“Yer, ada mainan baru?” tanya Lutfi saat empat sahabat itu berkumpul di rooftop salah satu rumah villa yang ia tinggali.
Yeriko menggelengkan kepala
sambil menyesap kopi yang ada di tangannya.
“Bosen juga kalau udah lama
nggak ada mainan. Kita balapan, yuk!” ajak Lutfi.
“Yeriko mana berani balapan
semenjak ada istrinya,” sahut Chandra.
“Kalau nggak ketahuan sama
istrimu, nggak papa kali, Yer,” tutur Lutfi.
Yeriko menggelengkan kepala.
“Aku nggak mau balapan lagi bukan karena takut sama istriku.”
“Terus?”
“Aku nggak mau menantang
bahaya. Yuna nggak akan melarang aku melakukan apa pun. Tapi dia bisa
nangis-nangis kalau tahu aku balapan. Istriku lagi hamil, nggak usah ngajak
aneh-aneh!”
“Hahaha.” Lutfi hanya
tergelak mendengar ucapan Yeriko. Matanya kemudian tertuju pada Satria yang
muncul dan menghampiri mereka.
“Bawa apa, Sat?” tanya
Chandra sambil melihat kantong plastik yang ditenteng oleh Satria.
“Bawa makanan. Apa lagi? Bawa
cewek? Nggak mungkin!” sahut Lutfi sambil tertawa.
“Mana enak kalo ngumpul,
nggak ada makanan,” tutur Satria sambil meletakkan kantong plastik yang ia bawa
ke atas meja. “Tuan rumah di sini nggak tahu diri. Masa, tamunya yang disuruh
nyuguhin makanan?”
“Hehehe. Aku jarang menetap,
Sat. Nggak ada makanan di rumahku. Berapa semuanya? Aku ganti,” jawab Lutfi
sambil merogoh dompet di saku celananya. “Sama ongkos kirimnya, berapa?”
“Emangnya aku kurir!?” dengus
Satria sambil melepas jaket dan menyampirkan ke punggung kursi kayu yang ada di
belakangnya.
Lutfi dan yang lainnya hanya
tertawa mendengar sahutan Satria.
“Eh, kamu nggak mau pura-pura
jadi kurir demi menemukan cinta sejati, Sat?” tanya Lutfi.
“Apa-apaan!?” sahut Satria.
“Sekarang lagi ngetrend
begitu, Sat. Pura-pura miskin untuk mendapatkan cinta sejati.”
“Halah ... itu kan produksi
sinetronmu, Lut. Bukan kenyataan!”
“Hahaha.”
“Jadi tentara aja, banyak
yang nggak mau. Apalagi jadi kurir?”
“Weh, jangan ngomong gitu!
Kurir malah banyak jodohnya, Sat.”
“Aku bukan lagi ngomongin
orang lain. Aku ngomongin diriku sendiri.”
“Hahaha. Kalau jadi tentara
nggak laku, coba jadi kurir dulu!” sahut Lutfi.
“Nggak laku? Aku nggak jual
diri. Aku yang bakal beli perempuan-perempuan itu. Enak aja ngatain aku nggak
laku. Dikira aku barang etalase!?”
“Kamu tuh, Sat ... bukan
barang etalase. Tapi barang yang diobral-obral di pinggiran pasar itu,” sahut
Lutfi sambil tertawa lebar.
“Aseem kowe, Lut!”
“Sat, di rumah sakit Soetomo
... aku lihat ada perawat cantik. Main-mainlah ke sana! Siapa tahu jodohmu,”
tutur Chandra.
“Sekalinya jodoh orang lain,
hahaha,” sahut Satria sambil tergelak, membuat yang lainnya juga ikut tertawa.
“Sat, gimana? Udah ada info
penyelidikan kasus tabrak lari kali ini?” tanya Yeriko.
Satria menggelengkan kepala.
“Kejadian di malam hari, sulit untuk ditelusuri. Apalagi, plat mobil yang dia
pakai juga plat palsu.”
“Udah kamu cek?” tanya
Yeriko.
Satria menganggukkan kepala.
“Sudah, Yer. Udah minta akses ke pemerintah Sulsel dan hasilnya ... itu mobil
ada di sana. Kali ini, yang nabrak Oom Adjie ... sudah merencanakan dengan baik
sebelumnya.”
“Pakai cara licik juga.
Penjahat profesional kayaknya. Pasti, dia udah sering melakukan kejahatan
supaya jejaknya nggak tertinggal.” Lutfi menimpali.
“Iya, Lut. Parah banget ini
orang yang udah nyelakain Oom Adjie,” tutur Satria.
“Apa beneran nggak bisa
dicari, Sat?”
“Dicari ya bisa, Yer.
Nemuinnya yang sulit. Kayak nyari kutu dalam jerami.”
“Jarum dalam jerami kali,
Sat!” protes Lutfi.
“Masih mudah nyari jarum,
Lut. Pakai magnet aja bisa,” sahut Satria.
“Iya juga, ya?” tutut Lutfi
sambil tertawa.
“Sat, nggak ada kejahatan
yang benar-benar tidak meninggalkan jejak. Tetep harus ditemukan pelakunya!”
pinta Chandra.
“Iya. Aku masih cari
informasi terus, kok. Eh, tantenya Yuna gimana? Ada penemuan baru atau nggak?”
“Ada.”
“APA?” tanya Satria, Lutfi
dan Yeriko bersamaan.
Chandra menatap ketiga
sahabatnya satu per satu.
“Cepet, Chan ...!” seru
Satria sambil memukul meja.
“Slow ...!” sahut Chandra
sambil mengeluarkan foto dan kertas dari saku jaketnya.
Satria langsung menyambar
kertas dan foto yang ada di tangan Chandra dan mengamatinya. “Ini Kakak Ipar
Kecil? Kenapa fotonya sama Oom Rudi dan Oom Adjie ...?” Ia menghentikan
ucapannya sambil menatap Chandra.
Chandra hanya tersenyum kecil
menanggapi tatapan Satria.
Yeriko langsung menyambar
foto dari tangan Satria. “Ini mamanya Yuna.”
Chandra menganggukkan kepala.
“Serius!? Mirip banget sama
Kakak Ipar Kecil waktu masih muda. Pantesan si Yuna cantik banget. Warisan dari
mamanya,” tutur Satria.
“Sekilas, foto itu memang
biasa. Tapi kisah di baliknya sangat luar biasa,” tutur Chandra.
“Maksudnya?” tanya Satria.
“Aku cerita singkat aja. Gini
sejarahnya ... si Melan itu pacarnya Lonan.”
“Lonan siapa?” tanya Lutfi.
Chandra menghela napas sambil
menatap Lutfi. “Ck, kalau aku lagi cerita ... jangan disela!”
“Oh, oke. Oke. Lanjut ...!”
“Melan ngejar-ngejar Tarudi
karena uang yang dia punya. Sedangkan orang yang dicintai Tarudi adalah Arum,
mamanya Yuna. Nah, si Arum dan Adjie ini dua orang yang saling mencintai.
Tarudi dan Melan ... mereka menikah bukan karena saling mencintai. Melan memanfaatkannya
saat Rudi merasa kecewa dengan pernikahan Adjie dan Arum ...”
“Jadi, mereka terlibat cinta
segitiga? Kayak Yeriko, Yuna dan Lian?” tanya Satria.
“Kalau kisah cinta Kakak Ipar
itu bukan cinta segitiga!” sahut Lutfi. “Cinta segi enam.”
“Kok bisa?” tanya Satria.
“Iya. Hitung ya! Yuna,
Yeriko, Wilian, Andre, terus ... aku dan kamu. Hahaha,” tutur Lutfi sambil
tertawa.
“Hahaha. Bener-bener!” sahut
Satria. Ia dan Lutfi saling bertepuk tangan.
“Ada yang lucu?” tanya Yeriko
sambil menatap tajam ke arah Satria dan Lutfi.
Satria dan Lutfi langsung
terdiam saat itu juga.
“Bercanda, Yer,” tutur Lutfi
lirih.
“Ck, aku lagi serius. Nggak
usah bercanda terus!”
Satria dan Lutfi hanya
tertawa mendengar ucapan Yeriko.
“Terus, Chan?” tanya Yeriko
sambil menatap Chandra.
“Ya, gitulah. Dari riwayat
hidup yang aku dapat. Si Lonan ini memang sering keluar-masuk penjara dengan
kasus yang beragam.”
“Jangan-jangan, emang dia
yang ada di balik ini semua, Chan? Soalnya, dia baru keluar dari penjara.
Terus, ada pembunuhan berencana yang mengincar Oom Adjie,” tutur Satria.
Chandra menganggukkan kepala.
“Aku juga curiga sama orang itu. Kemungkinan besar, pria itu yang membantu
Melan melancarkan aksi-aksinya.”
“Udah kamu temuin keberadaan
si Lonan itu?” tanya Yeriko.
“Masih aku cari, Yer. Dia
nggak punya tempat tinggal tetap. Pindah-pindah hotel. Terakhir dia check-out
dari Sheraton ... sehari sebelum kejadian tabrak lari itu.”
“Nah, pas banget!” seru
Satria. “Kita harus selidiki terus orang itu. Tapi, kita juga nggak bisa
nangkap orang tanpa bukti. Harus ngumpulkan bukti-bukti lebih dulu.”
“Nggak perlu bukti kalau
orangnya sendiri bisa mengakui kejahatannya!” sahut Yeriko. “Aku akan
selesaikan dengan caraku.”
“Jangan pakai emosi, Yer!”
pinta Satria. “Jangan sampai kejadian ini bikin kamu gelap mata, gelap hati!”
Yeriko tersenyum kecil
menanggapi ucapan Satria. “Tenang aja! Nggak sampai berbahaya banget,” ucapnya
sambil menyulut batang rokok yang sudah ia jepit di sela-sela bibirnya.
“Biar kami yang urus, Yer!”
pinta Lutfi. “Setelah Deny masuk penjara. Kami nggak ada mainan. Lumayanlah
buat mainan kita. Udah lama nggak ngelakuin hal yang menyenangkan.”
Yeriko tersenyum kecil sambil
mengangguk-anggukkan kepala. Mereka berempat berbincang banyak hal dengan
serius diselingi dengan canda tawa.
((Bersambung
...))

0 komentar:
Post a Comment