Thursday, March 5, 2026

Perfect Hero Bab 498 : Kesibukan Mr. Ye di Malam Tahun Baru

 


“Ay, malam ini nggak bisa ke rumah Mama?” tanya Yuna lewat panggilan telepon.

 

“Aku masih sibuk banget. Kamu udah sampai rumah Mama?” tanya Yeriko, ia masih terus disibukkan dengan urusan pekerjaan hingga malam pergantian tahun tiba.

 

“Udah di rumah Mama Rully sejak tadi sore.”

 

“Sama ayah kamu  ‘kan?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “He-em. Kamu beneran nggak bisa ke sini?”

 

Yeriko menghela napas. Pertanyaan istrinya kali ini benar-benar membuatnya bimbang. Ingin sekali bisa menemani istri dan keluarganya menghabiskan malam pergantian tahun bersama. Namun, pekerjaan yang begitu banyak membuatnya harus bertahan di perusahaan.

 

Yeriko menekan VOIP yang ada di atas mejanya.

 

“Halo, Pak ...!” sapa suara pria dari seberang sana.

 

“Ke ruangan saya, sekarang!”

 

“Siap, Pak!”

 

Yeriko menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memutar-mutar pena di tangannya. Ia terlihat tenang walau pikirannya terbagi antara keluarga dan pekerjaan.

 

“Ada apa, Pak?” tanya Riyan begitu ia masuk ke dalam ruang kerja Yeriko.

 

“Sekretaris saya sudah pada pulang atau belum?”

 

“Masih ada di ruangan mereka.”

 

“Belum final juga budget-nya?” tanya Yeriko.

 

“Masih ada beberapa revisi.”

 

Yeriko menyodorkan tumpukan map yang ada di atas meja. “Bantu saya cek realisasi versus budget tahun lalu.”

 

Riyan mengerutkan dahinya. “Bukannya sudah dikerjain sama sekretaris satu?”

 

“Iya. Ini tinggal saya verifikasi. Tapi, semua haru diunggah ke sistem yang baru. Kerjain ya! Saya pantau dari rumah.”

 

Riyan melirik arloji di tangannya. “Pak Bos, ini sudah jam sepuluh malam. Gimana kalau kita lanjutkan besok pagi aja? Ini malam pergantian tahun, sa—”

 

“Saya nggak terima alasan!” tegas Yeriko.

 

“Siap, Pak Bos! Saya kerjain sekarang juga!” sahut Riyan. Ia meraih semua dokumen yang ada di atas meja kerja Yeriko dan bergegas kembali ke ruangannya.

 

Yeriko tertawa kecil. Ia menarik napas lega sambil menatap ke luar jendela ruangannya. Kerlip lampu kota, menambah keindahan di malam pergantian tahun. Akan ada banyak perayaan, bunyi terompet di jalanan dan kembang api kecil yang mulai dinyalakan anak-anak membuat suasana kota yang biasanya sudah sepi, semakin meriah.

 

Di bawah sana, ia membayangkan istrinya sedang menunggunya sambil bercengkerama dengan keluarga besarnya. Ia bergegas turun dari perusahaan, mengendarai mobilnya keluar dari gedung perusahaannya menuju ke rumah orang tuanya. Jalanan yang padat, membuatnya baru bisa mencapai rumah lima belas menit sebelum  pergantian malam.

 

“Malam semua ...!” sapa Yeriko sambil menghampiri keluarga besarnya yang sedang bercengkerama di halaman belakang rumah mereka.

 

Yuna dan Adjie langsung menoleh ke arah Yeriko, tapi Rullyta dan Kakek Nurali tak menoleh sama sekali. Mereka bahkan tidak menganggap kehadiran Yeriko.

 

Yuna menggigit bibir saat melihat mama dan kakek mertuanya tiba-tiba berubah dingin. Padahal, mereka baru saja bercengkerama dan bercanda ria. Suasana berubah menjadi canggung saat Yeriko tiba di dalam rumah itu.

 

“Ay, kamu datang!?” tanya Yuna sambil menghambur ke pelukkan Yeriko.

 

“Sorry, aku telat!” bisik Yeriko di telinga Yuna.

 

“Nggak papa. Aku seneng, kamu udah mau nyempatin waktu untuk kami,” tutur Yuna sambil mengajak Yeriko untuk duduk di salah satu kursi yang masih kosong.

 

“Masih ingat kalau punya keluarga?” tanya Rullyta tanpa menoleh ke arah Yeriko.

 

“Ck, Mama tahu sendiri kalau pergantian tahun gini sibuk banget. Aku masih harus ngecek budget vs realisasi tahun ini dan budget untuk tahun depan.”

 

“Alesan! Kamu punya direktur sebanyak itu, punya dua sekretaris dan satu asisten pribadi. Masih kurang? Mereka kerjanya ngapain aja? Udah dibayar mahal-mahal, masih aja bikin kamu repot,” celetuk Rullyta kesal.

 

“Ma, aku tetep harus ngecek pekerjaan mereka. Nggak bisa aku lepas gitu aja ke Riyan atau sekretaris aku untuk verifikasi. Mama jangan bikin suasana makin panas! Aku udah usahain ke sini, aku telat karena terjebak macet di jalan,” sahut Yeriko dengan nada suara yang lebih tinggi.

 

Yuna langsung mengelus punggung tangan Yeriko. “Jangan marah-marah!” pintanya lembut. “Ini malam pergantian tahun, nggak baik kalau marah-marah sama Mama.”

 

“Untungnya si Yuna istri yang pengertian. Kamu lihat, dia istri kamu. Lagi hamil gini kamu sibuk terus setiap hari. Bahkan, menyempatkan waktu berkumpul dengan keluarga semalam aja kamu perhitungan. Di momen-momen penting kayak gini, kamu malah sibuk di perusahaan.”

 

“Ma, sudahlah. Yeriko sudah di sini, jangan dimarahi!” pinta Yuna sambil menatap wajah mama mertuanya.

 

Rullyta menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan perlahan. “Mama lagi belain kamu, tapi kamu malah belain suami kamu itu,” celetuk Rullyta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

Yuna menggenggam erat tangan Yeriko yang duduk di sampingnya.

 

Yeriko hanya tersenyum sambil mengelus punggung tangan Yuna menggunakan tangan satunya lagi. “Nggak papa, udah biasa ngomel,” bisik Yeriko sambil tersenyum kecil.

 

Yuna tersenyum kecil sambil menyembunyikan wajahnya di ketiak Yeriko. Membuat Rullyta yang sedang mengomel semakin kesal karena anak dan menantunya itu tetap saja saling berbisik dan bermesraan.

 

Adjie tak banyak bicara. Ia merasa bahagia karena Yuna selalu tersenyum setelah Yeriko berada di sisinya. Berbeda dengan beberapa menit lalu yang masih terlihat resah karena tak ada suami di sisinya.

 

“Yer ...!” panggil Kakek Nurali sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko langsung mendongakkan kepala menatap kakeknya. “Ya.”

 

“Kamu sudah beristri. Sebentar lagi, kamu akan menjadi seorang ayah. Harus bisa mengatur pekerjaan kamu, supaya ada waktu untuk keluarga. Kamu bukan anak muda setahun lalu yang bisa menghabiskan banyak waktu di luar sana. Sudah saatnya kamu berubah karena sudah berbuah.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia kerap melawan ucapan mamanya, tapi ia tak pernah sekali pun melawan ucapan kakeknya. Ia tidak ingin memancing kemarahan kakeknya walau hanya sedikit saja. Kakeknya jarang mengajaknya bicara, tapi setiap ucapan kakeknya, selalu ia ingat dan ia laksanakan dengan baik.

 

Kakek Nurali bangkit dari kursinya. “Ini adalah malam pergantian tahun. Kakek sebagai tetua di keluarga Hadikusuma, mengucapkan selamat tahun baru. Mari kita sambut tahun yang baru penuh dengan semangat lagi. Tahun-tahun yang berlalu, kita jadikan sebagai pelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.”

 

Semua orang tersenyum sambil mengangguk setuju.

 

“Malam ini adalah malam yang paling membahagiakan untuk Kakek. Karena tahun ini, kami bisa merayakan tahun baru bersama dengan keluarga baru. Semoga, cucuku yang masih ada dalam perut Yuna, selalu sehat sampai dilahirkan. Sebagai orang tua, Kakek hanya bisa mengirimkan doa-doa untuk kalian berdua,” tutur Kakek Nurali sambil menatap Yuna dan Yeriko.

 

“Kakek juga minta maaf apabila selama setahun belakangan ini, tidak menjadi kakek yang baik untuk kalian,” tutur Nurali sambil menatap Yuna dan Yeriko. “Tidak menjadi ayah yang baik untuk kamu,” lanjutnya sambil menatap Rullyta. “Tidak menjadi ayah besan yang baik untuk kamu,” ucapnya sambil menatap Adjie.

 

Adjie tersenyum sambil menatap Kakek Nurali. Ia bangkit dari tempat duduk. “Kakek sudah menjadi besan yang begitu baik untuk kami. Mau menerima kami yang tidak punya apa-apa ini seperti keluarga sendiri,” ucapnya sambil membungkuk sopan.

 

“Ah, kamu jangan merendah seperti ini. Memang menjadi orang tua akan selalu seperti ini. Sudah tidak memiliki apa-apa, tugasnya sudah beralih ke anak-anak kita untuk memikul tanggung jawab.”

 

Adjie menganggukkan kepala. Ia mengangkat gelas anggur merah yang ada di hadapannya. “Mari bersulang untuk kesehatan dan kesuksesan keluarga kita di masa depan!”

 

Nurali tertawa kecil. Ia mengangkat gelasnya dan bersulang dengan anak besan dan anaknya juga. Mereka menikmati malam tahun baru bersama penuh suka cita, penuh doa dan harapan untuk tahun-tahun berikutnya agar mereka selalu menjadi keluarga yang harmonis, saling mendukung, saling menyayangi dan menghadapi kesulitan bersama-sama.

 

 ((Bersambung ...))

Udah masuk tahun baru, nih. Akan ada cerita baru di kehidupan Mr. Ye and Mrs. Ye. Dukung terus, biar author makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 497 : Cucu Cewek atau Cowok?

 


“Aargh ...!” Yuna merebahkan tubuhnya ke atas kasur sambil menatap foto hasil USG yang ia dapat dari hasil pemeriksaan sore tadi. Ia merasa sangat bahagia karena akhirnya ia mengetahui jenis kelamin bayi yang ada di perutnya.

 

“Anak kesayangan ayah dan bundamu, sehat terus ya!” tutur Yuna sambil menatap potret bayi yang ada di dalam perutnya.

 

Yuna bangkit dari tempat tidur. Ia menyimpan potret anaknya ke dalam laci dan turun dari kamarnya.

 

“Mau makan?” tanya Bibi War saat Yuna masuk ke dapur.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Nggak usah disiapin, Bi! Biar Yuna ambil sendiri aja!”

 

“Kenapa?”

 

“Kandunganku udah masuk tujuh bulan. Kata dokter, aku harus banyak bergerak. Jadi, Bibi jangan manjain aku terus ya!” pinta Yuna sambil mengerdipkan matanya.

 

“Wah, nggak terasa sudah tujuh bulan. Ibu pasti senang dengarnya karena Mbak Yuna dan bayi selalu sehat. Nanti Bibi ingatkan dia bikin acara tujuh bulanan. Katanya, mau bikin acara di rumah besar ya?”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Mama bilang begitu. Aku ikut aja, Bi.”

 

Bibi War tersenyum sambil memerhatikan gerak-gerik Yuna yang sudah tidak asing dengan semua perabotan di rumah itu.

 

Yuna mengambil dua botol susu murni dari dalam kulkas dan beberapa buah.

 

“Mau Bibi bantu potong buahnya?” tanya Bibi War.

 

“Nggak usah, Bi! Bibi istirahat aja! Pasti sudah capek kerja seharian.”

 

“Sekarang, ada banyak pelayan yang bantu Bibi di rumah ini. Pekerjaan Bibi jauh lebih ringan dari sebelumnya.”

 

Yuna tersenyum sambil mengupas buah pir yang ada di tangannya. “Kalau gitu, temenin aku ngobrol aja!” pintanya sambil tersenyum ke arah Bibi War.

 

Bibi War tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Tadi, USG-nya gimana?”

 

Yuna hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Bibi War.

 

“Udah kelihatan jenis kelaminnya atau belum?” tanya Bibi War penasaran.

 

Yuna melirik Bibi War yang berdiri di sampingnya. “Udah, dong!”

 

“Cowok atau cewek?” tanya Bibi War.

 

Yuna menahan tawa. “Coba tebak!”

 

Bibi War tersenyum sambil mengamati wajah Yuna. “Kayaknya, cewek nih anaknya.”

 

“Iih ... Bibi sok tahu!” dengus Yuna.

 

“Kelihatan dari penampilan Mbak Yuna yang makin cantik setiap harinya. Kalau seneng dandan, biasanya anaknya perempuan.”

 

“Iya, sih. Aku emang seneng dandan. Tapi Yeriko marah-marah kalo aku dandan. Padahal, dia juga yang beliin make-up khusus untuk ibu hamil. Masa nggak boleh dipake?”

 

“Marah-marah kenapa? Bukannya bagus kalau kelihatan cantik setiap hari? Bibi suka lihatnya.”

 

Yuna mengedikkan bahu. “Aku nggak boleh dandan cantik kalau ke luar rumah.”

 

“Takut banyak cowok yang ngelirik?” tanya Bibi War sambil menahan tawa.

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala sambil memonyongkan bibirnya.

 

Bibi War tertawa kecil. “Mas Yeri itu nggak pernah pacaran. Sekali cinta sama perempuan, cemburunya nggak ketulungan.”

 

“Emangnya sama Refi nggak pernah pacaran?” tanya Yuna kesal.

 

“Statusnya aja yang pacar. Tapi, nggak bener-bener pacaran. Ibu sama kakeknya Mas Yeri nggak suka sama Mbak Refi. Makanya, Mbak Refi nggak pernah masuk ke rumah keluarga Hadikusuma.”

 

“Masa sih, Bi?”

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

“Apa dari dulu, Yeriko memang cemburuan, posesif dan over protective banget?” tanya Yuna.

 

Bibi War tersenyum sambil menatap Yuna. “Kamu keberatan dengan sifat jeleknya dia yang ini?”

 

Yuna menggeleng sambil tersenyum. “Aku nggak keberatan, Bi. Aku juga sudah biasa berdiam diri di dalam rumah daripada keluar. Aku suka keluar, tapi nggak terlalu suka keramaian.”

 

“Apa itu alasan kamu nggak mau bikin pesta ulang tahun?” tanya Bibi War.

 

“Bibi tahu aja. Buatku, hari-hari penting adalah waktu yang paling berharga dan harus dihabiskan dengan orang yang paling berharga dalam hidup kita. Lebih sakral, lebih murni dan lebih bermakna.”

 

Bibi War tersenyum sambil menatap Yuna. “Ibu ngirimin hadiah ulang tahun untuk kalian. Sudah dilihat?” tanya Bibi War.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Udah, Bi.”

 

“Suka?”

 

“Bibi tahu isinya apa?” tanya Yuna sambil menoleh ke arah Bibi War.

 

“Tahu. Kan si Ibu nyarinya bareng Bibi.”

 

Yuna tertawa kecil sambil melangkah ke meja makan saat ia sudah selesai memotong buah yang ingin ia makan. “Hadiah dari Bibi, mana?” tanyanya sambil melahap potongan buah pir.

 

Bibi War tertawa kecil. “Mbak Yuna sudah punya semuanya. Bibi bingung mau ngasih hadiah apa.”

 

Yuna langsung menatap Bibi War sambil tersenyum jahil. “Aku mau hadiah dari Bibi malam ini. Nggak perlu pakai modal, kok.”

 

“Oh ya? Apa itu?” tanya Bibi War.

 

“Bikinin aku mie instan!” perintah Yuna.

 

Bibi War mengerutkan dahinya. “Mbak Yuna ‘kan nggak boleh  makan mie instan sama Mas Yeri.”

 

“Dia nggak tahu, Bi. Lagian, sekarang dia pulangnya selalu di atas jam dua belas. Sekali aja, please!” pinta Yuna sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.

 

Bibi War menatap wajah Yuna selama beberapa detik. “Mbak, kalau Mas Yeri tahu. Dia bisa ngomelin Bibi dari pagi sampai pagi.”

 

“Jadi, Bibi nggak mau ngasih aku hadiah ulang tahun? Makan mie instan sekali doang masa nggak boleh?”

 

Bibi War menghela napas. “Oke. Bibi buatin. Jangan sampai Mas Yeri tahu! Abis makan, gosok gigi, ganti baju!”

 

“Siap, Bos!” Yuna mengangkat tangan kanannya memberi hormat.

 

Bibi War bergegas pergi ke dapur untuk memenuhi permintaan Yuna. Ia pikir, permintaan Yuna bukanlah hal yang sulit. Walau makanan pokok Yuna selalu diatur oleh ahli gizi selama masa kehamilan. Makanan yang diinginkan Yuna, tetap saja tidak bisa ditolak begitu saja selama tidak membahayakan kondisi kandungannya.

 

Yuna tersenyum bahagia sambil menikmati buah  yang ada di hadapannya. Pandangannya kemudian beralih saat mendengar ponselnya berdering.

 

“Mama!?” Yuna langsung membelalakkan mata begitu melihat panggilan video dari mama mertuanya. Ia buru-buru merapikan rambut dan pakaiannya. Ia juga merubah posisi duduknya yang asal-asalan.

 

“Halo, Ma ...!” sapa Yuna begitu ia menjawab panggilan telepon dari mama mertuanya.

 

“Hai, Cantik ...! Lagi apa?” tanya Rullyta.

 

“Lagi nyantai aja sambil nonton tv. Mama lagi apa?”

 

“Lagi santai aja sambil ngeteh. Hadiah dari Mama, udah kamu terima?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Makasih, Ma!”

 

“Gimana? Suka?” tanya Rullyta.

 

“Suka banget!” jawab Yuna penuh semangat.

 

“Pakai ya!”

 

“Iya, Ma. Pasti dipakai, dong.”

 

“Maaf, Mama telat kasih hadiah untuk kalian.”

 

“Nggak papa, Ma. Lagian, kami udah besar. Nggak perlu hadiah macem-macem. Mama juga udah sering ngasih aku hadiah walau nggak ulang tahun.”

 

Rullyta tersenyum kecil. “Karena Mama sayang sama kamu. Oh, ya ... gimana keadaan kandungan kamu?”

 

“Baik, Ma. Tadi sore, Yeriko udah antar aku USG.”

 

“Oh ya? Udah ketahuan cucu Mama cewek atau cowok?”

 

“Mmh ... Mama sukanya cucu cewek atau cowok?”

 

“Cewek ajalah. Yang cantik, baik, penurut dan penyayang kayak kamu. Nggak kayak Yeriko yang suka bantah perintah Mama,” jawab Yuna.

 

Yuna tersenyum bahagia. “Mama dan Yeriko, sama-sama pengen punya keturunan anak perempuan? Aku pikir, mereka akan lebih suka anak laki-laki yang akan menjadi pewaris perusahaan?” batinnya.

 

“Ya udah. Mama istirahat dulu ya!” pamit Rullyta.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Oh ya, ada satu lagi. Malam tahun baru nanti, kamu dan ayah kamu ke sini ya! Kita rayain tahun baru di rumah Mama!”

 

“Siap, Ma!”

 

“Sekalian acara tujuh bulanan buat kandungan kamu. Abis tahun baru. Tunggu suami kamu itu nggak sibuk banget.

 

“Mmh ... acara keluarga aja ‘kan, Ma?” tanya Yuna.

 

“Iya. Mama ngerti kalau kamu nggak suka keramaian. Acaranya untuk keluarga saja. Nanti, Mama undang beberapa anak panti untuk pengajian.”

 

“He-em.” Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Ya udah, kamu istirahat ya! Yeriko nggak ada di rumah ya?”

 

“Kok, Mama tahu?”

 

“Biasa. Akhir tahun gini perusahaan sibuk. Apalagi, dia emang gila bisnis. Kerja terus kerjaannya. Kita lihat nanti, kalau sampai dia nggak datang waktu malam tahun baru. Mama nggak akan balikin kamu ke rumah dia.”

 

Yuna terkekeh geli. “Kenapa gitu, Ma?”

 

“Setiap malam tahun baru. Dia lebih mentingin urusan perusahaannya daripada ngumpul sama keluarga. Alasannya, ngumpul sama keluarga bisa dilakukan kapan aja. Padahal, semua orang sibuk. Cuma bisa berkumpul di momen-momen tertentu. Dia memang laki-laki yang paling menyebalkan!”

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan mama mertuanya. Mereka berbincang banyak hal sampai akhirnya Yuna menutup telepon saat Bibi War datang sambil membawa nampan berisi mie kuah panas. Ia sangat bahagia menikmati mie instan yang sudah tak pernah ia makan semenjak masa kehamilannya. Alasan kesehatan janinnya adalah yang paling utama.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulisnya ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

Tuesday, March 3, 2026

Perfect Hero Bab 496 : Menemani ke Dokter Kandungan

 


“Selamat sore, Dokter ...!” sapa Yuna begitu ia masuk ke dalam ruang pemeriksaan.

 

“Selamat sore ...! Apa kabar?” balas dokter itu dengan ramah.

 

“Baik, Dokter,” jawab Yuna sambil tersenyum manis.

 

“Sudah diperiksa tensinya ‘kan?” tanya dokter.

 

Yuna mengangguk. Sebelum ia masuk ke ruang pemeriksaan, ada asisten dokter yang membantu mengecek kondisi kesehatan Yuna terlebih dahulu.

 

“Semuanya normal, ya! Tensinya bagus.” Dokter itu memerhatikan buku KIA milik Yuna sambil mengetuk-ngetuk meja. “Baring dulu, ya!” pinta dokter tersebut.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia langsung berbaring di atas brankar, dibantu oleh suaminya yang selalu ada di sisinya.

 

Dokter mulai meneteskan cairan ke atas perut Yuna.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia sedikit khawatir dengan kondisi janinnya. Ia harap, anaknya bisa tumbuh dengan baik dan sehat.

 

“Lihat! Itu anak kalian!” tutur dokter sambil menunjukkan gambar di layar.

 

Yuna dan Yeriko langsung menatap layar tersebut sambil tersenyum bahagia.

 

Yeriko menggenggam tangan Yuna sambil menatap anaknya yang sudah bisa ia lihat meski masih berada dalam kandungan istrinya.

 

“Bayinya masih terlalu kecil untuk usia kandungan yang sudah masuk trimester ketiga. Banyak makan yang manis-manis seperti ice cream. Supaya perkembangan janinnya bisa lebih cepat,” tutur dokter tersebut.

 

“Ice cream? Boleh makan ice cream, Dokter?”

 

Dokter tersebut menganggukkan kepala. “Ice cream sangat bagus untuk mempercepat perkembangan janin. Tapi, jangan berlebihan juga. Nanti bayinya malah kebesaran.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia tersenyum bahagia sambil meremas tangan suaminya. “Aku boleh makan ice cream lagi,” ucapnya lirih.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Besok, aku traktir makan ice cream.”

 

“Emang nggak kerja?”

 

“Kerja.”

 

“Terus? Gimana caranya traktir ice cream?”

 

“Aku kasih uangnya aja, gimana?”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Mending delivery, deh.”

 

“Maaf, akhir-akhir ini aku sibuk banget. Nggak bisa nemenin kamu keluar. Setelah semuanya selesai, aku ajak kamu jalan-jalan.”

 

“Nggak papa, aku ngerti,” sahut Yuna sambil bangkit dari brankar.

 

“Sesibuk apa pun, kalau suami sudah bisa menemani istrinya periksa kandungan, itu sudah bagus. Bisa mengurangi tingkat kekhawatiran dan stress pada ibu hamil. Ada banyak perempuan yang memeriksakan kandungan tanpa pendampingan dari suami. Bahkan, ada juga yang menjalaninya tanpa perhatian dari suami. Kasih sayang dan perhatian suami pada istrinya ketika hamil sangatlah penting,” jelas dokter sambil menatap Yuna dan Yeriko.

 

“Terima kasih, Dokter! Suami saya, perhatiannya sudah berlebih. Saya tidak pernah merasa kekurangan,” ucap Yuna.

 

Dokter itu tersenyum lega. “Baguslah kalau begitu. Rencananya, mau lahir normal atau caesar?”

 

“Operasi.”

 

“Normal,” jawab Yuna dan Yeriko bersamaan.

 

Dokter itu menatap Yuna dan Yeriko bergantian karena jawaban mereka berbeda. Kemudian, ia tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Hal ini harus didiskusikan baik-baik untuk menghadapi persalinan.”

 

“Saya mau melahirkan secara normal, Dokter,” tutur Yuna.

 

Dokter itu menarik napas dalam-dalam karena tatapan Yeriko yang kurang bersahabat. “Semua perempuan ingin melahirkan secara normal. Kalau begitu, harus tetap sehat. Banyak bergerak supaya peredaran darah selalu lancar. Sering jalan kaki setiap pagi sangat baik untuk menghadapi persalinan!” Dokter itu memberi saran.

 

Yun menganggukkan kepala. “Terima kasih sarannya, Dokter! Kalau gitu, kami pulang dulu!” pamitnya sambil menarik lengan Yeriko keluar.

 

“Eh, bukunya ...!” seru dokter tersebut.

 

Yun berbalik, ia mengambil buku KIA miliknya dan bergegas keluar dari ruang pemeriksaan.

 

Yeriko terus melangkahkan kakinya menyusuri koridor tanpa mengatakan apa pun.

 

“Kenapa sih wajahnya jelek banget?” tanya Yuna begitu mereka sudah sampai di parkiran.

 

Yeriko menatap wajah Yuna sambil melipat kedua tangan di dadanya. “Kamu yakin kalau mau melahirkan normal?”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

Yeriko menyandarkan siku ke atap mobil, telapak tangannya menopang dahi. Ia terlihat berpikir keras soal persalinan yang akan dijalani istrinya.

 

Yuna menggigit bibir. Ia memeluk pinggang Yeriko sambil menengadahkan kepalanya. “Kamu kenapa?” tanyanya lirih.

 

“Ck, aku bingung. Melahirkan itu nggak mudah. Aku nggak tega lihat kamu kesakitan. Kalau dioperasi, kamu nggak akan ngerasain sakit,” jawab Yeriko sambil menatap pilu ke arah Yuna.

 

Yuna tertawa kecil. “Ay, kodrat semua wanita adalah menjadi seorang ibu. Ketika melahirkan, baru bisa benar-benar disebut wanita. Hampir semua wanita di dunia ini akan merasakan sakitnya melahirkan. Tapi, mereka semua menikmatinya. Bahkan, mereka bisa sampai punya anak empat, lima, bahkan dua belas.”

 

Yeriko langsung menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya. “Aku cuma nggak mau kalau kamu sakit,” bisiknya.

 

“Nggak perlu khawatir. Kata orang, rasa sakit saat melahirkan adalah kenikmatan hidup yang tidak bisa dirasakan semua orang. Kamu nggak perlu khawatir seperti ini. Cukup kasih aku semangat supaya aku selalu bahagia dan semakin percaya diri untuk menjalaninya.”

 

Yeriko menggigit bibirnya. Ia mengangguk kecil sambil mengeratkan pelukkannya. Hal yang paling menakutkan dalam hidupnya adalah semua rasa sakit yang diterima istrinya demi membuat Yeriko bahagia.

 

Yuna tersenyum sambil melepas pelukannya. “Kita pulang, yuk!” ajaknya.

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia mengecup bibir istrinya, kemudian membukakan pintu mobil.

 

“Ay, kamu jadi ke kantor lagi?” tanya Yuna saat mereka sudah bergerak keluar dari parkiran.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku antar kamu pulang dulu.”

 

“Kenapa nggak lembur di rumah aja?”

 

“Malam ini, masih harus diskusi sama tim budgeting sambil revisi di beberapa divisi. Apalagi, tim IT sudah mulai apply sistem baru untuk perusahaan. Proses pemindahan data nggak mudah. Aku masih harus lihat gimana kinerja timku supaya semua berjalan dengan baik.”

 

“Oh.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Kamu mau makan apa?” tanya Yeriko.

 

“Aku makan di rumah aja. Kamu langsung ke kantor aja!”

 

“Beneran?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Biar kerjaannya cepet kelar dan cepet pulang ke rumah.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengacak ujung kepala Yuna. “Aku kira, udah mulai bosan sama aku.”

 

“Gimana bisa bosan kalau kamu yang berjarak satu meter dari aku aja sudah bikin aku rindu,” sahut Yuna.

 

Yeriko menghela napas. “Abis baca novel apa?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak baca novel. Aku selalu baca hati kamu,” goda Yuna sambil merayapkan jarinya ke bahu Yeriko.

 

“Ck, aku banyak kerjaan. Kamu jangan godain suami kamu terus, dong!” pinta Yeriko.

 

Yuna terkekeh. “Emangnya godaanku mempengaruhi kerjaan kamu?” tanya Yuna.

 

“Sangat!” jawab Yeriko. Ia terus melajukan mobilnya hingga sampai di pekarangan rumahnya.

 

“Aku masuk dulu, ya!” pamit Yuna sambil melepas safety belt yang melingkar di pinggangnya. “Kamu jangan lupa makan, jangan lupa pulang cepat!”

 

Yeriko mengangguk. “Jangan tidur larut malam, ya!”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Yeriko. “Jangan pulang kerja larut malam, ya!”

 

Yuna tertawa kecil. Ia bergegas membuka pintu mobil.

 

“Tunggu!” panggil Yeriko sambil menahan lengan Yuna.

 

“Ada apa?” tanya Yuna sambil menoleh ke arah Yeriko.

 

“Ada yang ketinggalan.”

 

Yuna menaikkan kedua alisnya.

 

Yeriko langsung menarik tengkuk Yuna dan menghisap bibir istrinya penuh gairah.

 

Yuna tersenyum dalam hatinya. Ia terus mengikuti ritme gerakan Yeriko hingga membuat jiwanya terus melambung tinggi.

 

“Ay ...!” Yuna menghentikan gerakan tangan Yeriko yang sudah masuk ke dalam bajunya. “Katanya mau kerja?”

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia mengecup kening Yuna dan memperbaiki posisi duduknya.

 

“Hati-hati ya!” ucap Yuna. Ia mengecup pipi Yeriki dan bergegas keluar dari mobil.

 

Yeriko melambaikan tangannya sambil menjalankan Lamborghini biru miliknya keluar dari halaman rumah. Kemudian melaju kencang membelah jalanan kota. Ia kembali sibuk dengan rutinitas perusahaan yang padat saat akhir tahun, seperti biasanya.

 

 

((Bersambung ... ))

Thanks udah dukung terus sampai sini. Jangan lupa kasih Star Vote ya!

Sapa author terus di kolom komentar.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas