Tarudi yang masih sibuk di
perusahaannya, tiba-tiba menerima pesan dari nomor yang tidak ia kenal.
“Huft ...!” Tarudi menghela
napas sambil menatap pesan yang masuk ke ponselnya.
- Aku
tunggu di Sheraton Hotel, kamar nomor 235. Jam setengah delapan, malam ini. –
Tarudi membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Ia
menghela napas beberapa kali karena harus berhadapan kembali dengan orang yang
menyuruhnya untuk membunuh Adjie. Sementara, ia belum melakukan apa yang
diperintahkan oleh pria itu.
Tarudi menatap jam dinding
yang ada di ruang kerjanya. Waktu sudah menunjukkan jam enam sore, ia masih
saja sibuk dengan pekerjaannya seperti biasa.
Tanpa pikir panjang, Tarudi
langsung membereskan pekerjaannya, bersiap-siap untuk pergi menemui seseorang
di Sheraton Hotel Surabaya.
Setelah menempuh perjalanan
selama beberapa menit dari kantornya, ia akhirnya tiba di Sheraton Hotel. Ia
langsung masuk ke lobi hotel usai memarkirkan mobilnya dengan baik.
Mata Tarudi tertuju pada
wanita setengah baya yang masuk ke dalam lift. Ia tidak bisa melihat wajah
wanita itu dengan jelas dari kejauhan. “Kayak Melan?” batinnya sambil menatap
pintu lift yang sudah tertutup.
“Mungkin, cuma perasaanku
saja,” gumam Tarudi sambil melangkahkan kakinya menuju lift. Ia menunggu pintu
lift terbuka kembali sambil berusaha menghibur dirinya sendiri.
“Dari pakaian dan tasnya,
sepertinya memang istriku. Ngapain dia ke hotel ini? Mungkin, dia mau ketemu sama
teman-teman arisannya seperti biasa,” batin Tarudi sambil masuk ke dalam lift
yang sudah terbuka.
Tarudi merapatkan jasnya
sambil menunggu pintu lift terbuka. Beberapa detik kemudian, pintu lift
terbuka. Ia langsung melangkah keluar dari lift, kemudian menyusuri koridor
menuju kamar 235 yang ingin ia tuju.
Di seberang kamar 235,
Chandra dan yang lainnya mengintip dari balik pintu saat Melan sudah masuk ke
dalam kamar tersebut.
“Oom Rudi udah masuk lift,”
tutur Chandra sambil melirik arloji di tangannya.
“Woah ...! Bakal ada
pertunjukan yang bagus malam ini. Gimana reaksi Oom Rudi kalau tahu istrinya
selingkuh?” sahut Lutfi dengan wajah berbinar. Ia terlihat sangat antusias
untuk melihat pertunjukan yang akan terjadi malam ini.
Yeriko tersenyum kecil. Ia
duduk santai di sofa sambil menanti pertunjukan yang akan terjadi malam ini.
Chandra dan Lutfi semakin
tegang saat Tarudi sudah sampai di depan kamar 235 seperti yang sudah mereka
janjikan sebelumnya.
“Tiga ... Dua ... Satu ...!”
tutur Lutfi, ia berhitung sambil mengintip dari balik lubang pintu.
KREEEK ...!
Pintu ruangan langsung
terbuka. Dari dalam, seorang pria bertelanjang dada yang hanya mengenakan
handuk sudah berdiri berhadapan dengan Tarudi.
“Kamu ...!?” Tarudi
melebarkan kelopak mata begitu melihat Lonan yang ada di hadapannya. Ia
mengintip ke dalam kamar dan bisa menangkap tas tangan milik istrinya yang
tergeletak di atas meja.
“Siapa?” Suara Melan dari
dalam kamar membuat Tarudi semakin yakin kalau istrinya berada di dalam kamar
tersebut.
“Bellboy!” sahut Lonan sambil
menoleh ke dalam kamar.
Tarudi berusaha menerobos
masuk ke dalam kamar tersebut. Namun, Lonan berusaha mencegahnya.
“Kamu cari siapa?” tanya
Lonan sambil menahan dada Tarudi.
Tarudi menghela napas sambil
menatap tajam ke arah Lonan. “Ada istriku di dalam?”
Lonan tersenyum sinis.
“Istri? Siapa?”
Tarudi tak menyahut. Ia tetap
menerobos masuk ke dalam kamar tersebut dan langsung menghampiri Melan yang
sedang duduk di atas tempat tidur sambil mengenakan pakaiannya.
“Kalian habis ngapain?” tanya
Tarudi.
Melan langsung menoleh ke
arah Tarudi begitu mendengar suara suaminya sudah ada di sampingnya. Ia
membelalakkan mata dan melompat dari atas tempat tidur. “Kamu ngapain di sini?”
“Aku yang seharusnya tanya,
apa yang kamu lakuin di sini sama pria ini, hah!?” seru Tarudi.
“Pa, aku nggak ngelakuin
apa-apa,” jawab Melan berusaha membela diri. Ia berusaha mendekati Tarudi untuk
memberikan penjelasan.
PLAK!
Tarudi langsung menampar
wajah Melan. “Perempuan nggak tahu diri! Bisa-bisanya kamu selingkuh di
belakangku!?”
Lonan melangkah santai
menghampiri Tarudi. “Harusnya kamu menyadari apa yang bikin istri kamu
berselingkuh. Dia juga butuh nafkah batin dan cuma aku yang paling tahu cara
membuatnya merasakan kenikmatan dunia ini.”
Tarudi langsung menatap tajam
ke arah Lonan. Ia menyerang pria itu hingga menekan Lonan ke lantai. “Laki-laki
kurang ajar!” serunya sambil mengepal tangan ke arah wajah Lonan.
Lonan hanya tertawa kecil
menatap Tarudi. “Asal kamu tahu, aku dan Melan tidak pernah putus. Kami masih
menjadi sepasang kekasih sebelum dan sesudah kalian menikah.”
Tarudi menatap tajam ke arah
Lonan. Kalimat yang keluar dari mulut Lonan seperti petir yang menyambar
tubuhnya berkali-kali. Ia tidak menyangka kalau istri yang ia percaya justru
mengkhianatinya selama bertahun-tahun.
Lonan tersenyum sambil
menyingkirkan tangan Tarudi. Sementara, Melan tidak bisa berkata-kata melihat
perseteruan dua pria yang ada di hadapannya.
Tarudi teringat akan
kehamilan Melan yang sudah terjadi sebelum mereka menikah. Ia kini tidak tahu
apakah Bellina memang puteri kandungnya atau tidak jika teringat hubungan Melan
dan Lonan yang begitu intim sebelum mereka menikah.
“Bellina itu anakku,” tutur
Lonan. “Asal kamu tahu, sebelum menikah sama kamu ... dia juga sudah sering
tidur sama aku. Dia lebih memilih kamu karena uang yang kamu punya, bukan
karena cinta.”
Tarudi langsung menoleh ke
arah Melan. “Apa yang diomongin dia itu benar?”
Melan tak menyahut. Ia
sendiri tidak tahu siapa sebenarnya ayah biologis dari Bellina. Ia tidak bisa
menentukan apakah Bellina anak Tarudi atau anak Lonan.
“Jawab, Ma ...!” sentak
Tarudi.
Melan menggelengkan kepala.
“Mama nggak tahu.”
Lonan tersenyum sinis. “Kalau
nggak percaya, bisa lakukan tes DNA. Buat menentukan apakah Bellina anakku atau
anak kamu. Aku rasa, Bellina lebih mirip aku ketimbang sama kamu.”
Tarudi mematung saat
mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Lonan. Di matanya berkelebat
bayangan Bellina, puteri kesayangan yang selalu ia banggakan di keluarga
Linandar.
Tangan Tarudi langsung
memegangi dadanya yang terasa sakit. Ia terus menatap Lonan yang tertawa di
hadapannya. Perlahan, ia tidak bisa lagi mendengar gelak tawa Lonan dan
bayangan pria itu berganti dengan kegelapan.
“Papa ...!” seru Melan saat
melihat tubuh suaminya terhuyung ke lantai.
Lonan tersenyum sinis. Ia
langsung menatap Melan yang sudah duduk sambil memeluk tubuh suaminya.
“Laki-laki udah penyakitan gini, tinggal kamu tunggu mati aja dan dapetin semua
hartanya. Hahaha.”
“Diam, kamu!” sentak Melan.
“Kenapa harus kamu bocorin rahasia kita? Aku belum dapet apa-apa dari suamiku.”
Lonan hanya tersenyum kecil.
“Sebentar lagi juga bakal dapet semuanya kalau laki-laki ini sudah mati.”
“Nan, kamu jangan gila ya!
Bantu aku bawa ke rumah sakit!” seru Melan. “Aku nggak mau membunuh suamiku
sendiri walau aku nggak cinta sama dia.”
“Oke. Oke.” Lonan bangkit
dari lantai, bergegas mengenakan pakaiannya dan membawa tubuh Tarudi keluar
dari kamar tersebut. Mereka segera membawa Tarudi ke rumah sakit terdekat.
Di kamar seberang, Yeriko
sengaja membuka pintu kamar dan melihat kepanikan yang tergambar dari wajah
Melan.
“Yer, itu Oom Tarudi nggak
papa? Dia bukan target kita, Yer,” tutur Chandra.
“Nggak papa. Dia cuma shock
aja. Aku udah selidiki kalau dia nggak punya riwayat penyakit parah.”
“Hahaha. Mukanya si Melan
ketakutan gitu. Aku merasa puas ...!” seru Lutfi sambil bersenandung.
Yeriko tersenyum sambil
menatap wajah Lutfi. “Ini belum selesai, baru pembukaan,” ucapnya sambil
meraih gelas yang ada di atas meja. Ia memberi isyarat pada Riyan untuk
menuangkan wine ke dalam gelasnya.
“Pasti akan ada pertunjukan
yang lebih seru lagi kalau keluarga Wijaya tahu ... Bellina bukan keturunan
keluarga Linandar,” tutur Yeriko sambil menggoyang-goyangkan gelas wine yang
ada di tangannya.
Chandra dan Lutfi tertawa
lebar.
“Udah lama, aku nggak pernah
merasa sebahagia ini,” tutur Lutfi sambil menuang wine ke dalam gelasnya. “Kita
rayain dulu!” serunya sambil mengangkat gelas wine. “Musik ...!”
Chandra langsung menoyor
kepala Lutfi. “Kamu kira ini bar?”
“Hahaha. Lupa. Pake hape,
pake hape aja musiknya!” tutur Lutfi sambil membuka ponsel dan memutar musik
agar suasana lebih menyenangkan lagi. Ia menari-nari sambil melompat di atas
sofa.
Chandra dan Yeriko ikut
tertawa melihat tingkah Lutfi yang begitu menikmati kesenangannya kali ini.
Mereka bersama-sama menikmati wine untuk merayakan pertunjukan malam ini.
((Bersambung ...))

0 komentar:
Post a Comment