Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 389 : Don't Let You Go

 


“Kasih waktu buat dia sendiri dulu!” pinta Yeriko sambil menatap Icha.

 

Icha menganggukkan kepala. Ia bergegas melangkah pergi dengan berat hati. Ia masih menoleh ke arah Lutfi yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia tersenyum kecut. Ia berbalik dan melangkah pergi.

 

“Mau ke mana?” Lutfi langsung menyambar pergelangan tangan Icha.

 

Icha langsung menoleh ke arah Lutfi.

 

Lutfi menarik Icha ke dalam pelukannya.

 

Icha tertegun dengan sikap Lutfi yang memeluknya sangat erat. Matanya mulai perih hingga bulir air mata jatuh di pipinya.

 

“Cha, jangan pergi!” bisik Lutfi. “Aku nggak mau kamu pergi!”

 

Icha terisak mendengar bisikan Lutfi. “Aku nggak akan pergi, akan tetap sayang sama kamu. Walau status kita sudah berubah. Seiring berjalannya waktu, kita akan terbiasa.”

 

Yuna tak bisa menahan haru di dadanya. Ia ikut meneteskan air mata.

 

Lutfi terus mengeratkan pelukannya. “Kamu harus janji, nggak akan ninggalin aku lagi! Aku butuh kamu.”

 

Icha mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Aku janji, nggak akan main-main lagi. Asalkan kamu nggak pergi jauh dari aku. Aku ingin terus mencintai kamu setiap hari. Karena ... kamu bukanlah adikku.”

 

Icha membelalakkan matanya. Ia langsung melepas pelukannya dan menatap Lutfi. “Kamu ...!? Lagi ngerjain aku?” tanyanya sambil meninju perut Lutfi.

 

“Aw ...!” Lutfi merintih sambil memegangi perutnya.

 

“Sorry ...! Sorry ...! Lupa kalo kamu lagi sakit,” tutur Icha.

 

Yeriko dan Yuna yang melihat senyuman di wajah Lutfi, memiliki harapan besar bahwa  doa-doanya selama ini akan terkabul. Lutfi dan Icha memanglah bukan kakak-beradik.

 

Lutfi tergelak sambil menyodorkan dokumen ke tangan Icha.

 

Icha membaca dokumen tersebut dan  meletakkan kembali ke atas ranjang. “Bukannya, semua orang udah mengakui kalau aku ini adik kamu? Kamu sengaja malsuin dokumen ini, supaya aku tetap tinggal di sisi kamu?” tanyanya.

 

“Astaga ...! Kamu nggak percaya sama aku?”

 

“Aku cuma ngerasa aneh aja,” jawab Icha lirih.

 

“Kamu nggak percaya sama hasil tes ini?” tanya Lutfi. “Tanya ke Yeriko!”

 

Icha langsung menoleh ke arah Yuna dan Yeriko.

 

Yuna tersenyum menatap Icha. “Cha, dokumen itu asli. Kami baru aja ambil dari dokter. Kamu harusnya bahagia karena nggak ada hubungan apa pun sama keluarga Lutfi.”

 

Icha tersenyum walau air matanya terus mengalir. Ia sangat bahagia karena Lutfi bukanlah kakak kandungnya. Hanya saja, ia tidak tahu harus bagaimana menyikapi hubungannya kali ini.

 

“Cha, kenapa kamu nangis? Kamu nggak suka sama hasil ini? Kamu lebih suka kalau kita jadi kakak-beradik?” tanya Lutfi.

 

Icha menggelengkan kepala. Ia tak mampu mengungkapkan apa yang kini ia rasakan dalam hatinya. Setelah melukai Lutfi, melukai sahabat-sahabatnya. Kini ia sendiri tidak tahu status hubungannya dengan Lutfi saat ini.

 

Yuna dan Yeriko saling pandang. Mereka memilih untuk memberikan ruang bagi Icha dan Lutfi saling bicara.

 

“Mau ke mana?” tanya Lutfi saat melihat Yuna dan Yeriko berbalik pergi. “Kalian nggak perlu pergi dari sini.”

 

Yuna meringis. “Kalian ngobrol berdua aja dulu!”

 

“Nggak ada hal yang perlu kami rahasiakan. Buat apa kalian pergi?” tanya Lutfi.

 

Yuna melirik ke arah Yeriko yang hanya tersenyum ke arahnya.

 

“Kenapa harus secanggung ini?” tanya Lutfi. “Kalian semua nggak senang kalau hasil tes DNA-nya kayak gini? Lebih suka kalau aku sama Icha jadi kakak-adik?”

 

“Bukan gitu, Lut. Kami cuma nggak mau ganggu kalian berdua aja. Kalian butuh waktu untuk bicara. Apalagi ...” Yuna menatap wajah Icha yang murung.

 

Lutfi melirik Icha yang masih duduk di hadapannya. Ia mengangguk kecil sambil tersenyum ke arah Yuna.

 

Yuna tersenyum. Ia bergegas mengajak Yeriko keluar dari ruangan tersebut.

 

“Cha, kenapa kamu nggak bahagia?” tanya Lutfi.

 

Icha tersenyum kecut. “Aku semakin nggak ngerti, harus menghadapi kamu dengan status apa.”

 

“Cha, kamu itu cewekku,” tutur Lutfi sambil meraih tangan Icha. “Kamu satu-satunya wanita yang bisa ngertiin aku. Bisa nerima aku yang kayak gini. Aku janji, nggak akan main-main lagi.”

 

Icha tersenyum menatap Lutfi. Sulit sekali baginya untuk mengungkapkan kegelisahan hati yang saat ini ia rasakan.

 

“Cha, aku tahu kalau selama ini memang banyak main-main. Tapi, aku serius sayang sama kamu. Aku mau kamu tetap tinggal, apa pun caranya ... akan aku lakukan. Asalkan, jangan tinggalin aku!”

 

Icha hanya menanggapi ucapan Lutfi dengan senyuman. “Aku juga sayang sama kamu. Tapi ... entah kenapa, terkadang aku ada di titik keraguan. Kadang aku ragu, apa kamu beneran cinta sama aku?”

 

“Cha, kenapa kamu ngomong kayak gitu?”

 

“Kamu punya banyak wanita di hidup kamu. Hampir semua media, selalu menyoroti kedekatan kamu sama artis-artis itu. Sementara, aku nggak pernah terlihat ada di hidup kamu,” tutur Icha sambil meneteskan air mata.

 

Lutfi langsung memeluk tubuh Icha. “Setelah ini, aku janji ... aku kenalin kamu ke media. Aku cuma khawatir, ketika kamu terekspose ke media ... akan ada banyak Juan di luar sana yang gangguin kamu.”

 

Icha tersenyum. Kini, ia mengerti kenapa Lutfi selalu menutupi hubungannya di depan media. Ternyata, rasa takut kehilangan dalam hati Lutfi jauh lebih besar. Ia pikir, hanya dirinya saja yang takut kehilangan Lutfi. Selalu merasa kalau perasaannya hanya sepihak.

 

“Nggak perlu ekspose ke media!” pinta Icha. “Aku pengen menjalani banyak hari sama kamu tanpa ada gosip di luar sana. Kadang, aku ngerasa sakit setiap kali kamu digosipin dekat dengan beberapa artis. Aku nggak ada apa-apanya dibanding sama mereka.”

 

Lutfi melepas pelukannya dan menatap wajah Icha. “Cha, dengerin aku!” pinta Lutfi serius. “Ada hal yang nggak pernah kamu tahu selama ini. Aku bukan cuma manfaatin artis-artis itu untuk endorse villa-ku. Aku juga ...” Ucapan Lutfi terhenti. Ia menatap wajah Icha dengan seksama.

 

“Kenapa?” tanya Icha.

 

“SD Entertainment yang di Jakarta ...” Lutfi menarik napas perlahan.

 

Icha menaikkan kedua alisnya. Menunggu Lutfi melanjutkan ucapannya.

 

“Son’s Digital Entertainment itu ... mmh, kamu tahu kan?”

 

Icha menganggukkan kepala. “Rumah produksi film itu kan?”

 

Lutfi mengangguk.

 

“Ada apa dengan rumah produksi itu?”

 

“SD Entertainment adalah salah satu perusahaan yang didirikan oleh papaku. Aku, menjadi satu-satunya pewaris perusahaan itu. Keseharianku nggak bisa lepas dari artis, Cha. Di luar sana, cuma gosip yang dibuat untuk menaikkan popularitas artis-artisku.”

 

“Oh ... jadi, itu semua yang bikin kamu nggak bisa mengelak soal gosip kedekatan kamu sama artis-artis itu?”

 

Lutfi menganggukkan kepala.

 

“Aku hitung, ada ...”

 

“Nggak usah kamu hitung!” sergah Lutfi. “Mereka semua bukan pacarku beneran. Aku juga nggak pernah bikin pernyataan kalau mereka itu pacarku.”

 

“Tapi kamu juga nggak pernah menyangkal kalau mereka bikin pernyataan dan mengaku sebagai pacar kamu.”

 

“Cha ... percaya sama aku! Aku nggak ada hubungan apa-apa sama mereka semua.”

 

Icha mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Kamu percaya sama aku kan?” tanya Lutfi sambil menggenggam tangan Icha.

 

“Tergantung gimana cara kamu meyakinkan aku,” jawab Icha santai.

 

“Aargh ...!” Lutfi langsung merebahkan tubuhnya kembali. “Aku udah sakit kayak gini, kamu masih aja nggak percaya sama aku.” Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Icha.

 

Icha menahan tawa sambil menatap tubuh Lutfi. “Nggak usah kayak anak kecil gitu, deh!” pintanya sambil menarik-narik lengan baju Lutfi.

 

Lutfi tak merespon ucapan Icha.

 

“Iya, aku percaya sama kamu. Nggak usah ngambek! Kayak anak kecil aja.”

 

Lutfi masih saja tak mau merespon.

 

“Lut ...!” panggil Icha sambil mengintip wajah Lutfi.

 

Lutfi yang memejamkan mata, langsung membuka matanya begitu wajah Icha mendekat. Ia bangkit dan langsung menekan Icha ke atas tempat tidur.

 

Jantung Icha berdebar sangat kencang, namun ia tak bisa melakukan apa pun selain menatap wajah Lutfi yang berada di atasnya.

 

Lutfi menatap wajah Icha selama beberapa detik. Kedua tangannya menggenggam kedua pergelangan tangan Icha dengan erat.

 

“A ... aku ...” Suara Icha tertahan di tenggorokan. Ia tidak bisa berucap lagi saat bibirnya dibungkam oleh bibir Lutfi.

 

Lutfi terus mengulum bibir Icha yang lembut. Ia begitu menikmati vanilla flavor yang membuncah di setiap gerakan bibirnya, membuat mereka beradu dalam suasana tanpa kata-kata.


((Bersambung...))

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas