“Yun, kamu mau ice cream?” tanya Adjie saat ia dan Yuna
berjalan-jalan di trotoar yang terasa asing baginya.
Yuna menganggukkan kepala.
“Ayah belikan ice cream di warung depan. Kamu tunggu di sini ya!”
pinta Adjie.
Yuna menganggukkan kepala. Ia menatap ayahnya yang sudah bergegas
melangkah pergi.
“Kakak ...!” seru beberapa anak yang tiba-tiba berlarian ke arah
Yuna sambil membawa balon.
“Main yuk, Kak!” ajak salah seorang anak perempuan sambil menarik
lengan Yuna.
Yuna tersenyum sambil memerhatikan anak-anak kecil yang berlarian
mengelilinginya. Ia terus tertawa sambil mengejar anak-anak yang bermain
bersamanya.
“Kakak Cantik, kalau besar nanti ... aku ingin seperti Kakak
Cantik,” tutur salah seorang anak perempuan yang sedang berdiri di hadapan
Yuna.
Yuna tersenyum sambil mengelus ujung kepala anak tersebut. “Kamu
akan jadi lebih cantik dari Kakak saat kamu dewasa nanti.”
“Bisa, Kak?”
Yuna mengangguk. Ia tersenyum sambil mengusap pipi gadis kecil
itu.
CHIIIT ...!
BRAAAK ...!
Yuna langsung memutar kepalanya ke arah sumber suara. Sebuah mobil
box berhenti tepat di belakangnya. Tak jauh dari mobil itu, pria setengah baya
berkaos putih tergeletak berlumuran darah di tengah jalan.
“AYAH ...!” teriak Yuna sambil berlari menghampiri Adjie yang
sudah tak sadarkan diri. Ia memeluk kepala ayahnya sambil menatap tangan Adjie
yang masih menggenggam kantong plastik berisi ice cream kesukaan Yuna.
“Ayah ...!” teriak Yuna sambil menangis histeris. “Ayah, bangun
...!” serunya. Ia tak memedulikan orang-orang yang sudah berkerumun
mengelilinginya.
“Tolongin Ayahku ...!” seru Yuna sambil menangis. Namun, tak ada
satu orang pun yang menolongnya. Mereka hanya menonton Yuna yang sedang
menangisi ayahnya yang sudah berlumuran darah.
“Ayah, jangan tidur!” pinta Yuna. Ia berusaha sekuat tenaga
mengangkat tubuh Ayahnya yang dua kali lebih berat dari berat tubuh Yuna. “Hiks
... hiks ... Ayah ...!”
Yuna terus memeluk kepala ayahnya sambil menangis histeris.
“Yuna ...!”
“Ayah ...!” seru Yuna sambil membuka matanya.
“Kamu kenapa?”
Yuna mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia mengatur
napas dan menghapus air mata yang membasahi pipinya. “Aku cuma mimpi?”
Yeriko mengangguk sambil merengkuh kepala Yuna. “Cuma mimpi,
kenapa sampai seperti ini?”
“Aku mimpi buruk. Aku mimpi, Ayah ...” ucap Yuna sesenggukkan.
“Cuma mimpi, kok.” Yeriko mengelus lembut kepala Yuna. “Jangan
terlalu dipikirkan! Mungkin, karena kamu terlalu memikirkan kondisi ayah kamu.”
Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku takut terjadi hal buruk
sama ayah.”
“Ayah Adjie baik-baik aja. Lain kali, jangan tidur sore! Selain
bisa mimpi buruk, nggak baik untuk kesehatan.”
Yuna langsung menoleh ke arah jam dinding yang ada di kamarnya.
“Udah jam enam sore? Aku ketiduran,” tuturnya sambil melepaskan diri dari
pelukkan Yeriko. Ia mengusap pipinya yang basah.
Yuna merasa mimpi kali ini seperti nyata. Ia benar-benar takut
kalau terjadi sesuatu pada ayahnya.
Yeriko tersenyum sambil merapikan anak rambut Yuna yang
berantakan. “Jangan terlalu berpikir berlebihan! Ibu hamil nggak boleh stres.”
Yuna mengangguk. Ia bangkit dari sofa. “Aku siapin air hangat dulu
untuk kamu mandi.”
“Kamu udah mandi?” tanya Yeriko.
Yuna menganggukkan kepala.
“Nanti aja siapin air untuk mandi! Aku ada janji ketemu sama
Satria.”
“Mau keluar lagi?” tanya Yuna.
Yeriko menggelengkan kepala. “Satria yang mau ke sini.”
“Oh. Aku siapin makan malam buat kalian.”
“Nggak usah. Satria Cuma sebentar aja di sini. Kamu di dalam kamar
aja!”
Yuna menautkan kedua alisnya. “Kenapa?”
Yeriko langsung menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara
Satria. “Kamu di sini aja!” perintah Yeriko.
Yuna menganggukkan kepala.
Yeriko tersenyum, ia mengecup kening Yuna dan bergegas keluar dari
kamar.
“Yer, kamu tahu kalau aku sudah datang?” tanya Satria begitu
melihat Yeriko keluar dari kamarnya.
“Gimana nggak tahu kalau kamu masih di bawah aja sudah ribut.”
Satria terkekeh. Ia melangkahkan kaki mengiringi Yeriko dan masuk
ke ruang kerja Yeriko.
Satria langsung menyerahkan amplop berisi surat dari laboratorium
kepada Yeriko begitu mereka sudah sampai di ruang kerja Yeriko.
“Gimana hasilnya?” tanya Yeriko sambil membuka amplop tersebut.
“Itu obat tidur dosis tinggi,” jawab Satria.
“Obat tidur?” Yeriko mengernyitkan dahi, ia segera membaca hasil
pemeriksaan dari laboratorium. “Zat ini sama dengan yang ditemukan dokter di
tubuh Pak Adjie.”
“Mereka bukan penderita stres. Kenapa sampai ada obat tidur
seperti ini di rumah mereka?” tanya Adjie.
“Jelas banget targetnya siapa,” jawab Yeriko.
“Maksud kamu? Mereka mau bikin Pak Adjie tidur panjang lagi?”
tanya Satria.
Yeriko mengangguk-anggukkan kepala.
“Kalau kondisi koma Pak Adjie selama sebelas tahun ini di bawah
pengaruh obat, artinya dokter yang menangani beliau sebelumnya ... terlibat
secara langsung.”
Yeriko mengangguk-anggukkan kepala.
Satria tertawa kecil. “Ini cuma dugaan. Faktanya, kita belum bisa
memastikan.”
“Kamu selidiki sampai selesai, Sat!” perintah Yeriko.
Satria mengangguk-anggukkan kepalanya. “Gampanglah. Aku balik dulu
ya! Ada urusan lain,” pamit Satria.
Yeriko menganggukkan kepala.
“Eh, Kakak Ipar mana? Aku nggak lihat dia waktu masuk rumah.”
“Di kamar.”
“Ngapain jam segini di kamar? Biasanya dia ada di dapur atau di
ruang keluarga.”
“Ck, kamu pulang sana! Nggak usah tanya-tanya istriku!”
“Halah ... bilang aja cemburu kalo Kakak Ipar Kecil selalu ramah
dan baik sama aku. Aku kangen jus mangga buatan dia.”
Yeriko langsung melempar Satria menggunakan pena yang ada di atas
meja.
Satria tergelak. Ia bangkit dari tempat duduk dan melangkah menuju
pintu. “Yer, Kakak Ipar makin seksi aja kalo lagi hamil begitu. Bawa main-main
ke luar! Jangan dinikmati sendiri,” tuturnya dari balik pintu.
Yeriko membelalakkan matanya. Ia meraih buku yang ada di
hadapannya dan melemparkan ke arah Satria yang setengah tubuhnya sudah ada di
luar pintu.
BRAAK ...!
Buku yang dilempar Yeriko tepat mengenai pintu yang buru-buru
ditutup oleh Satria.
“Jangan ngayalin istri orang terus!” teriak Yeriko kesal.
Satria tertawa lebar. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat
tingkah sahabatnya yang kerap cemburu berlebihan.
Yuna langsung keluar dari kamar begitu mendengar suara keributan
di ruang kerja suaminya. “Ada apa, Sat?” tanya Yuna sambil menatap Satria yang
baru saja keluar.
Satria tertawa kecil. Ia meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
“Sst ...! Cemburu,” ucapnya tanpa suara.
Yuna menghela napas. “Kamu ini ... udah tahu suamiku cemburuan,
malah dipancing terus,” celetuk Yuna.
Satria tertawa tanpa suara. “Hai, Kakak Ipar Kecil yang cantik!”
seru Satria sambil merentangkan kedua tangannya dan melangkah mendekati Yuna.
“Udah berapa hari ini nggak ketemu. Kamu ngangenin banget!” lanjutnya sambil
melirik pintu ruang kerja Yeriko. Ia sengaja berbicara dengan nada tinggi agar
bisa terdengar oleh Yeriko.
Yeriko langsung membuka pintu dan keluar dari ruangannya begitu
mendengar suara Satria. Ia langsung berlari dan menarik tubuh Satria yang
sudah memeluk tubuh istrinya.
“Kenapa, Yer?” tanya Satria sambil menatap Yeriko.
Yeriko tak menyahut. Ia mengerutkan bibir dan wajahnya sambil
menatap tajam ke arah Satria.
Satria terkekeh melihat sikap Yeriko. Ia menggeleng-gelengkan
kepala sambil menunjuk-nunjuk wajah Yeriko. “Parah kamu, Yer!”
Yeriko mendengus kesal ke arah Satria. “Ck, katanya mau pulang?
Kenapa malah gangguin istri orang?”
Satria hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Yeriko. “Aku nggak
gangguin. Cuma kangen aja sama Kakak Ipar. Awal tahun banyak event, aku jaga
terus. Masa cuma peluk doang, nggak boleh?”
Yuna hanya tertawa kecil mendengar perdebatan Yeriko dan
sahabatnya. “Ay, jangan bersikap kayak gini terus! Satria juga bukan orang lain
buat kita. Dia juga cuma ...”
“Kalau bukan orang lain, bebas peluk-peluk sama cipika-cipiki?”
“Gayamu, Yer!” sahut Satria. “Kamu itu lulusan New York.
Cipika-cipiki itu biasa. Kamu sama Cantika sering cipika-cipiki ‘kan?”
Yuna langsung menatap Yeriko sambil menahan tawa.
“Kamu cipika-cipiki ke dia nggak papa. Istriku pengecualian!”
“Ya, ya, ya.” Satria mengangguk-anggukkan kepala. “Aku pulang
dulu!”
Yeriko menganggukkan kepala sambil memeluk Yuna. “Bagus. Piket
‘kan? Buruan pergi! Thanks ya!”
“Masih ingat terima kasih?” tanya Satria sambil
menggeleng-gelengkan kepala. Ia menuruni anak tangga sambil memainkan kunci
motor yang ada di tangannya. Bibirnya terus tertawa mengingat sikap Yeriko saat
cemburu. Ia merasa hatinya puas ketika bisa menggoda Yuna dan membuat Yeriko
begitu kesal.
Yuna hanya tertawa kecil sambil memerhatikan Satria yang melangkah
keluar dari rumahnya. Ia sangat mengerti bagaimana suaminya, ia tidak pernah
protes, justru merasa bahagia karena memiliki suami yang sangat menyayanginya
walau terlihat berlebihan.
((Bersambung...))

0 komentar:
Post a Comment