Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 516 : Mencari Kutu dalam Jerami

 



“Yer, ada mainan baru?” tanya Lutfi saat empat sahabat itu berkumpul di rooftop salah satu rumah villa yang ia tinggali.

 

Yeriko menggelengkan kepala sambil menyesap kopi yang ada di tangannya.

 

“Bosen juga kalau udah lama nggak ada mainan. Kita balapan, yuk!” ajak Lutfi.

 

“Yeriko mana berani balapan semenjak ada istrinya,” sahut Chandra.

 

“Kalau nggak ketahuan sama istrimu, nggak papa kali, Yer,” tutur Lutfi.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku nggak mau balapan lagi bukan karena takut sama istriku.”

 

“Terus?”

 

“Aku nggak mau menantang bahaya. Yuna nggak akan melarang aku melakukan apa pun. Tapi dia bisa nangis-nangis kalau tahu aku balapan. Istriku lagi hamil, nggak usah ngajak aneh-aneh!”

 

“Hahaha.” Lutfi hanya tergelak mendengar ucapan Yeriko. Matanya kemudian tertuju pada Satria yang muncul dan menghampiri mereka.

 

“Bawa apa, Sat?” tanya Chandra sambil melihat kantong plastik yang ditenteng oleh Satria.

 

“Bawa makanan. Apa lagi? Bawa cewek? Nggak mungkin!” sahut Lutfi sambil tertawa.

 

“Mana enak kalo ngumpul, nggak ada makanan,” tutur Satria sambil meletakkan kantong plastik yang ia bawa ke atas meja. “Tuan rumah di sini nggak tahu diri. Masa, tamunya yang disuruh nyuguhin makanan?”

 

“Hehehe. Aku jarang menetap, Sat. Nggak ada makanan di rumahku. Berapa semuanya? Aku ganti,” jawab Lutfi sambil merogoh dompet di saku celananya. “Sama ongkos kirimnya, berapa?”

 

“Emangnya aku kurir!?” dengus Satria sambil melepas jaket dan menyampirkan ke punggung kursi kayu yang ada di belakangnya.

 

Lutfi dan yang lainnya hanya tertawa mendengar sahutan Satria.

 

“Eh, kamu nggak mau pura-pura jadi kurir demi menemukan cinta sejati, Sat?” tanya Lutfi.

 

“Apa-apaan!?” sahut Satria.

 

“Sekarang lagi ngetrend begitu, Sat. Pura-pura miskin untuk mendapatkan cinta sejati.”

 

“Halah ... itu kan produksi sinetronmu, Lut. Bukan kenyataan!”

 

“Hahaha.”

 

“Jadi tentara aja, banyak yang nggak mau. Apalagi jadi kurir?”

 

“Weh, jangan ngomong gitu! Kurir malah banyak jodohnya, Sat.”

 

“Aku bukan lagi ngomongin orang lain. Aku ngomongin diriku sendiri.”

 

“Hahaha. Kalau jadi tentara nggak laku, coba jadi kurir dulu!” sahut Lutfi.

 

“Nggak laku? Aku nggak jual diri. Aku yang bakal beli perempuan-perempuan itu. Enak aja ngatain aku nggak laku. Dikira aku barang etalase!?”

 

“Kamu tuh, Sat ... bukan barang etalase. Tapi barang yang diobral-obral di pinggiran pasar itu,” sahut Lutfi sambil tertawa lebar.

 

“Aseem kowe, Lut!”

 

“Sat, di rumah sakit Soetomo ... aku lihat ada perawat cantik. Main-mainlah ke sana! Siapa tahu jodohmu,” tutur Chandra.

 

“Sekalinya jodoh orang lain, hahaha,” sahut Satria sambil tergelak, membuat yang lainnya juga ikut tertawa.

 

“Sat, gimana? Udah ada info penyelidikan kasus tabrak lari kali ini?” tanya Yeriko.

 

Satria menggelengkan kepala. “Kejadian di malam hari, sulit untuk ditelusuri. Apalagi, plat mobil yang dia pakai juga plat palsu.”

 

“Udah kamu cek?” tanya Yeriko.

 

Satria menganggukkan kepala. “Sudah, Yer. Udah minta akses ke pemerintah Sulsel dan hasilnya ... itu mobil ada di sana. Kali ini, yang nabrak Oom Adjie ... sudah merencanakan dengan baik sebelumnya.”

 

“Pakai cara licik juga. Penjahat profesional kayaknya. Pasti, dia udah sering melakukan kejahatan supaya jejaknya nggak tertinggal.” Lutfi menimpali.

 

“Iya, Lut. Parah banget ini orang yang udah nyelakain Oom Adjie,” tutur Satria.

 

“Apa beneran nggak bisa dicari, Sat?”

 

“Dicari ya bisa, Yer. Nemuinnya yang sulit. Kayak nyari kutu dalam jerami.”

 

“Jarum dalam jerami kali, Sat!” protes Lutfi.

 

“Masih mudah nyari jarum, Lut. Pakai magnet aja bisa,” sahut Satria.

 

“Iya juga, ya?” tutut Lutfi sambil tertawa.

 

“Sat, nggak ada kejahatan yang benar-benar tidak meninggalkan jejak. Tetep harus ditemukan pelakunya!” pinta Chandra.

 

“Iya. Aku masih cari informasi terus, kok. Eh, tantenya Yuna gimana? Ada penemuan baru atau nggak?”

 

“Ada.”

 

“APA?” tanya Satria, Lutfi dan Yeriko bersamaan.

 

Chandra menatap ketiga sahabatnya satu per satu.

 

“Cepet, Chan ...!” seru Satria sambil memukul meja.

 

“Slow ...!” sahut Chandra sambil mengeluarkan foto dan kertas dari saku jaketnya.

 

Satria langsung menyambar kertas dan foto yang ada di tangan Chandra dan mengamatinya. “Ini Kakak Ipar Kecil? Kenapa fotonya sama Oom Rudi dan Oom Adjie ...?” Ia menghentikan ucapannya sambil menatap Chandra.

 

Chandra hanya tersenyum kecil menanggapi tatapan Satria.

 

Yeriko langsung menyambar foto dari tangan Satria. “Ini mamanya Yuna.”

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

“Serius!? Mirip banget sama Kakak Ipar Kecil waktu masih muda. Pantesan si Yuna cantik banget. Warisan dari mamanya,” tutur Satria.

 

“Sekilas, foto itu memang biasa. Tapi kisah di baliknya sangat luar biasa,” tutur Chandra.

 

“Maksudnya?” tanya Satria.

 

“Aku cerita singkat aja. Gini sejarahnya ... si Melan itu pacarnya Lonan.”

 

“Lonan siapa?” tanya Lutfi.

 

Chandra menghela napas sambil menatap Lutfi. “Ck, kalau aku lagi cerita ... jangan disela!”

 

“Oh, oke. Oke. Lanjut ...!”

 

“Melan ngejar-ngejar Tarudi karena uang yang dia punya. Sedangkan orang yang dicintai Tarudi adalah Arum, mamanya Yuna. Nah, si Arum dan Adjie ini dua orang yang saling mencintai. Tarudi dan Melan ... mereka menikah bukan karena saling mencintai. Melan memanfaatkannya saat Rudi merasa kecewa dengan pernikahan Adjie dan Arum ...”

 

“Jadi, mereka terlibat cinta segitiga? Kayak Yeriko, Yuna dan Lian?” tanya Satria.

 

“Kalau kisah cinta Kakak Ipar itu bukan cinta segitiga!” sahut Lutfi. “Cinta segi enam.”

 

“Kok bisa?” tanya Satria.

 

“Iya. Hitung ya! Yuna, Yeriko, Wilian, Andre, terus ... aku dan kamu. Hahaha,” tutur Lutfi sambil tertawa.

 

“Hahaha. Bener-bener!” sahut Satria. Ia dan Lutfi saling bertepuk tangan.

 

“Ada yang lucu?” tanya Yeriko sambil menatap tajam ke arah Satria dan Lutfi.

 

Satria dan Lutfi langsung terdiam saat itu juga.

 

“Bercanda, Yer,” tutur Lutfi lirih.

 

“Ck, aku lagi serius. Nggak usah bercanda terus!”

 

Satria dan Lutfi hanya tertawa mendengar ucapan Yeriko.

 

“Terus, Chan?” tanya Yeriko sambil menatap Chandra.

 

“Ya, gitulah. Dari riwayat hidup yang aku dapat. Si Lonan ini memang sering keluar-masuk penjara dengan kasus yang beragam.”

 

“Jangan-jangan, emang dia yang ada di balik ini semua, Chan? Soalnya, dia baru keluar dari penjara. Terus, ada pembunuhan berencana yang mengincar Oom Adjie,” tutur Satria.

 

Chandra menganggukkan kepala. “Aku juga curiga sama orang itu. Kemungkinan besar, pria itu yang membantu Melan melancarkan aksi-aksinya.”

 

“Udah kamu temuin keberadaan si Lonan itu?” tanya Yeriko.

 

“Masih aku cari, Yer. Dia nggak punya tempat tinggal tetap. Pindah-pindah hotel. Terakhir dia check-out dari Sheraton ... sehari sebelum kejadian tabrak lari itu.”

 

“Nah, pas banget!” seru Satria. “Kita harus selidiki terus orang itu. Tapi, kita juga nggak bisa nangkap orang tanpa bukti. Harus ngumpulkan bukti-bukti lebih dulu.”

 

“Nggak perlu bukti kalau orangnya sendiri bisa mengakui kejahatannya!” sahut Yeriko. “Aku akan selesaikan dengan caraku.”

 

“Jangan pakai emosi, Yer!” pinta Satria. “Jangan sampai kejadian ini bikin kamu gelap mata, gelap hati!”

 

Yeriko tersenyum kecil menanggapi ucapan Satria. “Tenang aja! Nggak sampai berbahaya banget,” ucapnya sambil menyulut batang rokok yang sudah ia jepit di sela-sela bibirnya.

 

“Biar kami yang urus, Yer!” pinta Lutfi. “Setelah Deny masuk penjara. Kami nggak ada mainan. Lumayanlah buat mainan kita. Udah lama nggak ngelakuin hal yang menyenangkan.”

 

Yeriko tersenyum kecil sambil mengangguk-anggukkan kepala. Mereka berempat berbincang banyak hal dengan serius diselingi dengan canda tawa.

 

  ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas