Monday, June 8, 2026

Perfect Hero Bab 542 : Diusir

 


Melan menyembunyikan senyuman dalam hati saat melihat Tarudi bergeming selama beberapa saat. Ia ingin melihat bagaimana Tarudi mempertaruhkan perasaan terhadap dirinya.

 

“Pa ... demi Bellina,  apa kita tidak bisa berbaikan dan kembali seperti dulu lagi?” tanya Melan sambil menatap wajah Tarudi penuh harap.

 

Tarudi tersenyum sambil menatap wajah Melan yang masih berlutut di bawahnya. “Aku nggak akan merubah keputusanku!” tegasnya sambil menyodorkan pena ke hadapan wajah Melan.

 

“Pa, kita sudah hidup bersama selama dua puluh lima tahun. Apa perasaan papa ke mama hanya sebatas ini?” tanya Melan.

 

Tarudi tersenyum sinis. “Apa kamu pikir, selama bertahun-tahun ini ... aku benar-benar mencintai kamu? Aku memperlakukan kamu dengan sangat baik karena aku nggak pernah cinta sama aku. Aku hanya ingin menebus rasa bersalahku karena aku lebih mencintai wanita lain daripada istriku sendiri.”

 

Melan melebarkan kelopak matanya. Ia tak menyangka kalau suaminya justru memikirkan wanita lain selama usia pernikahan mereka. Perasaannya sangat kesal, ia menatap tajam ke arah Tarudi dan bangkit dari lantai.

 

Tarudi mengangkat kedua alisnya. “Aku senang bisa melepaskan kamu dengan mudah karena perselingkuhan kamu ini. Jika tidak, mungkin aku akan menghabiskan seumur hidupku bersama wanita yang tidak pernah aku cintai.”

 

Melan menatap tajam ke arah Tarudi sambil berusaha mengendalikan pundaknya yang naik turun seiring dengan napasnya yang membara. “Wanita itu si Arum?”

 

“Aku rasa, kamu sudah mengetahui dengan jelas dari awal,” jawab Tarudi.

 

“Kamu benci sama aku karena aku memilih hidup dengan pria yang aku cintai. Kamu nggak lihat diri kamu sendiri? Kamu juga sibuk memikirkan wanita lain walau sudah menikah,” tutur Melan kesal. Ia tidak peduli lagi dengan semua yang akan terjadi. Sebab, ia tahu kalau dirinya tidak akan bisa mengembalikan keadaan seperti dulu lagi.

 

Tarudi hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Melan. “Aku memang selalu memikirkan wanita lain yang aku cintai. Tapi, aku tidak pernah berselingkuh. Aku justru menghormati dan menghargai kamu sebagai istriku. Tapi kamu ... tidak bisa menghargai keberadaan suami kamu sedikitpun. Malah berkeliaran di luar sana dan merusak nama baik suami kamu sendiri!”

 

“Aku juga nggak akan kayak gini kalau kamu nggak mikirin Arum terus!” sahut Melan tak mau kalah.

 

“Arum sudah nggak ada. Nggak bisa kamu jadikan alasan untuk membela diri kamu sendiri.”

 

Melan tersenyum sinis. “Arum emang udah nggak ada. Tapi ... gimana kalau semua orang tahu ... kamu mencintai istri kakak kamu sendiri, hah!?”

 

“Aku mencintai dia ... tapi tidak melakukan hubungan menjijikkan seperti kamu dan Lonan!”

 

“Kamu pikir, aku nggak tahu bagaimana kamu berebut wanita dengan kakak kandung kamu sendiri?” tanya Melan sambil tertawa kecil.

 

“Arum itu wanita yang baik dan bermartabat. Dia pantas dicintai oleh banyak orang seumur hidupnya. Aku nggak pernah menyesal mencintai dia walau aku nggak bisa memiliki. Aku justru menyesal memiliki wanita yang tidak pernah aku cintai sepanjang hidupku.”

 

“Aku sudah berusaha menerima dan menyayangi kamu sebagai istri. Tapi tidak melebihi perasaanku dengan almarhumah Arum. Kamu tahu ... wanita dikagumi dan dicintai oleh pria seumur hidup karena sifat dan perilakunya. Kalau kamu masih terus seperti ini, kamu akan menjadi wanita yang dibenci seumur hidup.”

 

Melan semakin kesal karena Tarudi membandingkan dirinya dengan Arum. Wanita yang bahkan sudah tidak akan pernah hadir lagi dalam kehidupan mereka.

 

Tarudi langsung menarik tangan Melan dan meletakkan pena ke telapak tangannya. “Tanda tangani sekarang juga dan bawa barang-barang kamu pergi dari rumah ini!” sentak Tarudi. Ia sudah enggan berdebat dengan Melan dan ingin menyelesaikan semua dengan cepat.

 

Melan menatap kesal ke arah Tarudi yang memperlakukannya sangat kasar. Ia tidak punya pilihan lain lagi, tak ada ruang sedikit pun untuk membalikkan keadaan. Ia menatap dokumen yang ada di atas meja dan langsung menandatanganinya.

 

Tarudi langsung tersenyum begitu melihat Melan sudah menandatangani surat perjanjian perceraian. Ia meraih dokumen dari atas meja dan memeluknya. “Bawa barang-barangmu keluar dari rumah ini!” pinta Tarudi.

 

Melan mengangguk. Ia berniat untuk mengambil barang-barang berharga miliknya. Semua perhiasan yang ia miliki, masih ada di dalam kamar. Ia bisa menggunakannya untuk bertahan hidup di luar sana.

 

“Mau ke mana?” tanya Tarudi saat melihat Melan menuju kamar tidurnya.

 

“Mau beresin barang-barangku,” jawab Melan.

 

“Sudah aku bereskan,” tutur Tarudi sambil menunjuk dua koper yang ada di sudut ruangan. “Kamu nggak perlu repot-repot membereskannya lagi! Bawa koper kamu keluar dari rumah ini!”

 

“Tapi ...” Melan langsung menghampiri koper yang ada di sudut ruangan. Ia membuka koper itu dan memeriksa barang-barangnya. Ia langsung menutup koper itu kembali begitu melihat semua pakaian yang ada di dalamnya.

 

“Masih ada barang lain yang harus aku ambil,” tutur Melan sambil melangkah menuju kamarnya.

 

“Maaf, Nyonya ...!” Dua orang pelayan menghadang langkah Melan untuk masuk ke dalam kamar.

 

“Kalian ...!?” Melan mendelik ke arah pelayan tersebut.

 

“Cuma dua koper itu yang boleh kamu bawa pergi dari sini. Aku sudah memeriksa semuanya. Saat kamu masuk ke rumah ini ... kamu hanya membawa dua koper pakaianmu. Itu juga yang harus kamu bawa saat keluar dari rumah ini,” jelas Tarudi sambil tersenyum menatap Melan.

 

“Pa ... Papa tega sama mama? Papa mau biarin mama hidup terlunta-lunta di jalanan?” tanya Melan.

 

“Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kamu bukan lagi tanggung jawabku. Aku akan mengirim tunjangan perceraian ke rekening kamu. Manfaatka itu untuk membuat hidupmu bahagia di luar sana!”

 

Melan mendengus kesal ke arah Tarudi. Ia tidak menyangka kalau ia akan kehilangan semuanya. Tarudi sudah mengetahui semuanya dan tidak membiarkannya membawa perhiasan berharga yang pernah diberikan Tarudi untuknya.

 

“Bawa wanita ini keluar dari rumah saya!” perintah Tarudi pada pelayan di rumahnya. Ia bergegas melangkah pergi dan masuk ke dalam kamarnya.

 

Pelayan yang ada di rumah itu langsung menyeret Melan keluar dari rumah tersebut.

 

“Kalian berani-beraninya sama aku. Kalian nggak ingat, aku ini siapa?” seru Melan saat pelayan di rumah itu menyeretnya keluar.

 

“Maaf, Anda bukan nyonya kami lagi!” sahut pelayan itu sambil tersenyum. Mereka melempar koper Melan keluar dari pintu dan menutup kembali pintu rumah itu rapat-rapat.

 

Melan menatap pintu utama rumah mewah bernilai miliaran tersebut. Ia menggigit bibirnya karena tak bisa lagi masuk ke dalam rumah mewah yang menjadi kebanggaannya sejak dua puluh lima tahun lalu.

 

Melan melangkahkan kakinya perlahan sambil menarik dua koper yang ada di sisinya. Air matanya mengalir deras saat ia harus meninggalkan rumah penuh kenangan itu. Di setiap tetes air matanya yang jatuh, ada bayangan Bellina kecil yang selalu tertawa bahagia saat bermain dengannya.

 

Melan berusaha menghapus air matanya. Ia tidak ingin menunjukkan kehancurannya pada semua orang. Ia merasa kalau ia bisa menghadapinya dengan mudah meski tak ada lagi dukungan besar dari suami yang selama ini selalu ia manfaatkan kebaikannya.

 

((Bersambung ...))

 

Penderitaan Melan belum berakhir sampai di sini ...

Dukung terus biar aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

  

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 541 : Berita Memalukan

 



Keesokan harinya ...

 

Tarudi menatap layar ponsel saat asistennya mengirim banyak tautan berita kepadanya.

 

“Perempuan nggak tahu diri!” umpat Tarudi sambil menggenggam kuat ponselnya sendiri. Ia sangat kesal dengan tingkah Melan yang semakin menjadi-jadi.

 

Semua media online dan media cetak memuat kabar berita tentang hubungan Melan dan Lonan. Terpampang jelas gambar vulgar Melan dan Lonan di sana. Membuat semua orang sibuk membicarakan perselingkuhan keluarga yang terjadi sejak dua puluh lima tahun silam.

 

Tarudi menarik napas dalam-dalam. Ia terduduk lemas di sofa sambil memijat keningnya yang berdenyut.

 

“Permisi, Pak ...!” Seorang pelayan menghampiri Tarudi sembari membawakan secangkir kopi panas. “Minumnya, Pak!”

 

“Taruh aja, Mbak!” perintah Tarudi sambil menunjuk meja yang ada di depannya.

 

Pelayan itu mengangguk. Ia segera meletakkan cangkir kopi ke atas meja dan bergegas pergi.

 

“Mbak ...!” panggil Tarudi sebelum pelayan itu benar-benar pergi jauh.

 

“Iya, Pak.”

 

“Bantu saya mengemas barang-barang istri saya di kamar!” perintah Tarudi.

 

Pelayan itu mengangguk. Ia segera mengikuti Tarudi untuk membantu mengemas semua pakaian Melan.

 

Tarudi tak ingin berkompromi lagi. Ia tidak akan membiarkan Melan masuk kembali ke dalam rumah itu setelah melakukan banyak hal memalukan di luar sana.

 

Tarudi mengeluarkan semua pakaian Melan dari dalam lemari dan menyuruh pelayan di rumahnya untuk membereskan semuanya. Ia yakin, Melan akan kembali untuk mengambil barang-barang berharga miliknya sebelum benar-benar pergi bersama pria selingkuhannya.

 

 

 

...

 

 

 

Bellina menatap layar ponsel dengan tangan bergetar.

 

“Mama ...!?” serunya dalam hati. Ia sangat membenci kelakuan mamanya sendiri. Terlebih, semua media sudah memuat foto-foto Melan dan selingkuhannya itu.

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. Ia bangkit dari meja kerja dan melangkah ke arah jendela.

 

“Kenapa keluargaku jadi kacau gini?” gumamnya sambil menitikkan air mata.

 

Kelakuan mamanya, bukan hanya mencemarkan nama baik keluarganya, tapi juga keluarga Wijaya. Ia mulai khawatir jika kasus yang terjadi akan berpengaruh besar terhadap kredibilitas perusahaan.

 

Nasib Bellina, kini berada di ujung tanduk. Mama mertuanya akan semakin mendesak Lian untuk menceraikan dirinya.

 

“Ma, kenapa mama harus seperti ini?” tanya Bellina sambil menatap langit yang luas. Ia tetap tidak bisa menerima penderitaannya begitu saja sementara Yuna selalu hidup dengan baik dan bahagia.

 

Bellina tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak bisa menyelamatkan posisi mamanya, terlebih posisinya sendiri saat ini sangat terancam.

 

“Papa? Gimana dengan dia sekarang?” batin Bellina saat ia teringat wajah papanya. Ia langsung membereskan meja kerja, menyambar tas tangan dan buru-buru keluar dari perusahaan.

 

“Semoga, papa nggak semakin terpukul dengan adanya berita ini,” tutur Bellina. Ia berpikir kalau Yuna sudah membocorkan semua masalah keluarganya hingga diketahui oleh banyak wartawan di luar sana, membuatnya semakin benci terhadap Yuna. Ia juga benci dengan kehadiran Lonan yang tiba-tiba dan merusak keluarganya dalam waktu sekejap.

 

 

 

 

 

...

 

 

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Melan melangkahkan kakinya beriringan dengan Lonan sambil melihat-lihat rumah yang cocok untuk mereka beli dan tinggali.

 

“Sayang, yang ini bagus juga,” tutur Lonan sambil menunjuk salah satu rumah yang ada di sana.

 

 “Berapa harganya yang ini, Pak?” tanya Melan.

 

“Kalau yang ini sembilan ratus juta. Lebih murah dari yang tadi ibu lihat karena ukurannya juga berbeda.” jawab pria yang mendampingi mereka.

 

Melan mengangguk-anggukkan kepala. “Kita lihat-lihat yang lain dulu ya, Pak!”

 

Pria itu menganggukkan kepala.

 

Lonan dan Melan kembali melihat-lihat rumah yang lain.

 

“Mas, aku nggak punya banyak uang akhir-akhir ini. Kita cari rumah yang murah-murah saja. Kita juga harus menyisakan uang untuk bertahan hidup ke depannya.”

 

Lonan mengangguk-anggukkan kepala. “Kalau kamu bercerai dengan Rudi, kamu akan mendapatkan banyak uang dari dia. Bisa kita gunakan untuk membeli rumah dan bersenang-senang.”

 

“Mmh ...” Melan berpikir sejenak. Kemudian, ia tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Bener juga.”

 

Lonan tersenyum sambil menatap wajah Melan. “Suami kamu itu banyak duitnya. Anak kamu juga seorang direktur di perusahaan suaminya. Kita nggak akan kekurangan uang.”

 

Melan mengangguk-anggukkan kepala. Ia tersenyum sambil melangkahkan kakinya.

 

Melan mulai tidak nyaman dengan orang-orang yang ia temui dan menatapnya dengan raut wajah yang aneh. Orang-orang itu menunjuk-nunjuk ke arahnya dan membuat Melan penasaran.

 

“Ada apa, Mbak?” tanya Melan sambil menghampiri salah seorang wanita yang juga menunjuk ke arahnya dan membandingkan dengan layar ponsel.

 

“Ibu ... yang ada di foto ini ya?” tanya wanita itu sambil menyodorkan layar ponsel dan memperlihatkan foto vulgar Melan dengan berbagai pose. Di sisinya juga terlihat jelas wajah Lonan. Headline dari media online tersebut tergambar jelas dan membuat jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat.

 

“Kurang ajar ...! Siapa yang sudah berani mengambil dan menyebarkan foto ini? Wartawan sialan!” maki Melan dalam hati. Ia bergegas melangkah pergi dari tempat itu.

 

“Mel ...! Mau ke mana?” tanya Lonan saat melihat Melan tiba-tiba pergi dari tempat tersebut.

 

“Aku ada urusan penting!” sahut Melan tanpa menoleh ke arah Lonan. Ia tak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya pada Lonan. Ia hanya terpikir dengan wajah Tarudi. Ia bergegas menghentikan taksi yang kebetulan melintas dan menuju ke rumah suaminya.

 

Melan menarik napas panjang begitu ia sampai di halaman rumahnya. Ia bergegas turun dari taksi dan masuk ke dalam rumah. Ia berharap kalau Tarudi tidak membaca berita yang tersebar hari ini dan bisa mengendalikan suaminya dengan baik.

 

Di ruang tamu, Tarudi duduk santai sambil menunggu kedatangan Melan. Begitu pintu rumah itu terbuka, ia langsung menatap Melan dengan tatapan dingin. Membuat Melan hampir tidak punya nyali untuk masuk ke dalam rumah itu lagi.

 

Selama beberapa menit, Melan hanya terpaku di tempatnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, banyak hal yang terjadi dan membuat Tarudi semakin membencinya.

 

“Masuk!” perintah tarudi sambil bangkit dari sofa.

 

Melan tersenyum sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut.

 

Tarudi membalas senyuman Melan meski hatinya begitu tersayat melihat kelakuan istrinya itu. Saat Melan sudah berdiri berhadapan dengannya, ia langsung menyodorkan pena ke hadapan Melan.

 

“Apa ini?” tanya Melan sambil menatap pena yang ada di tangan Tarudi.

 

Tarudi langsung menunjuk dokumen perceraian yang sudah ia siapkan di atas meja.

 

Melan terdiam saat melihat dokumen perceraian yang sudah ada di atas meja. Ia tak menyangka kalau Tarudi akan menceraikan dirinya secepat ini.

 

“Tanda tangani dokumen itu dan kamu bisa pergi menjalani kehidupan barumu dengan tenang!” perintah Tarudi.

 

“Pa, apa nggak bisa papa pikirin lagi?” tanya Melan.

 

“Aku sudah memikirkan semuanya.”

 

“Tapi ... kita sudah tua. Untuk apa kita bercerai, Pa?” tanya Melan. “Tolong, jangan ceraikan mama!”

 

Tarudi tersenyum sinis. “Kamu masih tanya, untuk apa kita bercerai? Kamu sadar kalau kita sudah tua ... kenapa kamu masih selingkuh sama laki-laki lain?”

 

“Aku nggak selingkuh. Aku sudah menjalin hubungan lebih dulu sama Lonan daripada sama kamu,” sahut Melan.

 

“Oh ... jadi, suami kamu ini yang jadi selingkuhan kamu, hah!?”

 

Melan terdiam. Ia rasa, alasannya kali ini semakin tidak masuk akal. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi agar bisa mempertahankan hubungannya dengan Tarudi. Ia tidak ingin kehilangan semuanya begitu saja.

 

Tarudi tertawa melihat wajah Melan. “Bodoh banget aku. Aku cuma jadi selingkuhan kamu selama bertahun-tahun ini. Kamu bahkan bisa menyembunyikan semuanya begitu sempurna. Kalau aku nggak punya uang, apa kamu mau hidup selama bertahun-tahun sama aku?”

 

Melan menggelengkan kepala. Ia berusaha untuk menarik simpati Tarudi kembali. “Pa, kita sudah hidup bersama selama dua puluh lima tahun. Apa nggak ada rasa sayang sedikit pun ke aku? Aku yang yang selalu melayani kamu setiap hari. Walau awalnya nggak cinta, tapi aku selalu bahagia menjadi istri kamu.”

 

“Aku juga cukup bahagia menjadi suami kamu. Aku melakukan banyak hal untuk kamu karena aku mengira kalau kamu sayang sama aku. Setelah aku tahu semuanya, aku nggak akan pernah melakukan apa pun untuk kamu lagi. Aku cuma mau, kamu segera pergi dari kehidupan kami!” tegas Tarudi.

 

Melan kebingungan. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk bisa mempertahankan rumah tangganya. Ia tidak ingin hidup miskin di luar sana. Ia sangat khawatir akan kehilangan semuanya begitu saja.

 

“Pa, mama mohon ... jangan ceraikan mama!” pinta Melan. “Mama janji akan berubah. Mama nggak akan menemui pria itu lagi untuk selamanya.”

 

“Sekalipun kamu berjanji akan berubah, tidak akan mengubah keputusanku!” tegas Tarudi.

 

Melan menatap wajah Tarudi dengan mata berkaca-kaca. Ia langsung menjatuhkan lututnya ke lantai sambil menatap pilu. “Pa, mama mohon ...! Jangan lakukan ini ke mama! Mama tidak ingin kita berpisah. Papa pikirin lagi, Pa! Demi Bellina ... jangan sampai kita berpisah!” pintanya sambil meratap pilu.

 

Tarudi tidak ingin menjadikan Bellina sebagai alasan untuk mempertahankan rumah tangga yang sudah hancur. Terlebih, kelakuan Melan benar-benar mengotori nama keluarga besarnya.

 

((Bersambung ...))

 

Penderitaan Melan belum berakhir sampai di sini ...

Dukung terus biar aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 540 : Tidurlah yang Nyenyak

 


Yuna menatap layar ponselnya yang berdering. Melihat nama ‘Oom Rudi’ yang tertera di layar, membuatnya enggan menjawab panggilan telepon.

 

“Huft, aku nggak boleh buruk sangka terus,” gumam Yuna sambil mengusap layar ponsel untuk menjawab panggilan telepon dari pamannya.

 

“Halo ...!” sapa Yuna.

 

“Halo, Yun! Apa kabar?”

 

“Baik, Oom. Oom sendiri ... apa kabar?”

 

“Baik. Hari ini, hasil tes DNA Bellina sudah keluar.”

 

“Hasilnya gimana?”

 

“Bellina bukan anak kandung pria itu.”

 

“Oh. Jadi, dia anak kandung Oom Rudi?”

 

“Iya, Yun.”

 

“Selamat ya, Om! Semoga, Bellina selalu sayang dan menemani Oom setiap hari.”

 

“Aamiin.”

 

“Tante Melan gimana?” tanya Yuna sambil memperhatikan mainan yang ada di tangannya.

 

“Huft, soal tante kamu ... Oom sudah memutuskan untuk berpisah. Bellina juga sudah dewasa. Oom rasa, tidak ada alasan untuk mempertahankan rumah tangga kami.”

 

Yuna tersenyum. Ia sangat bahagia karena Melan akhirnya bisa keluar dari rumah keluarga Linandar.

 

“Yuna, tolong maafkan semua kesalahan yang pernah Oom buat pada kamu. Maafkan perbuatan Melan dan Bellina di masa lalu. Oom harap, kejadian ini ... bisa membuat mereka berubah.”

 

Yuna tersenyum. “Iya, Oom. Yuna udah maafin mereka dari dulu. Oom Rudi jaga diri baik-baik ya!”

 

“Iya. Salam untuk ayah kamu ya!”

 

“He-em,” balas Yuna sambil mengangguk.

 

“Oom tutup teleponnya, selamat malam!”

 

“Malam ...!” balas Yuna. Ia langsung meletakkan ponselnya di atas meja. Tangannya kembali memainkan boneka yang ada di dalam kamar anaknya.

 

Yuna tersenyum sambil mengelus lembut perutnya. “Dedek, lihat! Bunda dan ayah kamu udah siapin banyak mainan di kamar kamu. Yang sehat ya, Dek! Kamu harus lahir normal! Keluarnya lewat pintu ya! Jangan lewat jendela!” pinta Yuna sambil tertawa kecil. Ia sudah melakukan banyak hal agar bisa menjalani persalinan normal.

 

“Kamu di sini?” tanya Yeriko sambil menyandarkan punggungnya pada daun pintu kamar anaknya.

 

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko dan tersenyum. “Sini ...!” ajaknya sambil melambaikan tangan.

 

Yeriko tersenyum dan bergegas duduk di sebelah Yuna.

 

“Aku udah siapin album untuk Yurika,” tutur Yuna sambil menunjukkan sebuah album pada Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap album tersebut. Di cover depan, ada potret Yuna dan Yeriko dalam bentuk tiga dimensi. Di atasnya tertulis ‘Y Family’ dengan huruf timbul.

 

“Gimana? Bagus, nggak?” tanya Yuna.

 

Yeriko tak menjawab. Ia membuka album tersebut dan melihat gambar pembuka album yang mengabadikan pernikahan mereka. Di lembar berikutnya, ada cerita serba-serbi kehamilan Yuna, hingga hasil USG yang sudah bisa memperlihatkan wajah bayi mereka.

 

Yeriko terus memperhatikan wajah puterinya dari hasil USG itu. Bibirnya tak berhenti tersenyum. “Dia ... pasti akan secantik ibunya.”

 

Yuna langsung menatap wajah Yeriko. “Kata orang, anak perempuan lebih bagus mirip ayahnya.”

 

Yeriko mengernyitkan dahi. “Kenapa begitu?”

 

Yuna mengedikkan bahu. “Nggak tahu. Cuma dikasih tahu orang, katanya bagus kalau begitu.”

 

“Kamu sering buat teori tanpa bukti. Aku nggak percaya!” sahut Yeriko.

 

“Idih ... kapan aku begitu!?” dengus Yuna. “Kita buktikan kalau Yuri udah lahir ya!”

 

“Oke.”

 

“Kalau dia seratus persen mirip kamu, aku dikasih apa?” tanya Yuna.

 

Yeriko memutar bola matanya. “Mmh ... apa ya?” tanyanya sambil menatap langit-langit kamar.

 

Yuna terus tersenyum sambil menunggu Yeriko memberikan jawaban yang membahagiakan dirinya.

 

Yeriko menatap lesu ke arah Yuna. “Aku nggak punya apa-apa. Nggak ada lagi yang bisa aku kasih ke kamu. Semua yang aku miliki, sudah jadi milikmu. Termasuk hatiku ...”

 

Pipi Yuna merona begitu mendengar ucapan Yeriko. “Jadi, nggak ada yang bisa dijadikan taruhan, dong?” tanyanya sambil menyisir rambut Yeriko menggunakan jari.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Lebih baik, kamu yang kasih aku hadiah!”

 

“Hadiah apa?” tanya Yuna.

 

“Kamu,” jawab Yeriko sambil menarik wajah Yuna dan menempelkan dahi mereka.

 

“Aku sudah jadi milikmu sejak kamu pungut aku dari tepi jalan,” tutur Yuna lirih.

 

Yeriko tersenyum. “Aku beruntung karena Tuhan menjatuhkan malaikatnya ke tepi jalan. Bukan ke tangan orang lain. Sehingga aku bisa memungut malaikat itu dan membawanya pulang untuk kumiliki selamanya.”

 

Yuna tersenyum bahagia. Ia melingkarkan kedua lengannya di leher Yeriko. Ia terus menatap mata suaminya tanpa berkedip. Ia tidak bisa berkata-kata setiap kali Yeriko menyerangnya dengan kalimat-kalimat cinta.

 

Yeriko tersenyum, ia mengulum bibir Yuna dengan lembut. Tangannya bergerak mengelus perut Yuna yang sudah membesar. Ia terus memperdalam ciumannya hingga membuat Yuna menginginkan kehangatan yang lebih dari sekedar ciuman.

 

 Yeriko menghentikan ciumannya saat ia merasakan gerakan di perut Yuna. Pandangannya beralih ke perut Yuna yang terus bergerak.

 

“Huft, dia mau ikutan dimanja juga?”

 

Yuna terkekeh sambil menatap wajah Yeriko. “Dia aktif banget kalau malam gini.”

 

“Kalau siang, dia tidur?”

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.

 

Yeriko tersenyum bahagia sambil menyingkap pakaian Yuna untuk melihat bayinya yang sedang bergerak-gerak di dalam perut Yuna.

 

“Kalau dia gerak ... nggak sakit?” tanya Yeriko sambil menempelkan telapak tangannya ke perut Yuna.

 

Yuna menggelengkan kepala sambil tersenyum.

 

“Serius?”

 

“Serius. Nggak percaya  banget sih!?”

 

Yeriko terkekeh. “Aku nggak tahu. Makanya, aku harus pastikan kalau emang nggak menyakitkan. Terus, rasanya gimana waktu dia gerak-gerak kayak gini?”

 

“Rasanya seperti orang lagi kedutan,” jawab Yuna sambil tersenyum.

 

Yeriko menghela napas lega.

 

“Kenapa?” tanya Yuna.

 

“Nggak papa. Seneng aja lihat kamu dan calon anak kita selalu sehat. Aku lega karena kamu nggak ngerasain sakit.”

 

Yuna tersenyum bahagia.

 

“Tidur, yuk!” ajak Yeriko.

 

“Gendong!” rengek Yuna.

 

“Kamu sekarang berat banget. Aku nggak kuat gendong,” sahut Yeriko sambil tertawa geli.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Oh ya, barusan Oom Rudi telepon  aku.”

 

“Terus?”

 

“Bellina bukan anak kandung Lonan.”

 

“Hmm ... jadi, dia asli sepupu kamu?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kamu berharapnya seperti apa?” tanya Yeriko.

 

“Aku berharap, Oom Rudi nggak menjalani hari-harinya sendirian. Karena dia pasti ceraikan Melan si Nenek Sihir itu.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Bagus. Aku juga nggak akan membuatnya berjalan dengan mudah.”

 

“Maksud kamu?” tanya Yuna sambil menaikkan kedua alisnya.

 

Yeriko hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna. Ia tidak mau mengatakan rencananya kali ini pada istrinya. “Tidur, yuk!” ajaknya sambil bangkit dari lantai. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Yuna bangun.

 

Yuna tersenyum. Ia menyambut uluran tangan suaminya. Mereka berdua segera beringsut ke kamar tidur yang bersebelahan dengan kamar anak mereka.

 

Yeriko tersenyum sambil merangkul tubuh Yuna hingga masuk ke dalam kamar mereka. Ia sengaja tidak memberitahukan Yuna tentang rencananya kali ini. Ia tidak akan melepaskan Melan dan Bellina dengan mudah. 

 

“Ay, kenapa dari tadi senyum-senyum terus?” tanya Yuna.

 

“Nggak papa. Seneng aja karena malam ini bisa tidur cepat,” jawab Yeriko sambil naik ke atas tempat tidur.

 

“Yakin, mau tidur cepat?” goda Yuna sambil menghampiri suaminya.

 

Yeriko mengangguk. Ia memeluk tubuh Yuna dari belakang. “Tidurlah! Banyak hal yang akan kita hadapi besok. Harus tidur nyenyak!” bisik Yeriko sambil memejamkan mata perlahan.

 

Yuna tersenyum. Ia bisa merasakan embusan napas Yeriko yang terasa hangat di telinganya. Ia tersenyum sambil meletakkan tangannya di atas punggung tangan Yeriko yang bertengger di perutnya. Perlahan, ia memejamkan mata. Ia berharap bisa menghadapi hari esok hingga mereka menua bersama.

 

((Bersambung ...))

Apa yang akan dibuat sama Mr. Ye besok ya?

Baca terus kelanjutan ceritanya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas