“Aargh ...!” Yuna merebahkan tubuhnya ke atas kasur sambil menatap
foto hasil USG yang ia dapat dari hasil pemeriksaan sore tadi. Ia merasa sangat
bahagia karena akhirnya ia mengetahui jenis kelamin bayi yang ada di perutnya.
“Anak kesayangan ayah dan bundamu, sehat terus ya!” tutur Yuna
sambil menatap potret bayi yang ada di dalam perutnya.
Yuna bangkit dari tempat tidur. Ia menyimpan potret anaknya ke
dalam laci dan turun dari kamarnya.
“Mau makan?” tanya Bibi War saat Yuna masuk ke dapur.
Yuna menganggukkan kepala. “Nggak usah disiapin, Bi! Biar Yuna
ambil sendiri aja!”
“Kenapa?”
“Kandunganku udah masuk tujuh bulan. Kata dokter, aku harus banyak
bergerak. Jadi, Bibi jangan manjain aku terus ya!” pinta Yuna sambil
mengerdipkan matanya.
“Wah, nggak terasa sudah tujuh bulan. Ibu pasti senang dengarnya
karena Mbak Yuna dan bayi selalu sehat. Nanti Bibi ingatkan dia bikin acara
tujuh bulanan. Katanya, mau bikin acara di rumah besar ya?”
Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Mama bilang begitu. Aku ikut
aja, Bi.”
Bibi War tersenyum sambil memerhatikan gerak-gerik Yuna yang sudah
tidak asing dengan semua perabotan di rumah itu.
Yuna mengambil dua botol susu murni dari dalam kulkas dan beberapa
buah.
“Mau Bibi bantu potong buahnya?” tanya Bibi War.
“Nggak usah, Bi! Bibi istirahat aja! Pasti sudah capek kerja
seharian.”
“Sekarang, ada banyak pelayan yang bantu Bibi di rumah ini.
Pekerjaan Bibi jauh lebih ringan dari sebelumnya.”
Yuna tersenyum sambil mengupas buah pir yang ada di tangannya.
“Kalau gitu, temenin aku ngobrol aja!” pintanya sambil tersenyum ke arah Bibi
War.
Bibi War tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Tadi, USG-nya
gimana?”
Yuna hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Bibi War.
“Udah kelihatan jenis kelaminnya atau belum?” tanya Bibi War
penasaran.
Yuna melirik Bibi War yang berdiri di sampingnya. “Udah, dong!”
“Cowok atau cewek?” tanya Bibi War.
Yuna menahan tawa. “Coba tebak!”
Bibi War tersenyum sambil mengamati wajah Yuna. “Kayaknya, cewek
nih anaknya.”
“Iih ... Bibi sok tahu!” dengus Yuna.
“Kelihatan dari penampilan Mbak Yuna yang makin cantik setiap
harinya. Kalau seneng dandan, biasanya anaknya perempuan.”
“Iya, sih. Aku emang seneng dandan. Tapi Yeriko marah-marah kalo
aku dandan. Padahal, dia juga yang beliin make-up khusus untuk ibu hamil. Masa
nggak boleh dipake?”
“Marah-marah kenapa? Bukannya bagus kalau kelihatan cantik setiap
hari? Bibi suka lihatnya.”
Yuna mengedikkan bahu. “Aku nggak boleh dandan cantik kalau ke
luar rumah.”
“Takut banyak cowok yang ngelirik?” tanya Bibi War sambil menahan
tawa.
Yuna mengangguk-anggukkan kepala sambil memonyongkan bibirnya.
Bibi War tertawa kecil. “Mas Yeri itu nggak pernah pacaran. Sekali
cinta sama perempuan, cemburunya nggak ketulungan.”
“Emangnya sama Refi nggak pernah pacaran?” tanya Yuna kesal.
“Statusnya aja yang pacar. Tapi, nggak bener-bener pacaran. Ibu
sama kakeknya Mas Yeri nggak suka sama Mbak Refi. Makanya, Mbak Refi nggak
pernah masuk ke rumah keluarga Hadikusuma.”
“Masa sih, Bi?”
Bibi War menganggukkan kepala.
“Apa dari dulu, Yeriko memang cemburuan, posesif dan over
protective banget?” tanya Yuna.
Bibi War tersenyum sambil menatap Yuna. “Kamu keberatan dengan
sifat jeleknya dia yang ini?”
Yuna menggeleng sambil tersenyum. “Aku nggak keberatan, Bi. Aku
juga sudah biasa berdiam diri di dalam rumah daripada keluar. Aku suka keluar,
tapi nggak terlalu suka keramaian.”
“Apa itu alasan kamu nggak mau bikin pesta ulang tahun?” tanya
Bibi War.
“Bibi tahu aja. Buatku, hari-hari penting adalah waktu yang paling
berharga dan harus dihabiskan dengan orang yang paling berharga dalam hidup
kita. Lebih sakral, lebih murni dan lebih bermakna.”
Bibi War tersenyum sambil menatap Yuna. “Ibu ngirimin hadiah ulang
tahun untuk kalian. Sudah dilihat?” tanya Bibi War.
Yuna menganggukkan kepala. “Udah, Bi.”
“Suka?”
“Bibi tahu isinya apa?” tanya Yuna sambil menoleh ke arah Bibi
War.
“Tahu. Kan si Ibu nyarinya bareng Bibi.”
Yuna tertawa kecil sambil melangkah ke meja makan saat ia sudah
selesai memotong buah yang ingin ia makan. “Hadiah dari Bibi, mana?” tanyanya
sambil melahap potongan buah pir.
Bibi War tertawa kecil. “Mbak Yuna sudah punya semuanya. Bibi
bingung mau ngasih hadiah apa.”
Yuna langsung menatap Bibi War sambil tersenyum jahil. “Aku mau
hadiah dari Bibi malam ini. Nggak perlu pakai modal, kok.”
“Oh ya? Apa itu?” tanya Bibi War.
“Bikinin aku mie instan!” perintah Yuna.
Bibi War mengerutkan dahinya. “Mbak Yuna ‘kan nggak boleh
makan mie instan sama Mas Yeri.”
“Dia nggak tahu, Bi. Lagian, sekarang dia pulangnya selalu di atas
jam dua belas. Sekali aja, please!” pinta Yuna sambil menangkupkan kedua
telapak tangannya.
Bibi War menatap wajah Yuna selama beberapa detik. “Mbak, kalau
Mas Yeri tahu. Dia bisa ngomelin Bibi dari pagi sampai pagi.”
“Jadi, Bibi nggak mau ngasih aku hadiah ulang tahun? Makan mie
instan sekali doang masa nggak boleh?”
Bibi War menghela napas. “Oke. Bibi buatin. Jangan sampai Mas Yeri
tahu! Abis makan, gosok gigi, ganti baju!”
“Siap, Bos!” Yuna mengangkat tangan kanannya memberi hormat.
Bibi War bergegas pergi ke dapur untuk memenuhi permintaan Yuna.
Ia pikir, permintaan Yuna bukanlah hal yang sulit. Walau makanan pokok Yuna
selalu diatur oleh ahli gizi selama masa kehamilan. Makanan yang diinginkan
Yuna, tetap saja tidak bisa ditolak begitu saja selama tidak membahayakan
kondisi kandungannya.
Yuna tersenyum bahagia sambil menikmati buah yang ada di
hadapannya. Pandangannya kemudian beralih saat mendengar ponselnya berdering.
“Mama!?” Yuna langsung membelalakkan mata begitu melihat panggilan
video dari mama mertuanya. Ia buru-buru merapikan rambut dan pakaiannya. Ia
juga merubah posisi duduknya yang asal-asalan.
“Halo, Ma ...!” sapa Yuna begitu ia menjawab panggilan telepon
dari mama mertuanya.
“Hai, Cantik ...! Lagi apa?” tanya Rullyta.
“Lagi nyantai aja sambil nonton tv. Mama lagi apa?”
“Lagi santai aja sambil ngeteh. Hadiah dari Mama, udah kamu
terima?”
Yuna menganggukkan kepala. “Makasih, Ma!”
“Gimana? Suka?” tanya Rullyta.
“Suka banget!” jawab Yuna penuh semangat.
“Pakai ya!”
“Iya, Ma. Pasti dipakai, dong.”
“Maaf, Mama telat kasih hadiah untuk kalian.”
“Nggak papa, Ma. Lagian, kami udah besar. Nggak perlu hadiah
macem-macem. Mama juga udah sering ngasih aku hadiah walau nggak ulang tahun.”
Rullyta tersenyum kecil. “Karena Mama sayang sama kamu. Oh, ya ...
gimana keadaan kandungan kamu?”
“Baik, Ma. Tadi sore, Yeriko udah antar aku USG.”
“Oh ya? Udah ketahuan cucu Mama cewek atau cowok?”
“Mmh ... Mama sukanya cucu cewek atau cowok?”
“Cewek ajalah. Yang cantik, baik, penurut dan penyayang kayak
kamu. Nggak kayak Yeriko yang suka bantah perintah Mama,” jawab Yuna.
Yuna tersenyum bahagia. “Mama dan Yeriko, sama-sama pengen punya
keturunan anak perempuan? Aku pikir, mereka akan lebih suka anak laki-laki yang
akan menjadi pewaris perusahaan?” batinnya.
“Ya udah. Mama istirahat dulu ya!” pamit Rullyta.
Yuna menganggukkan kepala.
“Oh ya, ada satu lagi. Malam tahun baru nanti, kamu dan ayah kamu
ke sini ya! Kita rayain tahun baru di rumah Mama!”
“Siap, Ma!”
“Sekalian acara tujuh bulanan buat kandungan kamu. Abis tahun
baru. Tunggu suami kamu itu nggak sibuk banget.”
“Mmh ... acara keluarga aja ‘kan, Ma?” tanya Yuna.
“Iya. Mama ngerti kalau kamu nggak suka keramaian. Acaranya untuk
keluarga saja. Nanti, Mama undang beberapa anak panti untuk pengajian.”
“He-em.” Yuna mengangguk sambil tersenyum.
“Ya udah, kamu istirahat ya! Yeriko nggak ada di rumah ya?”
“Kok, Mama tahu?”
“Biasa. Akhir tahun gini perusahaan sibuk. Apalagi, dia emang gila
bisnis. Kerja terus kerjaannya. Kita lihat nanti, kalau sampai dia nggak datang
waktu malam tahun baru. Mama nggak akan balikin kamu ke rumah dia.”
Yuna terkekeh geli. “Kenapa gitu, Ma?”
“Setiap malam tahun baru. Dia lebih mentingin urusan perusahaannya
daripada ngumpul sama keluarga. Alasannya, ngumpul sama keluarga bisa dilakukan
kapan aja. Padahal, semua orang sibuk. Cuma bisa berkumpul di momen-momen
tertentu. Dia memang laki-laki yang paling menyebalkan!”
Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan mama mertuanya. Mereka
berbincang banyak hal sampai akhirnya Yuna menutup telepon saat Bibi War datang
sambil membawa nampan berisi mie kuah panas. Ia sangat bahagia menikmati mie
instan yang sudah tak pernah ia makan semenjak masa kehamilannya. Alasan
kesehatan janinnya adalah yang paling utama.
((Bersambung
...))
Dukung terus
cerita ini biar aku makin semangat nulisnya ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment