Lutfi
duduk di sofa sambil memerhatikan luka di perutnya yang mulai membaik. Ia
menoleh ke arah Icha yang sedang mengupas apel di sisinya. “Yeriko ke mana ya?
Kenapa belum balik juga ke sini?”
“Mungkin,
masih jalan-jalan sama Yuna.”
“Mereka
nggak mungkin langsung pulang ‘kan?” tanya Lutfi. Ia bangkit sambil celingukan
mencari ponselnya.
“Cari
apa?”
“Cari
hp.”
“Ditaruh
di mana?” tanya Icha.
“Lupa.”
Icha
langsung membantu Lutfi mencari ponselnya.
“Hp
kamu mana?” tanya Lutfi.
Icha
langsung menyodorkan ponsel miliknya ke tangan Lutfi.
Lutfi
tersenyum. Ia menatap layar ponsel Icha sejenak. Kemudian mencari kontak milik
Yuna dan meneleponnya.
“Halo
...! Ada apa, Cha?” tanya Yuna begitu panggilan teleponnya tersambung.
“Ini
aku,” jawab Lutfi.
“Lutfi?
Kalian kenapa? Nggak papa ‘kan?” tanya Yuna panik.
“Nggak
papa. Kalian di mana?” tanya Lutfi.
“Aku
di bawah. Kenapa?”
“Belum
pulang, kan?” tanya Lutfi balik.
“Belum.
Baru rencana mau pulang.”
“Ke
sini bentar!” pinta Lutfi.
“Oke.”
Yuna langsung mematikan panggilan teleponnya.
Beberapa
menit kemudian, Yuna dan Yeriko sudah kembali ke ruang rawat Lutfi.
“Ada
apa, Lut?” tanya Yeriko begitu ia sudah duduk di hadapan Lutfi.
“Yer,
DNA aku sama Icha nggak cocok. Ada yang masih mengganjal di benakku.”
“Apa
itu?” tanya Yuna.
“Mamanya
Icha bersikeras kalau Icha adalah anak dari papaku. Bahkan, keluargaku juga
mengakui itu. Kalau Icha bukan anak papaku, dia anak siapa?” tanya Lutfi.
Icha
terdiam mendengar pertanyaan Lutfi.
“Mungkin,
Icha memang anak papanya yang sekarang,” jawab Yuna.
Lutfi
mengangguk-anggukkan kepala. “Masuk akal. Tapi, aku ngerasa aneh aja sama
perlakuan mamanya Icha. Kenapa dia nggak seperti seorang ibu yang menyayangi
anaknya?”
“Lut,
mamaku sebenarnya sayang sama aku, kok. Dia emang sedikit kasar dan keras
kepala. Tapi, dia selalu baik,” tutur Icha.
“Ck,
kamu ini ... mama kamu udah tega nusuk aku dan membohongi semua orang!” sahut
Lutfi kesal.
Icha
terdiam. Ia juga merasa sangat kecewa karena mamanya juga membohongi dirinya.
Bahkan, membuat pria yang ia cintai begitu menderita karenanya.
“Lut,
lebih baik kamu minta penjelasan sama nenek kamu. Dia pasti tahu soal ini
semua. Kita nggak bisa menerka-nerka begitu aja. Apalagi, mamanya Icha sekarang
dirawat di rumah sakit jiwa karena kondisi psikologinya yang tidak stabil. Ada
banyak kemungkinan yang terjadi. Kamu harus buat nenek kamu menjelaskan semua
ini.”
Lutfi
mengangguk-anggukkan kepala. “Aku harus tahu dengan jelas. Apa yang sebenarnya
terjadi di masa lalu. Aku pikir, papaku sudah mengkhianati mama selama ini. Aku
...” Lutfi kesulitan mengungkapkan perasaannya saat ini.
“Lut,
cuma nenek kamu dan mamanya Icha yang bisa menjelaskan apa yang telah terjadi
di masa lalu,” tutur Yeriko.
“Aku
ngerti, Yer. Aku bakal selesaikan masalah ini. Setidaknya, nggak ada lagi yang
mengganggu hubungan aku sama Icha.”
Yeriko
mengangguk. “Aku bakal bantu kamu.”
Lutfi
mengangguk. “Thanks!”
“Ini
udah malam. Aku sama Yuna pulang dulu!” pamit Yeriko sambil bangkit dari sofa.
Lutfi
menganggukkan kepala.
“Aku
juga harus pulang,” tutur Icha sambil menyandarkan tali tas ke bahunya.
“Kamu
pulang juga?” tanya Lutfi.
Icha
menganggukkan kepala. “Kamu istirahat ya! Besok pagi, aku ke sini lagi.”
Lutfi
menganggukkan kepala.
Icha
tersenyum. Ia dan Yuna bergegas melangkahkan kakinya keluar dari kamar Lutfi.
“Cha,
sekarang tinggal di mana?” tanya Yuna.
“Nggak
jauh dari sini, kok.”
“Kami
antar kamu, gimana?”
“Nggak
usah repot-repot, Yun!” pinta Icha. “Aku bisa naik taksi, kok.”
“Cuma
ngantar kamu doang, nggak ada repotnya. Iya kan?” tanya Yuna sambil menatap
wajah Yeriko.
Yeriko
tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Kamu ikut sama kami aja! Ini sudah
malam, sudah susah nyari taksi.”
Icha
berpikir sejenak.
“Ayolah
...!”
“Tapi
...”
“Nggak
usah pake tapi!” pinta Yuna sambil memeluk lengan Icha. Ia mengajak Icha
ikut serta di dalam mobilnya sambil berbincang tentang banyak hal.
Lima
belas menit kemudian, Yeriko menghentikan mobilnya tepat di tepi jalan yang
ditunjukkan oleh Icha.
“Kamu
tinggal di mana, Cha?” tanya Yuna sambil mengedarkan pandangannya.
“Masih
masuk ke gang. Mobilnya nggak bisa masuk. Aku jalan kaki aja,” jawab Icha
sambil membuka pintu mobil dan keluar.
“Hati-hati
ya, Cha!” seru Yuna sambil membuka kaca mobil dan menatap Icha yang sudah
berdiri di samping mobilnya.
Icha
menganggukkan kepala. “Kalian juga hati-hati ya! Makasih, udah diantar sampai
sini.”
Yuna
menganggukkan kepala. Ia tersenyum sambil melambaikan tangannya. Kemudian, ia
menutup jendela kaca mobil saat Yeriko sudah menjalankan mobilnya perlahan.
...
Keesokan
harinya ...
Riyan
melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit setiap paginya. Sejak Ibu
Ratna dirawat di Menur. Yeriko memintanya untuk terus mengawasi keberadaan
wanita tersebut.
Riyan
dikejutkan oleh beberapa orang perawat yang mendorong brankar dengan
terburu-buru. Ia melihat wanita setengah baya yang berada di atas brankar
tersebut dan langsung mengenalinya.
“Suster,
Bu Ratna kenapa?” tanya Riyan sambil berlari mengikuti perawat yang biasa
menjaga Ibu Ratna.
“Mas
Riyan? Dia mencoba bunuh diri lagi hari ini,” jawab perawat tersebut. “Dia
memotong urat nadinya sendiri. Saat saya masuk ke kamarnya, beliau sudah
pingsan!” lanjutnya panik. Ia terus mengikuti beberapa perawat yang mendorong
brankar tersebut.
“Gimana
bisa? Dia dapet pisau dari mana? Bukannya saya sudah peringatkan untuk
menjauhkan benda tajam dari jangkauan Ibu Ratna? Kamu gimana sih!?” seru Riyan
sambil mengejar brankar yang membawa Ibu Ratna.
“Ma
... maaf, Mas. Saya nggak tahu beliau dapat benda tajam itu dari mana,” jawab
perawat tersebut.
“Bawa
ke Siloam!” perintah Riyan.
Perawat
itu menganggukkan kepala. Ia bergegas mengejar brankar yang membawa Ibu Ratna.
Riyan
bergegas merogoh ponsel di sakunya. Ia langsung menekan nomor Yeriko.
“Halo
...!” sapa Yeriko dari ujung telepon.
“Pak
Bos, Bu Ratna mencoba bunuh diri. Sekarang, lagi dibawa ke rumah sakit.”
“Hah!?
Aku ke sana sekarang!” seru Yeriko.
“He-em.”
Riyan mengangguk. Ia segera mematikan panggilan teleponnya dan bergegas
mengikuti petugas medis tersebut untuk memberikan pertolongan pada Ibu Ratna.
“Kenapa
perawat di sini bisa seceroboh ini?” gumam Riyan. Ia mengembalikan ponsel ke
sakunya sambil bergegas keluar menuju parkiran. Ia segera melajukan mobilnya
menuju rumah sakit yang akan menangani Ibu Ratna.
Riyan
menyambungkan ponselnya ke mobil. Ia langsung menelepon Lutfi.
“Halo
...! Kenapa, Yan?”
“Mbak
Icha ada di situ?” tanya Riyan.
“Belum
datang. Kenapa?” tanya Lutfi balik.
“Saya
bisa minta kirimin nomer hp-nya?”
“Bisa.
Ada apa, Yan?” tanya Lutfi lagi.
“Mmh
...” Riyan ragu-ragu memberitahu keadaan Ibu Ratna kepada Lutfi. Sebab, Lutfi
masih menjalani perawatan di rumah sakit.
“Heh,
kenapa diam?” tanya Lutfi.
“Eh!?
Anu, Mas.”
“Anu
apa?” tanya Lutfi tak sabar.
“Mamanya
Mbak Icha ...”
“Kenapa
sama dia? Bikin ulah lagi?” tanya Lutfi.
“Iya.
Tapi, kali ini bukan mengamuk di rumah sakit.”
“Terus?”
“Ibu
Ratna mencoba untuk bunuh diri lagi. Sekarang, beliau sedang di perjalanan ke
rumah sakit.”
“Apa!?
Gimana keadaannya?”
“Belum
tahu, Mas. Nanti, saya kabari lagi!”
“Oke.
Biar aku aja yang telepon Icha.”
“Oke.”
Riyan langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia bergegas melajukan mobilnya
menuju rumah sakit. Ia tak lupa memberi kabar keadaan Ibu Ratna pada Satria dan
Chandra.
Setelah
sampai di rumah sakit. Riyan terus mondar-mandir, gelisah menunggu Yeriko
datang. Ia masih terus menerka-nerka tentang apa yang akan dilakukan Yeriko
saat mengetahui kalau tawanan mereka justru memilih mengakhiri hidupnya
daripada memberikan keterangan tentang apa yang telah terjadi di masa lalu.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca sampai di sini ... Dukung terus biar aku bikin cerita yang
lebih menarik lagi. Kira-kira, apa yang sebenarnya terjadi sama mamanya Icha
ya? Makin penasaran? Ikuti terus ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment