Thursday, March 26, 2026

Perfect Hero Bab 505 : Tingkeban (Tradisi Leluhur)

 


Kamis, 11 Januari 2018

 

 

 

Keluarga besar Hadikusuma kembali disibukkan dengan perayaan tujuh bulanan yang sudah diatur oleh Rullyta beberapa hari sebelumnya.  Perayaan tujuh bulanan sudah menjadi tradisi sejak nenek moyang.

 

Rullyta, meski kehidupan keluarganya modern, tapi ia tetap saja mengikuti tradisi keluarganya secara turun-temurun. Terlebih, paman dan bibinya juga cukup baik dalam menjalankan tradisi leluhur ini.

 

“Ma, aku harus ngapain?” tanya Yuna saat ia masih berada di dalam kamarnya.

 

“Malam ini, kita pengajian terlebih dahulu. Anak-anak panti yang Mama undang, mereka sudah datang. Turun, yuk!”

 

Yuna menganggukkan kepala sambil merapikan kerudung yang menutupi kepalanya. “Bagus, nggak, Ma?” tanyanya.

 

Rullyta tersenyum sambil menatap Yuna. “Bagus. Cantik banget!”

 

“Ah, Mama ...”

 

Rullyta tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Ayo ...!” ajaknya sambil merangkul Yuna untuk turun dari kamarnya.

 

Yuna menghentikan langkahnya saat ia baru sampai di ujung tangga. “Ma, katanya nggak ramai. Kenapa rumah ini penuh orang?”

 

Rullyta tersenyum sambil menatap Yuna. “Mama undang anak-anak panti dan rekan-rekan bisnis Mama juga. Nggak ada salahnya kita berbagi kebahagiaan sama mereka ‘kan?”

 

Yuna menggigit bibirnya. “Aku malu, Ma.”

 

“Malu kenapa? Ini saat yang penting untuk kamu dan anak kamu. Nggak perlu malu! Semakin banyak yang mendoakan kalian, akan semakin baik.”

 

Yuna tersenyum kecil. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia sangat gugup melihat banyak orang yang ada di lantai bawah. Ia melangkah perlahan menuruni anak tangga bersama Rullyta. Membuat semua orang menoleh ke arahnya.

 

Yuna terus menyunggingkan senyum pada semua tamu yang hadir. Ia langsung menghampiri Yeriko dan kakeknya yang sudah duduk bersama Kiai yang akan memimpin pengajian malam ini.

 

“Ay, kenapa jadi rame banget?” bisik Yuna di telinga Yeriko.

 

“Nggak papa,” jawab Yeriko sambil mengelus punggung lengan Yuna.

 

“Aku nggak kasih tahu Icha sama Jheni. Kalau mereka tahu acaranya seramai ini dan nggak diundang, ngomelnya bisa sampai ke ujung Eropa,” bisik Yuna.

 

“Itu mereka!” tutur Yeriko sambil menunjuk Icha dan Jheni yang berdiri di belakang anak-anak panti yang hadir di ruangan tersebut.

 

Yuna menghela napas lega. “Syukurlah.”

 

Yeriko tersenyum. Mereka mengikuti pengajian hingga selesai. Yeriko sangat bahagia karena ada banyak orang yang mendoakan kesehatan dan kebahagiaan untuk istri dan calon anaknya.

 

Usai menggelar pengajian, keesokan harinya masih dilanjutkan dengan acara tingkeban yang hanya dihadiri oleh sanak saudara dan sahabat-sahabat mereka.

 

“Yun, kamu wangi banget!” Jheni mengendus tubuh Yuna yang hanya mengenakan kain jarik untuk menutupi tubuhnya. Ia mengenakan baju roncean melati dan mawar yang wanginya menyeruak ke segala arah.

 

Yuna tersenyum sambil menatap Jheni. “Kamu kapan pakai roncean melati juga?”

 

Jheni memonyongkan bibirnya. “Tunggu si Chandra ngelamar aku!”

 

“Udah siap dilamar?”

 

Jheni memutar bola matanya. “Mmh ... masih bingung, Yun.”

 

“Bingung kenapa?” tanya Yuna sambil memperbaiki roncean melati yang mengikat kepalanya.

 

Jheni menggigit bibirnya. “Menurut kamu ... apa aku harus cari orang tua kandung aku untuk menikah?”

 

Yuna menghela napas. “Gimana baiknya menurut kamu aja, Jhen. Lebih baik, kamu bicarakan sama Chandra. Ini kan masalah kalian berdua.”

 

Jheni langsung duduk di lantai sambil menyandarkan kepalanya di paha Yuna yang duduk di kursi. “Ketemu sama mama tirinya dia aja, aku belum berani. Aku harus cari orang tua kandung aku ke mana?” ucapnya lirih.

 

Yuna mengelus-elus kepala Jheni. “Bukannya orang tua angkat kamu udah ngasih tahu orang tua kamu siapa?”

 

Jheni menganggukkan kepala. “Aku takut, Yun! Mereka udah sayang sama aku seperti anak sendiri. Aku takut, kehadiranku nggak diterima sama orang tua kandungku. Mereka udah buang aku.”

 

“Jheni yang aku kenal nggak kayak gini. Dia selalu berani menghadapi apa pun.”

 

Jheni mengangkat wajahnya menatap Yuna. Ia langsung tersenyum. “Makasih, kamu udah ingatin aku!”

 

Yuna tersenyum sambil mengangguk. “Harus semangat! Supaya kamu dan Chandra bisa cepat bersatu. Icha juga nggak tahu di mana orang tua kandungnya. Tapi dia dan Lutfi akan tetap menikah. Kamu harus bisa menerima semuanya dengan lapang dada seperti dia.”

 

Jheni menoleh ke arah Icha yang berdiri di seberang kolam renang sambil memegang kendi yang akan mereka gunakan untuk acara sakral ini. “Dia dapet dukungan dari keluarga Lutfi. Sedangkan aku ... aku nggak tahu gimana mamanya Chandra yang galak itu bakal nerima aku atau nggak.”

 

“Jhen, kamu cinta beneran sama Chandra ‘kan?”

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

“Kalau gitu, kamu harus berjuang! Cuma menaklukan mama tirinya aja, masa nggak bisa?”

 

Jheni berpikir sambil menggigit bibirnya. “Iya juga, ya?”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Pandangannya beralih pada Rullyta yang berjalan menghampirinya.

 

Jheni langsung bangkit dari lantai dan tersenyum ke arah Rullyta. Ia memilih untuk menghampiri dan membantu Icha.

 

“Udah siap?” tanya Rullyta.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Rullyta mengedarkan pandangannya. “Bulek, Yeriko mana?” tanyanya pada salah satu tantenya.

 

“Masih di dalam.”

 

“Lama banget,” sahut Rullyta.

 

Beberapa menit kemudian, Yeriko keluar dari dalam rumah. Ia langsung menghampiri Yuna yang sudah duduk di tepi kolam dengan balutan baju bunga melati.

 

“Kenapa lama banget?” tanya Yuna saat Yeriko sudah duduk di sampingnya.

 

“Aku gugup.”

 

“Bisa gugup juga?” tanya Yuna.

 

“Ini lebih menegangkan dari ijab kabul,” jawab Yeriko sambil menatap sanak saudara yang ada di halaman belakang rumah keluarganya itu.

 

Yuna menahan tawa melihat wajah Yeriko yang memerah. “Kamu beneran gugup?”

 

“Kamu kira aku main-main? Keluarga dari adiknya kakek bikin aku malu. Aku dibikin nggak pakai baju kayak gini di depan mereka.”

 

Yuna tertawa kecil. “Mereka cuma keluarga, kenapa malu? Lagian, badan kamu bagus, kok. Udah kayak model majalah Gym.”

 

Yeriko ikut tertawa, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Yuna dan berkata, “kamu tahu ... kalau kayak gini, aku ngerasa lagi bikin anak sambil ditontonin,” bisiknya.

 

“Idih ... nggak segitunya juga, kali.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Untung nggak ada Lutfi sama Satria. Mereka bisa ngayalin kamu yang nggak-nggak.”

 

“Udah, nggak udah cemburuan! Fokus!” pinta Yuna sambil memperbaiki posisi duduknya karena salah satu anggota keluarga Yeriko mulai membuka acara dan mengambil alih perhatian semua orang.

 

Yuna dan Yeriko menjalani prosesi adat siraman tujuh bulanan sesuai dengan petunjuk dari sesepuh mereka. Terutama, adik dari kakek Nurali yang begitu memperhatikan tradisi leluhurnya.

 

Yang muda sebagai penerus keluarga hanya mengikuti saja apa yang dinginkan keluarga. Sebab, arus modern sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Namun, mereka juga ingin menjaga tradisi leluhur walau tak banyak yang bisa mereka lakukan. Mungkin, saat sesepuh atau orang yang dituakan sudah tidak ada ... mereka akan melanjutkan tradisi suci tersebut sejalan dengan dinamika modernisasi.

 

Usai siraman, tahap selanjutnya adalah tradisi memecah telur dan membelah kelapa. Tradisi membelah kelapa menjadi saat yang ditunggu-tunggu oleh semua sanak keluarga. Yeriko menarik napas sambil memegang parang di tangannya. Ia mengamati buah kelapa yang ada di hadapannya.

 

“Aku sudah tahu jenis kelamin anakku dari hasil USG. Apa harus belah kelapa lagi?” batin Yeriko. “Mama ini, kenapa harus kayak gini segala?” tanyanya dalam hati sambil melirik sesepuh di keluarganya.

 

“Ayo, Yer! Cepet dibelah kelapanya!” perintah salah satu sanak keluarganya.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia mengangkat parang yang ada di tangannya dan langsung menjatuhkan bagian tajamnya ke atas kelapa yang sudah disiapkan di hadapannya.

 

SYUUT ...!

 

PYAAR ...!

 

Yeriko langsung tersenyum begitu melihat buah kelapa itu sudah terbelah.

 

“Wah ...! Anaknya bakal perempuan, nih!” seru salah seorang sanak saudara.

 

Yeriko langsung mengangkat kedua alisnya. “Kok, tahu?”

 

“Kelihatan dari belahannya, yang paling banyak di bagian kiri.”

 

Yeriko mengernyitkan dahi sambil menoleh ke arah Yuna. Kemudian ia tertawa kecil. Yeriko meletakkan parang ke atas meja dan menghampiri Yuna. “Orang zaman dulu itu ada-ada aja. Tapi kok, bisa bener, ya?” bisiknya.

 

Yuna hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Yeriko. Ia segera mengikuti prosesi selanjutnya hingga acara selesai. Ia sangat bahagia karena keluarga besar Yeriko selalu memperlakukan dirinya dengan baik.

 


((Bersambung...))

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas