“Ay, malam ini nggak bisa ke rumah Mama?” tanya
Yuna lewat panggilan telepon.
“Aku masih sibuk banget. Kamu udah sampai rumah
Mama?” tanya Yeriko, ia masih terus disibukkan dengan urusan pekerjaan hingga
malam pergantian tahun tiba.
“Udah di rumah Mama Rully sejak tadi sore.”
“Sama ayah kamu ‘kan?”
Yuna menganggukkan kepala. “He-em. Kamu beneran
nggak bisa ke sini?”
Yeriko menghela napas. Pertanyaan istrinya kali
ini benar-benar membuatnya bimbang. Ingin sekali bisa menemani istri dan
keluarganya menghabiskan malam pergantian tahun bersama. Namun, pekerjaan yang
begitu banyak membuatnya harus bertahan di perusahaan.
Yeriko menekan VOIP yang ada di atas mejanya.
“Halo, Pak ...!” sapa suara pria dari seberang
sana.
“Ke ruangan saya, sekarang!”
“Siap, Pak!”
Yeriko menyandarkan punggungnya ke kursi sambil
memutar-mutar pena di tangannya. Ia terlihat tenang walau pikirannya terbagi
antara keluarga dan pekerjaan.
“Ada apa, Pak?” tanya Riyan begitu ia masuk ke
dalam ruang kerja Yeriko.
“Sekretaris saya sudah pada pulang atau belum?”
“Masih ada di ruangan mereka.”
“Belum final juga budget-nya?” tanya Yeriko.
“Masih ada beberapa revisi.”
Yeriko menyodorkan tumpukan map yang ada di atas
meja. “Bantu saya cek realisasi versus budget tahun lalu.”
Riyan mengerutkan dahinya. “Bukannya sudah
dikerjain sama sekretaris satu?”
“Iya. Ini tinggal saya verifikasi. Tapi, semua
haru diunggah ke sistem yang baru. Kerjain ya! Saya pantau dari rumah.”
Riyan melirik arloji di tangannya. “Pak Bos, ini
sudah jam sepuluh malam. Gimana kalau kita lanjutkan besok pagi aja? Ini malam
pergantian tahun, sa—”
“Saya nggak terima alasan!” tegas Yeriko.
“Siap, Pak Bos! Saya kerjain sekarang juga!” sahut
Riyan. Ia meraih semua dokumen yang ada di atas meja kerja Yeriko dan bergegas
kembali ke ruangannya.
Yeriko tertawa kecil. Ia menarik napas lega sambil
menatap ke luar jendela ruangannya. Kerlip lampu kota, menambah keindahan di
malam pergantian tahun. Akan ada banyak perayaan, bunyi terompet di jalanan dan
kembang api kecil yang mulai dinyalakan anak-anak membuat suasana kota yang
biasanya sudah sepi, semakin meriah.
Di bawah sana, ia membayangkan istrinya sedang
menunggunya sambil bercengkerama dengan keluarga besarnya. Ia bergegas turun
dari perusahaan, mengendarai mobilnya keluar dari gedung perusahaannya menuju
ke rumah orang tuanya. Jalanan yang padat, membuatnya baru bisa mencapai rumah
lima belas menit sebelum pergantian malam.
“Malam semua ...!” sapa Yeriko sambil menghampiri
keluarga besarnya yang sedang bercengkerama di halaman belakang rumah mereka.
Yuna dan Adjie langsung menoleh ke arah Yeriko,
tapi Rullyta dan Kakek Nurali tak menoleh sama sekali. Mereka bahkan tidak
menganggap kehadiran Yeriko.
Yuna menggigit bibir saat melihat mama dan kakek
mertuanya tiba-tiba berubah dingin. Padahal, mereka baru saja bercengkerama dan
bercanda ria. Suasana berubah menjadi canggung saat Yeriko tiba di dalam rumah
itu.
“Ay, kamu datang!?” tanya Yuna sambil menghambur
ke pelukkan Yeriko.
“Sorry, aku telat!” bisik Yeriko di telinga Yuna.
“Nggak papa. Aku seneng, kamu udah mau nyempatin
waktu untuk kami,” tutur Yuna sambil mengajak Yeriko untuk duduk di salah satu
kursi yang masih kosong.
“Masih ingat kalau punya keluarga?” tanya Rullyta
tanpa menoleh ke arah Yeriko.
“Ck, Mama tahu sendiri kalau pergantian tahun gini
sibuk banget. Aku masih harus ngecek budget vs realisasi tahun ini dan budget
untuk tahun depan.”
“Alesan! Kamu punya direktur sebanyak itu, punya
dua sekretaris dan satu asisten pribadi. Masih kurang? Mereka kerjanya ngapain
aja? Udah dibayar mahal-mahal, masih aja bikin kamu repot,” celetuk Rullyta
kesal.
“Ma, aku tetep harus ngecek pekerjaan mereka.
Nggak bisa aku lepas gitu aja ke Riyan atau sekretaris aku untuk verifikasi.
Mama jangan bikin suasana makin panas! Aku udah usahain ke sini, aku telat
karena terjebak macet di jalan,” sahut Yeriko dengan nada suara yang lebih
tinggi.
Yuna langsung mengelus punggung tangan Yeriko.
“Jangan marah-marah!” pintanya lembut. “Ini malam pergantian tahun, nggak baik
kalau marah-marah sama Mama.”
“Untungnya si Yuna istri yang pengertian. Kamu
lihat, dia istri kamu. Lagi hamil gini kamu sibuk terus setiap hari. Bahkan,
menyempatkan waktu berkumpul dengan keluarga semalam aja kamu perhitungan. Di
momen-momen penting kayak gini, kamu malah sibuk di perusahaan.”
“Ma, sudahlah. Yeriko sudah di sini, jangan
dimarahi!” pinta Yuna sambil menatap wajah mama mertuanya.
Rullyta menarik napas dalam-dalam, kemudian
menghembuskan perlahan. “Mama lagi belain kamu, tapi kamu malah belain suami
kamu itu,” celetuk Rullyta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Yuna menggenggam erat tangan Yeriko yang duduk di
sampingnya.
Yeriko hanya tersenyum sambil mengelus punggung
tangan Yuna menggunakan tangan satunya lagi. “Nggak papa, udah biasa ngomel,”
bisik Yeriko sambil tersenyum kecil.
Yuna tersenyum kecil sambil menyembunyikan
wajahnya di ketiak Yeriko. Membuat Rullyta yang sedang mengomel semakin kesal
karena anak dan menantunya itu tetap saja saling berbisik dan bermesraan.
Adjie tak banyak bicara. Ia merasa bahagia karena
Yuna selalu tersenyum setelah Yeriko berada di sisinya. Berbeda dengan beberapa
menit lalu yang masih terlihat resah karena tak ada suami di sisinya.
“Yer ...!” panggil Kakek Nurali sambil menatap
wajah Yeriko.
Yeriko langsung mendongakkan kepala menatap
kakeknya. “Ya.”
“Kamu sudah beristri. Sebentar lagi, kamu akan
menjadi seorang ayah. Harus bisa mengatur pekerjaan kamu, supaya ada waktu
untuk keluarga. Kamu bukan anak muda setahun lalu yang bisa menghabiskan banyak
waktu di luar sana. Sudah saatnya kamu berubah karena sudah berbuah.”
Yeriko menganggukkan kepala. Ia kerap melawan
ucapan mamanya, tapi ia tak pernah sekali pun melawan ucapan kakeknya. Ia tidak
ingin memancing kemarahan kakeknya walau hanya sedikit saja. Kakeknya jarang
mengajaknya bicara, tapi setiap ucapan kakeknya, selalu ia ingat dan ia
laksanakan dengan baik.
Kakek Nurali bangkit dari kursinya. “Ini adalah
malam pergantian tahun. Kakek sebagai tetua di keluarga Hadikusuma, mengucapkan
selamat tahun baru. Mari kita sambut tahun yang baru penuh dengan semangat
lagi. Tahun-tahun yang berlalu, kita jadikan sebagai pelajaran untuk menjadi
manusia yang lebih baik lagi.”
Semua orang tersenyum sambil mengangguk setuju.
“Malam ini adalah malam yang paling membahagiakan
untuk Kakek. Karena tahun ini, kami bisa merayakan tahun baru bersama dengan
keluarga baru. Semoga, cucuku yang masih ada dalam perut Yuna, selalu sehat
sampai dilahirkan. Sebagai orang tua, Kakek hanya bisa mengirimkan doa-doa
untuk kalian berdua,” tutur Kakek Nurali sambil menatap Yuna dan Yeriko.
“Kakek juga minta maaf apabila selama setahun
belakangan ini, tidak menjadi kakek yang baik untuk kalian,” tutur Nurali
sambil menatap Yuna dan Yeriko. “Tidak menjadi ayah yang baik untuk kamu,”
lanjutnya sambil menatap Rullyta. “Tidak menjadi ayah besan yang baik untuk
kamu,” ucapnya sambil menatap Adjie.
Adjie tersenyum sambil menatap Kakek Nurali. Ia
bangkit dari tempat duduk. “Kakek sudah menjadi besan yang begitu baik untuk
kami. Mau menerima kami yang tidak punya apa-apa ini seperti keluarga sendiri,”
ucapnya sambil membungkuk sopan.
“Ah, kamu jangan merendah seperti ini. Memang
menjadi orang tua akan selalu seperti ini. Sudah tidak memiliki apa-apa,
tugasnya sudah beralih ke anak-anak kita untuk memikul tanggung jawab.”
Adjie menganggukkan kepala. Ia mengangkat gelas
anggur merah yang ada di hadapannya. “Mari bersulang untuk kesehatan dan
kesuksesan keluarga kita di masa depan!”
Nurali tertawa kecil. Ia mengangkat gelasnya dan
bersulang dengan anak besan dan anaknya juga. Mereka menikmati malam tahun baru
bersama penuh suka cita, penuh doa dan harapan untuk tahun-tahun berikutnya
agar mereka selalu menjadi keluarga yang harmonis, saling mendukung, saling
menyayangi dan menghadapi kesulitan bersama-sama.
((Bersambung ...))
Udah masuk tahun baru, nih.
Akan ada cerita baru di kehidupan Mr. Ye and Mrs. Ye. Dukung terus, biar author
makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment