Thursday, March 26, 2026

Perfect Hero Bab 504 : Mimpi Buruk

 


“Yun, kamu mau ice cream?” tanya Adjie saat ia dan Yuna berjalan-jalan di trotoar yang terasa asing baginya.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Ayah belikan ice cream di warung depan. Kamu tunggu di sini ya!” pinta Adjie.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia menatap ayahnya yang sudah bergegas melangkah pergi.

 

“Kakak ...!” seru beberapa anak yang tiba-tiba berlarian ke arah Yuna sambil membawa balon.

 

“Main yuk, Kak!” ajak salah seorang anak perempuan sambil menarik lengan Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil memerhatikan anak-anak kecil yang berlarian mengelilinginya. Ia terus tertawa sambil mengejar anak-anak yang bermain bersamanya.

 

“Kakak Cantik, kalau besar nanti ... aku ingin seperti Kakak Cantik,” tutur salah seorang anak perempuan yang sedang berdiri di hadapan Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil mengelus ujung kepala anak tersebut. “Kamu akan jadi lebih cantik dari Kakak saat kamu dewasa nanti.”

 

“Bisa, Kak?”

 

Yuna mengangguk. Ia tersenyum sambil mengusap pipi gadis kecil itu.

 

CHIIIT ...!

 

BRAAAK ...!

 

Yuna langsung memutar kepalanya ke arah sumber suara. Sebuah mobil box berhenti tepat di belakangnya. Tak jauh dari mobil itu, pria setengah baya berkaos putih tergeletak berlumuran darah di tengah jalan.

 

“AYAH ...!” teriak Yuna sambil berlari menghampiri Adjie yang sudah tak sadarkan diri. Ia memeluk kepala ayahnya sambil menatap tangan Adjie yang masih menggenggam kantong plastik berisi ice cream kesukaan Yuna.

 

“Ayah ...!” teriak Yuna sambil menangis histeris. “Ayah, bangun ...!” serunya. Ia tak memedulikan orang-orang yang sudah berkerumun mengelilinginya.

 

“Tolongin Ayahku ...!” seru Yuna sambil menangis. Namun, tak ada satu orang pun yang menolongnya. Mereka hanya menonton Yuna yang sedang menangisi ayahnya yang sudah berlumuran darah.

 

“Ayah, jangan tidur!” pinta Yuna. Ia berusaha sekuat tenaga mengangkat tubuh Ayahnya yang dua kali lebih berat dari berat tubuh Yuna. “Hiks ... hiks ... Ayah ...!”

 

Yuna terus memeluk kepala ayahnya sambil menangis histeris.

 

“Yuna ...!”

 

“Ayah ...!” seru Yuna sambil membuka matanya.

 

“Kamu kenapa?”

 

Yuna mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia mengatur napas dan menghapus air mata yang membasahi pipinya. “Aku cuma mimpi?”

 

Yeriko mengangguk sambil merengkuh kepala Yuna. “Cuma mimpi, kenapa sampai seperti ini?”

 

“Aku mimpi buruk. Aku mimpi, Ayah ...” ucap Yuna sesenggukkan.

 

“Cuma mimpi, kok.” Yeriko mengelus lembut kepala Yuna. “Jangan terlalu dipikirkan! Mungkin, karena kamu terlalu memikirkan kondisi ayah kamu.”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku takut terjadi hal buruk sama ayah.”

 

“Ayah Adjie baik-baik aja. Lain kali, jangan tidur sore! Selain bisa mimpi buruk, nggak baik untuk kesehatan.”

 

Yuna langsung menoleh ke arah jam dinding yang ada di kamarnya. “Udah jam enam sore? Aku ketiduran,” tuturnya sambil melepaskan diri dari pelukkan Yeriko. Ia mengusap pipinya yang basah.

 

Yuna merasa mimpi kali ini seperti nyata. Ia benar-benar takut kalau terjadi sesuatu pada ayahnya.

 

Yeriko tersenyum sambil merapikan anak rambut Yuna yang berantakan. “Jangan terlalu berpikir berlebihan! Ibu hamil nggak boleh stres.”

 

Yuna mengangguk. Ia bangkit dari sofa. “Aku siapin air hangat dulu untuk kamu mandi.”

 

 “Kamu udah mandi?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Nanti aja siapin air untuk mandi! Aku ada janji ketemu sama Satria.”

 

“Mau keluar lagi?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Satria yang mau ke sini.”

 

“Oh. Aku siapin makan malam buat kalian.”

 

“Nggak usah. Satria Cuma sebentar aja di sini. Kamu di dalam kamar aja!”

 

Yuna menautkan kedua alisnya. “Kenapa?”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara Satria. “Kamu di sini aja!” perintah Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko tersenyum, ia mengecup kening Yuna dan bergegas keluar dari kamar.

 

“Yer, kamu tahu kalau aku sudah datang?” tanya Satria begitu melihat Yeriko keluar dari kamarnya.

 

“Gimana nggak tahu kalau kamu masih di bawah aja sudah ribut.”

 

Satria terkekeh. Ia melangkahkan kaki mengiringi Yeriko dan masuk ke ruang kerja Yeriko.

 

Satria langsung menyerahkan amplop berisi surat dari laboratorium kepada Yeriko begitu mereka sudah sampai di ruang kerja Yeriko.

 

“Gimana hasilnya?” tanya Yeriko sambil membuka amplop tersebut.

 

“Itu obat tidur dosis tinggi,” jawab Satria.

 

“Obat tidur?” Yeriko mengernyitkan dahi, ia segera membaca hasil pemeriksaan dari laboratorium. “Zat ini sama dengan yang ditemukan dokter di tubuh Pak Adjie.”

 

“Mereka bukan penderita stres. Kenapa sampai ada obat tidur seperti ini di rumah mereka?” tanya Adjie.

 

“Jelas banget targetnya siapa,” jawab Yeriko.

 

“Maksud kamu? Mereka mau bikin Pak Adjie tidur panjang lagi?” tanya Satria.

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Kalau kondisi koma Pak Adjie selama sebelas tahun ini di bawah pengaruh obat, artinya dokter yang menangani beliau sebelumnya ... terlibat secara langsung.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala.

 

Satria tertawa kecil. “Ini cuma dugaan. Faktanya, kita belum bisa memastikan.”

 

“Kamu selidiki sampai selesai, Sat!” perintah Yeriko.

 

Satria mengangguk-anggukkan kepalanya. “Gampanglah. Aku balik dulu ya! Ada urusan lain,” pamit Satria.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Eh, Kakak Ipar mana? Aku nggak lihat dia waktu masuk rumah.”

 

“Di kamar.”

 

“Ngapain jam segini di kamar? Biasanya dia ada di dapur atau di ruang keluarga.”

 

“Ck, kamu pulang sana! Nggak usah tanya-tanya istriku!”

 

“Halah ... bilang aja cemburu kalo Kakak Ipar Kecil selalu ramah dan baik sama aku. Aku kangen jus mangga buatan dia.”

 

Yeriko langsung melempar Satria menggunakan pena yang ada di atas meja.

 

Satria tergelak. Ia bangkit dari tempat duduk dan melangkah menuju pintu. “Yer, Kakak Ipar makin seksi aja kalo lagi hamil begitu. Bawa main-main ke luar! Jangan dinikmati sendiri,” tuturnya dari balik pintu.

 

Yeriko membelalakkan matanya. Ia meraih buku yang ada di hadapannya dan melemparkan ke arah Satria yang setengah tubuhnya sudah ada di luar pintu.

 

BRAAK ...!

 

Buku yang dilempar Yeriko tepat mengenai pintu yang buru-buru ditutup oleh Satria.

 

“Jangan ngayalin istri orang terus!” teriak Yeriko kesal.

 

Satria tertawa lebar. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya yang kerap cemburu berlebihan.

 

Yuna langsung keluar dari kamar begitu mendengar suara keributan di ruang kerja suaminya. “Ada apa, Sat?” tanya Yuna sambil menatap Satria yang baru saja keluar.

 

Satria tertawa kecil. Ia meletakkan jari telunjuk di bibirnya. “Sst ...! Cemburu,” ucapnya tanpa suara.

 

Yuna menghela napas. “Kamu ini ... udah tahu suamiku cemburuan, malah dipancing terus,” celetuk Yuna.

 

Satria tertawa tanpa suara. “Hai, Kakak Ipar Kecil yang cantik!” seru Satria sambil merentangkan kedua tangannya dan melangkah mendekati Yuna. “Udah berapa hari ini nggak ketemu. Kamu ngangenin banget!” lanjutnya sambil melirik pintu ruang kerja Yeriko. Ia sengaja berbicara dengan nada tinggi agar bisa terdengar oleh Yeriko.

 

Yeriko langsung membuka pintu dan keluar dari ruangannya begitu mendengar suara Satria. Ia langsung berlari  dan menarik tubuh Satria yang sudah memeluk tubuh istrinya.

 

“Kenapa, Yer?” tanya Satria sambil menatap Yeriko.

 

Yeriko tak menyahut. Ia mengerutkan bibir dan wajahnya sambil menatap tajam ke arah Satria.

 

Satria terkekeh melihat sikap Yeriko. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil menunjuk-nunjuk wajah Yeriko. “Parah kamu, Yer!”

 

Yeriko mendengus kesal ke arah Satria. “Ck, katanya mau pulang? Kenapa malah gangguin istri orang?”

 

Satria hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Yeriko. “Aku nggak gangguin. Cuma kangen aja sama Kakak Ipar. Awal tahun banyak event, aku jaga terus. Masa cuma peluk doang, nggak boleh?”

 

Yuna hanya tertawa kecil mendengar perdebatan Yeriko dan sahabatnya. “Ay, jangan bersikap kayak gini terus! Satria juga bukan orang lain buat kita. Dia juga cuma ...”

 

“Kalau bukan orang lain, bebas peluk-peluk sama cipika-cipiki?”

 

“Gayamu, Yer!” sahut Satria. “Kamu itu lulusan New York. Cipika-cipiki itu biasa. Kamu sama Cantika sering cipika-cipiki ‘kan?”

 

Yuna langsung menatap Yeriko sambil menahan tawa.

 

“Kamu cipika-cipiki ke dia nggak papa. Istriku pengecualian!”

 

“Ya, ya, ya.” Satria mengangguk-anggukkan kepala. “Aku pulang dulu!”

 

Yeriko menganggukkan kepala sambil memeluk Yuna. “Bagus. Piket ‘kan? Buruan pergi! Thanks ya!”

 

“Masih ingat terima kasih?” tanya Satria sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia menuruni anak tangga sambil memainkan kunci motor yang ada di tangannya. Bibirnya terus tertawa mengingat sikap Yeriko saat cemburu. Ia merasa hatinya puas ketika bisa menggoda Yuna dan membuat Yeriko begitu kesal.

 

Yuna hanya tertawa kecil sambil memerhatikan Satria yang melangkah keluar dari rumahnya. Ia sangat mengerti bagaimana suaminya, ia tidak pernah protes, justru merasa bahagia karena memiliki suami yang sangat menyayanginya walau terlihat berlebihan.



((Bersambung...))

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas