“Selamat sore, Dokter ...!” sapa Yuna begitu ia masuk ke dalam
ruang pemeriksaan.
“Selamat sore ...! Apa kabar?” balas dokter itu dengan ramah.
“Baik, Dokter,” jawab Yuna sambil tersenyum manis.
“Sudah diperiksa tensinya ‘kan?” tanya dokter.
Yuna mengangguk. Sebelum ia masuk ke ruang pemeriksaan, ada
asisten dokter yang membantu mengecek kondisi kesehatan Yuna terlebih dahulu.
“Semuanya normal, ya! Tensinya bagus.” Dokter itu memerhatikan
buku KIA milik Yuna sambil mengetuk-ngetuk meja. “Baring dulu, ya!” pinta
dokter tersebut.
Yuna menganggukkan kepala. Ia langsung berbaring di atas brankar,
dibantu oleh suaminya yang selalu ada di sisinya.
Dokter mulai meneteskan cairan ke atas perut Yuna.
Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia sedikit khawatir dengan kondisi
janinnya. Ia harap, anaknya bisa tumbuh dengan baik dan sehat.
“Lihat! Itu anak kalian!” tutur dokter sambil menunjukkan gambar
di layar.
Yuna dan Yeriko langsung menatap layar tersebut sambil tersenyum
bahagia.
Yeriko menggenggam tangan Yuna sambil menatap anaknya yang sudah
bisa ia lihat meski masih berada dalam kandungan istrinya.
“Bayinya masih terlalu kecil untuk usia kandungan yang sudah masuk
trimester ketiga. Banyak makan yang manis-manis seperti ice cream. Supaya
perkembangan janinnya bisa lebih cepat,” tutur dokter tersebut.
“Ice cream? Boleh makan ice cream, Dokter?”
Dokter tersebut menganggukkan kepala. “Ice cream sangat bagus
untuk mempercepat perkembangan janin. Tapi, jangan berlebihan juga. Nanti
bayinya malah kebesaran.”
Yuna menganggukkan kepala. Ia tersenyum bahagia sambil meremas
tangan suaminya. “Aku boleh makan ice cream lagi,” ucapnya lirih.
Yeriko menganggukkan kepala. “Besok, aku traktir makan ice cream.”
“Emang nggak kerja?”
“Kerja.”
“Terus? Gimana caranya traktir ice cream?”
“Aku kasih uangnya aja, gimana?”
Yuna memonyongkan bibirnya. “Mending delivery, deh.”
“Maaf, akhir-akhir ini aku sibuk banget. Nggak bisa nemenin kamu
keluar. Setelah semuanya selesai, aku ajak kamu jalan-jalan.”
“Nggak papa, aku ngerti,” sahut Yuna sambil bangkit dari brankar.
“Sesibuk apa pun, kalau suami sudah bisa menemani istrinya periksa
kandungan, itu sudah bagus. Bisa mengurangi tingkat kekhawatiran dan stress
pada ibu hamil. Ada banyak perempuan yang memeriksakan kandungan tanpa
pendampingan dari suami. Bahkan, ada juga yang menjalaninya tanpa perhatian
dari suami. Kasih sayang dan perhatian suami pada istrinya ketika hamil
sangatlah penting,” jelas dokter sambil menatap Yuna dan Yeriko.
“Terima kasih, Dokter! Suami saya, perhatiannya sudah berlebih.
Saya tidak pernah merasa kekurangan,” ucap Yuna.
Dokter itu tersenyum lega. “Baguslah kalau begitu. Rencananya, mau
lahir normal atau caesar?”
“Operasi.”
“Normal,” jawab Yuna dan Yeriko bersamaan.
Dokter itu menatap Yuna dan Yeriko bergantian karena jawaban
mereka berbeda. Kemudian, ia tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Hal ini harus didiskusikan baik-baik untuk menghadapi persalinan.”
“Saya mau melahirkan secara normal, Dokter,” tutur Yuna.
Dokter itu menarik napas dalam-dalam karena tatapan Yeriko yang
kurang bersahabat. “Semua perempuan ingin melahirkan secara normal. Kalau
begitu, harus tetap sehat. Banyak bergerak supaya peredaran darah selalu
lancar. Sering jalan kaki setiap pagi sangat baik untuk menghadapi persalinan!”
Dokter itu memberi saran.
Yun menganggukkan kepala. “Terima kasih sarannya, Dokter! Kalau
gitu, kami pulang dulu!” pamitnya sambil menarik lengan Yeriko keluar.
“Eh, bukunya ...!” seru dokter tersebut.
Yun berbalik, ia mengambil buku KIA miliknya dan bergegas keluar
dari ruang pemeriksaan.
Yeriko terus melangkahkan kakinya menyusuri koridor tanpa
mengatakan apa pun.
“Kenapa sih wajahnya jelek banget?” tanya Yuna begitu mereka sudah
sampai di parkiran.
Yeriko menatap wajah Yuna sambil melipat kedua tangan di dadanya.
“Kamu yakin kalau mau melahirkan normal?”
Yuna mengangguk sambil tersenyum.
Yeriko menyandarkan siku ke atap mobil, telapak tangannya menopang
dahi. Ia terlihat berpikir keras soal persalinan yang akan dijalani istrinya.
Yuna menggigit bibir. Ia memeluk pinggang Yeriko sambil
menengadahkan kepalanya. “Kamu kenapa?” tanyanya lirih.
“Ck, aku bingung. Melahirkan itu nggak mudah. Aku nggak tega lihat
kamu kesakitan. Kalau dioperasi, kamu nggak akan ngerasain sakit,” jawab Yeriko
sambil menatap pilu ke arah Yuna.
Yuna tertawa kecil. “Ay, kodrat semua wanita adalah menjadi
seorang ibu. Ketika melahirkan, baru bisa benar-benar disebut wanita. Hampir
semua wanita di dunia ini akan merasakan sakitnya melahirkan. Tapi, mereka
semua menikmatinya. Bahkan, mereka bisa sampai punya anak empat, lima, bahkan
dua belas.”
Yeriko langsung menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya. “Aku cuma
nggak mau kalau kamu sakit,” bisiknya.
“Nggak perlu khawatir. Kata orang, rasa sakit saat melahirkan
adalah kenikmatan hidup yang tidak bisa dirasakan semua orang. Kamu nggak perlu
khawatir seperti ini. Cukup kasih aku semangat supaya aku selalu bahagia dan
semakin percaya diri untuk menjalaninya.”
Yeriko menggigit bibirnya. Ia mengangguk kecil sambil mengeratkan
pelukkannya. Hal yang paling menakutkan dalam hidupnya adalah semua rasa sakit
yang diterima istrinya demi membuat Yeriko bahagia.
Yuna tersenyum sambil melepas pelukannya. “Kita pulang, yuk!”
ajaknya.
Yeriko menganggukkan kepala. Ia mengecup bibir istrinya, kemudian
membukakan pintu mobil.
“Ay, kamu jadi ke kantor lagi?” tanya Yuna saat mereka sudah
bergerak keluar dari parkiran.
Yeriko menganggukkan kepala. “Aku antar kamu pulang dulu.”
“Kenapa nggak lembur di rumah aja?”
“Malam ini, masih harus diskusi sama tim budgeting sambil revisi
di beberapa divisi. Apalagi, tim IT sudah mulai apply sistem baru untuk
perusahaan. Proses pemindahan data nggak mudah. Aku masih harus lihat gimana
kinerja timku supaya semua berjalan dengan baik.”
“Oh.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala.
“Kamu mau makan apa?” tanya Yeriko.
“Aku makan di rumah aja. Kamu langsung ke kantor aja!”
“Beneran?”
Yuna menganggukkan kepala. “Biar kerjaannya cepet kelar dan cepet
pulang ke rumah.”
Yeriko tersenyum sambil mengacak ujung kepala Yuna. “Aku kira,
udah mulai bosan sama aku.”
“Gimana bisa bosan kalau kamu yang berjarak satu meter dari aku
aja sudah bikin aku rindu,” sahut Yuna.
Yeriko menghela napas. “Abis baca novel apa?”
Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak baca novel. Aku selalu baca
hati kamu,” goda Yuna sambil merayapkan jarinya ke bahu Yeriko.
“Ck, aku banyak kerjaan. Kamu jangan godain suami kamu terus,
dong!” pinta Yeriko.
Yuna terkekeh. “Emangnya godaanku mempengaruhi kerjaan kamu?”
tanya Yuna.
“Sangat!” jawab Yeriko. Ia terus melajukan mobilnya hingga sampai
di pekarangan rumahnya.
“Aku masuk dulu, ya!” pamit Yuna sambil melepas safety belt yang
melingkar di pinggangnya. “Kamu jangan lupa makan, jangan lupa pulang cepat!”
Yeriko mengangguk. “Jangan tidur larut malam, ya!”
Yuna menganggukkan kepala. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga
Yeriko. “Jangan pulang kerja larut malam, ya!”
Yuna tertawa kecil. Ia bergegas membuka pintu mobil.
“Tunggu!” panggil Yeriko sambil menahan lengan Yuna.
“Ada apa?” tanya Yuna sambil menoleh ke arah Yeriko.
“Ada yang ketinggalan.”
Yuna menaikkan kedua alisnya.
Yeriko langsung menarik tengkuk Yuna dan menghisap bibir istrinya
penuh gairah.
Yuna tersenyum dalam hatinya. Ia terus mengikuti ritme gerakan
Yeriko hingga membuat jiwanya terus melambung tinggi.
“Ay ...!” Yuna menghentikan gerakan tangan Yeriko yang sudah masuk
ke dalam bajunya. “Katanya mau kerja?”
Yeriko tersenyum kecil. Ia mengecup kening Yuna dan memperbaiki
posisi duduknya.
“Hati-hati ya!” ucap Yuna. Ia mengecup pipi Yeriki dan bergegas
keluar dari mobil.
Yeriko melambaikan tangannya sambil menjalankan Lamborghini biru
miliknya keluar dari halaman rumah. Kemudian melaju kencang membelah jalanan
kota. Ia kembali sibuk dengan rutinitas perusahaan yang padat saat akhir tahun,
seperti biasanya.
((Bersambung ... ))
Thanks udah dukung terus sampai sini. Jangan
lupa kasih Star Vote ya!
Sapa author terus di kolom komentar.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment