Melan mulai gelisah begitu ia
kembali ke rumah. Ia menghubungi Lonan beberapa kali, tapi tidak mendapatkan
jawaban.
“Ini orang ke mana, sih?”
gumam Melan sambil memerhatikan layar ponsel. “Aku harus pastikan kalau dia
nggak ketahuan. Kalau dia ketahuan, aku juga bisa habis.”
Melan mondar-mandir di dalam
kamar sambil memeluk ponsel. Pikirannya terus tertuju pada pria yang ia cintai
di masa lalunya.
“Huft, aku harus percaya sama
dia!” tutur Melan sambil keluar dari kamar dan bergegas menuju dapur untuk
mengambil air minum.
Meski mencoba untuk tenang,
pikirannya tetap saja gelisah. Ia tidak ingin perbuatannya kali ini diketahui
oleh siapa pun. Termasuk suami dan anaknya sendiri.
Tarudi yang duduk di ruang
keluarga sambil menonton televisi, mulai memperhatikan Melan yang mondar-mandir
beberapa kali.
“Ma ...!” panggil Tarudi
sambil menoleh ke arah Melan yang sedang berada di dapur. “Mama ...!”
panggilnya lagi karena tak mendapat sahutan. Padahal, jarak mereka tidak begitu
jauh.
Tarudi bangkit dari sofa. Ia
melangkah perlahan mendekati Melan yang sedang merebus air sambil melamun. “Ma
...!” panggilnya sambil menyentuh pundak Melan.
“Eh!? Papa!? Ada apa?” tanya
Melan sambil menoleh ke arah Tarudi. Ia buru-buru membuka mie instan dan
memasukkannya ke dalam air yang sudah mendidih.
“Mama kenapa? Hari ini aneh
banget?” tanya Tarudi.
“Eh ... oh ... eh, nggak
papa. Lagi banyak pikiran,” jawab Melan.
“Mikirin apa?” tanya Tarudi
sambil memperhatikan wajah Melan.
Melan menghela napas. “Aku
mikirin Bellina. Sampai sekarang, dia belum hamil juga. Gimana kalau keluarga
Wijaya terus mendesak dia untuk punya anak? Kasihan anak kita.”
Tarudi tersenyum sambil
menatap Melan. “Bellina pasti baik-baik aja. Dia sudah berkeluarga. Masalah
rumah tangga mereka, biar mereka selesaikan sendiri.”
“Mama cuma nggak mau kalau
Bellina terusir dari keluarga Wijaya karena nggak ngasih keturunan juga sampai
sekarang.”
“Ma, apa yang Mama
khawatirkan? Kalau keluarga Wijaya mengusir Bellina ... ada rumah kita. Papa
masih sanggup menghidupi Bellina.”
Melan menghela napas. Ia
mengangguk-anggukkan kepala sambil mematikan kompor. Pikirannya masih sibuk
memikirkan apa yang sudah ia lakukan beberapa hari ini. Ia harap, Yuna tidak
menemukan bukti apa pun untuk kasus tabrak lari yang menimpa ayahnya. Ia sangat
khawatir setelah berhadapan dengan Yuna secara langsung.
Kejadian tabrak lari itu
memang rencananya. Namun, ia tidak menyangka kalau akan segelisah ini setelah
semuanya terjadi. Ia tidak ingin hidupnya berakhir di penjara karena kasus ini.
“Kak Adjie baik-baik aja.
Pasti polisi tidak akan memperpanjang kasus ini,” batin Melan. Ia berusaha
menenangkan dirinya sendiri yang sudah terlanjur masuk ke dalam perangkap yang
ia buat.
Tarudi masih terus
memperhatikan Melan. Ia tidak percaya begitu saja kalau Melan memikirkan
kehamilan Bellina hingga terlihat sangat gelisah seperti sekarang ini.
“Ma, apa kecelakaan Kak Adjie
kali ini ada hubungannya sama Mama?” tanya Tarudi menyelidik. Ia ingin melihat
reaksi Melan saat ia mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan kecelakaan
kakak kandungnya.
“Eh!? Nggak ada,” jawab Melan
sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak berani menatap wajah suaminya
sedikit pun. Lebih memilih mengaduk bumbu mie instan yang sudah ia tuang ke
dalam mangkuk.
Tarudi memperhatikan tangan
Melan yang terus bergerak sambil gemetar. “Mama nggak bohong?”
“Nggak, Pa. Mama nggak tahu
apa-apa,” jawab Melan.
“Kenapa gemetaran?”
“Eh!?” Melan langsung menoleh
ke arah Tarudi.
“Kalau Mama bohongi Papa.
Papa nggak akan bisa bantu Mama saat terjadi hal buruk nantinya.”
Melan langsung menatap iba ke
arah Tarudi. “Ma-ma ... Mama nggak sengaja, Pa.”
“Nggak sengaja? Maksudnya?”
“Mama cuma mau ngasih
peringatan untuk Kak Adjie. Bukan ingin membunuh dia. Mama nggak tahu kalau
kejadiannya sampai separah itu dan ...” Melan menghentikan ucapannya saat
mendapati tatapan dingin yang keluar dari mata suaminya.
“Jadi, Mama memang ada
hubungannya sama kecelakaan kali ini?” tanya Tarudi lagi.
Melan menggelengkan
kepalanya.
“Yang bener yang mana!?”
tanya Tarudi mulai kesal.
Melan gemetaran, ia langsung
meraih kedua lengan Tarudi. “Pa, Kak Adjie sekarang baik-baik aja. Apa Mama
bisa diselamatkan?”
Tarudi menghela napas.
“Kenapa Mama masih saja berulah? Apa nggak bisa hidup berdampingan dengan
tenang? Kita ini sudah tua, Ma!”
“Mama cuma nggak mau,
kehadiran Adjie membahayakan masa depan keluarga kita.”
“Tapi nggak seperti ini
caranya!” sahut Tarudi kesal. “Apa yang Mama lakukan ini, sudah masuk ke dalam
tindakan kriminal. Apa Mama pikir, akan mudah menghadapinya? Gimana kalau Yuna
nggak terima dan membawa kasus ini ke pengadilan?”
“Apa sampai separah itu? Kak
Adjie baik-baik aja. Seharusnya, semua bisa diselesaikan secara kekeluargaan
‘kan?”
Tarudi menghela napas sambil
memijat keningnya yang berdenyut. Ia sangat kecewa dengan sikap istrinya yang
kerap melakukan perbuatan tanpa memikirkan konsekuensi yang harus mereka
tanggung.
“Pa, Mama akan minta maaf
kalau memang mereka mengetahui semua yang sudah Mama lakukan hari ini. Mama
nggak mau dipenjara, Pa.”
Tarudi menghela napas
panjang. “Papa akan berusaha melindungi Mama. Tapi, kalau sampai Mama berbuat
kesalahan lagi. Papa tidak akan memberikan kesempatan dan menolong Mama.”
Melan tersenyum sambil
menganggukkan kepala. “Mama janji, nggak akan melakukan hal berbahaya lagi!”
tegas Melan sambil memeluk tubuh Tarudi. “Makasih ya, Pa!”
Tarudi menganggukkan kepala
sambil membalas pelukan Melan. “Mama harus mengerti, apa yang boleh dilakukan
dan tidak boleh dilakukan. Jangan sampai apa yang Mama lakukan menjadi bahaya
untuk Mama sendiri!”
Melan menganggukkan kepala.
“Makasih, Pa ...! Maafin Mama yang terlalu tergesa-gesa dan ceroboh.”
“Kak Adjie sudah menyerahkan
perusahaan ke Papa. Tidak akan ada masalah karena dia sudah menandatangani
perjanjian untuk tidak mengambil alih perusahaan.”
“Tapi, Pa ...”
“Sudahlah, Ma. Masalah
perusahaan, biar Papa yang urus semuanya. Toh, Lian dan Bellina juga mengurus
perusahaan dengan baik. Mama nggak perlu khawatir! Percayakan semuanya pada
anak-anak kita!”
Melan menganggukkan kepala.
Ia sedikit lega karena perusahaan yang sudah berada di tangan suaminya tidak
akan beralih pada Adjie atau Yuna. Ia tidak ingin jatuh miskin dan menjadi
bahan tertawaan banyak orang.
“Oh ya, Papa mau mie instan
juga?” tanya Melan.
Tarudi menggelengkan kepala.
“Mama makan sendiri aja!”
“Ya udah, Mama makan
sendiri!” ucapnya sambil membawa mangkuk mie instan tersebut ke ruang keluarga.
Ia menikmati mie instan sambil menonton televisi untuk mengalihkan kecurigaan
suaminya. Ia ingin terlihat seperti biasanya walau perasaannya masih cemas.
Sesekali, Melan melirik jam
dinding yang bergerak lebih lambat dari biasanya. Lima menit saja, baginya
seperti bertahun-tahun. Ia menanti ponselnya berdering untuk mendapatkan
informasi terbaru tentang Lonan. Ia harus memastikan kalau Lonan dalam keadaan
baik dan tidak ketahuan oleh orang lain.
Di sebelahnya, Tarudi tetap
saja memperhatikan gerak-gerik istrinya itu. Ia tidak ingin melihat istrinya
berbuat ulah lagi dan membuat dirinya semakin sibuk di masa-masa yang
seharusnya bisa menghabiskan masa tua dengan tenang dan damai bersama keluarga.
((Bersambung
...))

0 komentar:
Post a Comment