Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 527 : Terkuaknya Masa Lalu Melan

 



“Kamu anaknya Melan?” tanya Lonan sambil tersenyum saat menatap wajah Bellina.

 

“Iya. Emang kenapa? Mau cari masalah di sini?” tanya Bellina sambil meneliti pria setengah baya itu.

 

Lonan tertawa kecil. “Nggak nyangka, kalau sifat kamu itu sangat mirip dengan aku.”

 

“Maksud kamu!?” Bellina membelalakkan matanya.

 

“Anak cantik ... hari ini aku ke sini, khusus untuk bertemu dengan kamu. Sudah bertahun-tahun aku nggak pernah lihat kamu. Aku sangat bahagia karena puteri kandungku dibesarkan dan dirawat dengan baik di keluarga ini,” tutur Lonan sambil tersenyum.

 

DUAR!

 

Hati Bellina serasa disambar petir begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulut Lonan. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi dalam keluarganya. Ia langsung menatap Melan dan Tarudi bergantian untuk mendapatkan penjelasan.

 

“Nan, kamu keluar dari sini!” perintah Melan sambil mendorong tubuh Lonan.

 

“Kenapa? Aku nggak ketemu anak kita selama dua puluh lima tahun. Sekarang, dia sudah dewasa dan secantik ini. Apa masih perlu dirahasiakan lagi?” tanya Lonan.

 

“Bellina bukan anak kamu!” sahut Melan kesal. Ia berusaha mendorong tubuh Lonan keluar dari ruang rawat tersebut.

 

“Iya, aku nggak mungkin punya papa gembel kayak gini,” celetuk Bellina sambil menatap jijik ke arah Lonan.

 

Lonan membelalakkan matanya begitu mendengar ucapan Melan dan Bellina. Emosinya tersulut dan ia langsung mendorong tubuh Melan dari tubuhnya.

 

“Kalian nggak mau mengakui keberadaanku, hah!?” seru Lonan kesal. Ia langsung menunjuk wajah Melan. “Apa perlu aku bilang sama puteri kesayangan kita kalau kita baru aja tidur bareng malam ini!?”

 

Melan membelalakkan mata begitu mendengar ucapan Lonan. “Kamu ...!?” Ia berusaha membungkam mulut Lonan agar tidak mengungkapkan semua yang terjadi sebenarnya.

 

“Bener, Ma?” tanya Bellina sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

Melan tak menjawab pertanyaan Bellina.

 

Bellina menoleh ke arah Tarudi untuk mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

 

Tarudi hanya tersenyum sinis sambil membuang wajahnya.

 

“Ma ...!” seru Bellina kesal. “Semua ini beneran!?”

 

“Bel, dengerin dulu penjelasan Mama!” pinta Melan sambil meraih kedua pundak Bellina.

 

Bellina langsung memundurkan langkahnya menjauhi Melan. “Aku nggak percaya, Mama udah berbuat sejahat ini sama kami,” ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

“Bellina ... kamu itu anakku. Anak kandungku,” tutur Lonan sambil mendekati Bellina.

 

“Nggak! Aku bukan anak kamu!” seru Bellina.

 

“Kenyataannya, kamu adalah anak kandungku. Lihat! Sifat kita mirip banget. Kamu pasti anak kandungku,” tutur Lonan.

 

“Nggak mungkin!” seru Bellina. Ia tetap tidak bisa menerima kenyataan kalau Lonan adalah ayah kandungnya. “Kamu pasti cuma pura-pura jadi ayah kandungku. Supaya bisa memeras keluarga kami ‘kan?”

 

“Mama kamu juga nggak mengelak. Artinya, dia juga sudah mengakui kalau kamu adalah anak kandungku,” jawab Lonan sambil tersenyum ke arah Bellina.

 

“Aku nggak percaya! Kamu pergi dari sini!” seru Bellina.

 

“PERGI ...!” teriak Bellina histeris.

 

“Aku nggak akan pergi dari sini sebelum kamu mengakui kalau aku ini ayah kamu,” tutur Lonan.

 

“Nggak! Aku nggak punya ayah seperti kamu. Kalau nggak mau pergi dari sini, aku bakal panggilin polisi!” ancam Bellina.

 

“Hahaha. Walau kamu bikin aku masuk penjara sekalipun, aku ini tetap ayah kamu.”

 

Yeriko yang ada di sana ikut tersenyum sinis sambil menonton pertunjukkan keluarga itu. “Mantan narapidana, nggak akan pernah takut masuk penjara berkali-kali,” ucapnya santai sambil menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu.

 

“Maksud kamu!?” tanya Bellina sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko mengedikkan bahunya. “Tanyakan aja sama mama dan ayah kandung kamu itu!”

 

Lonan tersenyum kecil. “Aku memang sudah sering masuk penjara. Makanya, aku nggak pernah bisa ketemu sama puteri kesayanganku. Sekarang, aku sudah keluar dari penjara dan ingin ketemu sama puteri kandungku. Ada yang salah?”

 

“Sangat salah!” sahut Bellina kesal. Matanya juga tertuju pada Yuna yang sedang menonton perseteruan yang terjadi dalam keluarganya. Ia tidak ingin Yuna melihat dirinya sebagai lelucon.

 

Wilian hanya terdiam sambil menyandarkan punggungnya ke dinding ruangan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat hari ini.

 

“Kamu!? Berani-beraninya melawan ayah kandung kamu sendiri! Kayak gini hasil didikan dari keluarga terhormat, hah!? Nggak ada sopan santun sedikit pun sama orang tua!?” tanya Lonan.

 

Semua orang terdiam mendengar pertanyaan Lonan.

 

“Hahaha. Walau dibesarkan di keluarga terhormat, sifat dan kelakukan kamu tetap saja seperti aku. Ayah kandung kamu sendiri. Lihat! Hahaha.” Lonan terus tertawa bahagia melihat semua orang yang menatap aneh ke arahnya.

 

“Ma, usir laki-laki ini dari sini!” seru Bellina sambil menatap wajah Melan.

 

Melan terdiam. Ia tidak bisa melawan Lonan, pria yang sudah ia cintai. Ia tidak ingin kalau Bellina membenci ayahnya sendiri. Walau ia belum yakin, siapa sebenarnya ayah biologis Bellina.

 

“Ma ...! Kalau Mama nggak mau usir laki-laki ini, artinya semua ini beneran!?” tanya Bellina lagi.

 

Melan menarik napas panjang. “Oke, oke. Mama akan jujur sama kamu. Sebenarnya ... Mama nggak tahu, kamu anak siapa.”

 

Bellina membelalakkan matanya. “APA!?”

 

Wilian langsung menoleh ke arah Bellina. Ia semakin tidak percaya dengan apa yang terjadi pada masa lalu Melan. Istrinya yang terkenal dari keluarga baik dan terhormat, ternyata hanya keturunan seorang penjahat.

 

“Mama nggak tahu kamu anak siapa. Bisa jadi, kamu anaknya Papa ... bisa jadi, kamu anak laki-laki ini.”

 

Bellina menatap wajah mamanya penuh tanya. Ia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi hari ini. Terlebih, ia harus menerima kenyataan kalau ayah kandungnya tidak jelas. Artinya, mamanya selama ini berhubungan badan dengan dua pria sekaligus di masa lalunya.

 

Tarudi semakin kesal dengan Melan yang masih saja melakukan pembelaan. “Kenapa? Kamu nggak berani menerima kenyataan kalau Bellina sebenarnya anak dari laki-laki itu? Aku nggak keberatan kalau kalian pergi dari sini sekarang.”

 

“Pa, aku nggak mau percaya sama ini semua begitu aja. Aku ini anak Papa. Aku nggak mau jadi anak orang lain!” seru Bellina sambil menitikan air mata.

 

“Kenyataannya, kamu bukanlah anak papa. Kembalilah sama keluarga asli kamu. Papa tidak akan mengganggu kalian!”

 

“Maksud Papa?” tanya Bellina dengan mata berkaca-kaca.

 

“Mulai hari ini, Papa dan Mama kamu tidak akan ada hubungan apa-apa lagi. Papa sudah menyuruh pengacara untuk mengurus perceraian kami.”

 

“Pa, semuanya belum jelas. Kenapa Papa membuat keputusan secepat ini? Gimana kalau kita tes DNA terlebih dahulu. Untuk membuktikan, siapa ayah kandungku sebenarnya?”

 

Tarudi terdiam sejenak. “Oke. Papa akan turuti permintaan kamu untuk melakukan tes DNA. Namun, walau hasilnya kamu adalah anak Papa. Papa akan tetap menceraikan mama kamu.”

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. Ia menganggukkan kepala, berharap kalau hasil tes DNA akan sama seperti yang dia inginkan.

 

Yeriko melangkah menghampiri Tarudi sambil melindungi istrinya. “Oom, cepat sehat ya! Semoga, semua bisa dilalui dengan mudah!” tutur Yeriko.

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah Tarudi. “Ini, aku buatkan bubur ayam untuk Oom Rudi. Diminum ya, Om ...! Semoga cepat sehat!”

 

“Makasih, Yuna!”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kalau gitu, kami pamit dulu!” ucap Yeriko sambil mengajak Yuna keluar dari kamar rawat tersebut. Ia tersenyum sinis ke arah Bellina saat langkahnya sampai di depan tubuh wanita itu.

 

Bellina menatap Yeriko dan Yuna penuh kebencian. Ia merasa kalau Yuna dan Yeriko sengaja datang untuk melihat dirinya dan menjadikannya sebagai bahan lelucon. Kekesalan di dalam hatinya semakin memuncak saat Yuna dan Yeriko tersenyum ke arahnya.

 

 

((Bersambung ...))

 


Perfect Hero Bab 526 : Menutupi Kenyataan

 



Drrt ... Drrt ... Drrt ...!

 

Bellina langsung menyambar ponsel yang ia letakkan di atas meja rias saat ia baru saja selesai mandi.

 

“Halo ...!” sapa Bellina begitu ia menjawab panggilan telepon dari mamanya.

 

“Halo ...! Bel, papa kamu,” tutur Melan dengan suara panik.

 

“Papa kenapa, Ma?” tanya Bellina.

 

“Papa kamu masuk rumah sakit.”

 

“Hah!? Papa kenapa?”

 

“Kamu cepetan ke sini ya!”

 

“Iya. Iya. Aku sama Lian langsung ke sana, sekarang juga,” sahut Bellina sambil mematikan panggilan teleponnya. Ia buru-buru mengganti pakaiannya dan bersiap keluar dari kamar.

 

“Li, Lian ...!” panggil Bellina sambil menuruni anak tangga. Ia segera menghampiri Wilian yang sedang duduk santai sambil menonton televisi di ruang keluarga.

 

“Ada apa?” tanya Lian sambil menatap Bellina yang terlihat gelisah.

 

“Papaku masuk rumah sakit. Barusan, Mama telepon.”

 

“Hah!? Sakit apa?” tanya Lian.

 

“Nggak tahu. Kita ke sana, sekarang!” ajak Bellina.

 

Lian mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya. “Aku ganti baju dulu!”

 

“Cepet ya!”

 

Lian mengangguk lagi. Ia segera mengganti pakaiannya dan bergegas pergi ke rumah sakit, tempat papanya Bellina mendapatkan perawatan.

 

 

 

...

 

 

 

Di rumah sakit ...

 

Melan terus menunggu di sisi Tarudi yang masih belum sadarkan diri. Ia terus menatap wajah suaminya dengan perasaan cemas. Banyak hal yang menghantui perasaannya saat ini. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan karena hubungannya dengan Lonan sudah diketahui oleh suaminya secara langsung.

 

Tarudi mengerjapkan matanya. Ia berusaha menyempurnakan pandangan yang masih samar-samar saat melihat langit-langit kamar tersebut. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan berhenti tepat di wajah Melan.

 

“Kamu ngapain di sini?” tanya Tarudi sambil membuang wajahnya. Ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menatap wajah Melan sedikit saja.

 

“Pa ...!” panggil Melan sambil meraih lengan Tarudi.

 

Tarudi langsung menepis tangan Melan dari lengannya. “Aku nggak mau lihat kamu lagi! Pergi dari sini!”

 

“Pa, Mama nggak bermaksud untuk ...”

 

“Pergi dari sini!” teriak Tarudi. “Perempuan nggak tahu diri kayak kamu, nggak pantas ada di dalam hidupku. Mulai sekarang, aku nggak mau lihat kamu lagi!” tegas Tarudi.

 

Melan menggeleng-gelengkan kepala. Seluruh tubuhnya bergetar karena melihat Tarudi yang telah merubah pandangan terhadap dirinya. Sementara, ia juga tak bisa membela dirinya sendiri lagi.

 

“Dokter ...!” panggil Tarudi saat dokter masuk ke dalam kamar rawatnya dan menghampiri Tarudi. “Suruh perempuan ini keluar dari kamar saya secepatnya! Saya nggak mau lihat wajah dia ada di sini!”

 

Dokter tersebut langsung menoleh ke arah Melan. “Maaf, Ibu ... demi kesembuhan pasien, kami memohon kepada ibu untuk keluar dari ruangan ini!” pinta dokter tersebut.

 

“Dok, saya ini istrinya. Saya mau nemenin suami saya, Dok.”

 

“Dia bukan istri saya, Dokter!” sahut Tarudi.

 

“Pa, kita ini suami istri. Kenapa papa bisa bilang begitu?”

 

“Mulai detik ini, kamu bukan lagi istriku!” tegas Tarudi.

 

“Pa ...!” Melan menatap pilu ke arah Tarudi.

 

“Maaf, Ibu ... silakan keluar dari ruangan ini. Kami harus melakukan pemeriksaan pada pasien. Mohon untuk tidak mengganggu pasien kami!”

 

Melan menatap pilu ke arah suaminya sambil melangkahkan kakinya keluar. Ia tidak benar-benar pergi meninggalkan suaminya. Ia menunggu di depan pintu sampai dokter selesai melakukan pemeriksaan.

 

“Gimana keadaan suami saya, Dokter?” tanya Melan setelah dokter itu selesai memeriksa Tarudi.

 

“Beliau dalam keadaan baik-baik saja. Hanya butuh banyak istirahat untuk memulihkan kondisinya,” jawab dokter itu sambil berlalu pergi untuk memeriksa pasien lainnya.

 

“Terima kasih, Dokter!” seru Melan.

 

“Ma, gimana keadaan Papa?” tanya Bellina yang tiba-tiba sudah ada di belakang Melan.

 

Melan langsung menoleh ke arah Bellina. “Papa kamu baik-baik aja. Dia cuma kelelahan.”

 

“Kenapa bisa kayak gini sih, Ma?” tanya Bellina. Ia langsung mendorong pintu kamar rawat papanya dan masuk perlahan.

 

“Papa kamu cuma kelelahan. Banyak pekerjaan akhir-akhir ini.”

 

Tarudi langsung menoleh ke arah pintu. “Kenapa? Kamu nggak punya keberanian untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya?” tanyanya sambil menatap wajah Melan.

 

Bellina langsung menatap wajah papa dan mamanya bergantian. “Ini ada apa?” tanyanya bingung.

 

Tarudi terlihat sangat khawatir begitu Bellina menatapnya. Ia tidak ingin menyakiti puterinya. Namun, melihat wajah Bellina membuatnya merasakan sangat sakit. Ia teringat wajah Lonan begitu Bellina menatap sejajar ke arahnya.

 

“Pa, sebenarnya ada apa?” tanya Bellina sambil menghampiri ayahnya. Ia merasa tidak nyaman saat Tarudi menatapnya penuh kebencian.

 

“Iya, Pa. Sebenarnya ada apa? Seharusnya, Papa bisa menceritakan semuanya kepada kami.”

 

“Tanyakan sama mama kamu!” sahut Tarudi sambil menatap wajah Melan.

 

GLEG!

 

Melan menelan ludah saat Bellina dan Wilian juga ikut menoleh ke arahnya. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan pada puteri kesayangannya itu. Ia tidak ingin melukai Bellina. Tapi juga tidak bisa melanjutkan kebohongannya di depan suaminya sendiri.

 

“Ma, ada apa?” tanya Bellina sambil menatap Melan.

 

Melan menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Nggak ada apa-apa, kok. Papa kamu cuma kelelahan. Jadi, dia terlalu banyak berpikir.”

 

Tarudi tersenyum sinis melihat sandiwara istrinya. Kini, ia menyadari kebodohannya karena sudah tertipu selama bertahun-tahun. Hal yang paling menyakitkan baginya adalah mengetahui kenyataan kalau Bellina bukan puteri kandungnya.

 

“Kamu nggak berani ngomong sama anak kamu sendiri? Mau membohongi dia untuk berapa lama? Dua puluh lima tahun, kamu membohongi saya!” tutur Tarudi sambil menatap tajam ke arah Melan.

 

Bellina dan Wilian langsung menoleh ke arah Tarudi yang berbicara penuh kebencian. Mereka semakin tidak mengerti apa yang telah terjadi pada kedua orang tua Bellina.

 

“Pa, sebenarnya ada apa?” tanya Bellina sambil menatap papanya.

 

“Tanyakan sama mama kamu itu!” sahut Tarudi sambil menatap Melan penuh kebencian.

 

Melan menatap Bellina dan Tarudi bergantian. Ia berusaha tersenyum meski bibir dan tubuhnya gemetaran. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan pada Bellina kali ini. Ia tidak mungkin mengatakan kalau Bellina adalah anak kandung Lonan. Sementara, ia sendiri tidak bisa memastikan kebenarannya.

 

“Kamu masih nggak berani jujur di hadapan anak kamu sendiri!?” sentak Tarudi.

 

“Pa, jangan kasar gini sama Mama!” pinta Bellina sambil menatap wajah ayahnya.

 

“Mama kamu yang sudah membuat Papa jadi seperti ini. Tanyakan sama dia, kenapa nggak mau jujur sama kamu?”

 

Bellina langsung menoleh ke arah Melan. “Ma, ini ada apa? Kenapa papa sampai semarah ini sama Mama?”

 

Melan tak menjawab. Ia hanya menatap Bellina penuh kekhawatiran. Ia takut jika Bellina ikut membenci dirinya jika mengetahui kenyataan yang terjadi hari ini. Ia tidak ingin kehilangan semuanya.

 

Wilian merengkuh tubuh Bellina untuk menenangkan istrinya tersebut. “Jangan emosi! Semua bisa dibicarakan baik-baik,” bisiknya.

 

Bellina melipat kedua tangan di dada sambil menatap Melan. Ia menunggu mamanya yang masih bergeming itu mengatakan sesuatu di hadapannya. Mengatakan kejujuran seperti yang diutarakan oleh papanya beberapa detik lalu.

 

“Hai ...! Selamat pagi ...!” sapa Lonan yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

Bellina langsung menoleh ke arah pintu. Matanya tertuju pada pria berpenampilan urakan yang sudah berdiri di hadapannya. Di balik pintu ruangan yang terbuka, ada Yuna dan Yeriko yang berdiri menatap ruangan tersebut tanpa melangkah masuk ke dalam ruang rawat.

 

Bellina menatap Lonan penuh kebencian. Juga sepasang suami-istri di belakangnya yang juga ia benci selama ini. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pria setengah baya yang penampilannya sangat kacau. Melihatnya saja, ia sudah merasa jijik.

 

“Kamu siapa?” tanya Bellina sambil menatap wajah Lonan. “Tiba-tiba masuk ke ruangan ini. Kalau nggak ada kepentingan, lebih baik kamu keluar dari ruangan ini!”

 

Lonan tertawa kecil sambil menatap wajah Bellina yang mirip sekali dengan Melan. Melihat sikap Bellina yang kasar, membuat ia teringat pada dirinya sendiri. Ia merasa kalau sifat Bellina sangat mirip dengannya dan membuatnya semakin yakin kalau Bellina adalah puteri kandungnya.

 

 

 

 

 ((Bersambung ...))

 

 

Perfect Hero Bab 525 : Kepergok Selingkuh

 


Tarudi yang masih sibuk di perusahaannya, tiba-tiba menerima pesan dari nomor yang tidak ia kenal.

 

“Huft ...!” Tarudi menghela napas sambil menatap pesan yang masuk ke ponselnya.

 

-        Aku tunggu di Sheraton Hotel, kamar nomor 235. Jam setengah delapan, malam ini. –

 

Tarudi membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Ia menghela napas beberapa kali karena harus berhadapan kembali dengan orang yang menyuruhnya untuk membunuh Adjie. Sementara, ia belum melakukan apa yang diperintahkan oleh pria itu.

 

Tarudi menatap jam dinding yang ada di ruang kerjanya. Waktu sudah menunjukkan jam enam sore, ia masih saja sibuk dengan pekerjaannya seperti biasa.

 

Tanpa pikir panjang, Tarudi langsung membereskan pekerjaannya, bersiap-siap untuk pergi menemui seseorang di Sheraton Hotel Surabaya.

 

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit dari kantornya, ia akhirnya tiba di Sheraton Hotel. Ia langsung masuk ke lobi hotel usai memarkirkan mobilnya dengan baik.

 

Mata Tarudi tertuju pada wanita setengah baya yang masuk ke dalam lift. Ia tidak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas dari kejauhan. “Kayak Melan?” batinnya sambil menatap pintu lift yang sudah tertutup.

 

“Mungkin, cuma perasaanku saja,” gumam Tarudi sambil melangkahkan kakinya menuju lift. Ia menunggu pintu lift terbuka kembali sambil berusaha menghibur dirinya sendiri.

 

“Dari pakaian dan tasnya, sepertinya memang istriku. Ngapain dia ke hotel ini? Mungkin, dia mau ketemu sama teman-teman arisannya seperti biasa,” batin Tarudi sambil masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.

 

Tarudi merapatkan jasnya sambil menunggu pintu lift terbuka. Beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka. Ia langsung melangkah keluar dari lift, kemudian menyusuri koridor menuju kamar 235 yang ingin ia tuju.

 

Di seberang kamar 235, Chandra dan yang lainnya mengintip dari balik pintu saat Melan sudah masuk ke dalam kamar tersebut.

 

“Oom Rudi udah masuk lift,” tutur Chandra sambil melirik arloji di tangannya.

 

“Woah ...! Bakal ada pertunjukan yang bagus malam ini. Gimana reaksi Oom Rudi kalau tahu istrinya selingkuh?” sahut Lutfi dengan wajah berbinar. Ia terlihat sangat antusias untuk melihat pertunjukan yang akan terjadi malam ini.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia duduk santai di sofa sambil menanti pertunjukan yang akan terjadi malam ini.

 

Chandra dan Lutfi semakin tegang saat Tarudi sudah sampai di depan kamar 235 seperti yang sudah mereka janjikan sebelumnya.

 

“Tiga ... Dua ... Satu ...!” tutur Lutfi, ia berhitung sambil mengintip dari balik lubang pintu.

 

 

 

KREEEK ...!

 

Pintu ruangan langsung terbuka. Dari dalam, seorang pria bertelanjang dada yang hanya mengenakan handuk sudah berdiri berhadapan dengan Tarudi.

 

“Kamu ...!?” Tarudi melebarkan kelopak mata begitu melihat Lonan yang ada di hadapannya. Ia mengintip ke dalam kamar dan bisa menangkap tas tangan milik istrinya yang tergeletak di atas meja.

 

“Siapa?” Suara Melan dari dalam kamar membuat Tarudi semakin yakin kalau istrinya berada di dalam kamar tersebut.

 

“Bellboy!” sahut Lonan sambil menoleh ke dalam kamar.

 

Tarudi berusaha menerobos masuk ke dalam kamar tersebut. Namun, Lonan berusaha mencegahnya.

 

“Kamu cari siapa?” tanya Lonan sambil menahan dada Tarudi.

 

Tarudi menghela napas sambil menatap tajam ke arah Lonan. “Ada istriku di dalam?”

 

Lonan tersenyum sinis. “Istri? Siapa?”

 

Tarudi tak menyahut. Ia tetap menerobos masuk ke dalam kamar tersebut dan langsung menghampiri Melan yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil mengenakan pakaiannya.

 

“Kalian habis ngapain?” tanya Tarudi.

 

Melan langsung menoleh ke arah Tarudi begitu mendengar suara suaminya sudah ada di sampingnya. Ia membelalakkan mata dan melompat dari atas tempat tidur. “Kamu ngapain di sini?”

 

“Aku yang seharusnya tanya, apa yang kamu lakuin di sini sama pria ini, hah!?” seru Tarudi.

 

“Pa, aku nggak ngelakuin apa-apa,” jawab Melan berusaha membela diri. Ia berusaha mendekati Tarudi untuk memberikan penjelasan.

 

 

 

PLAK!

 

Tarudi langsung menampar wajah Melan. “Perempuan nggak tahu diri! Bisa-bisanya kamu selingkuh di belakangku!?”

 

Lonan melangkah santai menghampiri Tarudi. “Harusnya kamu menyadari apa yang bikin istri kamu berselingkuh. Dia juga butuh nafkah batin dan cuma aku yang paling tahu cara membuatnya merasakan kenikmatan dunia ini.”

 

Tarudi langsung menatap tajam ke arah Lonan. Ia menyerang pria itu hingga menekan Lonan ke lantai. “Laki-laki kurang ajar!” serunya sambil mengepal tangan ke arah wajah Lonan.

 

Lonan hanya tertawa kecil menatap Tarudi. “Asal kamu tahu, aku dan Melan tidak pernah putus. Kami masih menjadi sepasang kekasih sebelum dan sesudah kalian menikah.”

 

Tarudi menatap tajam ke arah Lonan. Kalimat yang keluar dari mulut Lonan seperti petir yang menyambar tubuhnya berkali-kali. Ia tidak menyangka kalau istri yang ia percaya justru mengkhianatinya selama bertahun-tahun.

 

Lonan tersenyum sambil menyingkirkan tangan Tarudi. Sementara, Melan tidak bisa berkata-kata melihat perseteruan dua pria yang ada di hadapannya.

 

Tarudi teringat akan kehamilan Melan yang sudah terjadi sebelum mereka menikah. Ia kini tidak tahu apakah Bellina memang puteri kandungnya atau tidak jika teringat hubungan Melan dan Lonan yang begitu intim sebelum mereka menikah.

 

“Bellina itu anakku,” tutur Lonan. “Asal kamu tahu, sebelum menikah sama kamu ... dia juga sudah sering tidur sama aku. Dia lebih memilih kamu karena uang yang kamu punya, bukan karena cinta.”

 

Tarudi langsung menoleh ke arah Melan. “Apa yang diomongin dia itu benar?”

 

Melan tak menyahut. Ia sendiri tidak tahu siapa sebenarnya ayah biologis dari Bellina. Ia tidak bisa menentukan apakah Bellina anak Tarudi atau anak Lonan.

 

“Jawab, Ma ...!” sentak Tarudi.

 

Melan menggelengkan kepala. “Mama nggak tahu.”

 

Lonan tersenyum sinis. “Kalau nggak percaya, bisa lakukan tes DNA. Buat menentukan apakah Bellina anakku atau anak kamu. Aku rasa, Bellina lebih mirip aku ketimbang sama kamu.”

 

Tarudi mematung saat mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Lonan. Di matanya berkelebat bayangan Bellina, puteri kesayangan yang selalu ia banggakan di keluarga Linandar.

 

Tangan Tarudi langsung memegangi dadanya yang terasa sakit. Ia terus menatap Lonan yang tertawa di hadapannya. Perlahan, ia tidak bisa lagi mendengar gelak tawa Lonan dan bayangan pria itu berganti dengan kegelapan.

 

“Papa ...!” seru Melan saat melihat tubuh suaminya terhuyung ke lantai.

 

Lonan tersenyum sinis. Ia langsung menatap Melan yang sudah duduk sambil memeluk tubuh suaminya. “Laki-laki udah penyakitan gini, tinggal kamu tunggu mati aja dan dapetin semua hartanya. Hahaha.”

 

“Diam, kamu!” sentak Melan. “Kenapa harus kamu bocorin rahasia kita? Aku belum dapet apa-apa dari suamiku.”

 

Lonan hanya tersenyum kecil. “Sebentar lagi juga bakal dapet semuanya kalau laki-laki ini sudah mati.”

 

“Nan, kamu jangan gila ya! Bantu aku bawa ke rumah sakit!” seru Melan. “Aku nggak mau membunuh suamiku sendiri walau aku nggak cinta sama dia.”

 

“Oke. Oke.” Lonan bangkit dari lantai, bergegas mengenakan pakaiannya dan membawa tubuh Tarudi keluar dari kamar tersebut. Mereka segera membawa Tarudi ke rumah sakit terdekat.

 

Di kamar seberang, Yeriko sengaja membuka pintu kamar dan melihat kepanikan yang tergambar dari wajah Melan.

 

“Yer, itu Oom Tarudi nggak papa? Dia bukan target kita, Yer,” tutur Chandra.

 

“Nggak papa. Dia cuma shock aja. Aku udah selidiki kalau dia nggak punya riwayat penyakit parah.”

 

“Hahaha. Mukanya si Melan ketakutan gitu. Aku merasa puas ...!” seru Lutfi sambil bersenandung.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap wajah Lutfi.  “Ini belum selesai, baru pembukaan,” ucapnya sambil meraih gelas yang ada di atas meja. Ia memberi isyarat pada Riyan untuk menuangkan wine ke dalam gelasnya.

 

“Pasti akan ada pertunjukan yang lebih seru lagi kalau keluarga Wijaya tahu ... Bellina bukan keturunan keluarga Linandar,” tutur Yeriko sambil menggoyang-goyangkan gelas wine yang ada di tangannya.

 

Chandra dan Lutfi tertawa lebar.

 

“Udah lama, aku nggak pernah merasa sebahagia ini,” tutur Lutfi sambil menuang wine ke dalam gelasnya. “Kita rayain dulu!” serunya sambil mengangkat gelas wine. “Musik ...!”

 

Chandra langsung menoyor kepala Lutfi. “Kamu kira ini bar?”

 

“Hahaha. Lupa. Pake hape, pake hape aja musiknya!” tutur Lutfi sambil membuka ponsel dan memutar musik agar suasana lebih menyenangkan lagi. Ia menari-nari sambil melompat di atas sofa.

 

Chandra dan Yeriko ikut tertawa melihat tingkah Lutfi yang begitu menikmati kesenangannya kali ini. Mereka bersama-sama menikmati wine untuk merayakan pertunjukan malam ini.

 

 ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas