Kamis, 11 Januari 2018
Keluarga besar Hadikusuma kembali disibukkan
dengan perayaan tujuh bulanan yang sudah diatur oleh Rullyta beberapa hari
sebelumnya. Perayaan tujuh bulanan sudah menjadi tradisi sejak nenek
moyang.
Rullyta, meski kehidupan keluarganya modern, tapi
ia tetap saja mengikuti tradisi keluarganya secara turun-temurun. Terlebih,
paman dan bibinya juga cukup baik dalam menjalankan tradisi leluhur ini.
“Ma, aku harus ngapain?” tanya Yuna saat ia masih
berada di dalam kamarnya.
“Malam ini, kita pengajian terlebih dahulu.
Anak-anak panti yang Mama undang, mereka sudah datang. Turun, yuk!”
Yuna menganggukkan kepala sambil merapikan
kerudung yang menutupi kepalanya. “Bagus, nggak, Ma?” tanyanya.
Rullyta tersenyum sambil menatap Yuna. “Bagus.
Cantik banget!”
“Ah, Mama ...”
Rullyta tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Ayo
...!” ajaknya sambil merangkul Yuna untuk turun dari kamarnya.
Yuna menghentikan langkahnya saat ia baru sampai
di ujung tangga. “Ma, katanya nggak ramai. Kenapa rumah ini penuh orang?”
Rullyta tersenyum sambil menatap Yuna. “Mama
undang anak-anak panti dan rekan-rekan bisnis Mama juga. Nggak ada salahnya
kita berbagi kebahagiaan sama mereka ‘kan?”
Yuna menggigit bibirnya. “Aku malu, Ma.”
“Malu kenapa? Ini saat yang penting untuk kamu dan
anak kamu. Nggak perlu malu! Semakin banyak yang mendoakan kalian, akan semakin
baik.”
Yuna tersenyum kecil. Ia menarik napas dalam-dalam
dan mengembuskannya perlahan. Ia sangat gugup melihat banyak orang yang ada di
lantai bawah. Ia melangkah perlahan menuruni anak tangga bersama Rullyta.
Membuat semua orang menoleh ke arahnya.
Yuna terus menyunggingkan senyum pada semua tamu
yang hadir. Ia langsung menghampiri Yeriko dan kakeknya yang sudah duduk
bersama Kiai yang akan memimpin pengajian malam ini.
“Ay, kenapa jadi rame banget?” bisik Yuna di
telinga Yeriko.
“Nggak papa,” jawab Yeriko sambil mengelus
punggung lengan Yuna.
“Aku nggak kasih tahu Icha sama Jheni. Kalau
mereka tahu acaranya seramai ini dan nggak diundang, ngomelnya bisa sampai ke
ujung Eropa,” bisik Yuna.
“Itu mereka!” tutur Yeriko sambil menunjuk Icha
dan Jheni yang berdiri di belakang anak-anak panti yang hadir di ruangan
tersebut.
Yuna menghela napas lega. “Syukurlah.”
Yeriko tersenyum. Mereka mengikuti pengajian
hingga selesai. Yeriko sangat bahagia karena ada banyak orang yang mendoakan
kesehatan dan kebahagiaan untuk istri dan calon anaknya.
Usai menggelar pengajian, keesokan harinya masih
dilanjutkan dengan acara tingkeban yang hanya dihadiri oleh sanak saudara dan
sahabat-sahabat mereka.
“Yun, kamu wangi banget!” Jheni mengendus tubuh
Yuna yang hanya mengenakan kain jarik untuk menutupi tubuhnya. Ia mengenakan
baju roncean melati dan mawar yang wanginya menyeruak ke segala arah.
Yuna tersenyum sambil menatap Jheni. “Kamu kapan
pakai roncean melati juga?”
Jheni memonyongkan bibirnya. “Tunggu si Chandra
ngelamar aku!”
“Udah siap dilamar?”
Jheni memutar bola matanya. “Mmh ... masih
bingung, Yun.”
“Bingung kenapa?” tanya Yuna sambil memperbaiki
roncean melati yang mengikat kepalanya.
Jheni menggigit bibirnya. “Menurut kamu ... apa
aku harus cari orang tua kandung aku untuk menikah?”
Yuna menghela napas. “Gimana baiknya menurut kamu
aja, Jhen. Lebih baik, kamu bicarakan sama Chandra. Ini kan masalah kalian
berdua.”
Jheni langsung duduk di lantai sambil menyandarkan
kepalanya di paha Yuna yang duduk di kursi. “Ketemu sama mama tirinya dia aja,
aku belum berani. Aku harus cari orang tua kandung aku ke mana?” ucapnya lirih.
Yuna mengelus-elus kepala Jheni. “Bukannya orang
tua angkat kamu udah ngasih tahu orang tua kamu siapa?”
Jheni menganggukkan kepala. “Aku takut, Yun!
Mereka udah sayang sama aku seperti anak sendiri. Aku takut, kehadiranku nggak
diterima sama orang tua kandungku. Mereka udah buang aku.”
“Jheni yang aku kenal nggak kayak gini. Dia selalu
berani menghadapi apa pun.”
Jheni mengangkat wajahnya menatap Yuna. Ia
langsung tersenyum. “Makasih, kamu udah ingatin aku!”
Yuna tersenyum sambil mengangguk. “Harus semangat!
Supaya kamu dan Chandra bisa cepat bersatu. Icha juga nggak tahu di mana orang
tua kandungnya. Tapi dia dan Lutfi akan tetap menikah. Kamu harus bisa menerima
semuanya dengan lapang dada seperti dia.”
Jheni menoleh ke arah Icha yang berdiri di
seberang kolam renang sambil memegang kendi yang akan mereka gunakan untuk
acara sakral ini. “Dia dapet dukungan dari keluarga Lutfi. Sedangkan aku ...
aku nggak tahu gimana mamanya Chandra yang galak itu bakal nerima aku atau
nggak.”
“Jhen, kamu cinta beneran sama Chandra ‘kan?”
Jheni menganggukkan kepala.
“Kalau gitu, kamu harus berjuang! Cuma menaklukan
mama tirinya aja, masa nggak bisa?”
Jheni berpikir sambil menggigit bibirnya. “Iya
juga, ya?”
Yuna mengangguk sambil tersenyum. Pandangannya
beralih pada Rullyta yang berjalan menghampirinya.
Jheni langsung bangkit dari lantai dan tersenyum
ke arah Rullyta. Ia memilih untuk menghampiri dan membantu Icha.
“Udah siap?” tanya Rullyta.
Yuna menganggukkan kepala.
Rullyta mengedarkan pandangannya. “Bulek, Yeriko
mana?” tanyanya pada salah satu tantenya.
“Masih di dalam.”
“Lama banget,” sahut Rullyta.
Beberapa menit kemudian, Yeriko keluar dari dalam
rumah. Ia langsung menghampiri Yuna yang sudah duduk di tepi kolam dengan
balutan baju bunga melati.
“Kenapa lama banget?” tanya Yuna saat Yeriko sudah
duduk di sampingnya.
“Aku gugup.”
“Bisa gugup juga?” tanya Yuna.
“Ini lebih menegangkan dari ijab kabul,” jawab
Yeriko sambil menatap sanak saudara yang ada di halaman belakang rumah
keluarganya itu.
Yuna menahan tawa melihat wajah Yeriko yang
memerah. “Kamu beneran gugup?”
“Kamu kira aku main-main? Keluarga dari adiknya
kakek bikin aku malu. Aku dibikin nggak pakai baju kayak gini di depan mereka.”
Yuna tertawa kecil. “Mereka cuma keluarga, kenapa
malu? Lagian, badan kamu bagus, kok. Udah kayak model majalah Gym.”
Yeriko ikut tertawa, ia mendekatkan bibirnya ke
telinga Yuna dan berkata, “kamu tahu ... kalau kayak gini, aku ngerasa lagi
bikin anak sambil ditontonin,” bisiknya.
“Idih ... nggak segitunya juga, kali.”
Yeriko tertawa kecil. “Untung nggak ada Lutfi sama
Satria. Mereka bisa ngayalin kamu yang nggak-nggak.”
“Udah, nggak udah cemburuan! Fokus!” pinta Yuna
sambil memperbaiki posisi duduknya karena salah satu anggota keluarga Yeriko
mulai membuka acara dan mengambil alih perhatian semua orang.
Yuna dan Yeriko menjalani prosesi adat siraman
tujuh bulanan sesuai dengan petunjuk dari sesepuh mereka. Terutama, adik dari
kakek Nurali yang begitu memperhatikan tradisi leluhurnya.
Yang muda sebagai penerus keluarga hanya mengikuti
saja apa yang dinginkan keluarga. Sebab, arus modern sudah menjadi bagian dari
keseharian mereka. Namun, mereka juga ingin menjaga tradisi leluhur walau tak
banyak yang bisa mereka lakukan. Mungkin, saat sesepuh atau orang yang dituakan
sudah tidak ada ... mereka akan melanjutkan tradisi suci tersebut sejalan
dengan dinamika modernisasi.
Usai siraman, tahap selanjutnya adalah tradisi
memecah telur dan membelah kelapa. Tradisi membelah kelapa menjadi saat yang
ditunggu-tunggu oleh semua sanak keluarga. Yeriko menarik napas sambil memegang
parang di tangannya. Ia mengamati buah kelapa yang ada di hadapannya.
“Aku sudah tahu jenis kelamin anakku dari hasil
USG. Apa harus belah kelapa lagi?” batin Yeriko. “Mama ini, kenapa harus kayak
gini segala?” tanyanya dalam hati sambil melirik sesepuh di keluarganya.
“Ayo, Yer! Cepet dibelah kelapanya!” perintah
salah satu sanak keluarganya.
Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia mengangkat
parang yang ada di tangannya dan langsung menjatuhkan bagian tajamnya ke atas
kelapa yang sudah disiapkan di hadapannya.
SYUUT ...!
PYAAR ...!
Yeriko langsung tersenyum begitu melihat buah
kelapa itu sudah terbelah.
“Wah ...! Anaknya bakal perempuan, nih!” seru
salah seorang sanak saudara.
Yeriko langsung mengangkat kedua alisnya. “Kok,
tahu?”
“Kelihatan dari belahannya, yang paling banyak di
bagian kiri.”
Yeriko mengernyitkan dahi sambil menoleh ke arah
Yuna. Kemudian ia tertawa kecil. Yeriko meletakkan parang ke atas meja dan
menghampiri Yuna. “Orang zaman dulu itu ada-ada aja. Tapi kok, bisa bener, ya?”
bisiknya.
Yuna hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Yeriko.
Ia segera mengikuti prosesi selanjutnya hingga acara selesai. Ia sangat bahagia
karena keluarga besar Yeriko selalu memperlakukan dirinya dengan baik.

0 komentar:
Post a Comment