Friday, March 27, 2026

Perfect Hero Bab 513 : Rahasia Masa Lalu

 


Yuna dan Yeriko melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit untuk melihat keadaan Adjie.

 

“Ayah ...!” seru Yuna begitu ia membuka pintu ruang rawat Adjie. Ia langsung berlari menghampiri tempat tidur ayahnya sambil menitikkan air mata. Yuna langsung menghambur ke dalam pelukan ayahnya.

 

“Ayah ...! Kenapa ayah lama banget tidurnya? Yuna kangen sama Ayah.”

 

Adjie tersenyum sambil mengusap lembut kepala Yuna. “Ayah juga kangen sama kamu.”

 

“Ayah nggak papa ‘kan? Ada yang sakit?” tanya Yuna sambil memeriksa tubuh Adjie.

 

Adjie tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna. “Ayah baik-baik aja. Cuma luka sedikit, nggak sakit,” ucapnya sambil memerhatikan balutan luka di siku tangannya.

 

“Yuna takut banget! Yuna takut kalau ayah akan tertidur lama lagi. Semua ini pasti perbuatan Tante Melan dan Oom Rudi. Mereka nggak pernah mau lihat kita hidup bahagia.”

 

Adjie menghela napas. Ia tidak ingin puterinya banyak berpikir tentang apa yang telah terjadi padanya. Terlebih, Yuna dalam keadaan mengandung dan takut mempengaruhi janin yang ada di dalam perutnya.

 

Adjie dan yang lainnya langsung mengalihkan pandangan ke arah pintu begitu mendengar suara pintu ruangan itu terbuka.

 

Adjie menghela napas lega saat melihat Jheni masuk ke dalam ruangannya.

 

“Oom Adjie, udah siuman?” tanya Jheni. “Aku tadi ditelepon sama perawat. Katanya, Oom Adjie sudah sadar. Maaf, aku tadi keluar karena harus ketemu sama kurator aku.”

 

Adjie mengangguk-anggukkan kepala. “Oh ya, Ayah lapar banget,” tuturnya sambil memegangi perutnya.

 

“Ayah mau makan apa?” tanya Yuna.

 

“Ayah pengen makan sup ayam buatan kamu,” jawab Yuna.

 

“Tapi, kalau aku harus masak ... bakalan lama, dong?”

 

“Nggak papa. Ayah akan nunggu sup buatan kamu.”

 

“Oke. Kalau gitu, aku pulang dulu!” tutur Yuna sambil meraih tangan Yeriko.

 

“Uhuk ... uhuk ...!” Adjie melirik ke arah Yeriko.

 

Yuna dan Yeriko saling pandang.

 

“Mmh ... biar aku yang jagain Ayah Adjie. Kamu pulang sama Jheni ya!” perintah Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Oke. Jagain ayahku ya!”

 

“Pasti. Nggak usah khawatir!”

 

“Ya udah, aku pulang dulu ya!”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia mengecup kening istrinya dan menyerahkan Yuna pada sahabatnya. “Jhen, jagain istri dan anakku ya!”

 

“Siap, Bos!” sahut Jheni sambil memberi hormat.

 

Yeriko tertawa melihat tingkah istri dan sahabatnya itu.

 

“Oom, kami pulang dulu! Cepat sehat ya!” seru Jheni.

 

Adjie mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum. Ia terus menatap tubuh Yuna dan Jheni yang perlahan menghilang dari balik pintu.

 

Adjie menghela napas sambil memperbaiki posisi duduknya. “Nak Yeri ...!” panggilnya lirih.

 

“Ya.” Yeriko langsung mendekat ke arah tempat tidur Adjie.

 

“Apa kecelakaan kali ini ... ada hubungannya sama istrinya Rudi?” tanya Adjie.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Belum tahu. Tapi, kemungkinan besar memang dia. Aku masih menyelidiki kasus ini.”

 

“Huft, Ayah hanya tidak ingin melibatkan Yuna dan anak kalian. Walau bagaimanapun, ini adalah masalah dalam masa lalu kami. Tidak seharusnya, generasi kami yang harus menanggungnya.”

 

“Ayah nggak perlu khawatir! Aku akan berusaha untuk memecahkan masalah ini.”

 

Adjie menganggukkan kepala. “Sepertinya, Rudi dan Melan memang sudah curiga sama ayah. Makan malam hari itu, ayah merasakan ada hal yang berbeda.”

 

Yeriko menghela napas. “Aku belum sampaikan ke Ayah kalau pil yang aku temukan adalah pil tidur dosis tinggi. Mereka sudah menyusun rencana untuk menghadapi kita.”

 

“Apa mereka sudah mencurigai soal ingatan ayah? Gimana dengan Yuna?” tanya Adjie.

 

“Yuna nggak banyak bertanya soal ingatan ayah yang hilang. Aku sudah mengalihkan perhatiannya ke banyak hal.”

 

“Syukurlah. Ayah selalu mengkhawatirkan Yuna. Ayah masih nggak ngerti kenapa Rudi dan istrinya terus menyerang kami. Padahal, ayah sudah menandatangani perjanjian untuk tidak mengambil alih perusahaan.”

 

“Apa Ayah benar-benar tidak ingin mengambil alih perusahaan?” tanya Yeriko.

 

Adjie langsung menatap wajah Yeriko. Tanpa mengucapkan apa pun, Yeriko sudah mengerti arti tatapannya itu.

 

Yeriko mengangguk kecil. Ia akan tetap menjalankan rencana yang telah ia susun bersama ayah mertuanya.

 

“Yer, ada hal yang mau aku bicarakan!” Chandra tiba-tiba sudah muncul dari balik pintu.

 

Yeriko langsung memutar tubuhnya menghadap ke arah Chandra.

 

“Pak Adjie sudah sadar?” tanya Chandra begitu melihat Adjie sudah duduk di atas tempat tidurnya.

 

Adjie mengangguk sambil tersenyum.

 

“Syukurlah. Yuna sama Jheni mana, ya?” tanya Chandra.

 

“Mereka pulang sebentar,” jawab Yeriko.

 

“Oh. Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu. Bisa bicara di luar?” tanya Chandra sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia segera keluar dari ruang rawat ayah mertuanya. Berjalan menyusuri koridor rumah sakit sampai ke sudut bangunan yang sepi.

 

“Gimana?” tanya Yeriko.

 

“Aku udah selesai selidiki Melan dan pria itu.”

 

“Hasilnya?”

 

“Mereka memang ada hubungan di masa lalu.”

 

Yeriko menaikkan kedua alisnya. “Maksudnya?”

 

“Melan dan Lonan, mereka pasangan kekasih yang saling mencintai,” tutur Chandra.

 

Yeriko menyandarkan punggungnya di dinding. Ia menyimak ucapan Chandra sambil mengelus-elus dagunya.

 

“Melan menikah dengan Tarudi karena uang. Ada hal yang harus kamu ketahui lebih jauh,” tutur Chandra sambil menyodorkan beberapa lembar kertas ke tangan Yeriko.

 

Yeriko langsung membuka kertas tersebut dan membacanya. “Kamu tahu kan kalau usia Yuna dan Bellina ... jaraknya tak sampai dua minggu?”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Bellina Linandar, lahir tanggal 29 September. Tahun yang sama dengan kelahiran Yuna,” tutur Chandra sambil menunjukkan tulisan dokumen yang ada di hadapan mereka.

 

“Tanggal pernikahan Tarudi dan Melan, tercatat pada bulan April. Dari bukti catatan sipil dan foto pernikahan mereka. Mereka menikah dan menggelar pesta di bulan yang sama,” terang Chandra.

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Aku ngerti apa yang mau kamu sampaikan. Kemungkinan, Bellina bukan anak Oom Tarudi?”

 

Chandra menganggukkan kepala. “Melan melahirkan bayinya di bulan kelima setelah pernikahannya. Artinya, dia sudah berbadan dua sebelum menikah. Dari catatan kepolisian yang aku dapat ... Lonan masuk ke penjara bulan di akhir bulan April.”

 

“Melan masih berhubungan sama pacarnya itu sebelum menikah?”

 

Chandra menganggukkan kepala. “Sebelum menikah dengan Oom Tarudi, Melan tinggal bersama dengan pria itu.”

 

Yeriko memijat keningnya. “Apa ini salah satu alasan Melan ingin menyingkirkan Adjie dan istriku? Kalau Bellina bukan anak kandung Tarudi. Dia nggak punya penerus untuk perusahaan.”

 

Chandra menganggukkan kepala. “Bener banget! Bisa jadi seperti itu. Kemungkinan, perusahaan keluarga Linandar masih bisa menjadi milik Yuna secara hukum. Hanya saja, selama sebelas tahun ini sudah terjadi banyak hal. Sekarang, perusahaan keluarga Lin berada di bawah naungan Wijaya Group.”

 

Yeriko menghela napas. “Kunci dalam masalah ini memang Pak Adjie. Hanya saja, dia tidak ingin mengambil alih perusahaan keluarga Lin karena ingin melindungi Yuna.”

 

“Melindungi? Wait ...!” pinta Chandra. Ia mondar-mandir beberapa kali sambil mengelus-elus dagunya.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko yang sudah kesulitan untuk memikirkan banyak hal.

 

“Melindungi dari siapa?” tanya Chandra balik.

 

“Dari Oom Taru—”

 

“Nggak mungkin! Oom Adjie bersikap sangat baik dengan adiknya, begitu juga sebaliknya. Kalau memang Oom Tarudi yang ingin mencelakai Oom Adjie ... orang pertama yang seharusnya diwaspadai adalah Oom Tarudi. Mereka sering kelihatan berbincang dan terlihat normal.”

 

“Itu karena Pak Adjie pura-pura amnesia.”

 

“Meski dia pura-pura amnesia, tapi kamu tahu. Setidaknya, dia yang pertama memperingatkan kamu agar menjauhi Tarudi.”

 

Yeriko menghela napas. “Jadi, menurut kamu gimana?”

 

“Kamu harus dapat informasi detail dari ayah mertua kamu itu. Apa dia punya musuh bisnis yang kuat?”

 

Yeriko langsung menatap wajah Chandra. “Kenapa kamu tanyain ini?”

 

“Dari penyelidikanku, Tarudi nggak punya kemampuan yang kuat untuk melakukan hal besar. Apalagi sampai melakukan pembunuhan berencana.”

 

“Gimana dengan Melan?”

 

Chandra menarik napas dalam-dalam. “Wanita jahat yang pura-pura baik, bisa mengendalikan pria yang baik menjadi jahat.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. “Kamu suruh orang untuk awasi terus pergerakan Melan!”

 

Chandra menganggukkan kepala. Mereka semakin meningkatkan kewaspadaan untuk melindungi orang-orang terdekat dari bahaya yang setiap saat mengancam mereka.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Apa yang akan mereka lakukan untuk menghadapi keluarga Yuna, ya?

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 512 : Temuan Baru

 


“Gimana, Chan? Ada info terbaru?” tanya Yeriko begitu ia masuk ke dalam ruang kerjanya.

 

Chandra mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam saku jasnya dan meletakkan ke atas meja.

 

“Laki-laki ini siapa?” tanya Yeriko sambil memerhatikan beberapa foto yang sudah ada di tangannya.

 

“Laki-laki itu yang sering ketemu sama Melan beberapa hari terakhir.”

 

“Namanya siapa? Udah kamu selidiki?” tanya Yeriko.

 

“Namanya Lonan alias Lasiono Adnan. Mantan narapidana yang baru keluar dari penjara sebulan lalu.”

 

Yeriko memerhatikan wajah pria setengah baya yang sedang duduk di salah satu meja restoran. Foto mereka terlihat sangat intim dalam beberapa suasana. “Kasus apa?” tanya Yeriko sambil duduk di sofa.

 

“Penipuan,” jawab Chandra.

 

“Apa hubungannya sama Melan? Apa mereka sudah saling kenal sebelumnya?”

 

Chandra menggelengkan kepala. “Aku masih menyelidiki masa lalu mereka.”

 

“Belum dapat?”

 

Chandra menggelengkan kepala. “Aku masih fokus mengamati pergerakan mereka beberapa hari terakhir. Kemungkinan besar, mereka pernah terlibat hubungan di masa lalu. Masih dugaan sementara, soalnya mereka kelihatan dekat dan pria ini ... sepertinya bekerja di belakang Melan.”

 

Yeriko mengernyitkan dahinya. “Maksudnya?”

 

“Dia baru keluar dari penjara. Tapi bisa menginap di hotel mewah. Logikanya, orang yang baru keluar dari penjara ... dari mana punya uang untuk membiayai hidupnya? Apalagi, dia dipenjara karena kasus penipuan. Dia dipenjara karena nggak mampu ganti rugi.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Kalau dia menyimpan aset, kemungkinan dia tetap memiliki uang, Chan.”

 

“Berapa sih aset yang bisa dimiliki sama seorang penipu yang nggak sanggup bayar ganti rugi? Tabungan? Dua puluh juta? Lima puluh juta? Nggak sebanding dengan gaya hidup dia sekarang yang bisa menginap di hotel bintang lima.”

 

“Kamu sudah cari tahu latar belakang keluarganya?”

 

“Aku udah tanya sama petugas lapas. Selama dia dipenjara, nggak ada orang lain yang nengokin dia kecuali ...”

 

“Melan?” Yeriko menebak ucapan Chandra.

 

Chandra langsung menganggukkan kepala. “Dari data yang aku dapat, dia nggak punya keluarga.”

 

“Jadi, pria ini mengandalkan hidupnya sama tantenya Yuna?”

 

“Betul banget!”

 

“Apa mereka terlibat dalam kecelakaan kali ini?”

 

Chandra menggelengkan kepala. “Kalo soal ini, kamu tanyakan ke Satria. Dia yang lagi mendalami kasus kecelakaan ini ‘kan?”

 

“Iya, sih. Tapi aku masih penasaran ... kamu udah selidiki latar belakang keluarganya Melan? Masa lalunya, cerita hidupnya atau apalah yang berhubungan dengan dia. Kenapa dia benci banget sama istriku, padahal dia sudah dikasih perusahaan dengan mudah.”

 

Chandra mengedikkan bahu. “Nggak tahu, Yer. Kenapa nggak ambil alih perusahaan mereka aja?”

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia berpikir selama beberapa saat. “Yuna nggak mau membahayakan Pak Adjie, begitu juga sebaliknya. Mmh ... kamu bisa urus sama Riyan soal ini?” tanya Yeriko sambil memainkan alisnya.

 

“Urus soal ...?” Chandra mengamati wajah Yeriko.

 

“Kalau nggak bisa diambil alih, buat perusahaan itu bangkrut perlahan!” perintah Yeriko.

 

“Tapi, Yer ... kalau suatu hari perusahaan itu kembali ke tangan Yuna. Apa nggak membahayakan buat Yuna juga?”

 

“Ck, iya juga ya? Kenapa rumit banget?” sahut Yeriko sambil mengacak rambutnya sendiri.

 

“Yang aku khawatirkan, mereka kembali mengalihkan perusahaan ke tangan Yuna saat di ambang kebangkrutan. Ini akan membuat Yuna lebih menderita, Yer.”

 

“Ya udah, kamu fokus ke Melan aja. Aku mau menyingkirkan dia dari keluarga Linandar.”

 

“Kalau ini ... kayaknya bisa lebih mudah.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Kayaknya, Oom Rudi juga ada di bawah kendali perempuan licik itu. Selidiki dua orang yang ada di foto ini sampai tuntas!”

 

“Siap, Yer!”

 

“Oh ya, gimana hubungan kamu sama Jheni?” tanya Yeriko.

 

“Baik,” jawab Chandra sambil bangkit dari tempat duduknya. “Aku pulang dulu!”

 

“Aku cuma nanya hubungan kamu sama Jheni aja. Kenapa buru-buru ngabur?” tanya Yeriko.

 

“Aku ada urusan,” jawab Chandra sambil menarik gagang pintu. Ia langsung melebarkan kelopak matanya begitu melihat Bibi War sudah berdiri di depan pintu.

 

“Kopinya, Mas!”

 

Chandra menghela napas. “Makasih, Bi!” ucapnya sambil meraih nampan yang ada di tangan Bibi War. Ia kembali masuk ke dalam ruangan dan duduk di sebelah Yeriko.

 

“Nggak jadi pulang?” tanya Yeriko sambil menahan tawa.

 

“Udah terlanjur dibuatin kopi sama Bibi. Oh ya, soal bisnis yang ada di Eropa. Beberapa outlet sudah mulai beroperasi dan hasilnya ...”

 

“Gimana?”

 

“Sukses besar!” seru Chandra.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Chandra.

 

“Kamu biasa aja?” tanya Chandra.

 

“Emang harus gimana?”

 

“Nggak senang sama kesuksesan penjualan kita di Eropa?”

 

“Senang.”

 

“Kenapa reaksinya biasa aja?”

 

“Aku sudah tahu sejak seminggu lalu. Aku harus apa?”

 

“Party, Yer!” pinta Chandra.

 

“Ck, kamu tahu istriku nggak suka party. Lagian, kemarin udah bikin acara syukuran di rumah kakek.”

 

“Itu kan syukuran tujuh bulanan istri kamu, Yer. Nggak ada hubungannya sama penjualan perusahaan.”

 

“Sama aja. Yang penting makan gratis ‘kan?”

 

“Nggak ada bir di sana. Ayolah! Udah lama banget kita nggak minum sampai mabuk,” ajak Chandra.

 

“Chan, ayah mertuaku lagi sakit. Aku nggak mungkin berpesta di atas penderitaan istriku. Nggak punya perasaan!”

 

“Iya juga, sih.” Chandra mengangguk-anggukkan kepala. Ia menyesap kopi yang ada di hadapannya dan berbicara banyak hal tentang bisnis yang sedang ia urus di perusahaan mereka.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna ikut masuk ke dalam ruang kerja Yeriko.

 

“Chan, Jheni nggak ikut ke sini?” tanya Yuna.

 

Chandra menggelengkan kepala. “Dia ada janji ketemu sama editor atau kurator gitu. Buru-buru pergi sendirian.”

 

“Nggak kamu antar, Chan?” tanya Yeriko.

 

“Tahu sendiri si Jheni kayak apa. Dia lebih suka bepergian sendirian.”

 

“Oh.” Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menghampiri Yeriko yang duduk di sofa. “Ay, aku udah siap. Kita berangkat sekarang, yuk! Kasihan ayah kalau ditinggal terlalu lama di rumah sakit.”

 

“Ada suster yang jagain Pak Adjie, kok.” Chandra menatap wajah Yuna. “Kalau ada apa-apa, mereka pasti hubungi kita.”

 

“Iya, sih. Tapi ... aku tetap nggak tenang kalau ninggalin ayah sendirian di rumah sakit.”

 

Yeriko menghela napas. Ia bangkit dari tempat duduknya. “Ya udah, kita pergi ke rumah sakit, sekarang!”

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ayahnya di rumah sakit. Ia tidak bisa berlama-lama di rumah karena ia selalu memikirkan kondisi ayahnya.

 

“Chan, kamu masih mau di sini?” tanya Yeriko sambil menatap Chandra yang masih bergeming di tempatnya.

 

Chandra menganggukkan kepala. “Duluan aja!”

 

“Oke. Kalau ada perkembangan selanjutnya, langsung kasih tahu aku!”

 

Chandra mengangguk lagi. “Satria sama Riyan juga mau ke sini sebentar lagi. Aku tunggu mereka untuk menyelidiki kasus ini.”

 

Yuna mengangguk sambil menatap wajah Chandra. “Thanks, Chan! Kalian selalu bantu aku. Maaf, kehadiranku selalu merepotkan kalian semua!”

 

“Halah, santai aja! Kayak sama orang lain aja.”

 

Yuna tersenyum ke arah Chandra. “Kami pergi dulu ya!” pamitnya.

 

Chandra menganggukkan kepala. Ia menatap kepergian Yuna dan Yeriko. Ia tak beranjak sama sekali dari ruang kerja Yeriko karena menunggu Satria dan Riyan datang ke rumah itu.

 

Sejak dulu, mereka selalu melakukan banyak hal di ruang kerja ini. Mereka akan menyelesaikan masalah sampai tuntas. Terlebih, empat sahabat itu memiliki keunggulan berbeda.

 

 

((Bersambung ...))

Babang Chandra bakal berhasil nemuin pelakunya atau nggak, ya?

Dukung terus cerita ini biar bisa bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 511 : Terlalu Istimewa di Hati

 


“Pa, Papa udah jadi telepon ayahnya Yuna?” tanya Melan saat mereka duduk di meja makan untuk sarapan.

 

“Belum. Sebentar lagi Papa telepon.”

 

Melan tersenyum sambil menatap Tarudi. “Udah lama nggak dengar kabar ayahnya Yuna. Semenjak makan malam tahun baru, kita belum ketemu lagi. Gimana, kalau kita ke sana hari ini?”

 

Tarudi menoleh ke arah Melan. Ia tersenyum karena istrinya kali ini mau memperhatikan kakak kandungnya. Tapi, ia masih tidak yakin kalau perhatian Melan kepada kakaknya itu tulus.

 

“Gimana?” tanya Melan. Ia berusaha mendesak Tarudi agar menghubungi Adjie secepatnya.

 

Tarudi menganggukkan kepala. “Papa telepon dulu.”

 

Melan menganggukkan kepala sambil tersenyum manis. Ia menanti-nantikan kabar bahagia soal keadaan Adjie kali ini.

 

Tarudi menelepon Adjie beberapa kali, tetap saja tidak bisa tersambung.

 

“Kenapa?” tanya Melan makin penasaran.

 

“Nomornya nggak aktif.”

 

“Telepon si Yuna aja!”

 

“Iya juga, ya. Dia selalu ke apartemen Kak Adjie setiap hari.”

 

Melan tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

Tarudi menekan nomor ponsel Yuna. Ia terus menunggu jawaban dari keponakannya itu.

 

“Halo ...!” sapa Yuna begitu panggilan telepon Tarudi tersambung.

 

“Halo, Yuna ...! Apa kabar?”

 

“Menurut Oom?” tanya Yuna balik.

 

Tarudi terdiam saat mendengar suara sengau yang keluar dari mulut Yuna. “Apa ayah kamu ada di rumah? Sejak semalam, Oom telepon dia ... nomornya nggak aktif.”

 

Yuna terdengar tertawa kecil. “Oom Rudi senang kan kalau ayahku nggak bisa jawab telepon?”

 

“Maksud kamu?”

 

“Nggak usah pura-pura nggak tahu, Oom! Apa yang Oom Rudi inginkan, semuanya sudah tercapai. Termasuk bikin ayahku bungkam dan nggak bisa bicara lagi!”

 

“Yuna, ini ada apa? Oom nggak ngerti maksud kamu. Ayah kamu kenapa?”

 

“Ayah kecelakaan. Sekarang, dia masih koma. Oom senang kan bisa lihat ayah kayak gini lagi?” tanya Yuna.

 

“Yun, kenapa kamu bilang begitu? Dia itu kakakku juga. Sekarang, kalian ada di rumah sakit mana? Oom akan ke sana untuk je—”

 

Tut ... Tut ... Tut ...!

 

Tarudi mengerutkan dahi karena Yuna menutup telepon sepihak. Ia hanya menghela napas sambil menatap panggilan teleponnya yang sudah mati.

 

“Kenapa, Pa?” tanya Melan sambil menyembunyikan perasaan bahagianya. Ia merasa sangat bahagia saat mendengar kalau Adjie berada di rumah sakit.

 

“Kak Adjie kecelakaan. Papa harus jenguk dia,” jawab Adjie sambil bangkit dari tempat duduk.

 

“Hah!? Kecelakaan? Di mana? Sekarang dirawat di rumah sakit mana?” tanya Melan.

 

“Belum tahu. Yuna nggak mau ngasih tahu keberadaan ayahnya. Aku akan cari tahu,” jawab Tarudi sambil melangkah pergi dengan terburu-buru.

 

“Hati-hati ya, Pa! Nanti kabari Mama kalau Kak Adjie sudah ditemukan di rumah sakit mana. Mama akan menyusul ...!” seru Melan sambil menatap punggung Tarudi yang bergerak menjauhinya.

 

Melan langsung tertawa lebar begitu suaminya pergi meninggalkan dirinya. “Akhirnya ... aku berhasil bikin si Adjie sialan itu koma lagi. Aku nggak akan ngebiarin kalian ngambil alih perusahaan lagi. Kalian pikir, bisa menghadapi aku dengan mudah?” tutur Melan sambil tertawa bahagia. Ia bangkit dari tempat duduk, meninggalkan makanan yang belum dihabiskan begitu saja.

 

“Saatnya memanjakan diri di salon dan shopping sepuasnya ...!” seru Melan sambil melangkah penuh bahagia.

 

 

 

...

 

 

“Paman nggak tahu diri!” umpat Yuna sambil membanting ponselnya ke atas kasur.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko.

 

“Biasa, Oom Rudi.”

 

“Dia bikin masalah lagi?”

 

Yuna menggigit bibir sambil menggelengkan kepala. “Nggak, sih. Dia cuma nanya keadaan ayah. Kayaknya, dia nggak tahu apa-apa soal kecelakaan yang menimpa ayah kali ini. Sebenarnya, ini ada hubungannya sama Oom Rudi atau nggak ya?”

 

Yeriko menghela napas. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil menatap Yuna. “Aku perhatikan, selama ini hubungan ayah kamu dan adiknya cukup baik. Hanya saja, kita nggak bisa memastikan apa yang terjadi sebenarnya. Tetap harus waspada!”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Aku curiga sama mereka. Mereka pasti sudah merencanakan ini semua untuk mencelakai ayah. Padahal, ayah nggak pernah membahas soal perusahaan. Kenapa mereka begitu takut kehilangan perusahaan yang seharusnya menjadi milik kami?”

 

Yeriko tersenyum sambil menatap Yuna. “Kamu tenang aja! Aku akan urus semuanya. Asal kamu izinkan aku untuk ...”

 

“Nggak usah, Ay!” pinta Yuna. “Hidup ayah jauh lebih penting dari perusahaan. Aku nggak mau mereka terus mencelakai ayah hanya karena rebutan harta. Aku sudah terbiasa hidup sederhana. Nggak perlu hidup mewah asal bisa bahagia.”

 

Yeriko tersenyum. Ia berjongkok di lantai, tepat di hadapan Yuna. “Yun, kenapa hati kamu bisa semulia ini?” tanyanya sambil menggenggam tangan Yuna dan mengecupnya.

 

“Bukan hatiku yang mulia, tapi kalian yang terlalu istimewa,” tutur Yuna sambil menatap wajah Yeriko. “Jangan lakukan  apa pun yang membahayakan untuk kamu! Aku nggak mau, apa yang terjadi sama ayah ... terjadi juga sama kamu.”

 

Yeriko tersenyum sambil menatap Yuna. Ia bangkit dari lantai dan merengkuh tubuh Yuna ke dalam pelukannya. “Apa yang aku lakukan saat ini, hanya untuk melindungi kamu,” batinnya dalam hati.

 

 

 

Tok ... Tok ... Tok ...!

 

 

 

Yuna dan Yeriko langsung menoleh ke arah pintu. “Masuk!” perintah mereka bersamaan.

 

Pintu kamar langsung terbuka. “Ada Mas Chandra datang,” tutur Bibi War.

 

“Oh, oke. Suruh tunggu di ruang kerjaku, Bi!” perintah Yeriko.

 

Bibi War menganggukkan kepala. Ia bergegas menutup pintu kembali dan turun ke lantai bawah.

 

“Yeriko mana, Bi?” tanya Chandra begitu Bibi War menghampirinya di ruang tamu.

 

“Di atas. Katanya, suruh nunggu di ruang kerjanya.”

 

“Oh, oke. Nggak papa nih aku naik?” tanya Chandra.

 

“Nggak papa. Naik aja!” perintah Bibi War.

 

“Dia sama Yuna lagi apa? Ntar aku ganggu orang lagi bercinta,” tutur Chandra sambil tertawa kecil.

 

Bibi War ikut tertawa. “Nggak akan ganggu, palingan Mas Chandra yang kepengen kalo lihat.”

 

“Eh!? Bibi ngolok aku?”

 

Bibi War terkekeh mendengar pertanyaan Chandra. “Makanya, cepet nikah! Biar rumah ini tambah ramai kalau kalian datang.”

 

“Ah, Bibi. Sama aja kayak Yeriko,” sahut Chandra sambil bergegas menaiki anak tangga menuju ke ruang kerja Yeriko.

 

“Mas Chandra mau minum apa?” tanya Bibi War sambil menatap tubuh Chandra yang sudah berada di ujung tangga.

 

“Kopi aja, Bi!” sahut Chandra sambil menghentikan langkahnya dan memutar kepala menatap Bibi War yang berdiri di bawah tangga.

 

“Pakai susu atau nggak?” goda Bibi War.

 

“Ah, Bibi mah suka gitu. Kopi campur Jheni kalau ada!” pinta Chandra sambil tertawa kecil.

 

“Maksudnya, susunya Mbak Jheni?” tanya Bibi War menggoda.

 

“Ah, Bibi bisa aja. Bikin otakku berkelana. Terserah deh mau dibikinin kopi apa. Asal jangan pakai sianida aja!” sahut Chandra sambil bergegas masuk ke ruang kerja Yeriko.

 

Bibi War tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia merasa sangat bahagia karena Yeriko dikelilingi oleh orang-orang baik yang bersedia membantu dan melindunginya kapan pun. Meski sering kasar, tapi hati anak asuhnya itu begitu peduli dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya.

 

 

((Bersambung ...))

 

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi dan mengungkap misteri yang belum terpecahkan satu per satu.

Thank’s!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas