Friday, March 27, 2026

Perfect Hero Bab 510 : Ungkapan Hati Jheni

 


“Ayah ... Ayah harus bangun!” pinta Yuna sambil menggenggam tangan ayahnya. Hingga pagi menjelang, ayahnya tak kunjung tersadar dari komanya. Membuat perasaannya semakin tak karuan.

 

“Sabar, Yun. Ayah kamu pasti sembuh, kok.” Jheni yang sudah ada di sana berusaha menenangkan Yuna.

 

Yuna menatap pilu ke arah Jheni. “Ayahku, Jhen ... dia baru sadar dalam hitungan bulan. Kenapa harus kayak gini lagi?”

 

Jheni langsung memeluk kepala Yuna yang sedang duduk di sampingnya. “Kamu kuat, Yun. Pasti bisa melewati ini semua. Kamu juga harus mikirin anak yang ada di dalam perut kamu. Kalau ayah kamu tahu, kamu seperti ini ... dia pasti akan jauh lebih sedih.”

 

Yuna menghapus air matanya. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan perasaannya lagi. Melihat ayahnya kembali terbaring, membuatnya sangat sedih. Tapi ia juga tidak bisa terlalu larut dalam kesedihan karena ia juga sangat mencintai anaknya.

 

“Yun, kamu sama Yeriko pulang dulu ya! Kalian mandi dulu! Aku akan jagain Oom Adjie. Aku akan update perkembangannya.”

 

Yuna menatap wajah Jheni. Ia tidak ingin pergi dari ayahnya walau hanya sedikit saja.

 

Jheni menghela napas. Ia menoleh ke arah Yeriko dan Chandra yang duduk di sofa.

 

Yeriko langsung bangkit, ia menghampiri Yuna dan merangkul tubuhnya. “Kita pulang dulu!” bisiknya lirih. “Sebentar aja!”

 

Yuna menganggukkan kepala.  Ia bangkit dari tempat duduk dan mengikuti Yeriko untuk pulang ke rumah.

 

Jheni menghela napas sambil menatap tubuh Yuna dan Yeriko yang perlahan menghilang. Ia menghampiri Chandra yang sibuk dengan smartphone di tangannya.

 

“Kamu lagi sibuk apa?” tanya Jheni.

 

“Ngerjain tugas dari Yeriko.”

 

“Tugas apaan?”

 

“Mau tahu?”

 

Jheni langsung menganggukkan kepala.

 

“Cium dulu!” pinta Chandra sambil menyodorkan pipinya.

 

“Sempat-sempatnya mau mesum di saat kayak gini,” celetuk Jheni.

 

“Ck, cuma cium pipi doang, Jhen. Masa mesum?”

 

Jheni memonyongkan bibirnya ke arah Chandra. “Nggak sopan di depan Oom Adjie kayak gitu.”

 

Chandra tertawa kecil sambil mengacak ujung kepala Jheni. “Lihat!” pintanya sambil menyodorkan layar ponsel ke wajah Jheni.

 

“Apaan?” tanya Jheni sambil menatap layar ponsel yang menunjukkan potret sepasang pria dan wanita di sebuah restoran.

 

“Lihat baik-baik!” pinta Chandra sambil merangkul kepala Jheni ke dadanya. Ia tersenyum sambil menatap layar ponsel yang sejajar dengan telinga Jheni.

 

“Mereka siapa? Nggak penting banget sih lihatin foto orang lagi berduaan gitu. Kenapa? Kamu mau ngajak aku makan malam di sana?” goda Jheni sambil menoleh ke wajah Chandra yang tak berjarak dengannya.

 

Chandra tersenyum sambil memerhatikan mata Jheni. Hidung mereka yang sudah saling bersentuhan tanpa sengaja, membuatnya ingin terus mendekatkan bibirnya ke bibir Jheni.

 

Jheni melengos begitu Chandra ingin menciumnya. Ia melepas perlahan lengan Chandra yang melingkar di lehernya.

 

Chandra langsung mengerutkan kening begitu Jheni melepas rangkulannya.

 

“Mister Chandra yang paling ganteng sedunia ... kita lagi di rumah sakit. Bisa ditahan dulu nafsunya?” ucap Jheni sambil tersenyum dan memainkan matanya ke arah Chandra.

 

Chandra tersenyum kecut. “Kamu terlalu perhitungan sama pacar sendiri.”

 

“Lihat sikon juga, Chan. Kita ini di rumah sakit,” tutur Jheni berbisik.

 

Chandra hanya menyunggingkan sebelah senyumnya. Ia kembali menatap layar ponsel dan mengamati beberapa foto yang ada di sana tanpa mengajak Jheni bicara lagi.

 

Jheni menghela napas sambil menatap wajah Chandra yang kembali dingin. “Iih ... ngeselin banget ini cowok!” seru Jheni dalam hati. “Untungnya dia ganteng.”

 

Chandra hanya melirik Jheni yang mulai gelisah di sampingnya. Ia hanya tertawa dalam hati tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.

 

“Chan ...!” panggil Jheni setelah mereka saling diam selama beberapa menit.

 

“Umh.”

 

“Marah?”

 

“Nggak.”

 

“Kenapa diam aja?”

 

“Emang mau ngomong apa?”

 

Jheni langsung menautkan kedua alis sambil menatap Chandra. Ia bangkit dari sofa, sengaja menghentakkan kaki lebih keras dan bergegas keluar dari ruangan itu. Ia memilih untuk berjalan-jalan santai di taman rumah sakit tersebut.

 

“Chandra tuh kenapa sih? Kenapa nggak peka banget jadi cowok?” celetuk Jheni sambil menarik daun tanaman yang ada di taman tersebut.

 

“Cinta itu butuh perjuangan. Tapi gimana mau berjuang kalau nggak punya senjata?” tanya Jheni sambil merobek-robek daun yang ada di hadapannya.

 

“Ya Tuhan ... aku harus gimana? Aku juga pengen dilamar dan nikah sama Chandra. Tapi aku takut menghadapi kenyataan? Gimana menghadapi mama tirinya yang galak itu? Chandra aja nggak berani ajak aku ketemu mamanya? Gimana cara meluluhkan hati orang tuanya Chandra?”

 

“Iih ... aku benci sama diriku sendiri!” seru Jheni sambil memukul-mukul kepalanya.

 

“Kenapa menghadapinya nggak semudah nasehatin Yuna atau Icha? Emang bener kata orang, kalo ngomong mah gampang ... tapi ngelakuinnya susah banget sih?” tanya Jheni sambil mencabuti bunga-bunga yang ada di hadapannya tanpa sadar.

 

“Chan, kenapa sih kamu nggak pernah mau kenalin aku ke keluarga kamu? Apa karena aku nggak jelas anaknya siapa? Asal-usul keluargaku nggak jelas. Apa karena aku selalu bilang takut? Iya, aku takut. Kamu harusnya ngasih aku kekuatan supaya aku berani menghadapinya. Tapi kamu selalu diam dan aku nggak tahu harus bersikap seperti apa?”

 

“Huft ...! Jheni ... Oh, Jheni! Kenapa kamu pengecut banget?” tanya Jheni pada dirinya sendiri.

 

“Aku memang takut menghadapinya. Aku takut menghadapi keluarga kandungku sendiri. Aku takut menghadapi keluarga Chandra. Aku takut menghadapi kenyataan kalau masa depanku sama Chandra itu gelap. Gelap banget!” seru Jheni sambil menyerang tanaman bunga yang sudah hampir gundul karena ulah tangannya yang bergerak liar.

 

“Aargh ...! Kamu payah banget!” seru Jheni sambil memukul tanaman pucuk merah yang ada di hadapannya itu.

 

“Aw ...!” seru Jheni saat tangannya tertusuk ranting kayu pucuk merah yang tajam.

 

“Jhen, kamu nggak mau nemenin aku di dalam. Malah ngobrol sama tanaman yang melukai kamu,” tutur Chandra sambil menarik tangan Jheni. Ia memerhatikan jari tangan Jheni yang terluka dan langsung menghisapnya.

 

Jheni membelalakkan mata. Ia menarik tangannya ke belakang tubuh. Jantungnya berdebar sangat kencang dan ingin segera menyembunyikan wajahnya. “Kamu udah dari tadi di sini?” tanya Jheni tanpa menatap wajah Chandra.

 

“Iya.”

 

“Ada lubang tikus nggak sih di sini?” batin Jheni sambil mengamati tanah yang ada di sekitarnya. Ia ingin sekali memasukkan tubuhnya ke dalam lubang tikus saat itu juga agar Chandra tak perlu melihatnya.

 

“Kamu kenapa?” tanya Chandra sambil menggenggam kedua pundak Jheni.

 

Jheni kesulitan bernapas saat pandangan matanya bertemu dengan mata Chandra. “Ka-kamu ... kamu denger semua yang aku omongin?”

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

Jheni tersenyum kecut ke arah Chandra. Wajahnya yang merah padam tak bisa ia kendalikan lagi. “Aku malu banget!” batin Jheni sambil menutup wajahnya dan berbalik pergi.

 

Chandra langsung menarik tubuh Jheni dan membenamkan di dadanya.

 

Jheni tertegun saat ia sudah ada di dalam pelukan Chandra. Ia bisa mendengar dengan jelas detak jantung Chandra yang menempel tepat di telinganya.

 

“Jhen, katakan apa yang seharusnya kamu katakan!” pinta Chandra. “Aku memang bodoh karena nggak bisa bersikap seperti yang kamu inginkan. Tapi aku tetap mencintai kamu dan seluruh masa depanku adalah milikmu.”

 

DEG!

 

Jheni merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia sangat mengetahui bagaimana sifat Chandra yang tertutup dan pendiam. Ia justru merasa bersalah saat Chandra mengucapkan kalimat yang begitu indah terdengar di telinganya. Bukankah ia mencintai Chandra apa adanya? Kenapa kini ia mulai menuntut Chandra menjadi orang lain?

 

“Maafin aku, Chan ...!” pinta Jheni sambil menitikkan air mata. “Nggak seharusnya aku menuntut kamu menjadi seperti orang lain karena aku mencintai kamu yang seperti ini. Kamu yang cuek, kamu yang nggak bisa ngelucu, kamu yang selalu ngomong apa adanya, kamu yang ngeselin ... yang bikin aku jatuh cinta,” lanjutnya makin terisak.

 

Chandra langsung melepas pelukannya. Ia menangkup wajah Jheni dan menatap mata yang penuh air mata cinta di dalamnya. “Jhen, mulai hari ini ... ungkapkan semua yang seharusnya diungkapkan! Bisakah? Sesulit apa pun itu ... aku akan berusaha mewujudkannya.”

 

Jheni semakin terisak mendengar ucapan Chandra. Ia merasa bersalah pada dirinya sendiri dan juga cinta yang ada di antara mereka. Ia benci pada dirinya sendiri yang mulai menuntut kehadiran Chandra dalam hidupnya. Bukan hanya menuntut pria itu untuk memenuhi keinginannya, tapi juga mulai bergantung dalam segala hal.

 

Chandra kembali memeluk tubuh Jheni. Memeluknya sangat erat hingga membuat dadanya sesak. Ia kesal dengan dirinya sendiri karena tidak pernah bisa mengerti keinginan wanitanya dengan baik.

 

“Minggu ini, kita ke Jogja. Gimana?” tanya Chandra.

 

“Ketemu sama orang tua kamu?” tanya Jheni.

 

Chandra menganggukkan kepala sambil mengecup kepala Jheni. “Apa kamu udah siap?”

 

Jheni menganggukkan kepala. “Asal bisa selalu sama kamu, aku akan berjuang untuk menakhlukan hati orang tua kamu.”

 

Chandra tersenyum kecil. “Seharusnya, aku nggak membiarkan kamu selalu berjuang untuk aku. Harusnya seorang pria yang berjuang untuk wanitanya. Setelah menghadapi keluargaku, kita cari orang tua kamu sama-sama!”

 

Jheni menganggukkan kepala. Ia tersenyum sambil melilitkan kedua lengannya ke tubuh Chandra. Ia tahu, Chandra bukan pria yang romantis seperti drama televisi. Ia tidak ingin menuntut Chandra menjadi peran yang indah. Ia hanya bisa menerima dan mencintai semua hal tentang pria itu.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi dan mengungkap misteri yang belum terpecahkan satu per satu.

Thank’s!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 509 : Niat Jahat Melan

 


“Aku nggak akan membiarkan Adjie merebut kembali perusahaan yang sudah ada di tangan kami,” gumam Melan sambil menyandarkan kepalanya ke sofa. Ia duduk santai, menjulurkan kakinya ke meja sambil tersenyum bahagia.

 

“Untung ada dia yang selalu bisa diandalkan,” celetuknya sambil tersenyum. Ia sesekali menatap layar ponselnya untuk mengetahui informasi terkini yang sudah ia tunggu sejak beberapa jam lalu.

 

Drrt ... Drrt ... Drrt ...!

 

Melan langsung menyambar ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia sudah menanti panggilan telepon dari orang yang sudah ia suruh untuk menjalankan aksinya.

 

“Halo ...!” sapa Melan begitu ia menjawab panggilan telepon dari orang asing tersebut.

 

“Halo, Honey ...!” sapa suara berat di seberang sana.

 

Melan langsung tersenyum begitu mendengar suara pria yang sudah lama tak menyapanya begitu manis.

 

“Aku sudah selesai melakukan apa yang kamu mau,” tutur pria itu.

 

“Gimana? Berhasil?”

 

“Kemungkinan berhasil.”

 

“Kenapa kemungkinan? Emangnya kamu nggak pastikan dia udah mati atau belum?” tanya Melan kesal.

 

“Zaman sekarang, nggak seperti sepuluh tahun lalu. Di mana-mana ada CCTV, kalau aku masih harus ngecek dulu keadaan orang itu, bisa-bisa aku ketahuan.”

 

“Hmm ... iya juga, sih. Kamu nggak ninggalin jejak ‘kan?” tanya Melan sedikit khawatir.

 

“Tenang aja! Aku pakai plat palsu. Mereka nggak akan curiga. Sudah aku kembalikan ke plat aslinya.”

 

“Bagus! Aku suka cara kerja kamu,” sahut Melan sambil tersenyum bahagia.

 

“Iya, dong. Apa sih yang nggak buat kamu,” tutur pria yang ada di seberang sana.

 

Melan tersenyum bahagia karena pria itu selalu menuruti semua keinginannya.

 

“Aku sudah jalani tugas dari kamu. Jangan lupa transferan ya!” tutur pria itu mengingatkan.

 

“Kalau soal uang, itu gampang. Gak perlu khawatir!”

 

Pria itu tertawa bahagia. “Malam ini, aku check in di hotel. Semua tagihannya, kamu yang urus ya!” pintanya lembut.

 

“Iya. Tenang aja!” sahut Melan. “Makasih banyak ya! Kamu sudah melakukan banyak hal untuk aku.”

 

“Aku akan melakukan apa pun untuk kamu. Asal kamu tahu bagaimana cara menghargai apa yang sudah aku korbankan selama bertahun-tahun ini.”

 

Melan menghela napas. “Aku akan selalu menghargai kamu. Walau bagaimanapun, aku tidak pernah benar-benar mencintai suamiku saat ini. Aku hanya butuh uang yang dia miliki.”

 

“Baguslah. Setidaknya, aku bisa merasakan nyamannya tidur di hotel sungguhan.”

 

“Iya. Nikmatilah apa yang bisa kamu nikmati sekarang. Waspadalah untuk beberapa hari ke depan. Aku akan berusaha untuk mengendalikan semuanya.”

 

“Oke. Jangan lupa transferannya!”

 

“Iya, iya.” Melan langsung menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara mobil suaminya masuk ke halaman rumah. “Aku tutup teleponnya. Suamiku sudah pulang. Ingat, jangan sampai ketahuan sama polisi!”

 

“Siap, Honey ...! Bye-bye ...!”

 

Melan langsung mematikan panggilan teleponnya begitu ia mendengar suara mobil suaminya sudah masuk ke garasi. Ia bangkit dari sofa dan melangkah menghampiri suaminya yang sudah sampai di depan pintu rumahnya.

 

“Mama belum tidur?” tanya Tarudi saat Melan menyambutnya di pintu.

 

“Belum. Papa sudah makan?” tanya Melan sambil mengambil alih tas laptop suaminya.

 

“Sudah,” jawab Tarudi sambil melonggarkan dasinya.

 

Melan tersenyum sambil membantu melepaskan jas suaminya. “Mama buatkan kopi dulu.”

 

Tarudi mengangguk. Ia duduk di sofa ruang tamu sambil menyandarkan kepalanya di punggung sofa untuk melepas lelah. Banyak hal yang telah ia lakukan untuk membuat anak dan istrinya selalu bahagia.

 

Beberapa menit kemudian, Melan kembali dengan membawa secangkir kopi hangat untuk suaminya. Ia terus tersenyum manis sambil menatap suaminya itu. Ia merasa sangat bahagia karena berhasil mengendalikan suaminya selama bertahun-tahun. Ia harap, Bellina juga bisa melakukan hal sama seperti yang sudah ia lakukan.

 

“Papa lembur lagi?” tanya Melan. “Mama buatkan kopi jahe supaya bisa tetap fit setiap hari.”

 

Tarudi tersenyum sambil menatap Melan. “Makasih, Ma!”

 

Melan menganggukkan kepala. “Oh ya, gimana kabarnya Kak Adjie. Semenjak makan bersama malam itu, Mama tidak mendengar kabar Kak Adjie. Apa dia baik-baik aja?” tanya Melan. Ia hanya ingin memastikan kalau aksinya kali ini berhasil atau tidak.

 

“Papa sibuk akhir-akhir ini. Semoga, dia baik-baik saja.”

 

Melan menghela napas. “Hmm ... semoga aja. Dia nggak akan membahayakan buat perusahaan kita ‘kan?”

 

“Kamu tenang saja. Kak Adjie dan Yuna sudah berjanji kalau mereka tidak akan merebut perusahaan kembali.”

 

“Baguslah. Aku bisa tidur dengan tenang setiap malam. Tapi, sudah seminggu aku tidak mendengar kabar Kak Adjie. Dia tinggal sendirian di rumah. Tidak ada yang memperhatikan dia. Gimana, kalau Papa telepon dia?” tanya Melan.

 

“Iya juga, ya? Beberapa hari ini, Papa juga nggak sempat main ke rumahnya,” jawab Tarudi sambil merogoh ponsel di sakunya.

 

Melan tersenyum sambil menatap wajah Tarudi. Ia sangat bersemangat mendengarkan bagaimana keadaan Adjie saat ini. Ia hanya ingin memastikan kalau rencananya kali ini berhasil atau tidak.

 

“Nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif. Mohon coba beberapa saat lagi!” Tarudi menelepon nomer Adjie beberapa kali, tapi tidak bisa tersambung.

 

“Gimana, Pa?” tanya Melan.

 

“Nggak aktif. Papa coba besok pagi. Mungkin aja, Kak Adjie lagi istirahat.”

 

“Oh, oke.” Melan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia berusaha menyembunyikan senyuman di dalam hatinya. Tangannya sibuk memijat lengan dan bahu suaminya.

 

“Mama tumben hari ini manis banget. Ada yang mau diminta?” tanya Tarudi menyelidik.

 

Melan meringis sambil menatap suaminya. “Pa, ada tas produk baru yang baru diluncurkan. Mama pengen banget beli tas itu. Secara, temen-temen arisan Mama itu selalu aja meremehkan keluarga kita kalau Mama nggak update produk baru. Mereka bilang, istrinya direktur masa nggak bisa beli tas branded.”

 

Tarudi langsung menoleh ke arah Melan. “Harganya berapa?”

 

“Nggak mahal, kok. Cuma enam puluh juta.”

 

“Oh. Besok pagi Papa transfer ke rekening Mama.”

 

Melan tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Makasih, Pa! Mana lagi yang mau dipijitin?” tanya Melan sambil tersenyum manis. Ia sengaja meminta tas mahal untuk menyembunyikan apa yang sedang ia lakukan di luar sana.

 

“Sini ... sini ... sini ...!” pinta Tarudi sambil menunjuk anggota tubuhnya yang terasa pegal-pegal.

 

Melan tersenyum bahagia sambil memijat tubuh suaminya. Ia sangat berharap kalau rencana kali ini untuk menyingkirkan Adjie sudah berhasil. Ia tidak bisa mempercayai suaminya sepenuhnya. Sebab, Tarudi masih adik kandung Adjie dan tidak bisa sepenuhnya ia kendalikan.

 

Sesekali, Melan melirik ke arah ponselnya untuk mendapatkan kabar terbaru dari orang suruhannya. Jantungnya terus berdebar kencang saat orang itu sudah kembali ke kehidupannya. Ia bisa mengandalkan pria itu untuk mendapatkan harta dan kebahagiaan yang ia inginkan.

 

“Kali ini, aku harus berhasil menyingkirkan Adjie. Aku nggak percaya kalau menantunya yang masih muda itu punya kekuatan besar untuk melawan aku. Dia harus tahu dengan siapa dia berhadapan?” batin Melan penuh kebencian.

 

Melan tidak ingin memberi kesempatan lagi untuk Yuna dan ayahnya meski mereka dalam perlindungan keluarga besar Hadikusuma. Ia ingin memenangkan pertarungannya kali ini.

 

((Bersambung ...))

Siapa orang yang ada di belakang Melan?

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi dan mengungkap misteri yang belum terpecahkan satu per satu.

Thank’s!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 508 : Waktu Penuh Harapan

 


Rullyta dan Nurali segera menyusul ke rumah sakit untuk melihat keadaan Adjie. Mereka langsung menuju ruang rawat di mana Yuna sudah menunggu di sana.

 

“Yun, gimana keadaan ayah kamu?” tanya Rullyta sambil menatap Adjie yang terbaring lemah di ruang rawatnya.

 

“Ayah baik-baik aja, Ma. Dia pasti bangun lagi buat aku,” jawab Yuna dengan mata berkaca-kaca. Ia terus menggenggam erat tangan Adjie yang tidak merespon keberadaannya sedikit pun.

 

Rullyta langsung mengelus lembut kepala Yuna. “Sabar, ya!” bisiknya sambil menoleh ke arah papanya.

 

Nurali hanya menghela napas melihat keadaan besannya yang kembali terbaring di rumah sakit karena kecelakaan. “Kasus kecelakaan kali ini, harus diusut sampai tuntas!”

 

Rullyta menganggukkan kepala.

 

“Yuna, ini sudah malam. Sebaiknya kamu istirahat!” perintah Nurali. “Ingatlah pada anak yang ada di dalam perut kamu!”

 

Yuna langsung menengadahkan kepalanya. “Tapi ... ayah ...”

 

“Ayah kamu, biar Mama yang nungguin!” sahut Rullyta. “Biar Angga yang antar kamu pulang.”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku tidur di sini aja, Ma. Aku mau nungguin ayah,” pinta Yuna dengan mata berkaca-kaca.

 

Rullyta menghela napas. “Kamu lagi hamil, masa tidur di sofa? Kasihan bayi kamu, Yun.”

 

“Sofa di sini cukup luas untuk istirahat, Ma. Mama nggak perlu khawatir! Aku akan nunggu Yeriko jemput aku.”

 

“Baiklah kalau memang itu mau kamu. Kamu istirahatlah, Mama akan suruh Yeriko segera kembali,” tutur Rullyta sambil memapah Yuna menuju sofa besar yang ada di dalam ruang VVIP tersebut.

 

Yuna langsung berbaring di atas sofa, matanya terus menatap Adjie yang terbaring di tempat tidur.

 

“Pa, Papa juga istirahat ya!” pinta Rullyta sambil menatap wajah Nurali.

 

Nurali menganggukkan kepala. “Baiklah. Papa tidak bisa berlama-lama di sini. Kalau ada apa-apa, segera kabari Papa!”

 

Rullyta menganggukkan kepala. Ia segera mengantar Nurali ke luar dari pintu bangsal tersebut.

 

Di saat yang bersamaan, perawat yang bertugas masuk ke dalam ruang rawat Adjie untuk mengganti cairan infus.

 

“Ibu mau tidur di sini?” tanya perawat itu dengan ramah sambil menghampiri Yuna, usai mengganti cairan infus pasiennya.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Bisa bangun sebentar, Ibu?”

 

Yuna mengangguk. Ia segera bangkit dari sofa.

 

Perawat itu langsung menarik sofa bed tersebut agar Yuna bisa tidur dengan nyaman. “Ini sofa bed yang khusus untuk ruang VVIP. Ibu silakan beristirahat!” tutur perawat itu dengan ramah.

 

“Makasih banyak, Suster!”

 

Perawat itu menganggukkan kepala. Ia membuka lemari yang ada di ruangan tersebut dan memberikan selimut untuk Yuna.

 

Rullyta menghela napas lega melihat pelayanan di rumah sakit tersebut. Tak hanya memperhatikan pasiennya, mereka juga memerhatikan penunggu pasiennya.

 

“Saya permisi dulu! Kalau ada apa-apa, segera hubungi kami!” pinta perawat tersebut dengan ramah.

 

Beberapa menit kemudian, Yeriko masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

“Gimana hasilnya?” tanya Rullyta sambil menghampiri Yeriko. Ia melirik Yuna yang sudah terlelap di sofa.

 

“Orang yang menabrak Pak Adjie melarikan diri. Dugaan sementara, ini memang kecelakaan yang sudah direncanakan sebelumnya. Tapi, kami belum memiliki bukti-bukti untuk menangkap pelaku karena pelaku pakai mobil sewaan yang platnya milik provinsi lain.”

 

“Jadi?”

 

“Masih harus menunggu hasil selanjutnya. Aku juga sudah nyuruh mereka untuk mengawasi Melan.”

 

“Melan? Tantenya Yuna itu?” tanya Rullyta lirih.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Dia itu bener-bener nggak punya hati. Apa yang selama ini dia buat ke Yuna masih nggak cukup? Mama heran sama orang itu. Pokoknya, siapa pun pelakunya ... kakek kamu sudah berpesan untuk tidak melepaskannya.”

 

Yeriko mengangguk.

 

“Ya sudah, Mama pulang dulu! Kamu temani istri kamu, ya! Jaga dia dan cucu Mama baik-baik!”

 

“Iya, Ma.”

 

Rullyta tersenyum. Ia meraih tas yang ia letakkan di atas meja dan bergegas keluar dari ruangan tersebut karena ia sudah terkantuk-kantuk sejak tadi.

 

Yeriko menatap wajah Yuna yang sudah berbaring di atas sofa bed. Ia langsung menghampirinya, mengelus pipi Yuna yang lembut dan mencium kening istrinya itu. “Semua akan baik-baik aja, percayalah!” bisiknya dalam hati.

 

Yuna bisa merasakan sentuhan tangan Yeriko di wajahnya. Namun, matanya enggan terbuka karena terlalu lama menangis. Ia berusaha keras membuka mata dan melihat Yeriko yang sudah ada di hadapannya.

 

Yeriko tersenyum begitu melihat Yuna membuka mata. “Tidurlah! Maaf, sudah mengganggumu.”

 

“Ay ...!” panggil Yuna lirih sambil tersenyum.

 

“Iya.”

 

“Peluk aku!” pinta Yuna.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia segera naik ke sofa bed tersebut dan masuk ke dalam selimut.

 

“Ay, apa ini perbuatan Tante Melan lagi?” tanya Yuna lirih.

 

Yeriko mengusap lembut pipi Yuna sambil meletakkan dahinya ke dahi Yuna. “Belum ada bukti yang kuat untuk menuduh tante kamu itu.”

 

Yuna menarik napas panjang. “Aku selalu bersikap baik. Kenapa Tante Melan masih terus membenciku?”

 

“Kita nggak pernah tahu apa yang ada di dalam hati orang lain. Oh ya, seandainya pelakunya adalah tante kamu sendiri ... apa kamu mau melepaskannya begitu aja?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak mau membiarkan dia hidup dengan tenang.”

 

Yeriko tersenyum sambil menatap manik mata Yuna. Mata Yuna yang bengkak, membuatnya sangat sedih. Ia tidak ingin melihat istrinya menangis, menangis karena dirinya atau orang-orang di sekelilingnya.

 

“Ada orang-orang yang berhak mendapatkan pengampunan dan tidak. Aku harap, semua ini tidak membuat nama baik keluarga Lin menjadi buruk di mata orang banyak. Walau bagaimana pun, kalian juga bagian dari keluarga Hadikusuma.”

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia sangat mengerti kalau keluarga besar Hadikusuma adalah keluarga yang begitu terhormat dan selalu menjaga martabatnya. Ia juga tidak ingin perseteruan internal keluarganya, berimbas pada keluarga suaminya.

 

“Jangan terlalu banyak berpikir!” pinta Yeriko sambil mengetuk dahi Yuna. “Semua akan baik-baik aja. Ayah pasti sadar secepatnya.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Ayah pasti akan sembuh.”

 

Yeriko tersenyum. Ia memeluk erat tubuh Yuna. Perut Yuna yang sudah membesar, bersentuhan dengan perut Yeriko. Ia bisa merasakan kalau anak yang ada di dalam perut Yuna sedang bergerak.

 

“Dia belum tidur?” tanya Yeriko sambil mengelus perut Yuna.

 

Yuna tersenyum. “Dia sering bangun tengah malam.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Apa tidurmu nggak terganggu?”

 

“Terganggu. Tapi aku selalu bahagia saat dia bergerak aktif.”

 

Yeriko mengelus-elus perut Yuna. “Dedek manis, kita tidur ya! Kasihan bunda kamu. Matanya udah bengkak dan harus istirahat.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko. Ia membenamkan wajahnya ke dada suaminya itu. Ia merasa sangat bahagia karena setiap malamnya, ia tak pernah sendirian. Ia selalu ingin melihat wajah suami dan anaknya setiap kali ia membuka mata.

 

Yeriko terus memeluk Yuna penuh kehangatan sambil menunggu waktu-waktu penuh harapan. Harapan pada hari esok agar Adjie segera tersadar dari komanya. Ia tidak ingin melihat istrinya diselimuti kesedihan sepanjang hari.

 

 

((Bersambung ...))

Semoga, besok Ayah Adjie sudah bisa sadar dari koma ya!

Apa yang akan dilakukan Mr. Ye selanjutnya ya?

Dukung terus cerita ini biar makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas