Menjelang akhir tahun, Yeriko disibukkan dengan urusan perusahaan.
Membuat Yuna harus menjalani hari-hari tanpa suami di sisinya.
“Mmh ... sore ini aku USG, tapi Yeriko sibuk banget. Pasti nggak
bisa nemenin aku periksa kandungan?” gumam Yuna sambil menatap langit dari
balkon rumahnya.
“Anak aku laki-laki atau perempuan ya? Mau dikasih nama siapa ya?”
“Huft, ngapain aku pusing soal nama? Keluarga Hadikusuma pasti
sudah menyiapkan nama untuk anakku. Mereka sudah menantikan anak ini. Kalau
udah lahir, semua perhatian pasti tertuju sama si Dedek. Kakek dan Mama bakal
sering ke sini ngunjungi kita,” tutur Yuna sambil mengusap-usap perutnya
sendiri.
“Dedek sehat terus, ya! Kakek buyut pasti sudah nyiapin nama yang
bagus buat Dedek.”
Meski Yuna sudah mempercayakan semua pada keluarga Yeriko, tapi ia
masih saja penasaran ingin memberikan nama untuk anaknya kelak. Terlebih, ia
belum mengetahui jenis kelamin anaknya sendiri.
Detik terus berganti, tapi Yuna tak kunjung beranjak dari
tempatnya. Ia masih sibuk memikirkan nama untuk anaknya sendiri. Sebab, ia
masih tidak tahu bagaimana menentukan nama yang bagus untuk anaknya. Mencari di
internet, justru membuat isi kepalanya memikirkan banyak nama dan membuatnya
semakin pusing.
“Hei, kenapa ngelamun di sini?” tanya Yeriko sambil memeluk Yuna
dari belakang.
Yuna langsung memutar tubuhnya menghadap Yeriko. “Udah pulang?
Sekarang jam berapa?” tanyanya panik karena ia tidak menyambut Yeriko di depan
rumah seperti biasa.
“Jam setengah enam sore,” jawab Yeriko sambil tersenyum.
“Hah!?” Yuna menatap langit yang masih cerah. “Aku buatin susu
dulu. Mau langsung mandi atau mau nyantai dulu?” tanyanya sambil bergegas
pergi.
“Nanti aja!” pinta Yeriko sambil menahan tubuh Yuna. “Masih jam
tiga, kok.”
“Serius? Jam tiga atau jam setengah enam?”
“Jam tiga,” jawab Yeriko sambil menyodorkan jam tangannya ke
hadapan Yuna.
Yuna mengerutkan dahi melihat jam yang tertera di arloji Yeriko.
“Kok, jam segini udah pulang?”
“Sore ini jadwal periksa kandungan ‘kan?” tanya Yeriko sambil
menatap wajah Yuna.
“Kamu ingat?”
“Aku nggak akan pernah lupa segala hal tentang kamu.”
“Gombal,” sahut Yuna sambil menyembunyikan senyum di bibirnya.
Yeriko tertawa kecil. Ia langsung menggigit ujung hidung Yuna
karena gemas.
“Iih ... ntar hidungku habis kalau kamu gigitin terus!” dengus
Yuna.
“Masa, sih? Bibir kamu ... aku hisap terus tapi nggak
habis-habis.”
“Oh ya? Jadi, mending hisap bibirku atau hisap rokok?”
“Dua-duanya. Kalau nggak ada kamu, aku hisap rokok.”
Yuna mengerutkan bibirnya.
Yeriko tersenyum sambil mengangkat dagu Yuna menggunakan jari
telunjuknya. “Kenapa mukanya gitu?”
“Aku cemburu sama rokok.”
Yeriko tergelak. “Cemburu kenapa?”
“Kamu bawa dia ke mana-mana. Sedangkan aku, cuma ditaruh di rumah
aja. Kalo kamu nggak pulang ke rumah, aku nggak disentuh sama sekali,” jawab
Yuna.
“Kamu mau dibawa-bawa juga? Mmh ... aku khawatir kalau bawa kamu
keluar rumah.”
Yuna meringis sambil menatap Yuna. “Aku ngerti, kok. Takut ada
yang nyulik aku lagi?”
Yeriko tertawa kecil sambil mengetuk dahi Yuna. “Lebih takut lagi
kalau ada yang nyulik hati kamu.”
Yuna terkekeh mendengar ucapan Yeriko. Ia memainkan tangannya di
dada Yeriko. “Kalau hatiku diculik, kamu pasti punya banyak cara untuk
menyelamatkan hatiku supaya kembali ke pelukan kamu ‘kan?”
Yeriko tersenyum sambil menatap manik mata Yuna. Ada rasa yang
bergejolak setiap kali ia melihat lukisan bahagia di dalam manik mata wanita
itu. Ia masih tidak mengerti kenapa mata itu bisa selalu tersenyum, menunjukkan
banyak warna dunia pada hatinya yang dulu tak berwarna.
Yuna tak bisa berkata-kata melihat tatapan suaminya yang begitu
hangat. Kedua tangannya melingkar ke pinggang suaminya itu. Memeluknya untuk
waktu yang lama.
“Apa yang kamu pikirkan sendirian di tempat ini?” bisik Yeriko.
“Lagi mikirin kamu dan anak kita.”
Yeriko melepas pelukannya. “Ada hal yang mengganggu pikiran kamu?”
Yuna menggelengkan kepala. “Aku cuma mikirin nama yang cocok buat
anak kita. Kira-kira, kakek akan kasih nama siapa ya?”
Yeriko tertawa kecil. “Kakek bilang, nama anak kita ... kita yang
akan menentukannya.”
“Hah!? Serius!?” tanya Yuna dengan mata berbinar.
Yeriko menganggukkan kepala.
“Mmh, kalau gitu ... aku serahkan sama ayahnya si Dedek. Mau
dikasih nama siapa?”
“Mmh ... kita belum tahu dia perempuan atau laki-laki.”
“Siapin dua nama!”
“Oke. Kalau anak aku perempuan ... mau aku kasih nama Yurika.”
Yuna tertawa bahagia. “Pas banget sama ayahnya, Yeriko! Kalau
laki-laki?”
“Mmh ... kalau dia laki-laki. Cuma ibunya yang boleh kasih nama!”
“Kenapa begitu?”
“Karena aku cuma siapin nama anak perempuan.”
“Kenapa? Kamu nggak suka anak laki-laki?”
“Suka. Tapi, aku lebih suka anak perempuan.”
“Kenapa?”
“Anak perempuan lebih patuh dan penurut.”
Yuna tertawa kecil. “Apa karena kamu nggak pernah mau nurut sama
orang tua?”
Yeriko tak menyahut pertanyaan Yuna.
Yuna langsung menggigit bibirnya. Ia menyadari kesalahannya.
Hubungan Yeriko dan ayahnya tidak baik. Apa pun alasannya, tak boleh ada satu
orang pun yang membahas tentang ayah Yeriko, terlebih di hadapan Yeriko secara
langsung.
Mereka saling diam untuk beberapa saat. Sibuk dengan pemikirannya
sendiri.
“Yun ...!”
Yuna langsung menatap wajah Yeriko. “Maaf, aku ...!”
“Udah ada nama untuk anak kita kalau dia laki-laki?” tanya Yeriko.
Ia mencoba mengalihkan perhatian Yuna karena merasa bersalah atas dirinya. Ia
tak pernah mengatakan bagaimana hubungan antara ia dan ayahnya. Namun, istrinya
bukanlah wanita bodoh yang tak bisa membaca perasaannya.
“Mmh ... apa ya?” tanya Yuna sambil mengetuk-ngetuk dagunya. Ia
berjalan mondar-mandir sambil memainkan jemari tangannya. Ada beberapa nama
yang sudah ada di kepalanya. Namun, ia masih bingung memilih nama yang paling
cocok untuk keluarga Hadikusuma.
Yeriko melipat kedua tangan di dada sambil mengangkat dua alisnya.
Ia memerhatikan Yuna yang mondar-mandir di depannya beberapa kali dan belum
juga menemukan nama anak laki-laki untuk calon bayinya mereka.
“Mmh ... kasih nama Andriko, gimana?” tanya Yuna sambil menatap
wajah Yeriko.
Yeriko manggut-manggut. “Artinya apa?”
“Artinya ... pemimpin yang tampan. Sama seperti ayahnya,” jawab
Yuna ceria sambil merangkul leher suaminya. “Eh, aku belum tanya. Yurika,
artinya apa?”
“Bunga lili yang cantik. Secantik bundanya,” jawab Yeriko sambil
mencolek hidung Yuna.
“Oh ya?” tanya Yuna dengan pipi bersemu merah.
Yeriko menganggukkan kepala. “Ayo, kita siap-siap!” ajak Yeriko.
“Ke mana?”
“Ck, periksa ke dokter. Aku masih banyak kerjaan. Setelah antar
kalian ke klinik, aku balik ke kantor lagi.”
“Lembur lagi?” tanya Yuna sambil bergelayut manja.
Yeriko menganggukkan kepalanya.
Yuna menghela napas. “Nggak mau bawa aku lembur?” rengeknya.
“Kalau bawa kamu, lemburnya lain,” jawab Yeriko sambil menjepit
hidung Yuna. Ia merangkul pundak Yuna sambil melangkah masuk ke kamarnya.
Yuna tertawa kecil sambil mengikuti langkah suaminya masuk ke
dalam kamar. Mereka bersiap-siap pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungan
Yuna. Yuna merasa sangat bahagia karena Yeriko mau menyempatkan waktunya untuk
menemaninya pergi ke klinik, tempat ia biasa melakukan pemeriksaan rutin pada
kandungannya yang kini sudah memasuki trimester ketiga.
((Bersambung ... ))
Thanks udah dukung terus sampai sini. Jangan
lupa kasih Star Vote ya!
Sapa author terus di kolom komentar.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment