Friday, March 27, 2026

Perfect Hero Bab 513 : Rahasia Masa Lalu

 


Yuna dan Yeriko melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit untuk melihat keadaan Adjie.

 

“Ayah ...!” seru Yuna begitu ia membuka pintu ruang rawat Adjie. Ia langsung berlari menghampiri tempat tidur ayahnya sambil menitikkan air mata. Yuna langsung menghambur ke dalam pelukan ayahnya.

 

“Ayah ...! Kenapa ayah lama banget tidurnya? Yuna kangen sama Ayah.”

 

Adjie tersenyum sambil mengusap lembut kepala Yuna. “Ayah juga kangen sama kamu.”

 

“Ayah nggak papa ‘kan? Ada yang sakit?” tanya Yuna sambil memeriksa tubuh Adjie.

 

Adjie tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna. “Ayah baik-baik aja. Cuma luka sedikit, nggak sakit,” ucapnya sambil memerhatikan balutan luka di siku tangannya.

 

“Yuna takut banget! Yuna takut kalau ayah akan tertidur lama lagi. Semua ini pasti perbuatan Tante Melan dan Oom Rudi. Mereka nggak pernah mau lihat kita hidup bahagia.”

 

Adjie menghela napas. Ia tidak ingin puterinya banyak berpikir tentang apa yang telah terjadi padanya. Terlebih, Yuna dalam keadaan mengandung dan takut mempengaruhi janin yang ada di dalam perutnya.

 

Adjie dan yang lainnya langsung mengalihkan pandangan ke arah pintu begitu mendengar suara pintu ruangan itu terbuka.

 

Adjie menghela napas lega saat melihat Jheni masuk ke dalam ruangannya.

 

“Oom Adjie, udah siuman?” tanya Jheni. “Aku tadi ditelepon sama perawat. Katanya, Oom Adjie sudah sadar. Maaf, aku tadi keluar karena harus ketemu sama kurator aku.”

 

Adjie mengangguk-anggukkan kepala. “Oh ya, Ayah lapar banget,” tuturnya sambil memegangi perutnya.

 

“Ayah mau makan apa?” tanya Yuna.

 

“Ayah pengen makan sup ayam buatan kamu,” jawab Yuna.

 

“Tapi, kalau aku harus masak ... bakalan lama, dong?”

 

“Nggak papa. Ayah akan nunggu sup buatan kamu.”

 

“Oke. Kalau gitu, aku pulang dulu!” tutur Yuna sambil meraih tangan Yeriko.

 

“Uhuk ... uhuk ...!” Adjie melirik ke arah Yeriko.

 

Yuna dan Yeriko saling pandang.

 

“Mmh ... biar aku yang jagain Ayah Adjie. Kamu pulang sama Jheni ya!” perintah Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Oke. Jagain ayahku ya!”

 

“Pasti. Nggak usah khawatir!”

 

“Ya udah, aku pulang dulu ya!”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia mengecup kening istrinya dan menyerahkan Yuna pada sahabatnya. “Jhen, jagain istri dan anakku ya!”

 

“Siap, Bos!” sahut Jheni sambil memberi hormat.

 

Yeriko tertawa melihat tingkah istri dan sahabatnya itu.

 

“Oom, kami pulang dulu! Cepat sehat ya!” seru Jheni.

 

Adjie mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum. Ia terus menatap tubuh Yuna dan Jheni yang perlahan menghilang dari balik pintu.

 

Adjie menghela napas sambil memperbaiki posisi duduknya. “Nak Yeri ...!” panggilnya lirih.

 

“Ya.” Yeriko langsung mendekat ke arah tempat tidur Adjie.

 

“Apa kecelakaan kali ini ... ada hubungannya sama istrinya Rudi?” tanya Adjie.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Belum tahu. Tapi, kemungkinan besar memang dia. Aku masih menyelidiki kasus ini.”

 

“Huft, Ayah hanya tidak ingin melibatkan Yuna dan anak kalian. Walau bagaimanapun, ini adalah masalah dalam masa lalu kami. Tidak seharusnya, generasi kami yang harus menanggungnya.”

 

“Ayah nggak perlu khawatir! Aku akan berusaha untuk memecahkan masalah ini.”

 

Adjie menganggukkan kepala. “Sepertinya, Rudi dan Melan memang sudah curiga sama ayah. Makan malam hari itu, ayah merasakan ada hal yang berbeda.”

 

Yeriko menghela napas. “Aku belum sampaikan ke Ayah kalau pil yang aku temukan adalah pil tidur dosis tinggi. Mereka sudah menyusun rencana untuk menghadapi kita.”

 

“Apa mereka sudah mencurigai soal ingatan ayah? Gimana dengan Yuna?” tanya Adjie.

 

“Yuna nggak banyak bertanya soal ingatan ayah yang hilang. Aku sudah mengalihkan perhatiannya ke banyak hal.”

 

“Syukurlah. Ayah selalu mengkhawatirkan Yuna. Ayah masih nggak ngerti kenapa Rudi dan istrinya terus menyerang kami. Padahal, ayah sudah menandatangani perjanjian untuk tidak mengambil alih perusahaan.”

 

“Apa Ayah benar-benar tidak ingin mengambil alih perusahaan?” tanya Yeriko.

 

Adjie langsung menatap wajah Yeriko. Tanpa mengucapkan apa pun, Yeriko sudah mengerti arti tatapannya itu.

 

Yeriko mengangguk kecil. Ia akan tetap menjalankan rencana yang telah ia susun bersama ayah mertuanya.

 

“Yer, ada hal yang mau aku bicarakan!” Chandra tiba-tiba sudah muncul dari balik pintu.

 

Yeriko langsung memutar tubuhnya menghadap ke arah Chandra.

 

“Pak Adjie sudah sadar?” tanya Chandra begitu melihat Adjie sudah duduk di atas tempat tidurnya.

 

Adjie mengangguk sambil tersenyum.

 

“Syukurlah. Yuna sama Jheni mana, ya?” tanya Chandra.

 

“Mereka pulang sebentar,” jawab Yeriko.

 

“Oh. Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu. Bisa bicara di luar?” tanya Chandra sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia segera keluar dari ruang rawat ayah mertuanya. Berjalan menyusuri koridor rumah sakit sampai ke sudut bangunan yang sepi.

 

“Gimana?” tanya Yeriko.

 

“Aku udah selesai selidiki Melan dan pria itu.”

 

“Hasilnya?”

 

“Mereka memang ada hubungan di masa lalu.”

 

Yeriko menaikkan kedua alisnya. “Maksudnya?”

 

“Melan dan Lonan, mereka pasangan kekasih yang saling mencintai,” tutur Chandra.

 

Yeriko menyandarkan punggungnya di dinding. Ia menyimak ucapan Chandra sambil mengelus-elus dagunya.

 

“Melan menikah dengan Tarudi karena uang. Ada hal yang harus kamu ketahui lebih jauh,” tutur Chandra sambil menyodorkan beberapa lembar kertas ke tangan Yeriko.

 

Yeriko langsung membuka kertas tersebut dan membacanya. “Kamu tahu kan kalau usia Yuna dan Bellina ... jaraknya tak sampai dua minggu?”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Bellina Linandar, lahir tanggal 29 September. Tahun yang sama dengan kelahiran Yuna,” tutur Chandra sambil menunjukkan tulisan dokumen yang ada di hadapan mereka.

 

“Tanggal pernikahan Tarudi dan Melan, tercatat pada bulan April. Dari bukti catatan sipil dan foto pernikahan mereka. Mereka menikah dan menggelar pesta di bulan yang sama,” terang Chandra.

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Aku ngerti apa yang mau kamu sampaikan. Kemungkinan, Bellina bukan anak Oom Tarudi?”

 

Chandra menganggukkan kepala. “Melan melahirkan bayinya di bulan kelima setelah pernikahannya. Artinya, dia sudah berbadan dua sebelum menikah. Dari catatan kepolisian yang aku dapat ... Lonan masuk ke penjara bulan di akhir bulan April.”

 

“Melan masih berhubungan sama pacarnya itu sebelum menikah?”

 

Chandra menganggukkan kepala. “Sebelum menikah dengan Oom Tarudi, Melan tinggal bersama dengan pria itu.”

 

Yeriko memijat keningnya. “Apa ini salah satu alasan Melan ingin menyingkirkan Adjie dan istriku? Kalau Bellina bukan anak kandung Tarudi. Dia nggak punya penerus untuk perusahaan.”

 

Chandra menganggukkan kepala. “Bener banget! Bisa jadi seperti itu. Kemungkinan, perusahaan keluarga Linandar masih bisa menjadi milik Yuna secara hukum. Hanya saja, selama sebelas tahun ini sudah terjadi banyak hal. Sekarang, perusahaan keluarga Lin berada di bawah naungan Wijaya Group.”

 

Yeriko menghela napas. “Kunci dalam masalah ini memang Pak Adjie. Hanya saja, dia tidak ingin mengambil alih perusahaan keluarga Lin karena ingin melindungi Yuna.”

 

“Melindungi? Wait ...!” pinta Chandra. Ia mondar-mandir beberapa kali sambil mengelus-elus dagunya.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko yang sudah kesulitan untuk memikirkan banyak hal.

 

“Melindungi dari siapa?” tanya Chandra balik.

 

“Dari Oom Taru—”

 

“Nggak mungkin! Oom Adjie bersikap sangat baik dengan adiknya, begitu juga sebaliknya. Kalau memang Oom Tarudi yang ingin mencelakai Oom Adjie ... orang pertama yang seharusnya diwaspadai adalah Oom Tarudi. Mereka sering kelihatan berbincang dan terlihat normal.”

 

“Itu karena Pak Adjie pura-pura amnesia.”

 

“Meski dia pura-pura amnesia, tapi kamu tahu. Setidaknya, dia yang pertama memperingatkan kamu agar menjauhi Tarudi.”

 

Yeriko menghela napas. “Jadi, menurut kamu gimana?”

 

“Kamu harus dapat informasi detail dari ayah mertua kamu itu. Apa dia punya musuh bisnis yang kuat?”

 

Yeriko langsung menatap wajah Chandra. “Kenapa kamu tanyain ini?”

 

“Dari penyelidikanku, Tarudi nggak punya kemampuan yang kuat untuk melakukan hal besar. Apalagi sampai melakukan pembunuhan berencana.”

 

“Gimana dengan Melan?”

 

Chandra menarik napas dalam-dalam. “Wanita jahat yang pura-pura baik, bisa mengendalikan pria yang baik menjadi jahat.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. “Kamu suruh orang untuk awasi terus pergerakan Melan!”

 

Chandra menganggukkan kepala. Mereka semakin meningkatkan kewaspadaan untuk melindungi orang-orang terdekat dari bahaya yang setiap saat mengancam mereka.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Apa yang akan mereka lakukan untuk menghadapi keluarga Yuna, ya?

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas