“Ay, apa ada masalah waktu makan tadi?” tanya Yuna
saat ia sudah di perjalanan pulang.
Yeriko menoleh sekilas ke arah Yuna yang duduk di
sampingnya. “Ada.”
“Apa?”
“Aku pastikan dulu semuanya. Kalau sudah jelas,
baru aku kasih tahu kamu,” tutur Yeriko.
Yuna menggigit bibirnya. Pikirannya mulai liar
karena Yeriko masih merahasiakan apa yang terjadi.
Yeriko tersenyum sambil mengelus kepala Yuna.
“Nggak usah mikir macem-macem! Semua akan baik-baik aja!” pintanya. Ia langsung
melajukan mobil menuju ke rumahnya. Ia menurunkan Yuna terlebih dahulu,
kemudian mengantar Adjie kembali ke apartemen.
Begitu sampai di apartemen, Yeriko langsung duduk
di sofa.
“Mau ngopi?” tanya Adjie sambil melangkah menuju
dapur.
“Nggak usah, Yah. Kalau aku kelamaan di sini, Yuna
bisa curiga.”
Adjie tertawa kecil. “Kamu itu di rumah saya, apa
Yuna sering melarang kamu keluar?”
Yeriko menggelengkan kepala. “Dia nggak pernah
melarang apa pun. Saya hanya tidak ingin melihat dia khawatir. Itu saja.”
Adjie tersenyum, ia tetap membuat dua cangkir kopi
dan menghidangkannya di hadapan Yeriko.
“Yah, ada hal yang ingin aku bicarakan,” tutur
Yeriko sambil mengeluarkan pil yang ia bungkus dengan tisu.
“Apa ini?”
“Aku sudah cek di internet. Ini obat tidur dosis
tinggi. Aku akan kirim ini ke temenku supaya dia bawa ke laboratorium untuk
memastikan kebenarannya.”
Adjie tertegun menatap pil yang ada di atas meja
itu. “Apa sebenarnya, mereka merencanakan sesuatu untuk kita?”
Yeriko menganggukkan kepala. “Kemungkinan, Oom
Tarudi sudah curiga dengan langkah kita selama ini.”
Adjie menghela napas. “Ayah sudah menandatangani
perjanjian yang menyatakan kalau Ayah tidak akan merebut perusahaan. Kenapa
Melan dan Rudi masih membahayakan kami. Ayah tidak ingin mengorbankan Yuna
dalam urusan ini.”
“Ayah tenang aja! Aku akan urus ini semua. Aku
akan berusaha menutupi ini semua dari Yuna. Untuk sementara, Ayah tetap fokus
dengan rencana semula kita!”
Adjie menganggukkan kepala. “Ayah bahagia karena
Yuna memiliki suami yang bisa mencintai dan melindungi dia dengan baik.”
Yeriko menganggukkan kepala. Ia memasukkan kembali
pil itu ke dalam saku jasnya. “Aku pulang dulu, Yah!” pamitnya.
“Minum dulu kopinya!” pinta Adjie.
Yeriko menatap cangkir kopi yang sudah ada di atas
meja. Ia menyesap kopi itu perlahan. “Aku masih banyak urusan. Ayah
istirahatlah!” pinta Yeriko sambil bangkit dari sofa. Ia sengaja tidak
menghabiskan kopi yang dibuatkan Adjie.
Adjie mengangguk. Ia ikut bangkit dari sofa,
mengantar Yeriko keluar dari apartemennya. “Hati-hati di jalan!”
“Iya, Yah.” Yeriko bergegas keluar dari apartemen.
Ia mempercepat langkahnya sampai ke dalam mobilnya.
Yeriko merogoh ponsel yang ada di dalam saku
celananya. Ia mencari nomor ponsel Satria dan langsung menekan panggilan
telepon.
“Halo ...!” sapa Satria begitu panggilan telepon
dari Yeriko tersambung.
“Kamu di mana, Sat?” tanya Yeriko tanpa basa-basi.
“Lagi tugas aku, Bro. Kenapa?”
“Aku butuh bantuan kamu,” jawab Yeriko.
“Sekarang?”
“Sepuluh tahun lagi. SEKARANG!”
“Hahaha. Ya udah, temui aku di Athena!”
“Kamu tugas apaan di sana?” tanya Yeriko.
“Ah, kamu ini ... kayak nggak tahu aja.”
Yeriko tergelak. “Oke. Oke. Aku ke sana sekarang!”
“Cepet ya! Lewat lima belas menit, aku udah nggak
ada di lokasi.”
“Bangsat! Jalan ke sana hampir sejam. Kamu kira
mobilku bisa terbang!?”
“Hahaha. Iya, juga sih. Mmh ... ketemu di Kodam
aja!”
“Ya udah, aku langsung ke Kodam. Nggak pindah
tempat lagi ‘kan?”
“Nggak. Lima belas menit lagi aku meluncur ke
Kodam.”
“Oke.” Yeriko langsung mematikan panggilan
teleponnya. Ia bergegas menuju ke Kodam V Brawijaya yang ada di jalan Raden
Wijaya.
Tiga puluh lima menit kemudian, Yeriko sudah
memarkirkan mobilnya di halaman Kodam V Brawijaya.
“Hei, Bang ...! Apa kabar? Lama nggak kelihatan?”
sapa salah seorang TNI berpangkat kopral yang sudah mengenal Yeriko.
“Baik. Satria sudah sampai?”
“Bang Satria ...” Pria itu mengedarkan
pandangannya. “Motornya sudah ada. Cari di dalam aja, Bang!”
“Thanks!” Yeriko menepuk bahu prajurit tersebut
dan melangkah masuk ke dalam gedung Kodam, menyusuri koridor hingga sampai ke
ruang kerja Satria.
“Malam-malam gini, kamu masih kerja?” tanya Yeriko
begitu masuk ke ruangan Satria.
Satria hanya tertawa mendengar pertanyaan Yeriko.
“Piket aku, Yer. Gimana?” tanyanya sambil menghampiri Yeriko yang sudah duduk
di sofa.
Yeriko mengeluarkan pil yang ia bungkus dengan
tisu, meletakkan di atas meja dan membukanya perlahan.
“Apa itu? Ekstasi?” tanya Satria.
Yeriko menggelengkan kepala. “Aku minta kamu
teliti obat ini!”
Satria meraih obat tersebut dan mengamatinya.
“kamu dapet di mana?”
“Di rumah Oom Rudi?”
Satria mengangkat kedua alisnya. “Dia siapa?”
“Ayahnya Bellina.”
“Oh. Namanya Rudi?”
Yeriko menganggukkan kepala. “Nama lengkapnya
Tarudi Linandar. Panggilannya Rudi. Bisa urus ini ‘kan?”
“Gampang,” jawab Satria santai. “Keluarga istri
kamu itu ... kenapa selalu berkonflik?”
Yeriko mengedikkan bahunya. “Kasus sebelas tahun
lalu, masih menyisakan tanda tanya. Apalagi, mereka juga memperlakukan istriku
dengan buruk. Aku harus balas semua penderitaan yang udah ditanggung Yuna
selama ini.”
Satria menatap wajah Yeriko selama beberapa detik.
“Mereka itu keluarga, Yer. Apa pantas kalau kita ikut campur keluarga mereka
terus?”
“Ada yang pantas dan tidak pantas untuk kita
masuki. Selama masih berhubungan sama Yuna, artinya berhubungan sama aku juga.”
Satria menghela napas. “Ini sudah konflik internal
keluarga Kakak Ipar. Sebaiknya, masalah apa pun bisa diselesaikan secara
kekeluargaan. Toh, nggak ada bukti kalau pamannya yang melakukan pembunuhan
sebelas tahun lalu. Akan lebih baik kalau hubungan keluarga tetap baik. Kalian
dari keluarga terhormat, jangan sampai konflik Kakak Ipar Kecil dan keluarganya
terdengar sampai ke luar.”
Yeriko mengusap wajahnya. “Apa itu alasan Yuna
nggak mau membalas apa yang dilakukan Bellina?”
Satria mengangguk-anggukkan kepala. “Bisa jadi,
Kakak Ipar kecil juga menjaga nama baik keluarga besarnya. Dia wanita yang baik
dan bermartabat.”
Yeriko menghela napas. “Kalau mereka bukan
keluarga Yuna. Akan lebih mudah mengatasinya.”
Satria tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya. “Konflik keluarga memang sulit untuk diselesaikan, Yer. Di satu
sisi, kita ingin membalas kejahatan mereka, di sisi lain ... kita ingin menjaga
nama baik keluarga. Huft, memang susah mengatasinya.”
“Selama istriku nggak tahu. Kita bisa melakukannya
dengan baik. Selama semuanya masih wajar. Aku mau semua terlihat secara alami!”
Satria tersenyum sambil menatap wajah Yeriko.
Kemudian ia tergelak begitu Yeriko menyambut senyumannya. “Aku paham isi otak
jahatmu ini, Yer. Ngerti-ngerti,” ucapnya sambil mengendalikan tawa.
Yeriko tersenyum kecil. “Kalo gitu, aku pulang
dulu!”
“Kenapa pulang? Baru jam sebelas, Yer.”
“Kasihan istriku di rumah. Aku sampe rumah jam dua
belas, nih.”
“Halah ... istri terus jadi alasan. Bilang aja
kamu yang nggak tahan!” sahut Satria.
Yeriko tertawa kecil. “Pengen juga?”
“Gampang!” sahut Satria.
Yeriko tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan
kepala. “Aku pulang dulu ya!” pamitnya.
“Hati-hati ya! Salam buat calon ponakanku!”
Yeriko menganggukkan kepala. Ia bergegas keluar dari tempat tersebut.
((Bersambung...))

0 komentar:
Post a Comment