Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 518 : Memburu Lonan

 


“Chan, dia keluar!” seru Lutfi sambil menatap tubuh Lonan yang baru saja keluar dari lobi Tunjungan Hotel Surabaya.

 

Chandra mengangguk, ia langsung menyalakan mesin mobil begitu Lonan masuk ke dalam sebuah taksi.

 

“Cepetan, Chan ...!” seru Lutfi.

 

“Selow ...!” Ia menginjak gas perlahan sambil mengendalikan kemudinya mengikuti taksi yang membawa Lonan.

 

Lonan mulai menyadari kalau mobil Chandra mengikutinya saat ia sudah memasuki Jalan Kertajaya. “Pak, lebih cepet!” perintahnya pada supir taksi sambil menoleh ke belakang. “Ada yang ngikutin kita.”

 

Supir taksi itu langsung mengamati pergerakan mobil yang ada di belakangnya. “Masnya siapa? Kenapa dikejar-kejar orang?”

 

“Nggak usah banyak tanya! Jalan aja!”

 

“Waduh, saya nggak berani kalau sampai berurusan dengan masalah kriminal,” tutur supir tersebut.

 

Lonan langsung mengeluarkan pisau lipat dari dalam saku dan menghunuskan ke leher supir tersebut. “Gas terus atau mati?” tanyanya.

 

Supir taksi tersebut menahan napas sambil terus menginjak gas mobil agar bisa melaju lebih cepat lagi.

 

Lonan tersenyum sinis. Ia memindahkan posisi pisau tersebut ke dekat perut supir. Kepalanya terus menoleh ke belakang, mengamati pergerakan mobil Chandra yang mengikutinya.

 

Chandra terus mengikuti taksi yang membawa Lonan yang melaju kencang.

 

“Chan, kayaknya dia sudah sadar kalau kita ikuti,” tutur Lutfi. “Buruan bawa mobilnya! Jangan sampai kehilangan jejak!” seru Lutfi tak sabar.

 

Chandra tak menyahut, ia fokus menatap taksi yang sedari tadi mereka ikuti.

 

“Argh, lama ...!” seru Lutfi saat melihat Chandra tak kunjung mempercepat laju mobilnya. “Tukar posisi!”

 

Chandra langsung menoleh ke arah Lutfi.

 

“Buruan ...!” Tangan Lutfi langsung meraih kemudi sambil menatap jalanan.

 

Kepala Chandra menyusup ke bawah dada Lutfi, kakinya masih menginjak gas, sementara Lutfi mengendalikan posisi kemudi agar tetap stabil.

 

Hanya dalam hitungan detik, mereka sudah berganti posisi. Lutfi kini mengambil alih mobil Chandra. Ia langsung menginjak pedal gas, menambah kecepatan untuk mengejar taksi yang membawa Lonan.

 

Lutfi tersenyum sinis saat mobil yang ia kendarai sudah beriringan dengan taksi tersebut. Ia memperhatikan bayangan Lonan dari balik kaca, sengaja merapatkan mobilnya ke taksi tersebut.

 

Lonan mulai panik karena H. Legend berwarna hitam itu benar-benar mengikutinya. “Berhenti ...!” seru Lonan pada supir taksi tersebut.

 

Supir taksi itu langsung menginjak rem mobilnya. Membuat ban mobil yang melaju kencang itu berdecit keras.

 

Lonan memperhatikan H. Legend yang sudah melaju lebih cepat di hadapannya.

 

“Bangsat ...! Dia malah berhenti,” maki Lutfi sambil memperlambat laju mobil dan memutar kemudinya.

 

“Lut, ini jalan searah!” seru Chandra.

 

“Bodo amat!” sahut Lutfi. Ia tak peduli dengan mobil-mobil lain yang membunyikan klakson karena kelakuannya. Ia malah balas menyembunyikan klakson mobil tanpa henti.

 

Lonan terus memperhatikan pergerakan mobil yang sedang mengikutinya. Ia melepas safety belt yang mengikat tubuh supir yang ada di sampingnya. Membuka pintu mobil dan mendorong keluar tubuh supir itu dengan paksa.

 

“Woi ...! Mobil saya!” seru supir taksi itu saat ia tersungkur ke tepi jalan.

 

Lonan tak peduli. Ia langsung mengambil alih mobil tersebut dan melaju kencang.

 

“Taksiku, Mas!” seru supir tersebut. “Belum dapet setoran, malah apes! Kenapa aku bisa ketemu penjahat? Taksiku dibawa kabur. Bakalan dipecat sama bos!” rengek supir taksi tersebut sambil berguling di jalanan seperti anak kecil. Membuat beberapa mobil membunyikan klakson agar ia segera menyingkir.

 

“Lut, dia ngarah ke sini!” seru Chandra sambil mengamati taksi yang mengarah ke mobilnya. Sayangnya, mereka berselisih satu mobil karena Lutfi berjalan melawan arah.

 

Tin ... tin ... tin ...!

 

Lutfi terus menyembunyikan klakson. Ia mencari kesempatan untuk memutar balik mobil Chandra.

 

“Woi ...! Gila ya!” umpat beberapa pengendara mobil melihat kelakuan Lutfi yang sangat berbahaya.

 

“Lut, ini mobilku!” seru Chandra sambil berpegangan pada Hand Grip Plafon yang ada di mobilnya agar tubuhnya tak terbentur.

 

Lutfi tak menghiraukan ucapan Chandra. Ia semakin menggila dan mengejar taksi itu hingga masuk ke perkampungan kumuh.

 

“Gila ini orang, dia nguasai jalanan!” seru Lutfi saat melihat taksi yang dibawa Lonan masuk ke dalam gang perkampungan yang kotor dan bau.

 

“Mau masuk?”

 

“Di sana jalannya terlalu sempit. Banyak anak-anak dan warga yang jalan kaki. Terlalu berbahaya,” jawab Lutfi.

 

“Terus?”

 

Lutfi tersenyum sambil memainkan alisnya. “Aku punya cara lain.”

 

Chandra mengangkat kedua alisnya, ia masih tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan Lutfi.

 

Lutfi melajukan kembali mobilnya. Kemudian, ia berhenti di jalan lain sambil memperhatikan sebuah gang yang ada di hadapannya.

 

“Kenapa berhenti di sini?” tanya Chandra.

 

Lutfi menarik napas dalam-dalam, ia merentangkan kedua tangan dan melipatnya ke belakang kepala. “Tunggu aja lima belas menit lagi!” pinta Lutfi sambil menyandarkan kepalanya dengan santai.

 

“Kamu yakin kalau dia bakal keluar dari sini?” tanya Chandra.

 

“Lihat aja!” jawab Lutfi santai sambil memejamkan mata.

 

Chandra menghela napas sambil memperhatikan gang yang tak jauh dari hadapan mereka.

 

 

 

Lima belas menit kemudian ...

 

“Lut, dia datang!” seru Chandra begitu taksi yang dikendarai Lonan keluar dari gang yang sudah ditentukan Lutfi.

 

Lutfi tersenyum sambil membuka mata. Ia menyalakan mesin mobil dan mengikuti taksi tersebut perlahan karena Lonan belum menyadari kalau mereka masih mengikuti taksi tersebut.

 

“Nggak usah terlalu dekat, Lut! Biar dia nggak curiga.”

 

Lutfi mengangguk. Ia membawa mobil Chandra dengan santai sambil memperhatikan taksi yang ia ikuti dari kejauhan.

 

“Lut, abis ini kamu bawa mobilku ke bengkel! Lecet-lecet gini.”

 

Lutfi hanya tertawa kecil. “Gampang,” sahutnya santai.

 

“Lut, kayaknya dia mulai sadar kalau kita masih ngejar,” tutur Chandra saat melihat taksi yang dibawa Lonan bergerak lebih cepat.

 

Lutfi langsung menambah kecepatan mobil. “Dia mau main-main sama kita,” tuturnya sambil tersenyum sinis.

 

“Aargh ...! Sial ...!” seru Lutfi saat mereka terjebak lampu merah, sementara taksi yang dikendarai Lonan bergerak menjauhi mereka dengan kecepatan tinggi.

 

“Ck, kamu ini.”

 

“Hubungi Satria!” perintah Lutfi.

 

“Kenapa?”

 

“Dia bisa minta akses buat mantau lalu lintas lewat kamera CCTV yang ada di jalanan kota ini. Biar kita bisa nemuin si Lonan sialan itu!”

 

Chandra mengangguk. Ia segera menghubungi Satria.

 

“Halo ...!” sapa Satria dari ujung telepon begitu panggilan dari Chandra tersambung.

 

“Sat, pantau lalu lintas sekarang!” seru Lutfi.

 

“Ada apa?” tanya Satria.

 

“Kami lagi ngejar taksi yang dibawa Lonan. Kehilangan jejak. Kamu periksa CCTV kota! Biar kita bisa lihat pergerakan taksi itu.”

 

“Aku masih dinas. Kukasih nomor anggota, kalian langsung komunikasi sama anggotaku, ya!”

 

“Cepet! Cepet!” seru Lutfi.

 

Chandra menatap layar ponsel yang sudah mati. Kemudian, ia membaca pesan dari Satria yang mengirim nomor kontak anak buahnya.

 

“Udah dikasih nomornya?” tanya Lutfi.

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

“Buruan ditelepon!” perintah Lutfi sambil menjalankan kembali mobilnya saat lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau.

 

Chandra menganggukkan kepala. Mereka segera berkoordinasi dengan anak buah Satria untuk mencari posisi keberadaan taksi yang dibawa Lonan.

 

 ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas