“Malam ini lembur lagi?” tanya Yuna sambil
mengantarkan suaminya pergi ke tempat kerja seperti biasa.
Yeriko menganggukkan kepala. “Ini udah bulan
Oktober, dua bulan lagi sudah harus Final Budgeting. Business Strategy
Department sudah mulai sibuk untuk finalkan budget tahun depan. Semua
departemen akan sibuk nyusun budget.”
Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Aku
ngerti, kok. Jaga kesehatan ya!”
Yeriko mengangguk. “Nggak usah antar makan siang
ke kantor ya!” pintanya. “Soalnya, aku bakal datengin beberapa divisi dan anak
perusahaan sesuai dengan jadwal yang udah disusun Riyan. Kemungkinan, aku bakal
makan siang di perusahaan yang sudah dijadwal.”
“Oh. Oke.”
“Kalau malam, nggak perlu nunggu aku pulang!
Jangan tidur di atas jam sepuluh malam! Kasihan si Dedek,” tutur Yeriko sambil
mengelus perut Yuna.
Yuna menganggukkan kepala. “Tapi, kamu selalu
pulang setiap malam ‘kan?”
“Mmh ... biasanya aku tidur di kantor.”
“Ikut!” rengek Yuna manja.
Yeriko tertawa kecil. “Nggak, kok. Aku pasti
pulang. Jam berapa pun itu. Kalau kamu ikut tidur di kantor, nanti nggak
terawat.”
“Aku bisa ngerawat diriku sendiri.”
“Kamu akan bosan di sana karena aku nggak bisa
temenin kamu. Lebih baik di rumah aja, ya! Nanti, aku minta Jheni, Icha atau
Ayah Adjie buat temenin kamu.”
“Jheni pasti sibuk sama bukunya. Icha, sibuk
nemenin Lutfi liburan keliling villa,” sahut Yuna. “Aku aja yang gabut setiap
hari.”
Yeriko tersenyum sambil mengusap dagu Yuna. “Nggak
usah sedih gitu! Kalau aku udah nggak sibuk, aku pasti ajak kamu jalan-jalan ke
luar.”
Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Ada banyak hal
yang bisa aku lakuin di rumah, kok. Bisa nonton drama seharian.”
“Drama terus,” sahut Yeriko.
“Biar aja.”
“Eh, kamu kan lulusan Aussie, kenapa demen drama?”
“Baru-baru aja demen drama gara-gara si Jheni,”
jawab Yuna sambil tertawa kecil.
Yeriko menggeleng-gelengkan kepalanya. “Virus
memang dia itu.”
Yuna memonyongkan bibirnya. “Sahabatku!”
“Iya, iya. Aku bercanda. Aku berangkat kerja dulu,
ya!” pamit Yeriko sambil mengecup bibir Yuna. Kemudian beralih mencium anak
yang masih ada di dalam perut Yuna.
“Hati-hati ya! Jangan kecapekan, jangan lupa makan
tepat waktu!”
Yeriko mengangguk. Ia bergegas masuk ke dalam
mobilnya, perlahan keluar dari halaman rumah dan menghilang di balik pintu
gerbang rumahnya.
Yuna menghela napas sambil masuk ke dalam
rumahnya. Ia sangat mengerti bagaimana kesibukan suaminya. Mungkin, untuk
seorang mahasiswa, akhir tahun adalah hal yang paling menyenangkan. Tapi, bagi
pria yang gila bisnis seperti suaminya ... jangankan liburan ke luar negeri
saat tahun baru, waktu untuk di rumah saja hampir tidak ada.
Kesibukan suaminya, membuat mereka jarang
menikmati makan siang bersama. Yuna tidak pernah mengeluh, sebab Yeriko selalu
punya waktu untuk mengirim pesan atau melakukan panggilan video saat jam
istirahat.
Seperti siang ini, Yuna menikmati makan siangnya
sambil berbincang dengan suaminya lewat panggilan video. Usai makan siang, ia
bersantai di teras belakang sambil membaca buku.
“Selamat siang, Cantik ...!” sapa Adjie sambil
menghampiri Yuna.
Yuna langsung memutar kepalanya. “Ayah!?”
Adjie langsung tersenyum menatap Yuna. Ia
menyodorkan kantong hadiah ke arah puteri kesayangannya itu. “Selamat ulang
tahun ...!”
“Ayah ... nggak usah repot-repot kasih aku
hadiah!”
Adjie tersenyum menatap Yuna. “Puteri kesayangan
Ayah ulang tahun. Masa, Ayah nggak kasih hadiah? Kemarin, Ayah ke sini ... tapi
bilang bibi, kamu nggak ada di rumah.”
“Oh ... iya, aku pergi dari pagi sampai malam.”
“Ayah tahu, kamu pasti merayakan ulang tahun sama
suami kamu ‘kan?”
Yuna menganggukkan kepala. “Maaf, tahun ini aku
nggak ngerayain ulang tahunku sama Ayah. Aku ...”
“Ayah mengerti,” sahut Adjie sambil tersenyum
manis.
Yuna tersenyum. Ia langsung membuka kantong hadiah
yang diberikan ayahnya.
“Yeriko bilang, dia sibuk di perusahaan
akhir-akhir ini. Jadi Ayah ke sini untuk temani kamu.”
Yuna tersenyum sambil menatap wajah ayahnya. Ia
sangat bahagia bisa menghabiskan hari bersama dengan ayahnya.
“Yuna, Ayah pulang dulu ya! Sudah sore,” pamit
Adjie usai mereka berbincang banyak hal.
Yuna menganggukkan kepala. “Hati-hati, Ayah!”
Adjie menganggukkan kepala. Ia melangkah keluar
dari rumah Yuna diiringi dengan langkah puteri kesayangannya sampai pintu
keluar.
Adjie terus melangkahkan kakinya keluar dari
rumah. Namun, ia tidak punya keinginan untuk kembali ke apartemennya. Ia
memilih untuk menaiki taksi ke arah lain. Kemudian berhenti di pemakaman,
tempat peristirahatan terakhir istri tercintanya.
Dari balik pepohonan, Bellina tak sengaja melihat
Adjie yang melangkahkan kakinya menyusuri jalanan menuju ke pemakaman tantenya.
“Itu ... Oom Adjie, kan?” tanya Bellina pada
dirinya sendiri. Ia terus menatap pria paruh baya itu untuk memastikan kalau ia
tidak salah mengenali orang.
“Iya, itu Oom Adjie. Kenapa dia ada di sini? Kata
papa, dia amnesia? Kok, bisa sampai ke pemakaman Tante Arum?” batin Bellina
sambil melangkahkan kakinya perlahan mengikuti Adjie.
Adjie menghentikan langkahnya sejenak, ia menoleh
ke belakang karena merasa ada seseorang yang mengikuti langkahnya. Ia langsung
mempercepat langkah kakinya memasuki pemakaman mendiang istrinya.
Adjie berlutut tepat di depan makam istrinya.
“Bunda, apa kabar?” sapa Adjie sambil menatap nisan istrinya. “Ayah baru aja
dari rumah anak kita. Sekarang, dia sudah besar. Sudah menikah. Sebentar lagi
akan menjadi ibu.”
“Yuna sudah menjadi anak gadis yang baik. Dia
tidak hanya baik, tapi juga sangat sehat, kuat dan penuh semangat. Huft, andai
hari itu tidak terjadi sesuatu pada kita. Mungkin, dia tidak harus melewati
banyak penderitaan.”
Adjie terus mengingat masa-masa hidupnya sebelum
istrinya meninggal dunia. Ia masih tak bisa melupakannya begitu saja.
Kecelakaan sebelas tahun lalu telah merenggut nyawa istrinya, juga kebahagiaan
puteri tercintanya selama sebelas tahun.
“Bun, apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya
Adjie sambil menatap pusara istrinya. “Yuna memiliki suami yang sangat hebat,
sangat mencintai dan melindungi anak kita.”
“Tapi ... ada hal yang mengkhawatirkan untukku.
Beberapa hari lalu, dia harus mengalami penculikan dan penganiayaan. Persaingan
bisnis itu kejam. Aku khawatir, Yuna akan menjadi sasaran untuk pesaing bisnis
suaminya.”
“Tapi, Yeriko juga sangat mencintai dan melindungi
anak kita. Kalau Ayah mengkhawatirkan anak kita, bukankah itu tidak percaya
dengan apa yang sudah dilakukan oleh menantu kita sepenuh hati?”
“Yuna sangat mencintai suaminya. Dia terlihat
sangat baik dan bahagia. Seharusnya, Ayah bisa tenang dan bahagia juga. Semoga,
kekhawatiranku tidak akan pernah terjadi pada anak kita satu-satunya.”
Adjie menarik napas dalam-dalam. Ia sangat
merindukan istrinya, ia rindu berbicara banyak hal tentang keseharian mereka
saat mereka masih bersama. Membuatnya terus berbincang dengan pusara mendiang
istrinya. Ia yakin, istrinya bisa mendengarkan apa yang saat ini ia ceritakan
tentang semua hal yang sudah terjadi dalam hidupnya.
((Bersambung ...))
Ikuti terus keseharian Mr. & Mrs. Ye ...!
Apa yang akan terjadi? Konflik keluarga Linandar belum kelar. Enaknya si Melan
sama Bellina diapain ya? Hihihi...
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment