Thursday, March 5, 2026

Perfect Hero Bab 497 : Cucu Cewek atau Cowok?

 


“Aargh ...!” Yuna merebahkan tubuhnya ke atas kasur sambil menatap foto hasil USG yang ia dapat dari hasil pemeriksaan sore tadi. Ia merasa sangat bahagia karena akhirnya ia mengetahui jenis kelamin bayi yang ada di perutnya.

 

“Anak kesayangan ayah dan bundamu, sehat terus ya!” tutur Yuna sambil menatap potret bayi yang ada di dalam perutnya.

 

Yuna bangkit dari tempat tidur. Ia menyimpan potret anaknya ke dalam laci dan turun dari kamarnya.

 

“Mau makan?” tanya Bibi War saat Yuna masuk ke dapur.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Nggak usah disiapin, Bi! Biar Yuna ambil sendiri aja!”

 

“Kenapa?”

 

“Kandunganku udah masuk tujuh bulan. Kata dokter, aku harus banyak bergerak. Jadi, Bibi jangan manjain aku terus ya!” pinta Yuna sambil mengerdipkan matanya.

 

“Wah, nggak terasa sudah tujuh bulan. Ibu pasti senang dengarnya karena Mbak Yuna dan bayi selalu sehat. Nanti Bibi ingatkan dia bikin acara tujuh bulanan. Katanya, mau bikin acara di rumah besar ya?”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Mama bilang begitu. Aku ikut aja, Bi.”

 

Bibi War tersenyum sambil memerhatikan gerak-gerik Yuna yang sudah tidak asing dengan semua perabotan di rumah itu.

 

Yuna mengambil dua botol susu murni dari dalam kulkas dan beberapa buah.

 

“Mau Bibi bantu potong buahnya?” tanya Bibi War.

 

“Nggak usah, Bi! Bibi istirahat aja! Pasti sudah capek kerja seharian.”

 

“Sekarang, ada banyak pelayan yang bantu Bibi di rumah ini. Pekerjaan Bibi jauh lebih ringan dari sebelumnya.”

 

Yuna tersenyum sambil mengupas buah pir yang ada di tangannya. “Kalau gitu, temenin aku ngobrol aja!” pintanya sambil tersenyum ke arah Bibi War.

 

Bibi War tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Tadi, USG-nya gimana?”

 

Yuna hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Bibi War.

 

“Udah kelihatan jenis kelaminnya atau belum?” tanya Bibi War penasaran.

 

Yuna melirik Bibi War yang berdiri di sampingnya. “Udah, dong!”

 

“Cowok atau cewek?” tanya Bibi War.

 

Yuna menahan tawa. “Coba tebak!”

 

Bibi War tersenyum sambil mengamati wajah Yuna. “Kayaknya, cewek nih anaknya.”

 

“Iih ... Bibi sok tahu!” dengus Yuna.

 

“Kelihatan dari penampilan Mbak Yuna yang makin cantik setiap harinya. Kalau seneng dandan, biasanya anaknya perempuan.”

 

“Iya, sih. Aku emang seneng dandan. Tapi Yeriko marah-marah kalo aku dandan. Padahal, dia juga yang beliin make-up khusus untuk ibu hamil. Masa nggak boleh dipake?”

 

“Marah-marah kenapa? Bukannya bagus kalau kelihatan cantik setiap hari? Bibi suka lihatnya.”

 

Yuna mengedikkan bahu. “Aku nggak boleh dandan cantik kalau ke luar rumah.”

 

“Takut banyak cowok yang ngelirik?” tanya Bibi War sambil menahan tawa.

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala sambil memonyongkan bibirnya.

 

Bibi War tertawa kecil. “Mas Yeri itu nggak pernah pacaran. Sekali cinta sama perempuan, cemburunya nggak ketulungan.”

 

“Emangnya sama Refi nggak pernah pacaran?” tanya Yuna kesal.

 

“Statusnya aja yang pacar. Tapi, nggak bener-bener pacaran. Ibu sama kakeknya Mas Yeri nggak suka sama Mbak Refi. Makanya, Mbak Refi nggak pernah masuk ke rumah keluarga Hadikusuma.”

 

“Masa sih, Bi?”

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

“Apa dari dulu, Yeriko memang cemburuan, posesif dan over protective banget?” tanya Yuna.

 

Bibi War tersenyum sambil menatap Yuna. “Kamu keberatan dengan sifat jeleknya dia yang ini?”

 

Yuna menggeleng sambil tersenyum. “Aku nggak keberatan, Bi. Aku juga sudah biasa berdiam diri di dalam rumah daripada keluar. Aku suka keluar, tapi nggak terlalu suka keramaian.”

 

“Apa itu alasan kamu nggak mau bikin pesta ulang tahun?” tanya Bibi War.

 

“Bibi tahu aja. Buatku, hari-hari penting adalah waktu yang paling berharga dan harus dihabiskan dengan orang yang paling berharga dalam hidup kita. Lebih sakral, lebih murni dan lebih bermakna.”

 

Bibi War tersenyum sambil menatap Yuna. “Ibu ngirimin hadiah ulang tahun untuk kalian. Sudah dilihat?” tanya Bibi War.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Udah, Bi.”

 

“Suka?”

 

“Bibi tahu isinya apa?” tanya Yuna sambil menoleh ke arah Bibi War.

 

“Tahu. Kan si Ibu nyarinya bareng Bibi.”

 

Yuna tertawa kecil sambil melangkah ke meja makan saat ia sudah selesai memotong buah yang ingin ia makan. “Hadiah dari Bibi, mana?” tanyanya sambil melahap potongan buah pir.

 

Bibi War tertawa kecil. “Mbak Yuna sudah punya semuanya. Bibi bingung mau ngasih hadiah apa.”

 

Yuna langsung menatap Bibi War sambil tersenyum jahil. “Aku mau hadiah dari Bibi malam ini. Nggak perlu pakai modal, kok.”

 

“Oh ya? Apa itu?” tanya Bibi War.

 

“Bikinin aku mie instan!” perintah Yuna.

 

Bibi War mengerutkan dahinya. “Mbak Yuna ‘kan nggak boleh  makan mie instan sama Mas Yeri.”

 

“Dia nggak tahu, Bi. Lagian, sekarang dia pulangnya selalu di atas jam dua belas. Sekali aja, please!” pinta Yuna sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.

 

Bibi War menatap wajah Yuna selama beberapa detik. “Mbak, kalau Mas Yeri tahu. Dia bisa ngomelin Bibi dari pagi sampai pagi.”

 

“Jadi, Bibi nggak mau ngasih aku hadiah ulang tahun? Makan mie instan sekali doang masa nggak boleh?”

 

Bibi War menghela napas. “Oke. Bibi buatin. Jangan sampai Mas Yeri tahu! Abis makan, gosok gigi, ganti baju!”

 

“Siap, Bos!” Yuna mengangkat tangan kanannya memberi hormat.

 

Bibi War bergegas pergi ke dapur untuk memenuhi permintaan Yuna. Ia pikir, permintaan Yuna bukanlah hal yang sulit. Walau makanan pokok Yuna selalu diatur oleh ahli gizi selama masa kehamilan. Makanan yang diinginkan Yuna, tetap saja tidak bisa ditolak begitu saja selama tidak membahayakan kondisi kandungannya.

 

Yuna tersenyum bahagia sambil menikmati buah  yang ada di hadapannya. Pandangannya kemudian beralih saat mendengar ponselnya berdering.

 

“Mama!?” Yuna langsung membelalakkan mata begitu melihat panggilan video dari mama mertuanya. Ia buru-buru merapikan rambut dan pakaiannya. Ia juga merubah posisi duduknya yang asal-asalan.

 

“Halo, Ma ...!” sapa Yuna begitu ia menjawab panggilan telepon dari mama mertuanya.

 

“Hai, Cantik ...! Lagi apa?” tanya Rullyta.

 

“Lagi nyantai aja sambil nonton tv. Mama lagi apa?”

 

“Lagi santai aja sambil ngeteh. Hadiah dari Mama, udah kamu terima?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Makasih, Ma!”

 

“Gimana? Suka?” tanya Rullyta.

 

“Suka banget!” jawab Yuna penuh semangat.

 

“Pakai ya!”

 

“Iya, Ma. Pasti dipakai, dong.”

 

“Maaf, Mama telat kasih hadiah untuk kalian.”

 

“Nggak papa, Ma. Lagian, kami udah besar. Nggak perlu hadiah macem-macem. Mama juga udah sering ngasih aku hadiah walau nggak ulang tahun.”

 

Rullyta tersenyum kecil. “Karena Mama sayang sama kamu. Oh, ya ... gimana keadaan kandungan kamu?”

 

“Baik, Ma. Tadi sore, Yeriko udah antar aku USG.”

 

“Oh ya? Udah ketahuan cucu Mama cewek atau cowok?”

 

“Mmh ... Mama sukanya cucu cewek atau cowok?”

 

“Cewek ajalah. Yang cantik, baik, penurut dan penyayang kayak kamu. Nggak kayak Yeriko yang suka bantah perintah Mama,” jawab Yuna.

 

Yuna tersenyum bahagia. “Mama dan Yeriko, sama-sama pengen punya keturunan anak perempuan? Aku pikir, mereka akan lebih suka anak laki-laki yang akan menjadi pewaris perusahaan?” batinnya.

 

“Ya udah. Mama istirahat dulu ya!” pamit Rullyta.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Oh ya, ada satu lagi. Malam tahun baru nanti, kamu dan ayah kamu ke sini ya! Kita rayain tahun baru di rumah Mama!”

 

“Siap, Ma!”

 

“Sekalian acara tujuh bulanan buat kandungan kamu. Abis tahun baru. Tunggu suami kamu itu nggak sibuk banget.

 

“Mmh ... acara keluarga aja ‘kan, Ma?” tanya Yuna.

 

“Iya. Mama ngerti kalau kamu nggak suka keramaian. Acaranya untuk keluarga saja. Nanti, Mama undang beberapa anak panti untuk pengajian.”

 

“He-em.” Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Ya udah, kamu istirahat ya! Yeriko nggak ada di rumah ya?”

 

“Kok, Mama tahu?”

 

“Biasa. Akhir tahun gini perusahaan sibuk. Apalagi, dia emang gila bisnis. Kerja terus kerjaannya. Kita lihat nanti, kalau sampai dia nggak datang waktu malam tahun baru. Mama nggak akan balikin kamu ke rumah dia.”

 

Yuna terkekeh geli. “Kenapa gitu, Ma?”

 

“Setiap malam tahun baru. Dia lebih mentingin urusan perusahaannya daripada ngumpul sama keluarga. Alasannya, ngumpul sama keluarga bisa dilakukan kapan aja. Padahal, semua orang sibuk. Cuma bisa berkumpul di momen-momen tertentu. Dia memang laki-laki yang paling menyebalkan!”

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan mama mertuanya. Mereka berbincang banyak hal sampai akhirnya Yuna menutup telepon saat Bibi War datang sambil membawa nampan berisi mie kuah panas. Ia sangat bahagia menikmati mie instan yang sudah tak pernah ia makan semenjak masa kehamilannya. Alasan kesehatan janinnya adalah yang paling utama.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulisnya ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas