Thursday, March 5, 2026

Perfect Hero Bab 498 : Kesibukan Mr. Ye di Malam Tahun Baru

 


“Ay, malam ini nggak bisa ke rumah Mama?” tanya Yuna lewat panggilan telepon.

 

“Aku masih sibuk banget. Kamu udah sampai rumah Mama?” tanya Yeriko, ia masih terus disibukkan dengan urusan pekerjaan hingga malam pergantian tahun tiba.

 

“Udah di rumah Mama Rully sejak tadi sore.”

 

“Sama ayah kamu  ‘kan?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “He-em. Kamu beneran nggak bisa ke sini?”

 

Yeriko menghela napas. Pertanyaan istrinya kali ini benar-benar membuatnya bimbang. Ingin sekali bisa menemani istri dan keluarganya menghabiskan malam pergantian tahun bersama. Namun, pekerjaan yang begitu banyak membuatnya harus bertahan di perusahaan.

 

Yeriko menekan VOIP yang ada di atas mejanya.

 

“Halo, Pak ...!” sapa suara pria dari seberang sana.

 

“Ke ruangan saya, sekarang!”

 

“Siap, Pak!”

 

Yeriko menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memutar-mutar pena di tangannya. Ia terlihat tenang walau pikirannya terbagi antara keluarga dan pekerjaan.

 

“Ada apa, Pak?” tanya Riyan begitu ia masuk ke dalam ruang kerja Yeriko.

 

“Sekretaris saya sudah pada pulang atau belum?”

 

“Masih ada di ruangan mereka.”

 

“Belum final juga budget-nya?” tanya Yeriko.

 

“Masih ada beberapa revisi.”

 

Yeriko menyodorkan tumpukan map yang ada di atas meja. “Bantu saya cek realisasi versus budget tahun lalu.”

 

Riyan mengerutkan dahinya. “Bukannya sudah dikerjain sama sekretaris satu?”

 

“Iya. Ini tinggal saya verifikasi. Tapi, semua haru diunggah ke sistem yang baru. Kerjain ya! Saya pantau dari rumah.”

 

Riyan melirik arloji di tangannya. “Pak Bos, ini sudah jam sepuluh malam. Gimana kalau kita lanjutkan besok pagi aja? Ini malam pergantian tahun, sa—”

 

“Saya nggak terima alasan!” tegas Yeriko.

 

“Siap, Pak Bos! Saya kerjain sekarang juga!” sahut Riyan. Ia meraih semua dokumen yang ada di atas meja kerja Yeriko dan bergegas kembali ke ruangannya.

 

Yeriko tertawa kecil. Ia menarik napas lega sambil menatap ke luar jendela ruangannya. Kerlip lampu kota, menambah keindahan di malam pergantian tahun. Akan ada banyak perayaan, bunyi terompet di jalanan dan kembang api kecil yang mulai dinyalakan anak-anak membuat suasana kota yang biasanya sudah sepi, semakin meriah.

 

Di bawah sana, ia membayangkan istrinya sedang menunggunya sambil bercengkerama dengan keluarga besarnya. Ia bergegas turun dari perusahaan, mengendarai mobilnya keluar dari gedung perusahaannya menuju ke rumah orang tuanya. Jalanan yang padat, membuatnya baru bisa mencapai rumah lima belas menit sebelum  pergantian malam.

 

“Malam semua ...!” sapa Yeriko sambil menghampiri keluarga besarnya yang sedang bercengkerama di halaman belakang rumah mereka.

 

Yuna dan Adjie langsung menoleh ke arah Yeriko, tapi Rullyta dan Kakek Nurali tak menoleh sama sekali. Mereka bahkan tidak menganggap kehadiran Yeriko.

 

Yuna menggigit bibir saat melihat mama dan kakek mertuanya tiba-tiba berubah dingin. Padahal, mereka baru saja bercengkerama dan bercanda ria. Suasana berubah menjadi canggung saat Yeriko tiba di dalam rumah itu.

 

“Ay, kamu datang!?” tanya Yuna sambil menghambur ke pelukkan Yeriko.

 

“Sorry, aku telat!” bisik Yeriko di telinga Yuna.

 

“Nggak papa. Aku seneng, kamu udah mau nyempatin waktu untuk kami,” tutur Yuna sambil mengajak Yeriko untuk duduk di salah satu kursi yang masih kosong.

 

“Masih ingat kalau punya keluarga?” tanya Rullyta tanpa menoleh ke arah Yeriko.

 

“Ck, Mama tahu sendiri kalau pergantian tahun gini sibuk banget. Aku masih harus ngecek budget vs realisasi tahun ini dan budget untuk tahun depan.”

 

“Alesan! Kamu punya direktur sebanyak itu, punya dua sekretaris dan satu asisten pribadi. Masih kurang? Mereka kerjanya ngapain aja? Udah dibayar mahal-mahal, masih aja bikin kamu repot,” celetuk Rullyta kesal.

 

“Ma, aku tetep harus ngecek pekerjaan mereka. Nggak bisa aku lepas gitu aja ke Riyan atau sekretaris aku untuk verifikasi. Mama jangan bikin suasana makin panas! Aku udah usahain ke sini, aku telat karena terjebak macet di jalan,” sahut Yeriko dengan nada suara yang lebih tinggi.

 

Yuna langsung mengelus punggung tangan Yeriko. “Jangan marah-marah!” pintanya lembut. “Ini malam pergantian tahun, nggak baik kalau marah-marah sama Mama.”

 

“Untungnya si Yuna istri yang pengertian. Kamu lihat, dia istri kamu. Lagi hamil gini kamu sibuk terus setiap hari. Bahkan, menyempatkan waktu berkumpul dengan keluarga semalam aja kamu perhitungan. Di momen-momen penting kayak gini, kamu malah sibuk di perusahaan.”

 

“Ma, sudahlah. Yeriko sudah di sini, jangan dimarahi!” pinta Yuna sambil menatap wajah mama mertuanya.

 

Rullyta menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan perlahan. “Mama lagi belain kamu, tapi kamu malah belain suami kamu itu,” celetuk Rullyta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

Yuna menggenggam erat tangan Yeriko yang duduk di sampingnya.

 

Yeriko hanya tersenyum sambil mengelus punggung tangan Yuna menggunakan tangan satunya lagi. “Nggak papa, udah biasa ngomel,” bisik Yeriko sambil tersenyum kecil.

 

Yuna tersenyum kecil sambil menyembunyikan wajahnya di ketiak Yeriko. Membuat Rullyta yang sedang mengomel semakin kesal karena anak dan menantunya itu tetap saja saling berbisik dan bermesraan.

 

Adjie tak banyak bicara. Ia merasa bahagia karena Yuna selalu tersenyum setelah Yeriko berada di sisinya. Berbeda dengan beberapa menit lalu yang masih terlihat resah karena tak ada suami di sisinya.

 

“Yer ...!” panggil Kakek Nurali sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko langsung mendongakkan kepala menatap kakeknya. “Ya.”

 

“Kamu sudah beristri. Sebentar lagi, kamu akan menjadi seorang ayah. Harus bisa mengatur pekerjaan kamu, supaya ada waktu untuk keluarga. Kamu bukan anak muda setahun lalu yang bisa menghabiskan banyak waktu di luar sana. Sudah saatnya kamu berubah karena sudah berbuah.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia kerap melawan ucapan mamanya, tapi ia tak pernah sekali pun melawan ucapan kakeknya. Ia tidak ingin memancing kemarahan kakeknya walau hanya sedikit saja. Kakeknya jarang mengajaknya bicara, tapi setiap ucapan kakeknya, selalu ia ingat dan ia laksanakan dengan baik.

 

Kakek Nurali bangkit dari kursinya. “Ini adalah malam pergantian tahun. Kakek sebagai tetua di keluarga Hadikusuma, mengucapkan selamat tahun baru. Mari kita sambut tahun yang baru penuh dengan semangat lagi. Tahun-tahun yang berlalu, kita jadikan sebagai pelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.”

 

Semua orang tersenyum sambil mengangguk setuju.

 

“Malam ini adalah malam yang paling membahagiakan untuk Kakek. Karena tahun ini, kami bisa merayakan tahun baru bersama dengan keluarga baru. Semoga, cucuku yang masih ada dalam perut Yuna, selalu sehat sampai dilahirkan. Sebagai orang tua, Kakek hanya bisa mengirimkan doa-doa untuk kalian berdua,” tutur Kakek Nurali sambil menatap Yuna dan Yeriko.

 

“Kakek juga minta maaf apabila selama setahun belakangan ini, tidak menjadi kakek yang baik untuk kalian,” tutur Nurali sambil menatap Yuna dan Yeriko. “Tidak menjadi ayah yang baik untuk kamu,” lanjutnya sambil menatap Rullyta. “Tidak menjadi ayah besan yang baik untuk kamu,” ucapnya sambil menatap Adjie.

 

Adjie tersenyum sambil menatap Kakek Nurali. Ia bangkit dari tempat duduk. “Kakek sudah menjadi besan yang begitu baik untuk kami. Mau menerima kami yang tidak punya apa-apa ini seperti keluarga sendiri,” ucapnya sambil membungkuk sopan.

 

“Ah, kamu jangan merendah seperti ini. Memang menjadi orang tua akan selalu seperti ini. Sudah tidak memiliki apa-apa, tugasnya sudah beralih ke anak-anak kita untuk memikul tanggung jawab.”

 

Adjie menganggukkan kepala. Ia mengangkat gelas anggur merah yang ada di hadapannya. “Mari bersulang untuk kesehatan dan kesuksesan keluarga kita di masa depan!”

 

Nurali tertawa kecil. Ia mengangkat gelasnya dan bersulang dengan anak besan dan anaknya juga. Mereka menikmati malam tahun baru bersama penuh suka cita, penuh doa dan harapan untuk tahun-tahun berikutnya agar mereka selalu menjadi keluarga yang harmonis, saling mendukung, saling menyayangi dan menghadapi kesulitan bersama-sama.

 

 ((Bersambung ...))

Udah masuk tahun baru, nih. Akan ada cerita baru di kehidupan Mr. Ye and Mrs. Ye. Dukung terus, biar author makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas