Friday, March 27, 2026

Perfect Hero Bab 509 : Niat Jahat Melan

 


“Aku nggak akan membiarkan Adjie merebut kembali perusahaan yang sudah ada di tangan kami,” gumam Melan sambil menyandarkan kepalanya ke sofa. Ia duduk santai, menjulurkan kakinya ke meja sambil tersenyum bahagia.

 

“Untung ada dia yang selalu bisa diandalkan,” celetuknya sambil tersenyum. Ia sesekali menatap layar ponselnya untuk mengetahui informasi terkini yang sudah ia tunggu sejak beberapa jam lalu.

 

Drrt ... Drrt ... Drrt ...!

 

Melan langsung menyambar ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia sudah menanti panggilan telepon dari orang yang sudah ia suruh untuk menjalankan aksinya.

 

“Halo ...!” sapa Melan begitu ia menjawab panggilan telepon dari orang asing tersebut.

 

“Halo, Honey ...!” sapa suara berat di seberang sana.

 

Melan langsung tersenyum begitu mendengar suara pria yang sudah lama tak menyapanya begitu manis.

 

“Aku sudah selesai melakukan apa yang kamu mau,” tutur pria itu.

 

“Gimana? Berhasil?”

 

“Kemungkinan berhasil.”

 

“Kenapa kemungkinan? Emangnya kamu nggak pastikan dia udah mati atau belum?” tanya Melan kesal.

 

“Zaman sekarang, nggak seperti sepuluh tahun lalu. Di mana-mana ada CCTV, kalau aku masih harus ngecek dulu keadaan orang itu, bisa-bisa aku ketahuan.”

 

“Hmm ... iya juga, sih. Kamu nggak ninggalin jejak ‘kan?” tanya Melan sedikit khawatir.

 

“Tenang aja! Aku pakai plat palsu. Mereka nggak akan curiga. Sudah aku kembalikan ke plat aslinya.”

 

“Bagus! Aku suka cara kerja kamu,” sahut Melan sambil tersenyum bahagia.

 

“Iya, dong. Apa sih yang nggak buat kamu,” tutur pria yang ada di seberang sana.

 

Melan tersenyum bahagia karena pria itu selalu menuruti semua keinginannya.

 

“Aku sudah jalani tugas dari kamu. Jangan lupa transferan ya!” tutur pria itu mengingatkan.

 

“Kalau soal uang, itu gampang. Gak perlu khawatir!”

 

Pria itu tertawa bahagia. “Malam ini, aku check in di hotel. Semua tagihannya, kamu yang urus ya!” pintanya lembut.

 

“Iya. Tenang aja!” sahut Melan. “Makasih banyak ya! Kamu sudah melakukan banyak hal untuk aku.”

 

“Aku akan melakukan apa pun untuk kamu. Asal kamu tahu bagaimana cara menghargai apa yang sudah aku korbankan selama bertahun-tahun ini.”

 

Melan menghela napas. “Aku akan selalu menghargai kamu. Walau bagaimanapun, aku tidak pernah benar-benar mencintai suamiku saat ini. Aku hanya butuh uang yang dia miliki.”

 

“Baguslah. Setidaknya, aku bisa merasakan nyamannya tidur di hotel sungguhan.”

 

“Iya. Nikmatilah apa yang bisa kamu nikmati sekarang. Waspadalah untuk beberapa hari ke depan. Aku akan berusaha untuk mengendalikan semuanya.”

 

“Oke. Jangan lupa transferannya!”

 

“Iya, iya.” Melan langsung menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara mobil suaminya masuk ke halaman rumah. “Aku tutup teleponnya. Suamiku sudah pulang. Ingat, jangan sampai ketahuan sama polisi!”

 

“Siap, Honey ...! Bye-bye ...!”

 

Melan langsung mematikan panggilan teleponnya begitu ia mendengar suara mobil suaminya sudah masuk ke garasi. Ia bangkit dari sofa dan melangkah menghampiri suaminya yang sudah sampai di depan pintu rumahnya.

 

“Mama belum tidur?” tanya Tarudi saat Melan menyambutnya di pintu.

 

“Belum. Papa sudah makan?” tanya Melan sambil mengambil alih tas laptop suaminya.

 

“Sudah,” jawab Tarudi sambil melonggarkan dasinya.

 

Melan tersenyum sambil membantu melepaskan jas suaminya. “Mama buatkan kopi dulu.”

 

Tarudi mengangguk. Ia duduk di sofa ruang tamu sambil menyandarkan kepalanya di punggung sofa untuk melepas lelah. Banyak hal yang telah ia lakukan untuk membuat anak dan istrinya selalu bahagia.

 

Beberapa menit kemudian, Melan kembali dengan membawa secangkir kopi hangat untuk suaminya. Ia terus tersenyum manis sambil menatap suaminya itu. Ia merasa sangat bahagia karena berhasil mengendalikan suaminya selama bertahun-tahun. Ia harap, Bellina juga bisa melakukan hal sama seperti yang sudah ia lakukan.

 

“Papa lembur lagi?” tanya Melan. “Mama buatkan kopi jahe supaya bisa tetap fit setiap hari.”

 

Tarudi tersenyum sambil menatap Melan. “Makasih, Ma!”

 

Melan menganggukkan kepala. “Oh ya, gimana kabarnya Kak Adjie. Semenjak makan bersama malam itu, Mama tidak mendengar kabar Kak Adjie. Apa dia baik-baik aja?” tanya Melan. Ia hanya ingin memastikan kalau aksinya kali ini berhasil atau tidak.

 

“Papa sibuk akhir-akhir ini. Semoga, dia baik-baik saja.”

 

Melan menghela napas. “Hmm ... semoga aja. Dia nggak akan membahayakan buat perusahaan kita ‘kan?”

 

“Kamu tenang saja. Kak Adjie dan Yuna sudah berjanji kalau mereka tidak akan merebut perusahaan kembali.”

 

“Baguslah. Aku bisa tidur dengan tenang setiap malam. Tapi, sudah seminggu aku tidak mendengar kabar Kak Adjie. Dia tinggal sendirian di rumah. Tidak ada yang memperhatikan dia. Gimana, kalau Papa telepon dia?” tanya Melan.

 

“Iya juga, ya? Beberapa hari ini, Papa juga nggak sempat main ke rumahnya,” jawab Tarudi sambil merogoh ponsel di sakunya.

 

Melan tersenyum sambil menatap wajah Tarudi. Ia sangat bersemangat mendengarkan bagaimana keadaan Adjie saat ini. Ia hanya ingin memastikan kalau rencananya kali ini berhasil atau tidak.

 

“Nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif. Mohon coba beberapa saat lagi!” Tarudi menelepon nomer Adjie beberapa kali, tapi tidak bisa tersambung.

 

“Gimana, Pa?” tanya Melan.

 

“Nggak aktif. Papa coba besok pagi. Mungkin aja, Kak Adjie lagi istirahat.”

 

“Oh, oke.” Melan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia berusaha menyembunyikan senyuman di dalam hatinya. Tangannya sibuk memijat lengan dan bahu suaminya.

 

“Mama tumben hari ini manis banget. Ada yang mau diminta?” tanya Tarudi menyelidik.

 

Melan meringis sambil menatap suaminya. “Pa, ada tas produk baru yang baru diluncurkan. Mama pengen banget beli tas itu. Secara, temen-temen arisan Mama itu selalu aja meremehkan keluarga kita kalau Mama nggak update produk baru. Mereka bilang, istrinya direktur masa nggak bisa beli tas branded.”

 

Tarudi langsung menoleh ke arah Melan. “Harganya berapa?”

 

“Nggak mahal, kok. Cuma enam puluh juta.”

 

“Oh. Besok pagi Papa transfer ke rekening Mama.”

 

Melan tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Makasih, Pa! Mana lagi yang mau dipijitin?” tanya Melan sambil tersenyum manis. Ia sengaja meminta tas mahal untuk menyembunyikan apa yang sedang ia lakukan di luar sana.

 

“Sini ... sini ... sini ...!” pinta Tarudi sambil menunjuk anggota tubuhnya yang terasa pegal-pegal.

 

Melan tersenyum bahagia sambil memijat tubuh suaminya. Ia sangat berharap kalau rencana kali ini untuk menyingkirkan Adjie sudah berhasil. Ia tidak bisa mempercayai suaminya sepenuhnya. Sebab, Tarudi masih adik kandung Adjie dan tidak bisa sepenuhnya ia kendalikan.

 

Sesekali, Melan melirik ke arah ponselnya untuk mendapatkan kabar terbaru dari orang suruhannya. Jantungnya terus berdebar kencang saat orang itu sudah kembali ke kehidupannya. Ia bisa mengandalkan pria itu untuk mendapatkan harta dan kebahagiaan yang ia inginkan.

 

“Kali ini, aku harus berhasil menyingkirkan Adjie. Aku nggak percaya kalau menantunya yang masih muda itu punya kekuatan besar untuk melawan aku. Dia harus tahu dengan siapa dia berhadapan?” batin Melan penuh kebencian.

 

Melan tidak ingin memberi kesempatan lagi untuk Yuna dan ayahnya meski mereka dalam perlindungan keluarga besar Hadikusuma. Ia ingin memenangkan pertarungannya kali ini.

 

((Bersambung ...))

Siapa orang yang ada di belakang Melan?

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi dan mengungkap misteri yang belum terpecahkan satu per satu.

Thank’s!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas