Yuna menatap layar ponselnya yang berdering. Melihat nama ‘Oom
Rudi’ yang tertera di layar, membuatnya enggan menjawab panggilan telepon.
“Huft, aku nggak boleh buruk sangka terus,” gumam Yuna sambil
mengusap layar ponsel untuk menjawab panggilan telepon dari pamannya.
“Halo ...!” sapa Yuna.
“Halo, Yun! Apa kabar?”
“Baik, Oom. Oom sendiri ... apa kabar?”
“Baik. Hari ini, hasil tes DNA Bellina sudah keluar.”
“Hasilnya gimana?”
“Bellina bukan anak kandung pria itu.”
“Oh. Jadi, dia anak kandung Oom Rudi?”
“Iya, Yun.”
“Selamat ya, Om! Semoga, Bellina selalu sayang dan menemani Oom
setiap hari.”
“Aamiin.”
“Tante Melan gimana?” tanya Yuna sambil memperhatikan mainan yang
ada di tangannya.
“Huft, soal tante kamu ... Oom sudah memutuskan untuk berpisah.
Bellina juga sudah dewasa. Oom rasa, tidak ada alasan untuk mempertahankan
rumah tangga kami.”
Yuna tersenyum. Ia sangat bahagia karena Melan akhirnya bisa
keluar dari rumah keluarga Linandar.
“Yuna, tolong maafkan semua kesalahan yang pernah Oom buat pada
kamu. Maafkan perbuatan Melan dan Bellina di masa lalu. Oom harap, kejadian ini
... bisa membuat mereka berubah.”
Yuna tersenyum. “Iya, Oom. Yuna udah maafin mereka dari dulu. Oom
Rudi jaga diri baik-baik ya!”
“Iya. Salam untuk ayah kamu ya!”
“He-em,” balas Yuna sambil mengangguk.
“Oom tutup teleponnya, selamat malam!”
“Malam ...!” balas Yuna. Ia langsung meletakkan ponselnya di atas
meja. Tangannya kembali memainkan boneka yang ada di dalam kamar anaknya.
Yuna tersenyum sambil mengelus lembut perutnya. “Dedek, lihat!
Bunda dan ayah kamu udah siapin banyak mainan di kamar kamu. Yang sehat ya,
Dek! Kamu harus lahir normal! Keluarnya lewat pintu ya! Jangan lewat jendela!”
pinta Yuna sambil tertawa kecil. Ia sudah melakukan banyak hal agar bisa
menjalani persalinan normal.
“Kamu di sini?” tanya Yeriko sambil menyandarkan punggungnya pada
daun pintu kamar anaknya.
Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko dan tersenyum. “Sini ...!”
ajaknya sambil melambaikan tangan.
Yeriko tersenyum dan bergegas duduk di sebelah Yuna.
“Aku udah siapin album untuk Yurika,” tutur Yuna sambil
menunjukkan sebuah album pada Yeriko.
Yeriko tersenyum sambil menatap album tersebut. Di cover depan,
ada potret Yuna dan Yeriko dalam bentuk tiga dimensi. Di atasnya tertulis ‘Y
Family’ dengan huruf timbul.
“Gimana? Bagus, nggak?” tanya Yuna.
Yeriko tak menjawab. Ia membuka album tersebut dan melihat gambar
pembuka album yang mengabadikan pernikahan mereka. Di lembar berikutnya, ada
cerita serba-serbi kehamilan Yuna, hingga hasil USG yang sudah bisa
memperlihatkan wajah bayi mereka.
Yeriko terus memperhatikan wajah puterinya dari hasil USG itu.
Bibirnya tak berhenti tersenyum. “Dia ... pasti akan secantik ibunya.”
Yuna langsung menatap wajah Yeriko. “Kata orang, anak perempuan
lebih bagus mirip ayahnya.”
Yeriko mengernyitkan dahi. “Kenapa begitu?”
Yuna mengedikkan bahu. “Nggak tahu. Cuma dikasih tahu orang,
katanya bagus kalau begitu.”
“Kamu sering buat teori tanpa bukti. Aku nggak percaya!” sahut
Yeriko.
“Idih ... kapan aku begitu!?” dengus Yuna. “Kita buktikan kalau
Yuri udah lahir ya!”
“Oke.”
“Kalau dia seratus persen mirip kamu, aku dikasih apa?” tanya
Yuna.
Yeriko memutar bola matanya. “Mmh ... apa ya?” tanyanya sambil
menatap langit-langit kamar.
Yuna terus tersenyum sambil menunggu Yeriko memberikan jawaban
yang membahagiakan dirinya.
Yeriko menatap lesu ke arah Yuna. “Aku nggak punya apa-apa. Nggak
ada lagi yang bisa aku kasih ke kamu. Semua yang aku miliki, sudah jadi
milikmu. Termasuk hatiku ...”
Pipi Yuna merona begitu mendengar ucapan Yeriko. “Jadi, nggak ada
yang bisa dijadikan taruhan, dong?” tanyanya sambil menyisir rambut Yeriko
menggunakan jari.
Yeriko menggelengkan kepala. “Lebih baik, kamu yang kasih aku
hadiah!”
“Hadiah apa?” tanya Yuna.
“Kamu,” jawab Yeriko sambil menarik wajah Yuna dan menempelkan
dahi mereka.
“Aku sudah jadi milikmu sejak kamu pungut aku dari tepi jalan,”
tutur Yuna lirih.
Yeriko tersenyum. “Aku beruntung karena Tuhan menjatuhkan
malaikatnya ke tepi jalan. Bukan ke tangan orang lain. Sehingga aku bisa
memungut malaikat itu dan membawanya pulang untuk kumiliki selamanya.”
Yuna tersenyum bahagia. Ia melingkarkan kedua lengannya di leher
Yeriko. Ia terus menatap mata suaminya tanpa berkedip. Ia tidak bisa
berkata-kata setiap kali Yeriko menyerangnya dengan kalimat-kalimat cinta.
Yeriko tersenyum, ia mengulum bibir Yuna dengan lembut. Tangannya
bergerak mengelus perut Yuna yang sudah membesar. Ia terus memperdalam
ciumannya hingga membuat Yuna menginginkan kehangatan yang lebih dari sekedar
ciuman.
Yeriko menghentikan ciumannya saat ia merasakan gerakan di
perut Yuna. Pandangannya beralih ke perut Yuna yang terus bergerak.
“Huft, dia mau ikutan dimanja juga?”
Yuna terkekeh sambil menatap wajah Yeriko. “Dia aktif banget kalau
malam gini.”
“Kalau siang, dia tidur?”
Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Yeriko tersenyum bahagia sambil menyingkap pakaian Yuna untuk
melihat bayinya yang sedang bergerak-gerak di dalam perut Yuna.
“Kalau dia gerak ... nggak sakit?” tanya Yeriko sambil menempelkan
telapak tangannya ke perut Yuna.
Yuna menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“Serius?”
“Serius. Nggak percaya banget sih!?”
Yeriko terkekeh. “Aku nggak tahu. Makanya, aku harus pastikan
kalau emang nggak menyakitkan. Terus, rasanya gimana waktu dia gerak-gerak
kayak gini?”
“Rasanya seperti orang lagi kedutan,” jawab Yuna sambil tersenyum.
Yeriko menghela napas lega.
“Kenapa?” tanya Yuna.
“Nggak papa. Seneng aja lihat kamu dan calon anak kita selalu
sehat. Aku lega karena kamu nggak ngerasain sakit.”
Yuna tersenyum bahagia.
“Tidur, yuk!” ajak Yeriko.
“Gendong!” rengek Yuna.
“Kamu sekarang berat banget. Aku nggak kuat gendong,” sahut Yeriko
sambil tertawa geli.
Yuna memonyongkan bibirnya. “Oh ya, barusan Oom Rudi telepon
aku.”
“Terus?”
“Bellina bukan anak kandung Lonan.”
“Hmm ... jadi, dia asli sepupu kamu?”
Yuna menganggukkan kepala.
“Kamu berharapnya seperti apa?” tanya Yeriko.
“Aku berharap, Oom Rudi nggak menjalani hari-harinya sendirian.
Karena dia pasti ceraikan Melan si Nenek Sihir itu.”
Yeriko tertawa kecil. “Bagus. Aku juga nggak akan membuatnya
berjalan dengan mudah.”
“Maksud kamu?” tanya Yuna sambil menaikkan kedua alisnya.
Yeriko hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna. Ia tidak mau
mengatakan rencananya kali ini pada istrinya. “Tidur, yuk!” ajaknya sambil
bangkit dari lantai. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Yuna bangun.
Yuna tersenyum. Ia menyambut uluran tangan suaminya. Mereka berdua
segera beringsut ke kamar tidur yang bersebelahan dengan kamar anak mereka.
Yeriko tersenyum sambil merangkul tubuh Yuna hingga masuk ke dalam
kamar mereka. Ia sengaja tidak memberitahukan Yuna tentang rencananya kali ini.
Ia tidak akan melepaskan Melan dan Bellina dengan mudah.
“Ay, kenapa dari tadi senyum-senyum terus?” tanya Yuna.
“Nggak papa. Seneng aja karena malam ini bisa tidur cepat,” jawab
Yeriko sambil naik ke atas tempat tidur.
“Yakin, mau tidur cepat?” goda Yuna sambil menghampiri suaminya.
Yeriko mengangguk. Ia memeluk tubuh Yuna dari belakang. “Tidurlah!
Banyak hal yang akan kita hadapi besok. Harus tidur nyenyak!” bisik Yeriko
sambil memejamkan mata perlahan.
Yuna tersenyum. Ia bisa merasakan embusan napas Yeriko yang terasa
hangat di telinganya. Ia tersenyum sambil meletakkan tangannya di atas punggung
tangan Yeriko yang bertengger di perutnya. Perlahan, ia memejamkan mata. Ia
berharap bisa menghadapi hari esok hingga mereka menua bersama.
((Bersambung ...))
Apa yang
akan dibuat sama Mr. Ye besok ya?
Baca terus
kelanjutan ceritanya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
.png)
0 komentar:
Post a Comment