Yuna dan Yeriko melangkahkan kakinya menyusuri
koridor rumah sakit untuk melihat keadaan Adjie.
“Ayah ...!” seru Yuna begitu ia membuka pintu
ruang rawat Adjie. Ia langsung berlari menghampiri tempat tidur ayahnya sambil
menitikkan air mata. Yuna langsung menghambur ke dalam pelukan ayahnya.
“Ayah ...! Kenapa ayah lama banget tidurnya? Yuna
kangen sama Ayah.”
Adjie tersenyum sambil mengusap lembut kepala
Yuna. “Ayah juga kangen sama kamu.”
“Ayah nggak papa ‘kan? Ada yang sakit?” tanya Yuna
sambil memeriksa tubuh Adjie.
Adjie tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna. “Ayah
baik-baik aja. Cuma luka sedikit, nggak sakit,” ucapnya sambil memerhatikan
balutan luka di siku tangannya.
“Yuna takut banget! Yuna takut kalau ayah akan
tertidur lama lagi. Semua ini pasti perbuatan Tante Melan dan Oom Rudi. Mereka
nggak pernah mau lihat kita hidup bahagia.”
Adjie menghela napas. Ia tidak ingin puterinya
banyak berpikir tentang apa yang telah terjadi padanya. Terlebih, Yuna dalam
keadaan mengandung dan takut mempengaruhi janin yang ada di dalam perutnya.
Adjie dan yang lainnya langsung mengalihkan
pandangan ke arah pintu begitu mendengar suara pintu ruangan itu terbuka.
Adjie menghela napas lega saat melihat Jheni masuk
ke dalam ruangannya.
“Oom Adjie, udah siuman?” tanya Jheni. “Aku tadi
ditelepon sama perawat. Katanya, Oom Adjie sudah sadar. Maaf, aku tadi keluar
karena harus ketemu sama kurator aku.”
Adjie mengangguk-anggukkan kepala. “Oh ya, Ayah
lapar banget,” tuturnya sambil memegangi perutnya.
“Ayah mau makan apa?” tanya Yuna.
“Ayah pengen makan sup ayam buatan kamu,” jawab
Yuna.
“Tapi, kalau aku harus masak ... bakalan lama,
dong?”
“Nggak papa. Ayah akan nunggu sup buatan kamu.”
“Oke. Kalau gitu, aku pulang dulu!” tutur Yuna
sambil meraih tangan Yeriko.
“Uhuk ... uhuk ...!” Adjie melirik ke arah Yeriko.
Yuna dan Yeriko saling pandang.
“Mmh ... biar aku yang jagain Ayah Adjie. Kamu
pulang sama Jheni ya!” perintah Yeriko sambil menatap wajah Yuna.
Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Oke.
Jagain ayahku ya!”
“Pasti. Nggak usah khawatir!”
“Ya udah, aku pulang dulu ya!”
Yeriko menganggukkan kepala. Ia mengecup kening
istrinya dan menyerahkan Yuna pada sahabatnya. “Jhen, jagain istri dan anakku
ya!”
“Siap, Bos!” sahut Jheni sambil memberi hormat.
Yeriko tertawa melihat tingkah istri dan
sahabatnya itu.
“Oom, kami pulang dulu! Cepat sehat ya!” seru
Jheni.
Adjie mengangguk-anggukkan kepala sambil
tersenyum. Ia terus menatap tubuh Yuna dan Jheni yang perlahan menghilang dari
balik pintu.
Adjie menghela napas sambil memperbaiki posisi
duduknya. “Nak Yeri ...!” panggilnya lirih.
“Ya.” Yeriko langsung mendekat ke arah tempat
tidur Adjie.
“Apa kecelakaan kali ini ... ada hubungannya sama
istrinya Rudi?” tanya Adjie.
Yeriko menggelengkan kepala. “Belum tahu. Tapi,
kemungkinan besar memang dia. Aku masih menyelidiki kasus ini.”
“Huft, Ayah hanya tidak ingin melibatkan Yuna dan
anak kalian. Walau bagaimanapun, ini adalah masalah dalam masa lalu kami. Tidak
seharusnya, generasi kami yang harus menanggungnya.”
“Ayah nggak perlu khawatir! Aku akan berusaha
untuk memecahkan masalah ini.”
Adjie menganggukkan kepala. “Sepertinya, Rudi dan
Melan memang sudah curiga sama ayah. Makan malam hari itu, ayah merasakan ada
hal yang berbeda.”
Yeriko menghela napas. “Aku belum sampaikan ke
Ayah kalau pil yang aku temukan adalah pil tidur dosis tinggi. Mereka sudah menyusun
rencana untuk menghadapi kita.”
“Apa mereka sudah mencurigai soal ingatan ayah?
Gimana dengan Yuna?” tanya Adjie.
“Yuna nggak banyak bertanya soal ingatan ayah yang
hilang. Aku sudah mengalihkan perhatiannya ke banyak hal.”
“Syukurlah. Ayah selalu mengkhawatirkan Yuna. Ayah
masih nggak ngerti kenapa Rudi dan istrinya terus menyerang kami. Padahal, ayah
sudah menandatangani perjanjian untuk tidak mengambil alih perusahaan.”
“Apa Ayah benar-benar tidak ingin mengambil alih
perusahaan?” tanya Yeriko.
Adjie langsung menatap wajah Yeriko. Tanpa
mengucapkan apa pun, Yeriko sudah mengerti arti tatapannya itu.
Yeriko mengangguk kecil. Ia akan tetap menjalankan
rencana yang telah ia susun bersama ayah mertuanya.
“Yer, ada hal yang mau aku bicarakan!” Chandra
tiba-tiba sudah muncul dari balik pintu.
Yeriko langsung memutar tubuhnya menghadap ke arah
Chandra.
“Pak Adjie sudah sadar?” tanya Chandra begitu
melihat Adjie sudah duduk di atas tempat tidurnya.
Adjie mengangguk sambil tersenyum.
“Syukurlah. Yuna sama Jheni mana, ya?” tanya
Chandra.
“Mereka pulang sebentar,” jawab Yeriko.
“Oh. Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama
kamu. Bisa bicara di luar?” tanya Chandra sambil menatap wajah Yeriko.
Yeriko menganggukkan kepala. Ia segera keluar dari
ruang rawat ayah mertuanya. Berjalan menyusuri koridor rumah sakit sampai ke
sudut bangunan yang sepi.
“Gimana?” tanya Yeriko.
“Aku udah selesai selidiki Melan dan pria itu.”
“Hasilnya?”
“Mereka memang ada hubungan di masa lalu.”
Yeriko menaikkan kedua alisnya. “Maksudnya?”
“Melan dan Lonan, mereka pasangan kekasih yang
saling mencintai,” tutur Chandra.
Yeriko menyandarkan punggungnya di dinding. Ia
menyimak ucapan Chandra sambil mengelus-elus dagunya.
“Melan menikah dengan Tarudi karena uang. Ada hal
yang harus kamu ketahui lebih jauh,” tutur Chandra sambil menyodorkan beberapa
lembar kertas ke tangan Yeriko.
Yeriko langsung membuka kertas tersebut dan
membacanya. “Kamu tahu kan kalau usia Yuna dan Bellina ... jaraknya tak sampai
dua minggu?”
Yeriko mengangguk-anggukkan kepala.
“Bellina Linandar, lahir tanggal 29 September.
Tahun yang sama dengan kelahiran Yuna,” tutur Chandra sambil menunjukkan
tulisan dokumen yang ada di hadapan mereka.
“Tanggal pernikahan Tarudi dan Melan, tercatat
pada bulan April. Dari bukti catatan sipil dan foto pernikahan mereka. Mereka
menikah dan menggelar pesta di bulan yang sama,” terang Chandra.
Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Aku ngerti
apa yang mau kamu sampaikan. Kemungkinan, Bellina bukan anak Oom Tarudi?”
Chandra menganggukkan kepala. “Melan melahirkan
bayinya di bulan kelima setelah pernikahannya. Artinya, dia sudah berbadan dua
sebelum menikah. Dari catatan kepolisian yang aku dapat ... Lonan masuk ke
penjara bulan di akhir bulan April.”
“Melan masih berhubungan sama pacarnya itu sebelum
menikah?”
Chandra menganggukkan kepala. “Sebelum menikah
dengan Oom Tarudi, Melan tinggal bersama dengan pria itu.”
Yeriko memijat keningnya. “Apa ini salah satu
alasan Melan ingin menyingkirkan Adjie dan istriku? Kalau Bellina bukan
anak kandung Tarudi. Dia nggak punya penerus untuk perusahaan.”
Chandra menganggukkan kepala. “Bener banget! Bisa
jadi seperti itu. Kemungkinan, perusahaan keluarga Linandar masih bisa menjadi
milik Yuna secara hukum. Hanya saja, selama sebelas tahun ini sudah terjadi
banyak hal. Sekarang, perusahaan keluarga Lin berada di bawah naungan Wijaya
Group.”
Yeriko menghela napas. “Kunci dalam masalah ini
memang Pak Adjie. Hanya saja, dia tidak ingin mengambil alih perusahaan
keluarga Lin karena ingin melindungi Yuna.”
“Melindungi? Wait ...!” pinta Chandra. Ia
mondar-mandir beberapa kali sambil mengelus-elus dagunya.
“Kenapa?” tanya Yeriko yang sudah kesulitan untuk
memikirkan banyak hal.
“Melindungi dari siapa?” tanya Chandra balik.
“Dari Oom Taru—”
“Nggak mungkin! Oom Adjie bersikap sangat baik
dengan adiknya, begitu juga sebaliknya. Kalau memang Oom Tarudi yang ingin
mencelakai Oom Adjie ... orang pertama yang seharusnya diwaspadai adalah Oom
Tarudi. Mereka sering kelihatan berbincang dan terlihat normal.”
“Itu karena Pak Adjie pura-pura amnesia.”
“Meski dia pura-pura amnesia, tapi kamu tahu.
Setidaknya, dia yang pertama memperingatkan kamu agar menjauhi Tarudi.”
Yeriko menghela napas. “Jadi, menurut kamu
gimana?”
“Kamu harus dapat informasi detail dari ayah
mertua kamu itu. Apa dia punya musuh bisnis yang kuat?”
Yeriko langsung menatap wajah Chandra. “Kenapa
kamu tanyain ini?”
“Dari penyelidikanku, Tarudi nggak punya kemampuan
yang kuat untuk melakukan hal besar. Apalagi sampai melakukan pembunuhan
berencana.”
“Gimana dengan Melan?”
Chandra menarik napas dalam-dalam. “Wanita jahat
yang pura-pura baik, bisa mengendalikan pria yang baik menjadi jahat.”
Yeriko mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
“Kamu suruh orang untuk awasi terus pergerakan Melan!”
Chandra menganggukkan kepala. Mereka semakin
meningkatkan kewaspadaan untuk melindungi orang-orang terdekat dari bahaya yang
setiap saat mengancam mereka.
((Bersambung ...))
Thanks udah dukung cerita ini terus.
Apa yang akan mereka lakukan untuk menghadapi keluarga Yuna, ya?
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment