Thursday, March 26, 2026

Perfect Hero Bab 503 : Bantuan dari Komandan Muda

 


“Ay, apa ada masalah waktu makan tadi?” tanya Yuna saat ia sudah di perjalanan pulang.

 

Yeriko menoleh sekilas ke arah Yuna yang duduk di sampingnya. “Ada.”

 

“Apa?”

 

“Aku pastikan dulu semuanya. Kalau sudah jelas, baru aku kasih tahu kamu,” tutur Yeriko.

 

Yuna menggigit bibirnya. Pikirannya mulai liar karena Yeriko masih merahasiakan apa yang terjadi.

 

Yeriko tersenyum sambil mengelus kepala Yuna. “Nggak usah mikir macem-macem! Semua akan baik-baik aja!” pintanya. Ia langsung melajukan mobil menuju ke rumahnya. Ia menurunkan Yuna terlebih dahulu, kemudian mengantar Adjie kembali ke apartemen.

 

Begitu sampai di apartemen, Yeriko langsung duduk di sofa.

 

“Mau ngopi?” tanya Adjie sambil melangkah menuju dapur.

 

“Nggak usah, Yah. Kalau aku kelamaan di sini, Yuna bisa curiga.”

 

Adjie tertawa kecil. “Kamu itu di rumah saya, apa Yuna sering melarang kamu keluar?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Dia nggak pernah melarang apa pun. Saya hanya tidak ingin melihat dia khawatir. Itu saja.”

 

Adjie tersenyum, ia tetap membuat dua cangkir kopi dan menghidangkannya di hadapan Yeriko.

 

“Yah, ada hal yang ingin aku bicarakan,” tutur Yeriko sambil mengeluarkan pil yang ia bungkus dengan tisu.

 

“Apa ini?”

 

“Aku sudah cek di internet. Ini obat tidur dosis tinggi. Aku akan kirim ini ke temenku supaya dia bawa ke laboratorium untuk memastikan kebenarannya.”

 

Adjie tertegun menatap pil yang ada di atas meja itu. “Apa sebenarnya, mereka merencanakan sesuatu untuk kita?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kemungkinan, Oom Tarudi sudah curiga dengan langkah kita selama ini.”

 

Adjie menghela napas. “Ayah sudah menandatangani perjanjian yang menyatakan kalau Ayah tidak akan merebut perusahaan. Kenapa Melan dan Rudi masih membahayakan kami. Ayah tidak ingin mengorbankan Yuna dalam urusan ini.”

 

“Ayah tenang aja! Aku akan urus ini semua. Aku akan berusaha menutupi ini semua dari Yuna. Untuk sementara, Ayah tetap fokus dengan rencana semula kita!”

 

Adjie menganggukkan kepala. “Ayah bahagia karena Yuna memiliki suami yang bisa mencintai dan melindungi dia dengan baik.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia memasukkan kembali pil itu ke dalam saku jasnya. “Aku pulang dulu, Yah!” pamitnya.

 

“Minum dulu kopinya!” pinta Adjie.

 

Yeriko menatap cangkir kopi yang sudah ada di atas meja. Ia menyesap kopi itu perlahan. “Aku masih banyak urusan. Ayah istirahatlah!” pinta Yeriko sambil bangkit dari sofa. Ia sengaja tidak menghabiskan kopi yang dibuatkan Adjie.

 

Adjie mengangguk. Ia ikut bangkit dari sofa, mengantar Yeriko keluar dari apartemennya. “Hati-hati di jalan!”

 

“Iya, Yah.” Yeriko bergegas keluar dari apartemen. Ia mempercepat langkahnya sampai ke dalam mobilnya.

 

Yeriko merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya. Ia mencari nomor ponsel Satria dan langsung menekan panggilan telepon.

 

“Halo ...!” sapa Satria begitu panggilan telepon dari Yeriko tersambung.

 

“Kamu di mana, Sat?” tanya Yeriko tanpa basa-basi.

 

“Lagi tugas aku, Bro. Kenapa?”

 

“Aku butuh bantuan kamu,” jawab Yeriko.

 

“Sekarang?”

 

“Sepuluh tahun lagi. SEKARANG!”

 

“Hahaha. Ya udah, temui aku di Athena!”

 

“Kamu tugas apaan di sana?” tanya Yeriko.

 

“Ah, kamu ini ... kayak nggak tahu aja.”

 

Yeriko tergelak. “Oke. Oke. Aku ke sana sekarang!”

 

“Cepet ya! Lewat lima belas menit, aku udah nggak ada di lokasi.”

 

“Bangsat! Jalan ke sana hampir sejam. Kamu kira mobilku bisa terbang!?”

 

“Hahaha. Iya, juga sih. Mmh ... ketemu di Kodam aja!”

 

“Ya udah, aku langsung ke Kodam. Nggak pindah tempat lagi ‘kan?”

 

“Nggak. Lima belas menit lagi aku meluncur ke Kodam.”

 

“Oke.” Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia bergegas menuju ke Kodam V Brawijaya yang ada di jalan Raden Wijaya.

 

 Tiga puluh lima menit kemudian, Yeriko sudah memarkirkan mobilnya di halaman Kodam V Brawijaya.

 

“Hei, Bang ...! Apa kabar? Lama nggak kelihatan?” sapa salah seorang TNI berpangkat kopral yang sudah mengenal Yeriko.

 

“Baik. Satria sudah sampai?”

 

“Bang Satria ...” Pria itu mengedarkan pandangannya. “Motornya sudah ada. Cari di dalam aja, Bang!”

 

“Thanks!” Yeriko menepuk bahu prajurit tersebut dan melangkah masuk ke dalam gedung Kodam, menyusuri koridor hingga sampai ke ruang kerja Satria.

 

“Malam-malam gini, kamu masih kerja?” tanya Yeriko begitu masuk ke ruangan Satria.

 

Satria hanya tertawa mendengar pertanyaan Yeriko. “Piket aku, Yer. Gimana?” tanyanya sambil menghampiri Yeriko yang sudah duduk di sofa.

 

Yeriko mengeluarkan pil yang ia bungkus dengan tisu, meletakkan di atas meja dan membukanya perlahan.

 

“Apa itu? Ekstasi?” tanya Satria.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku minta kamu teliti obat ini!”

 

Satria meraih obat tersebut dan mengamatinya. “kamu dapet di mana?”

 

“Di rumah Oom Rudi?”

 

Satria mengangkat kedua alisnya. “Dia siapa?”

 

“Ayahnya Bellina.”

 

“Oh. Namanya Rudi?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Nama lengkapnya Tarudi Linandar. Panggilannya Rudi. Bisa urus ini ‘kan?”

 

“Gampang,” jawab Satria santai. “Keluarga istri kamu itu ... kenapa selalu berkonflik?”

 

Yeriko mengedikkan bahunya. “Kasus sebelas tahun lalu, masih menyisakan tanda tanya. Apalagi, mereka juga memperlakukan istriku dengan buruk. Aku harus balas semua penderitaan yang udah ditanggung Yuna selama ini.”

 

Satria menatap wajah Yeriko selama beberapa detik. “Mereka itu keluarga, Yer. Apa pantas kalau kita ikut campur keluarga mereka terus?”

 

“Ada yang pantas dan tidak pantas untuk kita masuki. Selama masih berhubungan sama Yuna, artinya berhubungan sama aku juga.”

 

Satria menghela napas. “Ini sudah konflik internal keluarga Kakak Ipar. Sebaiknya, masalah apa pun bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Toh, nggak ada bukti kalau pamannya yang melakukan pembunuhan sebelas tahun lalu. Akan lebih baik kalau hubungan keluarga tetap baik. Kalian dari keluarga terhormat, jangan sampai konflik Kakak Ipar Kecil dan keluarganya terdengar sampai ke luar.”

 

Yeriko mengusap wajahnya. “Apa itu alasan Yuna nggak mau membalas apa yang dilakukan Bellina?”

 

Satria mengangguk-anggukkan kepala. “Bisa jadi, Kakak Ipar kecil juga menjaga nama baik keluarga besarnya. Dia wanita yang baik dan bermartabat.”

 

Yeriko menghela napas. “Kalau mereka bukan keluarga Yuna. Akan lebih mudah mengatasinya.”

 

Satria tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Konflik keluarga memang sulit untuk diselesaikan, Yer. Di satu sisi, kita ingin membalas kejahatan mereka, di sisi lain ... kita ingin menjaga nama baik keluarga. Huft, memang susah mengatasinya.”

 

“Selama istriku nggak tahu. Kita bisa melakukannya dengan baik. Selama semuanya masih wajar. Aku mau semua terlihat secara alami!”

 

Satria tersenyum sambil menatap wajah Yeriko. Kemudian ia tergelak begitu Yeriko menyambut senyumannya. “Aku paham isi otak jahatmu ini, Yer. Ngerti-ngerti,” ucapnya sambil mengendalikan tawa.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Kalo gitu, aku pulang dulu!”

 

“Kenapa pulang? Baru jam sebelas, Yer.”

 

“Kasihan istriku di rumah. Aku sampe rumah jam dua belas, nih.”

 

“Halah ... istri terus jadi alasan. Bilang aja kamu yang nggak tahan!” sahut Satria.

 

Yeriko tertawa kecil. “Pengen juga?”

 

“Gampang!” sahut Satria.

 

Yeriko tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Aku pulang dulu ya!” pamitnya.

 

“Hati-hati ya! Salam buat calon ponakanku!”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia bergegas keluar dari tempat tersebut. 



((Bersambung...))

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas