Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 525 : Kepergok Selingkuh

 


Tarudi yang masih sibuk di perusahaannya, tiba-tiba menerima pesan dari nomor yang tidak ia kenal.

 

“Huft ...!” Tarudi menghela napas sambil menatap pesan yang masuk ke ponselnya.

 

-        Aku tunggu di Sheraton Hotel, kamar nomor 235. Jam setengah delapan, malam ini. –

 

Tarudi membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Ia menghela napas beberapa kali karena harus berhadapan kembali dengan orang yang menyuruhnya untuk membunuh Adjie. Sementara, ia belum melakukan apa yang diperintahkan oleh pria itu.

 

Tarudi menatap jam dinding yang ada di ruang kerjanya. Waktu sudah menunjukkan jam enam sore, ia masih saja sibuk dengan pekerjaannya seperti biasa.

 

Tanpa pikir panjang, Tarudi langsung membereskan pekerjaannya, bersiap-siap untuk pergi menemui seseorang di Sheraton Hotel Surabaya.

 

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit dari kantornya, ia akhirnya tiba di Sheraton Hotel. Ia langsung masuk ke lobi hotel usai memarkirkan mobilnya dengan baik.

 

Mata Tarudi tertuju pada wanita setengah baya yang masuk ke dalam lift. Ia tidak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas dari kejauhan. “Kayak Melan?” batinnya sambil menatap pintu lift yang sudah tertutup.

 

“Mungkin, cuma perasaanku saja,” gumam Tarudi sambil melangkahkan kakinya menuju lift. Ia menunggu pintu lift terbuka kembali sambil berusaha menghibur dirinya sendiri.

 

“Dari pakaian dan tasnya, sepertinya memang istriku. Ngapain dia ke hotel ini? Mungkin, dia mau ketemu sama teman-teman arisannya seperti biasa,” batin Tarudi sambil masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.

 

Tarudi merapatkan jasnya sambil menunggu pintu lift terbuka. Beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka. Ia langsung melangkah keluar dari lift, kemudian menyusuri koridor menuju kamar 235 yang ingin ia tuju.

 

Di seberang kamar 235, Chandra dan yang lainnya mengintip dari balik pintu saat Melan sudah masuk ke dalam kamar tersebut.

 

“Oom Rudi udah masuk lift,” tutur Chandra sambil melirik arloji di tangannya.

 

“Woah ...! Bakal ada pertunjukan yang bagus malam ini. Gimana reaksi Oom Rudi kalau tahu istrinya selingkuh?” sahut Lutfi dengan wajah berbinar. Ia terlihat sangat antusias untuk melihat pertunjukan yang akan terjadi malam ini.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia duduk santai di sofa sambil menanti pertunjukan yang akan terjadi malam ini.

 

Chandra dan Lutfi semakin tegang saat Tarudi sudah sampai di depan kamar 235 seperti yang sudah mereka janjikan sebelumnya.

 

“Tiga ... Dua ... Satu ...!” tutur Lutfi, ia berhitung sambil mengintip dari balik lubang pintu.

 

 

 

KREEEK ...!

 

Pintu ruangan langsung terbuka. Dari dalam, seorang pria bertelanjang dada yang hanya mengenakan handuk sudah berdiri berhadapan dengan Tarudi.

 

“Kamu ...!?” Tarudi melebarkan kelopak mata begitu melihat Lonan yang ada di hadapannya. Ia mengintip ke dalam kamar dan bisa menangkap tas tangan milik istrinya yang tergeletak di atas meja.

 

“Siapa?” Suara Melan dari dalam kamar membuat Tarudi semakin yakin kalau istrinya berada di dalam kamar tersebut.

 

“Bellboy!” sahut Lonan sambil menoleh ke dalam kamar.

 

Tarudi berusaha menerobos masuk ke dalam kamar tersebut. Namun, Lonan berusaha mencegahnya.

 

“Kamu cari siapa?” tanya Lonan sambil menahan dada Tarudi.

 

Tarudi menghela napas sambil menatap tajam ke arah Lonan. “Ada istriku di dalam?”

 

Lonan tersenyum sinis. “Istri? Siapa?”

 

Tarudi tak menyahut. Ia tetap menerobos masuk ke dalam kamar tersebut dan langsung menghampiri Melan yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil mengenakan pakaiannya.

 

“Kalian habis ngapain?” tanya Tarudi.

 

Melan langsung menoleh ke arah Tarudi begitu mendengar suara suaminya sudah ada di sampingnya. Ia membelalakkan mata dan melompat dari atas tempat tidur. “Kamu ngapain di sini?”

 

“Aku yang seharusnya tanya, apa yang kamu lakuin di sini sama pria ini, hah!?” seru Tarudi.

 

“Pa, aku nggak ngelakuin apa-apa,” jawab Melan berusaha membela diri. Ia berusaha mendekati Tarudi untuk memberikan penjelasan.

 

 

 

PLAK!

 

Tarudi langsung menampar wajah Melan. “Perempuan nggak tahu diri! Bisa-bisanya kamu selingkuh di belakangku!?”

 

Lonan melangkah santai menghampiri Tarudi. “Harusnya kamu menyadari apa yang bikin istri kamu berselingkuh. Dia juga butuh nafkah batin dan cuma aku yang paling tahu cara membuatnya merasakan kenikmatan dunia ini.”

 

Tarudi langsung menatap tajam ke arah Lonan. Ia menyerang pria itu hingga menekan Lonan ke lantai. “Laki-laki kurang ajar!” serunya sambil mengepal tangan ke arah wajah Lonan.

 

Lonan hanya tertawa kecil menatap Tarudi. “Asal kamu tahu, aku dan Melan tidak pernah putus. Kami masih menjadi sepasang kekasih sebelum dan sesudah kalian menikah.”

 

Tarudi menatap tajam ke arah Lonan. Kalimat yang keluar dari mulut Lonan seperti petir yang menyambar tubuhnya berkali-kali. Ia tidak menyangka kalau istri yang ia percaya justru mengkhianatinya selama bertahun-tahun.

 

Lonan tersenyum sambil menyingkirkan tangan Tarudi. Sementara, Melan tidak bisa berkata-kata melihat perseteruan dua pria yang ada di hadapannya.

 

Tarudi teringat akan kehamilan Melan yang sudah terjadi sebelum mereka menikah. Ia kini tidak tahu apakah Bellina memang puteri kandungnya atau tidak jika teringat hubungan Melan dan Lonan yang begitu intim sebelum mereka menikah.

 

“Bellina itu anakku,” tutur Lonan. “Asal kamu tahu, sebelum menikah sama kamu ... dia juga sudah sering tidur sama aku. Dia lebih memilih kamu karena uang yang kamu punya, bukan karena cinta.”

 

Tarudi langsung menoleh ke arah Melan. “Apa yang diomongin dia itu benar?”

 

Melan tak menyahut. Ia sendiri tidak tahu siapa sebenarnya ayah biologis dari Bellina. Ia tidak bisa menentukan apakah Bellina anak Tarudi atau anak Lonan.

 

“Jawab, Ma ...!” sentak Tarudi.

 

Melan menggelengkan kepala. “Mama nggak tahu.”

 

Lonan tersenyum sinis. “Kalau nggak percaya, bisa lakukan tes DNA. Buat menentukan apakah Bellina anakku atau anak kamu. Aku rasa, Bellina lebih mirip aku ketimbang sama kamu.”

 

Tarudi mematung saat mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Lonan. Di matanya berkelebat bayangan Bellina, puteri kesayangan yang selalu ia banggakan di keluarga Linandar.

 

Tangan Tarudi langsung memegangi dadanya yang terasa sakit. Ia terus menatap Lonan yang tertawa di hadapannya. Perlahan, ia tidak bisa lagi mendengar gelak tawa Lonan dan bayangan pria itu berganti dengan kegelapan.

 

“Papa ...!” seru Melan saat melihat tubuh suaminya terhuyung ke lantai.

 

Lonan tersenyum sinis. Ia langsung menatap Melan yang sudah duduk sambil memeluk tubuh suaminya. “Laki-laki udah penyakitan gini, tinggal kamu tunggu mati aja dan dapetin semua hartanya. Hahaha.”

 

“Diam, kamu!” sentak Melan. “Kenapa harus kamu bocorin rahasia kita? Aku belum dapet apa-apa dari suamiku.”

 

Lonan hanya tersenyum kecil. “Sebentar lagi juga bakal dapet semuanya kalau laki-laki ini sudah mati.”

 

“Nan, kamu jangan gila ya! Bantu aku bawa ke rumah sakit!” seru Melan. “Aku nggak mau membunuh suamiku sendiri walau aku nggak cinta sama dia.”

 

“Oke. Oke.” Lonan bangkit dari lantai, bergegas mengenakan pakaiannya dan membawa tubuh Tarudi keluar dari kamar tersebut. Mereka segera membawa Tarudi ke rumah sakit terdekat.

 

Di kamar seberang, Yeriko sengaja membuka pintu kamar dan melihat kepanikan yang tergambar dari wajah Melan.

 

“Yer, itu Oom Tarudi nggak papa? Dia bukan target kita, Yer,” tutur Chandra.

 

“Nggak papa. Dia cuma shock aja. Aku udah selidiki kalau dia nggak punya riwayat penyakit parah.”

 

“Hahaha. Mukanya si Melan ketakutan gitu. Aku merasa puas ...!” seru Lutfi sambil bersenandung.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap wajah Lutfi.  “Ini belum selesai, baru pembukaan,” ucapnya sambil meraih gelas yang ada di atas meja. Ia memberi isyarat pada Riyan untuk menuangkan wine ke dalam gelasnya.

 

“Pasti akan ada pertunjukan yang lebih seru lagi kalau keluarga Wijaya tahu ... Bellina bukan keturunan keluarga Linandar,” tutur Yeriko sambil menggoyang-goyangkan gelas wine yang ada di tangannya.

 

Chandra dan Lutfi tertawa lebar.

 

“Udah lama, aku nggak pernah merasa sebahagia ini,” tutur Lutfi sambil menuang wine ke dalam gelasnya. “Kita rayain dulu!” serunya sambil mengangkat gelas wine. “Musik ...!”

 

Chandra langsung menoyor kepala Lutfi. “Kamu kira ini bar?”

 

“Hahaha. Lupa. Pake hape, pake hape aja musiknya!” tutur Lutfi sambil membuka ponsel dan memutar musik agar suasana lebih menyenangkan lagi. Ia menari-nari sambil melompat di atas sofa.

 

Chandra dan Yeriko ikut tertawa melihat tingkah Lutfi yang begitu menikmati kesenangannya kali ini. Mereka bersama-sama menikmati wine untuk merayakan pertunjukan malam ini.

 

 ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas