Ia menatap wajah Icha dengan seksama.

 

“Kenapa?” tanya Icha.

 

“SD Entertainment yang di Jakarta ...” Lutfi menarik napas perlahan.

 

Icha menaikkan kedua alisnya. Menunggu Lutfi melanjutkan ucapannya.

 

“Son’s Digital Entertainment itu ... mmh, kamu tahu kan?”

 

Icha menganggukkan kepala. “Rumah produksi film itu kan?”

 

Lutfi mengangguk.

 

“Ada apa dengan rumah produksi itu?”

 

“SD Entertainment adalah salah satu perusahaan yang didirikan oleh papaku. Aku, menjadi satu-satunya pewaris perusahaan itu. Keseharianku nggak bisa lepas dari artis, Cha. Di luar sana, cuma gosip yang dibuat untuk menaikkan popularitas artis-artisku.”

 

“Oh ... jadi, itu semua yang bikin kamu nggak bisa mengelak soal gosip kedekatan kamu sama artis-artis itu?”

 

Lutfi menganggukkan kepala.

 

“Aku hitung, ada ...”

 

“Nggak usah kamu hitung!” sergah Lutfi. “Mereka semua bukan pacarku beneran. Aku juga nggak pernah bikin pernyataan kalau mereka itu pacarku.”

 

“Tapi kamu juga nggak pernah menyangkal kalau mereka bikin pernyataan dan mengaku sebagai pacar kamu.”

 

“Cha ... percaya sama aku! Aku nggak ada hubungan apa-apa sama mereka semua.”

 

Icha mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Kamu percaya sama aku kan?” tanya Lutfi sambil menggenggam tangan Icha.

 

“Tergantung gimana cara kamu meyakinkan aku,” jawab Icha santai.

 

“Aargh ...!” Lutfi langsung merebahkan tubuhnya kembali. “Aku udah sakit kayak gini, kamu masih aja nggak percaya sama aku.” Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Icha.

 

Icha menahan tawa sambil menatap tubuh Lutfi. “Nggak usah kayak anak kecil gitu, deh!” pintanya sambil menarik-narik lengan baju Lutfi.

 

Lutfi tak merespon ucapan Icha.

 

“Iya, aku percaya sama kamu. Nggak usah ngambek! Kayak anak kecil aja.”

 

Lutfi masih saja tak mau merespon.

 

“Lut ...!” panggil Icha sambil mengintip wajah Lutfi.

 

Lutfi yang memejamkan mata, langsung membuka matanya begitu wajah Icha mendekat. Ia bangkit dan langsung menekan Icha ke atas tempat tidur.

 

Jantung Icha berdebar sangat kencang, namun ia tak bisa melakukan apa pun selain menatap wajah Lutfi yang berada di atasnya.

 

Lutfi menatap wajah Icha selama beberapa detik. Kedua tangannya menggenggam kedua pergelangan tangan Icha dengan erat.

 

“A ... aku ...” Suara Icha tertahan di tenggorokan. Ia tidak bisa berucap lagi saat bibirnya dibungkam oleh bibir Lutfi.

 

Lutfi terus mengulum bibir Icha yang lembut. Ia begitu menikmati vanilla flavor yang membuncah di setiap gerakan bibirnya, membuat mereka beradu dalam suasana tanpa kata-kata.


((Bersambung...))

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas