Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 517 : Mencari Perlindungan

 


Melan mulai gelisah begitu ia kembali ke rumah. Ia menghubungi Lonan beberapa kali, tapi tidak mendapatkan jawaban.

 

“Ini orang ke mana, sih?” gumam Melan sambil memerhatikan layar ponsel. “Aku harus pastikan kalau dia nggak ketahuan. Kalau dia ketahuan, aku juga bisa habis.”

 

Melan mondar-mandir di dalam kamar sambil memeluk ponsel. Pikirannya terus tertuju pada pria yang ia cintai di masa lalunya.

 

“Huft, aku harus percaya sama dia!” tutur Melan sambil keluar dari kamar dan bergegas menuju dapur untuk mengambil air minum.

 

Meski mencoba untuk tenang, pikirannya tetap saja gelisah. Ia tidak ingin perbuatannya kali ini diketahui oleh siapa pun. Termasuk suami dan anaknya sendiri.

 

Tarudi yang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi, mulai memperhatikan Melan yang mondar-mandir beberapa kali.

 

“Ma ...!” panggil Tarudi sambil menoleh ke arah Melan yang sedang berada di dapur. “Mama ...!” panggilnya lagi karena tak mendapat sahutan. Padahal, jarak mereka tidak begitu jauh.

 

Tarudi bangkit dari sofa. Ia melangkah perlahan mendekati Melan yang sedang merebus air sambil melamun. “Ma ...!” panggilnya sambil menyentuh pundak Melan.

 

“Eh!? Papa!? Ada apa?” tanya Melan sambil menoleh ke arah Tarudi. Ia buru-buru membuka mie instan dan memasukkannya ke dalam air yang sudah mendidih.

 

“Mama kenapa? Hari ini aneh banget?” tanya Tarudi.

 

“Eh ... oh ... eh, nggak papa. Lagi banyak pikiran,” jawab Melan.

 

“Mikirin apa?” tanya Tarudi sambil memperhatikan wajah Melan.

 

Melan menghela napas. “Aku mikirin Bellina. Sampai sekarang, dia belum hamil juga. Gimana kalau keluarga Wijaya terus mendesak dia untuk punya anak? Kasihan anak kita.”

 

Tarudi tersenyum sambil menatap Melan. “Bellina pasti baik-baik aja. Dia sudah berkeluarga. Masalah rumah tangga mereka, biar mereka selesaikan sendiri.”

 

“Mama cuma nggak mau kalau Bellina terusir dari keluarga Wijaya karena nggak ngasih keturunan juga sampai sekarang.”

 

“Ma, apa yang Mama khawatirkan? Kalau keluarga Wijaya mengusir Bellina ... ada rumah kita. Papa masih sanggup menghidupi Bellina.”

 

Melan menghela napas. Ia mengangguk-anggukkan kepala sambil mematikan kompor. Pikirannya masih sibuk memikirkan apa yang sudah ia lakukan beberapa hari ini. Ia harap, Yuna tidak menemukan bukti apa pun untuk kasus tabrak lari yang menimpa ayahnya. Ia sangat khawatir setelah berhadapan dengan Yuna secara langsung.

 

Kejadian tabrak lari itu memang rencananya. Namun, ia tidak menyangka kalau akan segelisah ini setelah semuanya terjadi. Ia tidak ingin hidupnya berakhir di penjara karena kasus ini.

 

“Kak Adjie baik-baik aja. Pasti polisi tidak akan memperpanjang kasus ini,” batin Melan. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri yang sudah terlanjur masuk ke dalam perangkap yang ia buat.

 

Tarudi masih terus memperhatikan Melan. Ia tidak percaya begitu saja kalau Melan memikirkan kehamilan Bellina hingga terlihat sangat gelisah seperti sekarang ini.

 

“Ma, apa kecelakaan Kak Adjie kali ini ada hubungannya sama Mama?” tanya Tarudi menyelidik. Ia ingin melihat reaksi Melan saat ia mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan kecelakaan kakak kandungnya.

 

“Eh!? Nggak ada,” jawab Melan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak berani menatap wajah suaminya sedikit pun. Lebih memilih mengaduk bumbu mie instan yang sudah ia tuang ke dalam mangkuk.

 

Tarudi memperhatikan tangan Melan yang terus bergerak sambil gemetar. “Mama nggak bohong?”

 

“Nggak, Pa. Mama nggak tahu apa-apa,” jawab Melan.

 

“Kenapa gemetaran?”

 

“Eh!?” Melan langsung menoleh ke arah Tarudi.

 

“Kalau Mama bohongi Papa. Papa nggak akan bisa bantu Mama saat terjadi hal buruk nantinya.”

 

Melan langsung menatap iba ke arah Tarudi. “Ma-ma ... Mama nggak sengaja, Pa.”

 

“Nggak sengaja? Maksudnya?”

 

“Mama cuma mau ngasih peringatan untuk Kak Adjie. Bukan ingin membunuh dia. Mama nggak tahu kalau kejadiannya sampai separah itu dan ...” Melan menghentikan ucapannya saat mendapati tatapan dingin yang keluar dari mata suaminya.

 

“Jadi, Mama memang ada hubungannya sama kecelakaan kali ini?” tanya Tarudi lagi.

 

Melan menggelengkan kepalanya.

 

“Yang bener yang mana!?” tanya Tarudi mulai kesal.

 

Melan gemetaran, ia langsung meraih kedua lengan Tarudi. “Pa, Kak Adjie sekarang baik-baik aja. Apa Mama bisa diselamatkan?”

 

Tarudi menghela napas. “Kenapa Mama masih saja berulah? Apa nggak bisa hidup berdampingan dengan tenang? Kita ini sudah tua, Ma!”

 

“Mama cuma nggak mau, kehadiran Adjie membahayakan masa depan keluarga kita.”

 

“Tapi nggak seperti ini caranya!” sahut Tarudi kesal. “Apa yang Mama lakukan ini, sudah masuk ke dalam tindakan kriminal. Apa Mama pikir, akan mudah menghadapinya? Gimana kalau Yuna nggak terima dan membawa kasus ini ke pengadilan?”

 

“Apa sampai separah itu? Kak Adjie baik-baik aja. Seharusnya, semua bisa diselesaikan secara kekeluargaan ‘kan?”

 

Tarudi menghela napas sambil memijat keningnya yang berdenyut. Ia sangat kecewa dengan sikap istrinya yang kerap melakukan perbuatan tanpa memikirkan konsekuensi yang harus mereka tanggung.

 

“Pa, Mama akan minta maaf kalau memang mereka mengetahui semua yang sudah Mama lakukan hari ini. Mama nggak mau dipenjara, Pa.”

 

Tarudi menghela napas panjang. “Papa akan berusaha melindungi Mama. Tapi, kalau sampai Mama berbuat kesalahan lagi. Papa tidak akan memberikan kesempatan dan menolong Mama.”

 

Melan tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Mama janji, nggak akan melakukan hal berbahaya lagi!” tegas Melan sambil memeluk tubuh Tarudi. “Makasih ya, Pa!”

 

Tarudi menganggukkan kepala sambil membalas pelukan Melan. “Mama harus mengerti, apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Jangan sampai apa yang Mama lakukan menjadi bahaya untuk Mama sendiri!”

 

Melan menganggukkan kepala. “Makasih, Pa ...! Maafin Mama yang terlalu tergesa-gesa dan ceroboh.”

 

“Kak Adjie sudah menyerahkan perusahaan ke Papa. Tidak akan ada masalah karena dia sudah menandatangani perjanjian untuk tidak mengambil alih perusahaan.”

 

“Tapi, Pa ...”

 

“Sudahlah, Ma. Masalah perusahaan, biar Papa yang urus semuanya. Toh, Lian dan Bellina juga mengurus perusahaan dengan baik. Mama nggak perlu khawatir! Percayakan semuanya pada anak-anak kita!”

 

Melan menganggukkan kepala. Ia sedikit lega karena perusahaan yang sudah berada di tangan suaminya tidak akan beralih pada Adjie atau Yuna. Ia tidak ingin jatuh miskin dan menjadi bahan tertawaan banyak orang.

 

“Oh ya, Papa mau mie instan juga?” tanya Melan.

 

Tarudi menggelengkan kepala. “Mama makan sendiri aja!”

 

“Ya udah, Mama makan sendiri!” ucapnya sambil membawa mangkuk mie instan tersebut ke ruang keluarga. Ia menikmati mie instan sambil menonton televisi untuk mengalihkan kecurigaan suaminya. Ia ingin terlihat seperti biasanya walau perasaannya masih cemas.

 

Sesekali, Melan melirik jam dinding yang bergerak lebih lambat dari biasanya. Lima menit saja, baginya seperti bertahun-tahun. Ia menanti ponselnya berdering untuk mendapatkan informasi terbaru tentang Lonan. Ia harus memastikan kalau Lonan dalam keadaan baik dan tidak ketahuan oleh orang lain.

 

Di sebelahnya, Tarudi tetap saja memperhatikan gerak-gerik istrinya itu. Ia tidak ingin melihat istrinya berbuat ulah lagi dan membuat dirinya semakin sibuk di masa-masa yang seharusnya bisa menghabiskan masa tua dengan tenang dan damai bersama keluarga.

 

 ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas