Tuesday, March 3, 2026

Perfect Hero Bab 492 : Masih di Bawah Kendali 11 Tahun Lalu

 


“Pa ...!” sapa Bellina begitu papanya masuk ke dalam rumah.

 

“Eh, Bellina!? Tumben ke sini? Sudah lama nggak main ke rumah kami.”

 

“Dia sering ke sini, Papa yang selalu sibuk di kantor,” jawab Melan sambil tersenyum manis. Ia membantu suaminya itu melepaskan jasnya.

 

Tarudi tersenyum kecil. “Maaf, akhir-akhir ini memang sangat sibuk.”

 

“Gimana dengan  perusahaan?” tanya Melan.

 

“Baik-baik aja,” jawab Tarudi sambil melepas dasinya.

 

Melan menghela napas. “Syukurlah. Mama buatkan minum dulu!”

 

Tarudi menganggukkan kepalanya.

 

“Pa ...!” panggil Bellina yang sudah duduk di sebelah ayahnya.

 

“Apa?”

 

“Tadi, aku ketemu sama Oom Adjie.”

 

“Oh ya? Ketemu di mana?”

 

“Nggak ketemu, sih. Aku cuma lihat Oom Adjie masuk ke area pemakaman Tante Arum. Dia nggak amnesia, Pa.”

 

“Kamu lihat sendiri!?” tanya Tarudi sambil menoleh ke arah Bellina.

 

Bellina menganggukkan kepala.

 

“Nggak salah lihat orang ‘kan?”

 

Bellina menggeleng lagi. “Aku nggak salah, Pa. Aku sudah tanya sama penjaga makam juga. Itu memang Oom Adjie. Dia bahkan ingat kalau Tante Arum meninggal karena kecelakaan.”

 

“Ah, mungkin hanya perasaan kamu aja. Bisa jadi, Yuna memang kasih tahu ayahnya soal ini.”

 

“Tapi ...”

 

“Adjie itu sudah koma sejak kecelakaan. Dia nggak mungkin tahu posisi makam istrinya kalau bukan Yuna yang kasih tahu.”

 

Bellina terdiam. Ia menggigit bibir sambil berpikir. “Tapi, dia ingat kejadian kecelakaan sebelas tahun lalu. Dia pasti ingat gimana Papa ambil alih perusahaan Oom Adjie. Kalau dia mau ambil alih lagi gimana?”

 

Tarudi menghela napas. “Kamu nggak perlu sepanik ini. Yuna dan Oom kamu sudah berjanji kalau mereka tidak akan mengambil alih perusahaan. Oom kamu sudah mempercayakan perusahaannya di tangan papa.”

 

“Papa yakin kalau Oom Adjie nggak berbahaya?” tanya Bellina.

 

Tarudi menghela napas. “Kamu tenang aja! Dia itu kakaknya Papa. Papa bisa mengatasi dia.”

 

“Aku tetap nggak bisa tenang, Pa. Kenapa dia harus pura-pura amnesia? Dia pasti merencanakan sesuatu di belakang kita.”

 

Tarudi menghela napasnya. Ia berusaha bersikap setenang mungkin walau hatinya mulai goyah karena sikap kakaknya yang menyimpan banyak rahasia setelah kecelakaan sebelas tahun lalu.

 

“Pa, kita tetap harus berhati-hati. Kita nggak tahu apa rencana mereka di balik ini semua,” tutur Melan.

 

Tarudi mengangguk-anggukkan kepala. “Papa mau mandi dulu,” pamitnya sambil bergegas pergi ke kamarnya.

 

Belum sampai masuk ke dalam kamar mandi. Ponsel Tarudi tiba-tiba berdering. Ia melihat layar ponsel, menatap nomor tak dikenal yang tertera di layar tersebut.

 

Tarudi menjawab panggilan telepon tersebut. “Halo ...!”

 

Hening.

 

“Halo ...!”

 

Hening.

 

Tarudi menghela napas karena tak ada suara yang keluar dari seberang telepon. Ia berniat untuk mematikan telepon tersebut.

 

“Rudi ...!” Suara berat dari seberang telepon menyapa Tarudi.

 

Jantung Tarudi berdetak lebih kencang saat mendengar suara pria yang sudah tak asing lagi di telinganya.

 

“Apa kabar, Rudi?”

 

Tarudi mengelap keringat dingin yang menetes di pelipisnya.

 

“Kamu masih ingat sama saya?”

 

GLEG!

 

Tarudi menelan ludah mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut pria tersebut.

 

“Apa kamu ingat kesepakatan yang sudah kita buat?” tanya suara berat di ujung sana.

 

Tarudi tak menjawab. Ia langsung mematikan panggilan telepon dan meletakkan ponselnya di atas meja. Ia mondar-mandir di dalam kamar sambil berpikir.

 

“Ah, aku nggak bisa kayak gini terus,” gumamnya. Ia membasuh wajahnya di kamar mandi sejenak. Kemudian menarik jaket dan keluar lagi dari kamarnya.

 

“Papa mau ke mana?” tanya Melan begitu melihat suaminya terburu-buru.

 

“Ada urusan, sebentar,” jawab Tarudi sambil melangkah keluar dari rumahnya. Ia harus memastikan apakah Adjie benar-benar hilang ingatan atau tidak. Ia tidak ingin menyerahkan perusahaan begitu saja setelah melakukan banyak hal untuk mendapatkannya.

 

“Kenapa Papa buru-buru gitu, Ma?” tanya Bellina.

 

“Mungkin, memang ada urusan penting.”

 

“Soal Oom Adjie?”

 

Melan terdiam. “Bukannya papa kamu bilang, semua akan baik-baik aja? Mungkin, urusan kantor.”

 

Bellina tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

“Kamu makan malam di sini ya!” pinta Melan. “Ajak Lian sekalian!”

 

“Lian lagi sibuk, Ma.”

 

“Sibuk apa?”

 

Bellina mengedikkan bahunya.

 

“Kamu ini ... bukannya bantuin Lian di perusahaan, malah nggak tahu apa kesibukan suami kamu sendiri?”

 

Bellina menghela napas. “Ada masalah dengan beberapa anak perusahaan Lian. Jadi, dia sibuk mondar-mandir ngurusin masalah perusahaan.”

 

“Masalah besar?”

 

Bellina menganggukkan kepala. “Nggak, kok. Sama aja seperti sebelumnya. Ada beberapa kendala teknis saat menjalankan proyek baru.”

 

“Kamu nggak bantu dia?”

 

Bellina menggelengkan kepala. “Lian nggak izinkan aku terjun ke divisi proyek. Jadi, aku santai-santai aja.”

 

Melan menghela napas sambil tersenyum ke arah Bellina. “Bel, walau suami kamu itu masih sering deketin Yuna. Dia sayang juga sama kamu. Pasti, nggak tega lihat kamu capek.”

 

Bellina menganggukkan kepala.

 

“Makanya, kamu harus punya anak secepatnya supaya Lian makin sayang sama kamu. Gimana, kalau dia sampai tertarik sama perempuan lain lagi?”

 

“Jangan sampai, Ma!” sahut Bellina.

 

“Bell, pria sukses itu banyak godaannya. Kamu harus jaga dia sekuat tenaga biar nggak pergi dari sisi kamu. Laki-laki kayak Lian, bisa aja suka sama perempuan lain. Sampai sekarang, dia bahkan nggak mau melupakan si Yuna sialan itu!”

 

Bellina menghela napas. Ia sudah melakukan banyak hal untuk Lian, namun pria itu tetap saja tidak mau melepaskan masa lalunya dengan Yuna. Padahal saat masih menjadi selingkuhan Lian, ia jauh lebih bahagia.

 

 

 

...

 

 

 

Tarudi terus melangkahkan kakinya memasuki lingkungan apartemen tempat kakaknya tinggal.

 

“Malam, Kak Adjie ...!” sapa Tarudi begitu Adjie membukakan pintu apartemen untuknya.

 

“Malam ...!” balas Adjie sambil mengamati tubuh Tarudi.

 

“Aku beli bir dan beberapa porsi sate. Gimana kalau kita makan bersama?”

 

Adjie menatap wajah Tarudi. “Boleh.”

 

Tarudi tersenyum lebar. Ia langsung masuk ke dalam apartemen kakaknya tanpa menunggu perintah.

 

Adjie mengangkat kedua alis sambil mengamati Tarudi hingga mereka duduk berdua di meja makan. Meski terlihat wajar, ia merasa sikap adiknya tak biasa.

 

“Rudi ...!” panggil Adjie lirih.

 

“Ya.”

 

“Gimana kondisi perusahaan yang kamu pimpin?”

 

“Baik. Sangat baik,” jawab Tarudi sambil membuka botol bir yang ia bawa.

 

Adjie mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Apa Kakak ingin kembali ke perusahaan?” tanya Tarudi sambil melirik wajah Adjie.

 

Adjie menggelengkan kepala. “Yuna tidak akan membiarkan aku pergi bekerja.”

 

Tarudi tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dia memang anak yang baik dan berbakti.”

 

Adjie tersenyum sambil menatap adiknya yang sedang menikmati sate dengan lahap.

 

“Kak, kalau Yuna mengizinkan ... apa Kakak akan kembali ke perusahaan?”

 

“Mungkin, iya.”

 

DEG!

 

Jantung Tarudi serasa berhenti berdetak saat mendengar jawaban dari kakaknya.

 

“Kenapa?” tanya Adjie.

 

Tarudi menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nggak papa.”

 

“Oh.”

 

Tarudi tersenyum. Ia mengajak kakaknya itu berbicara banyak hal soal masa lalu mereka untuk memancing ingatan Adjie. Ia harus menciptakan kebohongan-kebohongan soal pemindahan saham yang ia lakukan sebelum kakaknya mengalami kecelakaan.

 

 

Perfect Hero Bab 491 : Mulai Resah

 


Bellina menatap tubuh Adjie dari kejauhan. “Kok, Oom Adjie bisa ke makam sih?” Hatinya masih saja mempertanyakan hal yang sama.

 

Bellina menghela napas dan melangkahkan kakinya pergi dari pemakaman tersebut. Tapi hatinya masih saja bertanya-tanya karena yang ia ketahui, Adjie mengalami amnesia akibat kecelakaan sebelas tahun lalu.

 

“Huft, aku harus pastikan apa yang terjadi sebenarnya,” tutur Bellina sambil membalikkan tubuhnya dan kembali ke pemakaman.

 

Bellina mengedarkan pandangannya. Ia menatap pusara Arum yang sudah kosong, tak ada lagi sosok Adjie di sana. Ia terus berkeliling mencari Adjie yang tadi duduk di depan pusara istrinya.

 

“Cari makam siapa, Mbak?” tanya penjaga makam yang ada di tempat tersebut.

 

“Mmh ... tadi, kayaknya ada Oom saya. Oom saya yang badannya tinggi besar, kulitnya putih, pakai kemeja pendek kotak-kotak warna biru hitam.”

 

“Oh ... yang habis dari makam Almarhumah Ibu Arum?”

 

Bellina menganggukkan kepala. “Bapak kenal dengan dia?”

 

“Suaminya almarhumah ‘kan?”

 

Bellina mengerutkan dahinya. “Dia sering ke sini?”

 

Penjaga makam itu menganggukkan kepala. “Suami dan anak almarhumah sering mengunjungi makam ini.”

 

“Apa Oom saya itu tahu penyebab kematian istrinya?” tanya Bellina.

 

“Tahu, kecelakaan lalu lintas.”

 

Bellina menggigit bibir bawahnya. “Berarti, Oom Adjie nggak amnesia?”

 

“Ada apa, Mbak? Mau jemput Oom-nya ya? Beliau baru aja keluar dari sini.”

 

“Iya, Pak. Saya mau jemput beliau. Mungkin, dia lupa kalau abis telepon saya. Malah pergi sendirian, hehehe.”

 

“Oh.” Penjaga makam itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Masih sempat kalau mau dikejar, Mbak.”

 

“Oke. Terima kasih informasinya, Pak!” tutur Bellina sambil berlalu pergi. Ia melangkah keluar dari pemakaman tersebut. Menyusuri gang dan menghampiri mobilnya yang ia parkir di luar gang makam tersebut.

 

Bellina langsung melajukan mobil menuju rumah keluarga Linandar yang tak jauh dari pemakaman tersebut.

 

“Sore, Ma!” sapa Bellina saat melihat mamanya sedang bersantai sambil membaca majalah.

 

“Sore ...!” balas Melan. “Tumben ke sini jam segini?” tanyanya. Ia memerhatikan Bellina yang terlihat ketakutan. “Kamu kenapa?” lanjutnya.

 

“Oom Adjie, Ma. Oom Adjie ...”

 

“Adjie kenapa?”

 

Bellina menggigit jemari tangannya. “Oom Adjie nggak amnesia, Ma!” serunya.

 

Melan membelalakkan matanya. “Hah!? Kamu tahu dari mana?”

 

“Aku lihat Oom Adjie di makam hari ini.”

 

“Makamnya Arum?”

 

Bellina mengangguk-anggukkan kepala. “Gimana, dong? Oom Adjie cuma pura-pura amnesia. Apa dia mau balas dendam ke keluarga kita?”

 

“Kamu tenang dulu!” pinta Melan.

 

“Aku nggak bisa tenang, Ma! Gimana kalau Oom Adjie ambil alih perusahaan? Gimana kalau kita jatuh miskin? Gimana kalau Yuna dan ayahnya itu lagi ngerencanain sesuatu di belakang kita? Gimana, Ma!?” seru Bellina.

 

“Kamu tenang, Bel!” sentak Melan. “Kayak gini, nggak akan menyelesaikan masalah.”

 

“Oom Adjie bukan orang yang mudah dihadapi. Mama tahu sendiri kalau aku takut sama dia dari dulu. Aku nggak berani lihat Oom Adjie marah. Apalagi kalau sampai dia balas dendam. Bisa aja, dia sama Yuna diam-diam mau menghancurkan keluarga kita. Apalagi mereka bersatu dengan keluarga Hadikusuma,” cerocos Bellina.

 

“Bell, kamu tenang aja! Adjie dan papa kamu itu masih ada hubungan darah. Adjie sangat menyayangi adiknya. Dia nggak mungkin membalas dendamnya ke kita. Biar Mama dan papa kamu yang urus ini semua.”

 

Bellina menghela napas. “Ma, kalau memang Oom Adjie nggak ngerencanain apa pun, kenapa dia harus pura-pura amnesia?”

 

Melan menghela napas sambil berpikir sejenak.

 

“Mama tahu sendiri kalau suaminya si Yuna itu selalu neror aku. Jangan-jangan, mereka memang mau balas dendam dan menghancurkan hidup kita, Ma? Aku nggak mau jadi miskin!”

 

“Kamu tenang, ya! Mama dan papa kamu akan menyelesaikan ini semua. Kamu jangan bertindak gegabah dan selalu hati-hati. Kita nggak pernah tahu rencana mereka.”

 

Bellina menganggukkan kepala. Perasaannya tetap saja gelisah. Apalagi, sekarang Yuna mendapatkan pelindung baru yang selalu ada di sisinya.

 

“Udahlah, kamu nggak perlu khawatir! Mama pasti akan menyelesaikan ini semua,” tutur Melan sambil mengelus lembut pundak Bellina.

 

Bellina menghela napas sambil menatap wajah Melan. “Mama harus lebih berhati-hati lagi dalam menghadapi Oom Adjie kali ini.”

 

Melan menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Kamu tahu Mama. Mama nggak akan ngebiarin mereka ngambil semuanya dari kita!” tegasnya.

 

Bellina menganggukkan kepala. Ia berharap kalau semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi Yeriko dan Adjie sekaligus. Dua pria kuat yang terus-menerus melindungi Yuna.

 

“Bel, lebih baik kamu fokus untuk program kehamilan kamu. Masalah Adjie, Mama dan papa kamu akan bereskan. Kamu juga harus fokus untuk punya anak lagi. Wilian adalah pewaris satu-satunya Wijaya Group. Kalau sampai kamu nggak ngasih-ngasih keturunan, keluarga Wijaya bisa nendang kamu keluar dari rumah mereka.”

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. “Mama tenang aja! Aku pasti akan berusaha buat ngedapetin apa yang aku mau. Nggak akan menyerah gitu aja sampai titik darah penghabisan!”

 

Melan tersenyum bangga menatap wajah puterinya. “Kamu memang yang paling bisa diandalkan. Kamu harus bisa bikin saham keluarga Wijaya itu ... jatuh semua ke tangan keluarga kita!”

 

Bellina menghela napas. Ia terduduk di kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri. “Ma, uang lagi? Harta lagi?”

 

“Bel, kamu nggak usah munafik ya!” sahut Melan. “Baju, sepatu, tas dan semua fasilitas yang kamu dapetin sekarang ... emangnya nggak pakai uang?”

 

“Ya, ya, ya.” Bellina mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah mulai jenuh dengan ucapan mamanya yang gila uang. Sementara, ia mencintai Wilian bukan karena uang yang dimilikinya.

 

“Kamu ini ... kalau dikasih tahu orang tua mulai kayak gini, hah!? Kamu mau hidup melarat, hah!?”

 

“Nggak mau, Ma! Tapi, aku nggak buta juga karena uang. Lian udah kasih semuanya buat aku. Status, harta, kesenangan ... cuma cintanya dia aja yang masih ke Yuna terus!”

 

“Kamu sudah berapa lama nikah sama Lian? Kalian udah pacaran tujuh tahun lalu. Masih aja nggak bisa ngendalikan suami kamu itu, hah!?”

 

Bellina menggigit bibirnya. Ia mulai lelah menghadapi kenyataan kalau ia masih hidup dalam bayang-bayang Yuna. Yuna selalu jauh lebih unggul darinya dan hal ini membuat dia semakin kesal. Ia tidak bisa menerima kenyataan kalau Yuna bisa menjalani kehidupan yang jauh lebih baik darinya.

 

“Bel, kalau kamu bisa ngasih keturunan secepatnya. Semua harta keluarga Wijaya bisa kamu kendalikan!”

 

“Iya, Ma,” jawab Bellina tak bersemangat. Ia tak berani berkata jujur pada mamanya sendiri kalau ia sulit untuk hamil sejak ia mengalami keguguran.

 

Melan tersenyum puas menatap Bellina. Walau terkadang sulit, tapi Bellina lebih mudah untuk ia kendalikan jika dibandingkan dengan Yuna yang terus-menerus menolak perintah dan keinginannya.

 

 

 ((Bersambung...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Monday, March 2, 2026

Perfect Hero Bab 490 : Hari-Hari Menabung Rindu

 


“Malam ini lembur lagi?” tanya Yuna sambil mengantarkan suaminya pergi ke tempat kerja seperti biasa.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Ini udah bulan Oktober, dua bulan lagi sudah harus Final Budgeting. Business Strategy Department sudah mulai sibuk untuk finalkan budget tahun depan. Semua departemen akan sibuk nyusun budget.”

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Aku ngerti, kok. Jaga kesehatan ya!”

 

Yeriko mengangguk. “Nggak usah antar makan siang ke kantor ya!” pintanya. “Soalnya, aku bakal datengin beberapa divisi dan anak perusahaan sesuai dengan jadwal yang udah disusun Riyan. Kemungkinan, aku bakal makan siang di perusahaan yang sudah dijadwal.”

 

“Oh. Oke.”

 

“Kalau malam, nggak perlu nunggu aku pulang! Jangan tidur di atas jam sepuluh malam! Kasihan si Dedek,” tutur Yeriko sambil mengelus perut Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Tapi, kamu selalu pulang setiap malam ‘kan?”

 

“Mmh ... biasanya aku tidur di kantor.”

 

“Ikut!” rengek Yuna manja.

 

Yeriko tertawa kecil. “Nggak, kok. Aku pasti pulang. Jam berapa pun itu. Kalau kamu ikut tidur di kantor, nanti nggak terawat.”

 

“Aku bisa ngerawat diriku sendiri.”

 

“Kamu akan bosan di sana karena aku nggak bisa temenin kamu. Lebih baik di rumah aja, ya! Nanti, aku minta Jheni, Icha atau Ayah Adjie buat temenin kamu.”

 

“Jheni pasti sibuk sama bukunya. Icha, sibuk nemenin Lutfi liburan keliling villa,” sahut Yuna. “Aku aja yang gabut setiap hari.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengusap dagu Yuna. “Nggak usah sedih gitu! Kalau aku udah nggak sibuk, aku pasti ajak kamu jalan-jalan ke luar.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Ada banyak hal yang bisa aku lakuin di rumah, kok. Bisa nonton drama seharian.”

 

“Drama terus,” sahut Yeriko.

 

“Biar aja.”

 

“Eh, kamu kan lulusan Aussie, kenapa demen drama?”

 

“Baru-baru aja demen drama gara-gara si Jheni,” jawab Yuna sambil tertawa kecil.

 

Yeriko menggeleng-gelengkan kepalanya. “Virus memang dia itu.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Sahabatku!”

 

“Iya, iya. Aku bercanda. Aku berangkat kerja dulu, ya!” pamit Yeriko sambil mengecup bibir Yuna. Kemudian beralih mencium anak yang masih ada di dalam perut Yuna.

 

“Hati-hati ya! Jangan kecapekan, jangan lupa makan tepat waktu!”

 

Yeriko mengangguk. Ia bergegas masuk ke dalam mobilnya, perlahan keluar dari halaman rumah dan menghilang di balik pintu gerbang rumahnya.

 

Yuna menghela napas sambil masuk ke dalam rumahnya. Ia sangat mengerti bagaimana kesibukan suaminya. Mungkin, untuk seorang mahasiswa, akhir tahun adalah hal yang paling menyenangkan. Tapi, bagi pria yang gila bisnis seperti suaminya ... jangankan liburan ke luar negeri saat tahun baru, waktu untuk di rumah saja hampir tidak ada.

 

Kesibukan suaminya, membuat mereka jarang menikmati makan siang bersama. Yuna tidak pernah mengeluh, sebab Yeriko selalu punya waktu untuk mengirim pesan atau melakukan panggilan video saat jam istirahat.

 

Seperti siang ini, Yuna menikmati makan siangnya sambil berbincang dengan suaminya lewat panggilan video. Usai makan siang, ia bersantai di teras belakang sambil membaca buku.

 

“Selamat siang, Cantik ...!” sapa Adjie sambil menghampiri Yuna.

 

Yuna langsung memutar kepalanya. “Ayah!?”

 

Adjie langsung tersenyum menatap Yuna. Ia menyodorkan kantong hadiah ke arah puteri kesayangannya itu. “Selamat ulang tahun ...!”

 

“Ayah ... nggak usah repot-repot kasih aku hadiah!”

 

Adjie tersenyum menatap Yuna. “Puteri kesayangan Ayah ulang tahun. Masa, Ayah nggak kasih hadiah? Kemarin, Ayah ke sini ... tapi bilang bibi, kamu nggak ada di rumah.”

 

“Oh ... iya, aku pergi dari pagi sampai malam.”

 

“Ayah tahu, kamu pasti merayakan ulang tahun sama suami kamu ‘kan?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Maaf, tahun ini aku nggak ngerayain ulang tahunku sama Ayah. Aku ...”

 

“Ayah mengerti,” sahut Adjie sambil tersenyum manis.

 

Yuna tersenyum. Ia langsung membuka kantong hadiah yang diberikan ayahnya.

 

“Yeriko bilang, dia sibuk di perusahaan akhir-akhir ini. Jadi Ayah ke sini untuk temani kamu.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah ayahnya. Ia sangat bahagia bisa menghabiskan hari bersama dengan ayahnya.

 

“Yuna, Ayah pulang dulu ya! Sudah sore,” pamit Adjie usai mereka berbincang banyak hal.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Hati-hati, Ayah!”

 

Adjie menganggukkan kepala. Ia melangkah keluar dari rumah Yuna diiringi dengan langkah puteri kesayangannya sampai pintu keluar.

 

Adjie terus melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Namun, ia tidak punya keinginan untuk kembali ke apartemennya. Ia memilih untuk menaiki taksi ke arah lain. Kemudian berhenti di pemakaman, tempat peristirahatan terakhir istri tercintanya.

 

Dari balik pepohonan, Bellina tak sengaja melihat Adjie yang melangkahkan kakinya menyusuri jalanan menuju ke pemakaman tantenya.

 

“Itu ... Oom Adjie, kan?” tanya Bellina pada dirinya sendiri. Ia terus menatap pria paruh baya itu untuk memastikan kalau ia tidak salah mengenali orang.

 

“Iya, itu Oom Adjie. Kenapa dia ada di sini? Kata papa, dia amnesia? Kok, bisa sampai ke pemakaman Tante Arum?” batin Bellina sambil melangkahkan kakinya perlahan mengikuti Adjie.

 

Adjie menghentikan langkahnya sejenak, ia menoleh ke belakang karena merasa ada seseorang yang mengikuti langkahnya. Ia langsung mempercepat langkah kakinya memasuki pemakaman mendiang istrinya.

 

Adjie berlutut tepat di depan makam istrinya. “Bunda, apa kabar?” sapa Adjie sambil menatap nisan istrinya. “Ayah baru aja dari rumah anak kita. Sekarang, dia sudah besar. Sudah menikah. Sebentar lagi akan menjadi ibu.”

 

“Yuna sudah menjadi anak gadis yang baik. Dia tidak hanya baik, tapi juga sangat sehat, kuat dan penuh semangat. Huft, andai hari itu tidak terjadi sesuatu pada kita. Mungkin, dia tidak harus melewati banyak penderitaan.”

 

Adjie terus mengingat masa-masa hidupnya sebelum istrinya meninggal dunia. Ia masih tak bisa melupakannya begitu saja. Kecelakaan sebelas tahun lalu telah merenggut nyawa istrinya, juga kebahagiaan puteri tercintanya selama sebelas tahun.

 

“Bun, apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Adjie sambil menatap pusara istrinya. “Yuna memiliki suami yang sangat hebat, sangat mencintai dan melindungi anak kita.”

 

“Tapi ... ada hal yang mengkhawatirkan untukku. Beberapa hari lalu, dia harus mengalami penculikan dan penganiayaan. Persaingan bisnis itu kejam. Aku khawatir, Yuna akan menjadi sasaran untuk pesaing bisnis suaminya.”

 

“Tapi, Yeriko juga sangat mencintai dan melindungi anak kita. Kalau Ayah mengkhawatirkan anak kita, bukankah itu tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan oleh menantu kita sepenuh hati?”

 

“Yuna sangat mencintai suaminya. Dia terlihat sangat baik dan bahagia. Seharusnya, Ayah bisa tenang dan bahagia juga. Semoga, kekhawatiranku tidak akan pernah terjadi pada anak kita satu-satunya.”

 

Adjie menarik napas dalam-dalam. Ia sangat merindukan istrinya, ia rindu berbicara banyak hal tentang keseharian mereka saat mereka masih bersama. Membuatnya terus berbincang dengan pusara mendiang istrinya. Ia yakin, istrinya bisa mendengarkan apa yang saat ini ia ceritakan tentang semua hal yang sudah terjadi dalam hidupnya.

 

 

 ((Bersambung ...))

 

Ikuti terus keseharian Mr. & Mrs. Ye ...! Apa yang akan terjadi? Konflik keluarga Linandar belum kelar. Enaknya si Melan sama Bellina diapain ya? Hihihi...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas