“Aku nggak akan membiarkan Adjie merebut kembali
perusahaan yang sudah ada di tangan kami,” gumam Melan sambil menyandarkan
kepalanya ke sofa. Ia duduk santai, menjulurkan kakinya ke meja sambil
tersenyum bahagia.
“Untung ada dia yang selalu bisa diandalkan,”
celetuknya sambil tersenyum. Ia sesekali menatap layar ponselnya untuk
mengetahui informasi terkini yang sudah ia tunggu sejak beberapa jam lalu.
Drrt ... Drrt ... Drrt ...!
Melan langsung menyambar ponsel yang ia letakkan
di atas meja. Ia sudah menanti panggilan telepon dari orang yang sudah ia suruh
untuk menjalankan aksinya.
“Halo ...!” sapa Melan begitu ia menjawab
panggilan telepon dari orang asing tersebut.
“Halo, Honey ...!” sapa suara berat di seberang
sana.
Melan langsung tersenyum begitu mendengar suara
pria yang sudah lama tak menyapanya begitu manis.
“Aku sudah selesai melakukan apa yang kamu mau,”
tutur pria itu.
“Gimana? Berhasil?”
“Kemungkinan berhasil.”
“Kenapa kemungkinan? Emangnya kamu nggak pastikan
dia udah mati atau belum?” tanya Melan kesal.
“Zaman sekarang, nggak seperti sepuluh tahun lalu.
Di mana-mana ada CCTV, kalau aku masih harus ngecek dulu keadaan orang itu,
bisa-bisa aku ketahuan.”
“Hmm ... iya juga, sih. Kamu nggak ninggalin jejak
‘kan?” tanya Melan sedikit khawatir.
“Tenang aja! Aku pakai plat palsu. Mereka nggak
akan curiga. Sudah aku kembalikan ke plat aslinya.”
“Bagus! Aku suka cara kerja kamu,” sahut Melan
sambil tersenyum bahagia.
“Iya, dong. Apa sih yang nggak buat kamu,” tutur
pria yang ada di seberang sana.
Melan tersenyum bahagia karena pria itu selalu
menuruti semua keinginannya.
“Aku sudah jalani tugas dari kamu. Jangan lupa
transferan ya!” tutur pria itu mengingatkan.
“Kalau soal uang, itu gampang. Gak perlu
khawatir!”
Pria itu tertawa bahagia. “Malam ini, aku check in
di hotel. Semua tagihannya, kamu yang urus ya!” pintanya lembut.
“Iya. Tenang aja!” sahut Melan. “Makasih banyak
ya! Kamu sudah melakukan banyak hal untuk aku.”
“Aku akan melakukan apa pun untuk kamu. Asal kamu
tahu bagaimana cara menghargai apa yang sudah aku korbankan selama
bertahun-tahun ini.”
Melan menghela napas. “Aku akan selalu menghargai
kamu. Walau bagaimanapun, aku tidak pernah benar-benar mencintai suamiku saat
ini. Aku hanya butuh uang yang dia miliki.”
“Baguslah. Setidaknya, aku bisa merasakan
nyamannya tidur di hotel sungguhan.”
“Iya. Nikmatilah apa yang bisa kamu nikmati
sekarang. Waspadalah untuk beberapa hari ke depan. Aku akan berusaha untuk
mengendalikan semuanya.”
“Oke. Jangan lupa transferannya!”
“Iya, iya.” Melan langsung menoleh ke arah pintu
begitu mendengar suara mobil suaminya masuk ke halaman rumah. “Aku tutup
teleponnya. Suamiku sudah pulang. Ingat, jangan sampai ketahuan sama polisi!”
“Siap, Honey ...! Bye-bye ...!”
Melan langsung mematikan panggilan teleponnya
begitu ia mendengar suara mobil suaminya sudah masuk ke garasi. Ia bangkit dari
sofa dan melangkah menghampiri suaminya yang sudah sampai di depan pintu
rumahnya.
“Mama belum tidur?” tanya Tarudi saat Melan
menyambutnya di pintu.
“Belum. Papa sudah makan?” tanya Melan sambil
mengambil alih tas laptop suaminya.
“Sudah,” jawab Tarudi sambil melonggarkan dasinya.
Melan tersenyum sambil membantu melepaskan jas
suaminya. “Mama buatkan kopi dulu.”
Tarudi mengangguk. Ia duduk di sofa ruang tamu
sambil menyandarkan kepalanya di punggung sofa untuk melepas lelah. Banyak hal
yang telah ia lakukan untuk membuat anak dan istrinya selalu bahagia.
Beberapa menit kemudian, Melan kembali dengan
membawa secangkir kopi hangat untuk suaminya. Ia terus tersenyum manis sambil
menatap suaminya itu. Ia merasa sangat bahagia karena berhasil mengendalikan
suaminya selama bertahun-tahun. Ia harap, Bellina juga bisa melakukan hal sama
seperti yang sudah ia lakukan.
“Papa lembur lagi?” tanya Melan. “Mama buatkan
kopi jahe supaya bisa tetap fit setiap hari.”
Tarudi tersenyum sambil menatap Melan. “Makasih,
Ma!”
Melan menganggukkan kepala. “Oh ya, gimana
kabarnya Kak Adjie. Semenjak makan bersama malam itu, Mama tidak mendengar
kabar Kak Adjie. Apa dia baik-baik aja?” tanya Melan. Ia hanya ingin memastikan
kalau aksinya kali ini berhasil atau tidak.
“Papa sibuk akhir-akhir ini. Semoga, dia baik-baik
saja.”
Melan menghela napas. “Hmm ... semoga aja. Dia
nggak akan membahayakan buat perusahaan kita ‘kan?”
“Kamu tenang saja. Kak Adjie dan Yuna sudah
berjanji kalau mereka tidak akan merebut perusahaan kembali.”
“Baguslah. Aku bisa tidur dengan tenang setiap
malam. Tapi, sudah seminggu aku tidak mendengar kabar Kak Adjie. Dia tinggal
sendirian di rumah. Tidak ada yang memperhatikan dia. Gimana, kalau Papa
telepon dia?” tanya Melan.
“Iya juga, ya? Beberapa hari ini, Papa juga nggak
sempat main ke rumahnya,” jawab Tarudi sambil merogoh ponsel di sakunya.
Melan tersenyum sambil menatap wajah Tarudi. Ia
sangat bersemangat mendengarkan bagaimana keadaan Adjie saat ini. Ia hanya
ingin memastikan kalau rencananya kali ini berhasil atau tidak.
“Nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif. Mohon
coba beberapa saat lagi!” Tarudi menelepon nomer Adjie beberapa kali, tapi
tidak bisa tersambung.
“Gimana, Pa?” tanya Melan.
“Nggak aktif. Papa coba besok pagi. Mungkin aja,
Kak Adjie lagi istirahat.”
“Oh, oke.” Melan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ia berusaha menyembunyikan senyuman di dalam hatinya. Tangannya sibuk memijat
lengan dan bahu suaminya.
“Mama tumben hari ini manis banget. Ada yang mau
diminta?” tanya Tarudi menyelidik.
Melan meringis sambil menatap suaminya. “Pa, ada
tas produk baru yang baru diluncurkan. Mama pengen banget beli tas itu. Secara,
temen-temen arisan Mama itu selalu aja meremehkan keluarga kita kalau Mama
nggak update produk baru. Mereka bilang, istrinya direktur masa nggak bisa beli
tas branded.”
Tarudi langsung menoleh ke arah Melan. “Harganya
berapa?”
“Nggak mahal, kok. Cuma enam puluh juta.”
“Oh. Besok pagi Papa transfer ke rekening Mama.”
Melan tersenyum sambil mengangguk-anggukkan
kepala. “Makasih, Pa! Mana lagi yang mau dipijitin?” tanya Melan sambil
tersenyum manis. Ia sengaja meminta tas mahal untuk menyembunyikan apa yang
sedang ia lakukan di luar sana.
“Sini ... sini ... sini ...!” pinta Tarudi sambil
menunjuk anggota tubuhnya yang terasa pegal-pegal.
Melan tersenyum bahagia sambil memijat tubuh
suaminya. Ia sangat berharap kalau rencana kali ini untuk menyingkirkan Adjie
sudah berhasil. Ia tidak bisa mempercayai suaminya sepenuhnya. Sebab, Tarudi
masih adik kandung Adjie dan tidak bisa sepenuhnya ia kendalikan.
Sesekali, Melan melirik ke arah ponselnya untuk
mendapatkan kabar terbaru dari orang suruhannya. Jantungnya terus berdebar
kencang saat orang itu sudah kembali ke kehidupannya. Ia bisa mengandalkan pria
itu untuk mendapatkan harta dan kebahagiaan yang ia inginkan.
“Kali ini, aku harus berhasil menyingkirkan Adjie.
Aku nggak percaya kalau menantunya yang masih muda itu punya kekuatan besar
untuk melawan aku. Dia harus tahu dengan siapa dia berhadapan?” batin Melan
penuh kebencian.
Melan tidak ingin memberi kesempatan lagi untuk
Yuna dan ayahnya meski mereka dalam perlindungan keluarga besar Hadikusuma. Ia
ingin memenangkan pertarungannya kali ini.
((Bersambung ...))
Siapa orang yang ada di belakang Melan?
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat bikin cerita yang lebih seru lagi dan mengungkap misteri yang belum
terpecahkan satu per satu.
Thank’s!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment