Monday, March 2, 2026

Perfect Hero Bab 490 : Hari-Hari Menabung Rindu

 


“Malam ini lembur lagi?” tanya Yuna sambil mengantarkan suaminya pergi ke tempat kerja seperti biasa.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Ini udah bulan Oktober, dua bulan lagi sudah harus Final Budgeting. Business Strategy Department sudah mulai sibuk untuk finalkan budget tahun depan. Semua departemen akan sibuk nyusun budget.”

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Aku ngerti, kok. Jaga kesehatan ya!”

 

Yeriko mengangguk. “Nggak usah antar makan siang ke kantor ya!” pintanya. “Soalnya, aku bakal datengin beberapa divisi dan anak perusahaan sesuai dengan jadwal yang udah disusun Riyan. Kemungkinan, aku bakal makan siang di perusahaan yang sudah dijadwal.”

 

“Oh. Oke.”

 

“Kalau malam, nggak perlu nunggu aku pulang! Jangan tidur di atas jam sepuluh malam! Kasihan si Dedek,” tutur Yeriko sambil mengelus perut Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Tapi, kamu selalu pulang setiap malam ‘kan?”

 

“Mmh ... biasanya aku tidur di kantor.”

 

“Ikut!” rengek Yuna manja.

 

Yeriko tertawa kecil. “Nggak, kok. Aku pasti pulang. Jam berapa pun itu. Kalau kamu ikut tidur di kantor, nanti nggak terawat.”

 

“Aku bisa ngerawat diriku sendiri.”

 

“Kamu akan bosan di sana karena aku nggak bisa temenin kamu. Lebih baik di rumah aja, ya! Nanti, aku minta Jheni, Icha atau Ayah Adjie buat temenin kamu.”

 

“Jheni pasti sibuk sama bukunya. Icha, sibuk nemenin Lutfi liburan keliling villa,” sahut Yuna. “Aku aja yang gabut setiap hari.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengusap dagu Yuna. “Nggak usah sedih gitu! Kalau aku udah nggak sibuk, aku pasti ajak kamu jalan-jalan ke luar.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Ada banyak hal yang bisa aku lakuin di rumah, kok. Bisa nonton drama seharian.”

 

“Drama terus,” sahut Yeriko.

 

“Biar aja.”

 

“Eh, kamu kan lulusan Aussie, kenapa demen drama?”

 

“Baru-baru aja demen drama gara-gara si Jheni,” jawab Yuna sambil tertawa kecil.

 

Yeriko menggeleng-gelengkan kepalanya. “Virus memang dia itu.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Sahabatku!”

 

“Iya, iya. Aku bercanda. Aku berangkat kerja dulu, ya!” pamit Yeriko sambil mengecup bibir Yuna. Kemudian beralih mencium anak yang masih ada di dalam perut Yuna.

 

“Hati-hati ya! Jangan kecapekan, jangan lupa makan tepat waktu!”

 

Yeriko mengangguk. Ia bergegas masuk ke dalam mobilnya, perlahan keluar dari halaman rumah dan menghilang di balik pintu gerbang rumahnya.

 

Yuna menghela napas sambil masuk ke dalam rumahnya. Ia sangat mengerti bagaimana kesibukan suaminya. Mungkin, untuk seorang mahasiswa, akhir tahun adalah hal yang paling menyenangkan. Tapi, bagi pria yang gila bisnis seperti suaminya ... jangankan liburan ke luar negeri saat tahun baru, waktu untuk di rumah saja hampir tidak ada.

 

Kesibukan suaminya, membuat mereka jarang menikmati makan siang bersama. Yuna tidak pernah mengeluh, sebab Yeriko selalu punya waktu untuk mengirim pesan atau melakukan panggilan video saat jam istirahat.

 

Seperti siang ini, Yuna menikmati makan siangnya sambil berbincang dengan suaminya lewat panggilan video. Usai makan siang, ia bersantai di teras belakang sambil membaca buku.

 

“Selamat siang, Cantik ...!” sapa Adjie sambil menghampiri Yuna.

 

Yuna langsung memutar kepalanya. “Ayah!?”

 

Adjie langsung tersenyum menatap Yuna. Ia menyodorkan kantong hadiah ke arah puteri kesayangannya itu. “Selamat ulang tahun ...!”

 

“Ayah ... nggak usah repot-repot kasih aku hadiah!”

 

Adjie tersenyum menatap Yuna. “Puteri kesayangan Ayah ulang tahun. Masa, Ayah nggak kasih hadiah? Kemarin, Ayah ke sini ... tapi bilang bibi, kamu nggak ada di rumah.”

 

“Oh ... iya, aku pergi dari pagi sampai malam.”

 

“Ayah tahu, kamu pasti merayakan ulang tahun sama suami kamu ‘kan?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Maaf, tahun ini aku nggak ngerayain ulang tahunku sama Ayah. Aku ...”

 

“Ayah mengerti,” sahut Adjie sambil tersenyum manis.

 

Yuna tersenyum. Ia langsung membuka kantong hadiah yang diberikan ayahnya.

 

“Yeriko bilang, dia sibuk di perusahaan akhir-akhir ini. Jadi Ayah ke sini untuk temani kamu.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah ayahnya. Ia sangat bahagia bisa menghabiskan hari bersama dengan ayahnya.

 

“Yuna, Ayah pulang dulu ya! Sudah sore,” pamit Adjie usai mereka berbincang banyak hal.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Hati-hati, Ayah!”

 

Adjie menganggukkan kepala. Ia melangkah keluar dari rumah Yuna diiringi dengan langkah puteri kesayangannya sampai pintu keluar.

 

Adjie terus melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Namun, ia tidak punya keinginan untuk kembali ke apartemennya. Ia memilih untuk menaiki taksi ke arah lain. Kemudian berhenti di pemakaman, tempat peristirahatan terakhir istri tercintanya.

 

Dari balik pepohonan, Bellina tak sengaja melihat Adjie yang melangkahkan kakinya menyusuri jalanan menuju ke pemakaman tantenya.

 

“Itu ... Oom Adjie, kan?” tanya Bellina pada dirinya sendiri. Ia terus menatap pria paruh baya itu untuk memastikan kalau ia tidak salah mengenali orang.

 

“Iya, itu Oom Adjie. Kenapa dia ada di sini? Kata papa, dia amnesia? Kok, bisa sampai ke pemakaman Tante Arum?” batin Bellina sambil melangkahkan kakinya perlahan mengikuti Adjie.

 

Adjie menghentikan langkahnya sejenak, ia menoleh ke belakang karena merasa ada seseorang yang mengikuti langkahnya. Ia langsung mempercepat langkah kakinya memasuki pemakaman mendiang istrinya.

 

Adjie berlutut tepat di depan makam istrinya. “Bunda, apa kabar?” sapa Adjie sambil menatap nisan istrinya. “Ayah baru aja dari rumah anak kita. Sekarang, dia sudah besar. Sudah menikah. Sebentar lagi akan menjadi ibu.”

 

“Yuna sudah menjadi anak gadis yang baik. Dia tidak hanya baik, tapi juga sangat sehat, kuat dan penuh semangat. Huft, andai hari itu tidak terjadi sesuatu pada kita. Mungkin, dia tidak harus melewati banyak penderitaan.”

 

Adjie terus mengingat masa-masa hidupnya sebelum istrinya meninggal dunia. Ia masih tak bisa melupakannya begitu saja. Kecelakaan sebelas tahun lalu telah merenggut nyawa istrinya, juga kebahagiaan puteri tercintanya selama sebelas tahun.

 

“Bun, apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Adjie sambil menatap pusara istrinya. “Yuna memiliki suami yang sangat hebat, sangat mencintai dan melindungi anak kita.”

 

“Tapi ... ada hal yang mengkhawatirkan untukku. Beberapa hari lalu, dia harus mengalami penculikan dan penganiayaan. Persaingan bisnis itu kejam. Aku khawatir, Yuna akan menjadi sasaran untuk pesaing bisnis suaminya.”

 

“Tapi, Yeriko juga sangat mencintai dan melindungi anak kita. Kalau Ayah mengkhawatirkan anak kita, bukankah itu tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan oleh menantu kita sepenuh hati?”

 

“Yuna sangat mencintai suaminya. Dia terlihat sangat baik dan bahagia. Seharusnya, Ayah bisa tenang dan bahagia juga. Semoga, kekhawatiranku tidak akan pernah terjadi pada anak kita satu-satunya.”

 

Adjie menarik napas dalam-dalam. Ia sangat merindukan istrinya, ia rindu berbicara banyak hal tentang keseharian mereka saat mereka masih bersama. Membuatnya terus berbincang dengan pusara mendiang istrinya. Ia yakin, istrinya bisa mendengarkan apa yang saat ini ia ceritakan tentang semua hal yang sudah terjadi dalam hidupnya.

 

 

 ((Bersambung ...))

 

Ikuti terus keseharian Mr. & Mrs. Ye ...! Apa yang akan terjadi? Konflik keluarga Linandar belum kelar. Enaknya si Melan sama Bellina diapain ya? Hihihi...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas