Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 390 : Percobaan Bunuh Diri

 


Lutfi duduk di sofa sambil memerhatikan luka di perutnya yang mulai membaik. Ia menoleh ke arah Icha yang sedang mengupas apel di sisinya. “Yeriko ke mana ya? Kenapa belum balik juga ke sini?”

 

“Mungkin, masih jalan-jalan sama Yuna.”

 

“Mereka nggak mungkin langsung pulang ‘kan?” tanya Lutfi. Ia bangkit sambil celingukan mencari ponselnya.

 

“Cari apa?”

 

“Cari hp.”

 

“Ditaruh di mana?” tanya Icha.

 

“Lupa.”

 

Icha langsung membantu Lutfi mencari ponselnya.

 

“Hp kamu mana?” tanya Lutfi.

 

Icha langsung menyodorkan ponsel miliknya ke tangan Lutfi.

 

Lutfi tersenyum. Ia menatap layar ponsel Icha sejenak. Kemudian mencari kontak milik Yuna dan meneleponnya.

 

“Halo ...! Ada apa, Cha?” tanya Yuna begitu panggilan teleponnya tersambung.

 

“Ini aku,” jawab Lutfi.

 

“Lutfi? Kalian kenapa? Nggak papa ‘kan?” tanya Yuna panik.

 

“Nggak papa. Kalian di mana?” tanya Lutfi.

 

“Aku di bawah. Kenapa?”

 

“Belum pulang, kan?” tanya Lutfi balik.

 

“Belum. Baru rencana mau pulang.”

 

“Ke sini bentar!” pinta Lutfi.

 

“Oke.” Yuna langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna dan Yeriko sudah kembali ke ruang rawat Lutfi.

 

“Ada apa, Lut?” tanya Yeriko begitu ia sudah duduk di hadapan Lutfi.

 

“Yer, DNA aku sama Icha nggak cocok. Ada yang masih mengganjal di benakku.”

 

“Apa itu?” tanya Yuna.

 

“Mamanya Icha bersikeras kalau Icha adalah anak dari papaku. Bahkan, keluargaku juga mengakui itu. Kalau Icha bukan anak papaku, dia anak siapa?” tanya Lutfi.

 

Icha terdiam mendengar pertanyaan Lutfi.

 

“Mungkin, Icha memang anak papanya yang sekarang,” jawab Yuna.

 

Lutfi mengangguk-anggukkan kepala. “Masuk akal. Tapi, aku ngerasa aneh aja sama perlakuan mamanya Icha. Kenapa dia nggak seperti seorang ibu yang menyayangi anaknya?”

 

“Lut, mamaku sebenarnya sayang sama aku, kok. Dia emang sedikit kasar dan keras kepala. Tapi, dia selalu baik,” tutur Icha.

 

“Ck, kamu ini ... mama kamu udah tega nusuk aku dan membohongi semua orang!” sahut Lutfi kesal.

 

Icha terdiam. Ia juga merasa sangat kecewa karena mamanya juga membohongi dirinya. Bahkan, membuat pria yang ia cintai begitu menderita karenanya.

 

“Lut, lebih baik kamu minta penjelasan sama nenek kamu. Dia pasti tahu soal ini semua. Kita nggak bisa menerka-nerka begitu aja. Apalagi, mamanya Icha sekarang dirawat di rumah sakit jiwa karena kondisi psikologinya yang tidak stabil. Ada banyak kemungkinan yang terjadi. Kamu harus buat nenek kamu menjelaskan semua ini.”

 

Lutfi mengangguk-anggukkan kepala. “Aku harus tahu dengan jelas. Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Aku pikir, papaku sudah mengkhianati mama selama ini. Aku ...” Lutfi kesulitan mengungkapkan perasaannya saat ini.

 

“Lut, cuma nenek kamu dan mamanya Icha yang bisa menjelaskan apa yang telah terjadi di masa lalu,” tutur Yeriko.

 

“Aku ngerti, Yer. Aku bakal selesaikan masalah ini. Setidaknya, nggak ada lagi yang mengganggu hubungan aku sama Icha.”

 

Yeriko mengangguk. “Aku bakal bantu kamu.”

 

Lutfi mengangguk. “Thanks!”

 

“Ini udah malam. Aku sama Yuna pulang dulu!” pamit Yeriko sambil bangkit dari sofa.

 

Lutfi menganggukkan kepala.

 

“Aku juga harus pulang,” tutur Icha sambil menyandarkan tali tas ke bahunya.

 

“Kamu pulang juga?” tanya Lutfi.

 

Icha menganggukkan kepala. “Kamu istirahat ya! Besok pagi, aku ke sini lagi.”

 

Lutfi menganggukkan kepala.

 

Icha tersenyum. Ia dan Yuna bergegas melangkahkan kakinya keluar dari kamar Lutfi.

 

“Cha, sekarang tinggal di mana?” tanya Yuna.

 

“Nggak jauh dari sini, kok.”

 

“Kami antar kamu, gimana?”

 

“Nggak usah repot-repot, Yun!” pinta Icha. “Aku bisa naik taksi, kok.”

 

“Cuma ngantar kamu doang, nggak ada repotnya. Iya kan?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Kamu ikut sama kami aja! Ini sudah malam, sudah susah nyari taksi.”

 

Icha berpikir sejenak.

 

“Ayolah ...!”

 

“Tapi ...”

 

“Nggak usah pake tapi!” pinta Yuna sambil  memeluk lengan Icha. Ia mengajak Icha ikut serta di dalam mobilnya sambil berbincang tentang banyak hal.

 

Lima belas menit kemudian, Yeriko menghentikan mobilnya tepat di tepi jalan yang ditunjukkan oleh Icha.

 

“Kamu tinggal di mana, Cha?” tanya Yuna sambil mengedarkan pandangannya.

 

“Masih masuk ke gang. Mobilnya nggak bisa masuk. Aku jalan kaki aja,” jawab Icha sambil membuka pintu mobil dan keluar.

 

“Hati-hati ya, Cha!” seru Yuna sambil membuka kaca mobil dan menatap Icha yang sudah berdiri di samping mobilnya.

 

Icha menganggukkan kepala. “Kalian juga hati-hati ya! Makasih, udah diantar sampai sini.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia tersenyum sambil melambaikan tangannya. Kemudian, ia menutup jendela kaca mobil saat Yeriko sudah menjalankan mobilnya perlahan.

 

 

 

...

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

Riyan melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit setiap paginya. Sejak Ibu Ratna dirawat di Menur. Yeriko memintanya untuk terus mengawasi keberadaan wanita tersebut.

 

Riyan dikejutkan oleh beberapa orang perawat yang mendorong brankar dengan terburu-buru. Ia melihat wanita setengah baya yang berada di atas brankar tersebut dan langsung mengenalinya.

 

“Suster, Bu Ratna kenapa?” tanya Riyan sambil berlari mengikuti perawat yang biasa menjaga Ibu Ratna.

 

“Mas Riyan? Dia mencoba bunuh diri lagi hari ini,” jawab perawat tersebut. “Dia memotong urat nadinya sendiri. Saat saya masuk ke kamarnya, beliau sudah pingsan!” lanjutnya panik. Ia terus mengikuti beberapa perawat yang mendorong brankar tersebut.

 

“Gimana bisa? Dia dapet pisau dari mana? Bukannya saya sudah peringatkan untuk menjauhkan benda tajam dari jangkauan Ibu Ratna? Kamu gimana sih!?” seru Riyan sambil mengejar brankar yang membawa Ibu Ratna.

 

“Ma ... maaf, Mas. Saya nggak tahu beliau dapat benda tajam itu dari mana,” jawab perawat tersebut.

 

“Bawa ke Siloam!” perintah Riyan.

 

Perawat itu menganggukkan kepala. Ia bergegas mengejar brankar yang membawa Ibu Ratna.

 

Riyan bergegas merogoh ponsel di sakunya. Ia langsung menekan nomor Yeriko.

 

“Halo ...!” sapa Yeriko dari ujung telepon.

 

“Pak Bos, Bu Ratna mencoba bunuh diri. Sekarang, lagi dibawa ke rumah sakit.”

 

“Hah!? Aku ke sana sekarang!” seru Yeriko.

 

“He-em.” Riyan mengangguk. Ia segera mematikan panggilan teleponnya dan bergegas mengikuti petugas medis tersebut untuk memberikan pertolongan pada Ibu Ratna.

 

“Kenapa perawat di sini bisa seceroboh ini?” gumam Riyan. Ia mengembalikan ponsel ke sakunya sambil bergegas keluar menuju parkiran. Ia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang akan menangani Ibu Ratna.

 

Riyan menyambungkan ponselnya ke mobil. Ia langsung menelepon Lutfi.

 

“Halo ...! Kenapa, Yan?”

 

“Mbak Icha ada di situ?” tanya Riyan.

 

“Belum datang. Kenapa?” tanya Lutfi balik.

 

“Saya bisa minta kirimin nomer hp-nya?”

 

“Bisa. Ada apa, Yan?” tanya Lutfi lagi.

 

“Mmh ...” Riyan ragu-ragu memberitahu keadaan Ibu Ratna kepada Lutfi. Sebab, Lutfi masih menjalani perawatan di rumah sakit.

 

“Heh, kenapa diam?” tanya Lutfi.

 

“Eh!? Anu, Mas.”

 

“Anu apa?” tanya Lutfi tak sabar.

 

“Mamanya Mbak Icha ...”

 

“Kenapa sama dia? Bikin ulah lagi?” tanya Lutfi.

 

“Iya. Tapi, kali ini bukan mengamuk di rumah sakit.”

 

“Terus?”

 

“Ibu Ratna mencoba untuk bunuh diri lagi. Sekarang, beliau sedang di perjalanan ke rumah sakit.”

 

“Apa!? Gimana keadaannya?”

 

“Belum tahu, Mas. Nanti, saya kabari lagi!”

 

“Oke. Biar aku aja yang telepon Icha.”

 

“Oke.”  Riyan langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ia tak lupa memberi kabar keadaan Ibu Ratna pada Satria dan Chandra.

 

Setelah sampai di rumah sakit. Riyan terus mondar-mandir, gelisah menunggu Yeriko datang. Ia masih terus menerka-nerka tentang apa yang akan dilakukan Yeriko saat mengetahui kalau tawanan mereka justru memilih mengakhiri hidupnya daripada memberikan keterangan tentang apa yang telah terjadi di masa lalu.

 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini ... Dukung terus biar aku bikin cerita yang lebih menarik lagi. Kira-kira, apa yang sebenarnya terjadi sama mamanya Icha ya? Makin penasaran? Ikuti terus ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas