Yeriko masuk ke halaman rumah saat mobil Tarudi
keluar dari rumahnya. “Itu, Tante Melan?” Ia segera menghentikan mobil dan
berlari masuk ke dalam rumah.
Yeriko menghela napas lega saat melihat istrinya
duduk di ruang tamu bersama ayahnya.
“Tante Melan dari sini?” tanya Yeriko.
Yuna menganggukkan kepala. Ia langsung menghampiri
Yeriko.
“Ada perlu apa mereka ke sini?” tanya Yeriko.
“Biasa, cari gara-gara,” jawab Yuna.
“Serius? Kalian nggak papa?”
“Kami nggak papa,” jawab Adjie.
“Aku kerjain mereka,” tutur Yuna sambil terkekeh
geli.
Yeriko menaikkan satu alisnya. “Kerjain gimana?”
“Aku bilang kalau anak perusahaan mereka defisit
terus. Tante Melan langsung panik, hahaha.”
Yeriko langsung mengetuk dahi Yuna. “Jahil
banget.”
Adjie ikut tertawa kecil. “Suami kamu sudah
pulang. Kalau gitu, Ayah pamit pulang!”
“Nggak bisa!” sahut Yuna.
Adjie mengangkat kedua alisnya. “Kenapa?”
“Ayah jawab dulu pertanyaanku!” pinta Yuna sambil
menatap ayahnya.
“Apa?”
“Apa Ayah sering ke makam Bunda?” tanya Yuna.
Adjie menggelengkan kepala.
“Kenapa Ayah pergi ke sana tanpa aku?”
“Ayah sudah bilang, Bunda kamu dateng ke dalam
mimpi Ayah.”
Yuna mengerutkan dahinya. Ia masih tidak
mempercayai apa yang diucapkan oleh ayahnya. “Ayah ingat sama Bunda?”
Adjie menghela napas. “Ayah cuma ketemu bunda kamu
di dalam mimpi.”
“Nggak harus pergi ke makamnya juga ‘kan? Seberapa
sering Ayah ke makam Bunda. Ayah sudah ingat semuanya? Oom Rudi datang, pasti
mau mastikan ingatan Ayah soal pemindahan saham perusahaan. Dia nggak mungkin
datang tanpa sebab.”
“Ayah sudah bilang kalau ketemu sama bunda kamu di
dalam mimpi,” sahut Adjie lembut.
“Yah, aku ini anak kandung Ayah. Aku nggak mau ada
rahasia yang Ayah sembunyikan. Apalagi, soal proses pemindahan saham perusahaan
kita. Banyak keganjilan di dalamnya. Apa aku harus turun tangan buat ngambil
alih perusahaan kita!?”
“Yun, kamu tenang dulu! Jangan bersikap seperti
ini sama ayah kamu!” pinta Yeriko sambil merangkul pundak Yuna.
Yuna menggigit bibirnya. Apa pun yang berhubungan
dengan ayahnya, selalu membuat emosinya terpancing.
“Ayah pulang saja dulu!” bisik Yeriko di telinga
Adjie. “Soal Yuna, biar aku yang urus.”
Adjie menganggukkan kepala. “Kalau gitu, Ayah
pulang dulu!” pamitnya.
Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Hati-hati,
Yah!”
Adjie mengangguk dan bergegas keluar dari rumah
Yeriko.
Yuna memainkan bibirnya sambil menatap kepergian
ayahnya. Ia melepas rangkulan tangan Yeriko dan melangkah pergi ke kamarnya.
“Yuna ...!” panggil Yeriko sambil mengikuti
langkah Yuna.
Yuna sengaja menghentak-hentakkan kakinya sampai
masuk ke dalam kamar. Ia melompat ke atas sofa, lalu menyalakan televisi.
“Kamu kenapa, sih?” tanya Yeriko sambil duduk di
samping Yuna.
“Nggak papa.”
“Kenapa cemberut? Aku bukan marahin kamu. Aku cuma
nggak suka kamu bersikap seperti itu di depan ayah kamu sendiri.”
“Aku tuh cuma nanya sama dia. Emangnya aku salah?
Kalau emang nggak ada yang disembunyiin dari aku, ayah nggak akan keberatan
buat jawab pertanyaanku. Oom Rudi sampai ke sini, pasti ada maksud tertentu.
Mereka takut kalau aku dan ayah mengambil alih kekuasaan di perusahaan.
Padahal, aku sama ayah udah ngerelain semuanya. Masih aja selalu ganggu hidup
kami. Kalau dia sampai mencelakai ayah lagi, gimana?” cerocos Yuna.
Yeriko menghela napas. “Kamu nggak perlu khawatir!
Aku pasti melindungi kalian.”
Yuna merundukkan kepalanya. “Aku masih khawatir.
Takut terjadi apa-apa sama ayah,” ucapnya lirih.
Yeriko tersenyum sambil mengelus lembut kepala
Yuna. “Semua hal yang terjadi sudah ditakdirkan. Sama seperti pertemuan kita.
Tak perlu khawatir berlebihan. Latihlah hatimu agar selalu berjiwa besar!”
Yuna menatap wajah Yeriko. Ia tahu, hatinya masih
sangat kecil. Mudah marah, mudah tersinggung dan sulit menerima kenyataan yang
terjadi. Ia menarik napas dalam-dalam untuk meredam emosinya.
“Udah mandi atau belum?” tanya Yeriko sambil
mendekatkan wajahnya.
Yuna menggelengkan wajahnya.
“Mau mandi bareng atau nggak?”
“Mau ...!” sahut Yuna sambil melingkarkan kedua
tangannya di leher Yeriko.
Yeriko tersenyum kecil. Ia mengangkat tubuh Yuna
dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Mereka melepaskan pakaian sambil
menunggu air di dalam bathtub penuh. Usai melepas pakaian, mereka langsung
masuk ke dalam bathtub.
“Ay ...!”
“Umh.” Yeriko menyandarkan kepala sambil
memejamkan mata. Kedua tangannya sibuk mengelus-elus anak di dalam perut Yuna.
“Perut aku makin besar. Dua bulan lagi ... aku
pasti kesulitan buat motongin kuku dan menggosok kakiku. Apa kamu ...?”
“Aku yang akan menggosok kakimu setiap hari,”
sambar Yeriko.
Yuna langsung mendongakkan kepala menatap dagu
suaminya. “Serius?”
Yeriko menganggukkan kepala. “Apa aku kelihatan
bercanda?”
“Nggak, sih. Aku merasa nggak pantas aja kalau
sampai suamiku ...” Yuna menghentikan ucapannya saat Yeriko bangkit dan merubah
posisi duduknya, tepat berhadapan dengan dirinya.
Yeriko langsung meraih kedua kaki Yuna dan
meletakkan di dadanya. “Bukan cuma membersihkan kakimu setiap hari. Menciumi
kakimu pun akan aku lakukan setiap hari,” tutur Yeriko sambil meletakkan kedua
kaki Yuna ke bahunya. Ia mencium mata kaki Yuna, bibirnya bergerak liar sampai
ke lutut Yuna.
“Ay, maksud aku bukan kayak gini,” tutur Yuna
sambil menatap wajah Yeriko yang sedang menciumi lututnya.
Yeriko menarik tubuh Yuna ke pangkuannya.
Menciptakan riak dalam air bathtub yang tenang. “Jadi, maunya yang gimana?”
bisik Yeriko.
Yuna tersenyum sambil menyembunyikan bibirnya. Ia
merangkul pundak suaminya sambil memainkan hidungnya di atas hidung Yeriko.
Yeriko mulai melumat bibir Yuna perlahan. Terus
menggerakkan bibirnya sambil mengendus bahu dan dada istrinya yang mulus.
Lengan dan kaki Yuna yang melilit ke tubuhnya semakin erat, membuatnya semakin
bergairah. Ia tak bisa berhenti memanjakan Yuna dengan sentuhan-sentuhan lembut
penuh kenikmatan.
...
“Pa, apa yang dibilang sama Yuna itu bener?” tanya
Melan saat ia dan suaminya sudah sampai di rumah.
“Nggak bener, Ma. Mama percaya sama dia atau
sama aku?” tanya Tarudi balik.
“Mama percaya sama Papa. Mama cuma harus waspada.
Biar bagaimanapun, dia pernah bekerja di Wijaya Group. Sedikit banyak, dia
pasti tahu soal kondisi perusahaan,” jawab Melan.
Tarudi menghela napas. “Salah satu anak perusahaan
memang mengalami defisit beberapa bulan terakhir. Tapi, kami tidak sampai
melakukan penjualan saham perusahaan tersebut.”
Melan melebarkan kelopak matanya. “Terus? Apa
bakal berimbas ke anak perusahaan yang lainnya?”
“Ma, Mama nggak perlu ikut campur soal perusahaan.
Semuanya pasti akan ditangani Wilian dengan baik.”
“Papa memang payah!” sahut Melan kesal. “Dulu,
Papa bahkan kalah dari Abdi soal perebutan kekuasaan di perusahaan. Sekarang,
Papa harus tunduk sama Lian yang masih muda dan jauh lebih hebat dari Papa.”
Tarudi terdiam. Ia tidak ingin membuat perdebatan
lebih panjang lagi dan memilih untuk pergi meninggalkan Melan.
“Pa ...! Aku masih ngomong!” seru Melan sambil
menatap tubuh Tarudi yang bergerak menjauh. “Belum kelar ngomong, main pergi
aja,” celetuknya kesal.
Melan semakin kesal dengan sikap suaminya yang
mengacuhkan dirinya. Perasaannya kesalnya berganti dengan kekhawatiran akan
perusahaan suaminya. Ia menikah dengan Tarudi hanya karena uang yang
dimilikinya. Baginya, menguasai pria lebih penting dari sekedar cinta belaka.
((Bersambung ... ))
Thanks udah dukung terus sampai sini. Jangan
lupa kasih Star Vote ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment