“Chan, dia keluar!” seru
Lutfi sambil menatap tubuh Lonan yang baru saja keluar dari lobi Tunjungan
Hotel Surabaya.
Chandra mengangguk, ia
langsung menyalakan mesin mobil begitu Lonan masuk ke dalam sebuah taksi.
“Cepetan, Chan ...!” seru
Lutfi.
“Selow ...!” Ia menginjak gas
perlahan sambil mengendalikan kemudinya mengikuti taksi yang membawa Lonan.
Lonan mulai menyadari kalau
mobil Chandra mengikutinya saat ia sudah memasuki Jalan Kertajaya. “Pak, lebih
cepet!” perintahnya pada supir taksi sambil menoleh ke belakang. “Ada yang
ngikutin kita.”
Supir taksi itu langsung
mengamati pergerakan mobil yang ada di belakangnya. “Masnya siapa? Kenapa
dikejar-kejar orang?”
“Nggak usah banyak tanya!
Jalan aja!”
“Waduh, saya nggak berani
kalau sampai berurusan dengan masalah kriminal,” tutur supir tersebut.
Lonan langsung mengeluarkan
pisau lipat dari dalam saku dan menghunuskan ke leher supir tersebut. “Gas
terus atau mati?” tanyanya.
Supir taksi tersebut menahan
napas sambil terus menginjak gas mobil agar bisa melaju lebih cepat lagi.
Lonan tersenyum sinis. Ia
memindahkan posisi pisau tersebut ke dekat perut supir. Kepalanya terus menoleh
ke belakang, mengamati pergerakan mobil Chandra yang mengikutinya.
Chandra terus mengikuti taksi
yang membawa Lonan yang melaju kencang.
“Chan, kayaknya dia sudah
sadar kalau kita ikuti,” tutur Lutfi. “Buruan bawa mobilnya! Jangan sampai
kehilangan jejak!” seru Lutfi tak sabar.
Chandra tak menyahut, ia
fokus menatap taksi yang sedari tadi mereka ikuti.
“Argh, lama ...!” seru Lutfi
saat melihat Chandra tak kunjung mempercepat laju mobilnya. “Tukar posisi!”
Chandra langsung menoleh ke
arah Lutfi.
“Buruan ...!” Tangan Lutfi
langsung meraih kemudi sambil menatap jalanan.
Kepala Chandra menyusup ke
bawah dada Lutfi, kakinya masih menginjak gas, sementara Lutfi mengendalikan
posisi kemudi agar tetap stabil.
Hanya dalam hitungan detik,
mereka sudah berganti posisi. Lutfi kini mengambil alih mobil Chandra. Ia
langsung menginjak pedal gas, menambah kecepatan untuk mengejar taksi yang
membawa Lonan.
Lutfi tersenyum sinis saat
mobil yang ia kendarai sudah beriringan dengan taksi tersebut. Ia memperhatikan
bayangan Lonan dari balik kaca, sengaja merapatkan mobilnya ke taksi tersebut.
Lonan mulai panik karena H.
Legend berwarna hitam itu benar-benar mengikutinya. “Berhenti ...!” seru Lonan
pada supir taksi tersebut.
Supir taksi itu langsung
menginjak rem mobilnya. Membuat ban mobil yang melaju kencang itu berdecit
keras.
Lonan memperhatikan H. Legend
yang sudah melaju lebih cepat di hadapannya.
“Bangsat ...! Dia malah
berhenti,” maki Lutfi sambil memperlambat laju mobil dan memutar kemudinya.
“Lut, ini jalan searah!” seru
Chandra.
“Bodo amat!” sahut Lutfi. Ia
tak peduli dengan mobil-mobil lain yang membunyikan klakson karena kelakuannya.
Ia malah balas menyembunyikan klakson mobil tanpa henti.
Lonan terus memperhatikan
pergerakan mobil yang sedang mengikutinya. Ia melepas safety belt yang mengikat
tubuh supir yang ada di sampingnya. Membuka pintu mobil dan mendorong keluar
tubuh supir itu dengan paksa.
“Woi ...! Mobil saya!” seru
supir taksi itu saat ia tersungkur ke tepi jalan.
Lonan tak peduli. Ia langsung
mengambil alih mobil tersebut dan melaju kencang.
“Taksiku, Mas!” seru supir
tersebut. “Belum dapet setoran, malah apes! Kenapa aku bisa ketemu penjahat?
Taksiku dibawa kabur. Bakalan dipecat sama bos!” rengek supir taksi tersebut
sambil berguling di jalanan seperti anak kecil. Membuat beberapa mobil membunyikan
klakson agar ia segera menyingkir.
“Lut, dia ngarah ke sini!”
seru Chandra sambil mengamati taksi yang mengarah ke mobilnya. Sayangnya,
mereka berselisih satu mobil karena Lutfi berjalan melawan arah.
Tin ... tin ... tin ...!
Lutfi terus menyembunyikan
klakson. Ia mencari kesempatan untuk memutar balik mobil Chandra.
“Woi ...! Gila ya!” umpat
beberapa pengendara mobil melihat kelakuan Lutfi yang sangat berbahaya.
“Lut, ini mobilku!” seru
Chandra sambil berpegangan pada Hand Grip Plafon yang ada di mobilnya agar
tubuhnya tak terbentur.
Lutfi tak menghiraukan ucapan
Chandra. Ia semakin menggila dan mengejar taksi itu hingga masuk ke
perkampungan kumuh.
“Gila ini orang, dia nguasai
jalanan!” seru Lutfi saat melihat taksi yang dibawa Lonan masuk ke dalam gang
perkampungan yang kotor dan bau.
“Mau masuk?”
“Di sana jalannya terlalu
sempit. Banyak anak-anak dan warga yang jalan kaki. Terlalu berbahaya,” jawab
Lutfi.
“Terus?”
Lutfi tersenyum sambil
memainkan alisnya. “Aku punya cara lain.”
Chandra mengangkat kedua
alisnya, ia masih tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan Lutfi.
Lutfi melajukan kembali
mobilnya. Kemudian, ia berhenti di jalan lain sambil memperhatikan sebuah gang
yang ada di hadapannya.
“Kenapa berhenti di sini?”
tanya Chandra.
Lutfi menarik napas
dalam-dalam, ia merentangkan kedua tangan dan melipatnya ke belakang kepala.
“Tunggu aja lima belas menit lagi!” pinta Lutfi sambil menyandarkan kepalanya
dengan santai.
“Kamu yakin kalau dia bakal
keluar dari sini?” tanya Chandra.
“Lihat aja!” jawab Lutfi
santai sambil memejamkan mata.
Chandra menghela napas sambil
memperhatikan gang yang tak jauh dari hadapan mereka.
Lima belas menit kemudian ...
“Lut, dia datang!” seru
Chandra begitu taksi yang dikendarai Lonan keluar dari gang yang sudah
ditentukan Lutfi.
Lutfi tersenyum sambil
membuka mata. Ia menyalakan mesin mobil dan mengikuti taksi tersebut perlahan
karena Lonan belum menyadari kalau mereka masih mengikuti taksi tersebut.
“Nggak usah terlalu dekat,
Lut! Biar dia nggak curiga.”
Lutfi mengangguk. Ia membawa
mobil Chandra dengan santai sambil memperhatikan taksi yang ia ikuti dari
kejauhan.
“Lut, abis ini kamu bawa
mobilku ke bengkel! Lecet-lecet gini.”
Lutfi hanya tertawa kecil.
“Gampang,” sahutnya santai.
“Lut, kayaknya dia mulai
sadar kalau kita masih ngejar,” tutur Chandra saat melihat taksi yang dibawa
Lonan bergerak lebih cepat.
Lutfi langsung menambah
kecepatan mobil. “Dia mau main-main sama kita,” tuturnya sambil tersenyum
sinis.
“Aargh ...! Sial ...!” seru
Lutfi saat mereka terjebak lampu merah, sementara taksi yang dikendarai Lonan
bergerak menjauhi mereka dengan kecepatan tinggi.
“Ck, kamu ini.”
“Hubungi Satria!” perintah
Lutfi.
“Kenapa?”
“Dia bisa minta akses buat
mantau lalu lintas lewat kamera CCTV yang ada di jalanan kota ini. Biar kita
bisa nemuin si Lonan sialan itu!”
Chandra mengangguk. Ia segera
menghubungi Satria.
“Halo ...!” sapa Satria dari
ujung telepon begitu panggilan dari Chandra tersambung.
“Sat, pantau lalu lintas
sekarang!” seru Lutfi.
“Ada apa?” tanya Satria.
“Kami lagi ngejar taksi yang
dibawa Lonan. Kehilangan jejak. Kamu periksa CCTV kota! Biar kita bisa lihat
pergerakan taksi itu.”
“Aku masih dinas. Kukasih
nomor anggota, kalian langsung komunikasi sama anggotaku, ya!”
“Cepet! Cepet!” seru Lutfi.
Chandra menatap layar ponsel
yang sudah mati. Kemudian, ia membaca pesan dari Satria yang mengirim nomor
kontak anak buahnya.
“Udah dikasih nomornya?”
tanya Lutfi.
Chandra menganggukkan kepala.
“Buruan ditelepon!” perintah
Lutfi sambil menjalankan kembali mobilnya saat lampu lalu lintas sudah berubah
menjadi hijau.
Chandra menganggukkan kepala.
Mereka segera berkoordinasi dengan anak buah Satria untuk mencari posisi
keberadaan taksi yang dibawa Lonan.
((Bersambung
...))

0 komentar:
Post a Comment