Thursday, March 26, 2026

Perfect Hero Bab 505 : Tingkeban (Tradisi Leluhur)

 


Kamis, 11 Januari 2018

 

 

 

Keluarga besar Hadikusuma kembali disibukkan dengan perayaan tujuh bulanan yang sudah diatur oleh Rullyta beberapa hari sebelumnya.  Perayaan tujuh bulanan sudah menjadi tradisi sejak nenek moyang.

 

Rullyta, meski kehidupan keluarganya modern, tapi ia tetap saja mengikuti tradisi keluarganya secara turun-temurun. Terlebih, paman dan bibinya juga cukup baik dalam menjalankan tradisi leluhur ini.

 

“Ma, aku harus ngapain?” tanya Yuna saat ia masih berada di dalam kamarnya.

 

“Malam ini, kita pengajian terlebih dahulu. Anak-anak panti yang Mama undang, mereka sudah datang. Turun, yuk!”

 

Yuna menganggukkan kepala sambil merapikan kerudung yang menutupi kepalanya. “Bagus, nggak, Ma?” tanyanya.

 

Rullyta tersenyum sambil menatap Yuna. “Bagus. Cantik banget!”

 

“Ah, Mama ...”

 

Rullyta tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Ayo ...!” ajaknya sambil merangkul Yuna untuk turun dari kamarnya.

 

Yuna menghentikan langkahnya saat ia baru sampai di ujung tangga. “Ma, katanya nggak ramai. Kenapa rumah ini penuh orang?”

 

Rullyta tersenyum sambil menatap Yuna. “Mama undang anak-anak panti dan rekan-rekan bisnis Mama juga. Nggak ada salahnya kita berbagi kebahagiaan sama mereka ‘kan?”

 

Yuna menggigit bibirnya. “Aku malu, Ma.”

 

“Malu kenapa? Ini saat yang penting untuk kamu dan anak kamu. Nggak perlu malu! Semakin banyak yang mendoakan kalian, akan semakin baik.”

 

Yuna tersenyum kecil. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia sangat gugup melihat banyak orang yang ada di lantai bawah. Ia melangkah perlahan menuruni anak tangga bersama Rullyta. Membuat semua orang menoleh ke arahnya.

 

Yuna terus menyunggingkan senyum pada semua tamu yang hadir. Ia langsung menghampiri Yeriko dan kakeknya yang sudah duduk bersama Kiai yang akan memimpin pengajian malam ini.

 

“Ay, kenapa jadi rame banget?” bisik Yuna di telinga Yeriko.

 

“Nggak papa,” jawab Yeriko sambil mengelus punggung lengan Yuna.

 

“Aku nggak kasih tahu Icha sama Jheni. Kalau mereka tahu acaranya seramai ini dan nggak diundang, ngomelnya bisa sampai ke ujung Eropa,” bisik Yuna.

 

“Itu mereka!” tutur Yeriko sambil menunjuk Icha dan Jheni yang berdiri di belakang anak-anak panti yang hadir di ruangan tersebut.

 

Yuna menghela napas lega. “Syukurlah.”

 

Yeriko tersenyum. Mereka mengikuti pengajian hingga selesai. Yeriko sangat bahagia karena ada banyak orang yang mendoakan kesehatan dan kebahagiaan untuk istri dan calon anaknya.

 

Usai menggelar pengajian, keesokan harinya masih dilanjutkan dengan acara tingkeban yang hanya dihadiri oleh sanak saudara dan sahabat-sahabat mereka.

 

“Yun, kamu wangi banget!” Jheni mengendus tubuh Yuna yang hanya mengenakan kain jarik untuk menutupi tubuhnya. Ia mengenakan baju roncean melati dan mawar yang wanginya menyeruak ke segala arah.

 

Yuna tersenyum sambil menatap Jheni. “Kamu kapan pakai roncean melati juga?”

 

Jheni memonyongkan bibirnya. “Tunggu si Chandra ngelamar aku!”

 

“Udah siap dilamar?”

 

Jheni memutar bola matanya. “Mmh ... masih bingung, Yun.”

 

“Bingung kenapa?” tanya Yuna sambil memperbaiki roncean melati yang mengikat kepalanya.

 

Jheni menggigit bibirnya. “Menurut kamu ... apa aku harus cari orang tua kandung aku untuk menikah?”

 

Yuna menghela napas. “Gimana baiknya menurut kamu aja, Jhen. Lebih baik, kamu bicarakan sama Chandra. Ini kan masalah kalian berdua.”

 

Jheni langsung duduk di lantai sambil menyandarkan kepalanya di paha Yuna yang duduk di kursi. “Ketemu sama mama tirinya dia aja, aku belum berani. Aku harus cari orang tua kandung aku ke mana?” ucapnya lirih.

 

Yuna mengelus-elus kepala Jheni. “Bukannya orang tua angkat kamu udah ngasih tahu orang tua kamu siapa?”

 

Jheni menganggukkan kepala. “Aku takut, Yun! Mereka udah sayang sama aku seperti anak sendiri. Aku takut, kehadiranku nggak diterima sama orang tua kandungku. Mereka udah buang aku.”

 

“Jheni yang aku kenal nggak kayak gini. Dia selalu berani menghadapi apa pun.”

 

Jheni mengangkat wajahnya menatap Yuna. Ia langsung tersenyum. “Makasih, kamu udah ingatin aku!”

 

Yuna tersenyum sambil mengangguk. “Harus semangat! Supaya kamu dan Chandra bisa cepat bersatu. Icha juga nggak tahu di mana orang tua kandungnya. Tapi dia dan Lutfi akan tetap menikah. Kamu harus bisa menerima semuanya dengan lapang dada seperti dia.”

 

Jheni menoleh ke arah Icha yang berdiri di seberang kolam renang sambil memegang kendi yang akan mereka gunakan untuk acara sakral ini. “Dia dapet dukungan dari keluarga Lutfi. Sedangkan aku ... aku nggak tahu gimana mamanya Chandra yang galak itu bakal nerima aku atau nggak.”

 

“Jhen, kamu cinta beneran sama Chandra ‘kan?”

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

“Kalau gitu, kamu harus berjuang! Cuma menaklukan mama tirinya aja, masa nggak bisa?”

 

Jheni berpikir sambil menggigit bibirnya. “Iya juga, ya?”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Pandangannya beralih pada Rullyta yang berjalan menghampirinya.

 

Jheni langsung bangkit dari lantai dan tersenyum ke arah Rullyta. Ia memilih untuk menghampiri dan membantu Icha.

 

“Udah siap?” tanya Rullyta.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Rullyta mengedarkan pandangannya. “Bulek, Yeriko mana?” tanyanya pada salah satu tantenya.

 

“Masih di dalam.”

 

“Lama banget,” sahut Rullyta.

 

Beberapa menit kemudian, Yeriko keluar dari dalam rumah. Ia langsung menghampiri Yuna yang sudah duduk di tepi kolam dengan balutan baju bunga melati.

 

“Kenapa lama banget?” tanya Yuna saat Yeriko sudah duduk di sampingnya.

 

“Aku gugup.”

 

“Bisa gugup juga?” tanya Yuna.

 

“Ini lebih menegangkan dari ijab kabul,” jawab Yeriko sambil menatap sanak saudara yang ada di halaman belakang rumah keluarganya itu.

 

Yuna menahan tawa melihat wajah Yeriko yang memerah. “Kamu beneran gugup?”

 

“Kamu kira aku main-main? Keluarga dari adiknya kakek bikin aku malu. Aku dibikin nggak pakai baju kayak gini di depan mereka.”

 

Yuna tertawa kecil. “Mereka cuma keluarga, kenapa malu? Lagian, badan kamu bagus, kok. Udah kayak model majalah Gym.”

 

Yeriko ikut tertawa, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Yuna dan berkata, “kamu tahu ... kalau kayak gini, aku ngerasa lagi bikin anak sambil ditontonin,” bisiknya.

 

“Idih ... nggak segitunya juga, kali.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Untung nggak ada Lutfi sama Satria. Mereka bisa ngayalin kamu yang nggak-nggak.”

 

“Udah, nggak udah cemburuan! Fokus!” pinta Yuna sambil memperbaiki posisi duduknya karena salah satu anggota keluarga Yeriko mulai membuka acara dan mengambil alih perhatian semua orang.

 

Yuna dan Yeriko menjalani prosesi adat siraman tujuh bulanan sesuai dengan petunjuk dari sesepuh mereka. Terutama, adik dari kakek Nurali yang begitu memperhatikan tradisi leluhurnya.

 

Yang muda sebagai penerus keluarga hanya mengikuti saja apa yang dinginkan keluarga. Sebab, arus modern sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Namun, mereka juga ingin menjaga tradisi leluhur walau tak banyak yang bisa mereka lakukan. Mungkin, saat sesepuh atau orang yang dituakan sudah tidak ada ... mereka akan melanjutkan tradisi suci tersebut sejalan dengan dinamika modernisasi.

 

Usai siraman, tahap selanjutnya adalah tradisi memecah telur dan membelah kelapa. Tradisi membelah kelapa menjadi saat yang ditunggu-tunggu oleh semua sanak keluarga. Yeriko menarik napas sambil memegang parang di tangannya. Ia mengamati buah kelapa yang ada di hadapannya.

 

“Aku sudah tahu jenis kelamin anakku dari hasil USG. Apa harus belah kelapa lagi?” batin Yeriko. “Mama ini, kenapa harus kayak gini segala?” tanyanya dalam hati sambil melirik sesepuh di keluarganya.

 

“Ayo, Yer! Cepet dibelah kelapanya!” perintah salah satu sanak keluarganya.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia mengangkat parang yang ada di tangannya dan langsung menjatuhkan bagian tajamnya ke atas kelapa yang sudah disiapkan di hadapannya.

 

SYUUT ...!

 

PYAAR ...!

 

Yeriko langsung tersenyum begitu melihat buah kelapa itu sudah terbelah.

 

“Wah ...! Anaknya bakal perempuan, nih!” seru salah seorang sanak saudara.

 

Yeriko langsung mengangkat kedua alisnya. “Kok, tahu?”

 

“Kelihatan dari belahannya, yang paling banyak di bagian kiri.”

 

Yeriko mengernyitkan dahi sambil menoleh ke arah Yuna. Kemudian ia tertawa kecil. Yeriko meletakkan parang ke atas meja dan menghampiri Yuna. “Orang zaman dulu itu ada-ada aja. Tapi kok, bisa bener, ya?” bisiknya.

 

Yuna hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Yeriko. Ia segera mengikuti prosesi selanjutnya hingga acara selesai. Ia sangat bahagia karena keluarga besar Yeriko selalu memperlakukan dirinya dengan baik.

 


((Bersambung...))

 

Perfect Hero Bab 504 : Mimpi Buruk

 


“Yun, kamu mau ice cream?” tanya Adjie saat ia dan Yuna berjalan-jalan di trotoar yang terasa asing baginya.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Ayah belikan ice cream di warung depan. Kamu tunggu di sini ya!” pinta Adjie.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia menatap ayahnya yang sudah bergegas melangkah pergi.

 

“Kakak ...!” seru beberapa anak yang tiba-tiba berlarian ke arah Yuna sambil membawa balon.

 

“Main yuk, Kak!” ajak salah seorang anak perempuan sambil menarik lengan Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil memerhatikan anak-anak kecil yang berlarian mengelilinginya. Ia terus tertawa sambil mengejar anak-anak yang bermain bersamanya.

 

“Kakak Cantik, kalau besar nanti ... aku ingin seperti Kakak Cantik,” tutur salah seorang anak perempuan yang sedang berdiri di hadapan Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil mengelus ujung kepala anak tersebut. “Kamu akan jadi lebih cantik dari Kakak saat kamu dewasa nanti.”

 

“Bisa, Kak?”

 

Yuna mengangguk. Ia tersenyum sambil mengusap pipi gadis kecil itu.

 

CHIIIT ...!

 

BRAAAK ...!

 

Yuna langsung memutar kepalanya ke arah sumber suara. Sebuah mobil box berhenti tepat di belakangnya. Tak jauh dari mobil itu, pria setengah baya berkaos putih tergeletak berlumuran darah di tengah jalan.

 

“AYAH ...!” teriak Yuna sambil berlari menghampiri Adjie yang sudah tak sadarkan diri. Ia memeluk kepala ayahnya sambil menatap tangan Adjie yang masih menggenggam kantong plastik berisi ice cream kesukaan Yuna.

 

“Ayah ...!” teriak Yuna sambil menangis histeris. “Ayah, bangun ...!” serunya. Ia tak memedulikan orang-orang yang sudah berkerumun mengelilinginya.

 

“Tolongin Ayahku ...!” seru Yuna sambil menangis. Namun, tak ada satu orang pun yang menolongnya. Mereka hanya menonton Yuna yang sedang menangisi ayahnya yang sudah berlumuran darah.

 

“Ayah, jangan tidur!” pinta Yuna. Ia berusaha sekuat tenaga mengangkat tubuh Ayahnya yang dua kali lebih berat dari berat tubuh Yuna. “Hiks ... hiks ... Ayah ...!”

 

Yuna terus memeluk kepala ayahnya sambil menangis histeris.

 

“Yuna ...!”

 

“Ayah ...!” seru Yuna sambil membuka matanya.

 

“Kamu kenapa?”

 

Yuna mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia mengatur napas dan menghapus air mata yang membasahi pipinya. “Aku cuma mimpi?”

 

Yeriko mengangguk sambil merengkuh kepala Yuna. “Cuma mimpi, kenapa sampai seperti ini?”

 

“Aku mimpi buruk. Aku mimpi, Ayah ...” ucap Yuna sesenggukkan.

 

“Cuma mimpi, kok.” Yeriko mengelus lembut kepala Yuna. “Jangan terlalu dipikirkan! Mungkin, karena kamu terlalu memikirkan kondisi ayah kamu.”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku takut terjadi hal buruk sama ayah.”

 

“Ayah Adjie baik-baik aja. Lain kali, jangan tidur sore! Selain bisa mimpi buruk, nggak baik untuk kesehatan.”

 

Yuna langsung menoleh ke arah jam dinding yang ada di kamarnya. “Udah jam enam sore? Aku ketiduran,” tuturnya sambil melepaskan diri dari pelukkan Yeriko. Ia mengusap pipinya yang basah.

 

Yuna merasa mimpi kali ini seperti nyata. Ia benar-benar takut kalau terjadi sesuatu pada ayahnya.

 

Yeriko tersenyum sambil merapikan anak rambut Yuna yang berantakan. “Jangan terlalu berpikir berlebihan! Ibu hamil nggak boleh stres.”

 

Yuna mengangguk. Ia bangkit dari sofa. “Aku siapin air hangat dulu untuk kamu mandi.”

 

 “Kamu udah mandi?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Nanti aja siapin air untuk mandi! Aku ada janji ketemu sama Satria.”

 

“Mau keluar lagi?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Satria yang mau ke sini.”

 

“Oh. Aku siapin makan malam buat kalian.”

 

“Nggak usah. Satria Cuma sebentar aja di sini. Kamu di dalam kamar aja!”

 

Yuna menautkan kedua alisnya. “Kenapa?”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara Satria. “Kamu di sini aja!” perintah Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko tersenyum, ia mengecup kening Yuna dan bergegas keluar dari kamar.

 

“Yer, kamu tahu kalau aku sudah datang?” tanya Satria begitu melihat Yeriko keluar dari kamarnya.

 

“Gimana nggak tahu kalau kamu masih di bawah aja sudah ribut.”

 

Satria terkekeh. Ia melangkahkan kaki mengiringi Yeriko dan masuk ke ruang kerja Yeriko.

 

Satria langsung menyerahkan amplop berisi surat dari laboratorium kepada Yeriko begitu mereka sudah sampai di ruang kerja Yeriko.

 

“Gimana hasilnya?” tanya Yeriko sambil membuka amplop tersebut.

 

“Itu obat tidur dosis tinggi,” jawab Satria.

 

“Obat tidur?” Yeriko mengernyitkan dahi, ia segera membaca hasil pemeriksaan dari laboratorium. “Zat ini sama dengan yang ditemukan dokter di tubuh Pak Adjie.”

 

“Mereka bukan penderita stres. Kenapa sampai ada obat tidur seperti ini di rumah mereka?” tanya Adjie.

 

“Jelas banget targetnya siapa,” jawab Yeriko.

 

“Maksud kamu? Mereka mau bikin Pak Adjie tidur panjang lagi?” tanya Satria.

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Kalau kondisi koma Pak Adjie selama sebelas tahun ini di bawah pengaruh obat, artinya dokter yang menangani beliau sebelumnya ... terlibat secara langsung.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala.

 

Satria tertawa kecil. “Ini cuma dugaan. Faktanya, kita belum bisa memastikan.”

 

“Kamu selidiki sampai selesai, Sat!” perintah Yeriko.

 

Satria mengangguk-anggukkan kepalanya. “Gampanglah. Aku balik dulu ya! Ada urusan lain,” pamit Satria.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Eh, Kakak Ipar mana? Aku nggak lihat dia waktu masuk rumah.”

 

“Di kamar.”

 

“Ngapain jam segini di kamar? Biasanya dia ada di dapur atau di ruang keluarga.”

 

“Ck, kamu pulang sana! Nggak usah tanya-tanya istriku!”

 

“Halah ... bilang aja cemburu kalo Kakak Ipar Kecil selalu ramah dan baik sama aku. Aku kangen jus mangga buatan dia.”

 

Yeriko langsung melempar Satria menggunakan pena yang ada di atas meja.

 

Satria tergelak. Ia bangkit dari tempat duduk dan melangkah menuju pintu. “Yer, Kakak Ipar makin seksi aja kalo lagi hamil begitu. Bawa main-main ke luar! Jangan dinikmati sendiri,” tuturnya dari balik pintu.

 

Yeriko membelalakkan matanya. Ia meraih buku yang ada di hadapannya dan melemparkan ke arah Satria yang setengah tubuhnya sudah ada di luar pintu.

 

BRAAK ...!

 

Buku yang dilempar Yeriko tepat mengenai pintu yang buru-buru ditutup oleh Satria.

 

“Jangan ngayalin istri orang terus!” teriak Yeriko kesal.

 

Satria tertawa lebar. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya yang kerap cemburu berlebihan.

 

Yuna langsung keluar dari kamar begitu mendengar suara keributan di ruang kerja suaminya. “Ada apa, Sat?” tanya Yuna sambil menatap Satria yang baru saja keluar.

 

Satria tertawa kecil. Ia meletakkan jari telunjuk di bibirnya. “Sst ...! Cemburu,” ucapnya tanpa suara.

 

Yuna menghela napas. “Kamu ini ... udah tahu suamiku cemburuan, malah dipancing terus,” celetuk Yuna.

 

Satria tertawa tanpa suara. “Hai, Kakak Ipar Kecil yang cantik!” seru Satria sambil merentangkan kedua tangannya dan melangkah mendekati Yuna. “Udah berapa hari ini nggak ketemu. Kamu ngangenin banget!” lanjutnya sambil melirik pintu ruang kerja Yeriko. Ia sengaja berbicara dengan nada tinggi agar bisa terdengar oleh Yeriko.

 

Yeriko langsung membuka pintu dan keluar dari ruangannya begitu mendengar suara Satria. Ia langsung berlari  dan menarik tubuh Satria yang sudah memeluk tubuh istrinya.

 

“Kenapa, Yer?” tanya Satria sambil menatap Yeriko.

 

Yeriko tak menyahut. Ia mengerutkan bibir dan wajahnya sambil menatap tajam ke arah Satria.

 

Satria terkekeh melihat sikap Yeriko. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil menunjuk-nunjuk wajah Yeriko. “Parah kamu, Yer!”

 

Yeriko mendengus kesal ke arah Satria. “Ck, katanya mau pulang? Kenapa malah gangguin istri orang?”

 

Satria hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Yeriko. “Aku nggak gangguin. Cuma kangen aja sama Kakak Ipar. Awal tahun banyak event, aku jaga terus. Masa cuma peluk doang, nggak boleh?”

 

Yuna hanya tertawa kecil mendengar perdebatan Yeriko dan sahabatnya. “Ay, jangan bersikap kayak gini terus! Satria juga bukan orang lain buat kita. Dia juga cuma ...”

 

“Kalau bukan orang lain, bebas peluk-peluk sama cipika-cipiki?”

 

“Gayamu, Yer!” sahut Satria. “Kamu itu lulusan New York. Cipika-cipiki itu biasa. Kamu sama Cantika sering cipika-cipiki ‘kan?”

 

Yuna langsung menatap Yeriko sambil menahan tawa.

 

“Kamu cipika-cipiki ke dia nggak papa. Istriku pengecualian!”

 

“Ya, ya, ya.” Satria mengangguk-anggukkan kepala. “Aku pulang dulu!”

 

Yeriko menganggukkan kepala sambil memeluk Yuna. “Bagus. Piket ‘kan? Buruan pergi! Thanks ya!”

 

“Masih ingat terima kasih?” tanya Satria sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia menuruni anak tangga sambil memainkan kunci motor yang ada di tangannya. Bibirnya terus tertawa mengingat sikap Yeriko saat cemburu. Ia merasa hatinya puas ketika bisa menggoda Yuna dan membuat Yeriko begitu kesal.

 

Yuna hanya tertawa kecil sambil memerhatikan Satria yang melangkah keluar dari rumahnya. Ia sangat mengerti bagaimana suaminya, ia tidak pernah protes, justru merasa bahagia karena memiliki suami yang sangat menyayanginya walau terlihat berlebihan.



((Bersambung...))

 

 

Perfect Hero Bab 503 : Bantuan dari Komandan Muda

 


“Ay, apa ada masalah waktu makan tadi?” tanya Yuna saat ia sudah di perjalanan pulang.

 

Yeriko menoleh sekilas ke arah Yuna yang duduk di sampingnya. “Ada.”

 

“Apa?”

 

“Aku pastikan dulu semuanya. Kalau sudah jelas, baru aku kasih tahu kamu,” tutur Yeriko.

 

Yuna menggigit bibirnya. Pikirannya mulai liar karena Yeriko masih merahasiakan apa yang terjadi.

 

Yeriko tersenyum sambil mengelus kepala Yuna. “Nggak usah mikir macem-macem! Semua akan baik-baik aja!” pintanya. Ia langsung melajukan mobil menuju ke rumahnya. Ia menurunkan Yuna terlebih dahulu, kemudian mengantar Adjie kembali ke apartemen.

 

Begitu sampai di apartemen, Yeriko langsung duduk di sofa.

 

“Mau ngopi?” tanya Adjie sambil melangkah menuju dapur.

 

“Nggak usah, Yah. Kalau aku kelamaan di sini, Yuna bisa curiga.”

 

Adjie tertawa kecil. “Kamu itu di rumah saya, apa Yuna sering melarang kamu keluar?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Dia nggak pernah melarang apa pun. Saya hanya tidak ingin melihat dia khawatir. Itu saja.”

 

Adjie tersenyum, ia tetap membuat dua cangkir kopi dan menghidangkannya di hadapan Yeriko.

 

“Yah, ada hal yang ingin aku bicarakan,” tutur Yeriko sambil mengeluarkan pil yang ia bungkus dengan tisu.

 

“Apa ini?”

 

“Aku sudah cek di internet. Ini obat tidur dosis tinggi. Aku akan kirim ini ke temenku supaya dia bawa ke laboratorium untuk memastikan kebenarannya.”

 

Adjie tertegun menatap pil yang ada di atas meja itu. “Apa sebenarnya, mereka merencanakan sesuatu untuk kita?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kemungkinan, Oom Tarudi sudah curiga dengan langkah kita selama ini.”

 

Adjie menghela napas. “Ayah sudah menandatangani perjanjian yang menyatakan kalau Ayah tidak akan merebut perusahaan. Kenapa Melan dan Rudi masih membahayakan kami. Ayah tidak ingin mengorbankan Yuna dalam urusan ini.”

 

“Ayah tenang aja! Aku akan urus ini semua. Aku akan berusaha menutupi ini semua dari Yuna. Untuk sementara, Ayah tetap fokus dengan rencana semula kita!”

 

Adjie menganggukkan kepala. “Ayah bahagia karena Yuna memiliki suami yang bisa mencintai dan melindungi dia dengan baik.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia memasukkan kembali pil itu ke dalam saku jasnya. “Aku pulang dulu, Yah!” pamitnya.

 

“Minum dulu kopinya!” pinta Adjie.

 

Yeriko menatap cangkir kopi yang sudah ada di atas meja. Ia menyesap kopi itu perlahan. “Aku masih banyak urusan. Ayah istirahatlah!” pinta Yeriko sambil bangkit dari sofa. Ia sengaja tidak menghabiskan kopi yang dibuatkan Adjie.

 

Adjie mengangguk. Ia ikut bangkit dari sofa, mengantar Yeriko keluar dari apartemennya. “Hati-hati di jalan!”

 

“Iya, Yah.” Yeriko bergegas keluar dari apartemen. Ia mempercepat langkahnya sampai ke dalam mobilnya.

 

Yeriko merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya. Ia mencari nomor ponsel Satria dan langsung menekan panggilan telepon.

 

“Halo ...!” sapa Satria begitu panggilan telepon dari Yeriko tersambung.

 

“Kamu di mana, Sat?” tanya Yeriko tanpa basa-basi.

 

“Lagi tugas aku, Bro. Kenapa?”

 

“Aku butuh bantuan kamu,” jawab Yeriko.

 

“Sekarang?”

 

“Sepuluh tahun lagi. SEKARANG!”

 

“Hahaha. Ya udah, temui aku di Athena!”

 

“Kamu tugas apaan di sana?” tanya Yeriko.

 

“Ah, kamu ini ... kayak nggak tahu aja.”

 

Yeriko tergelak. “Oke. Oke. Aku ke sana sekarang!”

 

“Cepet ya! Lewat lima belas menit, aku udah nggak ada di lokasi.”

 

“Bangsat! Jalan ke sana hampir sejam. Kamu kira mobilku bisa terbang!?”

 

“Hahaha. Iya, juga sih. Mmh ... ketemu di Kodam aja!”

 

“Ya udah, aku langsung ke Kodam. Nggak pindah tempat lagi ‘kan?”

 

“Nggak. Lima belas menit lagi aku meluncur ke Kodam.”

 

“Oke.” Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia bergegas menuju ke Kodam V Brawijaya yang ada di jalan Raden Wijaya.

 

 Tiga puluh lima menit kemudian, Yeriko sudah memarkirkan mobilnya di halaman Kodam V Brawijaya.

 

“Hei, Bang ...! Apa kabar? Lama nggak kelihatan?” sapa salah seorang TNI berpangkat kopral yang sudah mengenal Yeriko.

 

“Baik. Satria sudah sampai?”

 

“Bang Satria ...” Pria itu mengedarkan pandangannya. “Motornya sudah ada. Cari di dalam aja, Bang!”

 

“Thanks!” Yeriko menepuk bahu prajurit tersebut dan melangkah masuk ke dalam gedung Kodam, menyusuri koridor hingga sampai ke ruang kerja Satria.

 

“Malam-malam gini, kamu masih kerja?” tanya Yeriko begitu masuk ke ruangan Satria.

 

Satria hanya tertawa mendengar pertanyaan Yeriko. “Piket aku, Yer. Gimana?” tanyanya sambil menghampiri Yeriko yang sudah duduk di sofa.

 

Yeriko mengeluarkan pil yang ia bungkus dengan tisu, meletakkan di atas meja dan membukanya perlahan.

 

“Apa itu? Ekstasi?” tanya Satria.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku minta kamu teliti obat ini!”

 

Satria meraih obat tersebut dan mengamatinya. “kamu dapet di mana?”

 

“Di rumah Oom Rudi?”

 

Satria mengangkat kedua alisnya. “Dia siapa?”

 

“Ayahnya Bellina.”

 

“Oh. Namanya Rudi?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Nama lengkapnya Tarudi Linandar. Panggilannya Rudi. Bisa urus ini ‘kan?”

 

“Gampang,” jawab Satria santai. “Keluarga istri kamu itu ... kenapa selalu berkonflik?”

 

Yeriko mengedikkan bahunya. “Kasus sebelas tahun lalu, masih menyisakan tanda tanya. Apalagi, mereka juga memperlakukan istriku dengan buruk. Aku harus balas semua penderitaan yang udah ditanggung Yuna selama ini.”

 

Satria menatap wajah Yeriko selama beberapa detik. “Mereka itu keluarga, Yer. Apa pantas kalau kita ikut campur keluarga mereka terus?”

 

“Ada yang pantas dan tidak pantas untuk kita masuki. Selama masih berhubungan sama Yuna, artinya berhubungan sama aku juga.”

 

Satria menghela napas. “Ini sudah konflik internal keluarga Kakak Ipar. Sebaiknya, masalah apa pun bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Toh, nggak ada bukti kalau pamannya yang melakukan pembunuhan sebelas tahun lalu. Akan lebih baik kalau hubungan keluarga tetap baik. Kalian dari keluarga terhormat, jangan sampai konflik Kakak Ipar Kecil dan keluarganya terdengar sampai ke luar.”

 

Yeriko mengusap wajahnya. “Apa itu alasan Yuna nggak mau membalas apa yang dilakukan Bellina?”

 

Satria mengangguk-anggukkan kepala. “Bisa jadi, Kakak Ipar kecil juga menjaga nama baik keluarga besarnya. Dia wanita yang baik dan bermartabat.”

 

Yeriko menghela napas. “Kalau mereka bukan keluarga Yuna. Akan lebih mudah mengatasinya.”

 

Satria tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Konflik keluarga memang sulit untuk diselesaikan, Yer. Di satu sisi, kita ingin membalas kejahatan mereka, di sisi lain ... kita ingin menjaga nama baik keluarga. Huft, memang susah mengatasinya.”

 

“Selama istriku nggak tahu. Kita bisa melakukannya dengan baik. Selama semuanya masih wajar. Aku mau semua terlihat secara alami!”

 

Satria tersenyum sambil menatap wajah Yeriko. Kemudian ia tergelak begitu Yeriko menyambut senyumannya. “Aku paham isi otak jahatmu ini, Yer. Ngerti-ngerti,” ucapnya sambil mengendalikan tawa.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Kalo gitu, aku pulang dulu!”

 

“Kenapa pulang? Baru jam sebelas, Yer.”

 

“Kasihan istriku di rumah. Aku sampe rumah jam dua belas, nih.”

 

“Halah ... istri terus jadi alasan. Bilang aja kamu yang nggak tahan!” sahut Satria.

 

Yeriko tertawa kecil. “Pengen juga?”

 

“Gampang!” sahut Satria.

 

Yeriko tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Aku pulang dulu ya!” pamitnya.

 

“Hati-hati ya! Salam buat calon ponakanku!”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia bergegas keluar dari tempat tersebut. 



((Bersambung...))

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas