“Kasih
waktu buat dia sendiri dulu!” pinta Yeriko sambil menatap Icha.
Icha
menganggukkan kepala. Ia bergegas melangkah pergi dengan berat hati. Ia masih
menoleh ke arah Lutfi yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia tersenyum
kecut. Ia berbalik dan melangkah pergi.
“Mau
ke mana?” Lutfi langsung menyambar pergelangan tangan Icha.
Icha
langsung menoleh ke arah Lutfi.
Lutfi
menarik Icha ke dalam pelukannya.
Icha
tertegun dengan sikap Lutfi yang memeluknya sangat erat. Matanya mulai perih
hingga bulir air mata jatuh di pipinya.
“Cha,
jangan pergi!” bisik Lutfi. “Aku nggak mau kamu pergi!”
Icha
terisak mendengar bisikan Lutfi. “Aku nggak akan pergi, akan tetap sayang sama
kamu. Walau status kita sudah berubah. Seiring berjalannya waktu, kita akan
terbiasa.”
Yuna
tak bisa menahan haru di dadanya. Ia ikut meneteskan air mata.
Lutfi
terus mengeratkan pelukannya. “Kamu harus janji, nggak akan ninggalin aku lagi!
Aku butuh kamu.”
Icha
mengangguk-anggukkan kepala.
“Aku
janji, nggak akan main-main lagi. Asalkan kamu nggak pergi jauh dari aku. Aku
ingin terus mencintai kamu setiap hari. Karena ... kamu bukanlah adikku.”
Icha
membelalakkan matanya. Ia langsung melepas pelukannya dan menatap Lutfi. “Kamu
...!? Lagi ngerjain aku?” tanyanya sambil meninju perut Lutfi.
“Aw
...!” Lutfi merintih sambil memegangi perutnya.
“Sorry
...! Sorry ...! Lupa kalo kamu lagi sakit,” tutur Icha.
Yeriko
dan Yuna yang melihat senyuman di wajah Lutfi, memiliki harapan besar
bahwa doa-doanya selama ini akan terkabul. Lutfi dan Icha memanglah bukan
kakak-beradik.
Lutfi
tergelak sambil menyodorkan dokumen ke tangan Icha.
Icha
membaca dokumen tersebut dan meletakkan kembali ke atas ranjang.
“Bukannya, semua orang udah mengakui kalau aku ini adik kamu? Kamu sengaja
malsuin dokumen ini, supaya aku tetap tinggal di sisi kamu?” tanyanya.
“Astaga
...! Kamu nggak percaya sama aku?”
“Aku
cuma ngerasa aneh aja,” jawab Icha lirih.
“Kamu
nggak percaya sama hasil tes ini?” tanya Lutfi. “Tanya ke Yeriko!”
Icha
langsung menoleh ke arah Yuna dan Yeriko.
Yuna
tersenyum menatap Icha. “Cha, dokumen itu asli. Kami baru aja ambil dari
dokter. Kamu harusnya bahagia karena nggak ada hubungan apa pun sama keluarga
Lutfi.”
Icha
tersenyum walau air matanya terus mengalir. Ia sangat bahagia karena Lutfi
bukanlah kakak kandungnya. Hanya saja, ia tidak tahu harus bagaimana menyikapi
hubungannya kali ini.
“Cha,
kenapa kamu nangis? Kamu nggak suka sama hasil ini? Kamu lebih suka kalau kita
jadi kakak-beradik?” tanya Lutfi.
Icha
menggelengkan kepala. Ia tak mampu mengungkapkan apa yang kini ia rasakan dalam
hatinya. Setelah melukai Lutfi, melukai sahabat-sahabatnya. Kini ia sendiri
tidak tahu status hubungannya dengan Lutfi saat ini.
Yuna
dan Yeriko saling pandang. Mereka memilih untuk memberikan ruang bagi Icha dan
Lutfi saling bicara.
“Mau
ke mana?” tanya Lutfi saat melihat Yuna dan Yeriko berbalik pergi. “Kalian
nggak perlu pergi dari sini.”
Yuna
meringis. “Kalian ngobrol berdua aja dulu!”
“Nggak
ada hal yang perlu kami rahasiakan. Buat apa kalian pergi?” tanya Lutfi.
Yuna
melirik ke arah Yeriko yang hanya tersenyum ke arahnya.
“Kenapa
harus secanggung ini?” tanya Lutfi. “Kalian semua nggak senang kalau hasil tes
DNA-nya kayak gini? Lebih suka kalau aku sama Icha jadi kakak-adik?”
“Bukan
gitu, Lut. Kami cuma nggak mau ganggu kalian berdua aja. Kalian butuh waktu
untuk bicara. Apalagi ...” Yuna menatap wajah Icha yang murung.
Lutfi
melirik Icha yang masih duduk di hadapannya. Ia mengangguk kecil sambil
tersenyum ke arah Yuna.
Yuna
tersenyum. Ia bergegas mengajak Yeriko keluar dari ruangan tersebut.
“Cha,
kenapa kamu nggak bahagia?” tanya Lutfi.
Icha
tersenyum kecut. “Aku semakin nggak ngerti, harus menghadapi kamu dengan status
apa.”
“Cha,
kamu itu cewekku,” tutur Lutfi sambil meraih tangan Icha. “Kamu satu-satunya
wanita yang bisa ngertiin aku. Bisa nerima aku yang kayak gini. Aku janji,
nggak akan main-main lagi.”
Icha
tersenyum menatap Lutfi. Sulit sekali baginya untuk mengungkapkan kegelisahan
hati yang saat ini ia rasakan.
“Cha,
aku tahu kalau selama ini memang banyak main-main. Tapi, aku serius sayang sama
kamu. Aku mau kamu tetap tinggal, apa pun caranya ... akan aku lakukan.
Asalkan, jangan tinggalin aku!”
Icha
hanya menanggapi ucapan Lutfi dengan senyuman. “Aku juga sayang sama kamu. Tapi
... entah kenapa, terkadang aku ada di titik keraguan. Kadang aku ragu, apa
kamu beneran cinta sama aku?”
“Cha,
kenapa kamu ngomong kayak gitu?”
“Kamu
punya banyak wanita di hidup kamu. Hampir semua media, selalu menyoroti
kedekatan kamu sama artis-artis itu. Sementara, aku nggak pernah terlihat ada
di hidup kamu,” tutur Icha sambil meneteskan air mata.
Lutfi
langsung memeluk tubuh Icha. “Setelah ini, aku janji ... aku kenalin kamu ke
media. Aku cuma khawatir, ketika kamu terekspose ke media ... akan ada banyak
Juan di luar sana yang gangguin kamu.”
Icha
tersenyum. Kini, ia mengerti kenapa Lutfi selalu menutupi hubungannya di depan
media. Ternyata, rasa takut kehilangan dalam hati Lutfi jauh lebih besar. Ia
pikir, hanya dirinya saja yang takut kehilangan Lutfi. Selalu merasa kalau
perasaannya hanya sepihak.
“Nggak
perlu ekspose ke media!” pinta Icha. “Aku pengen menjalani banyak hari sama
kamu tanpa ada gosip di luar sana. Kadang, aku ngerasa sakit setiap kali kamu
digosipin dekat dengan beberapa artis. Aku nggak ada apa-apanya dibanding sama
mereka.”
Lutfi
melepas pelukannya dan menatap wajah Icha. “Cha, dengerin aku!” pinta Lutfi
serius. “Ada hal yang nggak pernah kamu tahu selama ini. Aku bukan cuma
manfaatin artis-artis itu untuk endorse villa-ku. Aku juga ...” Ucapan Lutfi
terhenti. Ia menatap wajah Icha dengan seksama.
“Kenapa?”
tanya Icha.
“SD
Entertainment yang di Jakarta ...” Lutfi menarik napas perlahan.
Icha
menaikkan kedua alisnya. Menunggu Lutfi melanjutkan ucapannya.
“Son’s
Digital Entertainment itu ... mmh, kamu tahu kan?”
Icha
menganggukkan kepala. “Rumah produksi film itu kan?”
Lutfi
mengangguk.
“Ada
apa dengan rumah produksi itu?”
“SD
Entertainment adalah salah satu perusahaan yang didirikan oleh papaku. Aku,
menjadi satu-satunya pewaris perusahaan itu. Keseharianku nggak bisa lepas dari
artis, Cha. Di luar sana, cuma gosip yang dibuat untuk menaikkan popularitas
artis-artisku.”
“Oh
... jadi, itu semua yang bikin kamu nggak bisa mengelak soal gosip kedekatan
kamu sama artis-artis itu?”
Lutfi
menganggukkan kepala.
“Aku
hitung, ada ...”
“Nggak
usah kamu hitung!” sergah Lutfi. “Mereka semua bukan pacarku beneran. Aku juga
nggak pernah bikin pernyataan kalau mereka itu pacarku.”
“Tapi
kamu juga nggak pernah menyangkal kalau mereka bikin pernyataan dan mengaku
sebagai pacar kamu.”
“Cha
... percaya sama aku! Aku nggak ada hubungan apa-apa sama mereka semua.”
Icha
mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kamu
percaya sama aku kan?” tanya Lutfi sambil menggenggam tangan Icha.
“Tergantung
gimana cara kamu meyakinkan aku,” jawab Icha santai.
“Aargh
...!” Lutfi langsung merebahkan tubuhnya kembali. “Aku udah sakit kayak gini,
kamu masih aja nggak percaya sama aku.” Ia membalikkan tubuhnya membelakangi
Icha.
Icha
menahan tawa sambil menatap tubuh Lutfi. “Nggak usah kayak anak kecil gitu,
deh!” pintanya sambil menarik-narik lengan baju Lutfi.
Lutfi
tak merespon ucapan Icha.
“Iya,
aku percaya sama kamu. Nggak usah ngambek! Kayak anak kecil aja.”
Lutfi
masih saja tak mau merespon.
“Lut
...!” panggil Icha sambil mengintip wajah Lutfi.
Lutfi
yang memejamkan mata, langsung membuka matanya begitu wajah Icha mendekat. Ia
bangkit dan langsung menekan Icha ke atas tempat tidur.
Jantung
Icha berdebar sangat kencang, namun ia tak bisa melakukan apa pun selain
menatap wajah Lutfi yang berada di atasnya.
Lutfi
menatap wajah Icha selama beberapa detik. Kedua tangannya menggenggam kedua
pergelangan tangan Icha dengan erat.
“A
... aku ...” Suara Icha tertahan di tenggorokan. Ia tidak bisa berucap lagi
saat bibirnya dibungkam oleh bibir Lutfi.
Lutfi
terus mengulum bibir Icha yang lembut. Ia begitu menikmati vanilla flavor yang
membuncah di setiap gerakan bibirnya, membuat mereka beradu dalam suasana tanpa
kata-kata.
((Bersambung...))

0 komentar:
Post a Comment