Rullyta dan Nurali segera menyusul ke rumah sakit
untuk melihat keadaan Adjie. Mereka langsung menuju ruang rawat di mana Yuna
sudah menunggu di sana.
“Yun, gimana keadaan ayah kamu?” tanya Rullyta
sambil menatap Adjie yang terbaring lemah di ruang rawatnya.
“Ayah baik-baik aja, Ma. Dia pasti bangun lagi
buat aku,” jawab Yuna dengan mata berkaca-kaca. Ia terus menggenggam erat
tangan Adjie yang tidak merespon keberadaannya sedikit pun.
Rullyta langsung mengelus lembut kepala Yuna.
“Sabar, ya!” bisiknya sambil menoleh ke arah papanya.
Nurali hanya menghela napas melihat keadaan
besannya yang kembali terbaring di rumah sakit karena kecelakaan. “Kasus
kecelakaan kali ini, harus diusut sampai tuntas!”
Rullyta menganggukkan kepala.
“Yuna, ini sudah malam. Sebaiknya kamu istirahat!”
perintah Nurali. “Ingatlah pada anak yang ada di dalam perut kamu!”
Yuna langsung menengadahkan kepalanya. “Tapi ...
ayah ...”
“Ayah kamu, biar Mama yang nungguin!” sahut
Rullyta. “Biar Angga yang antar kamu pulang.”
Yuna menggelengkan kepala. “Aku tidur di sini aja,
Ma. Aku mau nungguin ayah,” pinta Yuna dengan mata berkaca-kaca.
Rullyta menghela napas. “Kamu lagi hamil, masa
tidur di sofa? Kasihan bayi kamu, Yun.”
“Sofa di sini cukup luas untuk istirahat, Ma. Mama
nggak perlu khawatir! Aku akan nunggu Yeriko jemput aku.”
“Baiklah kalau memang itu mau kamu. Kamu
istirahatlah, Mama akan suruh Yeriko segera kembali,” tutur Rullyta sambil
memapah Yuna menuju sofa besar yang ada di dalam ruang VVIP tersebut.
Yuna langsung berbaring di atas sofa, matanya
terus menatap Adjie yang terbaring di tempat tidur.
“Pa, Papa juga istirahat ya!” pinta Rullyta sambil
menatap wajah Nurali.
Nurali menganggukkan kepala. “Baiklah. Papa tidak
bisa berlama-lama di sini. Kalau ada apa-apa, segera kabari Papa!”
Rullyta menganggukkan kepala. Ia segera mengantar
Nurali ke luar dari pintu bangsal tersebut.
Di saat yang bersamaan, perawat yang bertugas
masuk ke dalam ruang rawat Adjie untuk mengganti cairan infus.
“Ibu mau tidur di sini?” tanya perawat itu dengan
ramah sambil menghampiri Yuna, usai mengganti cairan infus pasiennya.
Yuna menganggukkan kepala.
“Bisa bangun sebentar, Ibu?”
Yuna mengangguk. Ia segera bangkit dari sofa.
Perawat itu langsung menarik sofa bed tersebut
agar Yuna bisa tidur dengan nyaman. “Ini sofa bed yang khusus untuk ruang VVIP.
Ibu silakan beristirahat!” tutur perawat itu dengan ramah.
“Makasih banyak, Suster!”
Perawat itu menganggukkan kepala. Ia membuka
lemari yang ada di ruangan tersebut dan memberikan selimut untuk Yuna.
Rullyta menghela napas lega melihat pelayanan di
rumah sakit tersebut. Tak hanya memperhatikan pasiennya, mereka juga
memerhatikan penunggu pasiennya.
“Saya permisi dulu! Kalau ada apa-apa, segera
hubungi kami!” pinta perawat tersebut dengan ramah.
Beberapa menit kemudian, Yeriko masuk ke dalam
ruangan tersebut.
“Gimana hasilnya?” tanya Rullyta sambil
menghampiri Yeriko. Ia melirik Yuna yang sudah terlelap di sofa.
“Orang yang menabrak Pak Adjie melarikan diri.
Dugaan sementara, ini memang kecelakaan yang sudah direncanakan sebelumnya.
Tapi, kami belum memiliki bukti-bukti untuk menangkap pelaku karena pelaku
pakai mobil sewaan yang platnya milik provinsi lain.”
“Jadi?”
“Masih harus menunggu hasil selanjutnya. Aku juga
sudah nyuruh mereka untuk mengawasi Melan.”
“Melan? Tantenya Yuna itu?” tanya Rullyta lirih.
Yeriko menganggukkan kepala.
“Dia itu bener-bener nggak punya hati. Apa yang
selama ini dia buat ke Yuna masih nggak cukup? Mama heran sama orang itu.
Pokoknya, siapa pun pelakunya ... kakek kamu sudah berpesan untuk tidak
melepaskannya.”
Yeriko mengangguk.
“Ya sudah, Mama pulang dulu! Kamu temani istri
kamu, ya! Jaga dia dan cucu Mama baik-baik!”
“Iya, Ma.”
Rullyta tersenyum. Ia meraih tas yang ia letakkan
di atas meja dan bergegas keluar dari ruangan tersebut karena ia sudah
terkantuk-kantuk sejak tadi.
Yeriko menatap wajah Yuna yang sudah berbaring di
atas sofa bed. Ia langsung menghampirinya, mengelus pipi Yuna yang lembut dan
mencium kening istrinya itu. “Semua akan baik-baik aja, percayalah!” bisiknya
dalam hati.
Yuna bisa merasakan sentuhan tangan Yeriko di
wajahnya. Namun, matanya enggan terbuka karena terlalu lama menangis. Ia
berusaha keras membuka mata dan melihat Yeriko yang sudah ada di hadapannya.
Yeriko tersenyum begitu melihat Yuna membuka mata.
“Tidurlah! Maaf, sudah mengganggumu.”
“Ay ...!” panggil Yuna lirih sambil tersenyum.
“Iya.”
“Peluk aku!” pinta Yuna.
Yeriko tersenyum kecil. Ia segera naik ke sofa bed
tersebut dan masuk ke dalam selimut.
“Ay, apa ini perbuatan Tante Melan lagi?” tanya
Yuna lirih.
Yeriko mengusap lembut pipi Yuna sambil meletakkan
dahinya ke dahi Yuna. “Belum ada bukti yang kuat untuk menuduh tante kamu itu.”
Yuna menarik napas panjang. “Aku selalu bersikap
baik. Kenapa Tante Melan masih terus membenciku?”
“Kita nggak pernah tahu apa yang ada di dalam hati
orang lain. Oh ya, seandainya pelakunya adalah tante kamu sendiri ... apa kamu
mau melepaskannya begitu aja?”
Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak mau
membiarkan dia hidup dengan tenang.”
Yeriko tersenyum sambil menatap manik mata Yuna.
Mata Yuna yang bengkak, membuatnya sangat sedih. Ia tidak ingin melihat
istrinya menangis, menangis karena dirinya atau orang-orang di sekelilingnya.
“Ada orang-orang yang berhak mendapatkan
pengampunan dan tidak. Aku harap, semua ini tidak membuat nama baik keluarga
Lin menjadi buruk di mata orang banyak. Walau bagaimana pun, kalian juga bagian
dari keluarga Hadikusuma.”
Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia
sangat mengerti kalau keluarga besar Hadikusuma adalah keluarga yang begitu
terhormat dan selalu menjaga martabatnya. Ia juga tidak ingin perseteruan
internal keluarganya, berimbas pada keluarga suaminya.
“Jangan terlalu banyak berpikir!” pinta Yeriko
sambil mengetuk dahi Yuna. “Semua akan baik-baik aja. Ayah pasti sadar
secepatnya.”
Yuna menganggukkan kepala. “Ayah pasti akan
sembuh.”
Yeriko tersenyum. Ia memeluk erat tubuh Yuna.
Perut Yuna yang sudah membesar, bersentuhan dengan perut Yeriko. Ia bisa
merasakan kalau anak yang ada di dalam perut Yuna sedang bergerak.
“Dia belum tidur?” tanya Yeriko sambil mengelus
perut Yuna.
Yuna tersenyum. “Dia sering bangun tengah malam.”
Yeriko tertawa kecil. “Apa tidurmu nggak
terganggu?”
“Terganggu. Tapi aku selalu bahagia saat dia
bergerak aktif.”
Yeriko mengelus-elus perut Yuna. “Dedek manis,
kita tidur ya! Kasihan bunda kamu. Matanya udah bengkak dan harus istirahat.”
Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko. Ia
membenamkan wajahnya ke dada suaminya itu. Ia merasa sangat bahagia karena
setiap malamnya, ia tak pernah sendirian. Ia selalu ingin melihat wajah suami
dan anaknya setiap kali ia membuka mata.
Yeriko terus memeluk Yuna penuh kehangatan sambil
menunggu waktu-waktu penuh harapan. Harapan pada hari esok agar Adjie segera
tersadar dari komanya. Ia tidak ingin melihat istrinya diselimuti kesedihan
sepanjang hari.
((Bersambung ...))
Semoga, besok Ayah Adjie sudah bisa sadar dari
koma ya!
Apa yang akan dilakukan Mr. Ye selanjutnya ya?
Dukung terus cerita ini biar makin semangat
bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment