Tuesday, March 3, 2026

Perfect Hero Bab 495 : Nama Bayi untuk Mr. Ye

 


Menjelang akhir tahun, Yeriko disibukkan dengan urusan perusahaan. Membuat Yuna harus menjalani hari-hari tanpa suami di sisinya.

 

“Mmh ... sore ini aku USG, tapi Yeriko sibuk banget. Pasti nggak bisa nemenin aku periksa kandungan?” gumam Yuna sambil menatap langit dari balkon rumahnya.

 

“Anak aku laki-laki atau perempuan ya? Mau dikasih nama siapa ya?”

 

“Huft, ngapain aku pusing soal nama? Keluarga Hadikusuma pasti sudah menyiapkan nama untuk anakku. Mereka sudah menantikan anak ini. Kalau udah lahir, semua perhatian pasti tertuju sama si Dedek. Kakek dan Mama bakal sering ke sini ngunjungi kita,” tutur Yuna sambil mengusap-usap perutnya sendiri.

 

“Dedek sehat terus, ya! Kakek buyut pasti sudah nyiapin nama yang bagus buat Dedek.”

 

Meski Yuna sudah mempercayakan semua pada keluarga Yeriko, tapi ia masih saja penasaran ingin memberikan nama untuk anaknya kelak. Terlebih, ia belum mengetahui jenis kelamin anaknya sendiri.

 

Detik terus berganti, tapi Yuna tak kunjung beranjak dari tempatnya. Ia masih sibuk memikirkan nama untuk anaknya sendiri. Sebab, ia masih tidak tahu bagaimana menentukan nama yang bagus untuk anaknya. Mencari di internet, justru membuat isi kepalanya memikirkan banyak nama dan membuatnya semakin pusing.

 

“Hei, kenapa ngelamun di sini?” tanya Yeriko sambil memeluk Yuna dari belakang.

 

Yuna langsung memutar tubuhnya menghadap Yeriko. “Udah pulang? Sekarang jam berapa?” tanyanya panik karena ia tidak menyambut Yeriko di depan rumah seperti biasa.

 

“Jam setengah enam sore,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

 

“Hah!?” Yuna menatap langit yang masih cerah. “Aku buatin susu dulu. Mau langsung mandi atau mau nyantai dulu?” tanyanya sambil bergegas pergi.

 

“Nanti aja!” pinta Yeriko sambil menahan tubuh Yuna. “Masih jam tiga, kok.”

 

“Serius? Jam tiga atau jam setengah enam?”

 

“Jam tiga,” jawab Yeriko sambil menyodorkan jam tangannya ke hadapan Yuna.

 

Yuna mengerutkan dahi melihat jam yang tertera di arloji Yeriko. “Kok, jam segini udah pulang?”

 

“Sore ini jadwal periksa kandungan ‘kan?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

“Kamu ingat?”

 

“Aku nggak akan pernah lupa segala hal tentang kamu.”

 

“Gombal,” sahut Yuna sambil menyembunyikan senyum di bibirnya.

 

Yeriko tertawa kecil. Ia langsung menggigit ujung hidung Yuna karena gemas.

 

“Iih ... ntar hidungku habis kalau kamu gigitin terus!” dengus Yuna.

 

“Masa, sih? Bibir kamu ... aku hisap terus tapi nggak habis-habis.”

 

“Oh ya? Jadi, mending hisap bibirku atau hisap rokok?”

 

“Dua-duanya. Kalau nggak ada kamu, aku hisap rokok.”

 

Yuna mengerutkan bibirnya.

 

Yeriko tersenyum sambil mengangkat dagu Yuna menggunakan jari telunjuknya. “Kenapa mukanya gitu?”

 

“Aku cemburu sama rokok.”

 

Yeriko tergelak. “Cemburu kenapa?”

 

“Kamu bawa dia ke mana-mana. Sedangkan aku, cuma ditaruh di rumah aja. Kalo kamu nggak pulang ke rumah, aku nggak disentuh sama sekali,” jawab Yuna.

 

“Kamu mau dibawa-bawa juga? Mmh ... aku khawatir kalau bawa kamu keluar rumah.”

 

Yuna meringis sambil menatap Yuna. “Aku ngerti, kok. Takut ada yang nyulik aku lagi?”

 

Yeriko tertawa kecil sambil mengetuk dahi Yuna. “Lebih takut lagi kalau ada yang nyulik hati kamu.”

 

Yuna terkekeh mendengar ucapan Yeriko. Ia memainkan tangannya di dada Yeriko. “Kalau hatiku diculik, kamu pasti punya banyak cara untuk menyelamatkan hatiku supaya kembali ke pelukan kamu ‘kan?”

 

Yeriko tersenyum sambil menatap manik mata Yuna. Ada rasa yang bergejolak setiap kali ia melihat lukisan bahagia di dalam manik mata wanita itu. Ia masih tidak mengerti kenapa mata itu bisa selalu tersenyum, menunjukkan banyak warna dunia pada hatinya yang dulu tak berwarna.

 

Yuna tak bisa berkata-kata melihat tatapan suaminya yang begitu hangat. Kedua tangannya melingkar ke pinggang suaminya itu. Memeluknya untuk waktu yang lama.

 

“Apa yang kamu pikirkan sendirian di tempat ini?” bisik Yeriko.

 

“Lagi mikirin kamu dan anak kita.”

 

Yeriko melepas pelukannya. “Ada hal yang mengganggu pikiran kamu?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku cuma mikirin nama yang cocok buat anak kita. Kira-kira, kakek akan kasih nama siapa ya?”

 

Yeriko tertawa kecil. “Kakek bilang, nama anak kita ... kita yang akan menentukannya.”

 

“Hah!? Serius!?” tanya Yuna dengan mata berbinar.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Mmh, kalau gitu ... aku serahkan sama ayahnya si Dedek. Mau dikasih nama siapa?”

 

“Mmh ... kita belum tahu dia perempuan atau laki-laki.”

 

“Siapin dua nama!”

 

“Oke. Kalau anak aku perempuan ... mau aku kasih nama Yurika.”

 

Yuna tertawa bahagia. “Pas banget sama ayahnya, Yeriko! Kalau laki-laki?”

 

“Mmh ... kalau dia laki-laki. Cuma ibunya yang boleh kasih nama!”

 

“Kenapa begitu?”

 

“Karena aku cuma siapin nama anak perempuan.”

 

“Kenapa? Kamu nggak suka anak laki-laki?”

 

“Suka. Tapi, aku lebih suka anak perempuan.”

 

“Kenapa?”

 

“Anak perempuan lebih patuh dan penurut.”

 

Yuna tertawa kecil. “Apa karena kamu nggak pernah mau nurut sama orang tua?”

 

Yeriko tak menyahut pertanyaan Yuna.

 

Yuna langsung menggigit bibirnya. Ia menyadari kesalahannya. Hubungan Yeriko dan ayahnya tidak baik. Apa pun alasannya, tak boleh ada satu orang pun yang membahas tentang ayah Yeriko, terlebih di hadapan Yeriko secara langsung.

 

Mereka saling diam untuk beberapa saat. Sibuk dengan pemikirannya sendiri.

 

“Yun ...!”

 

Yuna langsung menatap wajah Yeriko. “Maaf, aku ...!”

 

“Udah ada nama untuk anak kita kalau dia laki-laki?” tanya Yeriko. Ia mencoba mengalihkan perhatian Yuna karena merasa bersalah atas dirinya. Ia tak pernah mengatakan bagaimana hubungan antara ia dan ayahnya. Namun, istrinya bukanlah wanita bodoh yang tak bisa membaca perasaannya.

 

“Mmh ... apa ya?” tanya Yuna sambil mengetuk-ngetuk dagunya. Ia berjalan mondar-mandir sambil memainkan jemari tangannya. Ada beberapa nama yang sudah ada di kepalanya. Namun, ia masih bingung memilih nama yang paling cocok untuk keluarga Hadikusuma.

 

Yeriko melipat kedua tangan di dada sambil mengangkat dua alisnya. Ia memerhatikan Yuna yang mondar-mandir di depannya beberapa kali dan belum juga menemukan nama anak laki-laki untuk calon bayinya mereka.

 

“Mmh ... kasih nama Andriko, gimana?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko manggut-manggut. “Artinya apa?”

 

“Artinya ... pemimpin yang tampan. Sama seperti ayahnya,” jawab Yuna ceria sambil merangkul leher suaminya. “Eh, aku belum tanya. Yurika, artinya apa?”

 

“Bunga lili yang cantik. Secantik bundanya,” jawab Yeriko sambil mencolek hidung Yuna.

 

“Oh ya?” tanya Yuna dengan pipi bersemu merah.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Ayo, kita siap-siap!” ajak Yeriko.

 

“Ke mana?”

 

“Ck, periksa ke dokter. Aku masih banyak kerjaan. Setelah antar kalian ke klinik, aku balik ke kantor lagi.”

 

“Lembur lagi?” tanya Yuna sambil bergelayut manja.

 

Yeriko menganggukkan kepalanya.

 

Yuna menghela napas. “Nggak mau bawa aku lembur?” rengeknya.

 

“Kalau bawa kamu, lemburnya lain,” jawab Yeriko sambil menjepit hidung Yuna. Ia merangkul pundak Yuna sambil melangkah masuk ke kamarnya.

 

Yuna tertawa kecil sambil mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam kamar. Mereka bersiap-siap pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungan Yuna. Yuna merasa sangat bahagia karena Yeriko mau menyempatkan waktunya untuk menemaninya pergi ke klinik, tempat ia biasa melakukan pemeriksaan rutin pada kandungannya yang kini sudah memasuki trimester ketiga.

 

((Bersambung ... ))

Thanks udah dukung terus sampai sini. Jangan lupa kasih Star Vote ya!

Sapa author terus di kolom komentar.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 494 : Gairah di Ujung Kaki

 


Yeriko masuk ke halaman rumah saat mobil Tarudi keluar dari rumahnya. “Itu, Tante Melan?” Ia segera menghentikan mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.

 

Yeriko menghela napas lega saat melihat istrinya duduk di ruang tamu bersama ayahnya.

 

“Tante Melan dari sini?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia langsung menghampiri Yeriko.

 

“Ada perlu apa mereka ke sini?” tanya Yeriko.

 

“Biasa, cari gara-gara,” jawab Yuna.

 

“Serius? Kalian nggak papa?”

 

“Kami nggak papa,” jawab Adjie.

 

“Aku kerjain mereka,” tutur Yuna sambil terkekeh geli.

 

Yeriko menaikkan satu alisnya. “Kerjain gimana?”

 

“Aku bilang kalau anak perusahaan mereka defisit terus. Tante Melan langsung panik, hahaha.”

 

Yeriko langsung mengetuk dahi Yuna. “Jahil banget.”

 

Adjie ikut tertawa kecil. “Suami kamu sudah pulang. Kalau gitu, Ayah pamit pulang!”

 

“Nggak bisa!” sahut Yuna.

 

Adjie mengangkat kedua alisnya. “Kenapa?”

 

“Ayah jawab dulu pertanyaanku!” pinta Yuna sambil menatap ayahnya.

 

“Apa?”

 

“Apa Ayah sering ke makam Bunda?” tanya Yuna.

 

Adjie menggelengkan kepala.

 

“Kenapa Ayah pergi ke sana tanpa aku?”

 

“Ayah sudah bilang, Bunda kamu dateng ke dalam mimpi Ayah.”

 

Yuna mengerutkan dahinya. Ia masih tidak mempercayai apa yang diucapkan oleh ayahnya. “Ayah ingat sama Bunda?”

 

Adjie menghela napas. “Ayah cuma ketemu bunda kamu di dalam mimpi.”

 

“Nggak harus pergi ke makamnya juga ‘kan? Seberapa sering Ayah ke makam Bunda. Ayah sudah ingat semuanya? Oom Rudi datang, pasti mau mastikan ingatan Ayah soal pemindahan saham perusahaan. Dia nggak mungkin datang tanpa sebab.”

 

“Ayah sudah bilang kalau ketemu sama bunda kamu di dalam mimpi,” sahut Adjie lembut.

 

“Yah, aku ini anak kandung Ayah. Aku nggak mau ada rahasia yang Ayah sembunyikan. Apalagi, soal proses pemindahan saham perusahaan kita. Banyak keganjilan di dalamnya. Apa aku harus turun tangan buat ngambil alih perusahaan kita!?”

 

“Yun, kamu tenang dulu! Jangan bersikap seperti ini sama ayah kamu!” pinta Yeriko sambil merangkul pundak Yuna.

 

Yuna menggigit bibirnya. Apa pun yang berhubungan dengan ayahnya, selalu membuat emosinya terpancing.

 

“Ayah pulang saja dulu!” bisik Yeriko di telinga Adjie. “Soal Yuna, biar aku yang urus.”

 

Adjie menganggukkan kepala. “Kalau gitu, Ayah pulang dulu!” pamitnya.

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Hati-hati, Yah!”

 

Adjie mengangguk dan bergegas keluar dari rumah Yeriko.

 

Yuna memainkan bibirnya sambil menatap kepergian ayahnya. Ia melepas rangkulan tangan Yeriko dan melangkah pergi ke kamarnya.

 

“Yuna ...!” panggil Yeriko sambil mengikuti langkah Yuna.

 

Yuna sengaja menghentak-hentakkan kakinya sampai masuk ke dalam kamar. Ia melompat ke atas sofa, lalu menyalakan televisi.

 

“Kamu kenapa, sih?” tanya Yeriko sambil duduk di samping Yuna.

 

“Nggak papa.”

 

“Kenapa cemberut? Aku bukan marahin kamu. Aku cuma nggak suka kamu bersikap seperti itu di depan ayah kamu sendiri.”

 

“Aku tuh cuma nanya sama dia. Emangnya aku salah? Kalau emang nggak ada yang disembunyiin dari aku, ayah nggak akan keberatan buat jawab pertanyaanku. Oom Rudi sampai ke sini, pasti ada maksud tertentu. Mereka takut kalau aku dan ayah mengambil alih kekuasaan di perusahaan. Padahal, aku sama ayah udah ngerelain semuanya. Masih aja selalu ganggu hidup kami. Kalau dia sampai mencelakai ayah lagi, gimana?” cerocos Yuna.

 

Yeriko menghela napas. “Kamu nggak perlu khawatir! Aku pasti melindungi kalian.”

 

Yuna merundukkan kepalanya. “Aku masih khawatir. Takut terjadi apa-apa sama ayah,” ucapnya lirih.

 

Yeriko tersenyum sambil mengelus lembut kepala Yuna. “Semua hal yang terjadi sudah ditakdirkan. Sama seperti pertemuan kita. Tak perlu khawatir berlebihan. Latihlah hatimu agar selalu berjiwa besar!”

 

Yuna menatap wajah Yeriko. Ia tahu, hatinya masih sangat kecil. Mudah marah, mudah tersinggung dan sulit menerima kenyataan yang terjadi. Ia menarik napas dalam-dalam untuk meredam emosinya.

 

“Udah mandi atau belum?” tanya Yeriko sambil mendekatkan wajahnya.

 

Yuna menggelengkan wajahnya.

 

“Mau mandi bareng atau nggak?”

 

“Mau ...!” sahut Yuna sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia mengangkat tubuh Yuna dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Mereka melepaskan pakaian sambil menunggu air di dalam bathtub penuh. Usai melepas pakaian, mereka langsung masuk ke dalam bathtub.

 

“Ay ...!”

 

“Umh.” Yeriko menyandarkan kepala sambil memejamkan mata. Kedua tangannya sibuk mengelus-elus anak di dalam perut Yuna.

 

“Perut aku makin besar. Dua bulan lagi ... aku pasti kesulitan buat motongin kuku dan menggosok kakiku. Apa kamu ...?”

 

“Aku yang akan menggosok kakimu setiap hari,” sambar Yeriko.

 

Yuna langsung mendongakkan kepala menatap dagu suaminya. “Serius?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Apa aku kelihatan bercanda?”

 

“Nggak, sih. Aku merasa nggak pantas aja kalau sampai suamiku ...” Yuna menghentikan ucapannya saat Yeriko bangkit dan merubah posisi duduknya, tepat berhadapan dengan dirinya.

 

Yeriko langsung meraih kedua kaki Yuna dan meletakkan di dadanya. “Bukan cuma membersihkan kakimu setiap hari. Menciumi kakimu pun akan aku lakukan setiap hari,” tutur Yeriko sambil meletakkan kedua kaki Yuna ke bahunya. Ia mencium mata kaki Yuna, bibirnya bergerak liar sampai ke lutut Yuna.

 

“Ay, maksud aku bukan kayak gini,” tutur Yuna sambil menatap wajah Yeriko yang sedang menciumi lututnya.

 

Yeriko menarik tubuh Yuna ke pangkuannya. Menciptakan riak dalam air bathtub yang tenang. “Jadi, maunya yang gimana?” bisik Yeriko.

 

Yuna tersenyum sambil menyembunyikan bibirnya. Ia merangkul pundak suaminya sambil memainkan hidungnya di atas hidung Yeriko.

 

Yeriko mulai melumat bibir Yuna perlahan. Terus menggerakkan bibirnya sambil mengendus bahu dan dada istrinya yang mulus. Lengan dan kaki Yuna yang melilit ke tubuhnya semakin erat, membuatnya semakin bergairah. Ia tak bisa berhenti memanjakan Yuna dengan sentuhan-sentuhan lembut penuh kenikmatan.

 

 

 

 

 

...

 

 

 

“Pa, apa yang dibilang sama Yuna itu bener?” tanya Melan saat ia dan suaminya sudah sampai di rumah.

 

“Nggak bener, Ma. Mama percaya sama dia  atau sama aku?” tanya Tarudi balik.

 

“Mama percaya sama Papa. Mama cuma harus waspada. Biar bagaimanapun, dia pernah bekerja di Wijaya Group. Sedikit banyak, dia pasti tahu soal kondisi perusahaan,” jawab Melan.

 

Tarudi menghela napas. “Salah satu anak perusahaan memang mengalami defisit beberapa bulan terakhir. Tapi, kami tidak sampai melakukan penjualan saham perusahaan tersebut.”

 

Melan melebarkan kelopak matanya. “Terus? Apa bakal berimbas ke anak perusahaan yang lainnya?”

 

“Ma, Mama nggak perlu ikut campur soal perusahaan. Semuanya pasti akan ditangani Wilian dengan baik.”

 

“Papa memang payah!” sahut Melan kesal. “Dulu, Papa bahkan kalah dari Abdi soal perebutan kekuasaan di perusahaan. Sekarang, Papa harus tunduk sama Lian yang masih muda dan jauh lebih hebat dari Papa.”

 

Tarudi terdiam. Ia tidak ingin membuat perdebatan lebih panjang lagi dan memilih untuk pergi meninggalkan Melan.

 

“Pa ...! Aku masih ngomong!” seru Melan sambil menatap tubuh Tarudi yang bergerak menjauh. “Belum kelar ngomong, main pergi aja,” celetuknya kesal.

 

Melan semakin kesal dengan sikap suaminya yang mengacuhkan dirinya. Perasaannya kesalnya berganti dengan kekhawatiran akan perusahaan suaminya. Ia menikah dengan Tarudi hanya karena uang yang dimilikinya. Baginya, menguasai pria lebih penting dari sekedar cinta belaka.

 

((Bersambung ... ))

Thanks udah dukung terus sampai sini. Jangan lupa kasih Star Vote ya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 493 : Semakin Khawatir

 


“Selamat sore ...!” sapa Melan saat Yuna membukakan pintu rumahnya. Di hari berikutnya, ia  dan Tarudi sengaja mengunjungi rumah Yuna sambil membawakan hadiah.

 

“Tante, Oom?” Yuna melebarkan kelopak matanya begitu melihat Tarudi dan Melan sudah berdiri di depan pintu.

 

“Kenapa pas banget aku buka pintu, mereka nongol kayak jin?” tanya Yuna dalam hati.

 

Melan tersenyum manis sambil menatap Yuna. “Apa kabar?”

 

“Baik, Tante. Mmh ... silakan masuk, Oom!”

 

Melan dan Tarudi menganggukkan kepala sambil melangkah masuk ke dalam rumah yang dilengkapi dengan furniture mewah yang tersusun rapi dan artistik.

 

“Silakan duduk, Tante, Oom!”

 

Tarudi dan Melan langsung duduk di sofa yang ada di dalam ruang tamu tersebut.

 

“Ini ... kami bawakan hadiah untuk kamu,” tutur Melan sambil meletakkan beberapa paper bag ke atas meja.

 

Yuna langsung menatap paper bag yang ada di atas meja tersebut. Ia merasa kalau kedatangan dua orang keluarganya ini ada maksud tersembunyi.

 

Melan terus tersenyum manis ke arah Yuna.

 

Yuna ikut memaksakan bibirnya tersenyum. “Oom, seharusnya nggak perlu repot bawakan hadiah. Kalau mau ke sini, ya ke sini aja!”

 

Tarudi tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna. “Sudah lama Oom tidak melihat keadaan kamu. Masa ke sini tidak bawa apa-apa? Ini juga Oom bawakan hadiah untuk ayah kamu.”

 

“Aku dan ayah nggak memerlukan hadiah ini, Oom. Sebaiknya, hadiah ini kalian bawa pulang saja!” pinta Yuna sambil tersenyum manis.

 

Tarudi menarik napas dalam-dalam. Ia mulai resah menghadapi Yuna yang jelas-jelas statusnya jauh lebih tinggi dari keluarganya.

 

“Kamu menolak pemberian kami karena barang yang kami beri nggak ada harganya?” tanya Melan.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. “Ini Maleficent mulai cari gara-gara lagi sama aku?” batinnya. Ia berusaha tetap tersenyum sambil menahan kekesalan dalam hatinya.

 

“Kamu sekarang bisa sombong karena sudah jadi menantu dari keluarga yang kaya raya? Kamu nggak ingat, beberapa bulan lalu kamu masih jadi gembel di jalanan?” tanya Melan.

 

Yuna langsung memutar kepalanya. Ia khawatir kalau ayahnya yang sedang berada di teras belakang, akan mendengar suara Oom dan Tantenya itu.

 

“Ma, hati-hati kalau bicara! Wajar saja kalau kehidupan Yuna yang sekarang sudah berubah,” tutur Tarudi lembut.

 

Melan menatap wajah Yuna penuh kebencian. Ia masih sangat kesal karena keponakan yang sudah susah payah ia beri makan selama bertahun-tahun, selalu saja membangkang, bahkan menyerang dirinya.

 

“Tante sudah mengenal aku selama bertahun-tahun. Aku juga sudah mengenal Tante selama bertahun-tahun. Apa Tante pikir, aku nggak tahu apa maksud terselubung di balik hadiah-hadiah ini?”

 

Melan membelalakkan matanya sambil menatap Yuna. “Kamu ...!? Bener-bener nggak mau menghargai pemberian kami?”

 

“Tante lupa, apa yang terakhir kali Tante buat saat masuk ke rumah ini? Aku sama sekali nggak menangkap niat baik Tante. Tante ke sini cuma mau bikin onar di rumahku,” sahut Yuna.

 

“Kalau kamu nggak bersikap sombong kayak gini. Aku nggak akan emosi!” seru Melan.

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan Melan. “Aku sombong? Bukannya selama ini Tante yang selalu sombong?” tanyanya.

 

Melan semakin kesal mendengar pertanyaan Yuna.

 

“Kenapa? Tante baru sadar kalau ada orang lain yang lebih kaya dari kekayaan yang kalian bangga-banggakan itu? Aku nggak akan membalas perlakuan Tante ke aku selama ini. Tapi ... aku nggak akan pernah melupakan seumur hidupku!” tegas Yuna sambil menatap tajam ke arah Melan.

 

“Dasar, anak nggak tahu diri!” seru Melan.

 

“Ada apa ini?” tanya Adjie yang tiba-tiba sudah muncul di belakang Yuna. Ia langsung duduk di salah satu sofa yang kosong.

 

“Selamat Sore, Kak Adjie!” sapa Tarudi sambil tersenyum ke arah kakaknya.

 

Adjie hanya mengangguk kecil sambil menatap kedatangan adik dan istrinya itu. “Kalian dari rumah?” tanyanya.

 

Tarudi dan Melan mengangguk sambil tersenyum. Mereka terlihat bahagia karena Adjie lebih menerima kehadirannya daripada keponakannya sendiri.

 

“Ada apa?” tanya Adjie. Ia tidak begitu suka basa-basi dan menginginkan adiknya segera mengungkapkan maksud kedatangannya kali ini. Karena semalam, Tarudi sudah berbasa-basi, mengajaknya menikmati sate dan bir tanpa ia ketahui maksud sebenarnya.

 

Tarudi menghela napas sambil menatap wajah Adjie. “Kami ke sini karena ada hal yang ingin kami tanyakan.”

 

“Apa?” tanya Adjie.

 

“Kemarin, Bellina melihat kamu pergi ke makam Arum. Apa itu benar?” tanya Tarudi.

 

Yuna langsung menoleh ke arah Adjie begitu mendengar pertanyaan dari Tarudi. “Bener, Yah?”

 

Adjie menganggukkan kepala.

 

“Ayah sudah ingat sama Bunda?” tanya Adjie.

 

Adjie menggelengkan kepala. “Ayah hanya bermimpi kalau Bunda kamu selalu mengajak Ayah bercerita tentang banyak hal.”

 

“Oh, aku pikir ... ingatan kamu tentang Arum sudah kembali,” sahut Tarudi.

 

Adjie menghela napas panjang. “Aku akan berusaha mencari ingatanku tentang dia. Sebab, dia adalah ibu dari puteri kesayanganku.”

 

Tarudi terdiam. Perasaannya sangat sakit ketika mendengar ucapan Adjie. Ia teringat bagaimana masa lalunya dengan Adjie dan Arum.

 

Melan melirik wajah suaminya. Ia tidak bisa membaca apa yang ada di dalam hati suaminya itu. Ia tidak peduli dengan perasaan Tarudi saat ini. Ia sudah merasa menang dan bahagia karena Arum sudah mati. Tak ada lagi wanita yang selalu mengganggu perasaan suaminya itu.

 

“Kak, aku ke sini mau membicarakan masalah perusahaan,” tutur Tarudi.

 

“Ada apa dengan perusahaan kamu?”

 

Tarudi menarik napas dalam-dalam. Kata ‘kamu’ yang ditujukan sebagai pemilik perusahaan, membuatnya merasa sedikit lega. Ia sangat berharap kalau kakaknya tidak mengambil alih kendali perusahaan keluarga Lin.

 

Yuna hanya menatap wajah paman dan bibinya yang menyiratkan niat tersembunyi. Ia masih tidak mengerti kenapa keduanya kerap kali mengusik hidup ayahnya.

 

“Perusahaan dalam keadaan sangat baik. Hanya saja ... mmh ... mmh ...”

 

“Langsung aja!” perintah Adjie.

 

“Apa Kak Adjie ingin mengendalikan perusahaan lagi?” tanya Tarudi perlahan.

 

Yuna tertawa kecil mendengar pertanyaan dari pamannya. “Oom ... jadi, Oom ke sini cuma karena takut kalau ayahku akan mengendalikan perusahaan lagi?”

 

Tarudi menghela napas. “Bukankah kamu juga sudah merelakan perusahaan keluarga Lin ada di tanganku?”

 

Yuna tersenyum sinis. “Ambil aja, Oom! Perusahaan suamiku jauh lebih besar. Aku nggak mungkin ngejar-ngejar perusahaan kecil itu.”

 

“Perusahaan kecil? Kamu sombong banget!?” sahut Melan kesal.

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan tantenya. “Tante ... apa Tante nggak tahu kalau Oom Rudi sudah menjual salah satu anak perusahaannya karena defisit selama berbulan-bulan.”

 

Melan melebarkan kelopak matanya. Ia langsung menoleh ke arah Tarudi yang duduk di sampingnya. “Bener?”

 

Tarudi menggelengkan kepala. “Nggak bener. Dia cuma bohong!”

 

Yuna tertawa kecil. “Aku yang bohong atau Oom Rudi yang bohong?” tanya Yuna sambil tersenyum santai.

 

“Kamu mau nyembunyikan masalah perusahaan dari aku?” tanya Melan.

 

“Nggak, Ma. Ini semua nggak bener!” sahut Tarudi.

 

Yuna menyunggingkan setengah senyum di bibirnya. Ia merasa puas melihat Melan mulai ketakutan saat mengetahui kondisi perusahaan keluarganya.

 

“Sebaiknya, kalian bicarakan masalah perusahaan ini di rumah kalian saja! Jangan membuat keributan di sini!” pinta Adjie.

 

Yuna langsung mengejek dua orang yang di hadapannya menggunakan ekspresi wajahnya.

 

Melan mendengus kesal ke arah Yuna dan Adjie. “Ayo, Pa. Kita pulang!” ajaknya.

 

Tarudi menganggukkan kepala. Ia tidak berani membantah keinginan istrinya. Ia juga tidak bisa berlama-lama di dalam ruangan itu karena Yuna terus-menerus menyerang perusahaannya. Ia sangat khawatir karena ucapan Yuna hampir benar. Salah satu anak perusahaannya mengalami defisit, tapi belum sampai menjual anak perusahaan tersebut.

 

“Kamu tahu dari mana kalau anak perusahaan Rudi mengalami defisit?” tanya Adjie sambil menatap Yuna.

 

“Aku baca di berita. Tapi, belum sampai dijual,” jawab Yuna.

 

“Kamu bohongi tante kamu sendiri?”

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Ayah lihat sendiri gimana mukanya dia waktu aku bilang kalau Oom Rudi jual anak perusahaan. Dia udah ketakutan gitu,” jawab Yuna sambil tertawa kecil.

 

Adjie menggeleng-gelengkan kepala. “Kelakuan jahil kamu itu nggak hilang-hilang sejak masih kecil.”

 

Yuna meringis sambil menatap ayahnya. Ia sangat mengenal paman dan bibinya yang kerap memperlakukannya dengan kejam. Ia harus bisa menghadapinya dengan cara yang lebih elegan, tidak lagi menjadi Yuna setahun lalu yang selalu meluapkan emosinya dengan menggebu-gebu.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini, jangan lupa kasih Star Vote biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas