Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 518 : Memburu Lonan

 


“Chan, dia keluar!” seru Lutfi sambil menatap tubuh Lonan yang baru saja keluar dari lobi Tunjungan Hotel Surabaya.

 

Chandra mengangguk, ia langsung menyalakan mesin mobil begitu Lonan masuk ke dalam sebuah taksi.

 

“Cepetan, Chan ...!” seru Lutfi.

 

“Selow ...!” Ia menginjak gas perlahan sambil mengendalikan kemudinya mengikuti taksi yang membawa Lonan.

 

Lonan mulai menyadari kalau mobil Chandra mengikutinya saat ia sudah memasuki Jalan Kertajaya. “Pak, lebih cepet!” perintahnya pada supir taksi sambil menoleh ke belakang. “Ada yang ngikutin kita.”

 

Supir taksi itu langsung mengamati pergerakan mobil yang ada di belakangnya. “Masnya siapa? Kenapa dikejar-kejar orang?”

 

“Nggak usah banyak tanya! Jalan aja!”

 

“Waduh, saya nggak berani kalau sampai berurusan dengan masalah kriminal,” tutur supir tersebut.

 

Lonan langsung mengeluarkan pisau lipat dari dalam saku dan menghunuskan ke leher supir tersebut. “Gas terus atau mati?” tanyanya.

 

Supir taksi tersebut menahan napas sambil terus menginjak gas mobil agar bisa melaju lebih cepat lagi.

 

Lonan tersenyum sinis. Ia memindahkan posisi pisau tersebut ke dekat perut supir. Kepalanya terus menoleh ke belakang, mengamati pergerakan mobil Chandra yang mengikutinya.

 

Chandra terus mengikuti taksi yang membawa Lonan yang melaju kencang.

 

“Chan, kayaknya dia sudah sadar kalau kita ikuti,” tutur Lutfi. “Buruan bawa mobilnya! Jangan sampai kehilangan jejak!” seru Lutfi tak sabar.

 

Chandra tak menyahut, ia fokus menatap taksi yang sedari tadi mereka ikuti.

 

“Argh, lama ...!” seru Lutfi saat melihat Chandra tak kunjung mempercepat laju mobilnya. “Tukar posisi!”

 

Chandra langsung menoleh ke arah Lutfi.

 

“Buruan ...!” Tangan Lutfi langsung meraih kemudi sambil menatap jalanan.

 

Kepala Chandra menyusup ke bawah dada Lutfi, kakinya masih menginjak gas, sementara Lutfi mengendalikan posisi kemudi agar tetap stabil.

 

Hanya dalam hitungan detik, mereka sudah berganti posisi. Lutfi kini mengambil alih mobil Chandra. Ia langsung menginjak pedal gas, menambah kecepatan untuk mengejar taksi yang membawa Lonan.

 

Lutfi tersenyum sinis saat mobil yang ia kendarai sudah beriringan dengan taksi tersebut. Ia memperhatikan bayangan Lonan dari balik kaca, sengaja merapatkan mobilnya ke taksi tersebut.

 

Lonan mulai panik karena H. Legend berwarna hitam itu benar-benar mengikutinya. “Berhenti ...!” seru Lonan pada supir taksi tersebut.

 

Supir taksi itu langsung menginjak rem mobilnya. Membuat ban mobil yang melaju kencang itu berdecit keras.

 

Lonan memperhatikan H. Legend yang sudah melaju lebih cepat di hadapannya.

 

“Bangsat ...! Dia malah berhenti,” maki Lutfi sambil memperlambat laju mobil dan memutar kemudinya.

 

“Lut, ini jalan searah!” seru Chandra.

 

“Bodo amat!” sahut Lutfi. Ia tak peduli dengan mobil-mobil lain yang membunyikan klakson karena kelakuannya. Ia malah balas menyembunyikan klakson mobil tanpa henti.

 

Lonan terus memperhatikan pergerakan mobil yang sedang mengikutinya. Ia melepas safety belt yang mengikat tubuh supir yang ada di sampingnya. Membuka pintu mobil dan mendorong keluar tubuh supir itu dengan paksa.

 

“Woi ...! Mobil saya!” seru supir taksi itu saat ia tersungkur ke tepi jalan.

 

Lonan tak peduli. Ia langsung mengambil alih mobil tersebut dan melaju kencang.

 

“Taksiku, Mas!” seru supir tersebut. “Belum dapet setoran, malah apes! Kenapa aku bisa ketemu penjahat? Taksiku dibawa kabur. Bakalan dipecat sama bos!” rengek supir taksi tersebut sambil berguling di jalanan seperti anak kecil. Membuat beberapa mobil membunyikan klakson agar ia segera menyingkir.

 

“Lut, dia ngarah ke sini!” seru Chandra sambil mengamati taksi yang mengarah ke mobilnya. Sayangnya, mereka berselisih satu mobil karena Lutfi berjalan melawan arah.

 

Tin ... tin ... tin ...!

 

Lutfi terus menyembunyikan klakson. Ia mencari kesempatan untuk memutar balik mobil Chandra.

 

“Woi ...! Gila ya!” umpat beberapa pengendara mobil melihat kelakuan Lutfi yang sangat berbahaya.

 

“Lut, ini mobilku!” seru Chandra sambil berpegangan pada Hand Grip Plafon yang ada di mobilnya agar tubuhnya tak terbentur.

 

Lutfi tak menghiraukan ucapan Chandra. Ia semakin menggila dan mengejar taksi itu hingga masuk ke perkampungan kumuh.

 

“Gila ini orang, dia nguasai jalanan!” seru Lutfi saat melihat taksi yang dibawa Lonan masuk ke dalam gang perkampungan yang kotor dan bau.

 

“Mau masuk?”

 

“Di sana jalannya terlalu sempit. Banyak anak-anak dan warga yang jalan kaki. Terlalu berbahaya,” jawab Lutfi.

 

“Terus?”

 

Lutfi tersenyum sambil memainkan alisnya. “Aku punya cara lain.”

 

Chandra mengangkat kedua alisnya, ia masih tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan Lutfi.

 

Lutfi melajukan kembali mobilnya. Kemudian, ia berhenti di jalan lain sambil memperhatikan sebuah gang yang ada di hadapannya.

 

“Kenapa berhenti di sini?” tanya Chandra.

 

Lutfi menarik napas dalam-dalam, ia merentangkan kedua tangan dan melipatnya ke belakang kepala. “Tunggu aja lima belas menit lagi!” pinta Lutfi sambil menyandarkan kepalanya dengan santai.

 

“Kamu yakin kalau dia bakal keluar dari sini?” tanya Chandra.

 

“Lihat aja!” jawab Lutfi santai sambil memejamkan mata.

 

Chandra menghela napas sambil memperhatikan gang yang tak jauh dari hadapan mereka.

 

 

 

Lima belas menit kemudian ...

 

“Lut, dia datang!” seru Chandra begitu taksi yang dikendarai Lonan keluar dari gang yang sudah ditentukan Lutfi.

 

Lutfi tersenyum sambil membuka mata. Ia menyalakan mesin mobil dan mengikuti taksi tersebut perlahan karena Lonan belum menyadari kalau mereka masih mengikuti taksi tersebut.

 

“Nggak usah terlalu dekat, Lut! Biar dia nggak curiga.”

 

Lutfi mengangguk. Ia membawa mobil Chandra dengan santai sambil memperhatikan taksi yang ia ikuti dari kejauhan.

 

“Lut, abis ini kamu bawa mobilku ke bengkel! Lecet-lecet gini.”

 

Lutfi hanya tertawa kecil. “Gampang,” sahutnya santai.

 

“Lut, kayaknya dia mulai sadar kalau kita masih ngejar,” tutur Chandra saat melihat taksi yang dibawa Lonan bergerak lebih cepat.

 

Lutfi langsung menambah kecepatan mobil. “Dia mau main-main sama kita,” tuturnya sambil tersenyum sinis.

 

“Aargh ...! Sial ...!” seru Lutfi saat mereka terjebak lampu merah, sementara taksi yang dikendarai Lonan bergerak menjauhi mereka dengan kecepatan tinggi.

 

“Ck, kamu ini.”

 

“Hubungi Satria!” perintah Lutfi.

 

“Kenapa?”

 

“Dia bisa minta akses buat mantau lalu lintas lewat kamera CCTV yang ada di jalanan kota ini. Biar kita bisa nemuin si Lonan sialan itu!”

 

Chandra mengangguk. Ia segera menghubungi Satria.

 

“Halo ...!” sapa Satria dari ujung telepon begitu panggilan dari Chandra tersambung.

 

“Sat, pantau lalu lintas sekarang!” seru Lutfi.

 

“Ada apa?” tanya Satria.

 

“Kami lagi ngejar taksi yang dibawa Lonan. Kehilangan jejak. Kamu periksa CCTV kota! Biar kita bisa lihat pergerakan taksi itu.”

 

“Aku masih dinas. Kukasih nomor anggota, kalian langsung komunikasi sama anggotaku, ya!”

 

“Cepet! Cepet!” seru Lutfi.

 

Chandra menatap layar ponsel yang sudah mati. Kemudian, ia membaca pesan dari Satria yang mengirim nomor kontak anak buahnya.

 

“Udah dikasih nomornya?” tanya Lutfi.

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

“Buruan ditelepon!” perintah Lutfi sambil menjalankan kembali mobilnya saat lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau.

 

Chandra menganggukkan kepala. Mereka segera berkoordinasi dengan anak buah Satria untuk mencari posisi keberadaan taksi yang dibawa Lonan.

 

 ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 517 : Mencari Perlindungan

 


Melan mulai gelisah begitu ia kembali ke rumah. Ia menghubungi Lonan beberapa kali, tapi tidak mendapatkan jawaban.

 

“Ini orang ke mana, sih?” gumam Melan sambil memerhatikan layar ponsel. “Aku harus pastikan kalau dia nggak ketahuan. Kalau dia ketahuan, aku juga bisa habis.”

 

Melan mondar-mandir di dalam kamar sambil memeluk ponsel. Pikirannya terus tertuju pada pria yang ia cintai di masa lalunya.

 

“Huft, aku harus percaya sama dia!” tutur Melan sambil keluar dari kamar dan bergegas menuju dapur untuk mengambil air minum.

 

Meski mencoba untuk tenang, pikirannya tetap saja gelisah. Ia tidak ingin perbuatannya kali ini diketahui oleh siapa pun. Termasuk suami dan anaknya sendiri.

 

Tarudi yang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi, mulai memperhatikan Melan yang mondar-mandir beberapa kali.

 

“Ma ...!” panggil Tarudi sambil menoleh ke arah Melan yang sedang berada di dapur. “Mama ...!” panggilnya lagi karena tak mendapat sahutan. Padahal, jarak mereka tidak begitu jauh.

 

Tarudi bangkit dari sofa. Ia melangkah perlahan mendekati Melan yang sedang merebus air sambil melamun. “Ma ...!” panggilnya sambil menyentuh pundak Melan.

 

“Eh!? Papa!? Ada apa?” tanya Melan sambil menoleh ke arah Tarudi. Ia buru-buru membuka mie instan dan memasukkannya ke dalam air yang sudah mendidih.

 

“Mama kenapa? Hari ini aneh banget?” tanya Tarudi.

 

“Eh ... oh ... eh, nggak papa. Lagi banyak pikiran,” jawab Melan.

 

“Mikirin apa?” tanya Tarudi sambil memperhatikan wajah Melan.

 

Melan menghela napas. “Aku mikirin Bellina. Sampai sekarang, dia belum hamil juga. Gimana kalau keluarga Wijaya terus mendesak dia untuk punya anak? Kasihan anak kita.”

 

Tarudi tersenyum sambil menatap Melan. “Bellina pasti baik-baik aja. Dia sudah berkeluarga. Masalah rumah tangga mereka, biar mereka selesaikan sendiri.”

 

“Mama cuma nggak mau kalau Bellina terusir dari keluarga Wijaya karena nggak ngasih keturunan juga sampai sekarang.”

 

“Ma, apa yang Mama khawatirkan? Kalau keluarga Wijaya mengusir Bellina ... ada rumah kita. Papa masih sanggup menghidupi Bellina.”

 

Melan menghela napas. Ia mengangguk-anggukkan kepala sambil mematikan kompor. Pikirannya masih sibuk memikirkan apa yang sudah ia lakukan beberapa hari ini. Ia harap, Yuna tidak menemukan bukti apa pun untuk kasus tabrak lari yang menimpa ayahnya. Ia sangat khawatir setelah berhadapan dengan Yuna secara langsung.

 

Kejadian tabrak lari itu memang rencananya. Namun, ia tidak menyangka kalau akan segelisah ini setelah semuanya terjadi. Ia tidak ingin hidupnya berakhir di penjara karena kasus ini.

 

“Kak Adjie baik-baik aja. Pasti polisi tidak akan memperpanjang kasus ini,” batin Melan. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri yang sudah terlanjur masuk ke dalam perangkap yang ia buat.

 

Tarudi masih terus memperhatikan Melan. Ia tidak percaya begitu saja kalau Melan memikirkan kehamilan Bellina hingga terlihat sangat gelisah seperti sekarang ini.

 

“Ma, apa kecelakaan Kak Adjie kali ini ada hubungannya sama Mama?” tanya Tarudi menyelidik. Ia ingin melihat reaksi Melan saat ia mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan kecelakaan kakak kandungnya.

 

“Eh!? Nggak ada,” jawab Melan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak berani menatap wajah suaminya sedikit pun. Lebih memilih mengaduk bumbu mie instan yang sudah ia tuang ke dalam mangkuk.

 

Tarudi memperhatikan tangan Melan yang terus bergerak sambil gemetar. “Mama nggak bohong?”

 

“Nggak, Pa. Mama nggak tahu apa-apa,” jawab Melan.

 

“Kenapa gemetaran?”

 

“Eh!?” Melan langsung menoleh ke arah Tarudi.

 

“Kalau Mama bohongi Papa. Papa nggak akan bisa bantu Mama saat terjadi hal buruk nantinya.”

 

Melan langsung menatap iba ke arah Tarudi. “Ma-ma ... Mama nggak sengaja, Pa.”

 

“Nggak sengaja? Maksudnya?”

 

“Mama cuma mau ngasih peringatan untuk Kak Adjie. Bukan ingin membunuh dia. Mama nggak tahu kalau kejadiannya sampai separah itu dan ...” Melan menghentikan ucapannya saat mendapati tatapan dingin yang keluar dari mata suaminya.

 

“Jadi, Mama memang ada hubungannya sama kecelakaan kali ini?” tanya Tarudi lagi.

 

Melan menggelengkan kepalanya.

 

“Yang bener yang mana!?” tanya Tarudi mulai kesal.

 

Melan gemetaran, ia langsung meraih kedua lengan Tarudi. “Pa, Kak Adjie sekarang baik-baik aja. Apa Mama bisa diselamatkan?”

 

Tarudi menghela napas. “Kenapa Mama masih saja berulah? Apa nggak bisa hidup berdampingan dengan tenang? Kita ini sudah tua, Ma!”

 

“Mama cuma nggak mau, kehadiran Adjie membahayakan masa depan keluarga kita.”

 

“Tapi nggak seperti ini caranya!” sahut Tarudi kesal. “Apa yang Mama lakukan ini, sudah masuk ke dalam tindakan kriminal. Apa Mama pikir, akan mudah menghadapinya? Gimana kalau Yuna nggak terima dan membawa kasus ini ke pengadilan?”

 

“Apa sampai separah itu? Kak Adjie baik-baik aja. Seharusnya, semua bisa diselesaikan secara kekeluargaan ‘kan?”

 

Tarudi menghela napas sambil memijat keningnya yang berdenyut. Ia sangat kecewa dengan sikap istrinya yang kerap melakukan perbuatan tanpa memikirkan konsekuensi yang harus mereka tanggung.

 

“Pa, Mama akan minta maaf kalau memang mereka mengetahui semua yang sudah Mama lakukan hari ini. Mama nggak mau dipenjara, Pa.”

 

Tarudi menghela napas panjang. “Papa akan berusaha melindungi Mama. Tapi, kalau sampai Mama berbuat kesalahan lagi. Papa tidak akan memberikan kesempatan dan menolong Mama.”

 

Melan tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Mama janji, nggak akan melakukan hal berbahaya lagi!” tegas Melan sambil memeluk tubuh Tarudi. “Makasih ya, Pa!”

 

Tarudi menganggukkan kepala sambil membalas pelukan Melan. “Mama harus mengerti, apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Jangan sampai apa yang Mama lakukan menjadi bahaya untuk Mama sendiri!”

 

Melan menganggukkan kepala. “Makasih, Pa ...! Maafin Mama yang terlalu tergesa-gesa dan ceroboh.”

 

“Kak Adjie sudah menyerahkan perusahaan ke Papa. Tidak akan ada masalah karena dia sudah menandatangani perjanjian untuk tidak mengambil alih perusahaan.”

 

“Tapi, Pa ...”

 

“Sudahlah, Ma. Masalah perusahaan, biar Papa yang urus semuanya. Toh, Lian dan Bellina juga mengurus perusahaan dengan baik. Mama nggak perlu khawatir! Percayakan semuanya pada anak-anak kita!”

 

Melan menganggukkan kepala. Ia sedikit lega karena perusahaan yang sudah berada di tangan suaminya tidak akan beralih pada Adjie atau Yuna. Ia tidak ingin jatuh miskin dan menjadi bahan tertawaan banyak orang.

 

“Oh ya, Papa mau mie instan juga?” tanya Melan.

 

Tarudi menggelengkan kepala. “Mama makan sendiri aja!”

 

“Ya udah, Mama makan sendiri!” ucapnya sambil membawa mangkuk mie instan tersebut ke ruang keluarga. Ia menikmati mie instan sambil menonton televisi untuk mengalihkan kecurigaan suaminya. Ia ingin terlihat seperti biasanya walau perasaannya masih cemas.

 

Sesekali, Melan melirik jam dinding yang bergerak lebih lambat dari biasanya. Lima menit saja, baginya seperti bertahun-tahun. Ia menanti ponselnya berdering untuk mendapatkan informasi terbaru tentang Lonan. Ia harus memastikan kalau Lonan dalam keadaan baik dan tidak ketahuan oleh orang lain.

 

Di sebelahnya, Tarudi tetap saja memperhatikan gerak-gerik istrinya itu. Ia tidak ingin melihat istrinya berbuat ulah lagi dan membuat dirinya semakin sibuk di masa-masa yang seharusnya bisa menghabiskan masa tua dengan tenang dan damai bersama keluarga.

 

 ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 516 : Mencari Kutu dalam Jerami

 



“Yer, ada mainan baru?” tanya Lutfi saat empat sahabat itu berkumpul di rooftop salah satu rumah villa yang ia tinggali.

 

Yeriko menggelengkan kepala sambil menyesap kopi yang ada di tangannya.

 

“Bosen juga kalau udah lama nggak ada mainan. Kita balapan, yuk!” ajak Lutfi.

 

“Yeriko mana berani balapan semenjak ada istrinya,” sahut Chandra.

 

“Kalau nggak ketahuan sama istrimu, nggak papa kali, Yer,” tutur Lutfi.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku nggak mau balapan lagi bukan karena takut sama istriku.”

 

“Terus?”

 

“Aku nggak mau menantang bahaya. Yuna nggak akan melarang aku melakukan apa pun. Tapi dia bisa nangis-nangis kalau tahu aku balapan. Istriku lagi hamil, nggak usah ngajak aneh-aneh!”

 

“Hahaha.” Lutfi hanya tergelak mendengar ucapan Yeriko. Matanya kemudian tertuju pada Satria yang muncul dan menghampiri mereka.

 

“Bawa apa, Sat?” tanya Chandra sambil melihat kantong plastik yang ditenteng oleh Satria.

 

“Bawa makanan. Apa lagi? Bawa cewek? Nggak mungkin!” sahut Lutfi sambil tertawa.

 

“Mana enak kalo ngumpul, nggak ada makanan,” tutur Satria sambil meletakkan kantong plastik yang ia bawa ke atas meja. “Tuan rumah di sini nggak tahu diri. Masa, tamunya yang disuruh nyuguhin makanan?”

 

“Hehehe. Aku jarang menetap, Sat. Nggak ada makanan di rumahku. Berapa semuanya? Aku ganti,” jawab Lutfi sambil merogoh dompet di saku celananya. “Sama ongkos kirimnya, berapa?”

 

“Emangnya aku kurir!?” dengus Satria sambil melepas jaket dan menyampirkan ke punggung kursi kayu yang ada di belakangnya.

 

Lutfi dan yang lainnya hanya tertawa mendengar sahutan Satria.

 

“Eh, kamu nggak mau pura-pura jadi kurir demi menemukan cinta sejati, Sat?” tanya Lutfi.

 

“Apa-apaan!?” sahut Satria.

 

“Sekarang lagi ngetrend begitu, Sat. Pura-pura miskin untuk mendapatkan cinta sejati.”

 

“Halah ... itu kan produksi sinetronmu, Lut. Bukan kenyataan!”

 

“Hahaha.”

 

“Jadi tentara aja, banyak yang nggak mau. Apalagi jadi kurir?”

 

“Weh, jangan ngomong gitu! Kurir malah banyak jodohnya, Sat.”

 

“Aku bukan lagi ngomongin orang lain. Aku ngomongin diriku sendiri.”

 

“Hahaha. Kalau jadi tentara nggak laku, coba jadi kurir dulu!” sahut Lutfi.

 

“Nggak laku? Aku nggak jual diri. Aku yang bakal beli perempuan-perempuan itu. Enak aja ngatain aku nggak laku. Dikira aku barang etalase!?”

 

“Kamu tuh, Sat ... bukan barang etalase. Tapi barang yang diobral-obral di pinggiran pasar itu,” sahut Lutfi sambil tertawa lebar.

 

“Aseem kowe, Lut!”

 

“Sat, di rumah sakit Soetomo ... aku lihat ada perawat cantik. Main-mainlah ke sana! Siapa tahu jodohmu,” tutur Chandra.

 

“Sekalinya jodoh orang lain, hahaha,” sahut Satria sambil tergelak, membuat yang lainnya juga ikut tertawa.

 

“Sat, gimana? Udah ada info penyelidikan kasus tabrak lari kali ini?” tanya Yeriko.

 

Satria menggelengkan kepala. “Kejadian di malam hari, sulit untuk ditelusuri. Apalagi, plat mobil yang dia pakai juga plat palsu.”

 

“Udah kamu cek?” tanya Yeriko.

 

Satria menganggukkan kepala. “Sudah, Yer. Udah minta akses ke pemerintah Sulsel dan hasilnya ... itu mobil ada di sana. Kali ini, yang nabrak Oom Adjie ... sudah merencanakan dengan baik sebelumnya.”

 

“Pakai cara licik juga. Penjahat profesional kayaknya. Pasti, dia udah sering melakukan kejahatan supaya jejaknya nggak tertinggal.” Lutfi menimpali.

 

“Iya, Lut. Parah banget ini orang yang udah nyelakain Oom Adjie,” tutur Satria.

 

“Apa beneran nggak bisa dicari, Sat?”

 

“Dicari ya bisa, Yer. Nemuinnya yang sulit. Kayak nyari kutu dalam jerami.”

 

“Jarum dalam jerami kali, Sat!” protes Lutfi.

 

“Masih mudah nyari jarum, Lut. Pakai magnet aja bisa,” sahut Satria.

 

“Iya juga, ya?” tutut Lutfi sambil tertawa.

 

“Sat, nggak ada kejahatan yang benar-benar tidak meninggalkan jejak. Tetep harus ditemukan pelakunya!” pinta Chandra.

 

“Iya. Aku masih cari informasi terus, kok. Eh, tantenya Yuna gimana? Ada penemuan baru atau nggak?”

 

“Ada.”

 

“APA?” tanya Satria, Lutfi dan Yeriko bersamaan.

 

Chandra menatap ketiga sahabatnya satu per satu.

 

“Cepet, Chan ...!” seru Satria sambil memukul meja.

 

“Slow ...!” sahut Chandra sambil mengeluarkan foto dan kertas dari saku jaketnya.

 

Satria langsung menyambar kertas dan foto yang ada di tangan Chandra dan mengamatinya. “Ini Kakak Ipar Kecil? Kenapa fotonya sama Oom Rudi dan Oom Adjie ...?” Ia menghentikan ucapannya sambil menatap Chandra.

 

Chandra hanya tersenyum kecil menanggapi tatapan Satria.

 

Yeriko langsung menyambar foto dari tangan Satria. “Ini mamanya Yuna.”

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

“Serius!? Mirip banget sama Kakak Ipar Kecil waktu masih muda. Pantesan si Yuna cantik banget. Warisan dari mamanya,” tutur Satria.

 

“Sekilas, foto itu memang biasa. Tapi kisah di baliknya sangat luar biasa,” tutur Chandra.

 

“Maksudnya?” tanya Satria.

 

“Aku cerita singkat aja. Gini sejarahnya ... si Melan itu pacarnya Lonan.”

 

“Lonan siapa?” tanya Lutfi.

 

Chandra menghela napas sambil menatap Lutfi. “Ck, kalau aku lagi cerita ... jangan disela!”

 

“Oh, oke. Oke. Lanjut ...!”

 

“Melan ngejar-ngejar Tarudi karena uang yang dia punya. Sedangkan orang yang dicintai Tarudi adalah Arum, mamanya Yuna. Nah, si Arum dan Adjie ini dua orang yang saling mencintai. Tarudi dan Melan ... mereka menikah bukan karena saling mencintai. Melan memanfaatkannya saat Rudi merasa kecewa dengan pernikahan Adjie dan Arum ...”

 

“Jadi, mereka terlibat cinta segitiga? Kayak Yeriko, Yuna dan Lian?” tanya Satria.

 

“Kalau kisah cinta Kakak Ipar itu bukan cinta segitiga!” sahut Lutfi. “Cinta segi enam.”

 

“Kok bisa?” tanya Satria.

 

“Iya. Hitung ya! Yuna, Yeriko, Wilian, Andre, terus ... aku dan kamu. Hahaha,” tutur Lutfi sambil tertawa.

 

“Hahaha. Bener-bener!” sahut Satria. Ia dan Lutfi saling bertepuk tangan.

 

“Ada yang lucu?” tanya Yeriko sambil menatap tajam ke arah Satria dan Lutfi.

 

Satria dan Lutfi langsung terdiam saat itu juga.

 

“Bercanda, Yer,” tutur Lutfi lirih.

 

“Ck, aku lagi serius. Nggak usah bercanda terus!”

 

Satria dan Lutfi hanya tertawa mendengar ucapan Yeriko.

 

“Terus, Chan?” tanya Yeriko sambil menatap Chandra.

 

“Ya, gitulah. Dari riwayat hidup yang aku dapat. Si Lonan ini memang sering keluar-masuk penjara dengan kasus yang beragam.”

 

“Jangan-jangan, emang dia yang ada di balik ini semua, Chan? Soalnya, dia baru keluar dari penjara. Terus, ada pembunuhan berencana yang mengincar Oom Adjie,” tutur Satria.

 

Chandra menganggukkan kepala. “Aku juga curiga sama orang itu. Kemungkinan besar, pria itu yang membantu Melan melancarkan aksi-aksinya.”

 

“Udah kamu temuin keberadaan si Lonan itu?” tanya Yeriko.

 

“Masih aku cari, Yer. Dia nggak punya tempat tinggal tetap. Pindah-pindah hotel. Terakhir dia check-out dari Sheraton ... sehari sebelum kejadian tabrak lari itu.”

 

“Nah, pas banget!” seru Satria. “Kita harus selidiki terus orang itu. Tapi, kita juga nggak bisa nangkap orang tanpa bukti. Harus ngumpulkan bukti-bukti lebih dulu.”

 

“Nggak perlu bukti kalau orangnya sendiri bisa mengakui kejahatannya!” sahut Yeriko. “Aku akan selesaikan dengan caraku.”

 

“Jangan pakai emosi, Yer!” pinta Satria. “Jangan sampai kejadian ini bikin kamu gelap mata, gelap hati!”

 

Yeriko tersenyum kecil menanggapi ucapan Satria. “Tenang aja! Nggak sampai berbahaya banget,” ucapnya sambil menyulut batang rokok yang sudah ia jepit di sela-sela bibirnya.

 

“Biar kami yang urus, Yer!” pinta Lutfi. “Setelah Deny masuk penjara. Kami nggak ada mainan. Lumayanlah buat mainan kita. Udah lama nggak ngelakuin hal yang menyenangkan.”

 

Yeriko tersenyum kecil sambil mengangguk-anggukkan kepala. Mereka berempat berbincang banyak hal dengan serius diselingi dengan canda tawa.

 

  ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas